Anda di halaman 1dari 17

TUGAS 1

RINGKASAN MATERI

PERUBAHAN KULTURAL PADA LANSIA

Nama :RITA AMELIA


NIM: A1C219143
Kelas :C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2022

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil
menyelesaikan tugas yang berjudul “Perubahan Kultural Pada Lansia”.
Laporan ini berisikan tentang tinjauan teori tentang perubahan kultural
pada lansia serta contoh kasusnya. Diharapkan penulisan ini dapat memberikan
informasi kepada kita semua serta sebagai bahan dalam proses pembelajaran
terutama dalam lingkup keperawatan.
Kami menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan tugas ini
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan tugas ini dari awal sampai akhir.

Makassar, 6 januari 2022

Penyusun

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................................
B. Rumusan Masalah.............................................................................................
C. Tujuan...............................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN
A. perbedaan budaya…………………………………………………………………...
B. Hubungan sosial budaya dengan lansia……………………………………………..
C. Permasalahan Aspek Sosial Budaya………………………………………………..
D. Kebudayaan dan Asuhan Keperawatan pada Lansia……………………………….
E. Kasus……………………………………………………………………………….

BAB IIII: PENUTUP


A. Kesimpulan………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan merupakan sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang
dipelajari secara turun temurun , tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang resiko
bagi timbulnya suatu penyakit . Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang
sempit , tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari
masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu tidaklah kaku dan bisa untuk di
rubah, tantangannya adalah mampukah seorang perawat memberikan penjelasan dan
informasi yang rinci tentang pelayanan kesehatan asuhan keperawatan yang akan di berikan
kepada lansia .
Sikap budaya terhadap warga usia lanjut mempunyai implikasi yang dalam terhadap
kesejahteraan fisik maupun mental mereka. Pada masyarakat tradisional warga usia lanjut
ditempatkan pada kedudukan yang terhormat, sebagai Pinisepuh atau Ketua Adat dengan
tugas sosial tertentu sesuai adat istiadatnya, sehingga warga usia lanjut dalam masyarakat ini
masih terus memperlihatkan perhatian dan partisipasinya dalam masalah - masalah
kemasyarakatan. Hal ini secara tidak langsung berpengurah kondusif bagi pemeliharaan
kesehatan fisik maupun mental mereka.
Sebaliknya struktur kehidupan masyarakat modern sulit memberikan peran fungsional
pada warga usia lanjut,posisi mereka bergeser kepada sekedar peran formal, kehilangan
pengakuan akan kapasitas dan kemandiriannya. Keadaan ini menyebabkan warga usia lanjut
dalam masyarakat modern menjadi lebih rentan terhadap tema - tema kehilangan dalam
perjalanan hidupnya. Era globalisasi membawa konsekuensi pergeseran budaya yang cepat
dan terus – menerus , membuat nilai - nilai tradisional sulit beradaptasi. Warga usia lanjut
yang hidup pada masa sekarang,seolah-olah dituntut untuk mampu hidup dalam dua dunia
yakni : kebudayaan masa lalu yang telah membentuk sebagian aspek dari kepribadian dan
kekinian yang menuntut adaptasi perilaku. Keadaan ini merupakan ancaman bagi integritas
egonya, dan potensial mencetuskan berbagai masalah kejiwaan .
Rumusan Masalah
 Bagaimana perbedaan budaya yang ada?
 Bagaimana aspek social budaya pada lansia ?

 Apa saja hubungan social budaya dengan asuhan keperawatan ?

 Aspek sosial dan kultural apa saja yang mempengaruhi pelayanan kesehatan lansia ?

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
 Bagaimana kasus pada perubahan kultural pada lansia?

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perubahan kultural pada lansia.

1.3.2 Tujuan Khusus


 Agar penyusun lebih mengetahui aspek social budaya pada lansia.

 Sebagai bahan referensi yang terkait mengenai perubahan kultural pada lansia.

 Sebagai bahan belajar dan pengetahuan tentang perubahan kultural pada lansia.

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
BAB II
PEMBAHASAN
(Sesuaikan Dengan Topik Diskusi)

A. Konsep Teori

PERBEDAAN BUDAYA
a. Kolektifitas Etnis

adalah kelompok dengan asal yang umum, perasaan identitas dan memiliki standart perilaku
yang sama. Individu yang bedasarkan dalam kelompok seperti itu mengikuti budaya oleh
norma-norma yang menentukan jalan ikiran dan perilaku mereka ( Harwood, 1981 ) .
b.   Shok Budaya

adalah salah satu sebab karena bekerja dengan individu yang latar belakang kulturnya
berbeda. Shock budaya sebagai perasaan yang tidak ada yang menolong ketidaknyamanan
dan kondisi disoirentasi yang dialami oleh orang luar yang berusaha beradaptasi secara
komprehensif atau secara efektif dengan kelompok yang berbeda akibat akibat paraktek nilai-
nilai dan kepercayaan.( Leininger, 1976).
Perawat dapat mengurangi shock budaya dengan mempelajari tentang perpedaan kelompok
budaya dimana ia terlibat. Pemting untuk perawat mengembangkan hormat kepada orang lain

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
yang berbeda budaya sambil menghargai perasaan dirinya. Praktik perawatan kesehatan
memerlukan toleransi kepercayaan yang bertentangan dengan perawat.
c.   Pola Komunikasi

Kendala yang paling nyata timbul bila kedua orang berbicara dengan bahasa ang berbeda.
Kebiasaan berbahasa dari klien adalah salah satu cara untuk melihat isi dari budaya. Menurut
Kluckhohn,1972, bahwa tiap bahasa adalah merupakan jalan khusus untuk meneropong dan
interprestasi pengalaman tiap bahasa membuat tatanan seluruhnya dari asumsi yang tidak
disadari tetang dunia dan penghidupan. Kendala untuk komunkasi bisa saja terjadi walaupun
individu berbicara dengan bahasa yang sama.
Perawat kadang kesulitan untuk menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana, bebas
dari bahasa yang jlimet yang klien bisa menagkap. Sangat penting untuk menentukan ahwa
pesan kita bisa diterima dan dimengerti maksudnya .
d.   Jarak Pribadi dan Kontak

Jarak pribadi adalah ikatan yang tidak terlihat dan fleksibel. Pengertian tentang jarak pribadi
bagi perawat kesehatan masyarakat memungkinkan proses pengkajian dan peningkatan
interaksi perawat klien. Profesional kesehatan merasa bahwa mereka mempunyai ijin
keseluruh daerah badan klien. Kontak yang dekat sering diperlukan perawat saat pemeriksaan
fisik, perawat hendaknya berusaha untuk mengurangi kecemasan dengan mengenal
kebutuhan individu akan jarak dan berbuat yang sesuai   untuk melindungi hak privasi.
e.   Padangan Sosiokultural tentang Penyakit dan Sakit

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
Budaya mempengaruhi harapan dan persepsi orang mengenai gejala cra memberi etika
kepada penyakit, juga mempengaruhi bilamana, dan kepada siapa mereka harus
mengkomunikasikan masalah – masalah kesehatan dan berapa lama mereka berada dalam
pelayanan. Karena kesehatan dibentuk oleh faktor – faktor budaya, maka terdapat variasi dari
perilaku pelayanan kesehatan, status kesehatan, dan pola – pola sakit dan pelayanan didalam
dan diantara budaya yang berbeda – beda.
Hubungan sosial budaya dengan lansia
Kebudayaan merupakan sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang dipelajari
secara turun temurun , tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang resiko bagi
timbulnya suatu penyakit . Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang sempit
, tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari masyarakat
itu sendiri.
Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu tidaklah kaku dan bisa untuk di rubah,
tantangannya adalah mampukah seorang perawat memberikan penjelasan dan informasi yang
rinci tentang pelayanan kesehatan asuhan keperawatan yang akan di berikan kepada lansia .
Sikap budaya terhadap warga usia lanjut mempunyai implikasi yang dalam terhadap
kesejahteraan fisik maupun mental mereka. Pada masyarakat tradisional warga usia lanjut
ditempatkan pada kedudukan yang terhormat, sebagai Pinisepuh atau Ketua Adat dengan
tugas sosial tertentu sesuai adat istiadatnya, sehingga warga usia lanjut dalam masyarakat ini
masih terus memperlihatkan perhatian dan partisipasinya dalam masalah - masalah
kemasyarakatan. Hal ini secara tidak langsung berpengurah kondusif bagi pemeliharaan
kesehatan fisik maupun mental mereka..
Permasalahan Aspek Sosial Budaya
Menurut Setiabudhi (1999), permasalahan sosial budaya lansia secara umum yaitu masih
besarnya jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan, makin melemahnya nilai
kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan
dihormati, berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih
mengarah pada bentuk keluarga kecil, akhirnya kelompok masyarakat industri yang memiliki

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan
perhitungan untung rugi, lugas dan efisien yang secara tidak langsung merugikan
kesejahteraan lansia, masih rendahnya kuantitas tenaga professional dalam pelayanan lansia
dan masih terbatasnya sarana pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia, serta belum
membudayanya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia

Kebudayaan dan Asuhan Keperawatan pada Lansia


Bila suatu bentuk pelayanan kesehatan baru diperkenalkan ke dalam suatu masyarakat
dimana faktor-faktor budaya masih kuat. Biasanya dengan segera mereka akan menolak dan
memilih cara pengobatan tradisional sendiri. Apakah mereka akan memilih cara baru atau
lama, akan memberi petunjuk kepada kita akan kepercayaan dan harapan pokok mereka
lambat laun akan sadar apakah pengobatan baru tersebut berfaedah , sama sekali tidak
berguna, atau lambat memberi pegaruh. Namun mereka lebih menyukai pengobatan
tradisional karena berhubungan erat dengan dasar hidup mereka. Maka cara baru itu akan
dipergunakan secara sangat terbatas, atau untuk kasus-kasus tertentu saja.

B. Contoh Kasus
Ny.A (65 tahun) tinggal di rumah sederhana di sebuah desa dengan penduduk
lumayan padat. Sejak 5 tahun yang lalu, kedua anaknya meningglakan Ny. A sendiri di
rumah, karena harus pergi merantau mencari pekerjaan. Ny.A banyak menghabiskan
waktunya di rumah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ny.A dibantu oleh
tetangganya, karena merasa kasihan terhadap Ny.A. Ny.A sering mengeluhkan nyeri
dibagian sendi tangan dan kakinya sejak 10tahun yang lalu.
Tetangga Ny.A menawarkan bantuan pada Ny.A untuk mengantarkan dia pergi
berobat ke dokter untuk memeriksakan penyakitnya. Namun Ny.A lebih senang
memijatkan tangan dan kakinya ke tukang pijat yang ada di daerahnya. Ny.A lebih
percaya pada tukang pijat yang menjadi langganannya sejak dulu. Petugas pelayanan
kesehatan juga beberapa kali mendatangi Ny.A, untuk memberikan pelayanan kesehatan
gratis. Namun Ny.A, menolak dan menyuruh petugas itu pergi.
Hubungan Ny. A, juga tidak terlalu baik dengan tetangganya . Ny.A hanya mau
menerima bantuan, namun enggan untuk berinteraksi terlalu lama dengan tetangganya.
Ny.A hanya mau menjawab pertanyaan dan berbicara seperlunya saja. Ny.A tampak
menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Ny.A hanya mau banyak bercerita pada tetangga

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
yang memiliki hubungan paling dekat dengannya. Ny.A mengaaku lebih nyaman
berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Di dalam rumah Ny. A terdapat sebuah TV, Namun TV tersebut tidak pernah
difungsikan. Tidak ada fasilitas telepon di rumah Ny.A, Ny.A biasanya mendapat kabar
tentang anaknya dari tetangga yang juga merantau dan sedang pulang kampung. Ny.A
biasanya menggunakan jasa tukang becak untuk berpergian sekedar membeli kebutuhan
sehari-hari setiap satu minggu sekali. Ny.A mengaku tidak terbiasaa menggunakan jasa
kendaraan bermotor paada saat bepergian, karena takut jatuh.
1). Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran
menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji: persepsi sehat
sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan
dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
Dalam kasus ini diungkapakan bahwa, klien seseorang yang meyakini bahwa sakit yang
dideritanya itu bisa disembuhkan ke dukun pijat tanpa harus pergi ke petugas kesehatan.
Dengan berbagai alasan, dikarenakan lokasi yang kurang terjangkau dan juga faktor dari
dalam diri klien sendiri yang menganggap bahwa dukun pijat lebih mampu mengatasi
penyakit klien.
2). Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para
pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran
di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh
perawat adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
Dalam kasus tidak diungkapakan secara langsung agama apa yang dianut oleh klien. Namun
pada kondisis sakit seperti itu, klien tertutup dengan masalah kesehatannya. Kllien sudah
dinasehati oleh tetangganya untuk pergi ke dokter, namun ia beranggapan dukun pijat lebih
bisa diandalkan.

3). Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan, umur
dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam
keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
Tipe keluarga yang ada pada kasus ini, adalah keluarga dengan lansia didalamnya. Dimana
lansia tersebut memiliki 2 orang anak yang merantau sejak lioma tahun yang lalu.

4). Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya
yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai
sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini
adalah: posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan
dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
Ny. A adalah seorang ibu rumah tangga namun, sejak 10 tahun yang lalu ia sudah terjangkit
artritis. Dia memiliki 2 orang anak namun sudah merantau keduanya dan tidak tinggal dalam
satu rumah lagi. Demi memenuhi kehidupan sehari-hari Ny. A hanya menerima bantuan dari
tetangganya. Sesekali (1 minggu sekali) ny. A pergi berbelanja.

5). Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi
kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam
berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien
yang dirawat.
Petugas kesehatan sekitar sudah mencoba berkunjung ke rumah Ny. A namun, selalu tidak
ada respon yang baik dari klien.
6). Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki
untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh
perawat diantaranya: pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh
keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau
patungan antar anggota keluarga.
Dalam memenuhi kehidupan sehari-hari klien lebih suka menerima bantuan dari orang lain.
Klien mengira bahwa biaya ke rumah sakit atau berobat ke dokter terlalu mahal jika
dibandingkan dengan pergi berobat ke dukun pijat.

7). Faktor pendidikan (educational factors)


tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan
formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya di
dukung oleh bukti bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap
ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar
secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
Klien menderita atritis selama 10 tahun terakhir, namun tidak ada upaya untuk pergi berobat
ke fasilitas kesehatan. Klien kurang bisa belajar secara aktif dan mandiri terhadap
penyakitnya.

Pada kasus diatas, maka memberikan implementasi berupa:

Diagnosa :
a. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan ketiadaan orang terdekat,
ketidakselarasan sosial kultural, defisit pengetahuan atau keterampilan tentang cara
meningkatakan kebersamaan.

b. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk terikat dalam hubungan


pribadi yang memuaskan, perilaku atau nilai sosial yang tidak berterima

I. Intervensi

Diagnosa 1
Tujuan atau Kriteria Hasil (NOC):
 Pasien menunjukkan keterampilan interaksi sosial

 Pasien menunjukkan keterlibatan sosial

 Pasien memahami dampak perilaku diri pada interaksi sosial

 Pasie menunjukkan perilaku yang dapat meningkatkan atau memperbaiki interaksi


sosial

 Pasien mendapatakan / meningkatkan keterampilan interaksi sosial (mis; kedekatan


dan kerja sama).

 Pasien mengungkapakan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain

Intervensi (NIC) :
 Modifikasi perilaku keterampilan sosial : Membantu pasien mengembangkan atau
meningkatakan keterampilan sosial interpersonal.

 Pembinaan hubungan kompleks : Membina hubungan yang terapeutik dengan pasien


yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
 Promosi integritas keluarga : Meningkatkan persatuan dan kesatuan keluarga.

 Promosi keterlibatan keluarga : Memfasilitasi perawatan keluarga dalam perawatan


emosi dan kondisi fisik pasien.

 Peningkatan Harga Diri :Membantu pasien meningkatkan penilaian pribadi tentang


harga diri.

 Peningkatan sosialisi : Memfasilitasi kemampuan pasien untuk berinteraksi dengan


orang lain.

Aktivitas lain :
3. Buat interaksi terjadwal

4. Identifikasi perubahan perilaku tertentu

5. Identifikasi tugas-tugas yang dapat meningkatakan atau memperbaiki interaksi sosial

6. Libatkan pendukung sebaya dalam memberkan umpan balik kepada pasien dalam
interksi sosial

7. Peningkatan sosialisa ( NIC) :

 Anjurkan bersikap jujur dan apa adanya dalam berinteraksi dengan oran lain

 Anjurkan menghargai hak orang lain

 Anjurkan sabar dalam membina hubungan

 Bantu pasien meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan keterbatasan dala


berkomunikasi dengan orang lain

 Beri umpan balik positif jika pasien dapat berinterksi dengan orang lain

 Fasilitasi pasien dalam memberi masukan dan membuat perencanaan aktivitas


mendatang

a. Intervensi

Diagnosa 2
Tujuan/ Kriteria Evaluasi (NOC):
A. Pasien menunjukkan keterlibatan sosial ( interaksi dengan teman dekat, tetangga,
anggota keluarga,berpartisipasi sebagai sukarelawan pada aktivitas atau
organisasi,dan sebagainya)

B. Mulai membina hubungan dengan orang lain

C. Mengembangkan hubungan satu sama lain

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
D. Mengembangkan keterampilan sosial yang dapat mengurangi isolasi (mis, bekerja
sama)

E. Melaporkan adanya dukungan sosial (mis, bantuan dalam bentuk dari orang lain
dalam bentuk bantuan emosi, waktu, keuangan, tenaga, atau informasi )

Intervensi (NIC) :
I. Modifikasi perilaku keterampilan sosial : Membantu pasien mengembangkan atau
meningkatakan keterampilan sosial interpersonal.

II. Pembinaan hubungan kompleks : Membina hubungan yang terapeutik dengan pasien
yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

III. Peningkatan koping : Membantu pasien beradaptasi dengan persepsi stresor,


perubahan, atau ancaman yang menghambat pemenuhan kenutuhan hidup dan peran.

IV. Promosi integritas keluarga : Meningkatkan persatuan dan kesatuan keluarga.

V. Promosi keterlibatan keluarga : Memfasilitasi perawatan keluarga dalam perawatan


emosi dan kondisi fisik pasien.

VI. Peningkatan kesadaran diri : Membantu pasien menggali dan memahami gagasan,
perasaan, motivasi, dan perilaku pasien.

VII. Peningkatan sosialisi : Memfasilitasi kemampuan pasien untuk berinteraksi dengan


orang lain.

VIII. Peningkatan sistem dukungan : Memfasilitasi dukungan kepada pasien oleh keluarga,
teman, dan komunitas.

Aktivitas lain :
3. Bantu pasien membedakan persepsi dan kenyataan

4. Identifikasi bersama pasien faktor-faktor yang mempengaruhi perasaan isolasi sosial

5. Beri penguatan terhadap usaha-usaha yang dilakukan pasien, keluarga, dan teman-
teman untuk berinterksi

6. Peningkatan sosialisasi ( NIC) :

1. Dukung hubungan dengan orang lain yang mempunyai minat dan tujuan yang sama

2. Berikan umpan balik tentang peningkatan dalam aktivitas

3. Dukung pasien untuk mengubah lingkungan seperti jalan-jalan

 Intervensi keperawatan berdasarakan 3 aspek menurut Leininger

Modifikasi :
Memberikan penyuluhan dan informasi, agar pasien mampu :

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
1. Memodifikasi pola pikir klien, bahwa setiap penyakit harus diperiksakan di petugas
medis, tidak harus selalu pergi ke tukang pijat.

2. Menerima kritik dan saran dari orang lain.

3. Bersikap terbuka dan belajar berinteraksi sosial dengan orang lain.

4. Belajar membina hubungan baik dengan tetangga.

5. Mampu menerima perubahan yang tejadi dengan lingkungannya (menyangkut


penggunaan teknologi dan transportasi).

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
BAB III
PENUTUP
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat
merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu
perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan pasien lansia biasanya dipelajari pada
masyarakat yang terisolasi dimana cara - cara hidup mereka tidak berubah selama beberapa
generasi, walaupun mereka merupakan sumber data-data bilogis yang penting dan model
antropologi yang berguna , lebih penting lagi untuk memikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu.
Perawat harus selalu menjaga hubungan yang efektif dengan masyarakat ‘pasien’dengan
selalu mengadakan komunikasi efektif demi meningkatkan status kesehatan lansia dan
mendukung keberhasilan pemerintah dalam bidang kesehatan berbasis publik .

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022
DAFTAR PUSTAKA

 Basford, Lynn & Oliver Slevin. 2006. Teori dan Praktik Keperawatan : Pendekatan
Integral pada Asuhan Pasien. Jakarta : EGC

 Jhonson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise,
Missouri : Mosby, Inc.

 Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts, Theories,


Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies.

 McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louise,


Missouri : Mosby, Inc.

 NANDA. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006. Philadelphia :


NANDA International.

 Nugroho,Wahjudi. 1999. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Jakarta;EGC.

 Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of Adult ; Section One
Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care Ditelusuri
tanggal 14 Oktober 2006.

 Stanley,Mickey. 2002. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. Jakarta; EGC. 

 Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku : Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta :


EGC

tugas1_Kep.gerontik@unimerz_2022