Anda di halaman 1dari 7

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : Tri Anisa

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042588828

Tanggal Lahir : 08 Februari 2000 :

Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI4207/ Akuntansi Sektor Publik

Kode/Nama Program Studi : 83/Akuntansi – S1

Kode/Nama UPBJJ : 18 / Palembang

Hari/Tanggal UAS THE : Selasa / 08 Desember 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN


KEBUDAYAAN UNIVERSITAS TERBUKA

Surat Pernyataan Mahasiswa


Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Tri Anisa


NIM : 042588828
Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI4207/Akuntansi Sektor Publik
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Akuntansi – S1
UPBJJ-UT : Palembang

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari
terdapat pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi
akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Selasa, 08 Desember 2020

Yang Membuat Pernyataan

Tri Anisa
BUKU JAWABAN UJIAN
EKSI 4207/ AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Jawaban:
1. Tahapan dalam penyusunan sebuah regulasi Publik ada empat yaitu:
a. Langkah pertama adalah perumusan masalah
Penyusunan regulasi public dimulai dengan merumuskan masalah yang akan diatur. Oleh karena
itu perancang regulasi perlu menjawab pertanyaan sebagai berikut.”Apa masalah public yang
akan diselesaikan ?”. Pertanyaan itu bergunan untuk mendeskripsikan masalah public tersebut.
Langkah yang dilakukan umtuk menggali semua permasalahan adalah melalui penelitian dan
observasi pada proyek persoalan. Kemudian mari kaji proses perumusan masalahnya. Perumusan
masalah public akan meliputi hal – hal sebagai berikut.
1. Apa masalah public yang ada .
2. Siapa masyarakat yang perilakunya bermasalah.
3. Siapa aparat pelaksana yang perilakunya bermasalah.
4. Analisis keuntungan dan kerugian atas penerapan regulasi public.
5. Tindakan apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah public.

b. Langkah kedua adalah perumusan draft regulasi publik


Draft regulasi pada dasarnya adalah kerangka awal untuk mengatasi masalah public. Draft
regulasi public harus dapat dijelaskan tentang siapa pelaksana aturan public, kewenangan apa
yang hendak diberikan padanya, perlu tidaknya dipisahkan antar organ pelaksana peraturan
dengan organ yang menetapkan sanksi atas ketidakpatuhan, persyaratan apa yang mengikat
organisasi public pelaksana, dan apa sanksi yang dapat dijatuhkan kepada aparat pelaksana jika
menyalahgunakan wewenang dan sebagainya. Penyusunan draft harus menjelaskan pilihan
tentang norma perilaku yang dipilihnya dengan tujuan yang hendak dicapai. Norma larangan
akan menghasilkan bentuk peraturan yang rinci tentang perbuatan yang dilarang. Jika
menginginjkan ada pengecualian, maka norma ijin dirumuskan pula. Konsekuensinya adalah
perumusan system dan syarat perijinannya.
c. Langkah ketiga adalah prosedur pembahasan
Terdapat tiga tahapan penting pembahasan draft regulasi public, yaitu : dengan lingkup tim
teknis pelaksana organisasi public (eksekutif), dengan lembaga legislative (dewan penasehat,
penyantun, dll),dan dengan masyarakat. Otomatis pembahasan pada tim teknis perlu juga
dieksekusi dalam rangka optimalisasi penajaman terhadap informasi yang rigid. Pembahasan tim
teknis adalah pembahasan yang lebih mempresentasikan pada kepentingan eksekutif (
manajemen ). Setelah itu dilakukan public hearing ( pengumpulan pendapat masyarakat).
Pembahasan pada lingkup legislative (DPR/D misalnya) dan masyarakat biasanya sangat sarat
dengan kepentingan politis.
d. Langkah keempat adalah pengesahan dan pengundangan
Tahap terakhir adalah tahap pengesahan yang dilakukan dalam bentuk penandatanganan naskah
oleh pihak organisasi public ( pimpinan organisasi). Sejak di tandatangani, rumusan hukum
yang ada dalam regulasi public tersebut sudah tidak dapat diganti secara sepihak. Lebih
implisit lagi ,tahap pengesahan ini juga dapat dianalisis perspektif sosiologi hukum. Pandangan
sosiologi hukum dan psikologi menganjurkan agar tahapan penyebarluasan ( sosialisai )
regulasi public harus dilakukan. Terlepas dari teknik penyusunannya, regulasi public disusun
oleh seorang/beberapa perancang regulasi. Seorang perancang regulasi akuntansi public adalah
orang yang secara substansial menguasai public di daerah/local tersebut. Selain itu perancang
adalah orang yang menguasai system hukum yang berlaku. Hal ini agar produk hukum regulasi
akuntansi sector public tidak bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi dan bahkan
menimbulkan persoalan hukum dalam penerapannya.

2. Zero Based Budgeting (ZBB) merupakan anggaran sebagai jawaban untuk rasionalisasi
proses pembuatan anggaran. Dalam ZBB muncul apa yang disebut sebagai unit keputusan
( decision units ). Decision units menghasilkan berbagai paket alternative anggaran yang
dibuat sebagai motivasi anggaran organisasi yang lebih responsive terhadap kebutuhan
masyarakat dan terhadap fluktuasi jumlah anggaran. Dalam prakteknya ZBB
membutuhkan banyak paper work. ZBB merupakan system anggaran yang didasarkan
pada perkiraan kegiatan, setiap kegiatan akan dievaluasi secara terpisah. Tiga langkah
penyusunan ZBB adalah:
a. Mengitdentifikasi unit keputusan
b. Membangun paket keputusan
c. Mereviu dan menyusun peringkat paket keputusan

3. A. Prinsip – prinsip pengadaan barang dan jasa adalah :


1. Prinsip transparasi : informasi terkait proses pengadaan public harus untuk tersedia
semua pemangku kepentingan pengadaan public seperti para kontraktor, pemasok,
penyedia layanan, dan public pada umumnya, kecuali terdapat alas an valid dan legal
untuk menjaga informasi tertentu menjadi rahasia. Contoh: beberapa informasi
ekslusif milk perusahaan atau individu yang berpartisipasi dalam proses informasi
militer tertentu dan informasi pengadaan terkait pertahanan. Ketika persyaratan
pengadaan public diumumkan secara elektronik melalui siaran pers, internet dan
tempat lain. Pengumumman harus menyerttakan rincian yang cukup untuk kontraktor
yang tertarik, pemasok dan penyedia layanan untuk menentukan apakah dipenuhi
syarat untuk bersaing.
2. Prinsip integritas : terdapat 2 integritas dalam pengadaan public yaitu integritas proses
pengadaan dan integritas praktisi pengadaan public.
Integritas proses pengadaan public :Integritas pada dasarnya adalah keandalan.
Para penawar dan semua pemangku kepentingang lainnya, harus dapat mengandalkan
informasi yang disebarkan oleh komite pengadaan, secara formal maupun informal.
Ketika meninjau dokumen permohonan, calon peserta lelang harus dapat ditentukan
pemenuhan syarat untuk melakukan tugas. Selain itu , kebutuhan berasosiasi dengan
penawar lain harus dibuka, dimana jenis asosiasi memenuhi kualifikasi dan
persyaratan tugas.
Integritas praktisi pengadaan public: praktisi yang bekerja dalam komite
pengadaan public. Harus menampilkan integritas pribadi dan professional. Pegawai
negeri yang terlibat dalam proses pengadaan public harus jujur, dapat dipercaya,
bertangungjawab dan dapat diandalkan.
3. Prinsip ekonomi. Identic dengan efesiensi, nilai uang, dan harga yang wajar secara
koomersial, prinsip ekonomi menekankan kebutuhan untuk mengelola dana
masyarakat dengan hati – hati dan due diligence; sehingga mencerminkan dana public
yang dikeluarkan untuk setiap nilai barang.
4. Prinsip keterbukaan. Persyaratan pengadaan public harus terbuka untuk semua
organisasi yang berkualitas dan individu. Akses terhadapa informasi pengadaaan
public tidak mutlak. Metode pengadaan, seperti terbatas atau selektif penawaran
membatasi ketersediaan dokumen untuk perusahaan – perusahaan yang memenuhi
kualifikasi tertentu. Kebanyakan pengadaan sector public selalu dirahasiakan, komite
pengadaan membatasi informasi yang relevan dengan kebutuhan “ kebutuhan to-
mengetahui “saja.
5. Prinsip keadilan. Interprestasi yang berbeda atas “keadilan “ dalam public,
mendefinisikan keadilan sebagai memperlakukan semua peserta tander sama. Untuk
mencapai keadilan proses pengadaan public:
a. Pengambilan keputusan dan tindakan harus pasti, dengan tidak ada perlakuan
istimewa pada individu atau organisasi; mengingat bahwa kegiatan pengadaan
public yang dilakukan dengan dana public.
b. Semua penawaran harus dipertimbangkan atas dasar kepatuhan pada ketentuan
dokumen; dan penawaran boleh ditolak dengan alas an tekait kelengkapan
dokumen permhonaan dan aturan pengadaan.
c. Sebuah kontrak hanya boleh ditandatangani dengan pemasok , kontraktor atau
penyedia layanan yang ditawarkan sesuai dan terbaik merespon tujuan persyaratan
dalam hal kemampuan teknis dan harga.
d. Pemasok, kontraktor atau penyedia layanan harus memiliki hak untuk menentang
proses pengadaan, dimana perlakuan tidak adil atau proses pengadaan tidak sesuai
dengan aturan pengadaan public. Tantangan tersebut harus didasarkan pada
dokumen permohonan dan/atau aturan pengadaan public.
6. Prinsip kompetisi. Mengingatkan bahwa pengadaan public didanai dengan uang
pajak, semua organisasi dan individu yang memenuhi syarat diizinkan berpartisipasi
dengan mengirim penawaran. Contoh : metode pengadaan non kompetitif adalah :
belanja (juga disebut permintaan untuk kutipan atau undangan untuk kutipan )dan
kontrak langsun (single sourcing/tunggal ). Setiap metode non kompetitif pengadaan
ini memiliki tujuan dan tidak boleh disalahgunakan.
7. Prinsip akuntabilitas. Akuntabilitas dalam pengdaan public berarti bahwa siapa pu
yang terlibat dalam proses pengadaan bertanggug jawab atas tindakan dan keputusan
sehubungan dengan proses pengadaan public. Sebagai pegawai negeri, praktisi
pengadaan, dan lain – lain yang telibat dalam proses pengadaan public ,
bertanggungjawab dan terkena sanksi atas perilaku yang bertentangan dengan aturan
pengadaan public. Masyarakat memberi dukungan yang kuat terhadap pelaksanaan
reformasi penyelenggaraan sector public. Organisasi telah mengambil beberapa
inisiatif untuk memperbaiki penyelenggaraan organisai antara lain;
a. Reformasi peraturan. Contoh di organisasi pemerintah adalah reformasi hukum
dan yudikatif, termasuk pembentukan komisi ombudsman untuk menanggapi
masalah korupsi dan pembentukan komisi reformasi hukum
b. Perumusan strategi reformasi pegawai kenggotaan organisai
c. Rancangan peraturan organisasi untuk memantapkan manajemen keuangan
organisasi
d. Pembentukan komisi anti korupsi pada organisasi
e. Pembentukan kemitraan bagi pembaruan tata organisasi. Contoh di organisasi
pemerintah adalah pembaruan tata pemerintahan yang didukung oleh UNDP ,
Bank Dunia, dan ADB.
Contoh di Indonesia, pemerintah telah menerbikan Peraturan Presiden NO. 32 Tahun
2005 dan keputusan presiden Nomor 61 tahun 2004 tentang pedoman pelasaknaan
pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah sebagai peyempurnaan aturan dan
prosedur keppress 80 tahun 2003.

B. Siklus pengadaan barang dan jasa public setelah pengumumman pengadaan


yaitu :

 Proses tendering : alur berikutnya dari siklus pengadaan barang dan jasa setelah
pengumumman pengadaan adalah proses tendering. Dalam proses ini organisasi
sector public atau pemerintah daerah, misalnya melakukan seleksi atas surat
penawaran barang dan jasa yang telah dikirim oleh pihak – pihak yang mampu
menyediakan, kemudian dipilih penawaran yang paling mampu memenuhi kriteria
– kriteria yang diajukan oleh organisasi sector public.
 Pengumumman hasil pengadaan : setelah melakukan proses tendering atau proses
seleksi surat penawaran barang dan jasa yang teramsuk tahapan selajutnya adalah
mengumumkan pihak yang berhak mensuplai kebutuhan barang dan jasa dari
organisasi sector public.
 Penandatanganan surat perjanjian kerja ( SPK ) : setelah pengumuman hasil
pengadaan dan pemberitahuan kepada pihak yang bersangkutan tahapan
selanjutnya adalah penandatanganan surat kerjasama antara organisasi sector
public dengan pihak yang menyediakan barang dan jasa.
 Pengerjaan pengadaan : tahapan selanjutnya setelah penandtanganan SPK adalah
pihak yang memenangkan tender pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan
organisasi sector public memulai pengerjaan / proses produksi barang dan jasa
yang diperlukan.
 Serah terima barang dan jasa: setelah barang dan jasa yang diinginkan siap pakai,
tahapan selanjutny aadalah serah terima dari pihak yang ,mengdakan atau
memproduksi kepada pihak organisasi sector public.
 Proses kepemilikan dan penggunaan barang dan jasa: setelah barang dan jasa
diterima , barang dan jasa tersebut telah sah menjadi milik organisasi sector public
dan siap digunakan dalam menunjang kegiatan atau program yang telah
direncakanakan. Apabila organisasi sector public ingin melakukann pengadaan
barang dan jasa kembali maka tahapannya kembali lagi pada tahapan yang
pertama.

4. Audit sector public ialah secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik
yang objektif terkait evaluasi bukti – bukti berkenaan dengan asersi tentang kegiatan dan
kejadian ekonomi guna memastikan derajat atau tingkat hubungan antara asersi tersebut
dengan kriteria yang ada, serta komunikasi hasil yang diperoleh tersebut kepada pihak –
pihak yang berkepentingang. (Auditing concepy committee, 1992:18)
Regulasi audit sector public : keberhasilan penyelenggaraan organisasi sector public
perlu didukung dengan pengelolaan keuangan organisasi scara tertib, taat pada peraturan
perundang – undangan, efisien, ekonomis, eketif, transparan, dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatuttan. Contoh di Indonesia, oleh karena
itu untuk mewujudkan itu semua, UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara di tetapkan. Secara garis besar, di
dalam undang – undang ini, mengatur kegiatan pemeriksaan yaitu proses identifikasi
masalah dan evaluasi yang dilakukan secara independen, obyektif, dan professional,
berdasarkan standar pemeriksaan untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas,
keadilan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Sejak
adanya reformasi konstitusi dibidang pemeriksaan maka untuk memenuhi amanat pasal 5
UU no. 15 tahun 2004 pasal 9 ayat (1) huruf e UU no. 15 tahun 2006 tentang badan
pemeriksaa keungan, BPK selaku yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan Negara harus meyusun standar pemeriksaan yang diberikan
nama standar pemeriksaan keuangan Negara atau SPKN. SPKN mengikat keuangan BPK
ataupun pihak lain yang melaksanakan keuangan Negara dan atas nama BPK. Hal ini
merupakan tonggak sejarah dimulainnya reformasi terhadap pemeriksaan yag dilakukan
oleh BPK. Dengan adanya SPKN ini diharapkan hasil pemeriksaaan BPK memberikan
nilai tambah yang positif bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.