Anda di halaman 1dari 88

LAPORAN PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN KOMUNITAS

RW 015 KELURAHAN TOBEK GODANG KECAMATAN BINAWIDYA


KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

Disusun oleh : Kelompok I


1. Debby Chrismay Manalu
2. Fransiscus Suyadi
3. Hendi Prayuda Widodo
4. Khardina Indah
5. Sutan Mardaut
6. Tina Meysia Panjaitan

Dosen Pembimbing :
Ns. Sabtria Winda Sari, M.Kep

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES TENGKU MAHARATU
PEKANBARU
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan laporan Praktik Profesi Keperawatan Komunitas ini. Laporan
ini dibuat sebagai salah satu tugas untuk bisa memperoleh gelar Ners di Fakultas
Keperawatan StiKes Tengku Maharatu Pekanbaru.
Dalam pembuatan laporan ini kami banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini izinkan kami menyampaikan ucapan
terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Ns. Carles, S.Kep, M.Si selaku ketua STIKes Tengku Maharatu Pekanbaru
2. Ns. Anita Syarifah, S.Kep, M.Kep selaku ka.Prodi Profesi Ners STIKes Tengku
Maharatu Pekanbaru
3. Ns. Sabtria Winda Sari, M.Kep selaku dosen pembimbing stase Komunitas yang
telah bersedia memberikan saran, masukan, bimbingan serta dukungan bagi kami.
4. Lurah beserta staf Kelurahan Tobekgodang Kecamatan Binawidya yang telah
mengizinkan kami untuk melakukan Praktik Profesi Keperawatan Komunitas.
5. Ketua RW 015 Kelurahan Tobekgodang Bapak Aguswan, S.Sos, M.Si yang telah
memberikan kami kemudahan dan menerima kami sebagai anak- anaknya serta
telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan praktik profesi di wilayah
RW 015.
6. Masyarakat RW 015 Kelurahan Tobek Godang Kecamatan Binawidya yang
telah menerima dan mendukung semua kegiatan yang kami laksanakan.
7. Teman-teman seperjuangan sebagai keluarga baru yang telah membantu dan
memberikan masukan serta kerjasama yang luar biasa sehingga kegiatan dapat
berjalan dengan baik dan dapat menyelesaikan laporan ini.

i
Kami menyadari bahwa laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kami membutuhkan kritik dan saran pembaca demi kebaikan laporan ini. Semoga
laporan ini bermanfaat dalam dunia keperawatan umumnya dan keperawatan komunitas
khususnya.

Pekanbaru, 28 April 2022

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................
i
KATA PENGANTAR..........................................................................................................
ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang penulisan...........................................................................................
..................................................................................................................................1
B. Tujuan Penulisan........................................................................................................
..................................................................................................................................3
C. Manfaat Penulisan......................................................................................................
..................................................................................................................................3
D. Sistematika Penulisan................................................................................................
..................................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Keperawatan Komunitas...............................................................................
5
B. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas.................................................................
14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
A. Tahap Persiapan.........................................................................................................
22
B. Tahap Pengkajian.......................................................................................................
23
C. Analisa Data...............................................................................................................
73
D. Prioritas Masalah Keperawatan.................................................................................
76

iii
E. Planning Of Action (POA).........................................................................................
77
BAB IV PEMBAHASAN
A. Tahap Persiapan.........................................................................................................
83
B. Tahap Pengkajian.......................................................................................................
83
C. Diagnosa Keperawatan..............................................................................................
84
D. Tahap Intervensi.........................................................................................................
85
E. Tahap Implementasi...................................................................................................
86
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................................
90
B. Saran..........................................................................................................................
91
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembanguan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang
dilakukan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia dalam rangka meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap warga negara agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Tujuan dari pembangunan kesehatan adalah
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat yang ditandai
dengan terwujudnya kesadaran masyarakat untuk hidup dengan perilaku dan dalam
lingkungan yang sehat, mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah
negara Indonesia. Dalam mewujudkan pembangunan kesehatan yang optimal tersebut
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyusun beberapa program salah satunya
adalah Program Indonesia Sehat 2025 (Kemenkes RI, 2016).
Komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari
yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antara
para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest (Hermawan, 2008).
Riyadi (2008) mengungkapkan komunitas merupakan kelompok dari masyarakat yang
tinggal di suatu lokasi yang sama di mana mereka tinggal, kelompok sosial yang
mempunyai interest yang sama.
Keperawatan komunitas adalah bidang khusus dari keperawatan yang merupakan
gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu Kesehatan masyarakat dan ilmu sosial yang
merupakan bagain integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat (Elisabeth, 2007). Keperawatan komunitas bersifat
komprehensif, umum, tidak terbatas, berkelanjutan, dan tidak terbatas pada periodik
(Efendi, 2009).
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dan pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan baik dirumah sakit, puskesmas, keluarga maupun masyarakat. Pelayanan
keperawatan yang dilaksanakan di masyarakat atau komunitas merupakan bidang khusus
dalam ilmu keperawatan. Perawatan komunitas adalah suatu bidang dalam keperawatan
yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan

1
2

dukungan peran aktif masyarakat. Peran serta masyarakat itu diartikan sebagai suatu
proses dimana individu, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab atas kesehatan
sendiri berdasarkan azas kebersamaan dan kemandirian. Dalam rangka mewujudkan
kesehatan masyarakat yang optimal maka dibutuhkan perawatan kesehatan masyarakat
dimana perawatan masyarakat itu sendiri adalah bidang khusus ilmu keperawatan yang
merupakan perpaduan antara kesehatan masyarakat yang didukung peran serta
masyarakat dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara
menyeluruh, melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia
secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatan. Peran serta aktif masyarakat itu
diartikan sebagai suatu proses dimana individu keluarga dan masyarakat bertanggung
jawab atas kesehatan sendiri berdasarkan asas kebersamaan dan kemandirian.
Peningkatan peran serta masyarakat bertujuan meningkatkan upaya masyarakat dalam
uaya mewujudkan kesehatan serta mendorong kemandirian dalam memecahkan masalah
kesehatan.
Mahasiswa keperawatan program profesi ners Ilmu Keperawatan STIKes Tengku
Maharatu Pekanbaru, sebagai calon tenaga kesehatan profesional, berkewajiban untuk
berperan serta mewujudkan tercapainya pembangunan nasional khususnya pembangunan
di bidang kesehatan yaitu indonesia sehat tahun 2025. Dalam pelaksanaan perannya
dititik beratkan kepada usaha promotif, preventif dengan tidak mengabaikan kuratif dan
rehabilitatif dalam setiap tindakan keperawatan. Peran serta mahasiswa tersebut dapat
dilakukan melalui kegiatan program profesi ners dalam bidang keperawatan komunitas
dan keluarga di masyarakat. Program profesi keperawatan komunitas dan keluarga
merupakan pengalaman belajar lapangan yang memberikan kesempatan kepada
mahasiswa meningkatkan kemampuan menganalisa serta mensintesa berbagai ilmu
pengetahuan didalam memberikan pelayanan keperawatan untuk memantapkan
profesionlisme keperawatan.. Pelaksanaan praktik asuhan keperawatan komunitas terdiri
dari beberapa tahapan diantaranya pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan,
penyusunan rencana intervensi keperawatan, implementasi, dan evaluasi kegiatan.
Praktik asuhan keperawatan komunitas di RW 015 Kelurahan Tobek Godang,
Kecamatan Binawidya kota Pekanbaru.
3

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan Praktek Profesi Keperawatan Komunitas mahasiswa mampu
melakukan Asuhan keperawatan komunitas di RW 015 Kelurahan Tobek Godang
Kecamatan Binawidya.
2. Tujuan Khusus
a) Melaksanakan pengkajian yang meliputi pengumpulan data, tabulasi data serta
mempersentasikan data yang diperoleh dilapangan
b) Merumuskan masalah kesehatan dan memberikan gambaran analisa data yang
sesuai dengan masalah kesehatan yang telah disusun
c) Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan dengan masalah kesehatan yang
akan dijumpai dan diprioritaskan
d) Mengimplementasi tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun
e) Mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan dan penyusunan rencana tindak lanjut
yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

C. Manfaat Penulisan
1. Dinas Kesehatan
Laporan hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi gambaran umum tentang kondisi
kesehatan masyarakat kota Pekanbaru, khususnya RW 015 Kelurahan Tobek Godang
Kecamatan Binawidya.
2. Puskesmas
Laporan hasil kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan bahan maupun data untuk
menyusun kebijakan dan program kerja dibidang kesehatan dimasa yang akan datang.
3. Kelurahan Tobek Godang
Laporan ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi pihak kelurahan untuk mengatasi
masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakatnya.
4

4. Kader dan Masyarakat


Laporan hasil kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat di RW 015
Kelurahan Tobek Godang Kecamatan Binawidya.
5. Institusi Pendidikan
Laporan hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan untuk
profesi berikutnya dan menjadi evaluasi terhadap program atau kurikulum
keperawatan komunitas yang telah ditetapkan.

D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan akhir Praktek Profesi Keperawatan Komunitas
adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
BAB II : TINJAUAN TEORITIS4
BAB III : PELAKSANAAN
BAB IV : PEMBAHASAN
BAB V : PENUTUP
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Keperawatan Komunitas


1. Kebijakan pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia dan perkembangan
kesehatan komunitas
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilakukan oleh
semua komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi ssetiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan
sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan
pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program
dan sektor serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan oleh
periode sebelumnya. (BTKLPP, 2016) Salah satu program yang digalakan dalam
upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah kesehatan komunitas.
Keperawatan komunitas merupakan suatu sintesis dari praktik keperawatan dan
praktik kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk meningkatkan serta memelihara
kesehatan penduduk. Sasaran dari keperawatan kesehatan komunitas adalah individu
yaitu balita gizi buruk, ibu hamil risiko tinggi, usia lanjut, penderita penyakit
menular. Sasaran keluarga yaitu keluarga yang termasuk rentan terhadap masalah
kesehatan dan prioritas. Sasaran kelompok khusus, komunitas baik yang sehat
maupun sakit yang mempunyai masalah kesehatan atau perawatan (Ariani, 2015).
Pusat kesehatan masyarakat sebagai bentuk pelayanan komunitas memberikan
program yang konprehensif dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan, pendidikan dan manajemen serta koordinasi asuhan keperawatan dalam
komunitas. Praktik keperawatan komunitas di Indonesia memiliki beberapa dasar
hukum, yaitu: UU no.23 tahun 1992 tentang kesehatan, PP no. 32 tahun 1996, dan
SK Menkes No. 647 tahun 2000 tentang registrasi praktik keperawatan. Praktik
keperawatan merupakan tindakan mandiri perawat profesional melalui kerjasama
dengan tim kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup
wewenang dan tanggung jawabnya (Effendi, dkk., 2010).
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan komunitas dapat dilakukan pada :
a. Lingkungan sekolah atau kampus
Pelayanan keperawatan yang diselenggarakan meliputi: pendidikan pencegahan
penyakit, meningkatan kesehatan dan pendidikan seksual. Selain itu, perawat
sekolah dapat memberikan erawatan pada kasus darurat, seperti ISPA maupun
infeksi virus, setelah itu dilakukan rujukan ke pelayanan kesehatan.
5
6

b. Lingkungan kesehatan kerja


Perusahaan besar memberikan pelayanan kesehatan bagi pekerja di pusat
kesehatan okupasi dalam gedung perusahaan. Perawat mengembangkan program
dengan tujuan:
1) Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja dengan mengurangi jumlah
kejadian kecelakaan kerja;
2) Menurunkan risiko penyakit akibat kerja;
3) Mengurangi transmisi penyakit menular antar pekerja;
4) Memberikan program peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan
pendidikan kesehatan;
5) Mengintervensi kasus-kasus akut non kedaruratan dan memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan.
c. Lembaga perawatan kesehatan di rumah
Perawatan kesehatan rumah merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan di
rumah. Lembaga ini memberikan perawatan kesehatan dengan melakukan
kunjungan rumah atau saat ini lebih dikenal dengan home care. (Mubarak dkk,
2010).
2. Konsep komunitas
Menurut Anderson (2011) komunitas merupakan suatu kelompok sosial yang
terbentuk dari satu kesatuan wilayah yang terdiri dari beberapa sub sistem di
dalamnya seperti organisasi formal, institusi sosial, kelompok informal, dan
perkumpulan budaya. Komunitas berarti sekelompok individu yang tinggal pada
wilayah tertentu, memiliki nilai-nilai keyakinan dan minat yang relative sama, serta
berinteraki satu sama lain untuk mencapai tujuan. (Mubarak & Chayatin, 2009).
Salah satu konsep dari keperawatan komunitas di dalam puskesmas adalah
perkesmas. Keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu bidang yang dalam
keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan
kesehatan masyarakat dengan dukungan serta peran aktif masyarakat. Tujuan dari
perkesmes adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah
perkesmas secara optimal. Perawat komunitas berfokus pada populasi. Populasi yang
didefinisikan mencakup masyarakat yang hidup pada area geografis spesifik dan
kelompok etnik yang mengalami beban berlebihan dari outcome kesehatan yang
rendah (Effendi, 2009).
3. Konsep pemberdayaan masyarakat dan peran serta masyarakat
Proses pendekatan keperawatan komunitas meliputi pemberdayaan masyarakat.
Program, Strategi dan Pedoman Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Kesehatan
7

tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2019. Pengaturan


Pemberdayaan Masyarakat yang ada dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8
Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan ini digunakan
sebagai acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, lembaga kemasyarakatan, organisasi kemasyarakatan, swasta, dan
pemangku kepentingan terkait lainnya dalam mewujudkan peran aktif dan
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat (Kemenkes RI, 2019). Pemberdayaan
masyarakat adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan sehingga masyarakat
memiliki kemandirian untuk hidup sehat. Adapun tujuan dari pemberdayaan
masyarakat dibidang kesehatan adalah timbulnya kesadaran, pengetahuan, dan
pemahaman akan kesehatan; timbulnya kemauan atau motivasi untuk memelihara
atau meningkatkan kesehatan; timbulnya kemampuan dan kemandirian masyarakat
untuk hidup sehat (IPKKI, 2017). Strategi pemeberdayaan masyarakat menurut
Permenkes Kemenkes RI nomor 8 pasal 3 Tahun 2019 meliputi :
a. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan
mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi;
b. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui penggerakan masyarakat;
c. Pengembangan dan pengorganisasian masyarakat;
d. Penguatan dan peningkatan advokasi kepada pemangku kepentingan;
e. Peningkatan kemitraan dan partisipasi lintas sektor, lembaga kemasyarakatan,
organisasi kemasyarakatan, dan swasta;
f. Peningkatan pemanfaatan potensi dan sumber daya berbasis kearifan lokal;
g. pengintegrasian program, kegiatan, dan/atau kelembagaan Pemberdayaan
Masyarakat yang sudah ada sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan
masyarakat.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat mengikuti permenkes Kemenkes RI Nomor 8
Pasal 4 tahun 2019 meliputi :
a. Kesehatan ibu, bayi, dan balita;
b. Kesehatan anak usia sekolah dan remaja;
c. Kesehatan usia produktif;
d. Kesehatan lanjut usia;
e. Kesehatan kerja;
f. Perbaikan gizi masyarakat;
g. Penyehatan lingkungan;
h. Penanggulangan penyakit menular dan tidak menular;
i. Kesehatan tradisional;
8

j. Kesehatan jiwa;
k. Kesiapsiagaan bencana dan krisis kesehatan; dan kegiatan peningkatan kesehatan
lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.
l. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dengan mengutamakan pendekatan promotif dan preventif.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk dapat memfungsikan masyarakat, sebagai


berikut

a. Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja untuk


membentuk kepanitiaan yang akan menangani masalah-masalah yang
berhubungan dengan kesehatan masyarakat;
b. Menyusun rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat;
c. Melakukan upaya penyebaran rencana agar masyarakat dapat melaksanakan
kegiatan tersebut (Mubarak dkk, 2010)
Model pengorganisasian komunitas, yaitu:
a. Locality Development, peran serta seluruh masyarakat untuk mandiri. Prinsip
keterlibatan langsung, melayani sendiri, membantu diri sendiri dalam
penyelesaian masalah, serta mengembangkan keterampilan dalam pemecahan
masalah. Perawat berperan sebagai fasilitator dan pendidik.
b. Social planning, perencanaan para ahli dan menggunakan birokrasi. Keputusan
komunitas didasarkan pada fakta atau data yang dikumpulkan, membuat
keputusan secara rasional, dan penyelesaian masalah berfokus pada hasil/tujuan
bukan proses.
c. Social action, fokus pada korban. Perawat merubah komunitas pada pemusatan
isu yang ada dikomunitas dengan menggunakan konflik antar penduduk dan
pengambilan keputusan Mubarak dkk, 2010).
4. Keperawatan komunitas
Keperawatan komunitas merupakan suatu sintesis dari praktik keperawatan dan
praktik kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk meningkatkan serta memelihara
kesehatan penduduk. Sasaran dari keperawatan kesehatan komunitas adalah individu
yaitu balita gizi buruk, ibu hamil risiko tinggi, usia lanjut, penderita penyakit
menular. Sasaran keluarga yaitu keluarga yang termasuk rentan terhadap masalah
kesehatan dan prioritas. Sasaran kelompok khusus, komunitas baik yang sehat
maupun sakit yang mempunyai masalah kesehatan atau perawatan (Ariani, 2015).
Ruang lingkup praktik keperawatan komunitas adalah memberikan asuhan
keperawatan langsung dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar komunitas
9

yang terkait kebiasaan atau perilaku dan pola hidup tidak sehat sebagai akibat
ketidakmampuan masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan. Tujuan dilakukannya
asuhan keperawatan komunitas adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
upaya mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri dan mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal.Sasaran utama asuhan keperawatan komunitas adalah
seluruh masyarakat individu, keluarga, kelompok risiko tinggi baik dalam kondisi
sehat maupun sakit (Stanhope & Lancaster, 2010).
Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang
ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pada kelompok risiko tinggi dalam
upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pelayanan keperawatan. Pelayanan Keperawatan Komunitas adalah seluruh
masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok yang berisiko tinggi seperti
keluarga penduduk didaerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak
terjangkau termasuk kelompok bayi, balita, lansia dan ibu hamil (Veronica, Nuraeni,
& Supriyono, 2017).
Prinsip etik praktik keperawatan komunitas yang harus diperhatikan dalam
memberikan asuhan keperawatan komunitas yaitu:
a. Prinsip otonomi, yaitu memberi kebebasan pada komunitas untuk memilih
alternatif yang terbaik dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
b. Prinsip pemanfaatan, yaitu intervensi komunitas yang diberikan harus
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk komunitas.
c. Prinsip keadilan, yaitu dalam melakukan intervensi harus sesuai dengan
kemampuan dan kapasitas komunitas, sehingga diharapkan semua pelayanan
keperawatan kesehatan komunitas yang diberikan dapat dinikmati oleh seluruh
lapisan masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2010).
Peran perawat kesehatan komunitas (Mubarak, 2010) adalah sebagai berikut:
a. Care provider, memberikan asuhan keperawatan pada klien berdasarkan tahapan
proses keperawatan;
b. Educator, memberikan pendidikan kesehatan bagi klien;
c. Counselor, membantu klien dalam mengidentifikasi suatu masalah dan bersama
dengan klien mencari solusi terhadap masalah tersebut;
d. Role model, menunjukkan suatu perilaku yang dapat dipelajari oleh masyarakat
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan;
e. Advocate, melindungi dan membela kepentingan klien melalui tahapan
menentukan kebutuhan advokasi, menetapkan jalan masuk yang sesuai untuk
10

membela, memperoleh fakta terkait dengan situasi, menyampaikan kasus klien


terhadap pengambil keputusan, dan mempersiapkan klien untuk mampu mandiri;
f. Case manager, mengelola kasus di komunitas yang dimulai dengan
mengidentifikasi kebutuhan kesehatan, membuat rencana perawatan, mengawasi
pelaksanaan, dan melakukan evaluasi;
g. Collaborator, berkomunikasi dengan anggota tim kesehatan lain, berpartisipasi
dan bekerjasama dalam mengambil keputusan serta menyelesaikan masalah
klien;
h. Case finder, menemukan kasus di masyarakat dengan mengembangkan tanda
gejala kesehatan terkait kondisi dan faktor yang berkontribusi, menggunakan
proses diagnostik untuk mengidentifikasi potensial kasus penyakit atau kondisi
kesehatan lain, serta menyediakan follow up care untuk identifikasi kasus;
i. Change agent and leader, sebagai perubah perawat mengidentifikasi kekuatan
penggerak dan penghambat pelaksanaan situasi untuk berubah, membantu
pencairan dan menimbulkan motivasi untuk berubah, membantu pelaksanaan
perubahan, dan membantu kelompok menginternalisasikan perubahan.
Sedangkan, sebagai pemimpin perawat mengidentifikasi kebutuhan tindakan,
mengkaji situasi dan menetapkan gayakepemimpinan, memotivasi untuk
mengambil tindakan, mengkoordinir aktifitas kelompok dalam perencanaan dan
pelaksanaan tindakan, membantu dalam mengevaluasi efektifitas tindakan, serta
memfasilitasi adaptasi anggota kelompok;
j. Researcher, mereview hasil riset secara kritis, mengaplikasikan hasil riset dalam
praktik, identifikasi masalah riset, merancang dan menyelenggarakan riset
keperawatan, mengumpulkan data dan melakukan riset dalam pengembangan
ilmu keperawatan komunitas;
4. Konsep RW Siaga
a. Pengertian
RW Siaga adalah RW yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan/kejadian luar biasa (KLB) secara
mandiri. Sebuah RW dikatakan menjadi RW Siaga apabila wilayahnya tersebut
memiliki sekurang-kurangnya sebuah puskesmas (Depkes, 2009). RW Siaga
merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau, dan mampu untuk mencegah
dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang
gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar
biasa dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan potensi setempat secara
gotong royong. RW Siaga terbentuk berdasarkan Permenkes No.564/2006.
11

b. Indikator RW Siaga
1) Memiliki forum komunikasi masyarakat RW, jika terdapat minimal fasilitator
masyarakat kelurahan, susunan pengurus RW Siaga;
2) Memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukan, jika terdapat
fasilitas kesehatan dasar, misalnya Pustu, Polindes, atau rumah bersalin;
3) Memiliki UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) yang
dikembangkan, jika terdapat 1 posyandu per RW;
4) Memiliki sistem pengamatan penyakit dan faktor risiko berbasis masyarakat,
jika terdapat kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan di tingkat masyarakat
yang mencakup minimal 80% kegiatan, dilaporkan secara lengkap, tepat
waktu (dengan periode 24 jam atau rutin tiap bulan). Adanya data pemantauan
wilayah setempat yang berisiko;
5) Memiliki penanggulangan kegawat daruratan dan bencana berbasis masyarakat,
jika minimal terdapat stimulasi atau gladi bencana, minimal 1 kali setahun di
daerah tidak rawan dan 2 kali setahun di daerah rawan bencana;
6) Adanya upaya mewujudkan lingkungan sehat, jika terdapat gerakan masyarakat
untuk meningkatkan/memelihara kualitas lingkungan yang dilaksanakan
secara rutin, minimal 1 kali seminggu di setiap RT;
7) Adanya upaya mewujudkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat), jika
minimal terdapat pendataan dan visualisasi data PHBS rumah tangga minimal
1 kali setahun, kegiatan promosi PHBS minimal 1 kali sebulan, kegiatan
tindak lanjut dari hasil pendataan dan promosi PHBS;13
8) Adanya upaya mewujudkan kadarzi (Keluarga Sadar Gizi) dan terbentuknya
keluarga sadar gizi, jika minimal terdapat pendataan dan visualisasi data
kadarzi minimal 1 kali setahun, kegiatan promosi kadarzi minimal 1 kali
sebulan, dan kegiatan tindak lanjut dari hasil pendataan dan promosi
kesehatan.
c. Struktur organisasi/ kepengurusan RW Siaga
Struktur organisasi/ kepengurusan RW Siaga terdiri dari:
1) Pembina
a) Memberikan pembinaan secara berkala terhadap kegiatan RW Siaga;
b) Memberikan bimbingan terhadap anggota RW Siaga;
c) Mengevaluasi program dan pelaksanaan kegiatan RW Siaga.
2) Ketua
a) Mengkordinasikan kegiatan RW Siaga;
b) Memimpin kegiatan pertemuan RW Siaga;
c) Membagi tugas kegiatan RW Siaga pada anggota setiap unit;
12

d) Membantu anggota RW Siaga untuk melakukan kegiatan pengawasan;


e) Membantu pengawasan pelaksanaan kegiatan RW Siaga;
f) Mengevaluasi kegiatan RW Siaga.
3) Petugas kesehatan
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.
4) Sekretaris
a) Mencatat seluruh kegiatan RW Siaga;
b) Melaporkan kegiatan hasil kepada seluruh anggota RW Siaga;
c) Menginformasikan kepada tiap anggota pada setiap pertemuan;
d) Pengurusan surat-menyurat dan pengarsipan.
5) Bendahara
a) Bertanggung jawab terhadap pengeluaran dan pemasukan dana;
b) Menghimpun semua dana yang masuk;
c) Mencatat pemasukan dan pengeluaran dana RW Siaga;
d) Melaporkan keuangan kepada ketua dan seluruh anggota RW Siaga.
6) Anggota
a) Melaksanakan kegiatan RW Siaga sesuai dengan unitnya
b) Melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan unit- unit RW Siaga kepada
koordinator tiap unit;
c) Bekerjasama dengan anggota yang lain dalam kegiatan RW Siaga;
d) Pemilihan perangkat/ pengurus RW Siaga ini beranggotakan wakil dari
masing-masing RT.
d. POKJA (Kelompok Kerja) RW SIAGA
1) Pokja Kadarzi (KIA dan LANSIA)
a) Mengidentifikasi dan memantau kondisi gizi balita (penimbangan, PMT,
penyuluhan, pemberian vitamin A, dll);
b) Mengindetifikasi status gizi balita (BGM, gizi kurang, gizi buruk) melalui
pemantauan Kartu Menuju Sehat (KMS);
c) Mengidentifikasi pertumbuhan dan perkembangan balita;
d) Mengindentifikasi dan memantau kadarzi (contoh memantau keluarga
dengan balita yang kurang gizi);
e) Membantu pemanfaatan pekarangan untuk meningkatkan gizi keluarga
[misalnya: penanaman tanaman obat keluarga (TOGA)];
f) Mengidentifikasi dan memantau gizi ibu hamil;
g) Mengidentifikasi dan memantau gizi lansia.
13

2) Pokja PHBS (KIA, LANSIA, REMAJA)


Melakukan kegiatan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) yang
dikembangkan seperti:
a) Posyandu balita, misalnya melalui penyuluhan tentang tumbuh kembang
balita;
b) Posyandu lansia, misalnya melakukan pendidikan kesehatan tentang
penyakit pada lansia ataupun kondisi-kondisi yang dapat membuat lansia
cedera;
c) TOGA, melalui penanaman tanaman obat yang bermanfaat bagi kesehatan;
d) Pos UKK, melalui identifikasi masalah kesehatan pekerjaan yang dominan
di wilayah RW.
3) Pokja Lingkungan
a) Melakukan penyuluhan kesehatan lingkungan;
b) Membantu pengelolaan sampah dan air bersih;15
c) Membantu pengelolaan kebersihan lingkungan (gotong royong,
pemantauan jentik).
4) Pokja Surveilance
a) Mengamati perkembangan penyakit yang berpotensi wabah di masayarakat
seperti DBD, malaria, diare, campak, ISPA, keracunan, HIV/AIDS
(NAPZA);
b) Menggalakan imunisasi di posyandu dan anak sekolah.
5) Pokja Kegawatdaruratan
a) Menyelenggarakan tindakan tanggap bencana alam (banjir, longsor),
bencana karena kelalaian manusia (kebakaran, keracunan), bencana karena
penyakit (penyakit yang berpotensi wabah). Seperti pemberian pertolongan
pertama pada korban banjir;
b) Menyelenggarakan pertolongan pertama pada hal-hal yang dapat
menyebabkan kematian.
e. Indikator keberhasilan pengembangan RW Siaga
1) Indikator masukan (Input)
a) Ada/tidaknya forum masyarakat desa;
b) Ada/tidaknya Posyandu dan sarananya;
c) Ada/tidaknya tenaga kesehatan (minimal bidan);
d) Ada/tidaknya UKBM lain.
2) Indikator proses (Process)
a) Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa;
b) Berfungsi/tidaknya Posyandu;
14

c) Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada;


d) Berfungsi/tidaknya sistem kesiapsiagaan penanggulangan kegawat daruratan
dan bencana;
e) Berfungsi/tidaknya sistem surveilance (pengamatan & pelaporan);
f) Ada/tidaknya kunjungan rumah untuk KADARZI & PHBS (oleh NAKES
dan/atau kader).
3) Indikator keluaran (Output)
a) Cakupan yankes Posyandu;
b) Cakupan pelayanan UKBM yang ada;16
c) Jumlah kasus kegawatdaruratan & kejadian luar biasa (KLB) yang
dilaporkan/diatasi;
d) Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk KADARZI
& PHBS.
4) Indikator dampak (Outcome)
a) Jumlah yang menderita sakit (kesakitan kasar);
b) Jumlah yang menderita gangguan jiwa;
c) Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia;
d) Jumlah bayi & balita yang meninggal dunia;
e) Jumlah balita dengan gizi buruk.
B. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas
Asuhan keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk praktik keperawatan
professional yang sistematis dan komprehensif yang berfokus pada individu, keluarga,
kelompok dan komunitas secara keseluruhan melalui pendekatan proses keperawatan
mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi,
dan evaluasi keperawatan. Model keperawatan komunitas disusun berdasarkan pada
teori yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Dalam keperawatan komunitas
terdapat beberapa model keperawatan, diantaranya Teori lingkungan oleh Nightingale
(Nightingale’s theory of environment), Self-Care Model oleh Orem, Adaptation Model
dari Roy, S.C, Health Care System Model oleh Betty Neuman dan Community as Client
or Partnership Model oleh McFarlane & Anderson (Mendfora, 2010). Model yang
digunakan adalah model keperawatan Betty Neuman. Konsep yang dikemukakan oleh
Betty Neuman adalah konsep ‖Health care system‖ yaitu model konsep yang
menggambarkan aktifitas keperawatan yang ditujukan kepada penekanan pada
penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri yang bersifat fleksibel,
normal, dan resisten. Konsep utama menurut Betty Neuman yaitu manusia, lingkungan
dan sehat. Dibawah ini akan dijelaskan tahapan proses asuhan keperawatan komunitas
menurut model Neuman (IPKKI, 2017).
15

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis, sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat, baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosiologis, ekonomi maupun spiritual dapat
ditentukan (Mubarak, 2010). Pada tahap pengkajian dilakukan kegiatan penyebaran
kuesioner, obsevasi, wawancara dan windshield survey. Hal ini sesuai dengan model
keperawatan Neuman bahwa masalah kesehatan ditimbulkan dari berbagai variabel,
yaitu fisiologis, psikologis, sosiokultural & developmental, sehingga semua aspek
perlu dikaji untuk menentukan penyebab terjadinya masalah kesehatan yang ada di
masyarakat.
a. Pengumpulan data
1) Tujuan pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai
masalah kesehatan masyarakat sehingga dapat ditentukan tidakan yang harus
diambil untuk mengatasi masalah yang menyangkut aspek fisik, psikologis,
sosial, ekonomi, dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya
oleh karena itu data tersebut harus akurat dan dapat dilakukan analisis untuk
pemecahan masalah. Menurut pendapat Notoadmodjo (2010) yang mengatakan
penyebaran kuesioner pada populasi yang melebihi 100 orang populasi, maka
dapat dilakukan teknik simple random sampling, dengan pengambilan sampel
secara acak dan proposional berdasarkan jumlah populasi dari masing-masing
RT.
2) Teknik pengumpulan data
a) Pengumpulan data langsung yang terdiri dari wawancara, observasi,
whienshield survey, dan kuesioner;
b) Pengumpulan data laporan (data dari berbagai instansi dan sumber yang
terpercaya seperti catatan kesehatan, catatan pertemuan warga, dokumen
publik, dan statistik).
3) Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi
a) Data inti, seperti: riwayat atau sejarah perkembangan masyarakat data
demografi, vital statistik, dan status kesehatan komunitas;
b) Data lingkungan fisik, meliputi: pemukiman, sanitasi, dan fasilitas fasilitas
lainnya;
c) Pelayanan kesehatan.
16

Dikaji lokasi saranan kesehatan yang ada, sumber daya yang dimiliki
(tenaga kesehatan dan kader), bagaimana dengan jumlah kunjungan yang
ada, serta sistem rujukannya
d) Fasilitas sosial (pasar, toko, swalayan)
Lokasi fasilitas sosial apakah mudah dijangkau, bagaimana system
kepemilikannya, dan apakah barang yang disediakan lengkap.
e) Ekonomi
Indikator ekonomi dan sumber-sumber informasi
(1) Rumah tangga (rata-rata pendapatan biaya perbulan masing-masing
rumah tangga);
(2) Individu (pendapatan per-KK, persen yang miskin).
f) Keamanan dan transportasi
1) Keamanan
(a) Keamanan/ lingkungan yang ada;
(b) Upaya penanggulangan yang tersedia (kebakaran, polusi, sanitasi;
limbah, sampah dan air kotor).
2) Transportasi
(a) Sarana transportasi, kondisi jalan yang tersedia (tanah, beton, aspal);
(b) Jenis transportasi yang dimiliki (sepeda, sepeda motor, mobil);
(c) Sarana transportasi yang tersedia.
3) Politik dan pemerintahan
(a) Sistem pengorganisasian;
(b) Sturktur organisasi;
(c) Kelompok organisasi dalam komunitas;
(d) Peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan.
g) Sistem komunikasi
(1) Sarana umum komunikasi yang tersedia di komunitas (telepon umum,
wartel, dan lain-lain);23
(2) Jenis alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas;
(3) Cara penyebaran informasi yang umum digunakan dalam komunitas:
menggunakan model tradisional, menggunakan surat pemberitahuan
atau pengeras suara yang tersedia.
h) Pendidikan
(1) Tingkat pendidikan komunitas, homogen, heterogen, dan tingkat
pendidikan mayoritas dalam komunitas;
17

(2) Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal atau non formal), meliputi
jenis pendidikan yang diadakan di komunitas, sumber daya manusia,
tenaga yang tersedia;
(3) Jenis bahasa yang digunakan dalam komunitas.
i) Rekreasi
(1) Kebiasaan rekreasi yang ada dalam komunitas, kebiasaan rekreasi
rutinitas yang dilakukan;
(2) Fasilitas rekreasi yang tersedia
4) Cara pengumpulan data
Data diperoleh dengan cara:
a) Wawancara
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk Tanya
jawab antara perawat dengan klien, keluarga klien, atau dengan masyarakat
yang berkaitan dengan masalah kesehatan.
b) Kuesioner
Kuesioner juga sering dikenal sebagai angket. Kuesioner merupakan sebuah
daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden).
Dengan kuesioner dapat mengetahui keadaan atau data pribadi seseorang,
pengalaman atau pengetahuan dan lain-lain yang dimilikinya. Kuesioner
merupakan instrumen pengumpulan data atau informasi yang
dioperasionalisasikan ke dalam bentuk item atau pertanyaan.
c) Observasi
Melakukan pengamatan dalam keperawatan komunitas meliputi aspek fisik,
psiokologis, perilaku, dan sikap.
d) Windshield survey
Merupakan pendataan menggunakan panca indra tentang wilayah/demografi
masyarakat yang ada diwilayah tempat tinggal meliputi perumahan,
lingkungan, daerah (bangunan: tua, bahan arsitektur, bersatu, berpisah, dll),
lingkungan terbuka (luas, sempit, kualitas, pribadi, umum, dll), batas (ada
batas daerah, jalan, got, kondisi bersih, kotor), kebiasaan (tempat kumpul;
siapa, jam berapa dll), transportasi (cara datang dan pergi, situasi jalan, jenis
transportasi), pelayanan kesehatan di masyarakat (puskesmas, pustu, balai
pengobatan), tempat rekreasi (keluarga, anak-anak, umum), tempat ibadah
(mesjid, gereja, wihara), sekolah/perguruan tinggi/lembaga kursus/pelatihan
dll), organisasi di masyarakat (pokjakes, kepemudaan dll), politik
kampanye/poster).
5) Pengolahan data
18

Pengolahan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:


a) Klasifikasi data/kategorisasi data berdasarkan karakteristik demografi,
karakteristik sosial ekonomi, dan sumber dan pelayanan kesehatan;
b) Perhitungan persentasi cakupan data;
c) Tabulasi data;
d) Interpretasi data.
6) Analisa data
Merupakan kemampuan untuk mengaitkan data dan menghubungkan data
dengan kemampuan kognitif yang dimiliki, sehingga dapat diketahui
kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat, baik masalah
kesehatan maupun masalah keperawatan.
Tujuan analisa data antara lain:
a) Menetapkan kebutuhan masyarakat;
b) Menetapkan kekuatan;
c) Mengidentifikasi pola respon komunitas;
d) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.
7) Perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa yang diperoleh, maka dapat diketahui masalah kesehatan
yang dihadapi oleh masyarakat yang selanjutnya dapat dilakukan intervensi.
Namun, masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin dapat diatasi sekaligus,
oleh karena itu, perawat komunitas harus membuat prioritas masalah.
8) Prioritas masalah
Kriteria penentuan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan
diantaranya adalah perhatian masyarakat, prevalensi kejadian, berat tingginya
masalah, kemungkinan masalah untuk diatasi, tersedianya suumber daya
masyarakat, dan aspek politis. Prioritas masalah juga dapat ditentukan
berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Abraham H. Maslow yaitu keadaan
yang mengacam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, dan persepsi
masyarakat tentang kesehatan dan keperawatan. Penyusunan masalah atau
diagnosis komunitas harus sesuai dengan prioritas keperawatan komunitas.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis (clinical judgement) terhadap respon
individu atau komunitas terhadap masalah kesehatan terhadap respon individu,
kelompok atau komunitas (NANDA, 2017). Diagnosa keperawatan komunitas terdiri
dari tiga bagian, yaitu gambaran masalah yang merupakan respon atau kondisi
masyarakat, faktor penyebab yang berhubungan dengan masalah, serta tanda dan
19

gejala yang mendukung (IPKKI, 2017) menjelaskan terdapat tiga komponen format
diagnosa keperawatan komunitas:
a. Risk of, masalah keperawatan spesifik atau risiko masalah kesehatan di
komunitas;
b. Among, komunitas atau klien spesifik yang akan diintervensi oleh perawat
komunitas;
c. Related to, yaitu gambaran karakteristik komunitas, meliputi motivasi,
pengetahuan, keterampilan, serta faktor lingkungan. Karakteristik lingkungan
meliputi budaya, fisik, psikososial, dan politik.
Jenis diagnosa keperawatan yang dapat diangkat yaitu:
a. Sehat/wellness/ potensial
Komunitas mempunyai potensi untuk ditingkatkan, belum ada data maladaptif atau
paparan masalah kesehatan.
b. Ancaman/risiko
Belum terdapat pemaparan masalah kesehatan, namun sudah ditemukan beberapa
data maladaptif yang memungkinkan timbulnya masalah atau gangguan.
c. Nyata/actual
Gangguan atau masalah kesehatan sudah timbul didukung dengan beberapa data
maladaptif.
3. Perencanaan
Perencanaan merupakan komponen kunci dalam praktik keperawatan komunitas,
dimana dalam perencanaan terdapat suatu hubungan vital antara pengkajian dan
diagnosa keperawatan disatu sisi serta intervensi dan evaluasi disisi lain (Mubarak,
2010). Tiga tahap kegiatan dalam proses perencanaan:
a. Menentukan prioritas masalah atau diagnosa keperawatan komunitas Menurut
Effendi (2009), terdapat enam kriteria dalam menentukan prioritas masalah
keperawatan, masing-masing kriteria diberi skor 1 -10.
Kriteria tersebut adalah:
1) Kesadaran komunitas terhadap masalah;
2) Motivasi komunitas dalam menyelesaikan masalah atau mengelola masalah
dengan baik;
3) Kemampuan perawat untuk mempengaruhi atau memberikan solusi
penyelesaian masalah;
4) Tersedianya keahlian untuk menyelesaikan masalah kesehatan;
5) Keparahan atau keseriusan masalah yang dihasilkan jika tidak diselesaikan;
6) Kecepatan masalah dapat diselesaikan.
20

b. Menetapkan tujuan dan kriteria evaluasi


Tujuan dalam tindakan keperawatan terdiri dari tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum/jangka panjang merupakan tujuan akhir yang akan dicapai
setelah tindakan keperawatan komunitas diselesaikan, dimana mengacu pada
penyesaian masalah (problem). Tujuan khusus/jangka pendek merupakan tujuan
tindakan keperawatan yang mengacu pada penyelesaian etiologi. Kriteria evaluasi
adalah acuan atau kriteria dari tingkat pencapaian tujuan/hasil yang diharapkan.
Kriteria merupakan respon masyarakat yang diharapkan sebagai acuan tercapainya
suatu tujuan (kognitif, afektif, psikomotor). Untuk mencapai kriteria yang
diinginkan kegiatan yang ditetapkan harus memiliki standar. Standar adalah target
minimal tingkat pencapaian tujuan, sebagai penentu tingkat keberhasilan intervensi
yang dilakukan.
c. Menetapkan intervensi atau perencanaan keperawatan komunitas
Intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan dan direncanakan
untuk memperkuat garis pertahanan. Pencegahan primer digunakan untuk
memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk memperkuat
garis pertahanan normal, dan pencegahan tersier untuk memperkuat garis
pertahanan resisten (Mubarak, 2010). Strategi intervensi keperawatan professional
dalam bentuk kerjasama (partnership) adalah suatu bentuk kerjasama secara aktif
antara perawat lomunitas, masyarakat, maupun lintas program dan sektor terkait
mengambil suatu keputusan dalam upaya penyelesaian masalah yang ditemukan di
masyarakat. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah melalui kegiatan kolaborasi
dan negosiasi. Strategi intervensi keperawatan professional dalam bentuk proses
kelompok adalah suatu bentuk intervensi keperawatan professional yang dilakukan
bersama-sama dengan masyarakat melalui pembentukan kelompok atau support
social yang lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di komunitas.
Pembentukan kelompok di masyarakat menggambarkan adanya minat dan
kebutuhan baik secara kelompok maupun individu serta menunjukkan adanya
hubungan antara klien dengan sistem sosial di masyarakat. Strategi intervensi
keperawatan professional dalam bentuk pendidikan kesehatan merupakan suatu
kegiatan dalam rangka upaya promotif dan preventif dengan cara melakukan
penyebaran informasi dan peningkatan motivasi masyarakat untuk berperilaku
hidup sehat (IPKKI, 2017). Strategi intervensi lainnya dalam keperawatan
professional adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat (empowerment), yaitu
suatu kegiatan keperawatan komunitas melalui keterlibatan masyarakat secara aktif
dalam rangka penyelesaian masalah yang ditemukan di masyarakat. Masyarakat
21

bukanlah sebagai objek melainkan sebagai subjek dalam rangka menyelesaikan


suatu masalah tertentu.
4. Implementasi
Implementasi merupakan bentuk tindakan keperawatan yang dilakukan
berdasarkan intervensi atau rencana yang telah disusun sebelumnya. Dalam
mengimplementasi, seorang perawat sebagai agen perubah harus memperlihatkan
kemampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun tulisan, mempunyai gaya
kepemimpinan yang visioner, dan keterampilan mengelola konflik. Implementasi
dapat berhasil dengan baik apabila ada keterlibatan dari tokoh masyarakat dan
dukungan dari media (IPKKI, 2017).
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan kumpulan informasi yang sistematik mengenai aktifitas,
karakteristik, dan hasil akhir dari suatu program. Evaluasi diklasifikasikan menjadi
dua macam yaitu evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi formatif adalah
evaluasi yang dilaksanakan di tengah-tengah atau pada saat berlangsungnya proses,
sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan setelah sekumpulan
program dilaksanakan. Adapun kemungkinan hasil evaluasi yaitu:
a. Tujuan tercapai jika masyarakat mengikuti semua intervensi yang telah
diberikan;
b. Tujuan tercapai sebagian jika masyarakat melakukan sebagian dari intervensi
yang diberikan;
c. Tujuan tidak tercapai jika masyarakat tidak melakukan intervensi yang telah
diberikan. (IPKKI, 2017)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Asuhan keperawatan komunitas adalah praktik keperawatan profesional yang


bekerja sama dengan individu, keluarga, kelompok, komunitas, populasi, sistem dan atau
kelompok sosial melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan praktik asuhan
keperawatan komunitas terdiri dari beberapa tahapan diantaranya pengkajian, perumusan
diagnosa keperawatan, penyusunan rencana intervensi keperawatan, implementasi, dan
evaluasi kegiatan. Praktik asuhan keperawatan komunitas di RW 015 Kelurahan Tobek
Godang, Kecamatan Binawidya, Pekanbaru dilaksanakan selama 6 minggu dimulai
dari tanggal 26 Maret 2022 sampai dengan tanggal 22 April 2022.
Praktik asuhan keperawatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan.
Tahap pertama yaitu tahap persiapan atau pengkajian mencakup penyusunan instrumen
(alat pengumpul data kesehatan masyarakat). Tahapan kedua yaitu merumuskan diagnosa
keperawatan komunitas berdasarkan masalah keperawatan yang diperoleh dari hasil
pengumpulan data. Tahapan ketiga adalah intervensi untuk mengatasi masalah kesehatan,
Tahap keempat yaitu pelaksanaan intervensi (implementasi) dan tahapan terakhir evaluasi
kegiatan atau evaluasi masalah yang telah dilakukan di RW 015 Kelurahan Tobek Godang,
Kecamatan Binawidya, Kota Pekanbaru. Pelaksanaan praktik Asuhan Keperawatan
Komunitas di RW 015 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya, Kota Pekanbaru
diuraikan sebagai berikut:
A. Tahap Persiapan
Tahap persiapan sebelum pelaksanaan Praktik Keperawatan Komunitas adalah
penetapan lahan praktik yang diketahui oleh Dosen pembimbing dan Kelurahan
Tobekgodang. Pada tanggal 26 Maret 2022, kelompok melakukan penyusunan
serta bimbingan instrumen berupa kuesioner kepada dosen pembimbing. Kuesioner
yang disusun dengan tema upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat di RW015
Kelurahan Tobekgodang, Kecamatan Binawidya, Kota Pekanbaru. Berdasarkan
hasil penghitungan didapatkan jumlah sampel minimal sebanyak 70 KK. Pada praktik
keperawatan komunitas ini Ners Muda mengambil sampel sebanyak 72 KK yang
mewakili RW 015 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya, Pekanbaru.

22
23

B. Tahap Pengkajian
Tahap pengkajian merupakan teknik pengumpulan data untuk melihat kondisi
wilayah, kesehatan, lingkungan fisik, status sosial ekonomi, fasilitas kesehatan yang
ada di RW 015 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya. Pengumpulan data
menggunakan beberapa teknik yaitu wawancara dengan Lurah, kader posyandu, ketua
RW, para ketua RT, serta tokoh masyarakat. Teknik selanjutnya yaitu penyebaran
kuesioner melalui online atau offline sesuai keadaan dan kondisi keluarga dan
melakukan observasi langsung ke rumah-rumah warga yang menjadi sampel serta
melakukan windshield survey di wilayah RW 015 Kelurahan Tobek Godang,
Kecamatan Binawidya. Tahap pengkajian dilakukan dari tanggal 27-31 Maret 2022.
Jumlah KK yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 72 KK. Hasil pengumpulan
data masyarakat di RW 015 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya
didapatkan data-data sebagai berikut:

1. Observasi dan Windshield Survey


a. Batas Wilayah

Timur : RW 09
Selatan : RW 013
Barat : RW 014 Jl. Rajawali Sakti, Kelurahan Tobek Godang
Utara : RW 013
24

b. Fasilitas Kesehatan : Posyandu RW 015. Selama pandemi tidak


pernah berkegiatan.

Posyandu Apel RW 015


c. Fasilitas Perdagangan: Toko barang harian, Kedai makanan Ringan, Kedai
nasi.
Sebagian besar fasilitas pedagangan masih belum menerapkan
protokol kesehatan seperti pelayan yang tidak menggunakan masker ketika
melayani pembeli. Terdapat satu warung harian yang memiliki tempat cuci
tangan, dan selebihnya tidak tersedia tempat cuci tangan dan atau
handsanitizer untuk pengunjung.

Toko barang harian di Jl. Warung makan di RW015


Rajawali Sakti RT 01
Warung yang memiliki tempat Salah satu warung harian yang tidak
cuci tangan memiliki tempat cuci tangan

d. Fasilitas Transportasi : Situasi jalan masih belum diaspal yaitu masih


semen.
Jenis alat transportasi tampak digunakan oleh warga RW 015 diantaranya
mobil dan sepeda motor.

Jalan Semen
e. Fasilitas Keamanan : Terdapat Pos Satpam di RW 015

Pos Satpam

f. Fasilitas Ibadah : Masjid Al-Kautsar sudah terdapat spanduk protokol


kesehatan penanganan COVID-19 di lingkungan masjid, sudah tersedia
tempat cuci tangan dan sudah ada tanda jarak pada shaf shalat untuk jama’ah
yang sholat serta di Masjid Al-Kaustar masih menyediakan peralatan sholat
untuk umum.

Masjid Al-Kaustar

g. Fasilitas Olahraga: Fasilitas olahraga terdapat lapangan bola kaki di RW 015.

Lapangan Bola Kaki


h. Kondisi Lingkungan : Kondisi lingkungan terdapat tumpukan sampah
yang terbuka.
Kondisi saluran pembuangan air kurang bersih, dan terdapat sampah
diselokan.

Tempat Sampah masyarakat yang terbuka dan terdapat tumpukan sampah

i. Kondisi Kesehatan Lingkungan yang ada di RW 015 :


1) Ventilasi pada rumah warga RW 015 rata-rata sudah ada tetapi dari
hasil observasi banyak yang tidak dibuka (tertutup) sehingga sirkulasi
udara menjadi tidak baik dan cahaya matahari tidak masuk ke rumah.

Ventilasi rumah tertutup


2) Selokan dan parit: Kondisi saluran pembuangan air sebagian besar
lancar, namun tampak kotor.

Selokan Tampak sampah di selokan

3) Tempat penampungan sampah akhir : Beberapa rumah mengelola


sampah dengan menunggu diangkut oleh petugas kebersihan, namun
masih ada beberapa titik tempat penduduk mengolah sampah dengan
dibakar dan dibuang sembarangan. Penanganan sampah dengan
dibakar mengakibatkan pencemaran udara.

Titik Pembuangan Sampah dan Titik pembuangan sampah didepan


titik bakar sampah rumah salah satu warga sebelum
diangkut oleh petugas sampah
29

2. Hasil Kuesioner
a. Data Demografi
1) Usia
Diagram 1.1
Distribusi frekuensi berdasarkan usia KK di RW 015 Kelurahan
Tobekgodang, Kecamatan Binawidya (n=72)

Usia KK
Dewasa Muda Dewasa Pertengahan Lansia

41

19
12

Usia KK

Berdasarkan diagram 1.1 menunjukan bahwa sebagian besar usia


KK di RW 015 Tobek Godang yaitu usia dewasa pertengahan sebanyak
41
KK (56,9%), usia dewasa muda sebanyak 12 KK (16,7%) dan usia lansia
sebanyak 19 KK (26,4%).

Diagram 1.2
Distribusi frekuensi berdasarkan usia di RW 015 Kelurahan Tobek
Godang, Kecamatan Binawidya (n= 231)

USIA
34,20%
33%
35,00%
Bayi
30,00%
25,00% Toddler
20,00% Pre school
15,00% 10,40% 9,10% Usia sekolah
10,00% 4,80% 5,60%
2,60% Remaja
5,00% 0,90%
0,00% Dewasa Awal
Dewasa Madya
Lansia

Diagram 1.2 menunjukkan bahwa dari 231 responden didapatkan


bahwa responden yang termasuk kategori usia bayi sebanyak 2 responden
(0,9 %), toddler sebanyak 6 responden (2,60%), preschool sebanyak 11
responden (4,80 %), anak usia sekolah sebanyak 13 responden (5,60%),
remaja sebanyak 24 responden (10,40%), dewasa awal sebanyak 79
responden (34,20%), dewasa madya sebanyak 75 responden (33 %), dan
lansia sebanyak 21 responden (9,10 %). Kesimpulan diagram ini
menggambarkan bahwa hampir setengah responden yang mewakili dalam
pengisian angket kuesioner ini adalah kelompok dewasa awal.
2) Jenis kelamin

Diagram 2.1
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin (KK) di RW 015
Tobek Godang
(n=72)
60
40
20
0
Jenis Kelamin KK
Laki-laki Perempuan

Berdasarkan diagram diatas menunjukan bahwa jenis kelamin KK


hampir seluruhnya laki-laki sebanyak 57 KK (79,2%) dan berjenis kelamin
perempuan sebanyak 15 KK (20,8%).

Diagram 2.2
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin anggota keluarga di RW
015 Tobek Godang (n=231)
Jenis Kelamin
laki-laki perempuan

118

113

Jenis kelamin

Berdasarkan diagram 2.2 menunjukan bahwa jenis kelamin anggota


keluarga sebagian besar laki-laki sebabanyak 118 responden (51,08%) dan
perempuan sebanyak 113 responden (48,92%).
3) Agama, Pekerjaan dan Pendidikan KK
Diagram 3.1
Distribusi frekuensi berdasarkan agama di RW 015 Tobek Godang (n=72)

Agama
Islam Kristen Katolik Budha Hindu
72

0 0 0 0

Agama

Berdasarkan diagram 3.1 menunjukan bahwa mayoritas responden


di RW 015 Tobekgodang beragama Islam sebanyak 72 KK (100%).

Diagram 3.2
Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n=72)

PEKERJAAN KK
8,20% 8,70%
5,60% 6,10%

2,20%
0,40%

Diagram 3.2 menunjukkan dari 72 KK, jumlah KK yang tidak


berkerja atau maupun sudah pensiun sebanyak 19 responden (8,20%),
swasta sebanyak 13 responden (5,6%), wiraswasta sebanyak 20 responden
(8,70%), PNS sebanyak 14 responden (6,30%), buruh sebanyak 8
responden (12,50%), petani sebanyak 3 responden (6,10%), angkatan
(AUAL/AD) sebanyak 1 responden (0,40%), dan IRT sebanyak 5
responden (2,20%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa pada
umumnya KK yang mengisi angket kuesioner ini bekerja sebagai
wiraswasta.
Diagram 3.3
Distribusi frekuensi berdasarkan tingkat pendidikan di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 72)

TINGKAT PENDIDIKAN KK
15,00% 13,40%
10%
10,00%
5,60%
4,60%
5,00% 2,20%

0,00%
SD SMP SMA S1 Lainnya

Diagram 3.3 menunjukkan bahwa dari 72 KK, yang memiliki


tingkat pendidikan SD sebanyak 5 responden (2,20%), SMP sebanyak 13
responden (5,60%), SMA sebanyak 31 responden (13,4%), S1 sebanyak 23
responden (10%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir
setengah responden yang mengisi angket kuesioner ini berpendidikan
terakhir SMA. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, karena semakin tinggi tingkat
pendidikannya, maka akan semakin meningkat pengetahuan dan
wawasannya.

44) Status imunisasi KK


.
Diagram 4.1
Distribusi frekuensi berdasarkan status imunisasi KK di 015
Kelurahan
RW Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 72)

Status Imunisasi KK

100,00%
80,00%
60,00% Lengkap
94,40%
40,00% Tidak lengkap
20,00%
0,00% 5,60%
Lengkap Tidak lengkap
Diagram 4.1 menunjukkan bahwa dari 72 KK sebanyak 68 reponden
(94,4%) imunisasi lengkap dan 4 responden (5,60%) imunisasinya tidak
lengkap. Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir seluruh
KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini imunisasi lengkap.

Diagram 4.2
Distribusi fekuensi berdasakan imunisasi di RW 015 Tobek Godang (n=
231)

Imunisasi
lengkap tidak lengkap

204
27

Imunisasi

Berdasarkan diagram 4.2 menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki


riwayat imunisasi yang lengkap sebanyak 204 responden (88,3%) dan yang
tidak lengkap sebanyak 27 responden (11,7%).

5. Riwayat Penyakit
Diagram 5
Distribusi frekuensi berdasarkan riwayat penyakit di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 231)

RIWAYAT PENYAKIT
78,80%
80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00% 5,60% 3,90% 2,60% 2,20%
10,00% 1,30% 1,30% 4,30%
0,00%
Diagram 5 menunjukkan bahwa dari 231 responden, yang tidak
memiliki riwayat penyakit yaitu sebanyak 182 (78,80%), dan responden
yang memiliki riwayat hipertensi sebanyak 13 responden (5,60%), yang
memiliki riwayat DM sebanyak 9 responden (3,90%), gastritis sebanyak 6
responden (2,60%), asam urat sebanyak 5 responden (2,20 %), kolesterol
sebanyak 3 responden (1,30 %), dan yang memiliki riwayat osteoporosis
sebanyak 3 responden (1,30 %), dan penyakit lainnya sebanyak 10 (4,30%).

6. Keluhan saat ini


Diagram 6
Distribusi frekuensi berdasarkan keluhan kesehatan di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya
(n=231).

KELUHAN SAAT INI

80,00%
70,00%
60,00%
50,00%
40,00%
30,00%
20,00%
10,00%
0,00%
Tb paru
Saraf terjepit
Osteoporosis
DM

Sakit kepala
Hipotensi
Asam urat
Hipertensi
Kolesterol
Nyeri bekas operasi

Nyeri pinggang
Nyeri sendi
Vertigo
Gastritis
Katarak

Dermatitis
Tidak ada

Haid tidak teratur


Influenza

Keterlambatan bicara
Lutut kebas

Rheumatoid arthritis

Osteoarthritis

Diagram 6 menunjukkan bahwa dari 231 responden, yang mengeluhkan


Lutut kebas sebanyak 4 responden (1,70%), influenza 1 responden (0,4%),
DM sebanyak 3 responden (1,3%), hipotensi sebanyak 2 responden
(0,90%), asam urat sebanyak 5 responden (2,20%), hipertensi sebanyak 15
responden (6,50%), kolesterol sebanyak 1 responden (0,40%),
nyeri bekas operasi sebanyak 1 responden (0,40%), haid tidak teratur
sebanyak 1 responden (0,40%), rheumatoid arthritis sebanyak 3 responden
(1,30%), sakit kepala sebanyak 3 responden (1,30%), nyeri pinggang 1
responden sebanyak (0,40%), nyeri sendi sebanyak 1 responden
(0,40%),vertigo sebanyak 2 responden (0,90%), gastritis sebanyak 2
responden (0,90%), katarak sebanyak 1 responden (0,40%), osteoarthritis
sebanyak 1 responden (0,40%), dermatitis 1 responden (0,40%),
keterlambatan bicara sebanyak 1 responden (0,40%), TB paru sebanyak 1
responden (0,40%), saraf terjepit sebanyak 1 responden (0,40%),
osteoporosis sebanyak 1 responden (0,40%) dan tidak memiliki keluhan
sebanyak 178 responden (77,10%). Kesimpulan dari diagram
menggambarkan bahwa sebagian besar keluarga yang mengisi angket
kuesioner ini tidak memiliki keluhan.

b. Bayi Balita
1. Usia
Diagram 7
Distribusi frekuensi berdasarkan usia di RW 015 Kelurahan Tobek
Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

USIA
70%
80,00%
60,00% Bayi
40,00% Toddler
20,00%
20,00% 10,00% Pre School
0,00%
Bayi Toddler Pre School

Diagram 7 menunjukkan bahwa dari 72 KK didapatkan bahwa KK


yang memiliki anggota keluarga usia bayi (0-12 bulan) sebanyak 1
responden (10,00%), toddler (1-3 tahun) sebanyak 2 responden (20,00%),
pre-school (3-6 tahun) sebanyak 7 responden (70,00%). Kesimpulan
diagram ini menggambarkan bahwa hampir seluruh KK yang mewakili
dalam pengisian angket kuesioner ini adalah kelompok Pre-school.
2. Pemberian ASI
Diagram 8
Distribusi frekuensi berdasarkan pemberian asi di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

PEMBERIAN ASI

60% 60%
40%
20%
40%
0%
6 Bulan 2 Tahun

Diagram 8 menunjukkan bahwa sebanyak 4 responden (40%)


dilakukan pemberian asi selama 6 bulan dan 6 responden (60%) dilakukan
pemberian asi selama 2 tahun. Kesimpulan dari diagram menggambarkan
bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini
dilakukan pemberian asi sampai anak berusia 2 tahun.

3. Status Gizi
Diagram 9
Distribusi frekuensi berdasarkan status gizi di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)
STATUS GIZI
100%

50% 100%
0%
0% 0%
Hijau Kuning Merah

Diagram 9 menunjukkan bahwa sebanyak 10 responden (100%)


status gizinya berwarna hijau dan untuk status gizi yang berada di garis
kuning dan merah tidak ada. Kesimpulan dari diagram menggambarkan
bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini
terdapat status gizinya berada di garis hijau.
4. Status Perkembangan
Diagram 10
Distribusi frekuensi berdasarkan status perkembangan di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)
STATUS PERKEMBANGAN

100,00%
Normal
50,00%
80,00% Meragukan
29,70%
0,00%
Normal Meragukan

Diagram 10 menunjukkan bahwa sebanyak 8 responden (80%) status


perkembangannya normal dan yang untuk status perkembangannya
meragukan sebanyak 2 (20%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan
bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini
terdapat status perkembangannya normal.

5. Status Imunisasi
Diagram 11
Distribusi frekuensi berdasarkan status imunisasi di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

STATUS IMUNISASI

100,00%
100,00% Lengkap
50,00%
Tidak Lengkap
0,00%
0,00%
Lengkap Tidak Lengkap

Diagram 11 diatas menunjukkan bahwa sebanyak 10 responden (100%)


anak mendapatkan imunisasi lengkap. Kesimpulan dari diagram
menggambarkan bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian
angket kuesioner ini terdapat status imunisasinya lengkap.
6. Vitamin A
Diagram 12
Distribusi frekuensi berdasarkan vitamin A di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

VITAMIN A
100,00%
Dapat
50,00% 100,00%
0,00% Tidak Dapat
0,00%
Dapat Tidak Dapat

Diagram 12 menunjukkan bahwa sebanyak 10 responden (100%)


anak mendapatkan vitamin A. Kesimpulan dari diagram menggambarkan
bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini
mendapatkan vitamin A.

7. Kemampuan Toilet Training

Diagram 13
Distribusi frekuensi berdasarkan kemampuan toilet training di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

KEMAMPUAN TOILET TRAINING


100,00%
Bisa
50,00% 20,00%
80,00% Belum Bisa
0,00%
Bisa Belum Bisa

Diagram 13 menunjukkan bahwa sebanyak 8 responden (80%) anak


yang bisa melakukan toilet training dan yang belum bisa melakukan toilet
training sebanyak 2 responden (20%). Kesimpulan dari diagram
menggambarkan bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian
angket kuesioner ini sudah bisa melakukan toilet training.
8. Mengikuti PAUD
Diagram 14
Distribusi frekuensi berdasarkan mengikuti PAUD di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

Mengikuti PAUD
YA TIDAK

10%

90%

Diagram 14 menunjukkan bahwa sebanyak 9 responden (90%) anak yang


mengikuti paud dan yang tidak mengikuti paud sebanyak 1 responden
(10%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir seluruh
KK yang mewakili pengisian angket kuesioner

9. Penimbangan Berat Badan


Diagram 15
Distribusi frekuensi berdasarkan penimbangan berat badan di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

PENIMBANGAN BERAT BADAN


Rumah Sakit Posyandu Puskesmas
10%

40%
50%
Diagram 15 menunjukkan bahwa dari sebanyak 4 responden (40%) anak
melakukan penimbangan berat badan di rumah sakit, melakukan
penimbangan berat badan di posyandu sebanyak 5 responden (50%), dan
yang di puskesmas sebanyak 1 responden (10%). Kesimpulan dari diagram
menggambarkan bahwa hampir seluruh KK yang mewakili pengisian
angket kuesioner ini melakukan penimbangan berat badan di rumah sakit.

10. Pemeriksaan Kesehatan Tumbuh Kembang


Diagram 16
Distribusi frekuensi berdasarkan pemeriksaan kesehatan tumbuh kembang
di RW 015 Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

PEMERIKSAAN KESEHATAN TUMBUH


KEMBANG
YA TIDAK

10%

90%

Diagram 16 menunjukkan bahwa sebanyak 1 responden (10%) anak


melakukan pemeriksaan kesehatan tumbuh kembang dan yang tidak
melakukan pemeriksaan kesehatan tumbuh kembang sebanyak 9 responden
(90%).

11. Memiliki KMS


Diagram 17
Distribusi frekuensi berdasarkan memiliki KMS di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

Memiliki KMS
YA TIDAK

10%

90%

Diagram 17 menunjukkan bahwa sebanyak 9 responden (90%) anak yang


memiliki KMS dan yang tidak memiliki KMS sebanyak 1 responden
(10%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir seluruh
KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini memiliki KMS.

12. Pemahaman Grafik KMS


Diagram 18
Distribusi frekuensi berdasarkan pemahaman grafik KMS di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

PEMAHAMAN GRAFIK KMS


YA TIDAK

20%

80%

Diagram 18 menunjukkan bahwa sebanyak 8 responden (80%)


orangtua yang memahami grafik KMS dan yang tidak memahami grafik
KMS sebanyak 2 responden (20%).
13. Imunisasi
Diagram 19
Distribusi frekuensi berdasarkan imunisasi di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

IMUNISASI
Rumah Sakit Posyandu Puskesmas
10%

40%
50%

Diagram 19 menunjukkan bahwa sebanyak 4 responden (40%)


melakukan imunisasi di rumah sakit, 5 responden (50%) di posyandu, dan
yang di puskesmas sebanyak 1 responden (10%). Kesimpulan dari diagram
menggambarkan bahwa hampir setengah KK yang mewakili pengisian
angket kuesioner ini melakukan imunisasi di posyandu.

14. Tindakan Saat Balita Demam


Diagram 20
Distribusi frekuensi berdasarkan tindakan saat balita demam di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 10)

TINDAKAN SAAT BALITA DEMAM


Kompres Hangat
10%
10% Dibiarkan Sampai Suhu
Turun

20% Diberi Obat


60%

Pergi Ke Klinik

Diagram 20 menunjukkan bahwa sebanyak 6 responden (60%)


diberikan kompres hangat, 2 responden (20%) dibiarkan sampai suhu turun,
1 responden (20%) diberi obat dan yang pergi ke klinik sebanyak 1
responden (10%). Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir
seluruh KK yang mewakili pengisian angket kuesioner ini diberi kompres
hangat pada saat balita demam.

15. Tindakan Saat Balita Diare


Diagram 21
Distribusi frekuensi berdasarkan tindakan saat balita diare di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n=
10)

TINDAKAN SAAT BALITA


DIARE
Diberi Oralit
10%

20% Diberi Air Putih


50%
20%
Diberi Teh
Diagram 21 menunjukkan bahwa sebanyak 5 responden (50%) diberi
oralit, 2 responden (20%) diberikan air putih, 2 responden (20%) diberikan
teh dan yang dibawa ke klinik sebanyak 1 responden (10%).
Kesimpulan dari diagram menggambarkan bahwa hampir setengah KK
yang mewakili pengisian angket kuesioner ini diberikan oralit pada saat
balita diare.

c. Remaja
1. Keluhan Menstruasi saat ini
Diagram 22
Distribusi Frekuensi keluhan menstruasi pada remaja putri di RW 015
Tobek Godang (n= 22)

Keluhan Menstruasi saat ini


59,00%
27,30%
13,60%

Tidak Nyeri Tidak ada


Menstruasi Menstruasi

Diagram 22 menunjukkan bahwa dari 22 responden mayoritas dari


remaja belum mengalami menstruasi sebanyak 13 responden (59,00%),
sementara itu terdapat remaja yang mengalami keluhan menstruasi
sebanyak 6 responden (27,30%) dan sebanyak 3 responden (13,60%)
remaja tidak mengalami keluhan menstruasi.

2. Aktivitas yang dilakukan remaja saat ini


Diagram 23
Distribusi Frekuensi berdasarkan aktivitas yang dilakukan remaja saat ini
di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Aktivitas yang dilakukan remaja saat ini


100,00% Sekolah
0,00% 81,80% 18,20% Bekerja
Sekolah Bekerja
Diagram 23 menunjukkan bahwa dari 22 responden mayoritas dari
responden bersekolah sebanyak 18 responden (81,80%), sebanyak 4
responden bekerja (18,20%).

3. Pendidikan kesehatan permasalahan narkoba


Diagram 24
Distribusi Frekuensi berdasarkan pendidikan kesehatan masalah narkoba
pada remaja di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Narkoba

60,00%
40,00% 50,50% Iya
20,00% 50,50% Tidak
0,00%
Iya Tidak

Diagram 24 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 11


responden (50,50%) pernah mendapatkan pendidikan kesehatan, dan
sebanyak 11 responden tidak mendapatkan pendidikan kesehatan (50,50%).

4. Pendidikan seks
Diagram 25
Distribusi Frekuensi berdasarkan pendidikan seks pada remaja di RW 015
kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Pendidikan seks

80,00%
60,00%
Tidak
40,00%
63,60% 36,40% Iya
20,00%
0,00%
Tidak Iya

Diagram 25 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 14 responden


(63,60%) tidak pernah mendapatkan pendidikan seks, dan sebanyak 8
responden mendapatkan pendidikan kesehatan (36,40%).
5. Pendidikan kesehatan merokok
Diagram 26
Distribusi Frekuensi berdasarkan pendidikan kesehatan masalah merokok
pada remaja di RW 015 Kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Pendidikan Kesehatan Merokok

80,00%
60,00%
Iya
40,00% 77,30%
Tidak
20,00% 22,70%
0,00%
Iya Tidak

Diagram 26 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 17 responden


(77,30%) pernah mendapatkan pendidikan kesehatan masalah rokok, dan
sebanyak 5 responden tidak mendapatkan pendidikan kesehatan (22,70%).

6. Sumber remaja memperoleh informasi


Diagram 27
Distribusi Frekuensi berdasarkan sumber remaja memperoleh informasi di
RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)
Sumber informasi Remaja
40,00% Guru

30,00% Media Informasi

20,00% Orang Tua


Petugas Kesehatan
10,00%
Tidak ada
0,00%

Diagram 27 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 7


responden mendapatkan informasi kesehatan dari guru (31,80%), sebanyak
7 responden (31,60%) mendapatkan informasi berdasarkan media
informasi, sebanyak 3 responden (13,60%) mendapatkan informasi
berdasarkan orang tua. Sebanyak 3 responden (13,60%) mendapatkan
informasi dari petugas kesehatan, dan sebanyak 2 responden (9,10%) tidak
ada memperoleh informasi.

7. Pencegahan terhadap masalah merokok, seks bebas dan narkoba


Diagram 28
Distribusi Frekuensi berdasarkan pencegahan terhadap masalah merokok,
seks bebas dan narkoba di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Pencegahan terhadap masalah Merokok seks


bebas dan narkoba

100,00%
Iya
50,00%
Tidak
81,80%
0,00% 18,20%
Iya Tidak

Diagram 28 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 18 responden


(81,80%) pernah mendapatkan pendidikan pencegahan terhadap masalah
merokok, seks bebas dan narkoba, dan sebanyak 4 responden tidak
mendapatkan pendidikan mengenai pencegahan masalah rokok, seks bebas
dan narkoba (18,20%).

8. Jenis Organisasi yang diikuti oleh remaja


Diagram 29
Distribusi Frekuensi berdasarkan pencegahan terhadap masalah merokok,
seks bebas dan narkoba di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Jenis Organisasi yang diikuti oleh remaja


100,00% 86,40%
80,00%
60,00%
40,00%

20,00% 4,50% 4,50% 4,50%


0,00%
Diagram 29 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 17 responden
(86,40%) tidak mengikuti organisai, sebanyak 1 responden (4,50%)
mengikuti organisasi siswa, sebanyak 1 responden (4,50%) mengikuti
organisasi karang taruna, dan terdapat 1 orang responden (4,50%)
mengikuti organisasi.

9. Sumber stress yang dialami remaja saat ini


Diagram 30
Distribusi Frekuensi berdasarkan sumber stress yang dialami remaja saat
ini di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Sumber stress yang dialami remaja saat ini


Masalah dengan
100,00% pelajaran sekolah
Masalah Ekonomi

50,00% Masalah dengan teman


sebaya
Masalah dengan
0,00% Orang tua

Diagram 30 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 17 responden


(77,30%) mengalami permasalahan dengan pelajaran sekolah, sebanyak 2
responden (9,10%) mengalami permasalahan ekonomi. Terdapat 2
responden (9,10%) mengalami permasalahan dengan teman sebaya, dan
terdapat 1 responden (4,50%) mengalami permasalahan dengan orang tua.

10. Bagaimana cara remaja mengatasi masalah


Diagram 31
Distribusi Frekuensi berdasarkan bagaimana remaja mengatasi masalah di
RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Bagaimana cara remaja mengatasi masalah

60,00% 45,50% 40,90%


40,00% 13,60%
20,00%
0,00%
Curhat dengan Didiamkan Curhat dengan
Orang lain orangtua
Diagram 31 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 10 responden
(45,50%) mengatasi permasalahan dengan bercerita kepada orang lain,
sebanyak 9 responden (40,90%) mengatasi masalah dengan cara didiamkan,
serta terdapat 3 responden (13,60%) mengatasi masalah dengan cara curhat
dengan orang tua.

11. Remaja merokok atau vape


Diagram 32
Distribusi Frekuensi berdasarkan remaja yag meggunakan rokok atau vape
di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Apakah Remaja menggunakan rokok/


menggunakan vape
100,00%
Tidak
90,90% Iya
0,00% 9,10%
Tidak Iya

Diagram 32 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 20 responden


(90,90%) tidak menggunakan rokok atau vape, dan sebanyak 2 responden
(9,10%) mengunakan rokok atau vape.

12. Aktivitas yang dilakukan remaja sewaktu luang


Diagram 33
Distribusi Frekuensi berdasarkan aktivitas yang dilakuka remaja sewaktu
luang di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

Aktivitas yang dilakukan remaja sewaktu luang


50,00% Menonton TV

40,00%
Belajar
30,00%
Jalan-jalan atau bermain
20,00%

10,00% Bekerja
0,00%
Diagram 33 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 11
responden (50%) responden melakukan aktivitas di waktu luang dengan
menonton TV, sebanyak 3 responden (13,6%) melakukan aktivitas
dilakukan diwaktu luang dengan belajar, sebanyak 6 responden melakukan
aktivitas diwaktu luang dengan berjalan-jalan atau bermain. Sebanyak 1
responden (4,5%) melakukan aktivitas diwaktu luang dengan bekerja dan
sebanyak 1 responden (4,5%) melakukan aktivitas sewaktu luang dengan
mengikuti organisasi sekolah.

13. Pengetahuan tentang puskesmas atau disekitar tempat tinggal ada


tempat pelayanan kesehatan reproduksi remaja.
Diagram 34
Distribusi Frekuensi berdasarkan Pengetahuan tentang dipuskesmas atau
disekitar tempat tinggal ada tempat pelayanan kesehatan reproduksi
remaja di RW 015 kelurahan Tobek Godang (n= 22)

100,00%
Tidak
50,00% ya
59,10% 40,90%

0,00%

Diagram 34 menunjukkan bahwa dari 22 responden sebanyak 13 responden


(59,1%) tidak mengetahui dipuskesmas atau sekitar tempat tinggal ada
tempat pelayanan kesehatan reproduksi remaja, dan terdapat 9 responden
(40,9%) mengetahui bahwa dipuskesmas atau tempat tinggal terdapat
pelayanan kesehatan reproduksi remaja.

d. Pasangan Usia Muda


1. Jenis KB
Diagram 35
Distirbusi frekuensi berdasarkan jenis KB di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang (n=45)

40 32

4 7
1 1
0

Jenis KB
Tidak Ada 32 Pil 1 IUD 4 Suntik 7 Implan 1
Diagram 35 menunjukan bahwa dari 45 responden mayoritas pasangan usia
subur tidak ada menjalani KB dengan jumlah 32 responden (71,1%), dan
yang menggunakan KB dengan mayoritas jenil KB yang dipilih adalah
suntik berjumlah 7 responden (15,6%).

2. Keluhan selama menjalani KB


Diagram 36
Distribusi frekuensi berdasakan keluhan selama menjalani KB di RW 015
Kelurahan Tobek Godang (n=45)

Keluhan KB
40
Tidak ada
TD meningkat
20
BB meningkat
Haid tidak teratur
0

Diagram 36 menunjukan bahwa dari 45 responden mayoritas respondent


tidak memiliki keluhan KB dengan jumlah 36 responden (80%) diantaranya
32 responden karena tidak menggunakan KB dan 4 diantaranya
menggunakan KB. Selain itu sebanyak 4 responden (8,9%) mengeluhkan
haid yang tidak teratur, 4 responden (8,9%) mengalami BB meningkat dan
1 (2,2%) reponden mengalami tekanan darah yang meningkat.

3. Tempat Memperoleh Layanan KB


Diagram 37
Distribusi frekuensi berdasarkan tempat memperoleh layanan KB di RW
015 Tobek Godang (n=13)

Tempat Memperoleh Layanan KB


Puskesmas Klinik RS Dokter Bidan

4 4
2 2
1
Diagram 37 menunjukan bahwa responden yang menggunakan KB
mayoritas tempat memperoleh layanan KB adalah puskesmas dan praktik
bidan sebanyak 4 responden (8,9%).

4. Penyakit Yang Dialami Ibu Selama 3 Bulan Terakhir


Diagram 38
Distribusi frekuensi bedasarkan penyakit yang dialami ibu selama 3 bulan
terakhir di RW 015 Kelurahan Tobek Godang (n=45)

Tidak ada Hipertensi Haid Tidak Teratur Lain-lain


36

3 4 2

Penyakit Ibu 3 Bulan Terakhir

Diagram 38 menunjukan bahwa mayoritas responden tidak memiliki


penyakit selama 3 bulan terakhir sebanyak 36 responden (80%) namun
terdapat 2 responden (4,4%) yang memiliki gangguan reproduksi yaitu kista
dan mioma uteri.

5. Masalah Sistem Reproduksi Saat ini


Diagram 39
Distribusi frekuensi berdasakan masalah sistem reproduksi saat ini di RW
015 Tobek Godang (n=45)

Masalah Sistem Reproduksi Saat ini


Tidak ada Ada

44

Diagram 39 menunjukan bahwa mayoritas responden tidak memiliki


masalah reproduksi saat ini sebanyak 44 responden (97,8%) dan terdapat 1
responden (2,2%) yang memiliki masalah reproduksi yaitu mioma uteri.
e. Lansia
1. Penyakit lansia saat ini
Diagram 40
Distribusi frekuensi berdasarkan penyakit lansia saat ini di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, kecamatan Binawidya (n=26)

Penyakit lansia saat ini


Hipertensi
Hipotensi
16,0%
Rematik
14,0%
Gangguan Pendengaran
12,0% Batuk Pilek
10,0% Kolesterol
8,0% Asam Urat

6,0% Katarak

4,0% Dermatitis
Tidak Sakit
2,0%
Lnin-lain
0,0%

Diagram 40 menunjukkan bahwa dari 26 responden, terdapat 4 mayoritas


penyakit yang dimiliki lansia saat ini dari 10 penyakit lainnya yaitu
hipertensi (15,4%) sebanyak 4 orang, rematik (15,4%) sebanyak 4 orang,
batuk (15,4%) sebanyak 4 orang dan pilek (15,4%) sebanyak 4 orang.

2. Penyakit kronis selama 6 bulan


Diagram 41
Distribusi frekuensi berdasarkan penyakit kronis selana 6 bulan di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n=26)

Penyakit kronis selama 6 bulan


30,0% Osteoporosis
25,0% Dermatitis
20,0% Hipertensi
15,0% Kolesterol
10,0% Rematik
5,0% DM
0,0% Asam Urat

Diagram 41 menunjukkan bahwa dari 26 responden, mayoritas


penyakit kronis yang dimiliki oleh lansia selama 6 bulan adalah penyakit
hipertensi yaitu sebanyak 26,9%.
3. Tekanan darah sistole
Diagram 42
Distribusi frekuensi berdasarkan tekanan darah sistole lansia di RW 015
Kelurahan Tobek Godang Kecamatan Binawidya (n=26)

TEKANAN DARAH SISTOLE


76,9%
100,0%
3,8% 19,2%
0,0%
Hipotensi Normal Hipertensi

Diagram 42 menunjukan bahwa dari 26 responden ddapatkan bahwa lansia


yang hipotensi sebanyak 1 responden (3,8%), tekanan darah sistole yang
normal sebanyak 20 responden (76,9%), dan lansia yang hipertensi
sebanyak 5 responden (19,2%). Kesimpulan diagram ini menggambarkan
bahwa pada umumnya lansia memiliki tekanan darah sistole normal.

4. Tekanan Darah diastole


Diagram 43
Distribusi frekuensi berdasarkan tekanan darah diastole lansia di RW
015 Kelurahan Tobekgodang Kecamatan Binawidya (n=26)

TEKANAN DARAH DIASTOLE


100,0%
100,0%
50,0%

0,0% Normal

Diagram 43 menunjukan bahwa dari 26 responden (100%)


didapatkan bahwa semua lansia memiliki tekanan darah diastol normal.
5. Dimensi Psikologis
Diagram 44
Distribusi frekuensi berdasarkan tekanan darah sistol lansia di RW 015
KelurahanTobek Godang Kecamatan Binawidya (n=26)

DIMENSI PSIKOLOGIS

100,0% 69,2%
50,0% 30,8%

0,0%
Baik Kurang baik

Diagram 44 menunjukan bahwa dari 26 responden ddapatkan bahwa lansia


yang termasuk ke dimensi psikologis baik sebanyak 8 responden (30,8%)
dan yang termasuk ke dimesnsi psikologis kurang baik sebanyak
18 responden (69,2%). Kesimpulan diagram ini menggambarkan bahwa
pada umumnya dimensi psikologis lansia termasuk kurang baik.

6. Dimensi Sosial
Diagram 45
Distribusi frekuensi berdasarkan dimensi sosial lansia di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 26)

Kategori Dimensi Sosial


57,7%
60,0%
42,3%
50,0%
40,0%
30,0%
20,0%
10,0%
0,0%
kurang baik baik

Diagram 45 menunjukkan bahwa dari 26 responden lansia


didapatkan bahwa lansia yang termasuk ke dimensi sosial kurang baik
sebanyak 15 responden (57,7%), dan dimensi sosial baik sebanyak 11
responden (42,3%). Kesimpulan diagram ini menggambarkan bahwa lebih
dari setengah responden yang mewakili dalam pengisian angket kuesioner
ini memiliki dimensi social yang kurang baik.
7. Dimensi Kesehatan
Diagram 46
Distribusi frekuensi berdasarkan dimensi kesehatan lansia di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 26)

Kategori Dimensi Kesehatan


80,0% 61,5%
60,0%
38,5%
40,0%
20,0%
0,0%
baik kurang baik

Diagram 46 menunjukkan bahwa dari 26 responden lansia


didapatkan bahwa lansia yang termasuk ke dimensi kesehatan baik
sebanyak 16 responden (61,5%) dan dimensi kesehatan kurang baik
sebanyak 10 responden (38,5%). Kesimpulan diagram ini menggambarkan
bahwa lebih dari setengah responden yang mewakili dalam pengisian
angket kuesioner ini memiliki dimensi kesehatan baik

8. Dimensi Gaya Hidup


Diagram 47
Distribusi frekuensi berdasarkan dimensi gaya hidup lansia di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya (n= 26)
Kategori Dimensi Gaya Hidup
50% 50%

50%
40%
30%
20%
10%
0%
positif negatif

Diagram 47 menunjukkan bahwa dari 26 responden lansia


didapatkan bahwa lansia yang termasuk ke dimensi gaya hidup
positif.
f. Keadaan Lingkungan
1. Kondisi Perumahan
Diagram 56
Distribusi frekuensi perumahan berdasarkan status kepemilikan rumah
(n=72)
Status Kepemilikan Rumah
Milik Sendiri Sewa Bulanan Kontrak

15%
7%

78%

Diagram 56 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga memiliki rumah


dengan status kepemilikan pribadi atau milik sendiri yaitu sebanyak
56 keluarga (78%), dan terdapat 5 keluarga (7%) yang melakukan sewa
bulanan serta 11 keluarga (15%) yang mengontrak rumah.
Diagram 57
Distribusi frekuensi perumahan berdasarkan jenis rumah yang ditempati
(n=72)
Jenis Rumah yang Ditempati
4%
14% Permanen
Semi Permanen
82% Tidak Permanen
Diagram 57 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga tinggal di
rumah dengan jenis permanen yaitu sebanyak 59 keluarga (82%). Terdapat
10 keluarga (14%) dengan rumah semi permanen dan 3 keluarga (4%)
dengan rumah tidak permanen.

Diagram 58
Distribusi frekuensi perumahan berdasarkan kondisi jendela setiap harinya
(n=72)
Kondisi Jendela
Terbuka Tertutup

29%

71%

Diagram 58 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga tidak membuka


jendelanya yaitu sebanyak 51 keluarga (71%) dan sisanya yaitu 21
keluarga (29%) membuka jendela setiap harinya.

Diagram 59
Distribusi frekuensi perumahan berdasarkan jenis dinding rumah (n=72)
Jenis Dinding Rumah
1% 4%

20% Papan
Semen
Batu Bata

75% Bilik

Diagram 59 menunjukkan bahwa mayoritas rumah keluarga


berdinding semen, yaitu sebanyak 54 rumah (75%), sedangkan rumah
keluarga yang berdinding batu bata sebanyak 14 rumah (20%). Terdapat 3
rumah (4%) dengan dinding papan dan 1 rumah (1%) dengan dinding bilik.
Diagram 60
Distribusi frekuensi perumahan berdasarkan jenis lantai (n=72)
Jenis Lantai Rumah
Ubin Keramik Tanah
1%

32%

67%

Diagram 60 menunjukkan lebih dari separuh keluarga tinggal di rumah


dengan lantai keramik yaitu sebanyak 48 rumah (67%), dan 23 rumah
(32%) memiliki lantai ubin serta 1 rumah (1%) dengan lantai tanah.

Diagram 61
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan membersihkan
rumah (n=72)
Kebiasaan Membersihkan Rumah
1x/hari 2x/hari 1x/minggu 2x/minggu

1% 6%

46%

47%

Diagram 61 menunjukkan bahwa 33 keluarga (48%) memiliki kebiasaan


membersihkan rumah satu kali sehari, 34 keluarga (49%) memiliki
kebiasaan membersihkan rumah dua kali sehari, 1 keluarga (1%)
membersihkan rumah satu kali seminggu, dan 4 keluarga (2%)
membersihkan rumah dua kali seminggu.
2. Sumber Air Bersih
Diagram 62
Diagram frekuensi sumber air minum dan memasak yang digunakan oleh
keluarga (n=72)
Sumber Air Minum dan Masak
PAM Sumur Galian Cincin Sumur Bor

21%

7%

72%

Diagram 62 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga menggunakan


sumur bor sebagai sumber air minum dan memasak yaitu sebanyak 52
keluarga (72%), dan 15 keluarga (21%) menggunakan air dari Perusahaan
Air Minum (PAM) serta 5 keluarga (7%) menggunakan sumur galian
dengan cincin.

Diagram 63
Distribusi frekuensi syarat air bersih untuk diminum menurut keluarga
(n=72)
Syarat Air Bersih menurut Keluarga
Tidak berbau, tidak
berwarna
28%
Tidak berbau, tidak
berwarna, jernih
50%

19% Tidak berbau, tidak


berwarna, jernih, bebas
zat kimia
3%

Diagram 63 menunjukkan bahwa terdapat 36 keluarga (50%) yang


memilih syarat air bersih adalah tidak berbau, tidak berwarna, jernih, bebas
zat kimia, bebas dari mikroorganisme. Terdapat 2 keluarga (3%) memilih
tidak berbau, tidak berwarna, jernih, bebas zat kimia. Terdapat 14 keluarga
(19%) memilih tidak berbau, tidak berwarna, jernih, dan 20 keluarga (28%)
memilih tidak berbau, tidak berwarna.

Diagram 64
Distribusi frekuensi berdasarkan kemudahan memperoleh air (n=72)
Kemudahan Memperoleh Air
Mudah Sulit jika Musim Kemarau
1%

99%

Diagram 64 menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga dapat


memperoleh air dengan mudah yaitu sebanyak 71 keluarga (99%) dan sisa 1
keluarga (1%) memilih sulit memperoleh air saat musim kemarau.

Diagram 65
Distribusi frekuensi cara pengelolaan air oleh keluarga sebelum diminum
(n=72)
Pengelolaan Air Minum
Dimasak Langsung Diminum

22%

78%

Diagram 65 menunjukkan bahwa mayoritas pengelolaan air untuk diminum


oleh keluarga adalah dengan dimasak terlebih dahulu yaitu sebanyak 56
keluarga (78%) dan 16 keluarga (22%) memilih untuk langsung minum.
Hal ini dikarenakan keluarga menggunakan air galon sebagai air untuk
minum sehingga air tersebut bisa langsung diminum oleh keluarga.
Diagram 66
Distribusi frekuensi berdasarkan sumber air untuk mandi, cuci, kakus
(n=72)
Sumber Air MCK
PAM Sumur Galian dengan Cincin Sumur Bor

11%
7%

82%

Diagram 66 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga menggunakan sumur


bor sebagai sumber air untuk mandi, cuci dan kakus yaitu sebanyak
59 keluarga (82%), 8 keluarga (11%) menggunakan PAM, dan 5 keluarga
(7%) menggunakan sumur galian dengan cincin.

Diagram 67
Distribusi frekuensi berdasarkan tempat penampungan air bersih (n=72)
Jenis Tempat Penampungan Air
Tengki Air Ember Bak Air

33% 35%

32%

Diagram 67 menunjukkan bahwa jumlah keluarga berdasarkan jenis tempat


penampungan air yang digunakan hampir sama, yaitu sebanyak 25 keluarga
(35%) menggunakan tengki air, 24 keluarga (33%) menggunakan bak air
dan 24 keluarga (32%) menggunakan ember.
Diagram 68
Distribusi frekuensi berdasarkan kondisi tempat penampungan air bersih
keluarga (n=72)
Kondisi Tempat Penampungan Air Bersih
Terbuka Tertutup

33%
67%

Diagram 68 menunjukkan bahwa lebih banyak keluarga dengan kondisi


tempat penampungan air bersih tertutup, yaitu sebanyak 48 keluarga
(67%) dan 24 keluarga (33%) dengan kondisi terbuka.

Diagram 69
Distribusi frekuensi berdasarkan kebiasaan membersihkan bak mandi
(n=72)
Cara Membersihkan Bak Mandi
Dikuras Dialirkan air

11%

89%

Diagram 69 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga membersihkan bak


mandi dengan cara dikuras, yaitu sebanyak 64 keluarga (89%) dan 8
keluarga (11%) membersihkan bak mandi dengan cara dialirkan air.
3. Pengelolaan Sampah
Diagram 70
Distribusi frekuensi berdasarkan pengelolaan sampah rumah tangga
keluarga (n=72)
Pengelolaan Sampah
Dibakar Diambil oleh Petugas Kebersihan
4%

96%

Diagram 70 menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga yaitu sebanyak


69 keluarga (96%) mengelola sampah dengan menunggu diambil oleh
petugas kebersihan, sedangkan 3 keluarga (4%) mengelola sampah dengan
dibakar.

4. Pelayanan Kesehatan
Diagram 71
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang
biasa digunakan oleh keluarga (n=72)
Fasyankes yang Biasa Digunakan Keluarga
Puskesmas Rumah Sakit Praktik Dokter Klinik
6%

25% 33%

36%

Diagram 71 menunjukkan bahwa terdapat 26 keluarga (36%) memilih


rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang biasa digunakan.
Terdapat 24 keluarga (33%) memilih puskesmas dan 18 keluarga (25%)
memilih praktik dokter, serta 4 keluarga (6%) memilih klinik.
Diagram 72
Distribusi frekuensi berdasarkan keterjangkauan fasilitas pelayanan
kesehatan (n=72)
Keterjangkauan Fasyankes
Mudah Dijangkau Tidak
3%

97%

Diagram 72 menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga menganggap


bahwa fasilitas pelayanan kesehatan yang ada mudah dijangkau, yaitu
sebanyak 70 keluarga (97%) dan 2 keluarga (3%) memilih tidak.

Diagram 73
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis pembayaran biaya pengobatan
(n=72)
Pembayaran Pengobatan
BPJS Uang Pribadi Asuransi
3%

21%

76%

Diagram 73 menunjukkan bahwa mayoritas keluarga melakukan


pembayaran biaya pengobatan dengan menggunakan BPJS, yaitu sebanyak
55 keluarga (76%), 15 keluarga (21%) menggunakan uang pribadi untuk
pembayaran pengobatan dan 2 keluarga (3%) menggunakan asuransi.
5. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Diagram 74
Distribusi frekuensi berdasarkan penghasilan (n=72)
Penghasilan
10%

21% <500.000
500.000-2.000.000
27%
2.000.000-3.000.000
42% 3.000.000-5.000.000

Diagram 74 menunjukkan bahwa lebih banyak keluarga dengan pendapatan


antara 2.000.000 – 3.000.000 yaitu sebanyak 30 keluarga (42%),
keluarga dengan penghasilan 500.000 – 1.000.000 sebanyak 19 keluarga
(27%, keluarga dengan penghasilan 3.000.000 – 5.000.000 sebanyak 15
keluarga (21%) dan keluarga dengan penghasilan <500.000 sebanyak 7
keluarga (10%).

Diagram 75
Distribusi frekuensi berdasarkan kepemilikan tabungan/asuransi (n=72)
Punya Tabungan/Asuransi
Ya Tidak

43%
57%

Diagram 75 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden tidak


memiliki tabungan kesehatan atau asuransi yaitu sebanyak 41 keluarga
(57%), sedangkan yang memiliki tabungan kesehatan atau asuransi
sebanyak 31 keluarga (43%).
6. Politik dan pemerintahan
Diagram 76
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis organisasi atau kegiatan
kemasyarakatan yang diikuti (n=72)
Organisasi
2% 4%
PKK Posyandu
Pengajian/Wirid
49% Pengurus/Perangkat Desa
40% Sosial Kematian
Tidak Ikut Organisasi
1%

4%

Diagram 76 menunjukkan bahwa sebanyak 35 keluarga (49%) tidak


mengikuti organisasi kemasyarakatan apapun. Organisasi kemasyarakatan
yang banyak diikuti keluarga adalah pengajian/wirid yaitu sebanyak 29
keluarga (40%), pengurus/perangkat desa dan posyandu sebanyak 3
keluarga (4%), serta PKK dan sosial kematian sebanyak 1 keluarga (2%).

7. Komunikasi
Diagram 77
Distribusi frekuensi berdasarkan sumber informasi tentang kesehatan yang
diperoleh keluarga (n=72)
Sumber Informasi
Media Elektronik Petugas Kesehatan Kader Posyandu
Teman Tetangga

1% 1%

21%
14%
63%

Diagram 77 menunjukkan bahwa sumber informasi terbanyak yang


digunakan keluarga adalah media elektronik yaitu sebanyak 45 keluarga
(63%), sumber informasi dari kader posyandu sebanyak 15 (21%), petugas
kesehatan sebanyak 10 (14%), dari teman sebanyak 1 keluarga (1%) dan
dari tetangga sebanyak 1 keluarga (1%).
Diagram 78
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis media elektronik yang digunakan
untuk memperoleh informasi (n=72)
Jenis Media Elektronik
Televisi Handphone/Internet

38%
62%

Diagram 78 menunjukkan bahwa jenis media elektronik yang banyak


digunakan keluarga adalah televisi yaitu sebanyak 45 keluarga (62%),
sedangkan handphone/internet sebanyak 27 keluarga (38%).

Diagram 79
Distribusi frekuensi berdasarkan jumlah frekuensi mendapatkan informasi
kesehatan dalam seminggu (n=72)
Frekuensi Mendapatkan Informasi Kesehatan
1-3 kali 4-6 kali Tidak tentu Jarang >6 kali

7%
8%

24% 50%

11%

Diagram 79 menunjukkan bahwa separuh responden mendapatkan informasi


kesehatan sebanyak 1-3 kali seminggu yaitu sebanyak 36 keluarga
(50%), sebanyak 17 keluarga (24%) tidak tentu. Sebanyak 8 keluarga (11%)
mendapatkan informasi kesehatan 4-6 kali seminggu, sebanyak 6 keluarga
(8%) mendapatkan informasi kesehatan >6 kali seminggu dan 5 keluarga
(7%) jarang mendapatkan informasi kesehatan.
8. Transportasi
Diagram 80
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis transportasi yang dimiliki keluarga
(n=72)
Jenis Transportasi
Mobil Sepeda
Motor Mobil dan Motor
Motor dan Sepeda Mobil, sepeda dan Motor
3% 6%
5%
8%
11%

67%

Diagram 80 menunjukkan bahwa alat transportasi terbanyak yang


digunakan keluarga adalah motor yaitu sebanyak 48 keluarga (67%), yang
menggunakan mobil sebanyak 6 keluarga (8%), yang menggunakan sepeda
sebanyak 4 keluarga (5%), yang menggunakan mobil dan motor sebanyak 8
keluarga (11%), yang menggunakan motor dan sepeda sebanyak 2 keluarga
(3%), serta yang menggunakan mobil, motor dan sepeda sebanyak 4
keluarga (6%).

9. Rekreasi
Diagram 81
Distribusi frekuensi berdasarkan jumlah frekuensi rekreasi yang dilakukan
keluarga (n=72)

Frekuensi Rekreasi
1x/bulan 2x/bulan 3x/bulan Sekali-kali Jarang Tidak Pernah

12%
17%
7%
4%
14%
46%
Diagram 81 menunjukkan bahwa sebanyak 33 keluarga (46%) jarang
melakukan rekreasi, sebanyak 12 keluarga (17%) melakukan rekreasi 1x
sebulan, 5 keluarga (7%) melakukan rekreasi 2x sebulan, 3 keluarga
(4%) melakukan rekreasi 3x sebulan, 10 keluarga (14%) melakukan
rekreasi sekali-sekali, dan 9 keluarga (12%) tidak pernah melakukan
rekreasi.

Diagram 82
Distribusi frekuensi berdasarkan jenis rekreasi (n=72)
Jenis rekreasi
Jalan-jalan Kumpul Keluarga Jalan ke Mall
Menonton TV Ke luar Kota Tidak pernah

13%
29%
12%
15%
28%
3%

Diagram 82 menunjukkan bahwa sebanyak 21 (29%) keluarga melakukan


rekreasi dengan jalan-jalan ke tempat rekreasi, 20 keluarga (28%)
melakukan rekreasi dengan kumpul bersama keluarga, 11 keluarga (15%)
melakukan rekreasi dengan menonton televisi, 9 keluarga (12%)
melakukan rekreasi ke luar kota, 2 keluarga (3%) melakukan rekreasi
dengan jalan ke mall, dan 9 keluarga (13%) tidak pernah melakukan
rekreasi.
3. Hasil Wawancara
a. Ketua RW 015
Hasil wawancara dengan ketua Rukun Warga 015 didapatkan bahwa
wilayah RW 015 memiliki luas 42.515 m2 dengan jumlah KK sebanyak 217.
Organisasi masyarakat yang ada di RW 015 adalah wirid/pengajian, Yayasan
Madani Al-Kautsar, organisasi kepemudaan, dan bank sampah. Di wilayah
RW 015 terdapat posko siskamling yang terletak di dekat gerbang masuk
Perumahan Rajawali Sakti (wilayah RW 015) yang memiliki 3 orang penjaga
keamanan. Organisasi kepemudaan di wilayah RW 015 berperan aktif dalam
kegiatan-kegiatan yang dilakukan di RW 015. Kegiatan bakti sosial atau
gotong royong di wilayah RW 015 jarang dilakukan, kecuali jika ada kegiatan
atau acara tertentu. ketua RW 015 mengatakan bahwa partisipasi masyarakat
terhadap permasalahan RW masih tergolong minim dan terhadap kebersihan
lingkungan seperti selokan masih ada sampah berserakan.
Masyarakat di RW 015 menggunakan mesjid Al-Kautsar atau MDA di
sebelah mesjid Al-Kautsar sebagai tempat pertemuan. Kegiatan di RW 015
selama pandemi ini masih berjalan, seperti wirid yang dilakukan setiap hari
sabtu.
b. Kader Posyandu

Hasil wawancara dengan ketua kader posyandu didapatkan bahwa kegiatan


posyandu yang dijalankan di RW 015 adalah posyandu bayi/balita dan ibu
hamil yang dinamakan Posyandu Apel, sedangkan untuk posyandu lansia belum
ada dibentuk. Terdapat 71 balita di RW 015 dengan 5 anak yang berada di garis
merah. Terdapat 5 kader yang berpartisipasi pada kegiatan posyandu. Kegiatan
posyandu dilakukan pada tanggal 20 setiap bulannya, namun semenjak pandemi
COVID-19, terhitung sejak Maret 2020 kegiatan posyandu dihentikan. Sebelum
pandemi, pelaksanaan sistem 5 meja berjalan baik dan setiap kader akan
bergiliran menjaga meja 1-4, dan meja 5 akan diisi oleh bidan/petugas
kesehatan dari Puskesmas Sidomulyo Rawat Inap. Setelah pandemi, kegiatan
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan tidak lagi terlaksana.
Kegiatan imunisasi dialihkan ke puskesmas, sedangkan kegiatan pemberian
vitamin A dilaksanakan dengan cara sweaping dari satu rumah ke rumah lain.
Sebelum pandemi partisipasi masyarakat cukup baik dalam kegiatan posyandu,
hanya saja ibu hamil jarang mengunjungi posyandu dan lebih memilih langsung
ke klinik atau rumah sakit. Hasil wawancara tentang sistem lima meja kepada
beberapa kader didapatkan bahwa terdapat kader yang lupa atau bingung
tentang tugas dan fungsi pada beberapa meja, dikarenakan kegiatan posyandu
yang lama terhenti. Kader-kader posyandu juga mengatakan bahwa masyarakat
sudah meminta untuk dilaksanakannya kembali kegiatan posyandu, namun izin
untuk melaksanakan kembali Posyandu belum ada. Kader juga mengatakan
bahwa belum ada mendapat sosialisasi tentang bagaimana pelaksanaan protokol
kesehatan dalam pelaksanaan posyandu selama COVID-19.
c. Wawacara Warga
1) PUS (Pasangan Usia Subur)
Hasil wawancara yang dilakukan Ners Muda kepada salah satu PUS
yang mengalamai masalah reproduksi mengatakan bahwa ia mengalami
haid yang panjang sampai satu bulan tidak berhenti. Namun tidak ada
rasa nyeri atau sakit yang dirasakan warga tersebut. Hal ini sudah
dialam sekitar dari bulan November 2020. Hasil wawancara anggota
keluarga yang mengalami mioma uteri mengatakan bahwa penderita
mengeluhkan nyeri haid dan mual selama dua minggu sehingga
diperiksakan ke salah satu rumah sakit dan sudah di operasi.
2) Bayi dan Balita
Hasil wawancara yang dilakukan Ners Muda pada salah satu
orang tua yang memiliki anak dengan autism mengatakan
bahwa anaknya mengalami autism ringan, warga tersebut sadar ketika
umurnya sudah dua tahun namun belum bisa berbicara. Anak pertama
dari warga tersebut juga memiliki keterlambatan namun dapat
berkembang normal saat ini. Anak yang mengalami autism tersebut
menunjukan perilaku seperti tidak bisa mengikuti arahan orang tua dan
keterlambatan berbicara. Saat ini anak tersebut sedang menjalani terapi
tumbuh kembang dan menurut orang tua sudah ada perkembangan dari
anak tersebut. Ibu dari anak tersebut mengatakan bahwa ia mengalami
hipertensi pada saat melahirkan anak tersebut.
3) Remaja
Hasil wawancara oleh salah satu remaja mengatakan bahwa selama
pembelajaran online ia mengalami kebingungan dan tidak mengerti
tentang pembelajaran yang dia lakukan dan juga sulit untuk bertanya
bila tidak tahu atau mengerti tentang pembelajaran. Remaja tersebut
berpendapat bahwa hal ini yang menyebabkan stres pada remaja.
4) Lansia
Hasil wawancara yang dilakukan Ners Muda pada beberapat lansia
mendapatkan bahwa beberapa lansia tidak mau pergi ke pelayanan
kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan rutin karena takut tertular
COVID-19. Sebagian besar lansia mengatakan tensinya diatas 140
mmhg, mereka akan mengkonsumsi ramuan tradisional seperti jus
timun, rebusan daun pandan dan lain-lain. Para lansia akan berobat ke
Puskesmas atau ke klinik jika merasa sudah tidak nyaman, seperti
merasakan sakit kepala dan tengkuk, jantung berdebar-debar karena
tidak ada posyandu lansia seperti posyandu balita setiap bulannya, dan
jika merasa sudah merasa enakkan mereka tidak akan melanjutkan
minum obat tensi rutinnya.
C. Analisa data

ANALISA DATA

No Analisa Data Masalah Keperawatan


1 Hasil angket
- Mayoritas masyarakat di RW 015 kondisi Pemeliharaan kesehatan tidak
jendela disetiap harinya tertutup (71%). efektif di RW 015 Kelurahan
- Hampir seluruh keluarga yaitu sebanyak Tobek Godang, Kecamatan
69 keluarga (96%) mengelola sampah Binawidya.
dengan menunggu diambil oleh petugas
kebersihan, sedangkan 3 keluarga (4%)
mengelola sampah dengan dibakar.

Hasil wawancara:
- Hasil wawancara dengan ketua RW 015
mengatakan bahwa partisipasi masyarakat
terhadap permasalahan RW masih tergolong
minim dan terhadap kebersihan lingkungan
seperti selokan masih ada sampah berserakan.
- Kader juga mengatakan bahwa belum ada
mendapat sosialisasi tentang bagaimana
pelaksanaan protokol kesehatan dalam
pelaksanaan posyandu selama COVID-19.

Hasil windshield survey


- Beberapa rumah mengelola sampah
dengan menunggu diangkut dengan petugas
kebersihan, namun masih ada beberapa titik
tempat penduduk mengolah sampah dengan
di bakar dan dibuang sembarangan.
- Jendela di wilayah RW 015 masih terlihat
tertutup sehingga sirkulasi udara tidak efektif

Hasil observasi
- Kondisi saluran pembuangan air sebagian
besar lancar, namun tampak kotor.
- Tampak beberapa rumah dengan jendela
tertutup.
No Analisis data Masalah
. Keperawatan
2 Hasil Angket
- PUS di RW 015 mayoritas tidak Perilaku kesehatan
menggunakan KB (71,1%) dan yang cenderung beresiko terhadap
menggunakan KB (28,9%). upaya pencegahan penyakit
- PUS yang menggunakan KB mayoritas di RW 015 Kelurahan Tobek
tidak memiliki keluhan (80%) namun terdapat Godang, Kecamatan
beberapa PUS yang memiliki keluhan seperti haid Binawidya.
tidak teratur dan berat badan meningkat
- Umumnya masyarakat memperoleh layanan KB
di Puskesmas dan Bidan (8,9%).
- Pada umumnya anak bayi/balita tidak
memeriksakan tumbuh kembang
- Ada beberapa bayi/balita status
perkembangannya meragukan (20%). Dan
beberapa bayi/balita belum mampu toilet training
(20%).
- Beberapa orang tua tidak bisa memahami
grafik KMS (20%)
- Sebagian remaja mengalami nyeri saat
menstruasi (27,3%)
- Sebagian remaja sudah menerima pendidikan
kesehatan mengenai narkoba (50%), pendidikan
seks (36,40%) dan merokok (77,3%).
- Remaja mendapatkan informasi tersebut dari guru
(31,8%).
- Pada umunya sumber stress remaja yaitu
masalah dengan pelajaran sekolah (77,3%). Dan
cara remaja tersebut mengatasi masalah dengan
curhat kepada orang lain seperti teman, dan
orangtua (45,5%).
- Remaja tidak mengetahui jikalau di puskesmas
terdapat tempat pelayanan kesehatan reproduksi
remaja (59,10%).
- Pada umumnya lansia di RW 015
mengalami batuk (15,4%) dan pilek
(15,4%).
- Pada dimensi gaya hidup lansia
menunjukkan bahwa memiliki gaya hidup yang
positif tidak lebih besar dari negatif (50%). Hal
ini mengakibatkan lansia banyak mengalami
masalah kesehatan.

Hasil Wawancara
- Hasil wawancara dari salah satu PUS
yang memiliki masalah reproduksi mengatakan
bahwa ia mengalami menorrhagia (haid lama
berhenti)
- Terdapat satu PUS yang mengalami mioma
uteri mengatakan bahwa ia merasakan disminore
(nyeri haid) dan mual.
- Ada satu orang anak yang autism Ringan
- Beberapa kader didapatkan bahwa terdapat kader
yang lupa atau bingung tentang tugas dan fungsi
pada beberapa meja
- Kader juga mengatakan bahwa belum ada
mendapat sosialisasi tentang bagaimana
pelaksanaan protokol kesehatan dalam
pelaksanaan posyandu selama COVID-19
- Hasil wawancara oleh satu remaja
mengatakan bahwa sumber utama stress saat masa
pandemi ini yakni strees dengan metode
pembalajaran online, tidak memahami pelajaran
dan tidak tau bertanya kepada siapa.
- Pada umumnya remaja mengalami nyeri
menstruasi, akan tetapi tidak mengkonsumsi obat
untuk mengurangi nyerinya.
- Hasil wawancara dengan kader
posyandu mengatakan tidak adanya posyandu
lansia di wilayah RW 015. Sehingga lansia tidak
dapat memeriksakan kesehatan secara rutin
- Hasil wawancara dengan beberapa lansia
mengatakan bahwa lansia takut memeriksakan
kesehatannya karena takut akan hasil yang kurang
baik.

Hasil observasi
- Terdapat satu orang anak tidak bisa
berbicara sesuai dengan usianya
- Tidak terdapat posyandu lansia di RW
015
D. Prioritas Masalah

PRIORITAS MASALAH KESEHATAN

No Masalah Keperawatan 1 2 3 4 5 6 Total Prioritas


1. Pemeliharaan kesehatan tidak 2 4 7 6 7 5 31 2
efektif di RW 015 Kelurahan
Tobek Godang, Kecamatan
Binawidya.
2. Perilaku kesehatan cenderung 5 5 7 6 8 7 38 1
beresiko terhadap upaya
pencegahan penyakit di RW
015 Kelurahan Tobek Godang,
Kecamatan Binawidya.

Penilaian prioritas masalah


1 = Kesadaran masyarakat terhadap masalah
2 = Motivasi masyarakat dalam menyelesaikan
3 = Kemampuan perawat untuk mempengaruhi penyelesaian masalah
4 = Tersedianya ahli/pihak terkait terhadap pnyelesaikan masalah
5 = Keparahan atau keseriusan masalah yang dihasilkan jika tidak diselesaikan
6 = Kecepatan masalah untuk diselesaikan
Kriteria hasil
1-3 = Rendah
4-6 = Sedang
7-10 = Tinggi

E. Diagnosa Keperawatan
1. Perilaku kesehatan cenderung beresiko : kesiapan peningkatan kesehatan reproduksi,
upaya pencegahan gangguan tumbuh kembang, kesiapan peningkatan koping remaja,
upaya pencegahan penyakit tidak menulr pada lansia di RW 015 Kelurahan Tobek
Godang, Kecamatan Binawidya.
2. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif : upaya pencegahan penyakit di RW 015
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya.
77

F. Intervensi Keperawatan

PLANNING OF ACTION (POA)


KEGIATAN PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS KELOMPOK 1
WILAYAH KERJA RW 015 KELURAHAN TOBEKGODANG

EVALUASI
NO DIAGNOSA TUJUAN STRATEGI INTERVENSI
KRITERIA STANDAR
1 Perilaku kesehatan Tujuan jangka panjang : Promosi Penyuluhan Respon verbal 80% Kader
cenderung beresiko Setelah dilakukan kegiatan kesehatan tentang sistem mengetahui
terhadap upaya pencegahan selama 4 minggu diharapkan lima meja dengan tentang
penyakit di RW 015 masalah perilaku kesehatan protokol bagaimana
Kelurahan Tobek Godang, cenderung beresiko tidak terjadi kesehatan pada pelaksanaan
Kecamatan Binawidya. masa pandemi protokol
Tujuan jangka pendek: COVID-19 yang kesehatan dalam
Setelah dilakukan kegiatan harus dilakukan pelaksanaan
selama 1 minggu diharapkan : jika posyandu posyandu selama
tetap berjalan di COVID-19.
1) Kader mengetahui tentang masa pandemi
bagaimana pelaksanaan COVID-19 di RW
protokol kesehatan dalam 15, Sabtu, 16
pelaksanaan posyandu April 2022 (PJ
selama COVID-19. Posyandu :
2) Masyarakat mampu Emmy Liana)
menerapkan upaya
pencegahan penyakit dengan Proses Gotong Royong Respon afektif dan 80 % warga ikut
membersihkan lingkungan kelompok psikomotor dalam kegiatan
3) Lingkungan rumah setiap
RW 015 bebas dari sampah Partnership Mengadakan 1. Respon Instansi dan
4) Lapangan bola tampak bersih perlombaan psikomotor pemerintah
5) Jalanan tampak bersih posyandu dan 2. Respon setempat ikut
lomba balita sehat kognitif bekerja sama (PR)
3. Respon afektif
2 Pemeliharaan kesehatan Tujuan jangka panjang : Promosi Penyuluhan Respon verbal 80% lansia 78dapat
Setelah dilakukan tindakan kesehatan tentang penyakit mengetahui
tidak efektif di RW 015
keperawatan diharapkan kronis pada lansia tentang penyakit
Kelurahan Tobek Godang, masalah pemeliharaan kronis
kesehatan di RW 015
Kecamatan Binawidya. Proses Membentuk Respon afektif dan 80 % lansiaa ikut
Kelurahan Tobek Godang,
kelompok kelompok lansia psikomotor dalam kegiatan
Kecamatan Binawidya menjadi
sehat dan
efektif
mengadakan senam
lansia
Tujuan jangka pendek:
setelah dilakukan tindakan Partnership Membentuk 1. R Instansi dan
keperawatan diharapkan : Posyandu Lansia espon pemerintah
1) Meningkatkan pengetahuan psikomotor setempat ikut
masyarakat tentang 2. R bekerja sama (PR)
ketidakefektian pemeliharaan espon kognitif
kesehatan
2) Terbentuknya kader 3. R
posyandu lansia espon afektif
79

G. Implementasi Keperawatan

NO KEGIATAN HASIL HAMBATAN


1 Melakukan penyuluhan tentang sistem lima meja 1) Ibu-ibu Kader Posyandu Apel yang 1) Masih kurangnya pengetahuan
dengan protokol kesehatan pada masa pandemi
hadir mengetahui sistem lima meja masyarakat mengenai
COVID-19 yang harus dilakukan jika posyandu tetap
berjalan di masa pandemi COVID-19 di RW 015 2) Ibu-ibu Kader Posyandu Apel yang 2) Kelompok mayarakat tertentu
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya
hadir mampu menjelaskan kembali dan pihak terkait seperti
sistem lima meja puskesmas yang ada
3) Ibu-ibu Kader Posyandu Apel yang diharapkan memahami
hadir mampu mendemonstrasikan masalah kesehatan yang ada di
sistem lima meja RT 015 Kelurahan Tobek
4) Ibu-ibu Kader Posyandu Apel yang Godang, Kecamatan
hadir mengetahui protokol kesehatan Binawidya yang kurang
COVID-19 yang harus diperhatikan koordinasi tentang program
jika posyandu tetap berjalan di masa yang akan dilaksanakan
pandemi COVID-19 3) Kurangnya pemahaman warga
tentang kegiatan yang akan
dilaksanakan membuat warga
kurang termotivasi untuk
menyampaikan pendapat
tentang rencana yang akan
dilakukan
2 Melaksanakan kegiatan Gotong Royong di RW 015 80
1) Lingkungan rumah setiap RW 015 kegiatan dilaksanakan tidak sesuai
Kelurahan Tobek Godang, Kecamatan Binawidya
bebas dari sampah dengan waktu yang telah
2) Lapangan bola tampak bersih direncanakan sebelumnya karena
3) Jalanan tampak bersih banyaknya peserta yang datang
tidak tepat pada waktunya, selain
itu masih kurangnya partisipasi
masyarakat dalam kegiatan yang
dilaksanakan.
81

F. Evaluasi Keperawatan

NO MASALAH KEPERAWATAN KEGIATAN EVALUASI ANALISA


1 Perilaku kesehatan cenderung 1. Penyuluhan tentang sistem lima meja 1. J  Kekuatan :
beresiko terhadap upaya dengan protokol kesehatan pada masa umlah kader posyandu Semua kader posyandu
pencegahan penyakit di RW 015 pandemi COVID-19 yang harus yang hadir ada 5 orang hadir dalam kegiatan ini
Kelurahan Tobek Godang, dilakukan jika posyandu tetap 2. K (100%)
Kecamatan Binawidya. berjalan di masa pandemi COVID-19 ader Posyandu Apel yang Adanya
di Posyandu Apel RW 015 Kelurahan hadir mengikuti kegiatan  Kelemahan :
Tobek Godang, Kecamatan dari awal sampai akhir Belum tersedianya
Binawidya , Sabtu, 16 April 2022 (PJ 3. K sarana dan prasarana
Posyandu : Emmy Liana) ader Posyandu Apel yang yang memadai untuk
hadir berperan aktif penerapan protocol
selama kegiatan kesehatan di posyandu,
berlangsung seperti desinfektan,
4. K thermogun, tempat cuci
ader Posyandu Apel yang tangan dengan sabun
hadir mampu menjelaskan  Kesempatan :
kembali dan Dukungan dari
mendemonstrasikan sistem Puskesmas Sidomulyo
lima meja Rawat Inap dalam
5. K pelaksanaan kegiatan
ader Posyandu Apel yang  Ancaman :
hadir mengetahui protokol Pelaksanaan Posyandu
kesehatan COVID-19 yang tertunda karena
yang harus diperhatikan pandemic COVID-19
jika posyandu tetap
berjalan di masa pandemi
COVID-19

2. Melaksanakan kegiatan Gotong 1. Jumlah peserta yang hadir  Kekuatan :


Royong di RW 015 Kelurahan Tobek saat gotong royong ada 45 Dukungan dari ketua
Godang, Kecamatan Binawidya orang (60% dari total KK) RW 015 terhadap
Minggu, 17 April 2022 (PJ : Sutan 2. Masyarakat yang hadir kegiatan yang
Mardaut) mengikuti kegiatan gotong dilaksanakan
royong dari awal sampai  Kelemahan :
akhir Masih banyak warga
3. Lingkungan rumah setiap yang belum 82
RW 015 bebas dari berpartisipasi dalam
sampah kegiatan ini
4. Lapangan bola tampak  Kesempatan :
bersih Kegiatan gotong royong
5. Jalanan tampak bersih juga memberikan
6. kesempatan kepada
warga untuk saling
mengenal dan
bersilatuhrahmi
 Ancaman :
Lingkungan yang sudah
bersih bias menjadi
kotor kembali jika
kegiatan ini hanya
dilakukan saat ini saja