Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS RETRIBUSI PASAR TERHADAP PENINGKATANPENDAPATAN ASLI DAERAH SEBELUM DAN SEUDAH OTONOMIDAERAH DI KABUPATEN LUMAJANG

Oleh: LIDI NUR WAHYUNINGSIH ( 02620115 )


Dibuat: 2007-08-10 , dengan 3 file(s).

Keywords: Key word : Retribution effectiveness analysis Subject: #SUBJECT ABSTRAKSI Penelitian ini merupakan studi kasus pada dinas pendapatan daerah kabupaten lumajang dengan judul : Analisis Retribusi Pasar Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sebelum dan Sesudah Otonomi Daerah di Kabupaten Lumajang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis kontribusi retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Lumajang, untuk mengetahui analisis efektivitas retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah di Kabupaten Lumajang, untuk mengetahui apakah ada perbedaan analisis kontribusi retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah di kabupaten Lumajang, untuk mengetahui apakah ada perbedaan analisis tingkat efektivitas retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah di Kabupaten Lumajang. Hasil perhitungan dengan rasio kontribusi yaitu rata-rata kontribusi retribusi pasar sebelum otonomi daerah sebesar 9,25% dan sesudah otonomi daerah sebesar 6,06%. Sedangkan tingkat efektivitas sebelum otonomi daerah sebesar 99,17% dan sesudah otonomi daerah 102,42%. Tingkat perbedaan kontribusi retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah dengan uji wilcoxon tidak ada bedanya karena nilai asymp siq (2 tailed)>0,05=0,109>0,05, sedangkan tingkat perbedaan efektivitas retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah dari uji wilcoxon tidak ada bedanya karena nilai asymp siq (2 tailed)>0,05=0,109>0,05. Dari hasil analisis tersebut dapat di ketahui bahwa kontribusi retribusi pasar sesudah otonomi daerah mengalami penurunan tetapi dapat dikatakan efektif karena tingkat efektivitasnya bias mencapai 1atau 100%. Sedangkan dari hasil uji statistik dari uji beda wilcoxon baik dari kontribusi retribusi pasar sebelum dan sesudah otonomi daerah dan tingkat efektivitas sebelum dan sesudah otonomi daerah tidak ada bedanya karena nilai asymp siq (2 tailed)>0,05=0,109>0,05. Berdasarkan kesimpulan diatas penulis dapat mengajukan saran yaitu perlu adanya tindakan yang tegas dalam penerapan sanksi terhadap wajib retribusi pasar yang tidak taat dalam membayar retribusi,sebaiknya meningkatkan pengawasan, pembinaan dan evaluasi secara rutin terhadap petugas pemungut retribusi, hendaknya pemerintah daerah memberikan target kepada petugas pemungut retribusi pasar berapa besar tiap hari retribusi pasar yang harus disetorkan ke pemerintah daerah. Kalau petugas pemungut retribusi pasar tidak bisa memenuhi target yang telah ditetapkan sebaiknya pemerintah daerah memberikan sanksi yang tegas dengan cara mengancam diberikan denda, dalam menentukan target pendapatan daerah atas retribusi pasar sebaiknya didasarkan pada faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi retribusi pasar, sebaiknya menambah sarana dan prasarana di pasar dan menertibkan kios-kios dan bedak-bedak yang ada didalam pasar, karena rata-rata yang digunakan menggunakan time series yaitu periode

3 tahun sebelum otonomi daerah dan 3 tahun sesudah otonomi daerah maka diusahakan untuk menambah periode penelitian supaya hasil lebih akurat.
This research is a case study on Dipenda Lumajang by title: Analysis of Market Charges Against Increasing Regional Income Before and After the Autonomous Region in Lumajang. The purpose of this study is to investigate the contribution of retribution market analysis before and after the regional autonomy of Revenue (PAD) in Lumajang, to determine the effectiveness of retribution market analysis before and after decentralization in Lumajang, to find out whether there are differences in the contribution analysis of market levies before and after regional autonomy on local revenues increased in Lumajang district, to find out whether there are differences in the level of effectiveness of retribution market analysis before and after decentralization in Lumajang. The calculation result with the contribution ratio of the average contribution of market levies before the regional autonomy of 9.25% and after the regional autonomy of 6.06%. While the level of effectiveness before the regional autonomy of 99.17% and 102.42% after the regional autonomy. The level difference of the market levy contributions before and after regional autonomy with the Wilcoxon test does not make any difference because the asymp siq (2 tailed)> 0.05 = 0.109> 0.05, whereas the difference in effectiveness of the levy rate market before and after the regional autonomy of the Wilcoxon test does not makes no difference because the value asymp siq (2 tailed)> 0.05 = 0.109> 0.05. From the results of the analysis can be in the know that the contribution of regional autonomy after the market levy has decreased but it can be said to be effective because of its effectiveness 1atau bias reaches 100%. While the statistical test results from different test well matched by contributions from market levies before and after the regional autonomy and the level of effectiveness before and after regional autonomy makes no difference because the asymp siq (2 tailed)> 0.05 = 0.109> 0.05. Based on the conclusions above, the writer may submit suggestions of the need for firm action in the implementation of compulsory levies sanctions on the market that do not obey the pay user charges, should improve its oversight, guidance and evaluation on a regular basis to levy collector officers, local government should provide a target to officers levy collector market every day how big the market levy that must be paid to local governments. If officers levy collector market can not meet the set target of local government should provide a tough sanctions provided by threatening fines, in determining regional income targets for retribution should be based on market factors and conditions affecting the market retribution, should add to the facilities and infrastructure in the market and curb the stalls and powder-powder is in the market, because the average used time series that uses 3-year period prior to regional autonomy and regional autonomy 3 years after it sought to increase the period of study so that more accurate results.