Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN Saliva Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni

kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang diproduksi bervariasi yaitu 0,5 1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat perangsangannya. Mengutip Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau saliva mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yang mengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk mencernakan karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atau perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjar parotis. Cairan tipe mucus itu disekresikan atau dikeluarkan setiap detik sepanjang waktu kecuali saat tidur yang produksinya lebih sedikit. Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebaagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amylum) menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya. Selain dalam pencernaan air liur juga berperan dalam kebersihan mulut. Sekresi saliva terutama tipe mucus penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut. Rongga mulut berisi bakteri atau kuman patogen (merugikan) yang dengan mudah merusak jaringan dan menimbulkan karies gigi (gigi berlubang). Air liur juga mencegah kerusakan dengan beberapa cara. Pertama, aliran air liur itu sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga pertikel makanan yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri. Kedua, air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri,mencerna partikel makanan dan air liur mengandung antibody protein yang menghancurkan bakteri. Selain berfungsi untuk kesehatan dalam tubuh, air liur juga diyakini dapat memberikan manfaat bagi luar tubuh. Sejak zaman dahalu, secara naluri ketika ada jari-jari Anda yang terluka akibat tergores pisau,Anda akan mengisap luka tersebut dengan mulut. Hewan pun demikian. Misalnya kucing, monyet, dan anjing, biasa membasuh tubuh dengan air liurnya ketika luka.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang pada tahun 2001 seperti yang dikutip dari cbn.com, air ludah mengandung 40 sampai 50 protein. Tiap protein punya fungsi yang berbeda-beda. Satu protein untuk menangkal debu, sinar, dan bahan kimia. Dari 50 protein itu di dalamnya ada 3 protein yang khusus untuk mikroorganisme. Atas khasiat itulah, diyakini air liurnya bisa bermanfaat bagi gangguan mata, seperti katarak, rabun jauh dan dekat, atau gangguan mata karena cedera seperti terbentur, terkena benda tumpul maupun benda tajam. BAB II METODOLOGI Alat dan Bahan : ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ Pipet tetes Tabung reaksi Penjepit tabung reaksi Larutan pati 2% Larutan urea 10% HCl Reagen Molibdat khusus Reagen Molisch saliva ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ BaCl2 H2SO4 Penangas air ~ ~ Gelas ukur Rak tabung reaksi Cawan keramik Reagen Benedict Asam asetat encer Iodine

Cara Kerja : 1. Tes Molisch Mencampurkan 2 mL saliva yang akan diperiksa dengan 2 tetes alfa-naftol dalam alkohol 95 os (reagen Molisch). Lalu mengocok larutan tersebut dan memiringkan tabung reaksi sekitar 45o. Memasukkan H2SO4 pekat secara perlahan-lahan dan hati-hati sebanyak 2 cc. Dengan perlahan, menegakkan tabung reaksi kembali. 2. Tes Iodine

Menambahkan 2 mL saliva ke dalam 5 mL larutan pati 2%. Menempatkan tabung reaksi pada suhu 37 oC dan mencatat waktunya bila opalescenci hilang dan bila reaksi dengan iodine tercapai. 3. Tes Benedict Menuangkan larutan benedict sebanyak 2,5 cc. Melarutkan benedict ke dalam tabung reaksi dan menambahkan 4 tetes saliva. Mencampurkan dan memanaskan nya selama 2-3 menit pada api langsung atau penangas air selama 5 menit. Memperhatikan warna dan endapan yang terjadi. 4. Memisahkan Musin 2 mL saliva + 1 mL larutan asam asetat encer 5. Tes Sulfat Menambahkan asam klorida encer ke dalam 2 mL saliva. Menambahkan Barium Klorida 1% tetes demi tetes. 6. Tes Fosfor Menuangkan 10% urea sebanyak 10 mL ke dalam 1 mL saliva pada tabung reaksi 2 mL reagen molibdat khusus dicampurkan ke dalam tabung reaksi tadi dan menambahkan larutan ferro-sulfat khusus sebanyak 1 mL. BAB III HASIL DAN KESIMPULAN PRAKTIKUM Hasil 1. Pada Tes Molisch, saliva yang di uji ternyata menunjukkan ada nya cincin ungu di bagian endapan. Dan cincin ungu ini membuktikan adanya karbohidrat dalam saliva. 2. Tes Iodine menunjukkan hasil negatif. Dan hasil negatif itu membuktikan ada nya polisakarida dalam saliva. 3. Tes Benedict pada saliva ini adalah untuk membuktikan ada nya glukosa dalam saliva. Dan yang terjadi adalah dengan ada nya endapan warna merah bata pada campuran saliva dan benedict. Hal ini menunjukkan adanya glukosa dalam saliva. 4. Pada tes Musin, hasil nya adalah positif dengan ditemukan endapan warna putih yang menunjukkan adanya musin dalam saliva. 5. Tes sulfat juga positif. Dan ini menunjukkan bahwa saliva mengandung ion sulfat dengan ada nya endapan warna putih setelah diteteskan 2 tetes BaCl2.

6. Hasil Tes Fosfor menunjukkan hasil positif dengan berubah nya warna campuran menjadi biru. Hasil positif ini menunjukkan bahwa saliva mengandung orto fosfor. Kesimpulan Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa proses pencernaan berawal di dalam rongga mulut yang dikatalis dengan enzim amilase yang terdapat di dalam saliva. Selain itu kadar hidrolisis amilum akan semakin sempurna jika kontak permukaan substrat dengan enzim tersebut makin lama. Kerja enzim amylase tersebut sangat spesifik terbukti dengan tidak adanya reaksi pada penambahan HCl dan pemanasan. Itu berarti enzim amylase memiliki range pH tertentu untuk dapat bekerja optimal. Sedangkan pemanasan dapat merusak struktur enzim yang termasuk protein. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Khasiat Saliva. Dalam http://masenchipz.com/khasiat-saliva. Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Edisi 3. Airlangga University Press: Surabaya Harper, et al. 1980. Biokimia (Review of Physiological Chemistry). Edisi 17. EGC: Jakarta Martoharsono, Soeharsono, Mulyono. 1978. Petunjuk Praktikum Biokimia. Team Pengelola Kuliah dan Praktika Biokimia UGM Yogya Murray, Robert, Granner, Daryl K. 1999. Biokimia Harper. Edisi 24. EGC: Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Setiap hari tubuh kita terus menerus menerima asupan karbohidrat dari makanan yang kita makan, khususnya nasi. Nasi yang merupakan polisakarida merupakan makanan sumber

karbohidrat, dalam hal ini adalah kelompok amilum. Amilum, atau bahasa sehari-harinya adalah pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian.

Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan amilopektin. Pada saat kita mengunyah nasi (amilum), maka dalam mulut terjadi suatu reaksi kimia, yaitu pemecahan ikatan-ikatan pada amilum dengan bantuan enzim, dalam hal ini adalah enzim amilase yang terdapat dalam saliva (air liur).

Enzim merupakan suatu senyawa yang termasuk dalam golongan protein. Enzim ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia karena sebagian besar dari proses metabolisme tubuh kita mengikut sertakan kinerja dari enzim tersebut. Tetapi perlu kita ketahui bahwa kerja suatu enzim tentu saja tidak lepas dari syarat-syarat yang harus dipenuhi misalnya harus dalam suhu tertentu, pH tertentu dan masih banyak lagi faktor-faktor yang mempengaruhi kerja dari enzim tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui pengaruh dari pH dan suhu terhadap kerja dari enzim tersebut.

2. Maksud dan Tujuan Percobaan 1. Maksud Percobaan

Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami pengaruh pH dan temperatur terhadap keaktifan enzim amilase dalam peruraian pati.

2. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini antara lain :

a. Menentukan pH optimum dalam peruraian pati akibat kerja enzim amylase

b. Menentukan temperature optimun peruraian pati akibat kerja enzim amylase. 3. Prinsip Percobaan

Menentukan aktivitas kerja enzim amilase pada berbagai pH dan temperatur tertentu dengan iodin sebagai indikator berdasarkan perubahan warna yang terjadi pada setiap interval waktu 5 menit.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengetahuan tentang katalis telah dirintis oleh Berzelius pada tahun 1873. Ia mengusulkan nama katalis untuk zat-zat yang dapat mempercepat reaksi tetapi zat itu tidak ikut bereaksi. Proses kimia yang terjadi dengan pertolongan enzim telah dikenal sejak zaman dahulu misalnya pembuatan anggur dengan cara fermentasi atau peragian. Hingga sekarang kata enzim yang berarti di dalam ragi tetap dipakai untuk nama katalis dalam proses biokimia (Poedjiadi, 1994).

Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapatdalam sel hidup dan mempunyai fungsi penting sebagai katalisator reaksi biokimia yang secvara kolektif membentuk metabolisme-perantara (intermediary metabolism) dari sel (Wirahadikusumah, 1989).

Enzim adalah protein yang mengkatalisis reaklsi-reaksi biokimia. Enzim biasanya terdapat dalam sel dengan konsentrasi yang sangat rendah, dimana mereka dapat meningkatkan laju reaksi tanpa mengubah komposisi kesetimbangannnya; artinya, baik itu laju reaksi maju maupun laju reaksi kebalikannya ditingkatkan dengan kelipatan yang sama. Kelipatan ini biasanya disekitar 103 sampai 1012 (Kuchel dan Ralston, 2006)

Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan penting dalam proses aktivitas biologis. Enzim ini berfungsi sebagai katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas. Dalam jumlah yang sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya. Enzim ini akan kehilangan aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat, pelarut organik, atau apa saja yang menyebabkan denaturasi protein. Enzim dikatakan mempunyai sifat khas, karena hanya bekerja pada substrat tertentu dan bentuk reaksi tertentu (Girindra, 1993).

Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, di samping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan enenrgi (reaksi endergonik) dan ada pula yang menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik) (Poedjiadi, 1994).

Spesifitas enzim yang sangat menarik perhatian ada dua. Yang pertama adalah bahwa enzim menunjukkan spesifitasnya yang amat tinggi. Yang kedua adalah bahwa enzim memiliki tenaga katalitik yang besar dan dapat dibuktikan dengan kecepatan reaksinya yang biasa mencapai 1020 kali. Dua ciri khas tersebut dimiliki oleh enzim disebabkan karena enzim mempunyai sisi aktif. Yaitu sisi yang ada pada enzim yang dapat melakukan fungsi pengarahan, pengikatan, yang tidak terdapat pada protein pada umumnya (Martoharsono, 1998).

Berikut ini adalah ringkasan klasifikasi enzim secara internasional (Montgomery, 1993):

1. Oksidoreduktase mengkatalisis berbagai macam reaksi oksidasi-reduksi serta sering mempergunakan koenzim seperti NAD+, FAD, atau lipoat sebagai akseptor hidrogen. Akseptor lain termasuk koenzim Q atau molekul oksigen. Nama umum lainnya adalah dehidrogenase, oksidase, peroksidase, dan reduktase. 2. Transferase mengkatalisis berbagai jenis transfer kelompok dalam metabolisme banyak langkah-langkah penting yang memerlukan transfer dari satu molekul lain dari kelompok amino, karboksil, metil, asil, glikosil, atau fosforil. Nama umum yangs ering digunakan adalah aminotransferase (transaminase), karnitin asil transferase, dan transkarboksilase. 3. Hidrolase mengkatalisis pembelahan ikatan antara karbon dan beberapa atom lainnya dengan adanya penambahan air. Nama umum yang sering dijumpai termasuk esterase, peptidase, amilase, fosfatase, urease, pepsin, tripsin, dan kemotripsin. 4. Liase mengkatalisis pemecahan ikatan karbon-karbon, karbon-sulfur, karbon-nitrogen tertentu (tidak termasuk peptida). Nama umumnya adalah dekarboksilase,aldolase,sitrat liase, dan dehidratase. 5. Isomerase mengkatalisis rasemase isomer optik dan geometrik dan reaksi oksidasireduksi intramolekular tertentu. Nama umumnya antara lain epimerase, rasemase, dan mutase.

Ligase mengkatalisis pembentukan ikatan antara karbon dan oksigen, sulfur, nitrogen, dan atomatom lain. Energi yang diperlukan untuk pemebntukan ikatan sering didapatkan dari hidrolisis ATP. Nama umumnya antara lain sintetase dan karboksilase.

Pati, terutama terdapat dalam jumlah tinggi pada golongan umbi, seperti kentang, dan pada bijibijian, seperti jagung, tetapi kemampuan membentuk pati dijumpai pada semua sel tanaman. Pati

mengandung dua jenis polimer glukosa, amilosa, dan amilopektin. Amilosa terdiri dari rantai unit-unit D-glukosa yang panjang dan tidak bercabang, digabungkan oleh ikatan (1-4). Rantai ini beragam dalam berat molekulnya, dari beberapa ribu sampai 500.000. Amilopektin juga memiliki berat molekul yang tinggi, tetapi strukturnya bercabang tinggi. Ikatan glikosidik yang menggabungkan residu glukosa yang berdekatan di dalam rantai amilopektin adalah ikatan (1-4), tetapi titik percabangan amilopektin merupakan ikatan (1-6) (Lehninger, 1982).

Enzim amilase dapat memecah ikatan-ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa. Ada tiga macam enzim amilase, yaitu -amilase, -amilase, -amilase. -amilase terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endomilase sebab enzim ini memecah bagian dalam atau bagian tengah amilum. -amilase terutama terdapat pada tumbuhan dan dinamakn eksoamilase sebab memecah dua unit glukosa yang terdapat pada ujung molekul amilum secara berurutan sehingga pada akhirnya terbentuk maltosa. -amilase telah diketahui terdapat dalam hati. Enzim ini dapat memecah ikatan 1-4 dan 1-6 pada glikogen dan menghasilkan glukosa (Poedjiadi, 1994).

Ada beberapa hal yang mempengaruhi kerja enzim antara lain konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, pengaruh suhu, pengaruh pH, dan pengaruh inhibitor. Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tertentu tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim. Konsentrasi enzim tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar (Poedjiadi, 1994).

Pengaruh pH terhadap kecepatan reaksi, memperlihatkan adanya pH optimum:


Kecepatan reaksi

pH optimum

pH

(Girindra, 1993).

Di dalam sel dan lingkungan sel sekelilingnya, pH dalam keadaan normal harus tetap sebab adanya perubahan akan menyebabkan pergeseran aktivitas enzim. Hal ini akan mempengaruhi dan mengacaukan sistem katabolik dan anabolik dalam sel jaringan (Girindra, 1994).

Laju reaksi berkurang pada kedua sisi pH optimum dari tiga alasan yang mungkin :

1. Protein enzim dapat menjadi /mengalami denaturasi akibat pH ekstrem tinggi atau rendah. 2. Protein enzim dapat memerlukan gugus-gugus asam amino yang terionisasikan pada rantai samping yang mungkin aktif hanya pada satu keadaaan ionisasi. 3. Substrat dapat memperoleh atau kehilangan proton dan reaktif dalam hanya satu bentuk muatan.

(Page, 1985).

Reaksi kimia dapat dipengaruhi oleh suhu, maka reaksi yang menggunakan katalis enzim dapat diperngaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksi pun akan menurun (Poedjiadi, 1994).

Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan kecepatan reaksi. Koefisien suhu suatu reaksi diartikan sebagai kenaikan kecepatan reaksi sebagai akibat kenaikan suhu 10oC, namun kenaikan suhu pada saat mulai terjadinya proses denaturasi akan mengurangi kecepatan reaksi. Oleh karena itu ada dua pengaruh yang berlawanan, maka akan terjadi suatu titik optimum, yaitu suhu yang paling tepat bagi suatu reaksi yang menggunakan enzim tertentu. Suhu optimum yaitu suhu yang menyebabkan terjadinya reaksi kimia dengan kecepatan paling besar. Tiap enzim memiliki suhu optimum tertentu (Page, 1989).Pati, terutama terdapat dalam jumlah tinggi pada golongan umbi, seperti kentang, dan pada biji-bijian, seperti jagung, tetapi kemampuan membentuk pati dijumpai pada semua sel tanaman. Pati mengandung dua jenis polimer glukosa, amilosa, dan amilopektin. Amilosa terdiri dari rantai unit-unit D-glukosa yang panjang dan tidak bercabang, digabungkan oleh ikatan (1-4). Rantai ini beragam dalam berat molekulnya, dari beberapa ribu sampai 500.000. Amilopektin juga memiliki berat molekul yang tinggi, tetapi strukturnya bercabang tinggi. Ikatan glikosidik yang menggabungkan residu

glukosa yang berdekatan di dalam rantai amilopektin adalah ikatan (1-4), tetapi titik percabangan amilopektin merupakan ikatan (1-6) (Lehninger, 1982).

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan

Bahan yang digunakan antara lain larutan pati 1%, larutan NaCl 0,1 M, saliva (amylase), larutan buffer pH 8,0; 7,4; 6,8; 6,2; 5,4; dan 5,0, larutan asam asetat, larutan iodin 0,01 M, tissue roll, akuades, es batu. 3.2 Alat

Alat yang digunakan antara lain tabung reaksi, rak tabung, inkubator, pipet tetes, pipet skala 2 mL, gelas ukur 10 mL, penunjuk waktu, gelas piala 600 mL, gegep, labu semprot, plat tetes, korek api, dan lampu spritus.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Pengruh pH

Saliva sebanyak 1mL diencerkan dengan akuades dalam tabung skala hingga volumenya 10 mL. Kemudian ke dalam 6 buah tabung reaksi diisi masing-masing 5 mL larutan buffer fosfat berturut-turut pH 8,0; 7,4; 6,8; 6,2; 5,4 dan 5,0. Ke dalam larutan buffer ini dimasukkan 2,5 mL pati 1%, 1 mL NaCl. Kemudian 6 tabung lainnya diisi masing-masing 1 mL saliva encer. Masing-masing tabung dipasangkan. Untuk larutan buffer pH 8 dan 7,4 diasamkan dengan ditambahkan 2 tetes asam asetat 0,1 M sebelum ditambahkan asam asetat. Kemudian Ditambahkan 3 tetes iodine pada 6 tabung yang berisi larutan buffer tersebut dan 1 mL saliva dimasukkan kedalam masing-masing tabung. Selanjutnya ke enam tabung dimasukkan di dalam inkubator bersuhu 38oC lalu diperhatikan perubahan yang terjadi. Dicatat perubahan dan waktu yang dibutuhkan pada berbagai pH setiap interval 5 menit. Selanjutnya dibuat grafik pH versus kebalikan waktu (1/T) dan dari grafik itu ditentukan pH optimumnya. 3.3.2 Pengaruh Temperatur

Diambil 8 buah tabung reaksi. 4 tabung diisi masing-masing 2,5 mL larutan pati 1%, dan 4 tabung reaksi lain diisi masing-masing 1 mL saliva encer. Kemudian tabung pertama dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi es batu, tabung kedua dibiarkan pada temperatur kamar, tabung ketiga dimasukkan dalam inkubator bersuhu 38o C, dan tabung keempat dipanaskan pada lampu spritus hingga mendidih. Pada saat semua tabung berada pada suhu yang diinginkan, dimasukkan masing-masing 1 mL saliva yang telah diencerkan tadi. Setelah itu tiap lima menit, diambil sampel sebanyak dua tetes kemudian dimasukkan dalam plat tetes yang sebelumnya telah diberi setetes iodine. Diamati perubahan warna yang terjadi setiap interval

waktu 5 menit. Ditentukan kecepatan penguraian masing-masing contoh dengan melihat perubahan yang terjadi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh pH

Pada percobaan ini akan ditentukan pH optimum suatu enzim yaitu enzim amilase dalam menghidrolisis pati. Pada percobaaan ini digunakan buffer fosfat dengan range pH antara 5,0

sampai 8,0, yaitu 5,0; 5,4; 6,2; 6,8; 7,4 dan 8,0. Dengan tujuan untuk mengetahui pada pH berapa enzim ini dapat bekerja dengan baik. Larutan buffer masing-masing diberi NaCl 0,1%, pati (amilum), dan saliva encer. Tujuan dari penambahan NaCl ini adalah untuk m,emberikan suasana yang sama dalam mulut untuk enzim amylase serta sebagai garam yang sifatnya netral yang tidak berpengaruh pada perlakuan pH termasuk penambahan asam, sehingga NaCl digunakan sebagai aktivator.

Sebelum dimasukkan ke dalam inkubator untuk larutan buffer 8,0 dan 7,4 terlebih dahulu diberi asam asetat. Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk mengasamkan larutan yang agak basa. Selanjutnya dilakukan pemanasan dalam inkubator dengan tujuan untuk mempercepat laju reaksi atau memaksimalkan kerja enzim.

Saat dalam inkubator, enzim amilase yang ada pada saliva (air liur) akan menghidrolisis pati menjadi dekstrin, kemudian menjadi maltosa dan selanjutnya glukosa. Enzim ini memecah ikatan -1,4 maupun -1,6 glikolisis.

Setelah dikeluarkan dari inkubator, dilanjutkan dengan penambahan iodine. Iodine dalam hal ini adalah berperan sebagai indikator, dimana iodine yang bereaksi dengan molekul maltosa akan membentuk kompleks warna biru. Sedangkan amilopektin dengan iodine akan memberikan warna ungu lembayung. Dari percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengamatan seperti pada table 1 berikut:

Tabel .1 Pengamatan Pengaruh pH Waktu (menit) pH 8,0 pH 7,4 pH 6,8 Warna pH 6,2 pH 5,4 pH 5,0

5 10 15 20 25 30

++ ++ ++ + + +

++ ++ ++ + + +

+++ +++ +++ ++ ++ ++

+++++ +++++ +++++ +++++ ++++ ++++

+++++ +++++ +++++ +++++ ++++ ++++

++++ ++++ ++++ ++++ +++ +++

Keterangan :

++++++ = biru keunguan

+++++ = biru keunguan

++++ = Ungu

+ ++ = Ungu berkurang

++ = putih keunguan

+ = agak bening

Dari hasil percobaan menunjukkan adanya warna ungu, untuk pH 8; 7,2; 6,8; 6,2; 6,8; 5,4 dan 5,0, tapi warna ungu yang paling cepat menjadi bening yang menunjukkan aktivitas enzim paling cepat bekerja yaitu pada pH 6,8. Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan pH optimum.

Grafik.1 pH vs 1/t

Dari grafik diperoleh pH optimum adalah pH 6,8. Menurut teori pH optimum untuk pati adalah berkisar antara 5,6 sampai 7,2, jadi hasil yang diperoleh sesuai dengan teori. 4.2 Pengaruh Temperatur

Pada percobaan ini akan diketahui pengaruh temperatur terhadap keaktifan suatu enzim dalam hal ini adalah kerja enzim amilase yang diperoleh dari saliva (air liur), oleh karena itu maka dalam percobaan ini digunakan berbagai macam suhu mulai dari 0oC, suhu kamar (25oC), 38oC, dan 100oC, hingga diperoleh suhu dimana enzim dapat bekerja. Sebagaimana kita telah ketahui bahwa enzim hanya dapat bekerja pada suhu optimumnya.

Dalam percobaan ini digunakan amilum atau larutan pati 1%, gunanya adalah sebagai substrat dimana enzim amilase akan bekerja. Jadi enzim amilase akan menghidrolisis pati menjadi glukosa. Selain itu juga dilakukan penambahan iodine. Iodine disini berfungsi sebagai indikator yang memberi warna biru yang berasal dari

kompleks pati-iod yang menandakan bahwa dalam sampel tersebut mengandung amilum.

Sebagaimana telah diketahui bahwa pada saat warna larutan berwarna biru itu menandakan bahwa amilum membentuk kompleks dengan iod, jadi ikatan amilum belum pecah, dan itu artinya enzim amilase belum bekerja. Tapi pada saat warna larutan mulai berubah menjadi pudar, itu berarti enzim amilase mulai bekerja dengan memutuskan ikatan 1,4 alfa glikosida dan 1,6 alfa glikosida, sehingga amilum dapat merubah menjadi dekstrin kemudian menjadi maltosa dan akhirnya berubah menjadi glukosa, yang ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi bening. Berikut ini adalah hasil pengamatan yang ditunjukkan pada table pengamatan.

Tabel.2 Pengaruh temperatur Waktu (menit) Tabung I (0 oC) 5 10 15 20 25 30 +++ +++ +++ ++++ ++++ ++++ Tabung II (25 OC) ++ ++ +++ ++++ ++++ ++++ Warna Tabung III (38 OC) + + + + + + Tabung IV (100 OC) +++++ +++++ ++++ +++++ +++++ +++++

Keterangan :

++++++ = biru ungu pekat

++++ + = biru pekat

++++ = biru muda

++ + = coklat

++ = coklat muda

+ = agak bening

Grafik.2 Pengaruh Temperatur Untuk suhu 0oC, larutan tetap menjadi biru pekat, karena enzim bekerja lambat dalam reaksi ini. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pada suhu rendah reaksi kimia berjalan lambat, sedangkan pada suhu tinggi reaksi berjalan cepat. Akan tetapi kenaikan suhu bagi enzim memiliki batasan tertentu yang disebabkan karena enzim selaku protein dapat mengalami proses denaturasi. Untuk suhu 100oC, warna larutan tetap biru ungu pekat, karena enzim tidak mampu bekerja pada suhu ini, yang diakibatkan oleh terdenaturasinya enzim oleh suhu yang tinggi. Tingginya temperatur dapat menyebabkan pecahnya ikatan hidrogen dan ikatan kovalen yang menyebabkan konformasi protein dalam hal ini adalah enzim sehingga active sitenya menjadi berjauhan letaknya, sehingga konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang atau dengan kata lain aktivitas

enzim menjadi lambat. Pada percobaan ini waktu yang tercepat bagi enzim untuk menghidrolisis pati adalah pada suhu kamar (25 oC) dan pada suhu 38oC. Dalam percobaan ini, dipilih suhu 38oC merupakan suhu rata-rata dimana waktu yang tercepat yang diperoleh, sehingga suhu optimumnya adalah 38oC. Hal ini hampir sesuai dengan teori, yang mengatakan bahwa suhu optimum bagi suatu enzim dapat bekerja dengan baik adalah pada suhu sekitar 38oC. Jadi dalam percobaan ini suhu atau temperatur yang optimum sangat menentukan aktivitas enzim

Adapun reaksi yang terjadi pada percobaan ini yaitu

+ I2

amilase

ungu

2 + nI2 n

bening

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

a. Enzim amilase efektif bekerja pada pH 6,8. b. Enzim amylase efektif bekerja pada temperatur 38 oC. 1. Saran

Sebaiknya untuk percobaan mendatang contoh enzim yang akan digunakan jangan diambil dari saliva.

DAFTAR PUSTAKA

Girindra, A., 1993, Biokimia 1, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Kuchel, P., dan Ralston, G. B., 2006, Biokimia, Erlangga, Jakart Lehninger, A., 1988, Dasar-dasar Biokimia, Jilid satu, Erlangga, Jakarta. Martoharsono, S., 1998, Biokimia Jilid I, Gajah Mada University Press, Yogyakarta Montgomery, 1993, Biokimia, Penerbit Binarupa Ilmu, Jakarta. Page, D., 1989, Prinsip-prinsip Biokimia, Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta. Patong, R., 2007, Penuntun Praktikum Biokimia, Universitas Hasanuddin, Makassar Poedjiadi, A., 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.

Wirahadikusumah, M., 1989, Biokimia Protein, Enzim dan Asam Nukleat, ITB, Bandung