Anda di halaman 1dari 26

CATATAN KECIL

Core Values ASN


BerAKHLAK

Elfira Rahmadanti
Husnul Khotimah
Moh. Relfy Alghafani
Nissa Karimah
Rizki Muhammad Akbar

APA ITU

BerAHKLAK
Core Values ASN BerAKHLAK merupakan akronim dari
Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis,
Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif

Berorientasi
Pelayanan

komitmen memberikan
pelayanan prima demi
kepuasan masyarakat.

Kode Etik

pedoman mengenai kewajiban


moral ASN yang ditunjukkan
dalam sikap atau perilaku
terhadap apa yang
dianggap/dinilai baik atau tidak
baik, pantas atau tidak pantas
baik dalam melaksanakan tugas
Kode Perilaku maupun dalam pergaulan hidup
sehari-hari.

pedoman mengenai sikap,


tingkah laku, perbuatan,
tulisan, dan ucapan ASN dalam
melaksanakan tugasnya dan
pergaulan hidup sehari-hari
yang merujuk pada kode etik.
Nilai Dasar

kondisi ideal atau kewajiban moral


tertentu yang diharapkan dari
ASN untuk mewujudkan
pelaksanaan tugas instansi atau
unit kerjanya.

Penyelenggara Pelayanan Publik


Pelayanan Publik
kegiatan atau rangkaian kegiatan
kesetiap institusi penyelenggara
dalam rangka pemenuhan
negara, korporasi, Lembaga
kebutuhan pelayanan sesuai dengan
independent yang dibentuk
peraturan perundang-undangan
berdasarkan undang-undang untuk
bagi setiap warga negara dan
kegiatan pelayanan publik, dan
penduduk atas barang, jasa,
badan hukum lain yang dibentuk
dan/atau pelayanan administratif
semata-mata untuk kegiatan
yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik
pelayanan publik.
Akuntabilitas

kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan segala
tindak dan tanduknya sebagai
pelayan publik kepada atasan,
lembaga pembina, dan lebih luasnya
Anti Korupsi kepada publik (Matsiliza dan Zonke,
2017).
tindakan untuk mengendalikan
dan mengurangi korupsi berupa
keseluruhan upaya untuk
mendorong generasi
mendatang untuk
mengembangkan sikap menolak
secara tegas terhadap setiap
bentuk korupsi

Badan Publik
lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, dan badan lain yang
fungsi dan tugas pokoknya
Integritas berkaitan dengan
penyelenggaraan negara, yang
sebagian atau seluruh dananya
bertindak secara konsisten
bersumber dari Anggaran
antara apa yang dikatakan
Pendapatan dan
dengan tingkah lakunya sesuai
Belanja Negara dan/atau Anggaran
nilai-nilai yang dianut (nilai-nilai
Pendapatan dan Belanja
dapat berasal dari nilai kode
Daerah,atau organisasi
etik di tempat dia bekerja, nilai
nonpemerintah yang sebagian atau
masyarakat atau nilai moral
seluruh dananya bersumber dari
pribadi
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara dan/atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah,
sumbangan masyarakat, dan/atau
luar negeri

Konflik kepentingan

suatu keadaan sewaktu


seseorang pada posisi yang diberi
kewenangan dankekuasaan untuk
mencapai tugas dari perusahaan Transparansi
atauorganisasi yang memberi
penugasan, sehingga orang
tersebut memiliki kepentingan
memberikan informasi keuangan
profesional dan pribadi yang
yang terbuka dan jujur kepada
bersinggungan
masyarakat berdasarkan
pertimbangan bahwa masyarakat
memiliki hak untuk mengetahui
secara terbuka dan menyeluruh atas
pertanggungjawaban pemerintah
Responsibilitas dalam pengelolaan sumber daya
yang dipercayanya dan ketaatannya
kewajiban untuk bertanggung pada peraturan perundang-
jawab yang berangkat dari undangan
moral individu, sedangkan
akuntabilitas adalah kewajiban
untuk bertanggung jawab
kepada seseorang/organisasi
yang memberikan amanat
Harmonis

kerja sama antara berbagai


faktor dengan sedemikian rupa
hingga faktor-faktor tersebut
dapat menghasilkan suatu
kesatuan yang luhur.

Keragaman

suatu kondisi dalam


masyarakat yang terdapat
banyak perbedaan dalam
berbagai bidang.

Nasionalisme

suatu paham yang menganggap


bahwa kesetiaan tertinggi atas
setiap pribadi harus diserahkan
kepada negara kebangsaan.

Dedikasi

Pengorbanan tenaga, pikiran,


dan waktu demi keberhasilan
suatu usaha yang mempunyai
tujuan yang mulia, dedikasi ini
bisa juga berarti pengabdian
untuk melaksanakan cita-cita Disiplin
yang luhur dan diperlukan
adanya sebuah keyakinan yang
teguh Suatu kondisi yang tercipta dan
terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang
menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan
(loyalitas), ketenteraman,
keteraturan, dan ketertiban

Komitmen

Perjanjian (keterikatan) untuk


melakukan sesuatu atau
hubungan keterikatan dan rasa
tanggung jawab akan sesuatu
Kontribusi

Keterlibatan, keikutsertaan,
sumbangsih yang diberikan dalam
berbagai bentuk, baik berupa
pemikiran, kepemimpinan, kinerja,
profesionalisme, finansial atau,
tenaga yang diberikan kepada pihak
lain untuk mencapai sesuatu yang
lebih baik dan efisien

Loyal

Mutu dari kesetiaan seseorang


terhadap pihak lain yang
ditunjukkan dengan
memberikan dukungan dan
kepatuhan yang teguh dan
konstan kepada seseorang
atau sesuatu Kewajiban

Suatu beban atau tanggungan


yang bersifat kontraktual

Nasionalisme
Pancasila

Pandangan atau paham


kecintaan manusia Indonesia
terhadap bangsa dan tanah
airnya yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila
Pengabdian

Perbuatan baik yang berupa


pikiran, pendapat, ataupun
tenaga sebagai perwujudan
kesetiaan, cinta, kasih sayang,
hormat, atau satu ikatan dan
semua itu dilakukan dengan
Wawasan Kebangsaan ikhlas

Cara pandang bangsa Indonesia dalam


rangka mengelola kehidupan berbangsa
dan bernegara yang dilandasi oleh jati
diri bangsa (nation character) dan
kesadaran terhadap sistem nasional
(national system) yang bersumber dari
Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI,
dan Bhinneka Tunggal Ika, guna
memecahkan berbagai persoalan yang
dihadapi bangsa dan negara demi
mencapai masyarakat yang aman, adil,
makmur, dan sejahtera
SMART ASN

ASN yang memiliki kemampuan


dan karakter meliputi:
integritas, profesinal,
hospitality, networking,
enterprenership, berwawasan
global, dan penguasaan IT dan
Bahasa asing

Vuca World

dapat didefinisikan sebagai


dunia yang penuh gejolak
disertai penuh ketidakpastian

ASEAN Civil Service


Cooperation on Civil
Service Matters

merupakan forum tertinggi


kerja sama bidang kepegawaian
di wilayah ASEAN

RPJM Nasional

merupakan penjabaran dari


visi, misi dan program Presiden
yang penyusunannya
berpedoman pada RPJPN, yang
memuat strategi pembangunan
Nasional, kebijakan umum,
program Kementerian/Lembaga RPJP Nasional
dan lintas
Kementerian/Lembaga,
kewilayahan dan lintas dokumen perencanaan
kewilayahan, serta kerangka pembangunan nasional untuk
ekonomi makro yang periode 20 (dua puluh) tahun.
mencangkup gambaran
perekonomian secara
menyeluruh termasuk arah
kebijakan fiskal dalam rencana
kerja yang berupa kerangka
regulasi dan kerangka
pendanaan yang bersifat
indikatif Sistem Merit

kebijakan dan manajemen ASN


yang berdasarkan pada
kualifikasi, kompetensi, dan
kinerja, yang diberlakukan
secara adil dan wajar dengan
tanpa diskriminasi.
Silo

merupakan kecenderungan
organisasi pemerintahan mulai
mengarah dari organisasi
hirakhis, dengan pembagian
bidang-bidang yang rijit
sektoral

International Labor
Organization

Sebuah wadah yang


menampung isu buruh
internasional di bawah PBB.

Apa yang terjadi


berikutnya?

Lanjutkan ceritanya. Apa


kejadian berikutnya?
Tambahkan detail lain, namun
tetap singkat.

Kompetensi

deskripsi pengetahuan,
keterampilan dan perilaku yang
diperlukan dalam
melaksanakan tugas jabatan,
dan kompetensi menjadi faktor
penting untuk mewujudkan
pegawai profesional dan Kolaborasi
kompetitif

proses bekerja sama untuk


menelurkan gagasan atau ide
dan menyelesaikan masalah
secara bersama-sama menuju
visi bersama

Kolaborasi
Pemerintah

merupakan sebuah proses yang


Whole Of Government
melibatkan norma bersama dan
interaksi saling menguntungkan
antar aktor pemerintah sebuah pendekatan
penyelenggaraan pemerintahan
yang menyatukan upaya-upaya
kolaboratif pemerintahan yang lebih
luas guna mencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen
program dan pelayanan publik.
Adaptasi

suatu proses yang


menempatkan manusia yang
berupaya mencapai tujuan-
tujuan atau kebutuhan untuk
menghadapi lingkungan dan
kondisi sosial yang berubah-
ubah agar tetap bertahan.

Perubahan

keadaan yang berubah. Di mana


keadaan yang sekarang tidak
sama dengan keadaan yang
akan datang

komitmen

tindakan untuk melakukan


sesuatu. Dengan kata lain,
komitmen merupakan bentuk
dedikasi atau kewajiban yang
mengikat kepada orang lain, hal
tertentu, atau tindakan
tertentu.
Adaptif

karakteristik alami yang dimiliki


makhluk hidup untuk bertahan
hidup dan menghadapi segala
perubahan lingkungan atau
ancaman yang timbul

Kreativitas

kemampuan untuk menciptakan


sesuatu yang baru, baik yang
benar-benar merupakan hal
baru atau sesuatu ide baru yang
diperoleh dengan cara
menghubungkan beberapa hal
yang sudah ada dan
inovasi menjadikannya suatu hal baru.

pemasukan atau pengenalan


hal-hal yang baru, atau
pembaharuan.
MENGENAL LEBIH DALAM

BerAKHLAK

Fungsi & Tugas ASN


Fungsi ASN
1.1.Pelaksana Kebijakan Publik,
1.2.Pelayanan Publik
1.3.Perekat dan Pemersatu Bangsa

Tugas ASN
1.1.ksanakan kebijakan public yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
1.2.Memberikan pelayanan public yang professional dan berkualitas
1.3.Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Fungsi & Tugas ASNPanduan


perilaku/kode etik dari nilai
Berorentasi Pelayanan

1.Memahami dan Memenuhi Kebutuhan Masyarakat


1.1.Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia
1.2.Menjalankan tugas secara professional dan tidak berpihak
1.3.Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian
1.4.Menghargai komunikasi, konsultasi dan Kerjasama

2.Ramah, Cekatan, Solutif dan Dapat Diandalkan


2.1.Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur
2.2.Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah
2.3.Memberikan layanan kepada public secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun.

3.Melakukan Perbaikan Tiada Henti


3.1.Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada public
3.2.Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai

Tiga Unsur Penting dalam Pelayanan


Publik khususnya konteks ASN

1.Penyelenggara pelayanan public yaitu ASN/Birokrasi


2.Penerima Layanan yaitu masyarakat, stakeholders atau sector
privat
3.Kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima layanan

Citra Positif ASN sebagai pelayanan public terlihat dengan perilaku


melayani dengan senyum, menyapa dan memberi salam, serta
berpenampilan rapih, melayani dengan cepat dan tepat waktu,
melayani dengan memberikan kemudahan bagi Anda untuk memilih
layanan yang tersedia, serta melayani dengan kemampuan, keinginan
dan tekad memberikan pelayanan yang prima.
KONSEP AKUNTABILITAS

1.Akuntabilitas
Dalam konteks Akuntabilitas, perilaku sesuai Core Values ASN
BerAKHLAK adalah:
•Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur, bertanggung jawab,
cermat, disiplin dan berintegritas tinggi
•Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif, dan efisien
•Kemampuan menggunakan Kewenangan jabatannya dengan
berintegritas tinggi

2.Aspek-Aspek Akuntabilitas
•Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a
relationship)
•Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results-
oriented)
•Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requiers
reporting)
•Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is meaningless
without consequences)
•Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves
performance)

3.Akuntabilitas publik memilikitiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu:


•Pertama, untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi)
•Kedua, untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
(peran konstitusional)
•Ketiga, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).

4.Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:


• Akuntabilitas vertical (vertical accountability), \
•Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability)

5.Tingkatan Akuntabilitas
•Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
•Akuntabilitas Individu
•Akuntabilitas Kelompok
•Akuntabilitas Organisasi
•Akuntabilitas Stakeholder
PANDUAN PERILAKU
AKUNTABILITAS

1. Akuntabilitas dan Integritas


Akuntabilitas dan Integritas adalah dua konsep yang diakui oleh
banyak pihak menjadi landasan dasar dari sebuah Administrasisebuah
negara (Matsiliza dan Zonke, 2017). Kedua prinsip tersebut harus
dipegang teguh oleh semua unsur pemerintahan dalam memberikan
layanan kepada masyarakat. Aulich (2011) bahkan mengatakan bahwa
sebuah sistem yang memiliki integritas yang baik akan mendorong
terciptanya Akuntabilitas, Integritas itu sendiri, dan Transparansi.

2. Integritas danAnti Korupsi


Integritas adalah salah satu pilar penting dalam pemberantasan
korupsi. Secara harafiah, integritas bisa diartikan sebagai bersatunya
antara ucapan dan perbuatan. Jika ucapan mengatakan antikorupsi,
maka perbuatan pun demikian. Dalam bahasa sehari-hari di
masyarakat, integritas bisa pula diartikan sebagai kejujuran atau
ketidakmunafikan.

3. Mekanisme Akuntabilitas
•Akuntabilitas kejujuran dan hukum (accountability for probity and
legality)
•Akuntabilitas proses (process accountability)
•Akuntabilitas program (program accountability)
•Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)
a.Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia
•Perencanaan Strategis (Strategic Plans)
•Kontrak Kinerja
•Laporan Kinerja
b.Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel
1.Kepemimpinan
2.Transparansi
3.Integritas
4.Tanggung Jawab (Responsibilitas)
5.Keadilan
6.Kepercayaan
7.Keseimbangan
8.Kejelasan
9.Konsistensi
c.Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam Menciptakan
Framework Akuntabilitas
•Tentukan Tujuan dan Tanggung Jawab
•Rencanakan Apa yang akan Dilakukan untuk Mencapai Tujuan
•Lakukan implementasi monitoring kemajuan
•Berikan Laporan Secara Lengkap
•Berikan Evaluasi dan masukan perbaikan

4. Membangun Pola Pikir Anti Korupsi


Pengelolaan konflik kepentingan dan kebijakan gratifikasi dapat
membantu pembangunan budaya akuntabel dan integritas di
lingkungan kerja. Akuntabilias dan integritas dapat menjadi faktor
yang kuat dalam membangun pola pikir dan budaya antikorupsi.
AKUNTABEL DALAM
KONTEKS
ORGANISASI
PEMERINTAHAN

1. Transparansi dan Akses Informasi


Ketersediaan informasi publik telah memberikan pengaruh yang
besar pada berbagai sektor dan urusan publik di Indonesia. Salah satu
tema penting yang berkaitan dengan isu iniadalah perwujudan
transparansi tata kelola keterbukaan informasi publik, dengan
diterbitkannya UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Publik (selanjutnya disingkat: KIP).
Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan serta dilaporkan
tersebut harus sesuai dengan prinsip sebagai berikut:
• Relevant information
• Reliable information
• Understandable information
• Comparableinformation
Upaya membangun budaya antikorupsi di organisasi pemerintahan,
dapat mengadopsi langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan
Konflik Kepentingan:
• Penyusunan Kerangka Kebijakan,
• Identifikasi Situasi Konflik Kepentingan,
• Penyusunan Strategi Penangan Konflik Kepentingan, dan
• Penyiapan Serangkaian Tindakan Untuk Menangani Konflik
Kepentingan.
Pentingnya
Membangun Rasa
Nasionalisme dan
Persatuan
Kebangsaan

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali diungkapkan oleh Mpu


Tantular dalam kitabnya, kakawin Sutasoma. Dalam bahasa Jawa
Kuno kakawin artinya syair. Kakawin Sutasoma ditulis pada tahun 1851
dengan menggunakan aksara Bali, namun berbahasa Jawa Kuno.
Kutipan frasa 'Bhinneka Tunggal Ika' terdapat pada pupuh 139 bait 5.
Berikut bunyi petikan pupuh tersebut:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinneki rakwa ring apan kena
parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Kalimat di atas artinya "Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat
yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa
dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.
Terpecahbelahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan
dalam kebenaran.

Konsep Nasionalisme

1.Perspektif modernis melihat bahwa bangsa merupakan hasil dari


modernisasi dan rasionalisasi seperti di contohkan dalam Negara Birokratis,
ekonomi industry, dan konsep sekuler tentang otonomi manusia.
2.Aliran Primordialis dengan tokohnya Clifford Geertz (1963) melihat bahwa
bangsa merupakan sebuah pemberian historis, yang terus hadir dalam
sejarah manusia dan memperlihatkan kekuatan inheren pada masa lalu dan
generasi masa kini.
3.Perspektif perenialis dengan tokohnya Adrian Hastings (1997) melihat
bahwa bangsa bisa ditemukan di pelbagai zaman sebelum periode modern.
Dengan demikian, dalam perspektif primordialis dan perspektif modernis,
bangsa modern bukanlah sesuatu yang baru, karena dia muncul sebagai
kelanjutan dari periode sebelumnya.
4.Aliran etnosimbolis, seperti ditunjukkan dalam karya John Amstrong (1982)
dan Anthony Smith (1986)‘ aliran ini mencoba menggabung ketiga pendekatan
tersebut diatas. Aliran etnosimbolis melihat bahwa kelahiran bangsa pasca
abad ke-18, merupakan sebuah spesies baru dari kelompok etnis yang
pembentukannya harus dimengerti dalam jangka panjang.
Pentingnya Suasana
Harmonis

Suasana harmoni dalam lingkungan bekerja akan membuatkan kita


secara individu tenang, menciptakan kondisi yang memungkinkan
untuk saling kolaborasi dan bekerja sama, meningkatkan
produktifitas bekerja dan kualitas layanan kepada pelanggan.

Secara umum, menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Pasal 11


tentang ASN, tugas pegawai ASN adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan
b. Memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia

Peran ASN Harmonis


1.Posisi PNS sebagai aparatur Negara, dia harus bersikap netral dan
adil. Netral dalam artian tidak memihak kepada salah satu kelompok
atau golongan yang ada. Adil, berarti PNS dalam melaksanakna
tugasnya tidak boleh berlaku diskriminatif dan harus obyektif, jujur,
transparan.
2.PNS juga harus bisa mengayomi kepentingan kelompok kelompok
minoritas, dengan tidak membuat kebijakan, peraturan yang
mendiskriminasi keberadaan kelompok tersebut. • PNS juga harus
memiliki sikap toleran atas perbedaan
3.Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban PNS juga harus memiliki
suka menolong baik kepada pengguna layanan, juga membantu
kolega PNS lainnya yang membutuhkan pertolongan
4.PNS menjadi figur dan teladan di lingkungan masyarakatnya
Penegakkan etika
ASN

a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan


berintegritas tinggi;
b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat
yang Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan;
f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien;
h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.

Etika ASN sebagai Individu,


dalam Organisasi, dan
Masyarakat

Perubahan Mindset
1. Pertama, berubah dari penguasa menjadi pelayan;
2. Kedua, merubah dari ’wewenang’ menjadi ’peranan’;
3. Ketiga, menyadari bahwa jabatan publik adalah amanah, yang
harus dipertanggung jawabkan bukan hanya di dunia tapi juga di
akhirat.

Sikap perilaku ini bisa ditunjukkan dengan:


1. Toleransi
2. Empati
3. Keterbukaan terhadap perbedaan.
KONSEP LOYAL
1. URGENSI LOYALITAS ASN
·Faktor Internal
Karena ASN merupakan bagian atau komponen dari pemerintahan itu sendiri.
· Faktor Eksternal
Besarnya peluang masuknya budaya dan ideologi alternatif dari luar ke
dalam segenap sendi-sendi bangsa melalui media informasi yang dapat
dijangkau oleh seluruh anak bangsa yang berpotensi merusak tatanan
budaya dan ideologi bangsa.
2. MAKNA LOYAL DAN LOYALITAS
· Beberapa ciri/karakteristik untuk mengukur loyalitas pegawainya, antara
lain:
-Taat pada peraturan
-Bekerja dengan integritas
-Tanggung Jawab pada Organisasi
-Kemauan untuk Bekerja Sama
-Rasa Memiliki yang Tinggi
-Hubungan Antar Pribadi
-Kesukaan Terhadap Pekerjaan
-Keberanian Mengutarakan Ketidaksetujuan
-Menjadi Teladan bagi Pegawai Lain
3. LOYAL DALAM CORE VALUES ASN
· Panduan Perilaku Loyal:
a. Memegang teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945, setia kepada NKRI serta pemerintahan yang
sah;
b. Menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan instansi dan negara; serta
c. Menjaga rahasia jabatan dan negara.
· Kata-kata kunci yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan
panduan perilaku loyal KoDeKoNasAb:
1. Komitmen:
2. Dedikasi:
3. Kontribusi:
4.Nasionalisme:
5.Pengabdian:
4. MEMBANGUN PERILAKU LOYAL
· Dalam Konteks Umum, untuk menciptakan dan membangun rasa setia
(loyal) pegawai terhadap organisasi, hendaknya beberapa hal berikut
dilakukan:
a. Membangun Rasa Kecintaaan dan Memiliki
b. Meningkatkan Kesejahteraan
c. Memenuhi Kebutuhan Rohani
d. Memberikan Kesempatan Peningkatan Karir
e. Melakukan Evaluasi secara Berkala

· Memantapkan Wawasan Kebangsaan:


· Meningkatkan Nasionalisme
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang
diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:
a. menempatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan serta keselamatan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan;
b. menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara;
c. bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak
merasa rendah diri;
d. mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara
sesama manusia dan sesama bangsa;
e. menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; dan
f. mengembangkan sikap tenggang rasa. Oleh karena itu seorang PNS
harus selalu mengamalkan nilai-nilai Luhur Pancasila dalam melaksanakan
tugasnya sebagai wujud nasionalime dan juga loyalitasnya terhadap bangsa
dan negara.
PANDUAN PERILAKU
LOYAL

1.PANDUAN PERILAKU LOYAL


· Memegang Teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Setia kepada NKRI serta Pemerintahan
yang Sah
· Menjaga Nama Baik Sesama ASN, Pimpinan Instansi dan Negara
· Menjaga Rahasia Jabatan dan Negara

2. SIKAP LOYAL ASN MELALUI AKTUALISASI KESADARAN BELA NEGARA


· Nilai-Nilai Dasar Bela Negara:
a. Cinta Tanah Air, dengan contoh aktualisasi sikap dan perilaku
sebagai berikut:
Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 serta pemerintahan yang sah.
b. Sadar Berbangsa dan Bernegara, dengan contoh aktualisasi sikap dan
perilaku sebagai berikut:
Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
c. Setia pada Pancasila sebagai Ideologi Negara, dengan contoh
aktualisasi sikap dan perilaku sebagai berikut:
Memegang teguh ideologi Pancasila.
d. Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara, dengan contoh aktualisasi
sikap dan perilaku sebagai berikut:
Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
e. Kemampuan Awal Bela Negara, dengan contoh aktualisasi sikap dan
perilaku sebagai berikut:
- Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah.
LOYAL DALAM KONTEKS
ORGANISASI PEMERINTAH

1. KOMITMEN PADA SUMPAH/JANJI SEBAGAI WUJUD LOYALITAS PNS


· Pasal 66 UU ASN:
Setiap calon PNS pada saat diangkat menjadi PNS wajib mengucapkan sumpah/janji.
· Petikan bunyi Sumpah/Janji PNS:
"Demi Allah/Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa, saya bersumpah/berjanji:
a. bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, akan setia dan taat
sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, negara, dan pemerintah;
b. bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian,
kesadaran, dan tanggung jawab;
c. bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan
martabat pegawai negeri sipil, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara
daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan;
d. bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut
perintah harus saya rahasiakan;
e. bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk
kepentingan negara".

2. PENEGAKKAN DISIPLIN SEBAGAI WUJUD LOYALITAS PNS


· PNS Wajib:
a. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UndangUndang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah;
b. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
c. Melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang berwenang;
· PNS Dilaranag:
a. Menyalahgunakan wewenang;
b. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan
menggunakan kewenangan orang lain yang diduga terjadi konflik kepentingan dengan
jabatan;
c. Melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi yang dilayani;

3. PELAKSANAAN FUNGSI ASN SEBAGAI WUJUD LOYALITAS PNS


· ASN sebagai pelaksana kebijakan publik:
· ASN sebagai Pelayan Publik
· ASN sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa

4. AKTUALISASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI WUJUD LOYALITAS PNS


·Sila Ke-1 (Nilai-Nilai Ketuhanan):
Ketuhanan diharapkan bisa memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian,
melahirkan etos kerja yang positif, dan memiliki kepercayaan diri untuk
mengembangkan potensi diri sebagai ASN yang loyal kepada bangsa dan negara guna
mengelola kekayaan alam yang diberikan Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.
·Sila Ke-2 (Nilai-Nilai Kemanusiaan)
Sebagai perwujudan dari loyalitasnya pada bangsa dan negara Dengan berlandaskan
pada prinsip kemanusiaan ini, berbagai tindakan dan perilaku yang bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan tidak sepatutnya mewarnai kebijakan dan perilaku ASN
·Sila Ke-3 (Nilai-Nilai Persatuan):
Seorang ASN yang loyal dapat mengambil peran dan memainkan fungsinya sebagai perekat
dan pemersatu bangsa.
·Sila Ke-4 (Nilai-Nilai Permusyawaratan)
Demokrasi permusyawaratan juga menghendaki adanya semangat demokrasi dari para
penyelenggara negara. Idealitas sistem demokrasi yang dirancang sangat ditentukan oleh
semangat para penyelenggara negara untuk menyesuaikan sikapnya menurut nilai-nilai
Pancasila dengan sikap loyalitas yang tinggi.
·Sila Ke-5 (Nilai-Nilai Keadilan Sosial)
Dalam visi negara yang hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
berlaku prinsip “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Perwujudan negara
kesejahteraan sangat ditentukan oleh integritas dan mutu penyelenggara negara, disertai
dukungan rasa tanggung jawab dan rasa kemanusiaan yang terpancar dari setiap ASN
yang memiliki loyalitas tinggi
STANDAR
KOMPETENSI ASN
Penguatan kualitas ASN tersebut sejalan dengan dinamika lingkungan
strategis diantaranya VUCA dan disrupsi teknologi, fenomena demografik
(demographic shifting), dan keterbatasan sumberdaya.

ASN di setiap instansi selayaknya meninggalkan pendekatan dan mindset


yang bersifat rigit peraturan atau rule based dan mekanistik, cenderung
terpola dalam kerutinan dan tidak adapatif dengan zamannya.

ASN diharapkan memiliki sifat dan kompetensi dasar, utamanya: inovasi, daya
saing, berfikir kedepan, dan adaptif. 2 Sifat dan kompetensi dasar ini krusial
untuk mewujudkan instansi pemerintah yang responsif dan efektif.

ASN perlu berlandaskan pada aspek merit, sesuai dengan


latar belakang kualifikasi (antara lain pendidikan,
pengalaman, dan pelatihan), kompeten (sesuai dengan
kompetensi teknis, manajerial, dan social kultural) dan
memiliki bukti kinerja yang sesuai serta memiliki
kepatuhan pada etika kerja (nilai-nilai Dasar ASN, dan
kode etik ASN).

Prinsip dasar dalam pengelolaan ASN berbasis merit memiliki arti


bahwa seluruh aspek pengelolaan ASN harus memenuhi kesesuaian
kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Termasuk dalam pelaksanaanya
tidak boleh ada perlakuan diskriminatif, seperti karena hubungan
agama, kesukuan atau aspek-aspek primodial lainnya yang bersifat
subyektif.

implikasi VUCA menuntut


diantaranya penyesuaian
proses bisnis, karakter dan
tuntutan keahlian baru.

Dinamika VUCA menuntut


pentingnya pelibatan
masyarakat dalam
penentuan kebutuhan
Untuk menanggulangi rendahnya
kebijakan dan pelayanan daya adaaptasi organisasi
publik (customer centric). terhadap kemajuan perubahan
teknologi, maka secara implisit
perlunya penguatan kompetensi
secara luas, yang memungkinkan
setiap pegawai dapat
memutakhirkan kompetensi, baik
secara individu maupun secara
kolektif organisasi.
Dalam pengambangan
kompetensi dan karakter ASN
penting diselaraskan sesuai
visi, misi, dan misi, termasuk
nilai-nilai birokrasi pemerintah

Perilaku ASN dalam


konteks Kompeten

a. Meningkatkan kompetensi diri;


b. Membantu orang lain belajar;
c. Melaksanakan tugas dengan
kualitas terbaik

Salah satu kunci penting membangun kapabilitas birokrasi yang adaptif


dengan tuntutan dinamika masa depan, antara lain, pentingnya disusun
strategi dan paket keahlian kedepan

Karakter lain yang diperlukan dari ASN untuk beradapatasi dengan


dinamika lingkungan strategis, yaitu: inovatif dan kreatif, agility dan
flexibility, persistence dan perseverance serta teamwork dan
cooperation

Menurut ILO Kompetensi merupakan perpaduan aspek pengetahuan


(knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) yang
terindikasikan dalam kemampuan dan perilaku seseorang sesuai
tuntutan pekerjaan.

Sesuai Peraturan Menteri PANRB Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar


Kompetensi ASN, kompetensi meliputi:

1.Kompetensi Teknis adalah pengetahuan, keterampilan, dan


sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur dan dikembangkan yang
spesifik berkaitan dengan bidang teknis jabatan;

2.Kompetensi Manajerial adalah pengetahuan, keterampilan, dan


sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dikembangkan untuk
memimpin dan/atau mengelola unit organisasi; dan

3.Kompetensi Sosial Kultural adalah pengetahuan, keterampilan, dan


sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan terkait
dengan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat majemuk dalam
hal agama, suku dan budaya, perilaku, wawasan kebangsaan, etika,
nilai-nilai, moral, emosi dan prinsip, yang harus dipenuhi setiap
pemegang Jabatan, untuk memperoleh hasil kerja sesuai dengan peran,
fungsi dan Jabatan
Pendekatan pengembangan dapat dilakukan dengan klasikal dan
non-klasikal, baik untuk kompetensi teknis, manajerial, dan sosial
kultural

Hak pengembangan pegawai, sekurang-kurangnya 20 (dua puluh)


Jam Pelajaran bagi PNS dan maksimal 24 (dua puluh empat) Jam
Pelajaran bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(PPPK).

Dalam menentukan pendekatan pengembangan talenta ASN


ditentukan dengan peta nine box pengembangan, dimana
kebutuhan pengembangan pegawai, sesuai dengan hasil pemetaan
pegawai dalam nine box tersebut.

Berkinerja yang
BerAkhlak:

a.Setiap ASN sebagai profesional sesuai dengan kualifikasi,


kompetensi, dan kinerja.
b.Selain ciri tersebut ASN terikat dengan etika profesi sebagai
pelayan publik.
c.Perilaku etika profesional secara operasional tunduk pada
perilaku BerAkhlak.

Need to Highlight on
Kolaborasi

Pada kollaborative governance pemilihan kepemimpinan harus


tepat yang mampu membantu mengarahkan kolaboratif dengan
cara yang akan mempertahankan tata kelola stuktur horizontal
sambil mendorong pembangunan hubungan dan pembentukan ide.

WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu


pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait
dengan urusan-urusan yang relevan. Yang mana banyak
menekankan pada aspek efesiensi dan cenderung mendorong ego
sektoral dibandingkan perspektif integrasi sektor.

Penyelenggaran kolaborasi pemerintahan diatur dengan Undang-


Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang
Kementerian Negara, Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2019
tentang Organisasi Kementerian Negara, Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja,

Tanggung jawab terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dalam


Bantuan Kedinasan dibebankan kepada Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan yang membutuhkan Bantuan Kedinasan
MENGAPA ADAPTIF

Adaptif merupakan salah satu karakter penting yang dibutuhkan


oleh individu maupun organisasi untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Terdapat alasan mengapa nilai-nilai
adaptif perlu diaktualisasikan dalam pelaksanaan tugas-tugas
jabatan di sektor publik, seperti di antaranya perubahan
lingkungan strategis, kompetisi yang terjadi antar instansi
pemerintahan, perubahan iklim, perkembangan teknologi dan lain
sebagainya.

Perubahan
Lingkungan Strategis

Perubahan lingkungan strategis ini menjadi sesuatu yang tidak


terhindarkan. Tidak ada satu pun negara ataupun pemerintahan
yang kebal akan perubahan ini, pun demikian dengan Indonesia.
Dalam hal ini diperlukan perubahan cara kerja melalui adaptasi
dunia industri dan sektor terkait dengan cara beralih dari tradisi
industri yang lama.

Kompetisi di Sektor
Publik

Perubahan dalam konteks pembangunan ekonomi antar negara


mendorong adanya pergeseran peta kekuatan ekonomi, di mana
daya saing menjadi salah satu ukuran kinerja sebuah negara
dalam kompetisi global.

Di sektor bisnis, atmosfir persaingan antar pelaku usaha adalah


sesuatu yang lumrah terjadi. Dengan situasi kompetisi, maka
pelaku usaha dipaksa untuk menghasilkan kinerja dan
produktivitas terbaik, agar mampu bertahan hidup dari
konsekuensi perubahan zaman.

Bentuk-bentuk kompetisi tidak langsung bagi negara adalah


seperti kriteria kemajuan pembangunan, indeksasi tertentu atau
event-event olahraga dan sebagainya. Beberapa lembaga
internasional ataupun supranasional membuat kriteria negara
yang seringkali digunakan sebagai rujukan keberhasilan kinerja
sebuah negara.
Komitmen Mutu

Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui


kerja ASN di sektornya masing-masing memerlukan banyak
perbaikan dan penyesuaian dengan berbagai tuntutan pelayanan
terbaik yang diinginkan oleh masyarakat. Pelayanan publik yang
diselenggarakan oleh pemerintah melalui kerja ASN di sektornya
masing-masing memerlukan banyak perbaikan dan penyesuaian
dengan berbagai tuntutan pelayanan terbaik yang diinginkan oleh
masyarakat.

Perkembangan
Teknologi

PVariabel yang tidak kalah pentingnya yaitu perkembangan


teknologi seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things
(IoT), Big Data, otomasi dan yang lainnya. Peralihan ini tidak saja
bertumpu pada pembangunan infrastruktur teknologi, tetapi juga
memastikan SDM, budaya kerja, mentalitas, dan yang tidak kalah
penting yaitu tingkat aksesibilitas yang memastikan keadilan bagi
warga negara untuk mendapatkan hak pelayanan.

Tantangan Praktek
Administrasi Publik
Praktek administrasi publik yang terus berubah dan bercirikan adanya
distribusi peran negara dan masyarakat juga telah dikenal dalam banyak
literatur. Praktek administrasi publik sebagai pengejawantahan fungsi
pelayanan publik oleh negara dan pemerintah selalu berhadapan dengan
tantangan yang terus berubah dari waktu ke waktu. tantangan bagi
administrasi publik menurut Gerton dan Mitchell (2019) dirumuskan
sebagai berikut:
1.Melindungi dan Memajukan Demokrasi
2.Memperkuat Pembangunan Sosial dan Ekonomi
3.Memastikan Kelestarian Lingkungan
4.Mengelola Perubahan Teknologi
Rumusan tantangan perubahan lingkungan juga diperkenalkan dengan
rumusan karakteristik VUCA, yaitu Volatility, Uncertaninty, Complexity
dan Ambiguity.
1.Volatility : Dunia berubah dengan sangat cepat, bergejolak, relative
tidak stabil, dan tak terduga. Tidak ada yang dapat memprediksi bahwa
2020 akan menjadi tahun paling buruk bagi hampir semua sektor usaha
di dunia.
2.Uncertainty : Masa depan penuh dengan ketidakpastian. Sejarah dan
pengalaman masa lalu tidak lagi relevan memprediksi probabilitas dan
sesuatu yang akan terjadi.
3.Complexity : Dunia modern lebih kompleks dari sebelumnya. Masalah
dan akibat lebih berlapis, berjalin berkelindan, dan saling memengaruhi.
Situasi eksternal yang dihadapi para pemimpin bisnis semakin rumit.
4.Ambiguity : Lingkungan bisnis semakin membingungkan, tidak jelas, dan
sulit dipahami. Setiap situasi dapat menimbulkan banyak penafsiran dan
persepsi.
MEMAHAMI ADAPTIF

Adaptif adalah karakteristik alami yang dimiliki makhluk hidup


untuk bertahan hidup dan menghadapi segala perubahan
lingkungan atau ancaman yang timbul. Dengan demikian adaptasi
merupakan kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan
lingkungan tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan
keadaan (keinginan diri). Soekanto (2009) memberikan beberapa
batasan pengertian dari adaptasi, yakni:
1.Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.
2.Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan
3.Proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang
berubah.
4.Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan
5.Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk
kepentingan lingkungan dan sistem.
6.Penyesuaian budaya dan aspek lainnya sebagai hasil seleksi
alamiah.

Kreativitas dan
Inovasi

Pada umumnya istilah kreativitas dan inovasi kerap diidentikkan satu


sama lain. Selain karena saling beririsan yang cukup besar, kedua istilah
ini memang secara konteks boleh jadi mempunyai hubungan kasual
sebab-akibat. Sebuah inovasi yang baik biasanya dihasilkan dari sebuah
kreativitas. Tanpa daya kreativitas, inovasi akan sulit hadir dan
diciptakan.

PAdapun dimensi-dimensi kreativitas dikenal melingkupi antara lain:


1. Fluency (kefasihan/kelancaran), yaitu kemampuan untuk menghasilkan
banyak ide atau gagasan baru karena kapasitas/wawasan yang dimilikinya.
2. Flexibility (Fleksibilitas), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak
kombinasi dari ide-ide yang berbeda
3. Elaboration (Elaborasi), yaitu kemampuan untuk bekerja secara detail
dengan kedalaman dan komprehensif.
4. Originality (Orisinalitas), yaitu adanya sifat keunikan, novelty, kebaruan
dari ide atau gagasan yang dimunculkan.
Organisasi Adaptif

Setidaknya terdapat 9 elemen budaya adaptif menurut


Management Advisory Service UK yang perlu menjadi fondasi
ketika sebuah organisasi akan mempraktekkannya, yaitu:
1. Purpose Organisasi beradaptasi karena memiliki tujuan yang
hendak dicapai.
2. Cultural values Organisasi pemerintah mengemban nilai-nilai
budaya organisasional yang sesuai dengan karakteristik tugas
dan fungsinya.
3. Vision Visi menjelaskan apa yang hendak dituju yang
tergambar dalam kerangka piker dan diterjemahkan dalam
kerangka kerja yang digunakan dalam organisasi.
4. Corporate values Seperti halnya nilai budaya organisasi di
atas, maka nilai-nilai korporat juga menjadi fodasi penting dalam
membangun budaya adaptif dalam organisasi.
5. Coporate strategy Visi dan values menjadi landasan untuk
dibangunnya strategistrategi yang lebih operasional untuk
menjalankan tugas dan fungsi organisasi secara terstruktur,
efisien dan efektif.
6. Structure Struktur menjadi penting dalam mendukung budaya
adaptif dapat diterapkan di organisasi. Tanpa dukungan struktur,
akan sulit budaya adaptif dapat berkembang dan tumbuh di
sebuah organisasi.
7. Problem solving Budaya adaptif ditujukan untuk
menyelesaikan persoalan yang timbul dalam organisasi, bukan
sekedar untuk mengadaptasi perubahan. Penyelesaian masalah
harus menjadi tujuan besar dari proses adaptasi yang dilakukan
oleh organisasi.
8. Partnership working Partnership memiliki peran penguatan
budaya adaptif, karena dengan partnership maka organisasi
dapat belajar, bermitra dan saling menguatkan dalam penerapan
budaya adaptif
9. Rules Aturan main menjadi salah satu framework budaya
adaptif yang penting dan tidak bisa dihindari, sebagai bagian dari
formalitas lingkungan internal maupun eksternal organisasi.

Adaptif sebagai nilai


dan budaya ASN

1. Pegawainya harus terus mengasah pengetahuannya hingga ke tingkat


mahir (personal mastery);
2. Pegawainya harus terus berkomunikasi hingga memiliki persepsi yang
sama atau gelombang yang sama terhadap suatu visi atau cita-cita yang akan
dicapai bersama (shared vision);
3. Pegawainya memiliki mental model yang mencerminkan realitas yang
organisasi ingin wujudkan (mental model);
4. Pegawainya perlu selalu sinergis dalam melaksanakan kegiatankegiatan
untuk mewujudkan visinya (team learning);
5. Pegawainya harus selalu berpikir sistemik, tidak kaca mata kuda, atau
bermental silo (systems thinking).
Ciri-ciri orang yang memiliki
kemampuan atau karakter adaptif

1. Eksperimen orang yang beradaptasi.


2. Melihat peluang di mana orang lain melihat kegagalan.
3. Memiliki sumberdaya.
4. Selalu berpikir ke depan.
5. Tidak mudah mengeluh.
6. Orang yang mudah beradaptasi tidak menyalahkan.
7. Tidak mencari popularitas.
8. Memiliki rasa ingin tahu.
9. Beradaptasi.
10. Memperhatikan sistem.
11. Membuka pikiran.
12. Memahami apa yang sedang diperjuangkan.

PANDUAN PERILAKU
ADAPTIF

Salah satu praktik perilaku adaptif adalah dalam hal menyikapi lingkungan
yang bercirikan ancaman VUCA. Johansen menyarankan pemimpin organisasi
melakukan hal berikut:
1. Hadapi Volatility dengan Vision.
2. Hadapi Uncertainty dengan Understanding.
3. Hadapi Complexity dengan Clarity.
4. Hadapi Ambiguity dengan Agility.

ADAPTIF DALAM KONTEKS


ORGANISASI PEMERINTAH

Pemerintahan adaptif bergantung pada jaringan yang menghubungkan


individu, organisasi, dan lembaga di berbagai tingkat organisasi (Folke et
al, 2005). Dalam teori capacity building dan konsep adaptive
governance, Grindle (1997) menggabungkan dua konsep untuk mengukur
bagaimana pengembangan kapasitas pemerintah adaptif dengan
indikator-indikator sebagai berikut:

1. Pengembangan sumber daya manusia adaptif;


2. Penguatan organisasi adaptif;
3. Pembaharuan institusional adaptif.

Anda mungkin juga menyukai