Anda di halaman 1dari 10

CEDERA TULANG BELAKANG

1. Definisi Cedera Tulang Belakang Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah struktur lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang di sebut vertebra atau ruas tulang belakang. Vertebra dikelompokan dan dinamai sesuai dengan daerah yang ditempatinya. 7 vertebra servikalis atau ruas tulang bagian leher membentuk daerah tengkuk. 12 vertebra torakalis atau ruas tulang punggung membentuk bagian belakang toraks atau dada. 5 vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membanttuk daerah lumbal atau pinggang. 5 vertebra sakralis atau ruas tulang kelangkang membentuk sacrum atau tulang kelangkang. 4 vertebra koiksigis atau ruas tulang tungging membentuk tulang koksiks. Pada tulang leher, punggung dan pinggang ruas-ruasnya tetap tinggal dan jelas terpisah selama hidup. Ruas-ruas tersebut disebut ruas-ruas yang dapat bergerak. Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma ; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan olah raga dsb yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi ( Sjamsuhidayat, 1997).

2. Etiologi Cedera Tulang Belakang 1. Kecelakaan lalu lintas 2. Kompresi atau tekanan pada tulang belakang akibat jatuh dari ketinggian 3. Kecelakaan sebab olah raga (penunggang kuda, pemain sepak bola, penyelam, dll) 4. Luka jejas, tajam, tembak pada daerah vertebra 5. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya tulang. (Harsono, 2000). 6. Kecelakaan industry 7. Trauma karena tali pengaman 8. Kejatuhan benda keras

3. Patofisioloi Cedera Tulang Belakang


Trauma mengenai tulang belakang

Cedera kolumna vertebralis, cedera medulla spinalis

Kerusakan jalur simpatik desenden

Pendarahan mikroskopik

Blok saraf parasimpatis

Reaksi peradangan Kehilangan control tonus vasomotor persarafan simpatis ke jantung Terputus jaringan saraf di medulla spinalis

Kelumpuhan otot pernafasan

Syok spinal

Refleksi spinal

Paralisis & paraplegia Respons nyeri hebat dan akut

Edema pembeng kakan

Reaksi anastesik

Iskemia & hipoksemia

1. Ketidakefektifan pola napas Penekana n syaraf dan pembuluh darah Ileus paralitik gangguan fungsi rectum & kandung kemih 6.Gangg uan eliminasi urine & alvi

Mengaktifkan system saraf simpatis

7. Hambatan mobolitas fisik

hipovelintasi

Gagal napas

Konstriksi pembuluh darah

5. nyeri Kelemahan fisik umum 4.penurun an fungsi jaringan kematian

Risiko infark miokardium

8. deficit perawatan diri Disfungsi persepsi spasial &kehilangan sensori

Pebekanan jaringan setempat

Kemampuan batuk menurun, kurang mobilitas fisik

Penurunan tingkat kesadaran

koma

10. risiko kerusakan integritas kulit

2. ketidakefektifan pembersiha jalan napas

11. perubahan persepsi sensori

9. risiko trauma (injury)

14.gangguan psikologis 15.perubahan proses keluarga 16.ansietas klien & keluarga 17.risiko penuruna pelaksanaan ibadah spiritual

Asupan nutrisi tidak adekuat

12.ketidakefektifan koping individu 13.risiko ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan

3. ketidakseimbangan nutrisi

4. Manifestasi Klinis Cedera Tulang Belakang Kerusakan meningitis; lintang memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai shock spinal.shock spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang yang berasal dari pusat .peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu, kadang lebih lama.tandanya adalah kelumpuhan flasid, anastesia, refleksi, hilangnya fersfirasi, gangguan fungsi rectum dan kandung kemih, triafismus, bradikardia dan hipotensi.setelah shock spinal pulih kembali, akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula pada tanda gangguan fungsi otonom, berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi (Price &Wilson (1995). Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya, sedangkan rasa raba dan posisi tidak terganggu (Price &Wilson (1995). Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan.keadaan ini pada umumnnya terjadi akibat cedera didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehinnga sumsum belakang terdesak dari dorsal oleh ligamentum flavum yang terlipat.cedera tersebut dapat terjadi pada orang yang memikul barang berat diatas kepala, kemudian terjadi gangguan keseimbangan yang mendadak sehingga beban jatuh dsan tulang belakang sekonyong-konyong dihiper ekstensi.gambaran klinik berupa tetraparese parsial.gangguan pada ekstremitas atas lebih ringan daripada ekstremitas atas sedangkan daerah perianal tidak terganggu (Aston. J.N, 1998). Kerusaka tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1&2 mengakibatkan anaestesia perianal, gangguan fungsi defekasi, miksi, impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokafernosa (Aston. J.N, 1998).

5. Pemeriksaan Diagnostik Sinar x spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislok) CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi

(Tucker,Susan Martin . 1998)

6. Komplikasi Cedera Tulang Belakang 1. Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar akibat trauma. 2. Mal union, gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek menyebabkan mal union, sebab-sebab lainnya adalah infeksi dari jaringan lunak yang terjepit diantara fragmen tulang, akhirnya ujung patahan dapat saling beradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan (non union). 3. Non union adalah jika tulang tidak menyambung dalam waktu 20 minggu. Hal ini diakibatkan oleh reduksi yang kurang memadai. 4. Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam waktu lama dari proses penyembuhan fraktur. 5. Tromboemboli, infeksi, kaogulopati intravaskuler diseminata (KID). Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat seperti plate, paku pada fraktur. 6. Emboli lemak 7. Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain. 8. Sindrom Kompartemen Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Berakibat kehilangan fungsi ekstermitas permanen jika tidak ditangani segera.

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA TULANG BELAKANG

1. Pengkajian pada klien dengan trauma tulang belakang meliputi: a. Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal b. Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi,

Hipotensi, bradikardi, ekstremitas dingin atau pucat c. Eliminasi : inkontenensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut, peristaltik hilang d. Integritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah dan menarik diri e. Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang f. Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL g. Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid, Hilangnya sensasi dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi pupil, ptosi h. Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma, dan Mengalami deformitas pada daerah trauma i. Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis j. Keamanan : suhu yang naik turun (Carpenito (2000), Doenges at al (2000))

2. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul (Carpenito (2000), Doenges at al (2000)) 1. Ketidakefektifan Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot diafragma Tujuan: pola nafas efektif setelah diberikan oksigen Criteria hasil: ventilasi adekuat, PaO2>80, PaCO2>45, pernafasan= 16-20x /menit, tanda sianosis negative. Intervensi
1.

Rasional 1. Pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan lendir bila bantuan untuk

Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.

2.

Lakukan

penghisapan

mencegah aspirasi/ mempertahankan

perlu,

catat

jumlah,

jenis

dan

jalan nafas. 2. Jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret, dan mengurangi resiko infeksi

karakteristik sekret.
3. 4. 5. 6. 7.

Kaji fungsi pernapasan. Auskultasi suara napas. Observasi warna kulit. Kaji distensi perut dan spasme otot. Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari.

pernapasan. 3. Trauma pada C5-6 menyebabkan

hilangnya fungsi pernapasan secara partial, karena otot pernapasan

8.

Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan.

mengalami kelumpuhan. 4. Hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang berakibat pnemonia. 5. Menggambarkan adanya kegagalan

9.

Pantau analisa gas darah.

10. Berikan oksigen dengan cara yang

tepat : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan.


11. Lakukan fisioterapi nafas.

pernapasan yang memerlukan tindakan segera. 6. Kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma. 7. Membantu meningkatkan mengencerkan mobilisasi sekret, sekret

sebagai ekspektoran. 8. Menentukan fungsi otot-otot

pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan. 9. Untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat. 10. Mencegah sekret tertahan

2. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuscular Tujuan: klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya. Criteria hasil: klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak mengalami kontaktur sendi, kekuatan otot bertambah, dank lien menunjukan tindakan untuk mobilitas. Intervensi 1. Kaji secara teratur fungsi motorik. Rasional 1. Mengevaluasi keadaan secara umum

2. Instruksikan pasien untuk memanggil 2. Memberikan rasa aman bila minta pertolongan. 3. Lakukan log rolling. 4. Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki. 5. Ukur tekanan darah sebelum dan 5. Mengetahui adanya hipotensi ortostatik sesudah log rolling. 6. Inspeksi kulit setiap hari. 6. Gangguan sirkulasi dan hilangnya 3. Membantu ROM secara pasif 4. Mencegah footdrop

sensai resiko tinggi kerusakan integritas 7 Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam. kulit. 7. Berguna untuk membatasi dan

mengurangi nyeri yang berhubungan dengan spastisitas.

3. Nyeri akut b.d adanya cedera neuromuscular, trauma jaringan, kompresi saraf, refleks spasme otot sekunder Tujuan : nyeri berkurang, hilang, atau teratasi Criteria hasil : secara subjektif, klien melaporkan atau dapat diatasi, mengidentifikasi aktivas yang meningkatkan atau mengurangi nyeri, tidak gelisah. Skala nyeri 0-1 atau teratasi. Intervensi 1. 2. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-4. Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus. Rasional 1. Pasien melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cedera. 2. Nyeri dipengaruhi oleh; kecemasan,

3. 4.

Berikan tindakan kenyamanan. Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi.

ketegangan,

suhu,

distensi

kandung

kemih dan berbaring lama. 3. Memberikan rasa nayaman dengan cara membantu mengontrol nyeri. 4. Memfokuskan kembali perhatian,

5.

Berikan obat antinyeri sesuai pesanan.

meningkatkan rasa kontrol. 5. Untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan istirahat.

4. Gangguan eliminasi alvi (Konstipasi) b.d gangguan persarafan pada usus dan rectum, imobilisasi dan asupan cairan yang tidak adekuat. Tujuan : klien tidak mengalami konstipasi Criteria hasil : klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanapa menggunakan obat, konsistensi feses lembek berbentuk, tidak teraba pada massa kolon.

Intervensi 1. Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya. 2. Observasi adanya distensi perut. 3. Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT 4. Berikan diet seimbang TKTP cair 5. Berikan obat pencahar sesuai pesanan.

Rasional 1. Bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal. 3. Pendarahan gantrointentinal dan

lambung mungkin terjadi akibat trauma dan stress. 4. Meningkatkan konsistensi feces 5. Rasional: merangsang kerja usus

6. Perubahan pola eliminasi urine b.d kelumpuhan saraf perkemihan Tujuan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan. Criteria hasil : produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi urine tidak ada.

Intervensi 1. Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam. 2. Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih. 3. Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari. 4. Pasang dower kateter.

Rasional 1. Mengetahui fungsi ginjal 3. Membantu ginjal. 4. Membantu proses pengeluaran urine mempertahankan fungsi

6. Kerusakan integritas kulit b.d tirah baring lama. Tujuan : klien mampu mempertahankan keutuhan kulit. Kriteria hasil : klien mau berpartisipasi dalam pencegahan luka, mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka, tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka, dan kulit kering

Intervensi 1. Inspeksi seluruh lapisan kulit. 2. Lakukan perubahan posisi sesuai pesanan. 3. Bersihkan dan keringkan kulit. 4. Jagalah tenun tetap kering. 5. Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan :

Rasional 1. Kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer. 2. Untuk mengurangi penekanan kulit 3. Meningkatkan integritas kulit 4. Mengurangi resiko kelembaban kulit 5. Meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan menurunkan tekanan pada kulit serta mengurangi kerusakan kulit.

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 2 : KHAIRUNNISA DEA KUSUMAWARDANI KRISTINA LUHA PRIYANI DIAN UKHTIANI HIRMA MARANTISA DEDE SUHENDRA DANTY IWANI DARINI PUSVITA LEDYAWATI KIKI TRIHARYANI JULIATI IKE EMI JULI KARMILA

KELAS : II A

PRODI : S1

PRODI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK TAHUN 2010/1011