Anda di halaman 1dari 18

Konsentrasi Streptococcus mutans dan Lactobacilli dalam saliva selama

perawatan ortodontik. Sebuah penelitian observasional membandingkan alat


ortodontik cekat dan lepasan

Abstrak

Tujuan: Penelitian ini pertujuan untuk meneliti konsentrasi Streptococcus mutans


(S. mutans) dan beberapa Lactobacilli dalam saliva, dan indeks plak (plaque index
[PI]) pada pasien yang memakai alat ortodontik cekat yang dibandingkan dengan
pasien yang memakai alat ortodontik lepasan.

Metode: Sampel sebanyak 90 pasien ortodontik (56 laki-laki dan 34 perempuan)


diinklusi ke dalam penelitian; 30 pasien (berusia 21.5±1.5 tahun) ditatalaksana
dengan clear aligners (CA) lepasan, sementara 30 kasus lainnya (berusia 23.3±1.6
tahun) ditatalaksana dengan menggunakan alat multibraket (multibrackets
appliance [MB]) cekat, dan 30 pasien (berusia 18.2 ±1.5 tahun) menggunakan
removable positioner (RP). Konsentrasi S. mutans dan Lactobacilli dalam saliva
serta PI dievaluasi sebelum pasien memulai perawatan ortodontik, setelah 3 bulan
menjalani perawatan, dan setelah 6 bulan.

Hasil: Setelah 6 bulan menjalani perawatan, 40% pasien MB (12 dari 30 pasien)
menunjukkan konsnetrasi dari S. mutans yang dihubungkan dengan risiko yang
tinggi mengalami kerusakan gigi (CFU/ml>105 ), berbeda dengan pasien yang
menggunakan alat lepasan (rasio ganjil = 5.05; 95% C.I. = 1.72-14.78; chi-square
= 9.64; p = 0.0019). hal yang serupa juga diobservasi untuk konsentrasi
Lactobacilli pada saliva (rasio ganjil = 4.33; 95% C.I. = 1.53-12.3; chi-square =
8.229; p = 0.004).

Selain itu, selama berjalannya penelitian, pasien CA mempertahankan PI pada


angka 0, sementara pasien MB mengalami peningkatan PI yang signifikan secara
statistik seiring berjalannya waktu, dan PI, dan nilai PI mereka menjadi relevan
setelah 6 bulan secara klinis/secara statistik, sama seperti pasien CA dan pasien
RP.
Kesimpulan: Setelah membandingkan data yang ada secara keseluruhan, setelah
6 bulan, hanya 10% pasien CA dan 13,3% pasien RP yang mencapai kolonisasi
mikroba yang dapat berujung pada peningkatan risiko terjadinya karies. Sekitar
40% pasien MB – dan 20% setelah 3 bulan lamanya – menunjukkan
kecenderungan yang tinggi terjadinya karies, yang mana membutuhkan strategi
tambahan untuk mengontrol plak dan kolonisasi mikroba untuk dilakukan.

Kata kunci

Clear aligners, Indeks Plak Gigi, Alat ortodontik cekat, Lactobacilli, Hitung
koloni mikroba, Kebersihan mulut, Ortodontik, Alat ortodontik lepasan,
Removable positioner, Saliva, Streptococcus mutans

1 Pendahuluan

Dua tinjauan literatur (Freitas, Marquezan, Nojima, Alviano, & Maia,


2014) (Lucchese, Bondemark, Marcolina, & Manuelli, 2018) menunjukkan
adanya bukti yang sedang-hingga-kuat yang menyatakan bahwa alat ortodontik
dapat secara signifikan memengaruhi konsentrasi mikrobiota oral pada saliva,
yang dapat menyebabkan perubahan kuantitas Streptococcus mutans (S. mutans)
dan Lactobacilli yang pada dasarnya dapat memengaruhi proses demineralisasi
enamel gigi dan karies gigi, dikarenakan alat tersebut dapat memicu produksi
asam dan properti pada gigi. Pernyataan tersebut telah dikonfirmasi untuk alat
ortodontik lepasan (Mummolo dkk., 2014) dan alat ortodontik cekat (Mummolo
dkk., 2013).

Dari sudut pandang klinis, sebagai kemungkinan adanya konsekuensi


terjadinya perubahan mikrobiota pada mulut, kejadian karies meningkat selama
perawatan ortodontik dengan alat multibraket (multibrackets appliances [MB]),
dan juga kejadian terjadinya lesi bintik putih, yang mana berkisar, di antara pasien
ortodontik, dari 2% hingga 97% (Migliorati dkk., 2015; Mummolo, Nota, De
Felice, dkk., 2018). Sebaliknya, ditemukan bahwa alat ortodontik lepasan
memiliki dampak yang lebih ringan terhadap mikrobiota yang ada dimulut
dibandingkan dengan alat ortodontik cekat (Mummolo dkk., 2014), namun
literatur masih msering mengalami kekurangan data terkait clear aligners (CA),
alat lepasan yang akhir-akhir in imakin banyak diminiati sebagai alternatif dari
MB, dikarenakan karateristiknya yang menarik yang dapat menyediakan
kenyaman dan juga unggul dari segi estetikanya.

Perhatian terhadap clear aligners (CA) telah meningkat seiring dengan


berjalannya waktu, terutama dikarenakan clear aligners (CA) seringkali
digunakan untuk mengatasi kasus klinis pra-prostetik (Dinoi dkk., 2015), juga
dipengaruhi oleh gangguan sendi temporo-mandibular, (Tecco, Festa, Salini,
Epifania, & D'Attilio, 2004) atau pasien dewasa yang membutuhkan distalisasi
molar (Caruso dkk., 2019). Namun, juga pada anak-anak, penggunaan tipe alat
ortodontik lepasan ini juga telah meningkat, contohnya, untuk menangani kasus
klinis dengan single tooth anterior crossbite, untuk mencegah perkembangan
penyakit periodontal lebih jauh. (Meuli, Tecco, Nota, Gatto, & Caruso, 2018)
(Silvestrini-Biavati dkk., 2013)

Selain itu, menginat observasi yang telah dilakukan sebelumnya terkait


piranti lepasan (Lucchese dkk., 2018) (Mummolo dkk., 2014), terdapat
kecenderungan klinis secara umum untuk memilih CA untuk mempertahankan
kadar kebersihan mulut yang maksimal selama perawatan ortodontik. Dapat
dibenarkan bahwa untuk memeroleh kesehatan periodontal yang lebih baik, pasien
lebih memilih piranti CA dibandingkan piranti MB. (Levrini dkk., 2015)

Dikarenakan kurangnya data empiris penelitian ini bertujuan untuk


menyediakan dasar yang kuat untuk penilaian kecenderungan yang diminati
dimana alat lepasan, terutama alat CA, dapat memberikan perawatan klinis yang
lebih cocok serta dapat menurunkan konsentrasi S. mutans dan Lactobacilli di
dalam saliva.
Selain itu, indeks plak (PI) juga dievaluasi, karena walaupun bukti yang
ada menyatakan bahwa konsentrasi bakteri di dalam saliva merupakan estimasi
yang dapat merepresentasikan plak gigi, hal tersebut bukan pengukuran indirek
dari ancaman bakteri terhadap gigi, maka dari itu, pencatatan paralel PI dengan
hitung spesies kariogenik pada saliva dapat menjadi validasi kesimpulan klinis
yang diturunkan dari data tersebut.

1.1 Populasi penelitian dan metodologi

Ini merupakan sebuah penelitian terkontrol observasional, yang bertujuan


untuk meneliti konsentrasi S. mutans dan Lactobacilli di dalam saliva, dan PI pada
pasien yang memakai piranti ortodontik cekat dibandingkan dengan pasien yang
memakai piranti ortodontik lepasan. Peserta untuk penelitian ini dipilih dari
populasi pasien dewasa mudah yang akan dirawat untuk maloklusi pada sebuah
klinig gigi di wilayah geografis Abruzzo (Itali Tengah).

Sampel total sebanyak 90 pasien diinklusi.

Untuk 30 dari mereka, rencana perawatan meliputi CA (Invisalign, Align


Technology, Santa Clara, CA, Amerika Serikat), sementara 30 pasien lainnya
dirawat dengan pirainti ortodontik multibraket (MB) (Damon Q2, Ormco,
Washington, DC, Amerika Serikat); 30 peserta lainnya dirawat dengan removable
positions (RP) (Occlus-o-Guide, Sweden&Martina, Padova, Italia).

Data demografis sampel dideskripsikan pada tabel 1. Kriteria kecocokan


dikonfirmasi karena tidak terdapat perbedaan yang signifikan yang terdeteksi pada
distribusi jenis kelamin dan rata-rata usia pada peserta dari tiga kelompok
tersebut.

Tabel 1 Data demografis pada keseluruhan sampel

Clear aligners Alat multibraket Removable


(kelompok CA) (kelompok MB) positioner
(kelompok RP)
Jenis kelamin 18 L dan 12 P 22 L dan 12 P 16 L dan 10 P
Jumlah peserta 30 30 30
Usia (rata-rata 21.5±1.5 tahun 23.3±1.6 tahun 18.2 ±1.5 tahun
±sd)

Teknik ortodontik yang diadopsi untuk perawatan setiap pasien telah


dipilih untuk setiap peserta oleh ahli ortodonti, sebelum memulai projek penelitian
ini.

Seleksi peserta dilakukan berdasarkan kriteria inklusi berikut: pasien


dengan gigi permanen, pasien dewasa, pasien dengan gigi lengkap, dan pasien
dengan malokusi yang diakarakterisasikan dengan kelas Sudut I, dengan dengan
tingkat kepadatan menengah ke bawah (pasien tidak membutuhkan ekstraksi gigi
ortodintik). Parameter berikut ditentukan sebagai kriteria eksklusi: periodontitis
kronik, adnaya rehabilitasi prostetik, adanya gigi yang dirawat secara endodontis,
riwayat gingivitis berat, Indeks plak (PI) awal, Indeks perdarahan (Bleeding index
[BI]), dan kebersihan mulut yang buruk. Peserta didaftarkan ke dalam penelitian
sejak bulan Januari 2016 hingga bulan April 2018.

Seluruh peserta dirawat oleh dua ahli ortodonti (peneliti F.A dan peneliti
S.C), yang secara eksklusif praktik pada bidang ortodontik selama lebih dari 5
tahun.

Pengumpulan data dan follow-up terhadap pasien dilakukan dengan cara


berikut. Lembar penjelasan dan persetujuan ditandatangani oleh setiap pasien saat
salah satu dari pertemuan awal sebelum memulai perawatan yang sesungguhnya.
Untuk memotivasi peserta, sesi kebersihan oral yang diadakan secara gratis
(dengan instruksi) ditawarkan. Selain itu, kunjungan follow-up lanjutan yang
termasuk ke dalam protokol yang ada ditawarkan kepada pasien dengan bebas
biaya. Protokol klinis yang diaplikasikan dalam penelitian ini sesuai dengan
standar etis yang dilaporkan pada Deklarasi Helsinki tahun 1975 dan penelitian ini
secara etis telah disetujui oleh Komite Etik Universitas L'Aquila (Dokumen
DR206/2013).

Dikarenakan kebiasaan membersihkan mulut yang salah oleh pasien


sehari-hari di rumah dapat menjadi faktor potensial yang memengaruhi, beberapa
hari sebelum memulai periode obervasional. Prosedur membersihkan mulut yang
profesional dilakukan pada setiap pasien, dan instruksi membersihkan mulut yang
akurat diberikan kepada setiap pasien untuk diimplementasikan di rumah.
Kemudian, pada hari yang telah dijadwalkan untuk memulai perawatan
ortodontik, sampel saliva diambil dari setiap pasien, dan PI dicatat dari setiap
pasien sebelum memulai prosedur bonding. Sampel saliva lainnya dan pencatatan
PI diambil setelah periode 3 dan 6 bulan. Seluruh sampel saliva diambil oleh
operator yang sama.

Sampel saliva dianalisis oleh CRT® bacteria (Ivoclar Vivadent Clinical,


Schaan, Liechtenstein). The CRT® bacteria). CRT® bacteria digunakan untuk
hitung bakteru, seperti yang sudah dipublikasikan sebelumnya. (Mummolo dkk.,
2013; Mummolo, Nota, Caruso, dkk., 2018)

CRT® bacteria digunakan untuk menentukan hitung S. mutans dan


Lactobacilli pada saliva melalui media kultur selektif. Ahli gigi dan tenaga medis
terampil lainnya secara profesional menjalankan uji tersebut. Penemuan sebanyak
105 CFU atau lebih S. mutans dan Lactobacilli pe ml saliva mengindikasikan
risiko karies yang tinggi. Meninggalkan vial uji di dalam inkubator selama 1 atau
dua hari lebih tidak memengaruhi jumlah bakteri CFU. Persiapan sampel dan
inkubasi dilakukan sesuai dengan prosedur langkah demi langkah seperti yang
dijelaskan di brosur instruksi. Uji ini hanya menentukan apakah S. mutans
terdapat pada saliva atau tidak.

CRT® bacteria dapat dianggap sebagai uji komprehensif, yang


keuntungan utamanya adalah untuk menentukan status risiko karies, untuk
menciptakan dasar untuk target perawatan dan interval pemeriksaan indivisu
untuk mempertahankan dan menjaga kesehatan oral jangka panjang. Metode
chair-side memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang sangat tinggi untuk S.
mutans (Sánchez-García dkk., 2008) dan satu-satunya batasan yang dimiliki dari
metode ini adalah bahwa metode ini membutuhkan setidaknya 48 jam untuk
mendeteksi S. mutans.

Pada setiap pertemuan follow-up (pada awal penelitian, setelah 3 bulan,


dan setelah 6 bulan), pertama-tama, PI dicatat. Setelah itu, pasien diminta untuk
mengunyah tablet parafin stimulan selama 30 detik, lalu saliva yang disekresikan
dikumpulkan ke dalam tabung kaca dan digunakan untuk hitung bakteri
menggunakan CRT® bacteria. Saliva diletakkan di dalam media kultur (agar).
Tablet NaHCO3 ditambahkan untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri dan setiap
kultur ditempatkan di dalam inkubator pada suhu 35-37 oC selama 48 jam. Koloni
S. mutans dapat terlihat sebagai koloni kecil berwarna biru dengan diameter
sebesar < 1mm pada agar biru, sementara koloni Lactobacilli yang berwarna putih
dapat dideteksi di dalam agar transaparan. Hasil hitung bakteri lebih dari 10 5
CFU/ml pada saliva mengindikasikan risiko yang tinggi akan terjadinya karies
(batas nilai untuk risiko tinggi). Kemudian, pada penelitian ini, subjek
diklasifikasikan sebagai S. mutans dan Lactobacilli CFU > atau < 105 CFU/ml,
yang dianggap sebagai nilai batasan untuk risiko tinggi. (Messer, 2000) (Kõll-
Klais, Mändar, Leibur, & Kjaeldgaard, 2004) (Mummolo dkk., 2013) (Mummolo
dkk., 2014)

1.1.1 Analisis data

Untuk menghindari bias, data dianalisis dengan operator yang buta


terhadap fakta bahwa setiap data yang dikumpulkan berasal dari kelompok mana.

Data mengenai mikrobiota tersebut diteliti sesuai dengan jumlah subjek


(dan persentase) dengan CFU/ml ≥ atau < nilai batasan (contohnya 10 5 CFU/ml).
persentase tersebut dibandingkan seiring berjalannya waktu, yaitu pada awal
perawatan, setelah 3 bulan, dan setelah 6 bulan sejak awal perawatan, serta
perbedaan pada tiga kelompok tersebut dianalisis menggunakan uji Chi-square.

PI dianggap sebagai variabel kontinu, dan dicatat dengan nilai 0, 1, 2, dan


3. Statistik deskriptif menginklusi rata-rata dan SD, serta perbedaan antara kedua
kelompok tersebut diuji dengan uji statistik ANOVA, dan perbandingan post-hoc.

Untuk seluruh analisis nilai p di atur pada angka 0,05.

2 Hasil

Seluruh peseta menyelesaikan penelitian, tanpa adanya efek samping, dan


tidak didapatkan adanya data yang hilang.

Tabel 2 menunjukkan persentase pasien dengan hasil hitung bakteri S.


mutans CFU/ml >105 pada ketiga kelompok. Pada kelompok CA, jumlah pasien
dengan CFU/ml >105 sedikit meningkat setelah 6 bulan perawatan, tanpa adanya
relevansi statistik. Hal yang sama ditemukan pada pasien yang memakai piranti
RP. Pada kelompok MB, CFU/ml >105 meningkat secara progresif seiring
berjalannya waktu, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik dari awal
hingga 3 bulan, dan dari awal hingga 6 bulan. Perbedaan pada ketiga kelompok
tersebut signifikan secara statistik pada bulan ketiga dan pada bulan keenam.

Pada waktu 6 bulan, pasien MB memiliki rasio ganjil sebesar (95% C.I. =
1.72-14.78; chi-square = 9.64; p = 0.0019), terkait peserta yang memakai piranti
lepasan, yang dengan jelas mengindikasikan bahwa subjek MB setelah 6 ublan
pengobatan memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami karies, dikarenakan
adanya peningkatan konsentrasi S. mutans.

Tabel 2 Jumlah (dan persentase) pasien dengan S. Mutans atau Lactobacilli


dengan CFU >105, pada t0, t1, dan t2, dengan perbedaan di dalam kelompok serta
perbedaan antar kelompok.

S. mutans
t0 t1 t2 Perbanding Perbanding Perbanding
aw setela setela an t0 an t0 an t1
al h3 h6 dengan t1 dengan t2 dengan t2
bulan bulan
Clear 0 0 dari 3 dari t.s t.s t.s
aligners dari 30 30
(kelompok 30 (0%) (10%)
CA) (0%
)
Piranti 0 6 dari 12 dari Chi-square = Chi-square = t.s
Multibraket dari 30 30 6.66 p=0.009 15 p=0.000
(kelompok 30 (20%) (40%)
MB) (0%
)
Removable 0 2 dari 4 dari t.s t.s t.s
Positioner dari 30 30
(kelompok 30 (6,6%) (13,3
RP) (0% %)
)
Perbanding t.s Chi- Chi-
an square square
kelompok = 6.66 = 7.2
CA dengan p=0.00 p=0.00
kelompok 9 7
MB
Perbanding t.s t.s Chi-
an square
kelompok = 5.45
RP dengan p=0.01
kelompok 9
MB
Perbanding t.s t.s t.s
an
kelompok
CA dengan
kelompok
RP

Lactobacilli
t0 t1 t2 Perbandinga Perbandinga Perbandinga
awa setelah setelah n t0 dengan n t0 dengan n t1 dengan
l 3 6 t1 t2 t2
bulan bulan
Clear 0 1 dari 4 dari t.s t.s t.s
aligners dari 30 30
(kelompok 30 (3,3%) (13,3%
CA) (0% )
)
Piranti 0 8 dari 12 dari Chi-square = Chi-square = t.s
Multibraket dari 30 30 8.08 p= 0.004 15 p=0.000
(kelompok 30 (26,6% (40%)
MB) (0% )
)
Removable 0 2 dari 4 dari t.s t.s t.s
Positioner dari 30 30
(kelompok 30 (6,6%) (13,3%
RP) (0% )
)
Perbandinga t.s Chi- Chi-
n kelompok square square
CA dengan = 6.40 = 5.45
kelompok p=0.01 p=0.01
MB 9
Perbandinga t.s t.s Chi-
n kelompok square
RP dengan = 5.45
kelompok p=0.01
MB 9
Perbandinga t.s t.s t.s
n kelompok
CA dengan
kelompok
RP
t.s = tidak signifikan

Tabel 2 juga melaporkan persentase subjek yang menunjukkan


Lactobacilli CFU/ml >105 (nilai ambang batas). Pada kelompok MB, hal tersebut
meningkat secara progresif seiring berjalannya perawatan, dengan perbedaan yang
signifikan secara statistik dari awal hingga 3 bulan dan dari awal hingga 6 bulan.

Setelah 6 bulan pengobatan, pasien yang memakai MB menunjukkan rasio


ganjil sebesar 4,33 (95% C.I. = 1.53-12.3; chi-square = 8.229; p = 0.004) terkait
pasien CA dan pasien RP, untuk mengembangkan konsentrasi saliva Lactobacilli
CFU/ml >105.
Tabel 3 melaporkan statistik deskriptif (rata-rata ± standar deviasi) untuk
PI seiring berjalannya waktu. Pada kelompok CA PI tetap bernilai 0 selama
periode follow-up, sementara pasien MB mengalami peningkatan PI yang
progresif dan signifikan secara statistik, dengan perbedaan yang signifikan ketika
dibandingkan dengan pasien CA saat 3-6 bulan, dan dengan pasien RP pada 6
bulan.

3 Diskusi

Penelitian ini ditujukan untuk meneliti konsentrasi S. mutans dan


Lactobacilli, dan PI pada pasien yang memakai piranti ortodontik lepasan (CA
atau RP) atau piranti ortodontik cekat (MB).

Perbedaan terkait kolonisasi bakteri di antara ketiga kelompok tersebut


diobservasi, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik antara pasien yang
memakai piranti ortodontik cekat dan yang dapat dilepas.

Seluruh pasien CA menunjukkan konsentrasi S. mutans dan Lactobacilli


yang lebih rendah dari nilai kritis, yang dapat berujung pada terjadinya karies
pada pasien (yaitu 105 /ml), pada awal penelitian dan setelah 3 bulan. Sementara
pasien dengan piranti cekat (MB) menunjukkan peningkatan yang progresif
seiring dengan berjalannya penelitian sejak awal penelitian hingga 3 bulan
(p<0.01) dan setelah 6 bulan, ketika 40% pasien (12 dari 30 pasien) menunjukkan
konsentrasi yang mengindikasikan risiko tinggi terjadinya kerusakan gigi (yaitu
105 /ml).

Setelah 6 bulan, 40% pasien MB, dengan 10-13.3% pasien CA dan RP,
secara berurutan, menunjukkan konsentrasi bakteri yang menginfikasikan risiko
tinggi terjadinya kerusakan gigi (yaitu 105 /ml), dengan perbedaan yang signifikan
secara statistik.
Tabel 3 Indeks Plak (rata-rata dan standar deviasi) pada ketiga kelompok pada t0,
t1, dan t2, dengan perbedaan di dalam kelompok dan perbedaan antar kelompok

t0 t1 t2 Perbandinga Perbandinga Perbandinga


awa setela setela n t0 dengan n t0 dengan n t1 dengan
l h3 h6 t1 t2 t2
bulan bulan
Clear 0 0 0 t.s t.s t.s
aligners
(kelompok
CA)
Piranti 0 0.7 ± 1.3 ± p = 0.00 p = 0.00 p = 0.00
Multibraket 0.59 0.46
(kelompok
MB)
Removable 0 0.37 ± 0.97± t.s p = 0.00 t.s
Positioner 0.48 0.8
(kelompok
RP)
Perbandinga t.s p= p=
n kelompok 0.001 0.00
CA dengan
kelompok
MB
Perbandinga t.s t.s p=
n kelompok 0.00
RP dengan
kelompok
MB
Perbandinga t.s t.s t.s
n kelompok
CA dengan
kelompok
RP
t.s = tidak signifikan

Seperti yang dilihat, hasil dari dari hitung koloni Lactobacilli


menunjukkan hal yang serupa dengan S.mutans (tabel 2) pada ketiga kelompok.

Kolonisasi bakteri yang telah diobservasi menunjukkan bahwa piranti


ortodontik lepasan (CA dan RP) tidak ameningkatkan pertumbuhan bakteri pada
saliva, dan maka dari itu, tidak meningkatkan risiko terjadinya karies pada sekitar
87.7% (untuk RP) dan 90% (untuk CA) pada pasien yang dirawat, bahkan setelah
6 bulan perawatan. Berdasarkan pengetahuan dari peneliti, hingga saat ini, belum
terdapat penelitian pada literatur yang melakukan analisis mikrobiologis terhadap
bakteri dalam saliva pada pasien menggunakan CA, sebuah penelitian prospektif
baru-baru ini, yang dilakukan dengan reaksi rantai polimerase kuantitatif, tidak
menemukan perbedaan dalam identifikasi S. mutans, dan Lactobacillus
acidophilus (L. acidophilus), pada saliva dari pasien yang menggunaetika kan
retainer termoplastik yang dibandingkan dengan dengan subjek yang dirawat
dengan piranti cekat. Namun dalam penelitian tersebut tidak terdapat analisis
kuantitatif yang kemungkinan dapat dilakukan, hampir tidak terdapat L.
acidophilus yang teridentifikasi pada sampel yang dikumpulkan (Sifakakis dkk.,
2018)

Dari penelitian ini terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan yang relevan
antara dua piranti lepasan yang digunakan. CA dan RP tidak menyebabkan
peningkatan kolonisasi bakteri pada saliva pada 6 bulan pertama setelah
perawatan, dimana terdapat perbedaan yang signifikan dengan hasil yang
ditemukan pada pasien yang menggunakan piranti MB.

Selain itu, ditemukan bahwa niali PI tetap 0 pada pasien CA hingga 6


bulan, sementara pasien MB mengalami peningkatan PI yang signifikan secara
statistik, dengan perbedaan sangat terlihat secara statistik dengan kedua kelompok
lainnya setelah 3 bulan dan setelah 6 bulan perawatan.

Observasi terakhir ini mensugestikan bahwa CA dan RP dapat


memudahkan pasien untuk mempertahankan kadar kebersihan mulut yang baik.
Observasi ini memiliki hasil yang serupa dengan data literatur yang telah ada
sebelumnya, mengindikasikan bahwa remaja yang dirawat dengan CA
menunjukkan indeks plak yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pasien
yang dirawat menggunakan MB, bahkan saat follow-up pada bulan ke-dua belas.
(Abbate dkk., 2015) Selain itu, tinjauan sistematis telah menyatakan, dengan bukti
tingkat sedang, bahwa indeks kesehatan periodontal didapatkan lebih baik pada
pasien dnegan CA dibandingkan pada pasien dengan MB. (Rossini, Parrini,
Castroflorio, Deregibus, & Debernardi, 2015)

Dari sudut pandang klinis, setelah membandingkan seluruh data yang ada,
dapat dinyatakan bahwa hanya sekitar 10% pasien CA dan 13,3% pasien RP yang
mencapai konsentrasi mikroba yang dibutuhkan untuk berada pada risiko yang
tinggi akan terjadinya kerusakan gigi (yaitu 105 /ml) setelah 6 bulan perawatan,
dengan kontrol plak yang stabil, berbeda darri pasien MB. Hasil yang diperoleh
untuk PI dapat dianggap sbeagai validasi dari kesimpulan yang diambil dari data
mikrobiologis. Hasil yang didapatkan memberikan representasi yang dapat
diterima terkait plak gigi, namun hanya dapat menjadi hasil pengukuran tidak
langsung dari ancaman bakteri terhadap gigi.

Menjaga kebersihan mulut secara makroskopik (indeks plak) dan


mikroskopik (S.mutans dan Lactobacilli CFU) pada pasien dengan piranti lepasan,
harus dihubungkan dengan tidak adanya permukaan retentif cekat pada gigi pasien
dan dengan fasilitasi konsekuen prosedur kebersihan oral, yang mana dengan
subjek yang tidak dirawat. (Mummolo dkk., 2013) Sementara pada sekitar 40%
dari pasien MB terdapat peningkatan risiko terjadinya karies gigi dan
deminerlisasi setelah 6 bulan sejak memulai perawatan (dan untuk 20% hanya
setelah 3 bulan), dan strategi tambahan untuk kontrol plak harus dipicu,
penggunaan CA dan RP tampaknya dapat menurunkan kebutuhan ini secara
signifikan hingga menjadi sekitar 10% dari pasien yang dirawat dengan CA dan
13,3% pasien yang dirawat dengan RP. Pentingnya memberlakukan strategi
tambahan pada pasien dengan konsentrasi mirkoba pada saliva, yang menghadapi
risiko tinggi mengalami kerusakan gigi (yaitu 105 /ml) dapat menjadi alasan untuk
menggunakan bahan-bahan disinfektan dan mineralisasi. (D'Ercole, Martinelli, &
Tripodi, 2014) hal lainnya yang dapat dilakukan oleh pasien tersebut adalah
dengan memanfaatkan makanan, seperti beberapa yogurt yang dapat secara positif
memengaruhi ekosistem pada mulut. (Ferrazzano dkk., 2017)

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, contohnya, hanya pasien


dengan maloklusi kelas sudut I dengan crowding tingkat rendah/sedang diinklusi,
sehingga tidak mungkin untuk menganalisis tipe maloklusi sebagai faktor yang
dapat memengaruhi hasil penelitian, maka dari itu, hasil yang didapatkan saat ini
tidak dapat digeneralisasikan untuk maloklusi tipe lainnya dengan tingkat
crowding yang lebih parah. Selain itu, pasien yang merokok tidak diiklutsertakan,
dimana diketahui bahwa imunoglobulin saliva dan status periodontal dapat
dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, yang berpotensi memengaruhi kolonisasi
bakteri. (Giuca, Pasini, Tecco, Giuca, & Marzo, 2014)

Selain itu, tidak terdapat data yang pasti yang dimasukkan terkait
kepatuhan peserta mengenai kualitas dalam menjaga kebersihan mulut yang
dilakukan sehari-hari di rumah, walaupun pasien sudah diberikan instruksi
mengenai cara menjaga kebersihan mulut dengan baik dan benar. Selain itu,
batasan lainnya penelitian ini adalah penggunaan parafin untuk menstimulasi
aliran aliva, yang dapat sedikit memodifikasi hasil pemeriksaan dengan
melepaskan bakteri dari permukaan.

4 Kesimpulan

Setelah membandingkan seluruh data, dapat dinyatakan bahwa hanya


sekitar 10% pasien CA dan sekitar 13,3% pasien RP yang mencapai konsentrasi
mikrobiota pada saliva dan pasien tersebut dinyatakan memiliki risiko tinggi
mengalami karies (yaitu 105 /ml) setelah menjalankan perawatan selama 6 bulan,
dibandingkan dengan pasien MB, dimana sebanyak 40% kasus memiliki
kecenderungan yang tinggi mengalami karies, dan membutuhkan strategi
tambahan untuk mengontrol plak dan kolonisasi mikroba harus dikontrol setelah 6
bulan pertama perawatan.

Relevansi Klinis

Secara umum, telah diobservasi bahwa piranti lepasan memiliki dampak


yang lebih ringan terhadap mikrobiota oral dibandingkan dengan piranti cekat,
namun literatur masih kekurangan data terkait clear aligners (CA), alat yang
makin sering digunakan dan dipilih untuk perawat dikarenekan banyaknya pasien
yang menginginkan alternatif yang memiliki estetika dan nyaman digunakan jika
dibandingkan dengan alat multibraket (MB).

Temuan Utama

Setelah 6 bulan perawatan, pasien MB memiliki rasio ganjil sebesar 5.05


(95% C.I. = 1.72-14.78; chi-square = 9.64; p = 0.0019) untuk menunjukkan
konsentrasi S. mutans pada risiko tinggi mengalami kerusakan gigi, dibandingkan
dengan pasien RP dan pasien CA; dan rasio ganjil sebesar 4.33 (95% C.I. = 1.53-
12.3; chi-square = 8.229; p = 0.004) untuk menunjukkan konsentrasi Lactobacilli
pada risiko tinggi mengalami kerusakan gigi. Pasien dengan CA berhasil
mempertahankan indeks plak pada angka 0 bahkan seiring berjalannya penelitian,
sementara pasien yang memakai piranti ortodontik MB mengalami peningkatan
indeks plak yang signifikan secara statistik seiring berjalannya waktu. Perbedaan
terkait indeks plak terlihat relevan secara statistik/secara klinis setelh 3 bulan
pemakaian piranti CA, dan setelah 6 bulan setelah pemakaian piranti RP.

Implikasi praktis: ahli gigi harus tahu bahwa protokol preventif yang
berbeda terkait penyakit yang ada di mulut harus diaplikasikan pada pasien
ortodintik yang memakai CA, dibandingkan pada pasien yang memakai MB,
dikarenakan hanya sekitar 10% pasien CA dan 13,3% pasien RP yang mencapai
konsentrasi mikrobiota yang dinyatakan memiliki risiko tinggi mengalami
kerusakan gigi setelah 6 bulan perawatan, berbeda dengan pasien MB, dimana
sekitar 40% dari seluruh kasus pasien MB yang memiliki kecenderungan tinggi
mengalami karies, dan membutuhkan tindakan medis tambahan untuk mengontrol
plak serta kolonisasi mikrobanya harus dikontrol hanya setelah 6 bulan pertama
perawatan. Maka dari itu kontorl plak dan kolonisasi mikroba pada saliva harus
dinilai dan diuji setelah tiga dan enam bulan setelah perawatan.