Anda di halaman 1dari 3

Riandhika Munggaran (108083000079) Hubungan Internasional / VI B POLITIK GLOBAL AMERIKA SERIKAT DALAM ISU EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL DAN

LINGKUNGAN Amerika Serikat sebagai negara yang super power sudah tentu merupakan negara yang kuat dari berbagai sisi. Pasca Perang Dunia ke-II, Amerika Serikat muncul sebagai negara dengan perekonomian kapitalis yang sangat kuat dan menjadi tumpuan bagi negara-negara lainnya.1 Contohnya, Amerika Serikat memberikan bantuan kepada negara-negara Eropa yang sedang kesusahan akibat perang yang panjang melalui program yang disebut Marshall Plan.2 Dalam masa-masa Perang Dingin, Amerika Serikat sangat gencar dalam memberikan bantuan kepada negara-negara dunia ketiga dalam bidang apa saja, khususnya dalam bidang ekonomi, kebijakan ini juga diambil Amerika Serikat dalam rangka politik pembendungan (Containment Policy)mereka terhadap komunisme Uni Soviet.3 Kuatnya perekonomian Amerika Serikat juga dapat kita lihat dari tingginya nilai mata uang mereka, Dollar, dan dijadikan acuan bagi nilai mata uang negara-negara lainnya. Amerika Serikat juga merupakan sebuah negara yang mengandalkan perekonomian dari sektor-sektor industri. Didukung dengan sumber daya manusia yang cerdas, Amerika Serikat menjadi sebuah negara yang maju dan kaya. Banyak sumbangsih yang diberikan oleh sektor-sektor industri, industri otomotif khususnya. Banyak perusahaan-perusahaan otomotif yang terkenal disana seperti General Motors, Ford dan lainnya. Pendapatan devisa dari hasil ekspor otomotif pun berkisar antara 1 miliar dan 2 miliar dollar AS setahunnya. Jadi jelaslah bahwa sektor industri otomotif sangat
1

http://id.shvoong.com/humanities/history/2139355-ekonomi-dunia-menjadi-kacau-setelah/ diakses 25 Mei 2011. 2 Marshall Plan (atau sering dikenal juga dengan nama European Recovery Program (ERP)), merupakan sebuah program dengan skala besar yang dijalankan oleh Amerika Serikat untuk negara-negara Eropa. Dengan program ini Amerika Serikat memberikan bantuan ekonomi kepada negara-negara Eropa. Bantuan ini tidak hanya ditujukan untuk pembangunan kembali Eropa, melainkan bantuan ini juga dimaksudkan untuk mencegah penyebaran ideologi komunisme atau sosialisme yang diusung oleh Uni Soviet. Secara umum Marshall Plan dicetuskan pada tanggal 5 Juli 1947. 3 Containment merupakan sebuah kebijakan Amerika Serikat dalam menggunakan segala macam instrument baik militer, politik, ekonomi dan strategi diplomasi untuk meredam penyebaran komunisme, meningkatkan keamanan Amerika Serikat dan politik luar negerinya dan mencegah terjadinya sebuah efek domino. Kebijakan ini diberlakukan pada masa perang dingin. Doktrin ini dibawa pada salah satu kabel diplomatik 1946 oleh diplomat Amerika Serikat, George. F. Kennan.

mempengaruhi ekonomi Amerika Serikat dan merupakan sumber utama pemasukan negara.4 Pada masa pemerintahan George W Bush, terdapat sebuah tekanan dari konferensi tentang perubahan iklim yang kita sebut dengan Protokol Kyoto. Secara langsung, Amerika Serikat mendapatkan tekanan untuk segera meratifikasi isi Protokol Kyoto untuk mengurangi gas buang atau bekerjasama dalam perdagangan emisi. Dalam protokol ini para negara-negara maju dipaksa untuk bekerjasama dalam mengurangi emisi dari kegiatan industri mereka, akan tetapi Bush menolak untuk meratifikasi isi protokol tersebut. Bush beralasan, jika Amerika Serikat meratifikasi Protokol Kyoto, maka perekonomian Amerika Serikat akan mengalami pergolakan dan akan berpengaruh kepada para buruh yang menggantungkan kehidupannya pada sektor industri. Dengan diratifikasinya protokol ini Amerika akan mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengganti mesin-mesin produksinya dengan harga yang sangat tinggi dan juga harus memangkas sebagian besar dari buruhnya untuk digantikan dengan mesin. Alas an inilah yang dijadikan alasan utama oleh Bush dalam kebijakannya untuk tidak meratifikasi Protokol Kyoto. Sejalan dengan penjelasan diatas, pada pembukaan konferensi perlindungan iklim dunia di Argentina, Amerika Serikat tetap tidak mau menandatangani Protokol Kyoto. Alasannya, menurut pemimpin delegasi Amerika Serikat Harlan Watson, perlindungan iklim hanya dapat berhasil jika kemakmuran rakyat dipenuhi. Menurut pemerintah Amerika Sserikat pelaksanaan Protokol Kyoto membutuhkan banyak dana dan akan merusak perekonomian Amerika. Protokol tersebut ingin membatasi produksi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Amerika Serikat memproduksi sekitar 36 persen gas CO2 yang merupakan produksi terbesar di dunia. 5 Alasan ini pula yang dipakai oleh presiden Bush dalam langkahnya mengabaikan Protokol Kyoto. Selain itu, Amerika Serikat juga mensyaratkan China untuk meratifikasi Protokol Kyoto juga, karena meskipun China adalah negara berkembang, tetapi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) China sekarang sangat besar.6
4 5

http://publikasi.umy.ac.id/index.php/hi/article/viewFile/715/1199 diakses 25 Mei 2011 AS tetap tolak Protokol Kyoto. http://www.dw-world.de/dw/article/0,,2951422,00.html diakses 25 Mei 2011 6 Amerika Serikat Ganjalan protokol Kyoto. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/06/03491297/ diakses 25 Mei 2011.

Akan tetapi ketika Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat yang baru, dunia dapat berharap lebih banyak dalam masalah lingkungan dan permasalahan pemanasan global. Seperti apa yang pernah dikatakan Obama (9/12) pada pidatonya setelah menerima mantan presiden Al Gore yang menerima Nobel Perdamaian untuk karyanya mengenai pemanasan Global waktunya untuk menunda (isu pemanasan global) telah berakhir, waktu menyangkalnya pun telah berakhir, kemudian dia melanjutkan kami yakin apa yang ilmuan sampaikan bahwa selama beberapa tahun masalah pemanasan global merupakan masalah darurat dan keamanan nasional serta harus ditangani dengan serius.7

Bom Waktu Menanti Barrack Obama. Jimmy Hitipeuw, senin, http://nasional.kompas.com/read/2008/12/15/10281954/ diakses 25 Mei 2011

15

Desember

2008.