Anda di halaman 1dari 6

Hukum internasional adalah hukum yang hidup ditangah-tengah masyarakat internasional, ia ada karena kebutuhan dan keinginan dari

masyarakat internasional yang mana dengan adanya aturanaturan yang mengatur hubungan-hubungan antar negara-negara yang ada diharapkan tercapainya rasa ketentraman, kedamaian dan keadilan. Adanya hukum internasional merupakan salah satu manifestasi dari kesadaran hukum, karena didalam hukum internasional tidak adanya suatu badan yang berhak untuk melakukan pemaksaan terhadap pelaksanaan suatu aturan. Hal ini berbeda dengan hukum nasional disuatu negara yang memiliki badan otoritas yang berhak melakukan pemaksaan untuk penerapan hukum seperti polisi, kejaksaan serta kehakiman. yang mana didalam hukum internasional bersifat Ko-ordinatif karena semua negara didunia ini sama kedudukannya tanpa ada yang berkuasa diatas suatu negara kecuali negara itu sendrir, hal ini berbeda dengan hukum nasional yang bersifat Sub-Ordinasi, setiap orang dikuasai oleh negara. Negara berkuasa terhadap rakyatnya yang mana kekuasaan itu diberikan lansung oleh rakyat untuk dapat menjalankan roda pemerintahan agar terwujudnya kesejahteraan dan keadilan. Aritoteles mengatakan bahwa ubi societes ubi ius, hukum internasional berkembang dengan bentuknya sendiri, ia berkembang dengan mengikuti perkembangan masyarakat dari masa ke masa. walaupun hukum internasional tidak memiliki badan supra nasional yang berhak menerapkan hukum itu kepada semua negara yang ada di dunia namun hukum internasional memainkan peranan yang sangat dominan dalam mewujudkan tata kehidupan internasional. banyak konvensi-konvensi internasional yang diadopsi oleh negara-negara untuk dijadikan hukum di negaranya, begitu pula hubungan-hubungan antar negara yang satu denga yang lainnya selaku menggunakan kaedahkaedah hukum internasional serta banyaknya konflik-konflik internasional diselesaikan dengan cara damai. namun, apabila dilihat dari sisi lain, ada sebagian ahli hukum yang meragukan eksistensi dari hukum internasional, salah satunya adalah Jon Austin (1790-1895), dia menyatakan bahwa hukum internasional bukanlah hukum melainkan hanya etika dan norma kesopanan. pandangan Jhon austin didasarkan pada pemahamannya yang sempit tentang arti hukum yang sebenarnya. hukum hanya dipandang sebagai perintah yakni perintah dari pihak yang menguasai. pihak yang berkuasa memiliki kedaulatan dan manifestasi dari kedaulatan itu adalah membuat hukum, melaksanakan dan memaksakan terhadap pihak yang dikuasainya. hal ini berarti hukum hanyalah perintah yang berasal dari penguasa yang berdaulat. Jadi jika suatu peraturan tidak berasal dari penguasa yang berdaulat, peraturan semacam itu bukanlah merupakan hukum, melainkan hanyalah norma moral belaka, seperti norma kesopanan dan norma kesusilaan. Pandangan Jhon Austin ini merupakan penyangkalan atas eksistensi dari hukum kebiasaan, termasuk hukum kebiasn internasional, sebab hukum kebiasaan tidak dibuat oleh penguasa yang berdaulat, melainkan tumbuh dan berkembang ditengah-tengah pergaulan masyarakat.

rechtsvinding.blogspot.com

Contoh masalah internasional

Masalah Irak Adalah Masalah Internasional


23-November-2006 JAKARTA, KOMPAS - Krisis politik dan segala kekacauan yang kini tengah terjadi di Irak adalah juga masalah dunia, bukan hanya masalah Pemerintah AS. Karena itulah AS menilai komunitas internasional harus turut serta terlibat aktif dalam menangani konflik Irak dan konflik kawasan Timur Tengah lain seperti di Israel, Palestina, atau Lebanon. Seperti yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia dalam membantu menangani konflik di Lebanon. "Ini bukan semata-mata untuk membantu kami atau orang lain, tetapi memang begitu cara dalam menyelesaikan masalah dunia seperti yang memang seharusnya dilakukan negara-negara besar seperti Indonesia. Itu biasa, kata Duta Besar AS untuk Indonesia Lynn Pascoe, Rabu (22/11), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, dalam jumpa pers Yudhoyono menyatakan, masalah Irak bukan hanya persoalan AS. Indonesia percaya dengan bekerja sama dan bertukar ide maka akan bisa melahirkan solusi jangka panjang yang baik untuk Irak. Pernyataan dari Yudhoyono ini menimbulkan banyak pertanyaan dari ebrbagai kalangan, mengingat sejak awal posisi Indonesia sudah jelas, yakni mengecam invasi Irak. Namun, Pascoe justru memandang pernyataan Yudhoyono sebagai bentuk keseriusan dan komitmen nyata dari Indonesia untuk mengambil peran lebih besar di komunitas internasional. Apalagi mengingat Indonesia saat ini telah menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan akan efektif bekerja tahun 2007. Ini kesempatan tepat bagi Indonesia yang menyatakan ingin ikut berperan dan menjadi pemain yang serius. Kami yakin Indonesia bisa memainkan peran yang kuat dan positif, kata Pascoe. Pernyataan Yudhoyono itu dinilai sesuai dengan upaya AS yang sejak dua-tiga tahun terakhir berusaha keras mencari dukungan dari sebanyak mungkin negara untuk membantu menangani krisis di Irak. Jika memang tidak ada yang bersedia memberikan saran atau bantuan untuk menyelesaikan krisis Irak, kata Pascoe, juga tidak masalah. Hanya saja, lanjutnya, yang terjadi saat ini di Irak adalah gejolak kekerasan sektarian. Sebagian besar mereka menyerang dan membunuh sesama Irak dan bukan ke arah AS, ujarnya. Jika memang ada negara yang bersedia memberikan saran atau ikut membantu mencarikan jalan keluar masalah Irak, kata Pascoe, AS selalu bersedia mendengarkan. Hingga kini AS masih berusaha mencari jalan keluar untuk menyelesaikan krisis dan meraih stabilitas di Irak agar Irak bisa segera maju. Tidak ada satu pun negara yang bisa menangani masalah dunia yang kompleks dan rumit sendirian. Perlu kerja sama. Kebetulan kini AS negara yang punya kekuatan terbesar di dunia. Karena itu kami punya tanggung jawab lebih besar dalam meraih stabilitas dunia tetapi negara lain juga punya tanggung jawab yang sama, kata Pascoe. Hasil nyata Pertemuan bilateral antara Bush dan Yudhoyono dinilai sangat strategis dan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Secara konkret, kata Pascoe, kedua presiden telah menandatangani beberapa kesepakatan salah satunya kerja sama pengembangan sistem peringatan tsunami. Bentuk kerja sama ini berbentuk kerja sama ilmiah dan teknologis untuk mendeteksi bencana alam tsunami. Di dalam perjanjian itu AS berjanji memberi paket bantuan seperti riset gabungan untuk

mengadopsi teknologi mendeteksi tsunami dan dikoordinasikan dengan Sistem Peringatan Tsunami Samudra India sebesar 16,6 juta dollar AS. Kesepakatan itu menjadi landasan bagi kerangka kerja sama bencana alam lain seperti banjir, tanah longsor, dan letusan gunung berapi. Ada pula bantuan sebesar 55 juta dollar AS selama dua tahun dari Millennium Challenge Corporation (MMC). Bantuan ini diberikan untuk program imunisasi dan program menumpas tindak korupsi dengan cara reformasi di berbagai institusi. Dalam pertemuan bilateral itu juga dibicarakan iklim investasi Indonesia. Investasi akan masuk ke tempat yang iklim investasinya mendukung. Jika tidak, investor akan lari ke tempat lain. Negara lain menciptakan kondisi yang positif sehingga investor tertarik masuk. Di Indonesia, ada upaya menarik uang dalam setiap tahapan proses atau ada aturan tertentu yang memakan waktu hingga satu dua tahun sebelum akhirnya investor bisa masuk. Kami ingin Indonesia bisa ikut kompetisi perdagangan dunia tapi harus bisa diciptakan iklim investasi yang positif, kata Pascoe. (LUK) Sumber: Kompas Online, 23 Nopember 2006

### JAKARTA Tahun ini diperkirakan dunia perbankan internasional makin banyak yang akan menggunakan teknologi mobile payment Near Field Communication (NFC) , namun tidak demikian dengan perbankan Indonesia. Setahu saya belum ada bank di Indonesia yang menggunakan teknologi ini, ujar Budi Hartono, Vice President Electronic Banking Group Bank Mandiri, di Jakarta, Rabu (20/4/2011). Budi menjelaskan kalau dunia perbankan sebenarnya hanya pihak yang memanfaatkan teknologi tersebut, bukan sebagai penyedia teknologi. Kita hanya pemakai atau pengguna teknologi itu saja, ungkapnya. Untuk Indonesia, infrastruktur penerapan teknologi NFC saja belum siap. Karena ada banyak pihak yang bakal terlibat, yakni vendor penyedia handset, operator yang memberikan layanan dan perbankan tentunya, jelasnya. Ditambahkan pula oleh Budi, jika infrastrukturnya sudah memadai, maka dunia perbankan Indonesia pun dapat menerapkannya. Ketika ditanya apakah Bank Mandiri siap menerapkan teknologi tersebut jika infrastrukturnya sudah memadai, Budi menjawab kalau Mandiri akan menerapkannya secara bertahap dan satupersatu. Mobile Payment dan Mobile Banking sendiri adalah dua hal yang berbeda. Untuk mobile payment prospek ke depannya di Indonesia cukup bagus. Tapi untuk saat ini Mandiri ingin berfokus pada mobile banking dulu, paparnya. NFC memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran tanpa perlu mengeluarkan uang tunai. Teknologi NFC memakai proximity card yang dipasang di dalam ponsel, sehingga untuk melakukan pembayaran hanya dengan men-scan ponsel di atas sebuah detektor khusus. (ATA) Source: Okezone Techno ### Sejarah Indonesia sebagai Masalah Politik Posted on 7 May 2011 by Rachmad Revanz

Kesan dari uraian di atas ialah pertanyaan, Perlukan sejarah Indonesia itu dipersoalkan dan apabila terasa demikian. Apakah yang semestinya menjadi masalah pokok? Pengertian klasik tentang sejarah Indonesia tidak pernah memepersoalkan adanya sejarah Indonesia; mungkin atau tidak mungkin tentang adanya sejarah Indonesia tidaklah menjadi soal. Pengertian klasik hanya menyatakan: sejarah Indonesia itu ada dan apabila tidak ada harus ada demi keselamatan negara dan bangsa. Oleh sebab itu, maka yang perlu dan harus dipersoalkan tentang sejarah Indonesia ialah (1) ada atau tidak ada; (2) mungkin ada atau tidak mungkin ada. Adakah suatu cerita sejarah yang dapat disebut sebagai sejarah Indonesia? Mungkinkah disusun suatu cerita sejarah yang merupakan sejarah Indonesia? Ada atau tidak adanya suatu cerita sejarah, mungkin atau tidak mungkinnya dibuatnya suatu cerita sejarah suatu bangsa tertentu tergantung dari adanya atau tidak adanya bangsa itu! Bila bangsa itu memang ada, maka yang dipersoalkan ialah bilamanakah bangsa itu mulai ada dan adakah bangsa itu benar-benar mempunyai sejarah? Prof. Mr. Moll. Yamin sendiri menyatakan dengan tegas bahwa bangsa Indonesia dilahirkan pada 28 Oktober 1928!

## Bajak Laut Somalia Masalah Internasional

Groansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Seluruh dunia harus berpartisipasi memberantas aksi bajak laut. Para perompak di perairan Somalia akan terus beraksi, karena keuntungan yang dapat diraih amat fantastis. Penanggulangan kasus perompakan di kawasan perairan Somalia menjadi tema komentar dalam tajuk harian-harian internasional. Harian Inggris The Independent yang terbit di London dalam tajuknya berkomentar : Dalam beberapa segi, perompak di Somalia ibaratnya Taliban di lautan. Basisnya adalah sebuah negara yang tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi. Mereka melancarkan serangan dengan senjata api kaliber kecil dan peralatan seadanya. Sama seperti Taliban, dunia terlambat menyadari besarnya masalah yang ditimbulkan. Karena itu, diperlukan pemecahan masalah yang

dikoordinasikan secara internasional. Bajak laut juga tidak memilih sasarannya. Setiap kapal yang lewat tidak peduli dari negara mana, adalah mangsa yang harus diburu. Dunia pasti berkepentingan mengamankan rute transportasi logistik cukup penting tsb. Harian Italia La Stampa yang terbit di Turin berkomentar : Samudra Hindia di kawasan Somalia saat ini mirip dengan perairan Karibia di abad 18. Sama seperti zaman dahulu, hanya sebuah kekuatan baru di negara pangkalan bajak laut itu, yang dapat membuat para perompak menjadi ketakutan. Akan tetapi kasus perompakan tidak akan lenyap. Sebab keuntungannya amat fantastis, dibanding modal yang harus dikeluarkan. Juga para bajak laut itu tidak akan mengalami kerugian. Paling sial mereka hanya akan kehilangan nyawanya. Tapi nyawa bukan sesuatu yang cukup berharga dalam situasi kehidupan yang penuh kesengsaraan serta tanpa perspektif. Sementara harian Jerman Berliner Zeitung yang terbit di Berlin mengomentari proses hukum bagi para perompak yang tertangkap. Terdapat target untuk menangkapi para perompak dan mengajukannya ke pengadilan. Para perompak harus dikurung, tapi masalahnya tidak ada satupun negara yang mau menerima mereka. Dalam proses aktual, Jerman masih dapat beranggapan tidak terkena dampaknya. Karena, walaupun kapal yang dirompak itu milik perusahaan pelayaran Jerman, tapi tidak menggunakan bendera Jerman dan awaknya tidak ada yang berkebangsaan Jerman. Namun kini situasinya berbeda. Sebagian awak kapal barang MS Stavanger yang disandera perompak adalah warga Jerman. Tarik ulur masalah hukum masih akan berlangsung. Tapi semakin jelas, kini semakin diperlukan keberadaan pengadilan internasional untuk kasus bajak laut. Terakhir harian Jerman lainnya Frankfurter Allgemeine Zeitung yang terbit di Frankfurt berkomentar : Uni Eropa menyepakati ekstradisi dan pengadilan para perompak dengan Kenya. Sebuah negara di Afrika yang sistem hukumnya dikenal tidak terlalu bagus. Namun dari berbagai sudut pandang Eropa, pemecahan problem semacam ini adalah yang paling murah, dibanding jika pengadilannya dilakukan di Eropa. Akan tetapi yang lebih baik lagi, jika Eropa mengikis habis lahan subur untuk tumbuhnya kasus perompakan, atau paling tidak sistem penjeraan militernya untuk memerangi para bajak laut ditata lebih efektif lagi.

### Kapanlagi.com - Korupsi di tujuh ekonomi besar dunia tetap menjadi "masalah internasional besar", menurut sebuah laporan yang diterbitkan Senin (09/10/06), mengakibatkan hampir separuh dari seluruh perusahaan kehilangan kontrak karena pesaing menyogok. Dalam sebuah survei atas 350 perusahaan di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Hong Kong dan Brazil oleh konsultan resiko Control Risks dan konsultan hukum Simmons & Simmons, 43% mengatakan mereka kehilangan kontrak bisnis karena kompetitor menyuap. Hong Kong tetap paling parah dari tujuh negara yang disurvei itu, dengan lebih dari tigaperempat dari semua perusahaan mengatakan mereka dikalahkan untuk mendapatkan kontrak oleh suap pada tahap tertentu dalam lima tahun belakangan, naik dari 69% pada 2002. Belanda, sementara itu, mengalami kenaikan enam poin dalam tindakan sama menjadi 46%. Amerika Serikat juga mengalami peningkatan korupsi -- 44% perusahaan Amerika mengatakan mereka kalah mendapatkan kontrak karena suap, dari 32% pada 2002. Sekitar 38% perusahaan Brazil mengatakan mereka gagal mendapatkan kontrak karena kompetitor

melakukan penyuapan, dibanding dengan 36% perusahaan Jerman, 34% perusahaan Perancis dan 26% perusahaan Inggris. "Korupsi terus menjadi masalah internasional besar dan perusahaan jujur masih kalah dari perusahaan pesaing curang dalam skala besar," kata John Bray, seorang konsultan di Control Risks yang mengkhususkan dalam korupsi. Sepersepuluh dari perusahaan yang disurvei itu memperkirakan bahwa suap yang dibayarkan berjumlah hingga separuh dari biaya total proyek yang ditawarkan untuk diraih, dengan tujuh% lebih lagi mengatakan jumlahnya mungkin lebih tinggi lagi. Tingkat korupsi mempunyai dampak merugikan terhadap kemampuan negara untuk menarik investasi asing, survei tersebut mengindikasikan, dengan lebih dari 35% responden mengatakan mereka enggan untuk investasi dalam sebuah negara dengan reputasi buruk dalam memerangi korupsi. Masalahnya adalah mungkin tidak akan menjadi lebih baik dalam tahun-tahun mendatang, bagaimanapun juga, menurut responden survei -- 32% berpikir bahwa korupsi kemungkinan akan meningkat, sedangkan 21% berpikir korupsi akan turun. "Jelas masih ada jalan panjang yang harus dilalui sebelum korupsi menjadi sesuatu dari masa silam," Bray mengatakan. (*/rit) ##