Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada prinsipnya Alkitab memberikan pernyataan tegas bahwa realitas penderitaan manusia adalah salah satu konsekuensi logis dari masuknya dosa ke dalam sejarah kehidupannya. Selama persoalan dosa belum terselesaikan secara tuntas maka penderitaan itupun akan tetap setia mengiringi kehidupan manusia. Oleh karena dosa maka lahirlah kompleksitas penderitaan yang berkelanjutan sementara kehadiran Yesus Kristus dalam wujud manusia adalah demi dosa, sehingga Ia mengambil bagian dan turut menjalani segala pergumulan dan penderitaan bahkan kelemahankelemahan yang dialami manusia.1 dalam kitab-kitab Injil termuat berbagai pokok yang memberi konfirmasi bahwa kehadiran Yesus Kristus di dunia adalah dalam wujud manusia seutuhnya. Kesaksian Injil dibuktikan bahwa Kristus memiliki rangkaian silsilah kekeluargaan manusiawi (Mat. 1:1-16; Luk. 3:23-28)2, mengalami proses perkembangan janin secara normal, menjalani proses persalinan atau kelahiran dari seorang wanita secara wajar (Mat. 2:7; Gal. 4:4), mengalami pertumbuhan fisik dari usia dini mengarah keusia dewasa secara normal, perkembangan mental, psikologi bahkan psikoseksual secara wajar (Luk. 8:40-52; Ibr. 5:8), dan sebagainya. Keberadaan kemanusiaan-Nya memungkinkan Ia mempunyai keterbatasan dan kelemahan (Yoh. 4:6), perasaan lapar (Mat. 21:18), rasa haus (11:19) bahkan penderitaan baik secara lahir maupun batin yang begitu serius dan pada akhirnya mengalami kematian. Jauh sebelum kelahiran-Nya telah dinubuatkan bahwa Ia akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa (Yes. 53:3). Pada saat kelahiran-Nya bayangan penderitaan semakin nyata melalui berbagai peristiwa, seperti: pelarian ke Mesir, bahkan peristiwa maut yaitu pembunuhan bayi-bayi di
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). 2 Chris Marantika, Yesus Kristus Allah , Manusia Sejati, Makalah-makalah Hasil Simposium Kristologi PASTI (Surabaya: PASTI dan YAKIN, tt.) hal. 72.
1

Betlehem oleh Herodes (Mat. 2:13-18). Penelitian gramatis dari istilah bahasa Yunani yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan penderitaan Kristus mengekspresikan kedalaman emosi manusiawi demi merespon penderitaan ragawi Yesus Kristus. Misalnya perasaan sedih (Luk. 19:41), Kecemasan (Mat. 27:46; Yoh. 12:27), kemarahan (Yoh. 2:17), dan sebagainya.3

B. Batasan Masalah Pembahasan materi Kristologis berkenaan dengan pengalaman penderitaan Yesus Kristus dalam keberadaan-Nya sebagai manusia, dalam paper ini akan dibatasi dalam beberapa hal berikut ini, yaitu:
1. 2.

Bagaimana realitas kehidupan manusiawi yang dijalani Yesus Kristus? Bagaimana pengalaman penderitaan Yesus Kristus dalam keberadaan-Nya sebagai manusia?

C. Tujuan Penulisan
1.

Inkarnasi Tuhan Yesus Kristus dalam wujud manusia merupakan bukti utama dan sekaligus inti iman Kristen. Ia dilahirkan melalui Maria, menjalani masa kanakkanak, mempunyai emosi, bahkan mengalami masalah, persoalan, penderitaan dan pergumulan hidup.4

2.

Dalam kenyataan hidup yang dijalani oleh manusia Yesus Kristus menunjukkan berbagai realitas pengalaman penderitaan yang sangat manusiawi, seperti:
a.

Perasaan Kehilangan atau ditinggalkan

b. Kesakitan c. Perasaan terluka d. Perasaan takut


e. f.

Depresi Perasaan gagal, dan sebagainya.

Bruce Milne, Mengenali kebenaran (Jakarta: Gunung Mulia, 2002), hal. 179. Ibid. Chris Marantika, hal. 72-74 cf John F. Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita (Surabaya: YAKIN, tt), hal. 86-92.
4

BAB II PEMBAHASAN

A. Realitas Kehidupan Manusiawi Yesus Kristus Di dalam inkarnasi-Nya, Yesus Kritus sungguh mengalami dan memulai kehidupan yang sangat natural sebagai layaknya manusia di planet bumi ini yaitu melalui proses kelahiran. Ia tunduk kepada hukum-hukum yang membatasi pertumbuhan manusia. Nazaret adalah daerah dimana Ia berasal, adalah sebuah desa kecil yang tidak banyak penduduknya, bahkan suatu saat Natanael mewakili pola pikir masyarakat Yahudi lainnya bertanya, Dapatkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret? 5 Yesus bertumbuh dalam sebuah keluarga Yahudi yang saleh, Ia mendengar berbagai warisan pengajaran Dampak penderitaan manusia secara nyata juga tampak jelas dalam pengalaman penderitaan manusia Ayub. Perasaan sakit bukan hanya ada dan terjadi namun nyata-nyata menyerang. Kuasa jahat secara terbuka membentangkan sebuah konfrontasi melalui berbagai penderitaan besar terhadap diri dan hidup Ayub. Ia harus tidak hanya terancam secara kesehatan fisik namun juga kehilangan harta benda, sahabat bahkan keluarga. Rasa sakit menyerang dia dari ujung rambut sampai ujung kaki (2:7), bahkan orang lain sampai tidak mengenalinya, begitu buruk, mengenaskan dan menjijikkan keberadaannya. Tidak mengherankan jika ditengah keterbatasan untuk merespon penderitaannya ia merasa telah ditinggalkan oleh Tuhan yang disembahnya selama ini. Ia berfikir bahwa Allah sedang berbalik dengan berbuat jahat melalui beban penderitaan yang berat. Hal ini terjadi karena pada dasarnya ia menyadari bahwa dirinya merasa tidak bersalah namun sahabat-sahabatnya justru datang dan pergi dengan maksud melemparkan tuduhan bahwa ia mempunyai dosa yang terselubung dengan Allah (9:21; 13:18). Sampai suatu saat ia sungguh menangis dengan sedihnya seraya berkata,Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah (10:7). Dalam prolog kitab Ayub, dikisahkan bahwa ia adalah seorang pribadi yang berintegritas. Hal ini dibuktikan bukan hanya ketika ia sedang dalam situasi kondusif tetapi bahkan saat penderitaan yang nyaris mengancam nyawanya sekalipun didapati
J. Oswald Sanders, Christ Incomparable, A (Edinburgh:Marshall, Morgan and Scott, LTD, 1952), hal.28-29.
5

Doctrinal

and

Devotional

Study

ia tetap setia kepada Allah (1:1; 42:2). Ketaatan dan kesadaran akan kesetiaan dan keadilan Allahnya memungkinkan ia dapat menjalani dan menanggung segala penderitaan manusiawinya, sehingga ketika Allah berkenan memulihkan kenyataan ini tidak dimengerti sebagai hadiah semata-mata melainkan sebuah upah atau reward dari Tuhan (42:10).a
B.

Pengalaman Penderitaan Yesus Kristus dalam Keberadaan-Nya Sebagai Manusia

Charles Ohlrich, The Suffering God, Hope and Comfort for those who hurt (Illinois: InterVarsity Press, 1978) hal. 15-27.