Anda di halaman 1dari 3

Senin, 06 Juni 2005

RAGAM

Lumpuh Layuh, SGB yang Bukan Sekolah Guru


BEBERAPA puluh tahun lalu masyarakat mengenal SGB sebagai Sekolah Guru Bawah, suatu institusi pendidikan yang menyiapkan tenaga guru sekolah dasar. Sekarang masyarakat diharu-birukan SGB yang lain kependekan dari Sindrom Guillain Barre. Sindrom adalah gambaran klinis seorang penderita sakit mencakup gejala (symptom) dan tanda (sign). Gejala sebagai keluhan subyektif yang dikemukakan oleh penderitanya seperti rasa kesemutan, baal, nyeri, dll. Sedangkan tanda adalah temuan (obyektif) yang didapat dari pemeriksaan fisik. Misal suhu tubuh berupa demam, tekanan darah, kelumpuhan, dll. Gejala awal SGB dapat didominasi oleh keluhan gejala gangguan rasa (sensorik) seperti rasa kesemutan kaki atau seluruh tungkai, atau nyeri punggung yang terbatas. Pada saat awal, dapat juga telah terjadi kelumpuhan. Kelumpuhan yang timbul mendadak (akut) merupakan

lumpuh layuh (flaccid paralysis)yaitu sebuah penyakit dimana persendian tiba-tiba tidak dapat digerakkan, antara lain berciri dengan apa yang dinamakan
tanda, dipertegas dengan pemeriksaan yang mendapatkan penurunan refleks fisiologis. Refleks itu diperiksa antara lain dengan mengetok (tendo) di daerah lutut dengan palu refleks yang kalau orang normal akan timbul reaksi bergeraknya tungkai bawah pada sendi lutut ke arah depan. Penderita SGB bila diketok di tempat tersebut, tungkai melemah geraknya (hiporefleksi) atau malah tak bergerak sama sekali (arefleksi). SGB dapat mewujudkan gambaran klinis yang sangat bervariasi, setidaknya ada empat gambaran yakni : 1. Dengan tanda kelumpuhan yang mencolok, disertai adanya gangguan rasa (Acute Inflammatory Demyelinating Polyneutopathu: AIDP). 2. Tanda kelumpuhan mencolok, tidak terlalu disertai gangguan rasa (Acute Motor Axonal Neuropathy: AMAN). 3. Kelumpuhan berat, disertai gangguan rasa yang cukup berat (Acute Motor Sensory) Axonal Neuropathy: AMSAN). 4. Kelumpuhan jarang timbul, beberapa kasus disertai gangguan rasa, didapatkan kelumpuhan otot-otot bola mata dan gerak abnormal yang disebut ataksia (sindrom Fisher).

Penyakit Saraf Memang sulit untuk menegakkan diagnosis SGB bila hanya berdasarkan gambaran klinis saja. Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau infeksi yang lain, yang terjadi sebelum kelumpuhan dapat mengisyaratkan bahwa kelumpuhan itu adalah SGB. Karena SGB terjadi akibat adanya reaksi autoimun. Reaksi autoimun merupakan reaksi tubuh dalam upaya mengadang serangan (infeksi) dari luar. Tetapi ''salah alamat'' melibatkan dan mengganggu jaringan yang sehat. Pada SGB, reaksi autoimun mengakibatkan selubung serabut-serabut saraf yang disebut mielin itu mbrodoli dari ujung saraf merambat ke pangkal. Karena awal mbrodoli itu dari ujung ke pangkal, dari bawah ke atas, maka gejala klinis kelumpuhan pada SGB disebut asenderen (menaik dari bawah ke atas). Berbahaya bila kemudian kelumpuhan mengenai otot-otot pernapasan, penderita kesulitan bernapas hingga tak jarang ada penderita yang memerlukan alat bantu napas (ventilator). Karena keadaan ini SGB sering dimasukkan sebagai kegawatan dalam bidang penyakit saraf. Bermula dari adanya ISPA atau infeksi yang lain, perjalanan penyakit SGB melalui empat fase. Fase pertama fase laten yakni setelah ISPA hingga munculnya gambaran klinis (kelumpuhan atau gangguan rasa). Disusul fase progresif yakni bertambah beratnya gejala dan tanda, yang dapat berlangsung beberapa jam sampai hari, sering-sering sekitar 3-4 minggu. Kemudian fase plateau dengan gejala dan tanda tidak lagi mengalami perburukan seolaholah menetap, berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan. Dan fase ke empat adalah fase rekonvalesens, tahap penyembuhan yang dapat berlangsung hingga 12 bulan. Awal Infeksi HIfV Beberapa faktor dapat menjadi faktor presipitasi timbulnya SGB dan sekaligus menyulitkan diagnosis. Misal gangguan saraf tepi yang dikenal sebagai neuropati yang dapat diakibatkan oleh berbagai sebab, bisa karena kekurangan nutrisi termasuk kekurangan vitamin, keracunan dll. Kini muncul faktor risiko yang penting untuk timbulnya SGB yakni infeksi HIV (Human Immunodeficency Virus). SGB sering dijumpai pada fase-fase awal infeksi HIV. Untuk lebih menegakkan diagnosis SGB, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang. Antara lain pemeriksaan cairan serebrospinal, yakni cairan yang terdapat di dalam rongga otak dan ruang di antara lapisan bungkus otak. Cairan ini didapat dengan cara punksi lumbal, yakni dengan menusukkan jarum ke arah saluran tulang belakang di daerah punggung bawah. Dari hasil pemeriksaan cairan serebrospital dapat ditemukan gambaran yang mendukung diagnosis.

Pemeriksaan yang lain adalah pemeriksaan elektromiografi (EMG), yakni merekam aktivitas listrik saraf-otot (serupa rekaman listrik jantung elektrokardiografi-EKG), yang hasil rekamannya akan memberikan gambaran tertentu pada SGB. Tidak Menular Beberapa pemahaman keliru berkembang di masyarakat. Yang pertama, anggapan bahwa kelumpuhan SGB itu menular. Hal ini tidak benar. Kelumpuhan yang terjadi akibat reaksi autoimun, reaksi itu berlangsung dalam diri penderita dan bukan sesuatu yang menular. Yang menular adalah ISPA-nya, atau infeksi lain yang diderita penderita sebelum SGB. Menjadi pertanyaan mengapa seorang terkena ISPA tidak menyandang SGB, sedangkan orang yang lain terkena ISPA dan kemudian terkena SGB? Kemungkinan daya tahan tubuh yang berbeda yang menyebabkan perbedaan tersebut. Anggapan lain, tidak benar ada virus SGB. Memang ada beberapa jenis virus yang menginfeksi penderita yang kemudian menimbulkan reaksi autoimun. Di samping infeksi virus, SGB dapat terjadi juga dengan didahului oleh infeksi kuman penyakit lain misal demam tifoid, infeksi bakteri yang ada di usus halus, dan jamur. Bahkan tindakan pembedahan pun atau kehamilan dapat juga menimbulkan SGB. Sejumlah penyakit harus dipertimbangkan dan dibedakan sebagai kemungkinan SGB (diagnosis banding) yakni poliomielitis (yang sekarang sedang ''merebak''), keradangan akut sumsum tulang belakang (mielitis akut), botulistme (bakteri pencemar makanan), kelainan saraf akibat keracunan (neuropati toksik), dll. Semua itu menimbulkan tanda lumpuh layuh. Tetapi masing-masing dapat dibedakan dengan gambaran klinis dan dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang. Misal poliomielitis, gambaran klinis yang muncul adalah gangguan motork (kelumpuhan) murni, sering-sering asimetris dan tunggal (monoparesis), sedangkan SGB kelumpuhannya simetris (sisi kanan dan kiri keras). Pemeriksaan cairan serebrospinal juga berbeda hasilnya. Yang perlu dilakukan untuk terhindar dari SGB, tidak ada yang khas. Menjaga kesehatan secara umum dan kebugaran jasmani sangat berarti. Menghindari jauh lebih baik daripada mengobati. Apalagi untuk SGB, pengobatan tidak mudah dan tidak sederhana, apalagi bila kelumpuhannya berat, perlu perawatan khusus di Intensive Care Unit (ICU). Namun sekitar 85% penderita SGB akan sembuh sempurna, 10% dengan gejala sisa seperti kaki yang lemah atau ada gemetaran. Sementara angka kematian kurang dari 3 %.(Amin Husni/Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Cabang Semarang-12) Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas Budaya | Wacana | Ragam Cybernews | Berita Kemarin Copyright 1996-2004 SUARA MERDEKA