Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

FIQIH SHOLAT

Disusun Oleh:

Noor Afifah Rahmadina (2107010381)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN (UNISKA)

MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI

BANJARBARU

2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Penulis sangat
berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
pembaca. Bahkan saya berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca
praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Banjarbaru, Mei 2022

Noor Afifah Rahmadina

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................
i

DAFTAR ISI.........................................................................................................
ii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................
1

A. LATAR BELAKANG................................................................................
1

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................
2

1. Pengertian Sholat..........................................................................................
2

2. Dasar Hukum Disyari’atkannya Sholat........................................................


3

3. Rukun Sholat................................................................................................
7

4. Syarat-syarat Sholat......................................................................................
8

5. Macam-macam Sholat..................................................................................
8

BAB III PENUTUP...............................................................................................


18

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam islam sholat merupakan tiang agama, apabila dilaksanakan
mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa. Sholat hukumnya
wajib atau biasa disebut fardhu. Dalam peristiwa Israj Mi’raj Nabi
Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk melaksanakan sholat 5 waktu.
Sholat termasuk kedalam rukun islam yang ke 2 setelah seorang muslim
mengucapkan kalimat syahadat. Sholat merupakan kewajiban bagi umat
muslim dengan sholat hati kita akan tentram dan damai, mendekatkan diri
kepada Allah swt serta sholat menjadi pelajaran bagi kita bahwasanya
hanyalah Allah Swt tempat kita bersandar dan memohon pertolongan. Hal ini
juga memberi kan kepada pelajaran kita untuk benar-benar yakin kepada
Allah Swt. Sehingga setiap amal perbuatan yang kita lakukan, setiap kebaikan
yang kita berikan, hanyalah atas dasar mengharap ridho Allah Swt. Bukan
atas dasar mengharap penghargaan dan penilaian manusia.

1
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Sholat
Menurut Betty (2014 : 75) secara etimologi shalat adalah doa. Adapun
menurut terminologis shalat merupakan suatu bentuk ibadah mahdhah,
yang terdiri dari gerak (hai’ah) dan ucapan (qauliyyah), yang diawali
dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sebagai ibadah, shalat
merupakan suatu bentuk kepatuhan hamba kepada Allah SWT yang
dilakukan untuk memperoeh ridha-Nya dan diharapkan pahalanya kelak di
akhirat.
Menurut Nursyamsudi (2009:39) perkataan sholat dalam pengertian
Bahasa Arab adalah doa, memohon kebajikan dan pujian. Hal ini sesuai
dengan firman Allah SWT
“Dan mendoalah untuk mereka sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketentraman jiwa bagi mereka”. (QS. At-Taubah:103)
Adapun pengertian sholat menurut pengertiqan syariat islam yang
dirumuskan oleh para Fuqaha adalah sebagai berikut:
“Beberapa ucapan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan
takbir diakhiri dengan salam dengan maksud beribadah kepada Allah
menurut syarat-syarat yang telah ditentukan”
Menurut Rifai (2010:32) arti sholat ialah berhadap hati kepada Allah
sebagi ibadat, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang mulai
dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang
telah ditentukan syara’. Dalil yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik
dalam Alquran maupun dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Dalil ayat-
ayat Alquran yang mewajibkan sholat antara lain:
“Dan dirikanlah sholat, dan keluarkanlah zakat, dan tundukkanlah
rukuk bersama-sama orang-orang yang pada rukuk”.(S. Al
baqarah:43)
“Kerjakalah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan yang
jahat (keji) dan mungkar”.(S. Al Ankabut:45)

2
Menurut Rifai (2010:32) Perintah sholat hendaknya ditanamkan ke
dalam hati dan anak-anak dengan cara pendidikan yang cermat, dan
dilakukan sejak kecil, sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi
Muhammad SAW sebagi berikut:
“Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan sholat di waktu usia
mereka meningkat tujuh tahun, dan pukullah (kalau enggan m,elakukan
sholat) di waktu mereka meningkat usia sepuluh tahun”.(HR. Abu
Dawud)

2. Dasar Hukum Disyari’atkannya Shalat

Menurut Betty (2014 : 75) Shalat, kalimat yang sangat akrab bagi umat
Islam. Shalat bukan hanya kewajiban bagi umat Islam tetapi juga
kewajiban bagi seluruh umat manusia, demikian firman Allah di: QS. Al
Imran:39, “ Zakaria melaksanakan shalat ‘’, QS. Maryam:31, “ perintah
kepada Nabi Isa mendirikan shalat “, QS. Luqman:17, “ Luqman berkata
kepada anaknya untuk mendirikan shalat”. Allah telah menentukan cara
shalat bagi masing-masing umat dan makhluk ciptaan-Nya, Allah
berfirman : “...Allah : kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di
bumi dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing
telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya...”. QS. An Nur:41. Untuk itu
marilah kita melihat dan memutuskan perkara tentang shalat tersebut
berdasarkan petunjuk Allah di dalam Al Qur’an, sesuai perintah Nya di
QS. Al Baqarah:2 “ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya
petunjuk bagi mereka yang bertakwa “ ; dan dipertegas di dalam QS. Al
Maidah:48,

“Dan kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa


kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yang kita-kitab dan
batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain; maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu

3
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang
telah datang kepadamu...”

Firman-firman Allah yang memerintahkan umat Islam untuk


mendirikan shalat antara lain :

1. QS. Al Baqarah:2,3 “...mereka bertaqwa”. “ yaitu mereka yang


beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat ...”.
2. QS. Taha:14 “ Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada Tuhan
selain aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat aku “.
Dasar perintah shalat adalah juga dasar perintah ibadah pada umumnya,
yaitu firman Allah “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Al-Dzariyat : 56)
Rasulullah saw bersabda :
Artinya : “Allah SWT, telah mewajibkan atas umatku pada malam
isra’ lima puluh shalat. Maka saya kembali ke Hadirat Ilahi dan saya
meminta keringanan sehingga dijadikan menjadi lima kali dalam
sehari semalam”. (Muttafiqun ‘ Alaih)
Menurut Balian (2008:1-3) hukum sholat ada tujuh macam yaitu asal
fardhu sholat, awal sholat yang di fardhukan, bilangan sholat lima waktu,
pada siapa yang di wajibkan sholat, sholat orang yang mabuk dan
terganggu akalnya, gangguan atau kerusakan akal bukan maksiat, dan
sholat bagi orang yang murtad. Asal sholat fardhu menurut Imam Syafii
dalam buku Balian yang berjudul Fiqhul islam adalah bahwa
sesungguhnya Allah Swt telah berfirman dalam surat annisa ayat 103
“Sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang di tentukan waktunya
untuk orang-orang yang beriman”(QS. Annisa:103)
Menurut Balian (2008:1-3) Maksud dari fardhu yang di tentukan waktu.
Zaid bin aslam berkata lafadz mauquutan adalah menunaikanya pada
waktu yang nampak atau jelas. Dan menurut pengertian secara ahli bahasa

4
di fardhukan itu bagi waktu dengan ketentuanya, lalu dikatakan akan
waktunya ialah mauquutan . Firman Allah dal surat Al-Bayinnah ayat 5
“Allah Taala berfirman:dan mereka tidak di perintahkan kecuali
supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas beragama untuk Allah
semata”(QS. Al-Bayinnah : 5)
“Rosullulah Saw Bersabda serta jumlah asal dalam Al qur”an
menyebutkan perihal fardhu sholat, dan Rosullulah Saw di tanya
sahabat tentang islam, lalu beliau menjawab: lima sholat sehari
semalam. Kemudian sahabat bertanya lagi: apakah ada lagi atasku
yang lainya? Lalu beliau menjawab:tidak, kecuali engkau mengerjakan
yang sunat-sunat”.
Awal sholat yang di fardhukan menurut Imam Syafii dalam buku
Balian (2008:11-12) Imam Syafii berkata: aku mendengar orang-orang
yang di percayai tentang berita dan ilmunya. Yang menyebutkan: bahwa
Allah telah menurunkan fardhu pada sholat, kemudian Allah batalkan
dengan faedhu yang lain, kemudian di batalkannya yang ke dua dengan
sholat ima waktu. Imam syafii berkata: seakan-akan ia maksudkan firman
Allah Azza wajalla dalam surat Al Muzzamil ayat 1-4 yang artinya Hai
orang-orang yang meletakan pakaian, berdirilah mengerjakan sholat
malam, melainkan dari sedikit waktu sepeduanya atau kurang dari pada
sedikit. Kemudian di batalkan pad surat yang bersamaan dengan firman
Allah yang Maha agung pujianya. Sesungguhnya tuhan engkau
mengetahui, bahwa engkau mendirikan sholat kkurang dari dua pertiga
malam, seperdua malam dan sepertiga malam. Hingga pada firman Allah
Taala: bacalah Al Qur”an mana yang mudah bagimu. (QS:Al Muzzamil:
20).
“Dirikanlah sholat ketika matahari condong (tergelincirnya) sampai
gelap malam dan bacaan subuh. Sesungguhnya bacaan subuh itu di
peselisihkan, dan sebagian malam hendaklah meninggalkan tidur
sebagai tambahan untuk engkau”. (QS Al Isro:78-79)

5
Pada ayat ini mencakup lima waktu sholat yang wajib dan yang sunnah
yaitu sholat Dzuhur, sholat Azar, sholat Magrib, sholat Isya, sholat subuh
dan sholat sunat malam.
Bilangan waktu sholat menurut Imam Syafii dalam buku Balian
(2008:19) berkata: Allah Taala telah menetapkan hukum fardhu sholat
dalam kitabnya, maka selanjutnya di terangkan dan di sampaikan mellalui
lisan utusanya yaitu Nabi Muhammad Saw tentang bilangan sholat itu.
Imam syafii mengatakan sholat dzuhur ada empat rakaat, tidak di baca
dengan suara yang keras (jahar) dari sesuatu bacaan itu. Sholat azar ada
empaat rakaat, tidak di keraskan (di jaharkan) pula bacaanya. Sholat
magrib ada tiga rakaat yang bacaanya di baca dengan suara keras pada
rakaat yang pertama dan rakaat yang kedua, tetapi rakaat yang ketiga
terakhir bacaanya di baca tidak dengan suara yang keras (tsir). Sholat isya
ada empat rokaat, dikeraskan bacaanya pada dua rakaat awal, dan dua
rokaat akhir tidak keras (tidak jahar). Sholat shubuh ada dua rokaat yang
bacaanya dibaca keras pada kedua rokaatnya itu.
Pada siapa diwajibkan sholat menurut Imam Syafii dalam buku Balian
(2008:37) dalam surat Annur ayat 59 yang artinya “Dan apabila anak-
anak kamu sudah cukup umur atau dewas, hendaklah mereka itu meminta
izin masuk ketempatmu. Imam syfii berkata: sesungguhnya Allah Taala
mewajibkan untuk berjihad, maka Rosululloh SAW menjelaskan wajib
jihad pada orang sudah sempurna umurnya 15 tahun. Dalam surat Annisa
ayat 6 “Dan urusilah anak-anak yatim itu sampai mereka kawin, jika
mereka itu sudah kamu anggap dewasa, maka serahkanlah harta
mereka”. Imam syafii berkata lagi: dan apabila anak laki-laki sudah
sampai waktu bermimpi basah, dan anak perempuan sudah sampai haid,
keduanya tidak terganggu akalnya. Maka niscaya diwajibkan mengerjakan
sholat dan semua ibadah yang difardhukan, dan sekalipun anak-anak itu
kurang usianya 15 tahun dan diwajibkan pula mengerjakan sholat apabila
sudah berakal atau mengerti.

6
Sholat orang yang mabuk dan terganggu akalnya menurut Imam Syafii
dalam buku Balian (2008:44) adapun orang-orang yang mabuk hingga
akalnya rusak orang-orang tersebut tidak wajib sholat berdasarkan firman
Allah Taala QS. Annisa ayat 43 yang artinya “Janganlah kamu
menghampiri sholat ketika kamu sedang mabuk sehingga kamu
mengetahui apa yang akamu katakan itu”.
Gangguan atau kerusakan akal bukan maksiat menurut Imam Syafii
dalam buku Balian (2008:57) apabila seseorang terganggu akalnya atau
karena sakit apapun, niscaya dia tidak wajib mengerjakan sholat selama
sakit itu masih menghilangkan akalnya, ia dilarang untuk menerjakan
sholat sehingga ia berakal dan dapat mengetahui apa-apa yang telah
diucapkannya itu. Kecuali ia sembuh pada waktu sholat itu, maka ia boleh
mengerjakan pada waktu itu.“Dari Annas dari nabi SAW. Bersabda:
barang sipa yang lupa sholat, maka hendaklah ia sholat ketika ia ingat.
Tidak ada tebusannya (kifarat) kecuali sholat itu, firman Allah:
Dirikanlah sholat untuk mengingat aku” (HR. Al Bukhori)
Sholat bagi orang murtad menurut Imam Syafii dalam buku Balian
(2008:61) firman Allah dalam surat Al Anfal:38 “Katakanlah Muhaamad
bagi orang orang yang kafir itu, kalau mereka berhenti menentang
kebenaran Allah niscaya diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. Imam
syafii berkata: apabila murtad atau keluar dari islam seorang laki-laki,
kemudian masuk islam pula. Niscaya ia wajib atas menqodho semua
sholat yang ia tinggalkan dalam masa murtad, dan setiap zakat wajib
atasnya harus dibayarkannya. Dan jika hilang akalnya dalam masa
murtad karena sakit atau lainnya niscaya ia wajib menqodho sholat pada
hari-hari ilang akalnya seperti ia menqodh pada hari-hari ia berakal”.

3. Rukun Sholat
Ada 13 rukun sholat menurut Rifai (2010:33) yaitu pertama, niat,
kedua takbiratul ikram, ketiga berdiri tegak bagi yang berkuasa ketika
sholat fardhu. Boleh sambil duduk atau berbaring bagi yang sedang sakit.

7
Kekempat membaca surat Alfatihah pada tiap-tiap rokaat, kelima ruku
dengan tumakninah, keenam Itidal dengan tumakninah, ketujuh sujud dua
kali dengan tumakninah, kedelapan duduk diantara dua sujud dengan
tumakninah, kesembilan duduk tasyahud akhir denga tumakninah,
kesepuluh membaca tasyahud akhir, kesebelas membaca sholawat nabi
pada tasyahud akhir, keduabelas membaca salam yang pertama, dan yang
ketigabelas tertib.

4. Syarat-Syarat Sholat
Rifai (2010:33) berpendapat bahwa ada 8 syarat-syarat sholat yaitu
Pertama beragama islam, kedua sudah baligh dan berakal, ketiga suci dari
hadats, keempat suci seluruh anggota badan, pakaian, dan tempat, kelima
menutup aurat, laki-laki auratnya antara pusat dan lutut, sedang wanita
seluruh anggota badanya kecuali muka dan dua belah tapak tangan,
keenam masuk waktu yang telah ditentukan untuk masing-masing sholat,
ketujuh menghadap kiblat, dan kedelapan mengetahui mana yang rukun
dan mana yang sunah.
Menurut Betty (2014 : 85) Islam, baligh, berakal , suci dari hadas dan
najis, suci seluruh badan, suci pakaian, dan suci pula tempat yang
dipergunakan untuk shalat, telah masuk waktu untuk shalat wajib,
menutup aurat (aurat lelaki antara pusar sampai lutut dan aurat wanita
seluruh anggota badan kecuali muka dan kedua telapak tangan).

5. Macam-Macam Sholat
a. Sholat wajib
Menurut Betty (2014 : 77) Saat ini umat Islam mengenal ada 2 macam
shalat yaitu shalat wajib dan shalat sunnah. Sholat Wajib/ fardhu yaitu
pertama sholat fardhu’ ain, fardhu kifayah, sholat jamak, dan sholat
qashar. Sholat fardhu’ ain ialah sholat yang diwajibkan bagi setiap muslim
“sholat itu wajib dikerjakan oleh muslim/mu’min yang sudah ditentukan
waktu-waktunya“, (akan mendapat pahala dari Allah SWT bila

8
mengerjakannya, serta akan mendapatkan siksa dari Allah bila tidak
mengerjakannya).

Menurut Betty (2014 : 77) Adapun macam-macam sholat wajib/fardhu


sebagai berikut: pertama Sholat Isya’ yaitu sholat yang dikerjakan 4
(empat) raka’at dengan dua kali tasyahud dan satu kali salam. Waktu
pelaksanaannya dilakukan menjelang malam (± pukul 19:00 s/d
menjelang fajar). Kedua Shalat Subuh yaitu shalat yang dikerjakan 2 (dua)
raka’at dengan sati kali salam. Adapun waktu pelaksanaannya dilakukan
setelah fajar (± pukul 04:10). Ketiga Shalat Lohor (Dhuhur) yaitu shalat
yang dikerjakan 4 (empat) raka’at dengan dua kali tasyahud dan satu kali
salam. Adapun waktu pelaksanaannya dilakukan saat matahari tepat di atas
kepala (tegak lurus) ± pukul 12:00 siang. Keempat Shalat Ashar yaitu
shalat yang dikerjakan 4 (empat) raka’at dengan dua kali tasyahud dan satu
kali salam. Adapun waktu pelaksanaannya dilakukan setelah matahari
tergelincir (± pukul 15:15 sore atau sebatas pandangan mata). Kelima
Shalat Maghrib yaitu shalat yang dikerjakan 3 (tiga) raka’at dengan dua
kali tasyahud dan satu kali salam. Adapun waktu pelaksanaannya
dilakukan setelah matahari terbenam (± pukul 18:00). Keenam Shalat
Jum’at. Tentang shalat jum’at Allah SWT berfirman :

“Apabila disuruh untuk menunaikan shalat pada hari jum’at, maka


segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli“.
(QS. Al-Jumu’ah : 9)
Menurut Betty (2014 : 77) Shalat Jum’at, 2 raka’at dilaksanakan setiap
hari jum’at waktunya sama dengan waktu shalat dhuhur. Adapun syarat
shalat jum’at adalah: Tempat sudah tertentu (masjid), dikerjakan dengan
berjamaah, dilakukan dalam waktu dhuhur, sebelum sholat jum’at
didahulukan khotbah. Sunnah-sunnah mengikuti shalat jum’at, yaitu :
Mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian, memotong kuku dan
mencukur kumis, serta, tenang dan mendengarkan khotib membaca
khutbah. Rukun khutbah jum’at ada lima, yaitu: Membaca hamdalah,

9
membaca sholawat nabi muhammad dalam dua khutbah, berwasiat atau
berpesan “taqwa” kepada Allah SWT adalah dua khutbah, membaca ayat
Al-Quran dalam khutbah pertama, dan memohon magfiroh (ampunan)
bagi sekalian mukmin pada khutbah kedua. Syarat khutbah jum’at ada
empat, yaitu: suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian, maupun
tempat, khotib menutup aurat, isi khutbah dapat didengar oleh jama’ah,
serta antara khutbah pertama dan khutbah kedua dikerjakan berturut-turut.

Menurut Betty (2014:80) Fardhu kifayah yaitu shalat wajib yang


apabila sudah dikerjakan oleh sebagian umat islam, maka umat islam
lainnya terbebas dari kewajiban tersebut (shalat jenazah dan shalat gaib).
Ada dua sholat fardhu kifayah yaitu Shalat jenazah, dilaksanakan tanpa
ruku dan sujud, juga tanpa iqomah. Tentu saja jenazah yang di sholatin
harus islam. Apabila ada orang yang telah terbukti murtad, sehingga
menjadi kafir, maka kita tidak boleh menyolati. Dan shalat gaib (fardhu
kifayah), yakni shalat jenazah, namun tidak dihadap jenazahnya.
Maksudnya jenazahnya berada ditempat lain atau sudah dimakankan.

Menurut Betty (2014:81) shalat jama’ menurut bahasa ialah shalat yang
dikumpulkam, sedangkan menurut istilah syari’at islam ialah dua shalat
fardhu yang dikerjakan dalam satu waktu karena ada sebab-sebab tertentu.
Contohnya shalat zhuhur dan shalat ashar dikerjakan pada waktu zhuhur
atau waktu ashar. Nabi saw bersabda :

“Dari anas ia berkata : Rasulullah saw. Bila berangkat dalam


perjalanan sebelum tergelincir matahari,maka beliau menta’khirkan
shalat zhuhur ke waktu ashar, kemudian beliau berenti untuk menjama’
keduanya. Jika matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat,
maka beliau shalat zhuhur dahulu kemudian baru beliau naik
kendaraan “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Betty (2014:82) Shalat jama’ ada dua macam yaitu : Jama
taqdim, ialah menjama’ shalat dikerjakan pada waktu yang lebih awal.

10
Contoh shalat Zhuhur dan shalat Ashar dijama’ dikerjakan pada waktu
Zhuhur atau shalat Magrib dan shalat Isya’ dikerjakan pada waktu Magrib.
Dan Jama’ ta’khir, ialah menjama’ shalat dikerjakan pada waktu yang
akhir. Contoh menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu
Ashar atau menjama’ shalat Magrib dan Isya’ dikerjakan pada waktu isya’.

Menurut Betty (2014:82) sholat fardhu’ ain Shalat yang boleh dijama’
ialah shalat Zhuhur dan shalat Ashar atau shalat Magrib dan shalat Isya’.
Tidak boleh shalat Ashar dijama’ dengan shalat Magrib atau shalat Isya’
dengan shalat Subuh. Syarat Shalat Jama’ antara lain : Dalam perjalanan
(musafir). Perjalanan yang diperbolehkan seseorang menjama’ shalat ialah
perjalanan yang tidak terlarang seperti perjalanan untuk maksiat. Ada
kemungkinan perjalanan yang dibolehkan seseorang menjama’ shalat ini
perjalanan wajib seperti perjalanan haji atau perjalanan untuk mencari
rezeki, atau mungkin perjalanan sunah seperti silaturrahim. Perjalanan itu
berjarak jauh sejauh 80,64 km atau perjalanan yang memakan waktu lebih
dari sehari semalam. Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat ada atau
shalat jama’ bukan shalat qadha’. Niat menjama’ shalat pada waktu
takbiratul ihram.

Menurut Betty (2014:82) Praktik shalat jama’ Taqdim. Mula-mula


dikumandangankan adzan kemudian iqamah atau cukup iqamah saja. Jika
shalat Zhuhur dan shalat Ashar dijama’ taqdim, maka pada waktu Zhuhur
itu dikerjakan terlebih dahulu shalat Zhuhur. Setelah selesai shalat Zhuhur
kemudian disunahkan membaca iqamah dilanjutkan dengan mengerjakan
shalat Ashar. Praktik Shalat Jama’ Ta’khir: jika shalat Magrib dan shalat
Isya’ dijama’ ta’khir maka pada waktu telah diniati bahwa nanti pada
waktu Isya’ akan melaksanakan jama’ ta’khir. Setelah waktu Isya’ tiba
boleh terlebih dahulu mengerjakan shalat Magrib dan boleh mendahulukan
shalat Isya’.

11
Menurut Betty (2014 : 83) shalat qashar menurut bahasa ialah shalat
yang diringkas. Sedangkan pengertian shalat qashar menurut istilah ialah
mengerjakan shalat fardhu dengan cara meringkas yaitu shalat empat
rakaat diringkas menjadi dua rakaat. Adapun shalat yang dua rakaat atau
tiga rakaat tidak dapat diqashar. Shalat yang boleh diqashar ialah shalat
yang jumlahnya 4 rakaat, yaitu shalat Zhuhur, shalat Ashar dan shalat
Isya’. Shalat Subuh dan Magrib tidak dapat diqashar karena jumlah
rakaatnya kurang dari empat.

Menurut Betty (2014 : 83) Syarat Shalat Qashar yaitu Dalam perjalanan
(musafir). Perjalanan yang diperbolehkan seseorang menqashar shalat
ialah perjalanan yang tidak terlarang seperti perjalanan untuk maksiat. Ada
kemungkinan perjalanan yang dibolehkan seseorang menjama’ shalat ini
perjalanan wajib seperti perjalanan haji atau perjalanan untuk mencari
rezeki, atau mungkin perjalanan sunah seperti silaturrahim. Perjalanan itu
berjarak jauh sejauh 80,64 km atau perjalanan yang memakan waktu lebih
dari sehari semalam. Shalat yang boleh diqashar adalah shalat ada’ atau
shalat jama’ bukan shalat qadha’. Shalat yang boleh diqashar ialah shalat
yang jumlah rakaatnya empat rakaat. Dan niat mengqashar shalat pada
waku takbiratul ihram.

b. Sholat sunah
Menurut Betty (2014 : 85) Shalat sunah disebut juga salat an-nawafil
atau at-tatawwu’. Yang dimaksud dengan an-nawafil ialah semua
perbuatan yang tidak termaksud dalam fadhu. Disebut an-nawafil karena
amalan-amalan tersebut menjadi tambahan atas amalan-amalan fadhu.
Menurut Mazhab Hanafi, shalat an-nawafil terbagi atas dua macam, yaitu
shalat musnunah dan shalat mandudah. Shalat masnunah ialah shalat-
shalat sunah yang selalu dikerjakan Rasulullah, jarang ditinggalkan,
sehingga disebut juga dengan shalat mu’akad (dipentingkan). Shalat
manduduh adalah shalat-shalat sunah yang kadang dikerjakan oleh

12
Rasulullah, kadang-kadang juga tidal dikerjakan, sehingga disebut dengan
shalat ghairu mu’akkad (kurang dipentingkan).
Menurut Sholikin (2008:14) Sholat sunah rawatib adalah sholat yang
dikerjakan untuk mengiringi sholat fardhu lima waktu, baik sebelum
(qabliyah) maupun sesudah (badiyah). Sholat rawatib termasuk sholat
sunnah muakadah yang hamper tidak pernah ditinggalkan oleh Rosululloh
SAW kecuali jika dalam kondisi safar (dalam perjalanan jauh). Sholat
sunah rawatib berjumlah 22 rokaat.
Menurut Betty (2014 : 85) Shalat Rawatib adalah shalat sunah yang
dikerjakan menyertai shalat fardhu. Shalat sunah ini terbagi dalam shalat
mu’akad dan ghairu mu’akad. Adapun yang termaksud dalam shalat-
shalat sunah Rawatib Mu’akad adalah sebagai berikut : Dua rakaat qabla
Subuh, dua rakaat qabla Zuhur, dua rakaat ba’da Zuhur, dua rakaat ba’da
Maghrib, dan dua rakaat ba’da Isya. Sedangkan Ghairu Mu’akad yaitu
Empat rakaat sebelum dan sesudah Zuhur, empat rakaat sebelum
Ashardan empat rakaat sebelum Maghrib.

Menurut Betty (2014 : 85) Selain shalat Rawatib, ada pula shalat sunah
lainnya yang tidak berkaitan dengan shalat fardhu. Berikut adalah
beberapa shalat sunah yang umum yaitu : Shalat Khauf, Shalat yang
dilakukan pada saat-saat genting. Shalat ini dapat dilakukan kapan pun
bila kita dalam kondisi merasa takut, misal karena perang, bencana alam,
ancaman binatang buas, dikejar musuh atau orang jahat. Syariat shalat
khauf ini didasarkan pada surat AN-Nisa : 102. Shalat Dhuha, Shalat
sunah yang dikerjakan pada pagi hari, waktunya dimulai ketika matahari
tampak kurang lebih setinggi tombak dan berakhir sampai tergelincir
matahari (waktu zuhur). Jumlah rakaat shalat dhuha adalah sekurang-
kurangnya dua rakaat, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat, ada juga
yang menyatakan enam belas rakaat. Shalat Istisqa, Shalat sunah yang
bertujuan untuk meminta hujan. Biasanya dilaksanakan ketika terjadi
kemarau panjang sehingga mata air- mata air menjadi kering, tumbuh-

13
tumbuhan mati, manusia dan hewan kekurangan makanan dan air. Bila
sudah masuk dalam kondisi ini, dianjurkan pemimpin masyarakat
setempat atau ulama mengajak masyarakat untuk bertobat dan berdoa.
Shalat Khusuf, Shalat sunah yang dilakukan karena terjadi gerhana bulan.
Waktu shalat khusuf adalah sejak awal gerhana sampai akhir atau
tertutupnya bulan. Shalat Kusuf, Shalat sunah yang dilakukan karena
terjadi gerhana matahari. Waktu shalat kusuf adalah sejak awal gerhana
sampai selesai atau tertutupnya matahari. Shalat Istikharah, Shalat sunah
du rakaat yang diiringi dengan doa khusus, dikerjakan untuk memohon
petunjuk yang baik kepada Allah SWT sehubungan dengan urusan yang
masih diragukan untuk diputuskan akan dikerjakan atau tidak. Urusan
yang dimaksud bisa berupa urusan pribadi ataupun terikat dengan
kepentingan umum. Petunjuk dari Allah SWT ini biasanya akan diperoleh
melalui mimpi atau kemantapan hati untuk mengambil keputusan. Shalat
Tahajud, Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan
dilaksanakan setelah tidur terlebih dahulu, meskipun hanya sejenak,
kemudian diiringi dengan doa khusus. Shalat tahajud boleh dilakukan di
awal, tengah, atau di akhir malam, asalkan sesudah tidur, namun
melakukannya pada sepertiga malam yang terakhir adalah lebih baik,
karena pada saat itu terdapat waktu doa para hamba dikabulkan oleh Allah
SWT. Shalat Gaib, Shalat yang dilakukan atas seseorang yang meninggal
dunia di suatu tempat atau negeri, baik jauh ataupun dekat dari tempat
orang yang melaksanakan shalat, dan mayatnya tidak ada di tempat
(dihadapan) orang-orang yang menshalatkan. Shalat Hajat, Shalat sunah
dua rakaat yang dikerjakan seseorang yang mempunyai hajat (keperluan)
agar keperluan tersebut dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT.

Menurut Betty (2014 : 85) selain sholat sunah diatas ada juga Shalat
Tahyatul Masjid, Shalat yang dilakukan sebagai penghormatn terhadap
masjid, dilakukan oleh orang yang masuk ke dalam mesjid sebelum ia
duduk. Shalat Idain, Shalat yang dilakukan pada saat dua hari raya, yaitu

14
Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Fitri dilaksanakan berkaitan dengan
selesainya bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 1 syawal. Idul Adha
dilaksanakan bertepatan dengan selesainya pelaksanaan ibadah haji, yaitu
tanggal 10 Zulhijjah, yang biasanya sesusai shalat dilanjutkan dengan
penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu. Shalat Tarawih, Shalat
sunah yang dikerjakan umat islam setiap malam selama bulan Ramadhan.
Ada beberapa pendapat mengenai jumlah rakaat shalat terawih, yang
pertama ada 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat, kemudian 4 rakaat lagi, dan
ditutup dengan 3 rakaat shalat witir. Lalu ada pula yang menyatakan 8
rakaat salam kemudian witir 3 rakaat. Pendapat lain menyatakan 20 rakaat
ditambah 3 rakaat witir, sehingga seluruhnya adalah 23 rakaat. Shalat
Witir, Witir berarti ganjil. Sehingga witir adalah nama bagi shalat yang
rakaatnya ganjil (selain shalat maghrib), yaitu shalat 1 rakaat, 3 rakaat, 5
rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat, atau 11 rakaat yang bersambungan dan hanya
satu kali salam. Waktu pelaksanaanya adalah malam hari, sesudah shalat
Isya samapai terbit fajar. Yang paling baik, witir dijadikan sebagai shalat
yang paling akhir dikerjakan pada malam hari. Bila seseorang khawatir
tidak bangun pada waktu menjelang terbit fajar, ia boleh mengerjakan
shalat witir segera shalat fardu dan sesudah Isya. Shalat Taubat, Shalat
unuk menyatakan bahwa kita bertaubat dari suatu dosa, artinya menyesal
atas perbuatan yang dilakukan, dan bertekad kelak tidak akan
melakukannya lagi, disertai permohonan ampun kepada Allah. Shalat
Tasbih, Shalat sunah empat rakaat yang setiap rakaatnya membaca tasbih
sebanyak 75 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 300 kali. Rincian jumlah
tasbih untuk setiap rakaat adalah sebagai berikut: 15 kali sesudah
membaca surat dan sebelum rukuk, 10 kali sesudah membaca tasbih rukuk
dan sebelum i’tidal, 10 kali setelah membaca tahmid i’tidal, 10 kali
setelah mebaca tasbih sujud, 10 kali setelah membaca doa duduk diantara
dua sujud, 10 kali setelah membaca tasbih sujud kedua, dan 10 kali
setelah duduk istirajat sesudah sujud kedua. Rasulullah SAW bersabda:

15
“Bagi orang yang mengerjakan shalat mendaoatkan tiga macam
(kebaikan), yaitu: malaikat mengerumuninya sejak dari telapak kaki
sampai ke atas langit, kebaikan turun kepadanya dari atas langit
sampai atas kepalanya, dan malaikat berseru “seandainya orang yang
sedang sholat ini mengetahui dengan siapa ia berbicara, niscaya ia
akan mau berhenti (dari shalatnya)”. Dari Ka’ab Al Ahbar ra,
Bahwasanya ia berkata : “seamdainya salah seorang diantara kamu
sekalian bisa melihat pahala dua rakaat dari shalat sunah, niscaya ia
akan melihat bahwa pahalanya itu lebih besar daripada gunung yang
menjulang tinggi. Sedangkan pahala shalat wajib maka jauh lebih
besar lagi”.

Dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah 20 rakaat antara


maghrib dan isya maka allah memelihara keluarga, agama, dunia, dan
akhiratnya. Dan barang siapa yang mengerjakan shalat subuh lalu ia
duduk ditempat shalatnya sampai matahari terbit, kemudian ia
mengerjakan shalat dua rakaat, maka Allah membuatkan dinding
(penghalang) baginya dari api neraka nanti pada hari kiamat”.

Zaid bin Aslam meriwayatkan dari Umar ra. Dimana ia berkata: “saya
berkata kepada Abu Dzarr ra. “Nasehatilah saya wahai paman”. Abu Dzarr
berkata: saya telah meminta kepada Rasulullah SAW seperti apa yang
kamu minta kepada saya, lalu beliau bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat dhuha 2 raka’at, maka ia
dicatat termaksud orang-orang yang lupa. Barangsiapa yang
mengerjakannya 4 raka’at, maka pada hari itu tidak akan terkena dosa.
Barangsiapa yang mengerjakannya 8 raka’at, maka ia dicatat
termaksud orang-orang yang sangat telat. Dan barangsiapa yang
mengerjakan 12 raka’at, maka dibangunkan sebuah rumah baginya
didalam syurga “.

16
Ada yang mengatakan bahwa keutamaan shalat sunnah diwaktu
malam atas shalat diwaktu siang adalah seperti keutamaan shadaqah secara
sembunyi-sembunyi atas shadaqah secara terang-terangan. Dari Anas nin
Malik ra. Dari Nabi SAW beliau bersabda
“Tidak ada suatu tempat yang dipergunakan untuk shalat dan berdzikir
kepada Allah, melainkan tempat itu akan merasa gembira dengan yang
demikian itu sampai kedasar bumi yang ketujuh, lalu ia berbangga
kepada tempat yang berada ditengah hutan yang bermaksud untuk
mengerjakan shalat, melainkan bumi akan berhias untukknya”.

17
BAB III
PENUTUP
Islam itu karomah, dan Rahmatan Lil Alamin sebagai penyempurna
agama-agama terdahulu. Penerang dan petujuk bagi umat muslim di seluruh
dunia. Dalam islam terdapat tiga pondasi keislaman yaitu iman, islam, dan
ihsan Seseorang dikatakan beriman apabila memenuhi hak dan kewajiban
dalam menjalakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu
kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim adalah melaksanakan ibadah
sholat. Sholat perlu ditanamkan dalam hati, jiwa, dan pikiran kita sejak dini
mulai dari anak-anak usia belia. Penerapan ini dianjurkan agar sholat tidak
hanya dijadikan suatu kewajiban saja tetapi sebagi suatu kebutuhan kita lahir
dan batin. Dengan begitu tidak akan ada rasa keterpaksaan dalam menjalakan
ibadah sholat. Sholat harus niat ikhlas karena Allah SWT bukan niat karena
suatu hal selain Allah. Amalan yang akan dihisab pertama kali setelah
seorang manusia meninggal dunia adalah amalan sholat. Maka, perlunya
melaksanakan sholat sesuai tuntunan dan pedoman kita Alquran dan hadits.

18
DAFTAR PUSTAKA

Balian. 2008. Fiqhul Islam. Palembang:CV. Putra Penuntun

Betty, 2014. Fiqih (Cara Mudah Memahami fiqih secara Praktis dan Cepat).
Jakarta: Noer Fikri Ofsett

Nursyamsudin. 2009. Fiqih. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama


RI

Rifai, Moh. 2010. Risalah Tuntunan Sholat Lengkap. Semarang:PT. Karya Toha
Putra

Sholikin, Muhammad. 2013. Panduan Sholat Sunah Terlengkap. Jakarta:


Erlangga

19