Anda di halaman 1dari 28

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN

A. Teori Dan Konsep Terkait 1. Konsep Oksigen Hiperbarik a. Sejarah Hiperbarik Terapi oksigen hiperbarik diperkenalkan pertama kali oleh Behnke pada tahun 1930. Saat itu terapi oksigen hiperbarik hanya diberikan kepada para penyelam untuk menghilangkan gejala penyakit dekompresi (Caissons disease) yang timbul akibat perubahan tekanan udara saat menyelam, sehingga fasilitas terapi tersebut sebagian besar hanya dimiliki oleh beberapa rumah sakit TNI AL dan rumah sakit yang berhubungan dengan pertambangan (Oktaria, 2008). Terapi hiperbarik mungkin baru segelintir orang yang mengenalnya. Di Indonesia sendiri, terapi oksigen hiperbarik pertama kali dimanfaatkan pada tahun 1960 oleh Lakesla yang bekerjasama dengan RSAL Dr. Ramelan, Surabaya. Hingga saat ini fasilitas tersebut merupakan yang terbesar di Indonesia. Adapun beberapa rumah sakit lain yang memiliki fasilitas terapi oksigen hiperbarik adalah: (RS PT Arun Aceh, RSAL Dr Midiyatos, Tanjung Pinang, RSAL Dr Mintohardjo Jakarta, RS Pertamina Cilacap, RS Panti Waluyo Solo, Lakesla TNI AL Surabaya, RSU Sanglah Denpasar, RS

9 Pertamina Balikpapan, RS Gunung Wenang Manado, RSU Makasar, RSAL Halong Ambon, RS Petromer Sorong) (Oktaria, 2008). Dasar dari terapi hiperbarik sedikit banyak mengandung prinsip fisika. Teori Toricelli yang mendasari terapi digunakan untuk menentukan tekanan udara 1 atm adalah 760 mmHg. Dalam tekanan udara tersebut komposisi unsur-unsur udara yang terkandung di dalamnya mengandung Nitrogen (N2) 79 % dan Oksigen (O2) 21%. Dalam pernafasan kita pun demikian. Pada terapi hiperbarik oksigen ruangan yang disediakan mengandung Oksigen (O2) 100%. Terapi hiperbarik juga berdasarkan teori fisika dasar dari hukum-hukum Dalton, Boyle, Charles dan Henry. Sedangkan prinsip yang dianut secara fisiologis adalah bahwa tidak adanya O2 pada tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua organisme. Oksigen yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan diffusi. Dengan kondisi tekanan oksigen yang tinggi, diharapkan matriks seluler yang menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan kondisi yang optimal (Chan, 2008). Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dimana pasien dalam suatu ruangan menghisap oksigen tekanan tinggi (100%) atau pada tekanan barometer tinggi (hyperbaric chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT bertekanan udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami oleh

10 seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) yang dirancang baik untuk kasus penyelaman maupun pengobatan penyakit klinis. Individu yang mendapat pengobatan HBOT adalah suatu keadaan individu yang berada di dalam ruangan bertekanan tinggi (>1 ATA) dan bernafas dengan oksigen 100%. Tekanan atmosfer pada permukaan air laut sebesar 1 atm. Setiap penurunan kedalaman 33 kaki, tekanan akan naik 1 atm. Seorang ahli terapi hiperbarik, Laksma Dr. dr. M. Guritno S, SMHS, DEA yang telah mendalami ilmu oksigen hiperbarik di Perancis selama 5 tahun menjelaskan bahwa terdapat dua jenis dari terapi hiperbarik, efek mekanik dan fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma. Bahkan, kian populernya khasiat dan manfaat terapi ini, pemakaiannya telah semakin meluas sebagai terapi kebugaran tubuh serta untuk kecantikan sebagai terapi yang bertujuan memberikan efek tampil awet muda (Prameswari, 2009).

b. Pengertian Oksigen adalah suatu gas yang merupakan unsur vital dalam proses metabolisme seluruh sel tubuh. Adanya kekurangan oksigen dapat menyebabkan kematian jaringan dan mengancam kehidupan seseorang. Tetapi tidak banyak orang yang tahu, selain dalam proses pernafasan dan metabolisme, oksigan juga memiliki peran dalam pembentukan kolagen dan

11 perbaikan jaringan sehingga pemberian oksigen yang dapat membantu dalam proses penyembuhan luka maupun dalam proses anti penuaan (Asali, 2010). Secara umum, terapi oksigen hiperbarik (HBOT = Hyperbaric oxygen therapy) merupakan suatu metoda pengobatan dimana pasien diberikan pernapasan oksigen murni (100%) pada tekanan udara yang dua hingga tiga kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal, yaitu 1 atm (760 mmHg). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau berada dalam ruangan udara bertekanan tinggi (hyperbaric chamber) yaitu suatu ruang kedap udara terbuat dari perangkat keras yang mampu diberikan tekanan lebih besar dari 1 atm (ruang kompresi) beserta sumber oksigen dan sistem penyalurannya ke dalam ruang rekompresi tersebut. Dalam kondisi normal, oksigen dibawa oleh sel darah merah keseluruh tubuh. Tekanan udara yang tinggi, akan menyebabkan jumlah oksigen yang dibawa oleh sel darah merah meningkat hingga 400%.Terapi ini merupakan terapi komplementer yang dilakukan bersama dengan terapi medis konvensional (Asali, 2010). Sebagaimana disebutkan diatas, dalam kondisi tertentu para prajurit matra kelautan rentan akan paparan masalah kesehatan kelautan. Kondisi tubuh mereka dituntut akrab kepada kondisi bertekanan tinggi jauh dibawah permukaan laut pada saat melakukan penyelaman (Asali, 2010).

c. Tipe Hyperbaric Chambers

12 Terapi oksigen hiperbarik dilakukan pada suatu ruang hiperbarik (Hyperbaric chambers) yang dibedakan menjadi lima bagian dan masingmasing memiliki keuntungan dan keruguan tersendiri (Sutarno, adi Riyono, dkk). yaitu : 1) Monoplace Chamber Monoplace chamber sering digunakan. Biasanya tidak lebih dari 3 ATA. Pasien dapat dipindahkan kedalam chamber dan chamber diisi dengan oksigen sesuai tekanan. Ada dua type dari mekanisme oksigen (Hart & Kindwall, 1977). a) Membersihkan terus menerus: tipe ini mempunyai ukuran aliran oksigen tertentu melalui chamber dan keluar lagi ke lingkungan luar. b) Siklus berulang: Tipe ini mengulang seluruh atau sebagian gas yang digunakan lagi setelah dibersihkan dan membuang CO2 dan menyerap uap air, komunikasi dengan pasien melalui intelkom.

Keuntungan dari Monoplace chamber : Penanganan pasien individu: privat dan pada kasus infeksi, isolasi. Baik untuk perawatan intensif: tidak memindahkan atau menganggu kebutuhan pengobatan, pasien dapat tinggal dalam chamber. Masker muka tidak dibutuhkan, tidak ada bahaya kebocoran oksigen, nyaman.

13 Ideal untuk membatasi perawatan pasien dalam masa akut dari penyakitnya atau luka-luka, kelumpuhan. Mudah untuk mengobservasi pasien. Tidak ada spesial dekompresi prosedur dibutuhkan. Segi ekonomi dan biaya, dapat mudah dioperasikan dan ditempatkan dimana saja di rumah sakit. Membutuhkan sedikit tenaga operator.

Kerugian dari monoplace chamber Sangat mudah terbakar dalam lingkungan oksigen Hubungan langsung dengan pasien terbatas, kecuali pada chamber yang mempunyai ruangan tambahan di sisinya. Terapi fisik tidak nyaman karena keterbatasan tempat. Sangat sulit untuk menetapkan pengereman udara untuk pasien dengan penyakit dekompresi, jika tidak pasien sadar, kooperatif, dan dapat memasang masker sendiri.

Gambaran ideal untuk merawat pasien yang tidak membutuhkan orang kesehatan didalam chamber. Umumnya kebutuhan utama fungsi tubuh dapat dimonitor. Selain itu, setiap pernafasan dapat dimonitor dari luar chamber.

14 2) Multyplace chamber Multyplace chamber (Lubzsch,1986) digunakan untuk pengobatan bersama beberapa pasien. Chamber ditekan dengan udara dan bernafas melalui masker yang menutup mulut dan hidung. Chamber yang modern adalah dilengkapi alat pengatur suplay O2 dan komposisi gas dalam chamber di awasi dan di koreksi, khususnya kadar O2 dan CO2. Atmosfer adalah udara biasa untuk kelembaban seperti halnya temperatur.

Keuntungan multyplace chamber adalah: Memberi terapi OHB (oksigen hiperbarik) dalam jumlah banyak. Setiap pengobatan dibutuhkan kehadiran dokter dan dapat dilengkapi instruktur medis klinik. Bahaya kebakaran kurang. Terapi fisik dapat dilakukan dalam chamber. Tekanan dapat dinaikan sampai 6 ATA untuk situasi khusus, seperti dalam emboli udara dan penyakit dekomprasi.

Prosedur bedah minor dapat dikerjakan di multiplace hiperbarik chamber, tetapi bedah mayor seperti operasi jantung, dibutuhkan design chamber specifik (Frichs et al,1977).

15 3) Mobile multiplace hiperbarik chamber

Ruang hiperbarik mobil yang pertama dibuat dalam bentuk menyerupai sebuah tangki di Japan, ternyata tidak lama digunakan, sekarang chamber semacam itu sudah tersedia dibeberapa tempat diseluruh dunia.

Keuntungan mobile chamber Bergerak kemana saja yang dibutuhkan, dapat berfungsi seketika bahkan ditempat parkir sebuah rumah sakit. Aman dan nyaman Ideal untuk penggunaan klinik dan penelitian sangat cocok untuk mendukung oprasional militer. Dapat diperankan sebagai rumah sakit dimedan tempur. Dapat juga diangkut melalui udara dan laut.

4)

Chamber untuk testing dan latihan penyelam

Chamber penyelaman digunakan untuk mengetest penyelam dimana diruangan tersebut disimulasikan kedalaman penyelaman.

5)

Small hiperbarik chamber

Teske & Huedenpohl (1979) menjelaskan pengunaan chamber kecil untuk percobaan radiasi pada tikus dibawah tekanan.

16

d. Mekanisme Pengobatan Hiperbarik Hiperbarik oksigen terapi (HBOT) memiliki mekanisme dengan memodulasi nitrit okside (NO) pada sel endotel. Pada sel endotel ini HBOT juga meningkatkan intermediet vaskuler endotel growth factor (VEGF). Melalui siklus Krebs terjadi peningkatan NADH yang memicu peningkatan fibroblast. Fibroblast yang diperlukan untuk sintesis proteoglikan dan bersama dengan VEGF akan memacu kolagen sintesis pada proses remodeling, salah satu tahapan dalam penyembuhan luka (Chan, 2008). Oksigen hiperbarik adalah suatu cara pengobatan dimana pasien menghirup oksigen murni (100%) pada tekanan udara lebih besar dari pada tekanan udara atmosfer normal. Pengobatan oksigen hiperbarik ini, berpengaruh pada pengiriman oksigen secara sistemik dimana terjadi peningkatan 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada atmosfir biasa. Mekanisme di atas berhubungan dengan salah satu manfaat utama HBOT yaitu untuk wound healing. Pada bagian luka terdapat bagian tubuh yang mengalami edema dan infeksi. Di bagian edema ini terdapat radikal bebas dalam jumlah yang besar. Daerah edema ini mengalami kondisi hipooksigen karena hipoperfusi. Peningkatan fibroblast sebagaimana telah disinggung sebelumnya akan mendorong terjadinya vasodilatasi pada daerah edema tersebut. Jadilah kondisi daerah luka tersebut menjadi hipervaskular, hiperseluler dan hiperoksia. Dengan pemaparan oksigen tekanan tinggi, terjadi peningkatan IFN-, i-NOS dan VEGF. IFN- menyebabkan TH-1 meningkat yang berpengaruh pada B-cell sehingga terjadi pengingkatan

17 Ig-G. Dengan meningkatnya Ig-G, efek fagositosis leukosit juga akan meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada luka, HBOT berfungsi menurunkan infeksi dan edema.. Adapun cara HBOT pada prinsipnya adalah diawali dengan pemberianO2 100%, tekanan 2 3 Atm . Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan pengobatan decompresion sickness. Maka akan terjadi kerusakan jaringan, penyembuhan luka, hipoksia sekitar luka. Kondisi ini akan memicu meningkatnya fibroblast, sintesa kolagen, rasio RNA/DNA, peningkatan leukosit killing, serta angiogenesis yang menyebabkan neovaskularisasi jaringan luka. Kemudian akan terjadi peningkatan dan perbaikan aliran darah mikrovaskular. Densitas kapiler meningkat sehingga daerah yang mengalami iskemia akan mengalami reperfusi. Sebagai respon, akan terjadi peningkatan NO hingga 4 5 kali dengan diiringi pemberian oksigen hiperbarik 2-3 ATA selama 2 jam. Hasilnya pun cukup memuaskan, yaitu penyembuhan jaringan luka. Terapi ini paling banyak dilakukan pada pasien dengan diabetes mellitus dimana memiliki luka yang sukar sembuh karena buruknya perfusi perifer dan oksigenasi jaringan di distal. Sebelum menjalani terapi, mekanisme yang paling utama adalah sebelum terapi pasien harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu, antaranya:

1)

Menyebutkan atau mengisi riwayat kesehatan pasien. Hal ini

penting dilakukan untuk menghindari terjadinya kontraindikasi dan komplikasi.

18 2) Melakukan pemeriksaan foto toraks (rontgen). Tujuannya untuk mendeteksi apakah jantung dan paru-paru dalam kondisi baik atau sebaliknya. Jika ternyata mengalami tuberkolosis, misalnya

konsultasikan pada ahli paru agar diobati. Bila perlu pasien dianjurkan membeli masker sendiri untuk menghindari penularan penyakit itu pada orang lain. Intinya pemeriksaan ini bertujuan mengetahui secara persis kondisi keseluruhan si pasien dan untuk mencari faktor penyebab penyakit. Sekali lagi, upaya tersebut dilakukan semata-mata untuk menghindari kemungkinan efek samping yang terjadi (Prameswari, 2009).

e. Manfaat Oksigen Hiperbarik Beberapa mekanisme berikut menerangkan manfaat uang diperoleh berkaitan dengan pemberian oksigen hiperbarik secara berkala. Baik sebagai prosedur pengobatan tunggal ataupun biasanya lebih sering berupa pengobatan dengan prosedur medis atau bedah lainnya. Bila terapi dapat terlaksana, akan diperoleh beberapa manfaat yang secara sederhana dapat di simpulkan (Oktaria, 2008). 1) Meningkatkan konsentrasi oksigen pada seluruh jaringan tubuh, bahkan pada aliran darah yang berkurang 2) Merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru untuk meningkatkan aliran darah pada sirkulasi yang berkurang

19 3) Mampu membunuh bakteri, terutama bakteri anaerob seperti Closteridium perfingens (penyebab penyakit gas gangren) 4) Mampu menghentikan aktivitas bakteri (bakteriostatik) antara lain bakteri E. coli dan Pseudomonas sp. yang umumnya ditemukan pada luka-luka mengganas. 5) Mampu menghambat produksi racun alfa toksin. 6) Meningkatkan viabilitas sel atau kemampuan sel untuk bertahan hidup. 7) Menurunkan waktu paruh karboksihemoglobin dari 5 jam menjadi 20 menit pada penyakit keracunan gas CO 8) Dapat mempercepat proses penyembuhan pada pengobatan medis konvensional 9) Meningkatkan produksi antioksidan tubuh tertentu 10) Memperbaiki fungsi ereksi pada pria penderita diabetes (laporan para ahli hiperbarik di Amerika Serikat pada tahun 1960) 11) Meningkatkan sensitivitas sel terhadap radiasi 12) Menahan proses penuaan dengan cara pembentukan kolagen yang menjaga elastisitas kulit 13) Badan menjadi lebih segar, badan tidak mudah lelah, gairah hidup meningkat, tidur lebih enak dan pulas Dengan berbagai mekanisme tersebut, terapi hiperbarik dapat digunakan sebagai terapi kondisi akut hingga penyakit degeneratif kronis seperti arteriosklerosis, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, ulkus diabetik,

20 serebral palsy, trauma otak, sklerosis multiple, dan sebagainya (Oktaria, 2008).

2. Kepuasan a. Definisi Kepuasan Kepuasan adalah tingkat keadaan yang dapat dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang (Djoko wijono 1999). Pasien baru akan merasa puas apabila kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya sama atau melebihi harapannya dan sebaliknya, ketidakpuasan atau perasaan kecewa pasien akan muncul apabila kinerja layanan kesehatan yang di perolehnya itu tidak sesuai dengan harapannya (Pohan,2006). Pohan, (2006) Berdasarkan apa yang disebutkan diatas, pengertian kepuasan pasien dapat dijabarkan sebagai berikut. Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkanya, Menurut maslow dalam Nursalam (2005), terdapat 5 hirarki kebutuhan yaitu : kebutuhan fisiologis (fisiological need), yang merupakan kebutuhan pokok utama, kebutuhan akan rasa aman dan nyaman (safety need), kebutuhan mencintai dan dicintai (love and belonging), kebutuhan akan harga diri (esteem need), kebutuhan aktalisasi diri (self actualization need). Tingkat kebutuhan tersebut antara satu dengan yang lainnya tidak

21 dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan, meskipun kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan hidup manusia yang dominan. Bila kebutuhan klien terpenuhi maka klien akan puas dan kepuasan klien akan mencerminkan suatu pelayanan yang diberikan (Supranto, 2003). Tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan (pelayanan) yang dirasakan dari harapan. Ada tiga tingkat kepuasan yang diuraikan sebagai berikut: a) bila penampilan (pelayanan) kurang dari harapan, pelangan (klien) tidak dipuaskan, b) bila panampilan (pelayanan) sebanding dengan apa yang diharapkan, pelangan (klien) puas, dan c) apabila penampilan (pelayanan) melebihi harapan, pelangan atau klien amat puas atau senang. Dengan demikian harapan klien adalah terpenuhnya kebutuhan (Wijono, 1999).

b.

Komponen kepuasan pasien Bertolak dari pengertian kepuasan pasien yang dijelaskan di atas, ada

dua komponen yang akan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien berdasarkan konsep harapan - kinerja (Pohan , 2006). 1) Komponen harapan pasien Suatu organisasi layanan kesehatan mungkin belum menerapkan jaminan mutu layanan kesehatan sehingga tingkat kepuasan pasien tidak pernah diukur. Dengan demikian, organisasi layanan kesehatan tidak

mengetahui apa yang diharapkan pasien. Dengan adanya komunikasi yang baik antara penyelengara layanan kesehatan dengan pasien. Komunikasi yang iklas, tulus, dan penuh perhatian merupakan metode

22 yang sangat efektif untuk mewujudkan suasana yang saling

mempercayai, salaing menghargai, dan saling menghormati. Suasana yang kondusif untuk memodifikasi atau mengubah harapan pasien yang telah lama terbentuk. Suasana yang demikian akan mendorong pasien untuk menerima tingkat mutu layanan kesehatan yang diselengarakan dengan penuh pengertian sehingga kekecewaan pasien tidak timbul atau dapat dihindarkan (Pohan, 2006).

2) Komponen kinerja layanan kesehatan Setiap orang mempunyai standar pribadinya masing-masing, suatu standar yang tidak resmi dan tidak terulis. Pasien akan mengukur kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya dengan menggunakan standar pribadinya, yaitu standar yang tidak resmi tersebut. Bagaimana tingkat kinerja layanan kesehatan yang dihasilkan oleh organisasi layanan kesehatan tersebut dapat meningkatkan harapan pasien. Kemungkinan lain, petugas kesehatan tidak atau kurang mematuhi standar layanan kesehatan yang telah ditetapkan sehingga kinerja layanan kesehatan tidak seperti yang diharapkan (Pohan, 2006).

c. Aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien Seperti yang kita ketahui, pasien Rumah Sakit umumnya dapat dibagikan menjadi dua kategori Yaitu : pasien rawat inap dan pasien rawat jalan. Dengan demikian, aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien rawat inap tentunya berbeda dengan pasien rawat jalan.

23 Menurut Pohan (2006), Ada beberapa Aspek yang mungkin dapat mempengaruhi kepuasan pasien rawat jalan di rumah sakit, antara lain: 1) Penampilan gedung rumah sakit meyakinkan dan menarik. 2) Lingkungan rumah sakit bersih, nyaman dan teratur. 3) Pertamanan rumah sakit indah dan terpelihara dengan baik. 4) Perparkiran rumah sakit teratur dan aman. 5) Petunjuk arah atau nama ruangan yang jelas dalam lingkungan rumah sakit. 6) Penampilan dokter/perawat/petugas lain rapi dan bersih, bersikap mau menolong. 7) Kantor rekam medik buka tepat waktu. 8) Petugas rekam medik melayani dengan sopan, ramah dan tanggap 9) Pencarian/pengambilan rekam medik cepat dan tepat. 10) Jumlah kursi untuk pasien yang menunggu rekam medik memadai 11) Poliklinik buka tepat waktu. 12) Giliran pemeriksaan oleh dokter tepat waktu. 13) Kursi untuk pasien yang menunggu giliran panggilan dokter tersedia dengan cukup. 14) Dilayani oleh dokter yang sama bagi pasien ulangan. 15) Dokter menyapa dengan sopan, ramah dan ingin membantu. 16) Dokter mendengar keluhan dengan penuh perhatian dan ingin menolong. 17) Dokter melakukan pemeriksaan dengan teliti dan menyeluruh.

24 18) Dokter memberikan informasi tentang penyakit dan obat yang akan diberikan. 19) Dokter memberikan kesempatan bertanya. 20) Dokter memberikan informasi yang dimengerti dan lengkap tentang penyakit. 21) Kamar pemeriksaan dokter bersih, rapi dan nyaman. 22) Privasi selama berkonsultasi cukup terjamin. 23) Perawat yang bertugas selalu membantu dan hadir dalam kamar periksa selama dokter melakukan pemeriksaan. 24) Konsultasi labolatorium/radiologi tidak berbelit-belit dan dilakukan dengan tepat waktu. 25) Petugas laboratorium/radiologi melayani dengan ramah dan sopan serta tanggap. 26) Kursi pasien untuk menunggu hasil labolatorium/radiologi cukup tersedia. 27) Obat kebutuhan pasien selalu tersedia di apotek Rumah Sakit. 28) Pengambilan obat pada apotek rumah sakit tepat waktu. 29) Layanan petugas apotek sopan, ramah dan tanggap. 30) Kursi untuk pasien yang menunggu obat diapotek cukup tersedia. 31) Harga obat apotek Rumah Sakit terjangkau daya beli. 32) Petugas apotek memberikan informasi yang jelas tentang cara minum dan penyimpanan obat.

25 33) Mendapat informasi yang menyeluruh, artinya mendapat informasi tentang nama penyakit, bagaimana merawatnya di rumah, dan informasi tanda-tanda bahaya untuk segera membawanya kembali berobat.

Sementara itu, aspek-aspek yang mungkin mempengaruhi kepuasan pasien rawat inap Rumah Sakit, antara lain: 1) Petugas kantor penerimaan pasien rawat inap melayani dengan

sopan, ramah dan tanggap. 2) 3) Petugas melayani dengan cepat, tepat, tidak berbelit-belit. Kursi untuk pasien dan keluarga yang sedang menunggu giliran

layanan tersedia dengan cukup. 4) Kursi roda/troli tersedia pada kantor penerimaan untuk membawa

pasien keinstalasi rawat inap. 5) Perawat instalasi rawat inap melayani dengan sopan, ramah dan

tanggap. 6) pakai. 7) Parawat menolong/mengangkat pasien dari kursi roda/troli ke Tempat tidur telah disiapkan dalam keadaan rapi, bersih dan siap

tempat tidur. 8) Perawat segera menghubungi dokter menanyakan tentang obat

dan janis makanan pasien. 9) 10) Instalasi rawat inap tertata dengan rapi, bersih dan nyaman. Kelengkapan dan kebersihan peralatan yang dipakai.

26 11) Perawat memberi informasi tentang peraturan, waktu makan, jenis

makanan, waktu tidur, kunjungan dokter, penyimpanan barang berharga, jam bertamu, dan lain-lain. 12) 13) Perawat memberikan kesempatan bertanya. Penampilan perawat yang bertugas rapi dan bersih serta bersikap

mau menolong. 14) 15) 16) Perawat memperhatikan kebutuhan dan keluhan setiap pasien. Perawat memperhatikan keluhan keluarga pasien. Perawat berupaya menjaga privasi pasien selama berada dalam

instalasi rawat inap. 17) obat. 18) Perawat menanyakan tentang kecukupan dan rasa makanan pasien Perawat selalu memberi obat pasien sesuai prosedur pemberian

serta makanan yang menjadi kesukaan/tidak disukai pasien dan berupaya memenuhinya jika memungkinkan dengan penyakit pasien. 19) Dokter mengunjungi instalasi rawat inap dua kali sehari dan

berkomunikasi dengan pasien dan perawat. 20) Perawat melaporkan segala detail perubahan pasien kepada dokter

sewaktu melakukan kunjungan. 21) Dokter selalu menanyakan perubahan keluhan pasien dan

melakukan pemeriksaan dan jika perlu menganti obet pasien. 22) 23) Jika perlu dokter mengkonsultasikan pasien kepada dokter lain. Dokter memberikan kesempatan bertanya kepada pasien.

27 24) Perawat menginformasikan persiapan yang harus dilakukan oleh

pasien sebelum dibawa berkonsultasi dengan dokter lain. 25) Dokter jaga tersedia selama 24 jam dan dokter yang menangani

pasien selalu on call?.

3.

Pelayanan Keperawatan Pada hakekatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat profesi,

yang berorientasi pada pelayanan, memiliki empat tingkat klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) serta pelayanan yang mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Hidayat, 2004). Dalam mengertikan istilah profesi, terdapat beberapa pendapat yang mempunyai pandangan terhadap pengertian profesi itu sendiri, diantaranya Schein EH (1962) yang memandang bahwa profesi merupakan sekumpulan pekerjaan yang membangun suatu norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya di masyarakat. Huges EC (1963), mengertikan profesi adalah mengetahui yang lebih baik tentang sesuatu hal dari orang lain serta mengetahui lebih baik dari kliennya tentang yang terjadi pada kliennya. Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (Hidayat, 2004).

28 Kepuasan klien adalah indicator pertama dari mutu pelayanan suatu rumah sakit, bila kebutuhan klien terpenuhi maka klien akan puas dan kepuasan klien akan mencerminkan kualitas pelayanan yang diberikan. CHS, (1989), dalam Hidayat (2004), mengemukakan bahwa peran dan fungsi perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam system, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan social baik dari profesi perawat maupun dari luar profesi keperawatan yang bersifat konstan. Peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun (1989), terdiri dari peran sebagai: a. Pemberi asuhan keperawatan dengan cara memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia, dapat dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. b. Sebagai advokat bagi klien, memberikan pelayanan dan informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi

penyakitnya, hak atas privacy, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. c. Pemberi educator, membantu klien dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga tejadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. d. Melakukan coordinator, peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan

29 sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. e. Melakukan kolaborator, bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain. f. Sebagai konsultan, perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. g. Sebagai pembaharu, peran perawat pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencana, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberi pelayanan keperawatan.

Selain peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan, terdapat berbagai peran perawat menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983 dalam hidayat (2004), yang membagi menjadi empat peran diantaranya peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan, peran perawat sebagai pengelola pelayanan dan institusi keperawatan, peran perawat sebagai pendidik dalam keperawatan serta peran perawat sebagai peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan.

4. Indikator Kepuasan Pasien Ada beberapa pakar yang mengangap kepuasan pasien dan kepuasan penyelenggara sebagai aspek psikososial dari keefektifan layanan kesehatan dan mereka mengusulkan beberapa indikator sebagai perangkat pengukurannya. (Pohan, 2006) terdapat empat indikator yang dapat digunakan untuk menilai kepuasan pasien terhadap pelayanan yaitu:

30 a. Kepuasan terhadap akses atau keterjengkauan (Access) Dimensi akses atau keterjangkauan, artinya layanan kesehatan itu harus dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi, organisasi dan bahasa. Akses geografis diukur dengan jarak, lama perjalanan, biaya perjalanan, jenis transportasi, dan atau hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang untuk mendapat layanan kesehatan. Akses ekonomi berkaitan dengan kemampuan membayar biaya layanan kesehatan, akses sosial atau budaya berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan kesehatan itu secara sosial atau nilai budaya, kepercayaan, dan perilaku. Akses organisasi adalah sejauhmana layanan kesehatan itu diatur agar memberi kemudahan/kenyamanan kepada pasien atau konsumen. Akses bahasa, artinya pasien harus dilayani dengan mengunakan bahasa atau dialek yang dapat dipahami oleh pasien (Wijono,1999).

kepuasan terhadap akses layanan kesehatan akan dinyatakan oleh sikap dan pengetahuan tentang: Sejauh mana layanan kesehatan itu tersedia pada waktu dan tempat saat dibutuhkan. Kemudian memperoleh layanan kesehatan, baik dalam keadaan biasa atatu pun dalam keadaan gawat darurat. Sejauh mana pasien mengerti bagaimana sistem layanan kesehatan itu bekerja, keuntungan dan tersedianya layanan kesehatan.

31 b. Kepuasan terhadap mutu (Quality) Mutu adalah bagaimana menyediakan kebutuhan konsumen dengan barang atau jasa yang terbaik mutunya dan merupakan Salah satu pendekatan atau upaya yang sangat penting serta mendasar dalam memberikan layanan keperawatan kepada pasien. Professional layanan kesehatan, baik perorangan maupun kelompok, harus selalu berupaya memberikan layanan kesehatan yang terbaik mutunya kepada semua pasien tanpa kecuali (Pohan, 2006). Sedangkan menurut Avedis Donabedian dalam Wijono (1999), mengatakan bahwa mutu adalah suatu sifat yang dimiliki dan merupakan suatu keputusan terhadap unit pelayanan tertentu dan bahwa pelayanan dibagi kedalam paling sedikit dua bagian: terknik dan interpersonal, perlu dibedakan apa yang merupakan mutu atau kebaikan dalam masing-masing bagian ini.

Kepuasan terhadap mutu layanan kesehatan akan dinyatakan oleh sikap terhadap: Kompetensi teknik dokter dan atau profesi layanan kesehatan lain yang berhubungan dengan pasien. Keluaran dari penyakit atau bagaimana perubahan yang dirasakan oleh pasien sebagai hasil dari layanan kesehatan.

c. Kepuasan terhadap proses (Process) termasuk hubungan antar manusia. Proses merupakan istilah umum yang meliputi kegiatan manajemen unsurunsur struktur atau sumber daya yang meliputi pengorganisasian dan

32 manajemen sumber daya, pengorganisasian program layanan kesehatan, dan pelaksanaan dari program layanan kesehatan (Pohan, 2006). Menurut Wijono (1999), proses adalah semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga kesehatan (dokter,perawat dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan pasien. Yang mencakup pula diaqnosa, rencana pengobatan, indikasi tindakan, prosedur dan penanganan kasus.

kepuasan terhadap proses layanan kesehatan, termasuk hubungan antar manusia akan ditentukan dengan melakukan pengukuran: Sejauh mana ketersediaan layanan puskesmas dan atau rumah sakit menurut penilaian pasien. Persepsi tentang perhatian dan kepedulian dokter dan atau profesi layanan kesehatan lainnya. Tingkat kepercayaan dan keyakinan terhadap dokter Tingkat perhatian tentang kondisi atau diagnosis Sejauh mana tingkat kesulitan untuk dapat mengerti nasihat dokter dan atau rencana pengobatan.

d. Kepuasan terhadap sistem (system) Adalah suatu usaha manajemen untuk selalu menjamin mutu layanan kesehatan dan selalu melakukan peningkatan mutu layanan kesehatan yang diberikan. Dengan semakin meningkatkan perhatian terhadap peningkatan mutu layanan kesehatan, pemahaman peningkatan jaminan mutu layanan

33 kesehatan semakin penting. Oleh karena itu, pendekatan itu perlu dipelajari agar dimengerti dan dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari (Pohan, 2006). Kepuasan terhadap sistem layanan kesehatan ditentukan oleh sikap terhadap: Fasilitas fisik dan lingkunan layanan kesehaan. Sistem perjanjian, termasuk menunggu giliran, waktu tunggu, pemanfaatan waktu selama menunggu, sikap mau menolong atau kepedulian personel, mekanisme pemecahan masalah dan keluhan yang timbul. Lingkup dan sifat keuntungan dan layanan kesehatan yang ditawarkan.

Hal tersebut dinyatakan melalui pengamatan: Luasnya layanan medik yang digunakan diluar sistem layanan kesehatan Proporsi pasien yang meninggalkan program dan memilih program kesehatan lainnya Jumlah dan jenis keluhan yang diterima sistem layanan kesehatn Perjanjian yang batal dan angka pembatalan Angka ketersediaan obat dari resep obat yang diberikan Proporsi pasien yang menganti dokter (jika memungkinkan oleh sistem).

34 B. Kerangka Teori Berdasarkan teori konsep yang telah dijelaskan diatas, maka dapat dijabarkan Gambaran kepuasan klien terhadap layanan kesehatan terapi hiperbarik sebagai berikut :
Indikator kepuasan pasien terhadap layanan keperawatan yang diberikan: Akses (Acess) Mutu (Quality) Proses (Process) System (System) Kepuasan Klien

Skema 2.1 Kerangka Teori Sumber : Imbalo S. Pohan (2006). C. Penelitian Terkait Penelitian Azis Slamet Wiyono dan M. Wahyuddin (2005), studi tentang kualitas pelayanan dan kepuasan konsumen dirumah sakit Islam Manisrenggo Klaten. Hasil analisis data menunjukkan bahwa semua variabel kualitas pelayanan secara signifikan memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen di Rumah Sakit Islam Manisrenggo Klaten. Variabel kualitas pelayanan medis memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan tingkat signifikansi 7%. Variabel kualitas pelayanan paramedis memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan tingkat signifikansi 8,8 %. Variabel kualitas pelayanan penunjang

35 medis memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan tingkat signifikansi 8,9. Penelitian Rais (2003), dalam penelitiannya menguji pengaruh kualitas pelayanan, fasilitas rumah sakit, biaya berobat rawat inap, dan afiliasi agama terhadap keputusan konsumen dalam memilih rumah sakit untuk berobat rawat inap di RS PKU Muhammadiyah. Hasilnya menunjukkan bahwa semua variabel tersebut mempunyai pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam memilih rumah sakit untuk berobat rawat inap.

Anda mungkin juga menyukai