Anda di halaman 1dari 3

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS A. PEMERIKSAAN WARNA Cara kerja: melihat spesiman sperma yang tersedia dengan mata telanjang.

Hasil: Putih kelabu, terdapat jeli. Pembahasan: Sperma dikatakan normal jika memiliki warna putih kelabu. Jika terlihat warna coklat atau merah, kemungkinan ada pendarahan di traktus ejakulatorius sehingga mengandung eritrosit. Jika terlihat warna kuning, maka diperkirakan pasien memiliki ikterus atau karena konsumsi vitamin yang menggunakan pewarna kuning. Sedangkan jika semen terlihat bening, maka hal itu menunjukkan sperma yang sedikit. Kesimpulan: dalam percobaan ini sperma yang tersedia tergolong normal.

B. PEMERIKSAAN BAU Cara kerja: menghidu cairan semen dari jarak yang tidak terlalu dekat. Hasil: tercium bau khas seperti wangi bunga akasia. Pembahasan: sperma atau semen termasuk normal jika bau terhirup seperti bau bunga akasia. Sedangkan bila bau yang tercium bau bususk, maka ada kemungkinan pasien memiliki infeksi di traktus ejakulatorius. Kesimpulan: karena bau yang tercium adalah bau khas bunga akasia, maka specimen yang tersedia tergolong normal. C. PEMERIKSAAN VOLUME Cara kerja: memasukkan seluruh specimen ke dalam tabung ukur.

Hasil : 2ml Pembahasan: volume sperma atau semen dikatakan normal jika volume nya lebih dari 2ml. saat melakukan percobaan karena ada kesalahan teknis, sehingga harus membagi specimen dengan kelompok lain. Sehingga jika ditotal maka sperma dari probandus kami lebih dari 2 ml. Kesimpulan: karena volume sperma probandus kami lebih dari 2 ml, maka tergolong normal.

D. KONSISTENSI Cara kerja: Mencelupkan pipet leukosit kedalam tabung ukur yang terisi sperma. Kemudian menarikanya ke atas. Mengamati panjang benang yang terjadi ketika ujung pipet leukosit di angkat ke atas. Hasil: terjadi benang 0,5 cm. Pembahasan: Jika benang yang terbentuk kurang dari 2 cm, maka sperma dikatakan memiliki konsistensi yang normal. Kesimpulan: karena benang yang terbentuk 0,5 cm yaitu kurang dari 2 cm , maka specimen dikatakan normal.

E. LIQUEFAKSI Cara kerja: mengamati perubahan wujud specimen dari yang kental menjadi cair dihitung dari waktu pertama kali dikeluarkan. Hasil: specimen yang diambil pada pukul 11.15 WIB , setelah 20 menit mengalami perubahan wujud menjadi lebih cair.

Pembahasan: sperma normal bisa mencair dalam jangka waktu 60 menit. Namun rata-rata pria, sperma mereka bisa mencair selama kurang lebih 15 menit. Kesimpulan: Sperma ini tergolang normal karena dalam jangka waktu 20 menit sudah mencair.

F. PH Cara kerja : menempelkan ujung kertas pH yang berwarna sampai terkena semua oleh specimen. Menunggu selama 30 detik. Kemudian mencocokkan perubahan warna pada kertas pH dengan indeks warna hasil pemeriksaan di kemasan. Hasil warna yang terbentuk mendekati indeks warna sekitar 7-8. pembahasan: pH yang ditunjukkan kurang akurat karena tidak ada angka sekunder pada kemasan untuk menunjukkan hasil. Namun pH sperma bisa di pengaruhi nutrisi (interna) dan gaya hidup (ekcterna). Probandus kami mempunyai kebiasaan merokok . kemungkinan hal ini yang mengakibatkan pH sperma nya termasuk normal tinggi karena mendekati angka 8. Kesimpulan: specimen yang kami dapatkan memiliki pH antara 7 dan 8, sehingga masih bisa dikatakan normal.

Oleh Sania Nadianisa M. G1A010083 FKIK JURUSAN KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 2010