Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI Eksklusif

1. Sejarah ASI Eksklusif

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) dan United Nations

International Children’s Emergency Fund (UNICEF) membuat deklarasi yang

dikenal dengan Deklarasi Innocenti. Deklarasi yang dilahirkan di Innocenti,

Italia ini bertujuan untuk melindungi, mempromosikan, dan memberi dukungan

pada pemberian ASI. Pada deklarasi yang juga ditandatangani oleh Indonesia

ini, dijelaskan bahwa untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi

secara optimal, maka semua ibu dianjurkan memberikan ASI eksklusif sejak

lahir hingga berusia 4 bulan, kemudian bayi mulai diberikan MP-ASI yang

benar dan tepat, sedangkan ASI diteruskan sampai usia 2 tahun. Pada tahun

1999, ditemukan bukti bahwa pemberian makanan pada usia terlalu dini

memberikan efek negatif pada bayi. Sejak itu UNICEF memberikan klarifikasi

tentang rekomendasi jangka waktu pemberian ASI eksklusif. Rekomendasi

terbaru UNICEF bersama World Health Assembly (WHA) dan banyak negara

lainnya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI eksklusif selama 6

bulan (Suryoprajogo, 2012).

10
11

Rekomendasi WHO mengenai pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

didasari pada 16 penelitian dimana 7 diantaranya dilakukan di negara

berkembang. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang diberikan ASI

eksklusif selama 6 bulan lebih sedikit mengalami infeksi dan tidak mengalami

masalah pertumbuhan. Rekomendasi WHO ini sangat tepat dilaksanakan

terutama di negara-negara berkembang yang sulit mendapatkan air bersih dan

makanan pendamping yang aman serta tingginya angka kematian dan kesakitan

bayi (WHO, 2003). Menurut defenisi WHO pola menyusui dikelompokkan

menjadi tiga kategori, yaitu menyusui eksklusif , menyusui predominan, dan

menyusui parsial.

a. Menyusui eksklusif adalah tidak memberi bayi makanan atau minuman lain,

termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau

mineral tetes; ASI perah juga diperbolehkan). Pada Riskesdas 2010,

menyusui eksklusif adalah komposit dari pertanyaan:bayi masih disusui,

sejak lahir tidak pernah mendapatkan makanan atau minuman selain ASI,

selama 24 jam terakhir bayi hanya disusui (tidak diberi makanan selain ASI).

b. Menyusui predominan adalah menyusui bayi tetapi perrnah memberikan

sedikit air atau minuman berbasis air, misalnya teh,sebagai makanan atau

minuman prelakteal sebelum ASI keluar. Pada Riskesdas 2010, menyusui

predominan komposit dari pertanyaan: bayi masih disusui, selama 24 jam

terakhir bayi hanya disusui, sejak lahir tidak pernah mendapatkan makanan

atau minuman kecuali minuman berbasis air, yaitu air putih atau air teh.
12

c. Menyusui parsial adalah menyusui bayi serta diberikan makanan buatan

selain ASI, baik susu formula, bubur atau makanan lainnya sebelum bayi

berumur enam bulan, baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan

sebagai makanan prelakteal. Pada Riskesdas 2010, menyusui parsial adalah

komposit dari pertanyaan: bayi masih disusui, pernah diberi makanan

prelakteal selain makanan atau minuman berbasis air seperti susu formula,

biskuit , bubur , nasi lembek, pisang atau makanan yang lain.

2. Pengertian ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan

lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan

dalam tahap ASI eksklusif ini (Depkes, 2005).

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif

selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian,

ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak

berlaku lagi (WHO, 2003).

New York, 1 Agustus 2013 - Selama Pekan ASI Sedunia yang dimulai hari

ini, UNICEF berfokus pada menyusui sebagai cara yang paling efektif dan murah

untuk menyelamatkan kehidupan seorang anak. Tapi dengan kurang dari setengah

anak di bawah enam bulan mendapat manfaat dari ASI eksklusif, kepemimpinan

yang kuat dalam mempromosikan praktek ini sangat penting. "Tidak ada intervensi

kesehatan tunggal lainnya yang memiliki dampak setinggi ini untuk bayi dan ibu

menyusui, dan dengan biaya yang sangat kecil bagi pemerintah," kata Deputi
13

Direktur Eksekutif UNICEF Geeta Rao Gupta. "ASI adalah 'imunisasi pertama'

bayi dan penyelamat hidup yang paling efektif dan murah."

Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh ahli gizi di seluruh

dunia. Tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) dapat menggantikan

ASI. ASI sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang bisa diberikan

oleh seorang ibu kepada bayi yang dilahirkannya. Hanya dengan ASI sudah cukup

untuk memenuhi kebutuhannya hingga ia berumur kira - kira 4-6 bulan pertama

(Nurkhasanah, 2012).

3. Manfaat Pemberian ASI

Konsumsi gizi sangat mempengaruhi status gizi kesehatan seseorang yang

merupakan modal utama bagi kesehatan individu. Asupan gizi yang salah atau

tidak sesuai akan menimbulkan masalah kesehatan. Istilah malnutrision (gizi

salah) diartikan sebagai keadaan asupan gizi yang salah, dalam bentuk asupan

berlebih ataupun kurang, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara

hubungan dengan asupan (Sulistyoningsih, 2011).

a. Bagi bayi

Adapun manfaat pemberian ASI bagi bayi menurut Sulistyoningsih (2011),

yaitu:

1) Mengandung zat gizi yang sesuai bagi bayi

Nilai gizi yang dikandung dalam ASI berbeda dari hari ke hari, tergantung

dari fase menyusui atau usia bayi yang disusui.

Beberapa jenis zat gizi utama yang ada pada ASI diantaranya adalah :
14

a) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utama bagi bayi, sebanyak 50% kalori

ASI berasal dari lemak. Walaupun kadar lemak pada ASI lebih tinggi

namun lemak pada ASI mudah diserap oleh bayi dibandingkan susu

formula. Lemak yang terdapat pada ASI terdiri dari kolesterol dan asam

lemak essensial yang sangat penting untuk pertumbuhan otak.

b) Karbohidrat

ASI mengandung laktosa sebagai karbohidrat utama. Selain sebagai

sumber kalori, laktosa juga berperan dalam meninggalkan penyerapan

kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus yang berperan

dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme di saluran pencernaan.

c) Protein

Protein pada ASI lebih baik daripada protein pada susu formula, karena

protein yang terdapat pada ASI lebih mudah dicerna selain itu ASI

mengandung sistin dan taurin yang tidak terdapat pada susu formula.

Sistin dan taurin diperlukan untuk pertumbuhan somatik dan otak.

d) Vitamin

ASI mengandung cukup vitamin yang dibutuhkan bayi, seperti Vitamin

K, Vitamin D, dan Vitamin E.

2) Mengandung zat protektif (kekebalan)

Bayi yang memperoleh ASI biasanya jarang mengalami sakit karena ASI

mengandung zat protektif, diantaranya adalah : laktobasilus bifidus,


15

laktoferin, antibodi, dan tidak menimbulkan alergi. Laktobasilus bifidus

berperan dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang biasanya

dapat menyebabkan diare. Laktobasilus lebih mudah tumbuh pada usus bayi

yang mendapat ASI, karena ASI mengandung polisakarida yang berkaitan

dengan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan laktobasilus bifidus.

3) Mempunyai efek psikologis

Kontak langsung antara ibu dan bayi ketika terjadi proses menyusui dapat

menimbulkan efek psikologis sehingga membangun kedekatan ibu dan

bayinya. Hal ini sangat penting untuk perkembangan psikis dan emosi bayi.

4) Menyebabkan pertumbuhan yang baik

Bayi yang mendapatkan ASI akan mengalami peningkatan berat badan yang

lebih signifikan, dan mengurangi resiko obesitas.

5) Mengurangi kejadian karies

Kejadian karies gigi lebih banyak ditemukan pada bayi yang menggunakan

susu formula. Hal ini disebabkan adanya kebiasaan menyusui dengan botol

sebelum tidur akan menyebabkan kontak gigi dengan sisa susu formula

menjadi lebih lama sehingga asam yang terbentuk akan menyebabkan

kerusakan pada gigi.

6) Mengurangi kejadian maloklusi

Kejadian maloklusi jarang terjadi pada bayi yang diberikan ASI karma salah

satu penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong

kedepan akibat menyusu pada botol.b.


16

b. Bagi Ibu

Sedangkan keuntungan ASI bagi ibu menurut Nurkhasanah (2011), antara lain:

1) Menguntungkan secara Ekonomi

Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya

untuk makanan bayi sampai bayi berumur 6 bulan. Dengan demikian,

menyusui akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu

formula dan peralatannya. Biaya bisa dialokasikan untuk memberikan

makanan yang lebih bergizi kepada ibu menyusui karena menyusui

memerlukan zat gizi yang lebih.

2) ASI tidak pernah basi

ASI selalu diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara ibu. Bila gudang

ASI telah kosong, ASI langsung diproduksi, sebaliknya jika ASI tidak

digunakan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi ASI dalam payudara

tidak pernah basi dan ibu tidak perlu memerah, ataupun membuang ASI-nya

sebelum menyusui.

3) Timbul rasa percaya diri bagi ibu untuk menyusui

Menyusui dapat memberi rasa percaya diri bahwa ibu mampu menyusui

dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayinya. Menyusui dipengaruhi

oleh emosi ibu dan kasih sayang terhadap bayi sehingga bisa meningkatkan

produksi honnon, terutama oksitosin yang pada akhimya akan meningkatkan

produksi ASI.
17

4) Praktis dan tidak merepotkan

Bila bayi diberi ASI, ibu tidak perlu repot mempersiapkan alat-alat dan

membuat minuman bayi, serta tidak perlu pergi ke toko untuk membeli susu

formula. ASI selalu tersedia dan ketika bayi ingin menyusui langsung dapat

diberikan tanpa harus mempersiapkan susu botol.

5) Menyusui dapat menunda kehamilan

Menyusui bisa menjadi cara Keluarga Berencana (KB) yang paling efektif

untuk mencegah kehamilan jika dilakukan secara tepat dengan beberapa

syarat, yaitu belum mengalami menstruasi, pemberian ASInya tidak boleh

dihentikan sama sekali, dan belum 6 bulan atau masih ASI eksklusif.

Dengan menyusui secara eksklusif, dapat menunda haid dan kehamilan

sehingga hal ini bisa digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara

umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).

6) Mengurangi resiko Berat Badan berlebih

Dengan menyusui, lemak yang ada di tubuh akan diubah menjadi ASI

sehingga tidak menyebabkan kegemukan dan cepat mengembalikan bentuk

tubuh seperti sebelumnya. Menyusui membutuhkan energy sekitar 500 kalori

per hari sehingga ibu tidak perlu mengurangi jumlah makan yang

dikonsumsi. Ditemukan pengurangan berat badan sebesar 0,44 kg untuk

setiap bulan ketika menyusui.


18

7) Mempercepat pengecilan ukuran rahim ibu

Isapan bayi saat menyusui mampu membantu rahim mengecil, mempercepat

kondisi ibu untuk kembali ke masa prakehamilan, dan mengurangi resiko

pendarahan. Saat menyusui, ada hormon oksitosin yang berperan dalam

produksi ASI. Ternyata hormon tersebut juga berfungsi membantu rahim

kembali mengecil lebih cepat dibanding ibu yang tidak menyusui.

8) Mengurangi resiko Kanker payudara

Diperkirakan zat innate immune system yang terdapat dalam ASI bisa

memberikan perlindungan terhadap jaringan payudara, ibu sehingga bisa

terhindar dari ancaman kanker payudara.

9) Mengurangi resiko Kanker rahim

Hormon yang berperan dalam produksi ASI, ternyata juga berperan

menuntaskan proses nifas sehingga rahim kembali bersih dari sisa-sisa,

melahirkan. Hal ini dapat menurunkan resiko kanker rahim pada ibu yang

menyusui bayinya.

10) Mengurangi stres dan kegelisahan

Hormon oksitosin akan keluar saat ibu menyusui bayinya, hormon ini

berguna untuk mengurangi stress yang dialami sehingga ibu yang menyusui

akan memiliki perasaan positif dan dapat melakukan lebih banyak hal-hal

positif lainnya.
19

11) Mengurangi resiko Osteoporosis

Osteoporosis banyak terjadi pada wanita lanjut usia. Untuk mengurangi

resiko osteoporosis pada masa lanjut usia, ia perlu memiliki tulang yang

padat. Menyusui ternyata akan meningkatkan kepadatan tulang sehingga

mengurangi resiko osteoporosis dan patah tulang pada usia lanjut.

4. Keunggulan ASI

Seorang bayi selama dalam kandungan telah mengalami proses tumbuh

kembang sedemikian rupa, sehingga waktu bayi lahir berat badannya sudah

mencapai berat badan normal. Para ahli anak diseluruh dunia telah mengadakan

penelitian terhadap keunggulan ASI. Menurut Marimbi (2010), hasil penelitian

tersebut menjelaskan keunggulan ASI dibanding dengan susu sapi atau susu

buatan lainnya adalah sebagai berikut:

a. ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dengan

konsentrasi yang sesuai dengan kebutuhan bayi.

b. ASI mengandung kadar laktosa yang lebih tinggi, dimana laktosa ini dalam

usus akan mengalami peragian hingga membentuk asam laktat yang bermanfaat

dalam usus bayi, yaitu untuk:

1) Menghambat pertumbuhan bakteri yang pathologis.

2) Merangsang pertumbuhan mikroorganik yang dapat menghasilkan berbagai

asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin dalam usus.

3) Memudahkan pengendapan kalsium casenat (protein susu).


20

4) Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral.

c. ASI mengandung berbagai antibodi yang dapat melindungi bayi dari berbagai

penyakit infeksi

d. ASI lebih aman dari kontaminasi karena diberikan langsung, sehingga kecil

kemungkinan tercemar zat berbahaya.

e. Resiko alergi pada bayi kecil sekali karena tidak mengandung beta

laktoglobulin.

f. ASI dapat sebagai perantara untuk menjalin hubungan kasih sayang antara ibu

dan bayi.

g. Temperature ASI sesuai dengan temperature tubuh bayi.

h. ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik.

i. Kemungkinan bayi tersedak pada waktu meneteki ASI kecil sekali.

j. ASI mengandung laktoferin untuk mengikat zat besi.

k. ASI lebih ekonomis, praktis tersedia setiap waktu pada suhu yang ideal dan

dalam keadaan segar.

l. Dengan memberikan ASI kepada bayi berfungsi menjarangkan kelahiran.

5. Jarak Waktu Pemberian ASI

Praktek pemberian ASI di masyarakat berbeda-beda. Di desa para ibu

menyusui bayinya hampir tanpa aturan, setiap menangis selalu diartikan bayi

dalam keadaan lapar sehingga ibu selalu memberinya ASI. Pada saat ini para ahli

kesehatan menganut paham jarak menyusui bayi pada setiap 3 jam. Adapun alasan

pemberian ASI dengan jarak 3 jam dipakai patokan karena lambung bayi akan
21

kosong setelah waktu 3 jam setelah menyusui. Menurut Marimbi (2010), ada

beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam alasan penggunaan jarak waktu

pemberian ASI, yaitu :

a. Jarak waktu menyusui yang terlalu dekat sering menyebabkan bayi tidak

mampu menghabiskan ASI yang ada dalam payudara ibu.

b. Payudara yang tidak habis/kosong terhisap akan melemahkan rangsangan

terhadap sel-sel yang menghasilkan ASI, sehingga produksi ASI akan cepat

menurun.

c. Seorang ahli kesehatan anak "Share" mengemukakan pendapatnya bahwa anak

yang makannya sedikit-sedikit akan mengakibatkan hilangnya nafsu makan

karena kadar gula dalam darah anak selalu tinggi, keadaan ini akan mengurangi

nafsu makan anak secara keseluruhan.

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI

Keberhasilan menyusui tergantung pada beberapa faktor, seperti ketepatan

posisi bayi pada puting ibu ketika menyusui, frekuensi menyusui dan menyusui

yang tidak dijadwal, atau menyusui sesuai keinginan bayi. Selain itu, ada beberapa

faktor yang mempengaruhi produksi ASI. Menurut Nurkhasanah (2011), faktor-

faktor yang mempengaruhi produksi adalah sebagai berikut:

a. Makanan ibu

Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak

secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan.

dalam tubuh, terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila
22

sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi, jika makanan ibu terus menerus tidak

mengandung cukup zat gizi yang diperlukan, tentu pada akhimya kelenjar-

kelenjar pembuat ASI tidak akan dapat bekerja dengan sempurna sehingga

berpengaruh terhadap produksi ASI.

b. Frekuensi menyusui

Frekuensi menyusui dapat mempengaruhi produksi ASI. Semakin sering

menyusui, akan semakin meningkatkan produksi ASI. Oleh karena itu, berikan

ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi. Berdasarkan hasil penelitian,

produksi ASI akan optimal ketika ibu menyusui bayinya 5 kali atau lebih per

hari selama 1 bulan awal menyusui.

c. Menyusui sesuai keinginan bayi

Menyusui yang tidak dijadwal atau menyusui sesuai keinginan bayi (on

demand), ternyata dapat meningkatkan produksi ASI pada 2 minggu pertama.

Hal ini menunjukan bahwa produksi ASI lebih dipengaruhi oleh kebutuhan bayi

dibandingkan kapasitas ibu untuk memproduksi ASI. Artinya, ASI akan

diproduksi sesuai kebutuhan bayi.

d. Umur kehamilan

Bayi yang lahir prematur atau bayi yang lahir belum cukup bulan kadang belum

dapat menyusui secara efektif. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur

(umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu

menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah dari pada bayi

yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan menghisap pada bayi


23

prematur dapat disebabkan oleh berat badan yang rendah dan belum

sempurnanya fungsi organ tubuh bayi. Akibatnya, ketika rangsangan menyusui

berkurang, produksi ASI otomatis juga berkurang.

e. Berat lahir

Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan menghisap ASI yang

lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (bayi yang lahir lebih dari

2500 gr atau 2,5 kg). Bayi yang lahir dengan berat lahir rendah memiliki

kemampuan menghisap ASI, frekuensi, dan lama penyusuan yang lebih rendah,

dibanding bayi berat lahir normal yang pada akhirnya akan mempengaruhi

stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

f. Ketentraman jiwa dan pikiran

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Saat menyusui, seorang

ibu memerlukan ketenangan pikiran, dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan

(stres) karena akan berpengaruh terhadap produksi ASI dan kenyamanan bayi

saat menyusu. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa

tertekan mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.

g. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin

Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap

kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau

klinik bersalin.

Sebab melahirkan di rumah sakit lebih menitikberatkan pada upaya agar

persalinan dapat berlangsung dengan baik, dan ibu maupun anaknya berada
24

dalam keadaan selamat dan sehat, sementara masalah pemberian ASI kurang

mendapat perhatian. Makanan pertama yang diberikan, justru susu buatan atau

susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ia

selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih baik dari ASI. Pengaruh itu akan

semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambargambar atau

poster yang memuji penggunaan susu formula.

h. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung Estrogen dan Progesteron

Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan

kontrasepsi pil yang mengandung hormon esterogen, karena hal ini dapat

mengurangi jumlah produksi ASI, bahkan menghentikan produksi ASI secara

keseluruhan. Oleh karena itu, alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan

adalah IUD atau spiral, karena IUD dapat merangsang uterus ibu sehingga

secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin, yaitu

hormon yang dapat merangsang produksi ASI.

i. Perilaku ibu

Perilaku ibu, seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol bisa mempengaruhi

produksi dan komposisi ASI. Merokok dapat mengurangi produksi ASI karena

bisa mengurangi hormon prolaktin (hormon yang berperan dalam produksi

ASI) sehingga berpotensi mengurangi produksi ASI.

j. Perawatan payudara

Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan

mengurut peyudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan


25

tersebut diharapkan apabila terdapat penyumbatan pada saluran dalam payudara

dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.

7. Komponen dan Komposisi ASI

Susu menjadi salah satu sumber nutrisi bagi manusia, komponen ASI sangat

rumit dan berisi lebih dari 100.000 biologi komponen unik, yang memainkan

peran utama dalam perlawanan penyakit bayi. Meskipun tidak semua keuntungan

dari semua komponen yang telah sepenuhnya diteliti dan belum ditemukan (Atikah

dan Eni, 2011).Berikut adalah komponen dan komposisi ASI.

Tabel 2.1
Komponen dan Komposisi ASI

Faktor Nutrisi Umur Kompposisi Komposisi


(Bulan) Per dl Per 100 g

Laktosa (g) 12-18 7,93 7,69

Lemak total (g) 12-18 3,53 3,42

Protein (g) 12-18 0,995 0,965

Energy (kcal) 12-18 67,47 65,44

Total Kalori (gg) 12-18 59,57 57,8

Kalsium (mg) 12-26 18,1 17,6

Fosfor (mg) 12-26 15,8 15,3

Besi (mg) 12-26 0,12 0,12

Vitamin A (µg RE) 11,5-23,5 21,2 20,6

B- Karoten (µg) 11,5-23,5 18,8 18,2

Tiamin (µg) 13-18, > 18 16 15,5

Riboflafin (µg) 13-18, > 18 15,2 14,7

Niacin (µg) 9-12 102 98,9


26

Asam Pantothenat (µg) 9-12 103 99,9

Biotin (µg) 9-12 160 155,1

Vitamin B12 (mg) 9-12 7,7 7,5

Vitamin C (mg) 12-18, > 18 3,1 3

Asam folat (µg) 1,5-3 0,83 0,8

Sumber: Manajemen laktasi, 2010

8. Tujuh Langkah Keberhasilan Menyusui

Pertumbuhan dan perkembangan bayi terus berlangsung sampai dewasa.

Proses tumbuh kembang ini dipengaruhi oleh makanan yang diberikan pada anak.

Makanan yang paling sesuai untuk bayi adalah ASI, karena ASI memang

diperuntukkan bagi bayi sebagai bahan pokok bayi (Marimbi, 2010).

Menurut Roesli (2011), terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan untuk

menunjang keberhasilan ASI ekslusif, yaitu:

a. Mempersiapkan payudara bila diperlukan

b. Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui

c. Menciptakan dukungan suami, keluarga, teman dan yang lainnya

d. Memilih tempat melahirkan yang “sayang bayi”

e. Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI

f. Mencari ahli persoalan menyusui untuk persiapan apabila menemui masalah

9. Alasan Menunda Pemberian Makanan Padat pada Bayi

Terdapat beberapa alasan mengapa WHO-UNICEF mengubah dari 4 bulan

menjadi 6 bulan pemberian ASI Eksklusif. Menurut Suprayogo (2011), berikut ini

adalah beberapa alasan yang dipaparkan


27

a. Riset medis mengatakan bahwa ASI ekslusif membuat bayi berkembang

dengan baik pada 6 bulan pertama, bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.

Evaluasi pada bukti-bukti yang telah ada menunjukan bahwa pada tingkat

populasi dasar, pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan adalah cara yang paling

optimal dalam pemberian makan kepada bayi.

b. Penundaan pernberian makanan padat, dapat memberikan perlindungan yang

lebih baik pada bayi dari berbagai penyakit. Menunda pemberian makanan

padat, dapat memberikan kesempatan pada sistem pencernaan bayi untuk

berkembang menjadi lebih matang. Biasanya bayi siap untuk makan makanan

padat, baik secara pertumbuhan maupun secara psikologis pada usia 6-9 bulan.

Bila makanan padat sudah diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk

menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan

dapat menyebabkan reaksi yang menyenangkan (gangguan pencernaan,

timbulnya gas, konstipasi dan lain-lain).

c. Sejak lahir sampai usia antara empat sampai enam bulan, bayi memiliki apa

yang disebut sebagai “usus yang terbuka”. Ini berarti bahwa jarak yang ada

diantara sel-sel pada usus kecil akan membuat makromolekul yang utuh,

termasuk protein dan bakteri patogen, dapat masuk kedalam aliran darah. Hal

ini menguntungkan bagi bayi yang mendapatkan ASI karena zat antibodi yang

terdapat di dalam ASI dapat masuk langsung melalui aliran darah bayi, tetapi

hal ini juga berarti bahwa protein-protein lain dari makanan selain ASI (yang
28

mungkin dapat menyebabkan bayi alergi) dan bakteri patogen yang bisa

menyebabkan berbagai penyakit bisa masuk juga.

d. Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari anemia

karena kekurangan zat besi. Pengenalan suplemen zat besi, terutama pada usia 6

bulan pertama, mengurangi efisiensi zat besi pada bayi. Dalam suatu studi, para

peneliti menyimpulkan bahwa bayi yang diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan

(dan tidak diberikan suplemen zat besi atau sereal yang mengandung zat besi)

menunjukan level hemoglobin yang secara signifikan lebih tinggi dalam waktu

satu tahun dibandingkan bayi yang mendapat ASI tapi menerima makanan

padat pada usia kurang dari 6 bulan.

e. Menunda pemberian makanan padat, membantu melindungi bayi dari resiko

terjadinya obesitas di masa datang. Pemberian makanan padat terlalu dini sering

dihubungkan dengan meningkatnya kandungan lemak dan berat badan pada

anak-anak.

f. Menunda pemberian makanan padat membantu para ibu untuk menjaga

kesediaan ASI mereka. Berbagai studi menunjukan bahwa pada bayi makanan

padat akan menggantikan porsi susu dalam menunya. Makanan tersebut tidak

menambah total asupan pada bayi. Makin banyak makanan padat yang dimakan

oleh bayi, maka makin sedikit susu yang diserap dari ibu yang berarti produksi

ASI juga makin sedikit.


29

B. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada

Bayi Usia 0-6 Bulann

1. Faktor Kesehatan Bayi

Faktor kesehatan bayi adalah faktor yang .menyangkut kondisi bayi

antara lain galaktosemia, bibir sumbing dan celah palatum, yang menyebabkan

ibu memberikan makanan tambahan pada bayinya. Galaktosemia yaitu kelainan

metabolisms sejak lahir yang ditandai adanya kekurangan enzim galaktokinase

yang dibutuhkan untuk mengurangi laktosa menjadi galaktosa, jika bayi diberi

ASI atau bahan lain yang mengandung laktosa maka kadar laktosa dalam darah

dan air kemih akan meningkat secara klinis akan timbul katarak. Bentuk lain

adalah kekurangan enzim yang dapat menyebabkan bayi diare, muntah-muntah,

hati dan limpa membesar kemudian bayi menjadi kuning. Bibir sumbing dan

celah palatum menyebabkan bayi kesulitan menciptakan tekanan negatif dalam

rongga mulut yang diperlukan dalam proses menyusui, keadaan ini dapat

menyebabkan ibu memberikan makanan tambahan.

2. Faktor Kesehatan Ibu

Faktor kesehatan ibu adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi ibu

yang menyebabkan ibu memberikan makanan tambahan pada bayi usia kurang

dari enam bulan, misalnya kegagalan laktasi, penyakit yang membuat ibu tidak

dapat memberi ASI, serta adanya kelainan payudara yaitu terjadinya

pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferus oleh karena tidak

dikosongkan dengan sempurna, kelainan puting susu seperti puting susu


30

terbenam dan cekung sehingga menyulitkan bagi bayi untuk menyusu, mastitis

(suatu peradangan pada payudara disebabkan oleh kuman terutama

staphylococcus aureus melalui luka pada putting susu), tidak ada susu

(agalaksia), dan air susu sedikit keluar (Oligogalaksia). Menyusui menjadi

kontra indikasi bila ibu menderita penyakit berat seperti kegagalan jantung,

penyakit ginjal atau paru-paru yang serius dengan penyakit tuberkulosis aktif,

masih dapat menyusui bayinya bila diberi terapi dalam dua bulan ibu tidak

infeksi lagi, biasanya bayi juga diberi terapi pencegahan dengan imunisasi

BCG. Kurangnya dukungan sosial dalam mengatasi masalah di atas maka ibu

cenderung memberikan makanan tambahan pada bayi usia kurang dari enam

bulan sebagai pengganti ASI.

3. Faktor Pengetahuan Ibu

Faktor pengetahuan ibu adalah faktor yang berhubungan dengan tingkat

pengenalan informasi tentang pemberian makanan tambahan pada bayi usia

kurang dari enam bulan. Pengetahuan ibu tentang kapan pemberian makanan

tambahan, fungsi makanan tambahan, makanan tambahan dapat meningkatkan

daya tahan tubuh dan risiko pemberian makanan pada bayi kurang dari enam

bulan sangatlah penting. Tetapi bayak ibu-ibu yang tidak mengetahui hal

tersebut di atas sehingga memberikan makanan tambahan pada bayi usia di

bawah enam bulan tanpa mengetahui risiko yang akan timbul.


31

Menurut Notoatmodjo (2003), membagi 6 tingkat pengetahuan. Ada 6

tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain kognitif yaitu :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap

suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang, tabu tentang apa

yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan.

menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehention)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau

materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya, aplikasi ini

diartikan dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus

metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
32

d. Analisis (Analysys)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek kedalarn komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur

organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan

analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan,

membedakan, mengelompokkan dan seperti sebagainya. Analisis

merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan

sebagainya.

e. Sintesa (Syntesis)

Adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan

bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata

lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari

informasi-informasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat

menggunakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu

teori atau rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan

kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin
33

diukur dari subjek penelitian atau responden kedalaman pengetahuan yang

ingin kita ketahui dapat kita lihat sesuai dengan tingkatan-tingkatan diatas.

4. Faktor Pekerjaan Ibu

Pekerjaan adalah Aktivitas yang dilakukan untuk mendapat penghasilan

(uang/barang). Faktor pekerjaan ibu adalah faktor yang berhubungan dengan

aktivitas ibu setiap harinya untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi

kebutuhan hidupnya yang menjadi alasan pemberian makanan tambahan pada

bayi usia kurang dari enam bulan. Pekerjaan ibu bisa saja dilakukan di rumah,

di tempat kerja baik yang dekat maupun jauh dari rumah. Ibu yang belum

bekerja sering memberikan makanan tambahan dini dengan alasan melatih atau

mencoba agar pada waktu ibu mulai bekeja bayi sudah terbiasa.

Hal yang terpenting bagi ibu menyusui, agar produksi air susunya banyak

adalah harus sering menyusukannya kepada bayinya, minimal 8 kali sehari,

misalnya diulang tiap 3 jam, pada payudara kiri dan kanan, masing-masing

minimal selama 5 menit. Produksi air susu ibu akan meningkat bila puting susu

ibu sering mendapatkan rangsangan dari mulut bayi. Makin sering ibu

menyusui, maka akan semakin banyak produksi air susu ibu (Luluk, 2005).

5. Faktor Petugas Kesehatan

Faktor petugas kesehatan adalah kualitas petugas kesehatan yang

akhirnya menyebabkan ibu memilih untuk memberikan makanan tambahan

pada bayi atau tidak. Petugas kesehatan adalah orang yang mengerjakan sesuatu

pekerjaan di bidang kesehatan atau orang mampu melakukan pekerjaan


34

dibidang kesehatan. Petugas kesehatan sangat berperan dalam memotivasi ibu

untuk tidak memberi makanan tambahan pada bayi usia kurang dari enam

bulan. Biasanya, jika dilakukan penyuluhan dan pendekatan yang baik kepada

ibu yang memiliki bayi usia kurang dari enam bulan, maka pada umumnya ibu

mau patuh dan menuruti nasehat petugas kesehatan, oleh karena itu petugas

kesehatan diharapkan menjadi sumber informasi tentang kapan waktu yang

tepat memberikan makanan tambahan dan risiko pemberian makanan tambahan

dini pada bayi.

6. Faktor Iklan

Faktor iklan adalah faktor yang berhubungan dengan promosi tentang

pemberian makanan tambahan, baik yang didengar atau dilihat langsung oleh

ibu. Iklan merupakan sebuah sarana, yang jika baik dapat menarik penonton

atau pendengarnya untuk melakukan sesuai dengan anjuran iklannya.

Banyaknya iklan yang memasarkan susu formula, membuat ibu mau

memberikannya kepada bayi dengan keyakinan sehat dan baik bagi bayinya.

Iklan tidak hanya melalui televisi, tapi juga radio dan surat kabar, bahkan di

tempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di

Indonesia sudah tersedia brosur-brosur gratis tentang produk-produk susu yang

bisa diberikan pada bayi usia kurang dari enam bulan.

7. Faktor Budaya

Faktor budaya adalah faktor yang berhubungan dengan nilai-nilai dan

pandangan masyarakat yang lahir dari kebiasaan yang ada, dan pada akhimya
35

mendorong masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan budaya.

Misalnya budaya yang baru berkembang sekarang ini adalah pandangan untuk

tidak memberikan ASI karena bisa menyebabkan perubahan bentuk payudara

yang membuat wanita tidak cantik. Masih banyak ibu, khususnya yang sangat

memperhatikan bentuk tubuhnya, masih mengikuti tradisi ini.

Tradisi lainnya misalnya ibu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI.

Pengaruh itu akan semakin buruk apabila di sekeliling kamar bersalin dipasang

gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan. Produsen

susu dan makanan pendamping ASI yang semestinya turut berperan serta dalam

program yang notabene bisa menyehatkan generasi penerus, justru banyak yang

melakukan penyimpangan.

8. Faktor Status Ekonomi

Status ekonomi adalah kedudukan seseorang berdasarkan pendapatan rata-

rata keluarga perbulan. Faktor ekonomi adalah faktor yang berhubungan

dengan kondisi keuangan yang menyebabkan daya beli untuk makanan

tambahan menjadi lebih besar. Faktor ekonomi ini menyangkut besarnya

penghasilan yang diterima, yang jika dibandingkan dengan pengeluaran, masih

memungkinkan ibu untuk memberikan makanan tambahan bagi bayi usia

kurang dari enam bulan. Biasanya semakin baik perekonomian keluarga maka

daya beli akan makanan tambahan juga mudah, sebaliknya semakin buruk

perekonomian keluarga, maka daya beli akan makanan tambahan lebih sukar.
36

Pada tahun 2015, penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sesuai

dengan ketentuan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, penetapan

UMK oleh gubernur bulan 1 Januari 2015 yaitu Rp. 2.100.000 (sebelumnya Rp.

1.640.000).

9. Faktor Pendidikan Ibu

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup

(Notoatmodjo, 2012). Pendidikan mempengaruhi proses belajar dimana makin

tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima

informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk

mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa,

semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang

didapatkan (Notoatmodjo, 2012).

Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh masukan nutrisi,

kekebalan tubuh, sinar matahari, lingkungan yang bersih, latihan jasmani dan

keadaan kesehatan. Bagi pertumbuhan bayi yang penting adalah pemberian

makanan yang berkualitas maupun kuantitasnya agar dapat tumbuh dan

berkembang secara optimal dan baik. Makanan yang baik bagi bayi baru lahir

sampai usia 6 bulan adalah ASI, tetapi pada kenyataanya pemberian ASI

eksklusif banyak terdapat kendala. Oleh karena itu pendidikan ibu masih

menjadi satu kendala.


37

C. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah untuk memberikan gambaran atau batasan – batasan

tentang teori – teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan.

Menurut kamus Bahasa Indonesia Poerwadarminta, TEORI adalah

“Pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu

peristiwa (kejadian), dan asas – asas, hukum – hukum umum yang menjadi dasar

sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan; serta pendapat cara – cara dan aturan –

aturan untuk melakukan sesuatu”. Kerangka Teori Penelitihan ini berdasarkan

Tinjauan Pustaka adalah:

Kerangka Teori
Kesehatan Bayi
Kesehatan Ibu
Pengetahuan Ibu
Pekerjaan Ibu
Pemberian ASI
Petugas Kesehatan
Eksklusif
Iklan
Kebudayaan
Status Ekonomi
Pendidikan Ibu
Sunber: Berbagai Sumber

Gambar 2.2
Kerangka teori faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI
eksklusif pada bayi.