Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INVIDU EVALUASI AKADEMIK

Nama : Eka Diah Ratnasari, A.Md. Kep


Golongan : II/C
Nip : 19940420 202203 2 002
Angkatan : XXII
NDH : 15
Evaluasi LMS : 27 Mei 2022

KASUS : Membangun efektifitas pelayanan publik melalui Mall Pelayanan


Publik
Dinamika perkembangan zaman memaksa semua negara di dunia untuk
terus melakukan transformasi terhadap tata kelola pemerintahan yang dituntut
semakin profesional, cepat, efektif, adaptif untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Indonesia sendiri yang tumbuh dalam era demokratisasi, juga memasuki era
digitalisasi dan virtualisasi, serta memiliki proyeksi menjadi the big five state in the
world. Reformasi birokrasi sebagai arus utama pendorong gelombang revolusi tata
kelola pemerintahan tidak lagi hanya untuk mengontrol jalannya birokrasi dan
menghadirkan pelayanan. Namun juga harus bergerak untuk mengubah paradigma
para administrator publik untuk menempatkan masyarakat sebagai aspek terdepan
dan prioritas. Dan memposisikan pemerintah sebagai representasi publik, serta
membangun institusi publik yang berintegritas, responsif melayani dan aktif
memberdayakan masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengaturan dan
implementasi berbagai kebijakan publik di tingkat pusat maupun daerah.
Dimana selama ini masih banyak permasalahan dalam kegiatan dan proses
pemberian layanan kepada masyarakat. Menjembatani kondisi tersebut, beberapa
pemerintah daerah berlomba-lomba bersaing dan berupaya memberikan pelayanan
yang terbaik kepada masyarakat. Namun seringkali upaya tersebut masih belum
memberikan hasil yang maksimal sehingga pada akhirnya tidak solutif dan
terkadang menimbulkan kerumitan dalam proses pelayanan kepada masyarakat.
Denhardt dan. Denhardt, dalam bukunya mengungkapkan bahwa salah satu
agenda reformasi yang dijalankan oleh beberapa negara maju, adalah dengan
menguatkan hubungan antara institusi publik dengan pelanggannya
(masyarakatnya) sebagai "mekanisme transaksi pasar yang melahirkan suatu
komoditas kepentingan bersama". Melalui konsep yang ditawarkan, dapat dicermati
bahwa konsep the new public management dalam administrasi negara sudah hadir.
Dia telah mengelaborasi sentuhan maupun pendekatan pelayanan negara yang
lebih demokratis (lebih meningkatkan kepercayaan publik),
menjembatani harapan dan keinginan warga, memberikan ruang bagi keterlibatan
sosial dalam pemerintahan, menyegarkan kembali birokrasi publik, membangkitkan
legitimasi bagi pemerintahan, serta melahirkan konsep the new public service.
Sebagaimana kita ketahui, selama ini masih banyak kekurangan dari
penyedia layanan publik sebagaimana yang dirumuskan dalam seminar evaluasi
kualitas pelayanan publik dinyatakan bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam
pelayanan publik. Diantaranya masih sedikit instansi yang wajib memberikan
layanan yang berstandar operasional prosedur, dan adanya kejelasan. Masih ada
beberapa instansi penanggung jawab dan penyedia layanan yang masih belum
mempunyai SOP berupa alur dan prosedur yang jelas dalam menyediakan
pelayanan. Aspek durasi waktu pemberian layanan masih belum ada sehingga
kurang efektif dan efisien serta dapat merugikan waktu masyarakat yang sedang
mengakses pelayanan.
Saat ini hanya beberapa penyedia layanan yang telah memiliki durasi waktu
pemberian layanan seperti perpanjangan surat kendaraan yang sudah memiliki
standar SOP dan durasi waktu pengurusan pelayanan. Dalam konteks pemberian
pelayanan, seringkali ditemukan ketidakmampuan petugas pemberi layanan
disebabkan karena kompetensi yang rendah serta kurang sesuai dengan pekerjaan
untuk menyediakan pelayanan yang baik; Masih ada penyedia layanan yang
bersikap kurang ramah, kurang sopan atau tidak jelas dalam berbicara,
memberitahukan suatu informasi dengan tidak ramah/santun. Selain itu masih ada
penyedia layanan masih belum menggunakan sarana prasarana yang layak serta
sesuai kebutuhan konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel, ruang laktasi,
antrian khusus bagi lansia, dan sistem konektivitas jaringan komputer, internet
sehingga pada saat pengurusan layanan yang membutuhkan koneksi server pusat,
layanan tidak dapat diberikan karena tidak ada koneksi jaringan.
Mal Pelayanan Publik
MPP pada dasarnya merupakan pengintegrasian pelayanan publik dari
daerah dengan berbagai pelayanan publik instansi pemerintah pusat, BUMN dan
kalau mungkin swasta, boleh jadi merupakan model pelayanan terpadu generasi
ketiga. Generasi pertama adalah Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSA), kemudian
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan kini MPP. Konsep MPP ini terinspirasi
dari Public Service Hall (PSH) yang ada di Georgia, yakni pusat pelayanan terpadu
dan terintegrasi, baik antar kementerian maupun dengan pemerintah lokal.
Sejak tahun 2018, Kementerian PANRB terus mendorong sejumlah pemda
untuk menerapkan konsep MPP di daerahnya. Mempelajari hal itu, lalu disesuaikan
dalam konteks indonesia, Kemenpan RB menghadirkan Mal Pelayanan Publik
(MPP) Indonesia, yang lebih progresif memadukan pelayanan dari pemerintah
pusat, daerah dan swasta dalam satu tempat. Bahkan menyatukan pelayanan publik
lintas kewenangan yang pada umumnya sulit dilakukan karena struktur birokrasi di
Indonesia yang sangat besar.
Deputi Bidang Pelayanan Publik Diah Natalisa mengatakan, saat ini MPP
sudah terbangun di sejumlah daerah, antara lain Kota Batam, Provinsi DKI Jakarta,
Kota Bekasi, Kabupaten Banyuwangi, Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem,
Kota Surabaya, Kabupaten Tomohon, dan Kota Bitung. Dikatakan, pembangunan
MPP sejalan dengan kebijakan Gerakan Indonesia Melayani, yang tertuang dalam
Instruksi Presiden No. 12/2016. Dalam hal ini, Kementerian PANRB mendapat
mandat untuk mengkoordinasikan Program Gerakan Indonesia Melayani (GIM),
sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang meliputi lima
Gerakan. Empat gerakan lainnya adalah Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan
Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.
Kehadiran Mal Pelayanan Publik, juga tidak mendegradasi generasi
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), justru ini keistimewaannya MPP dapat
memayungi PTSP tanpa pula mematikan pelayanan yang sudah ada sebelumnya.
Sebab PTSP di daerah sebenarnya sudah berjalan baik (melalui kerangka 7 regulasi
PP nomor 18/ 2016 tentang perangkat daerah). Namun, ada kendala yang perlu
disempurnakan, antara lain sebagian besar perizinan bergantung pada dinas
teknisnya sehingga terjadi kelambatan proses; beberapa pemda belum
mengikat perizinan dengan sertifikasi ISO sehingga ada celah tidak terkontrol dan
tidak transparan sehingga menjadi temuan lembaga pengawasan. Oleh karena itu,
Kemenpan RB mendorong penuh upaya penyederhanaan perizinan melalui satu
sistem aplikasi yang terintegrasi yang juga bernama -- one single submission
tersebut, dan juga memang sejalan dengan pembangunan sistem pemerintahan
berbasis elektronik (e-government) sebagaimana perpres nomor 95/ 2018. Hingga
sekarang, tahapannya masih pada identifikasi terhadap bentuk proses bisnis dan
tata kelola data lintas instansi yang mengintegrasikan karakter format dan definisi
data yang berbeda; integrasi layanan dan interoperabilitas data yang membutuhkan
rekayasa aplikasi ulang; serta pembentukan arsitektur spbe untuk menyamakan cara
pandang bagi integrasi pelayanan publik.
Berdasarkan evaluasi, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota, juga
semakin berlomba untuk membangun Mal Pelayanan Publik. Mal Pelayanan Publik
sebagai the new public service adalah jawaban bagi harapan publik tentang
kemudahan perijinan, kecepatan pelayanan dan akhirnya mendorong kemudahan
berusaha, meningkatkan pertumbuhan industri mikro maupun ekonomi
makro.Melalui MPP, pola pikir yang ego sektoral antar instansi diubah menjadi kerja
bersama yang berfokus pada komitmen melayani masyarakat. Bahkan, MPP mampu
menjadi inkubator bagi tumbuhnya pelayanan pemerintah yang 9 mengadopsi
teknologi, serta menjadi wahana leadership yang melahirkan para ASN teladan
berjiwa hospitality.
MPP menjadi media untuk membangun sistem kerja dan sinergi yang utuh,
mempraktikkan perubahan budaya kerja yang melayani, panggung untuk
menampilkan wajah birokrasi yang mengadopsi the new public service, sehingga
benar-benar merepresentasikan kehadiran negara untuk memberikan manfaat luas
bagi kepentingan dan kemakmuran masyarakat

Soal Mendeskripsikan rumusan kasus dan/ atau masalah


pokok, aktor yang terlibat dan persan setiap aktornya
berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Jawaban Anda Selama ini masih banyak kekurangan dari penyedia


layanan publik sebagaimana yang dirumuskan dalam
seminar evaluasi kualitas pelayanan publik
dinyatakan bahwa terdapat beberapa permasalahan
dalam pelayanan publik. Diantaranya masih sedikit
instansi yang wajib memberikan layanan yang
berstandar operasional prosedur, dan adanya
kejelasan. Masih ada beberapa instansi penanggung
jawab dan penyedia layanan yang masih belum
mempunyai SOP berupa alur dan prosedur yang
jelas dalam menyediakan pelayanan. Aspek durasi
waktu pemberian layanan masih belum ada sehingga
kurang efektif dan efisien serta dapat merugikan
waktu masyarakat yang sedang mengakses
pelayanan. Saat ini hanya beberapa penyedia
layanan yang telah memiliki durasi waktu pemberian
layanan seperti perpanjangan surat kendaraan yang
sudah memiliki standar SOP dan durasi waktu
pengurusan pelayanan. Dalam konteks pemberian
pelayanan, seringkali ditemukan ketidakmampuan
petugas pemberi layanan disebabkan karena
kompetensi yang rendah serta kurang sesuai dengan
pekerjaan untuk menyediakan pelayanan yang baik;
Masih ada penyedia layanan yang bersikap kurang
ramah, kurang sopan atau tidak jelas dalam
berbicara, memberitahukan suatu informasi dengan
tidak ramah/santun. Selain itu masih ada penyedia
layanan masih belum menggunakan sarana
prasarana yang layak serta sesuai kebutuhan
konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel,
ruang laktasi, antrian khusus bagi lansia, dan sistem
konektivitas jaringan komputer, internet sehingga
pada saat pengurusan layanan yang membutuhkan
koneksi server pusat, layanan tidak dapat diberikan
karena tidak ada koneksi jaringan.Namun, ada
kendala yang perlu disempurnakan, antara lain
sebagian besar perizinan bergantung pada dinas
teknisnya sehingga terjadi kelambatan proses;
beberapa pemda belum mengikat perizinan dengan
sertifikasi ISO sehingga ada celah tidak terkontrol
dan tidak transparan sehingga menjadi temuan
lembaga pengawasan.
Soal Melakukan analisis terhadap : A. Bentuk penerapan
dan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar PNS, dan
Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS
dan NKRI oleh setiap aktor yang terlibat berdasarkan
konteks deskripsi kasus. B. Dampak tidak
diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan
tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI
berdasarkan konteks deskripsi kasus

Jawaban Anda a. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai


- nilai dasar PNS, dan Pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS dan NKRI oleh setiap
aktor yang terlibat berdasarkan konteks deskripsi
kasus adalah banyaknya sebagian besar perizinan
bergantung pada dinas teknisnya sehingga terjadi
kelambatan proses; beberapa pembanda belum
mengikat perizinan dengan sertifikasi ISO sehingga
ada celah tidak terkontrol dan tidak transparan
sehingga menjadi temuan lembaga pengawasan. b.
Dampak tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS
dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS
dalam NKRI berdasarkan konteks deskripsi kasus
adalah Dalam konteks pemberian pelayanan,
seringkali ditemukan ketidakmampuan petugas
pemberi layanan disebabkan karena kompetensi
yang rendah serta kurang sesuai dengan pekerjaan
untuk menyediakan pelayanan yang baik; Masih ada
penyedia layanan yang bersikap kurang ramah,
kurang sopan atau tidak jelas dalam berbicara,
memberitahukan suatu informasi dengan tidak
ramah/santun. Selain itu masih ada penyedia
layanan masih belum menggunakan sarana
prasarana yang layak serta sesuai kebutuhan
konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel,
ruang laktasi, antrian khusus bagi lansia, dan sistem
konektivitas jaringan komputer, internet sehingga
pada saat pengurusan layanan yang membutuhkan
koneksi server pusat, layanan tidak dapat diberikan
karena tidak ada koneksi jaringan.

Soal Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternatif


pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi
kasus

Jawaban Anda Kemenpan RB mendorong penuh upaya


penyederhanaan perizinan melalui satu sistem
aplikasi yang terintegrasi yang juga bernama -- one
single submission tersebut, dan juga memang
sejalan dengan pembangunan sistem pemerintahan
berbasis elektronik(egovernment) sebagaimana
perpres nomor 95/ 2018.Berdasarkan evaluasi,
pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota, juga
semakin berlomba untuk membangun Mal Pelayanan
Publik. MPP menjadi media untuk membangun
sistem kerja dan sinergi yang utuh, mempraktikkan
perubahan budaya kerja yang melayani, panggung
untuk menampilkan wajah birokrasi yang
mengadopsi the new public service, sehingga benar-
benar merepresentasikan kehadiran negara untuk
memberikan manfaat luas bagi kepentingan dan
kemakmuran masyarakat

Anda mungkin juga menyukai