Anda di halaman 1dari 32

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)

SYARAT-SYARAT TEKNIS PEKERJAAN UNTUK REHABILITASI DERMAGA PULAU KUIL

PASAL 1 :UMUM

1.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang dimaksud termasuk penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu
lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan yang meliputi :
 Pekerjaan Persiapan, Survey Awal Site, Penentuan Peil dan Serah Terima Lapangan.
 Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi
 Pekerjaan Pengujian Slumptest yang dipakai yaitu 12 ± 2 cm untuk struktur ataas dan 16-18 ± 2 cm
untuk struktur bawah dengan penambahan integral waterproofing.
 Pekerjaan Pembersihan Lokasi Site
 Pekerjaan Pengukuran dan Pemasangan Patok Pembatas.
 Pembuatan Direksikeet dan Bangsal Kerja.

Apabila ada Pekerjaan tanah yang tidak tercantum dalam lingkup pekerjaan diatas kontraktor dapat melihat
penjelasan yang lebih detail pada gambar kerja dan daftar kuantitas pekerjaan. Semua pekerjaan yang
termasuk dalam ruang lingkup Pekerjaan yang tidak dijelaskan dalam RKS akan dijelaskan kemudian dalam
Risalah Aanwijzing dan pihak Kontraktor harus melaksanakannya sesuai gambar kerja. Penjelasan mengenai
Pekerjaan tersebut diatas akan dijelaskan dalam point–point penjelasan termasuk segala jenis peralatan,
bahan dan teknis pekerjaan.

1.2. Persiapan Pelaksanaan


Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari dengan seksama Gambar Kerja. Kontraktor
harus sudah memperhitungkan segala kondisi di lapangan termasuk Akses Sementara Lalu Lintas Sekitar
Lokasi Pekerjaan.

1.3. Penyedia harus mengamankan/melindungi hasil paket pekerjaan sebelumnya maupun yang sedang berjalan
termasuk bahan/komponen/instalasi existing yang dipertahankan diarea kerja agar tidak rusak atau cacat.
Standar / Rujukan
Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor harus tunduk kepada :
a. Undang – Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
b. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah beserta perubahannya.
c. Peraturan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 43/PRT/M/2007 tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 45/PRT/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara.
e. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 441/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Bangunan
Gedung
f. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 468/KPTS/1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas
pada Bangunan Umum dan Lingkungan
g. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan
Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
h. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen
Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
i. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah No. 58/KPTS/DM/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada
Bangunan Gedung.
j. Peraturan umum Pemeriksaan Bahan-bahan Bangunan (PUPB NI-3/56)
k. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971)
l. Peraturan Umum Bahan Nasional (PUBI 982)
m. Peraturan Perburuhan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
n. Peraturan-peraturan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
o. SKSNI T-15-1991-03
p. Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI)
q. Algemenee Voorwarden (AV)

1
1.5. Dokumen Kontrak

a. Dokumen Kontrak yang harus dipatuhi oleh Kontraktor terdiri atas :


 Surat Perjanjian Pekerjaan
 Surat Penawaran Harga dan Perincian Penawaran
 Gambar-gambar Kerja/Pelaksanaan
 Rencana Kerja dan Syarat-syarat
 Addendum yang disampaikan kepada Pengawas Lapangan selama masa pelaksanaan

b. Penyedia wajib untuk meneliti gambar-gambar, RKS dan dokumen kontrak lainnya yang berhubungan.
Apabila terdapat perbedaan/ketidak-sesuaian antara RKS dan gambar-gambar pelaksanaan, atau
antara gambar satu dengan lainnya, Kontraktor wajib untuk memberitahukan/melaporkannya kepada
Pengawas Lapangan. Persyaratan teknik pada gambar dan RKS yang harus diikuti adalah :
1. Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dengan gambar detail, maka gambar detail yang
diikuti.
2. Bila skala gambar tidak sesuai dengan angka ukuran, maka ukuran dengan angka yang diikuti,
kecuali bila terjadi kesalahan penulisan angka tersebut yang jelas akan menyebabkan
ketidaksempurnaan/ketidaksesuaian konstruksi, harus mendapatkan keputusan Konsultan
Pengawas lebih dahulu.
3. Bila tedapat perbedaan antara RKS dan gambar, maka RKS yang diikuti kecuali bila hal tersebut
terjadi karena kesalahan penulisan, yang jelas mengakibatkan kerusakan/kelemahan konstruksi,
harus mendapatkan keputusan Konsultan Pengawas.
4. RKS dan gambar saling melengkapi bila di dalam gambar menyebutkan lengkap sedang RKS
tidak, maka gambar yang harus diikuti demikian juga sebaliknya.
5. Yang dimaksud dengan RKS dan gambar di atas adalah RKS dan gambar setelah mendapatkan
perubahan/penyempurnaan di dalam berita acara penjelasan pekerjaan.
c. Bila akibat kekurangtelitian Penyedia Pelaksana dalam melakukan pelaksanan pekerjaan, terjadi
ketidaksempurnaan konstruksi atau kegagalan konstruksi, maka Penyedia atau Pelaksana harus
melaksanakan pembongkaran terhadap konstruksi yang sudah dilaksanakan tersebut dan
memperbaiki/ melaksanakannya kembali setelah memperoleh keputusan Konsultan Pengawas tanpa
ganti rugi apapun dari pihak-pihak lain.

1.6. Sarana Kerja


1.6.1. Tenaga Kerja terampil dan tenaga kerja ahli yang sudah cukup memadai dengan jenis dan
volume pekerjaan yang akan dilaksanakan.
1.6.2. Alat-alat bantu seperti kendaraan operasional lapangan, pompa air, alat-alat penarik, pengangkat
dan pengangkut horizontal dan vertikal, genset untuk penerangan kerja malam, alat-alat gali, bor
tanah, alat penyipat datar (theodolit, waterpas dan lain-lain ), alat-alat bongkar, truck serta
peralatan lain yang benar-benar diperlukan dan dipakai dalam pelaksanaan.
1.6.3. Bahan-bahan untuk pekerjaan jalan /sarana & prasarana bangunan / jalan penunjang bangunan
dalam jumlah yang cukup, untuk setiap macam pekerjaan yang akan dilaksanakan, paling lambat
sudah tersedia 4 (empat) hari sebelum pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud dimulai.

1.7. Cara Pelaksanaan


Semua macam pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian dan keterampilan, sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), gambar bestek, Berita Acara
Aanwijzing, petunjuk-petunjuk pelaksanaan dari produsen untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu serta
petunjuk dari AHLI/PENGAWAS.

1.7.1. Pembongkaran ataupun perubahan yang berkaitan dengan kondisi exsisting, harus dikoordinasikan
terlebih dahulu sebelum pelaksanaan.
1.7.2. Pada dasarnya pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pembangunan Rumah Dinas, yang harus
dilaksanakan sesuai Gambar Perencanaan dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat yang telah
ditetapkan dan disetujui
1.7.3. Bahan-bahan finishing khusus untuk permukaan jalan lingkungan, dan hal-hal khusus lainnya,
harus dilaksanakan sesuai spesifikasi dan petunjuk Pabrik yang bersangkutan.
1.7.4. Semua pertemuan/sambungan antara jalan baru ( hasil pekerjaan ) dengan jalan yang belum
dipelihara harus rapih sehingga pengguna jalan merasa nyaman.

1.8. Jenis dan Mutu Bahan


Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan produksi dalam negeri sesuai dengan keputusan Menteri
Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menpan Nomor : 64/ MENPAN/1980 tanggal 23
Desember 1980. Dalam spesifikasi agar menggunakan sebanyak mungkin standar nasional (SNI, SII, SKSNI,
dsb) untuk barang, bahan dan jasa/ pengerjaan/ pabrikasi dari edisi atau revisi terakhir, atau standar

2
internasional (ISO, dsb)/ standar negara asing (ASTM, dsb) padanannya (equivalennya) yang secara
substantif sama atau lebih tinggi dari standar nasional yang disyaratkan. Apabila standar nasional untuk
barang, bahan, dan pengerjaan/ jasa/ pabrikasi tertentu belum ada, dapat digunakan standar internasional
atau standar negara asing.

1.9. Perubahan Pekerjaan


Apabila ada perubahan-perubahan yang merupakan penambahan atau pengurangan pekerjaan untuk
kesempurnaan dalam menyelesaikan proyek dan tidak dapat dihindari, dapat dilakukan pekerjaan tambah-
kurang.

1.10. Situasi Dan Ukuran


1.10.1. Situasi
1.10.1.1. Pekerjaan tersebut dalam Pasal 1 terletak di Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
1.10.1.2. Kondisi Area yang akan ditempati Dermaga ini adalah daerah lepas Pantai. Pada
saat Penyedia memasuki lapangan, kondisi lahan sudah aman, terpisah dengan
aktifitas yang lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan ini, tidak terdapat
hal-hal yang mengganggu terhadap kelancaran pelaksanaan pekerjaan , Penyedia
diwajibkan membersihkan dan mempersiapkan lahan untuk siap pelaksanaan.
1.10.1.3. Penyedia wajib meneliti situasi medan, terutama keadaan area kerja yang ada,
sifat dan luasnya pekerjaan dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi harga
penawarannya.
1.10.1.4. Kelalaian atau kekurang telitian Penyedia dalam hal ini tidak dapat dijadikan
alasan untuk mengajukan klaim.
1.10.1.5. Bahan-bahan yang dicantumkan pada RKS ini adalah SETARA (baik yang diawali
kata ‘setara’ atau tidak). Pencantuman nama ‘merk’ atau ‘produk’ adalah indikasi
bahan yang akan digunakan dan sebagai pedoman penawaran bagi Penyedia serta
sebagai acuan apabila Penyedia mengajukan usulan perubahan bahan.
1.10.2. Ukuran
1.10.2.1. Ukuran-ukuran dalam pasal terdahulu, dimaksudkan sebagai garis besar pelaksanaan
dan pegangan Penyedia
1.10.2.2. Ukuran-ukuran yang digunakan disini semuanya dinyatakan dalam cm, kecuali
ukuran-ukuran untuk Baja/Besi Profil yang dinyatakan dalam inch atau mm.
Dibawah pengamatan Konsultan Perancang/Pengawas, Penyedia diwajibkan
membuat titik duga sebagai pedoman untuk elevasi Bangunan yang akan dibuat.

1.11. Gambar-Gambar Dokumen

a. Dalam hal terjadi perbedaan dan atau pertentangan dalam gambar-gambar yang ada (AR, ST dan


ME) dalam   buku   Uraian   Pekerjaan   ini, maupun pekerjaan yang terjadi akibat
keadaan dilokasi, Kontraktor diwajibkan melaporkan hal tersebut kepada Perencana atau Pengawas
secara tertulis   untuk mendapatkan keputusan pelaksanaan di lokasi setelah Pengawas berunding
terlebih dahulu dengan Perencana. Ketentuan tersebut diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh
Kontraktor untuk memperpanjang waktu pelaksanaan.
b. Semua ukuran yang tertera dalam gambar adalah ukuran jadi, dalam keadaan selesai/terpasang.
c. Mengingat   masalah   ukuran   ini   sangat   penting, Kontraktor diwajibkan memperhatikan dan meneliti
terlebih dahulu semua ukuran yang tercantum seperti peil-peil, ketinggian, lebar ketebalan, luas
penampang dan lain-lainnya sebelum memulai pekerjaan. Bila ada keraguan mengenai ukuran atau bila
ada ukuran yang belum dicantumkan dalam gambar, Kontraktor wajib melaporkan hal tersebut secara
tertulis kepada Konsultan Pengawas. Konsultan Pengawas memberikan keputusan standar ukuran yang
akan dipakai dan dijadikan pegangan setelah terlebih dahulu berunding dengan Perencana.

d. Kontraktor   tidak   dibenarkan mengubah dan atau mengganti ukuran-ukuran yang tercantum di dalam


gambar pelaksanaan tanpa sepengetahuan Pengawas. Bila hal tersebut terjadi, segala akibat yang akan
ada menjadi tanggung jawab Kontraktor baik dari segi biaya maupun waktu.
e. Kontraktor harus selalu menyediakan dengan lengkap masing-masing dua salinan, semua gambar-
gambar, spesifikasi teknis, agenda, berita-berita perubahan dan gambar-gambar pelaksanaan yang
telah disetujui ditempat pekerjaan.
Dokumen-dokumen ini harus dapat dilihat Konsultan Pengawas dan Direksi setiap saat sampai
dengan serah terima kesatu. Setelah serah terima kesatu, dokumen-dokumen tersebut akan 
didokumentasikan oleh Pemberi Tugas.

3
1.12 Gambar-Gambar Pelaksanaan dan Contoh-Contoh

a. Gambar-gambar pelaksanaan (shop  drawing)  adalah gambar-gambar, diagram, ilustrasi, jadwal, brosur


atau data yang disiapkan Kontraktor atau Sub Kontraktor , Supplier atau Produsen yang
menjelaskan bahan-bahan atau sebagian pekerjaan.
b. Contoh-contoh adalah  benda-benda  yang  disediakan  Kontraktor  untuk menunjukkan bahan,
kelengkapan  dan kualitas  kerja.  Hal tersebut akan dipakai oleh Konsultan Pengawas sebagai standar
untuk mengawasi pekerjaan kontraktor, setelah disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan Perencana.
c. Kontraktor akan memeriksa, menandatangani  persetujuan dan menyerahkan dengan segera semua
gambar-gambar pelaksanaan dan contoh-contoh yang disyaratkan dalam Dokumen Kontrak atau oleh
Konsultan Pengawas.
d. Gambar-gambar pelaksanaan dan contoh-contoh  harus diberi tanda-tanda sebagaimana
ditentukan Konsultan Pengawas.  Kontraktor harus melampirkan keterangan  tertulis mengenai setiap
hal-hal yang berbeda dengan Dokumen Kontrak jika ada hal yang demikian.
e. Dengan menyetujui dan   menyerahkan   gambar-gambar  pelaksanaan  atau contoh-contoh
dianggap Kontraktor telah meneliti dan menyesuaikan setiap gambar atau contoh tersebut dengan
Dokumen Kontrak.
f. Konsultan Pengawas dan Perencana akan memeriksa dan menolak atau menyetujui gambar-gambar
pelaksanaan atau contoh-contoh dalam waktu segera mungkin, sehingga tidak mengganggu jalannya
pekerjaan.
g. Kontraktor akan melakukan perbaikan-perbaikan  yang  diminta  Konsultan Pengawas dan menyerahkan
kembali semua gambar-gambar pelaksanaan dan contoh-contoh untuk disetujui.
h. Persetujuan Konsultan Pengawas terhadap gambar-gambar pelaksanaan dan contoh-contoh, tidak
membebaskan Kontraktor  dari  tanggung  jawabnya atas perbedaan dengan Dokumen Kontrak, apabila 
perbedaan tersebut tidak diberitahukan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas.
i. Semua   pekerjaan   yang   memerlukan    gambar-gambar pelaksanaan atau contoh-contoh yang
harus disetujui Konsultan Pengawas, tidak boleh   di laksanakan sebelum ada persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas.
j. Gambar-gambar  pelaksanaan  atau  contoh-contoh  harus  dikirimkan Pengawas kepada Konsultan
Pengawas dalam  dua  salinan, Konsultan Pengawas akan memeriksa dan mencantumkan  keterangan
"Telah Diperiksa Tanpa Perubahan " atau "  Telah “Diperiksa Dengan Perubahan" atau "Ditolak".
Satu salinan ditahan oleh Konsultan Pengawas untuk arsip, sedangkan yang kedua dikembalikan
kepada Kontraktor untuk diserahkan atau diperlihatkan kepada Sub Kontraktor atau yang bersangkutan
lainnya.
k. Sebutan katalog atau barang cetakan, hanya boleh diserahkan apabila menurut Konsultan Pengawas
hal-hal yang sudah ditentukan dalam katalog atau barang cetakan tersebut sudah jelas dan tidak perlu
dirubah. Barang cetakan ini juga harus diserahkan dalam dua rangkap untuk masing-masing jenis dan
diperlukan sama seperti butir di atas.
l. Contoh-contoh yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis harus dikirimkan kepada Konsultan Pengawas
dan Perencana.
m. Biaya pengiriman gambar-gambar pelaksanaan, contoh-contoh, katalog-katalog kepada Konsultan
Pengawas dan Perencana menjadi tanggung jawab Kontraktor.

1.13 Shop Drawing

a. Harus selalu dibuat gambar pelaksanaan dari semua komponen struktur berdasarkan disain yang ada


dan harus dimintakan persetujuan tertulis dari Pengawas.
b. Gambar pelaksanaan ini harus memberikan semua data-data yang diperlukan termasuk keterangan
produk bahan, keterangan pemasangan, data-data tertulis, dan hal-hal lain yang diperlukan.
c. Kontraktor bertanggung jawab terhadap semua kesalahan-kesalahan detail fabrikasi dan ketepatan
penyetelan atau pemasangan semua bagian konstruksi Baja/Besi Profil.
d. Semua bahan untuk pekerjaan Baja/Besi Profil difabrikasikan di workshop, kecuali atas persetujuan
Pengawas.
e. Semua baut, baik yang dikerjakan di workshop maupun di lapangan   harus selalu memberikan kekuatan
yang sebenarnya dan masuk tepat pada lubang baut tersebut.
f. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambahan di lapangan pada waktu pemasangan yang diakibatkan
oleh kurang teliti atau kelalaian Kontraktor, harus dilakukan atas biaya Kontraktor.
g. Keragu-raguan terhadap kebenaran dan kejelasan gambar dan     spesifikasi harus ditanyakan kepada
Pengawas/Perencana.
h. Kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-gambar "As Built Drawing" sesuai dengan pekerjaan
yang telah dilakukan   di   lapangan secara kenyataan, untuk kebutuhan pemeriksaan di kemudian hari.
Gambar-gambar tersebut diserahkan kepada Pengawas.

4
1.14 Nama Pabrik atau Merek yang ditentukan

Apabila  pada Spesifikasi Teknis ini  disebutkan  nama  pabrik/merk  dari satu  jenis bahan/komponen,
maka Kontraktor menawarkan dan memasang sesuai dengan yang ditentukan. Jadi tidak ada alasan bagi
kontraktor pada waktu pemasangan menyatakan barang tersebut sudah tidak terdapat lagi dipasaran
ataupun sukar didapat dipasaran. Untuk barang-barang yang harus diimport, segera setelah ditunjuk
sebagai pemenang, Kontraktor harus sesegera mungkin memesan pada agennya di Indonesia.

Apabila Kontraktor telah berusaha untuk memesan namun pada saat pemesanan bahan/merek tersebut
tidak/sukar diperoleh, maka Perencana dengan persetujuan tertulis dari Pemberi Tugas akan
menentukan sendiri alternatip merek lain dengan spesifikasi minimum yang sama.  Setelah 1 (satu)
bulan penunjukan pemenang, Kontraktor harus memberikan kepada pemberi   tugas
fotocopy dari pemesanan material yang diimport pada agen ataupun importir lainnya, yang
menyatakan bahwa material-material tersebut telah dipesan (order import).

1.15 Contoh-Contoh

a. Contoh-contoh material yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas atau wakilnya harus segera disediakan
atas biaya Kontraktor dan contoh-contoh tersebut diambil dengan jalan atau cara
sedemikian rupa, sehingga   dapat dianggap bahwa bahan atau pekerjaan tersebutlah yang akan dipakai
dalam pelaksanaan pekerjaan nanti. Contoh-contoh tersebut jika telah disetujui, disimpan oleh Pemberi
Tugas atau wakilnya untuk dijadikan dasar penolakan tidak sesuai dengan contoh, baik kualitas maupun
sifatnya.
b. Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-barang contoh (sample) dari material yang akan dipakai
atau dipasang, untuk mendapatkan persetujuan Pengawas.
c. Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampiri dengan tanda   bukti atau sertifikat pengujian
dan spesifikasi   teknis   dari    barang-barang atau material-material tersebut.
d. Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site (melalui pemesanan), maka
Kontraktor diwajibkan menyerahkan Brosur, katalog, gambar kerja atau shop drawing, konster   dan
sample, yang dianggap perlu oleh Perencana atau Pengawas dan harus mendapatkan persetujuan
Perencana atau Pengawas.

1.16 Sub Situasi

a. Produk yang disebutkan nama pabriknya :


Material, peralatan, perkakas, aksesoris    yang disebutkan nama pabriknya dalam Spesifikasi Teknis,
Kontraktor harus melengkapi produk yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis, atau dapat mengajukan
produk pengganti yang setara, disertai data-data yang   lengkap untuk mendapatkan persetujuan
Konsultan Perencana sebelum pemesanan. Produk yang tidak disebutkan nama pabriknya.

b. Material, peralatan, perkakas, aksesoris dan produk-produk yang tidak disebutkan nama pabriknya


di dalam Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus mengajukan secara tertulis nama negara dari pabrik yang
menghasilkannya, katalog   dan selanjutnya menguraikan   data yang menunjukkan secara
benar bahwa produk-produk yang dipergunakan  adalah sesuai dengan Spesifikasi Teknis dan kondisi
proyek untuk mendapatkan persetujuan dari Pemilik /Perencana/ Pengawas.

1.17 Material dan Tenaga Kerja

Seluruh peralatan, material yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus baru, dan material harus tahan


terhadap iklim tropik.

Seluruh peralatan harus dilaksanakan dengan cara yang benar dan setiap pekerja harus mempunyai
ketrampilan yang memuaskan, dimana latihan khusus bagi Pekerja sangat diperlukan dan Kontraktor
harus melaksanakannya.

Kontraktor harus melengkapi surat Sertifikat yang sah untuk setiap personil ahli yang menyatakan bahwa
personal tersebut telah mengikuti latihan-latihan khusus ataupun mempunyai pengalaman-pengalaman
khusus dalam bidang keahlian masing-masing.

1.18 Klausal Disebutkan Kembali

Apabila dalam Dokumen Tender ini ada klausal-klausal yang disebutkan kembali pada butir lain, maka ini
bukan berarti menghilangkan butir tersebut tetapi dengan pengertian lebih menegaskan masalahnya.

5
Jika terjadi hal yang saling bertentangan antara gambar atau terhadap Spesifikasi Teknis, maka diambil
sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot teknis dan atau yang mempunyai bobot biaya yang
paling tinggi.

Pemilik proyek dibebaskan dari hak patent dan lain-lain untuk segala "claim" atau tuntutan terhadap hak-
hak khusus.

1.19 Koordinasi Pekerjaan

a. Untuk kelancaran pekerjaan ini, harus   disediakan koordinasi dari seluruh bagian yang terlibat didalam


kegiatan proyek ini. Seluruh aktifitas yang menyangkut dalam proyek ini, harus di koordinir lebih dahulu
agar gangguan dan konflik satu dengan lainnya dapat dihindarkan. Melokalisasi atau memerinci setiap
pekerjaan sampai dengan detail untuk menghindari gangguan dan konflik, serta harus mendapat
persetujuan dari Konsultan/Pengawas.
b. Kontraktor harus melaksanakan segala pekerjaan menurut uraian dan syarat-syarat pelaksanaan,
gambar-gambar dan instruksi- instruksi tertulis dari Pengawas.
c. Pengawas berhak memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor pada setiap waktu.
Bagaimanapun juga kelalaian Pengawas dalam pengontrolan terhadap kekeliruan-kekeliruan atas
pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor, tidak berarti Kontraktor bebas dari tanggung jawab.
     Pekerjaan yang tidak memenuhi uraian dan syarat- syarat pelaksanaan (spesifikasi) atau gambar
atau instruksi tertulis dari Pengawas harus diperbaiki atau dibongkar. Semua biaya yang diperlukan
untuk ini menjadi tanggung jawab kontraktor.

1.20 Perlindungan Terhadap Orang, Harta Benda dan Pekerjaan

a. Perlindungan terhadap milik Umum :

Kontraktor harus menjaga jalan umum, jalan kecil dan jalan   bersih dari alat-alat mesin, bahan-bahan
bangunan dan sebagainya serta memelihara kelancaran lalu lintas, baik bagi kendaraan maupun  pejalan
kaki  selama kontrak berlangsung.

c. Orang-orang yang tidak berkepentingan :

Kontraktor   harus   melarang siapapun   yang   tidak berkepentingan memasuki tempat pekerjaan


dan dengan tegas memberikan perintah kepada ahli tekniknya yang bertugas dan para penjaga.

d. Perlindungan terhadap bangunan yang ada :


Selama masa-masa pelaksanaan kontrak, Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan
bangunan yang   ada, utilitas, jalan-jalan, saluran-saluran pembuangan dan sebagainya
ditempat pekerjaan, dan kerusakan-kerusakan sejenis yang disebabkan operasi-operasi Kontraktor,
dalam arti kata yang luas. Itu semua harus diperbaiki oleh Kontraktor hingga dapat diterima Pemberi
Tugas.

e. Penjagaan dan perlindungan pekerjaan :


Kontraktor bertanggung   jawab   atas penjagaan, penerangan dan perlindungan terhadap
pekerjaan yang dianggap penting selama pelaksanaan Kontrak, siang dan malam. Pemberi tugas
tidak bertanggung jawab terhadap Kontraktor, atas kehilangan atau kerusakan bahan-bahan bangunan
atau peralatan atau pekerjaan yang sedang dalam pelaksanaan.

f. Kesejahteraan, Keamanan dan Pertolongan Pertama :


Kontraktor harus mengadakan dan memelihara fasilitas kesejahteraan dan tindakan pengamanan yang
layak untuk melindungi para pekerja dan tamu yang akan datang ke lokasi. Fasilitas dan tindakan
pengamanan seperti ini di syaratkan harus memuaskan Pemberi Tugas dan juga harus menurut atau
memenuhi ketentuan Undang-undang yang berlaku pada waktu itu. Di site pekerjaan, Kontraktor
wajib mempersiapkan perlengkapan medis yang cukup untuk pertolongan pertama. Sebagai tambahan
hendaknya ditiap site ditempatkan paling sedikit seorang petugas yang telah dilatih dalam hal-hal
mengenai pertolongan pertama.

g. Gangguan pada tetangga :


Segala pekerjaan yang menurut Pemberi Tugas mungkin akan menyebabkan adanya gangguan pada
penduduk yang berdekatkan, hendaknya dilaksanakan pada waktu-waktu sebagainya Pemberi Tugas
akan menentukannya dan tidak akan ada tambahan penggantian uang yang akan diberikan
kepada Kontraktor sebagai tambahan, yang mungkin ia keluarkan.

6
1.21 Peraturan Hak Paten

Kontraktor harus melindungi Pemilik ( Owner) terhadap semua "claim" atau tuntutan, biaya atau kenaikan
harga karena bencana, dalam hubungan dengan merek dagang atau nama produksi, hak cipta pada semua
material dan peralatan yang digunakan dalam proyek ini.

1.22 Iklan

Kontraktor tidak   diijinkan   membuat iklan   dalam bentuk apapun di dalam sempadan (batas) site atau


ditanah yang berdekatan tanpa seijin dari pihak Pemberi Tugas

Pasal - 2 : URAIAN UMUM :

Pekerjaan meliputi :
a. Mendatangkan bahan-bahan dan tenaga kerja, pengadaan alat-alat bantu, pengolahan dan
sebagainya yang pada umumnya langsung atau tidak langsung termasuk dalam usaha
menyelesaikan dengan baik dan menyerahkan pekerjaan yang lengkap dan sempurna.
Termasuk juga pekerjaan-pekerjaan atau bagian pekerjaan yang walaupun tidak jelas
disebutkan dalam rencana kerja dan syarat-syarat dan gambar-gambar, tetapi masih berada
dalam lingkungan pekerjaan berdasarkan kebiasaan yang berlaku dalam bidang
pembangunan, harus dilaksanakan sesuai dengan bentuk petunjuk petunjuk Direksi Lapangan.
b. Tanah / tempat / kondisi Area kerja dalam keadaan pada waktu penawaran, termasuk segala
sesuatu yang berada disitu, diserahkan tanggung jawabnya kepada Pemborong.
c. Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan, Pemborong berkewajiban :
c.1. Membersihkan area kerja yang akan digunakan untuk pembangunan Dermaga ini dari
hal - hal yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan.
c.2. Mengadakan penimbunan (bila diperlukan) dengan tanah timbunan serta
memadatkannya kembali sampai padat dan mencapai suatu petunjuk Direksi
Lapangan. Sebelum penimbunan diadakan, terlebih dulu permukaan tanah asli harus
dibersihkan dari humus dan kotoran serta sisa-sisa tanaman.
c.3. Mengadakan sumber air kerja untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan. Air kerja harus
memenuhi syarat-syarat teknis.
d. Kontraktor harus melindungi pemilik dari tuntutan atas paten, lisensi serta hak cipta yang
melekat pada barang, bahan dan jasa yang digunakan atau disediakan kontraktor untuk
pelaksanaan pekerjaan.
e. Apabila ada perbedaan antara standar yang disyaratkan dengan standar yang diajukan oleh
kontraktor, kontraktor harus menjelaskan secara tertulis kepada direksi pekerjaan, sekurang-
kurangnya 28 (dua puluh delapan) hari sebelum direksi pekerjaan menetapkan setuju
atau tidak.Dalam hal direksi pekerjaan menetapkan bahwa standar yang diajukan kontraktor
tidak menjamin secara substansial sama atau lebih tinggi dari standar yang disyaratkan
maka kontraktor harus tetap memenuhi ketentuan standar yang ditetapkan dalam dokumen
kontrak.
f. Satu perangkat spesifikasi yang tepat dan jelas merupakan kebutuhan awal bagi para calon
penawar untuk dapat menyusun penawaran yang realistis dan kompetitif sesuai dengan
kebutuhan pemilik tanpa catatan atau persyaratan lain dari penawaran mereka.
g. Kecuali ditentukan lain dalam kontrak, spesifikasi harus mensyaratkan bahwa semua barang
dan bahan yang akan digunakan dalam pekerjaan adalah baru, belum digunakan, dari
tipe/ model yang terakhir diprodusir/ dikeluarkan, dan termasuk semua penyempurnaan yang
berlaku terhadap desain dan bahan yang digunakan.
H Standar satuan ukuran yang digunakan pada dasarnya adalah MKS, sedangkan
penggunaan standar satuan ukuran lain dapat digunakan sepanjang hal tersebut tidak dapat
dielakkan.
i. Spesifikasi dapat terdiri dari :
- Lingkup pekerjaan.
- Pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk kontrak.
- S p e s i f i k a s i U m um :
Peraturan Perundang-undangan terkait, misalnya :
 UU tentang lingkungan;
 UU tentang keselamatan kerja;
 UU/ PP/ SK bersama/ KPTS tentang tenaga kerja;
 UU/ PP tentang galian C;
 Perda terkait, dsb.

7
- Dokumen acuan (berupa standar-standar) dengan memperhatikan ketentuan
tersebut pada angka 6 dan 7 diatas.
- Al i ny em en d an surv ey .
- Hari kerja dan jam kerja.
- Gangguan dan keadaan darurat.
- Penyingkiran material berlebih.
- Spesifikasi Khusus :
Lapangan
a . Bangunan/ desain/ pengerjaan spesifik.
b . Bangunan-bangunan umum dan fasilitas publik.
c. Perancah.
d . Pengaturan lalu lintas.
e . P eng end al i an l i ng k ung an.

Pasal - 3 : MOBILISASI DAN DEMOBILISASI :

3.2.1 UMUM

1) Uraian

Cakupan k egi atan mo bilisasi y ang diperl uk an d alam ko ntrak i ni ak an tergantung


pada jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan sebagaimana disyaratkan di
bagian - bagian lain dari dokumen kontrak dan secara umum harus memenuhi berikut /
a ) K e te nt ua n m o b i l i s as i u nt uk se m u a k o nt ra k
i) Penyewaan sebidang lahan yang diperlukan untuk base camp kontraktor
dan kegiatan pelaksanaan.
ii) Mobilisasi Kepala Pelaksana (General Superintendent) yang memenuhi
jaminan kualifikasi (sertifikasi) menurut cakupan p e k e r j a a n n y a
( p e m b a n g u n a n a t a u penggantian dermaga atau pemeliharaan berkala).
iii) Mobilisasi semua staf pelaksana dan pekerja yang diperlukan dalam
pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan dalam kontrak.
iv) Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan
yang tercantum dalam penawaran dari suatu lokasi asal k e tem p at
p ek erjaan d im ana p eral atan terseb ut ak an digunakan menurut
kontrak ini.
v) Penyediaan dan pemeliharaan base camp kontraktor, jika perlu termasuk
kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang, dan sebagainya.
vi) Mobilisasi yang bersifat pemasangan di darat dan di laut diperhatikan
kondisi di lapangan masing-masing.
a) Ketentuan mobilisasi kantor lapangan dan fasilitasnya untuk direksi pekerjaan
Kebutuhan ini akan disediakan dalam kontrak lain.
b) Ketentuan mobilisasi Fasilitas Pengendalian Mutu P e n y e d i a a n d a n p e m e l i h a r a a n
laboratorium lapangan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan
d a l a m s e k s i 1 . 4 . d a r i Spesifikasi ini bersama dengan peralatan laboratorium
lapangan yang t e r c a n t u m d a l a m L a m p i r a n 1 . 4 . A . G e d u n g l a b o r a t o r i u m d a n
peralatannya, yang dipasok menurut Kontrak ini, akan tetap menjadi milik
Kontraktor pada waktu proyek selesai. Bilamana penyediaan suatu laboratorium
lapangan atau peralatan laboratorium tidak secara khusus dinyatakan sebagai
bagian dari c a k u p a n p e m a s o k a n d al a m k o n t r a k i ni s e p e r t i y a n g d i s e b u t k a n
dalam data kontrak, maka fasilitas pengendalian mutu, jika perlu t e r m a s u k
f a s i l i t a s a t a u p e l a y a n a n l a b o r a t o r i u m s e p e r t i y a n g d i sy ar at k a n un tu k
m em e nu hi k e te nt ua n - k et en tu an p e ng en d a l i an m ut u d a ri sp es i f i k as i i ni h ar us
d i se tu ju i o l e h l ab o ra to ri um y a ng ditetapkan direksi pekerjaan.
c ) K eg i atan d em o b il i sasi untuk sem ua k o ntrak
Pembongkaran tempat kerja oleh kontraktor pada saat akhir periode pelaksanaan,
termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah
milik pemerintah dan pengembalian kondisi te m p at k e rj a m e nj ad i k o nd i si s ep er ti
se m u l a se b e l um p e k e rj aa n d i m u l a i . D a l a m h a l i n i , p e m i n d a h a n p e r a l a t a n
d a r i t a n a h m i l i k p em e r i n t a h ti d a k a k a n m e n g u r a n g i k e w a j i b a n k o n t r a k t o r
u n t u k menyediakan semua sumber daya yang diperlukan selama periode
pemeliharaan seperti keuangan, manajemen, peralatan, pekerja dan bahan.
8
2) Periode mobilisasi

M o b i l i s a s i d a r i s e l u r u h m a t a p e k e r j a a n y a n g t e r d a f t a r d a l a m p a s a l 1.2.1.(1)
harus diselesaikan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari t e r h i t u n g d a r i t a n g g a l
m u l ai k e r j a , k e c u a l i p e n y e d i a a n f a s i l i t a s d a n pelayanan pengendalian mutu harus
diselesaikan dalam waktu 45 ( empat puluh lima ) hari. B i l a m a n a k o n t r a k t o r g a g a l
m enyelesaikan mobilisasi fasilitas dan pelayanan pengendalian mutu seperti
y a n g d i u r a i k a n d i a t a s , m a k a ko ntraktor ak an dik enak an p engurang an sejuml ah
p emb ay aran sep erti yang disyaratkan dalam pasal 1.2.3.(2), kontraktor juga akan
dikenakan s e l u r u h b i a y a a k t u a l d i t a m b a h 1 0 % ( s e p u l u h p e r s e n ) u n t u k s e m u a
f a s i l i t a s d a n p e l a y a n a n p e n g e n d a l i a n m u t u y a n g d i l a k s a n a k a n o l e h direksi
pekerjaan atau pihak lainnya atas perintah direksi pekerjaan.

3) Pengajuan kesiapan kerja

Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi pekerjaan suatu program mobilisasi


menurut detil dan waktu yang disyaratkan dalam pasal 1.2.2 dari spesifikasi ini.
Bilamana perkuatan jembatan lama atau pembuatan jembatan darurat atau pembuatan
timbunan darurat pada jalan yang berdekatan dengan proyek diperlukan untuk
memperlancar pengangkutan peralatan, instalasi atau bahan milik kontraktor, detil
pekerjaan darurat ini juga harus diserahkan bersama dengan program mobilisasi.

3.2.2. PROGRAM MOBILISASI

1) Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah penandatangan kontrak, kontraktor harus


melaksanakan rapat pra pelaksanaan (pre construction meeting) yang dihadiri pemilik,
direksi pekerjaan, wakil direksi pekerjaan (bila ada) dan kontraktor untuk
membahas semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam proyek ini.
2) Dalam waktu 15 (lima belas) hari setelah rapat pra pelaksanaan, kontraktor harus
menyerahkan program mobilisasi (termasuk program perkuatan jembatan, bila
ada) dan jadwal kemajuan pelaksanaan kepada direksi pekerjaan untuk
dimintakan persetujuannya.
3) P r o g r am m o b i l i s as i ha ru s m en et ap k a n w ak tu u nt uk s em ua k eg i at an mobilisasi
yang disyaratkan dalam pasal 1.2.1.(1) dan harus mencakup informasi tambahan
berikut /Lokasi base camp kontraktor dengan denah lokasi umum dan denah d e t i l
d i l a p a n g a n y a n g m e n u n j u k k a n l o k a s i k a n t o r k o n t r a k t o r , b eng k el , g ud ang ,
m esi n p em ec ah b atu d an instal asi l a i n n y a , s e r t a l a b o r a t o r i u m b i l am a n a
f a si l i t a s t e r s e b u t t e r m a s u k dalam cakupan kontrak.
4) Jadw al pengi rim an peralatan y ang menunjuk kan lok asi asal dari s e m u a
p e r a l a t a n y a n g t e r c a n t u m d a l am d af t a r p e r a l a t a n y a n g d i u s u l k a n d a l a m
p e n a w a r a n b e r s a m a a n d e n g a n u s u l a n c a r a pengangkutan dan jadwal
kedatangan peralatan di lapangan.
5) Setiap perubahan pada peralatan maupun personil yang diusulkan d a l a m
p e n a w a r a n h a r u s m e m p e r o l e h p e r s e t u j u a n d a r i d i r e k s i pekerjaan.
6) Suatu d aftar detil yang menunjuk kan struktur y ang m emerl uk an perkuatan
agar aman dilewati alat - alat berat, usulan metodologi pelaksanaan dan jadwal
tanggal mulai dan tanggal selesai untuk perkuatan setiap struktur. Suatu jadwal
kemajuan yang lengkap dalam format bagan balok (bar chart) yang menunjukkan
tiap kegiatan mobilisasi utama dan suatu kurva kemajuan untuk menyatakan
persentase kemajuan mobilisasi.

Pasal – 4 : PEKERJAAN PERSIAPAN :

1.1. Pengukuran lahan / jalan yang akan dipelihara serta pemasangan patok-patok pembatas
( uitzette ), pencocokan volume jalan yang akan dilaksanakan, patok-patok untuk belokan
jalan serta kemiringan jalan.
1.2. Pemasangan patok-patok menggunakan bahan-bahan yang disetujui Direksi Pengawas.

9
1.3. Pembuatan Direksikeet , gudang bahan dan los kerja (apabila diperlukan)
a. Bahan Pokok :
 Atap : Asbes gelombang dengan rangka kayu kelas II
 Dinding : Rangka kayu kelas II lapis Triplex
 Lantai : Diplester 1 PC : 5 Psr, tebal 2 cm
b. Uraian pelaksanaan :
 Luas minimum 12,00 m2
 Didirikan pada tempat yang telah disetujui oleh Direksi atau Pemberi Tugas, cukup
representatip sebagai ruang kerja, ada KM/WC ( bila diperlukan ).
4.4. Pembuatan Papan Nama Proyek (apabila diperlukan) , ukuran ( 1,20 x 2,40 ) m dengan
bahan papan kelas III atau Multiplex 9 mm dicat putih dan tiang 5/10, huruf warna hitam atau
bisa terbuat dari bahan lain yang berupa spanduk.
4.5. Penyediaan air minum yang sehat untuk pekerja, WC dan pembuangan air kotor kamar mandi
darurat termasuk pembuangan air dari kamar mandi, dan saluran air bersih untuk WC/KM
darurat.
4.6. Instalasi listrik dalam bangunan Direksikeet, gudang material dan los kerja bila diperlukan.

Pasal – 5 : TRANSPORTASI DAN PENANGANAN

5.5.1 UMUM

1) Uraian
Seksi ini menetapkan ketentuan - ketentuan untuk transportasi dan
penanganan tanah, bahan campuran panas, bahan - bahan lain, peralatan, dan
perlengkapan. Ketentuan seksi 1.8 Pemeliharaan lalu lintas, seksi 1.11 Bahan,
harus diberlakukan sebagai pelengkap isi dari seksi ini.

5.5.2 PELAKSANAAN

1) Standard
P el ak sa na an p ek er ja an ha ru s m en g a c u p a d a p er at ur an p em er i n ta h, peraturan
daerah tingkat I dan tingkat II yang berlaku maupun ketentuan ketentuan tentang
pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.
2) Koordinasi
K o n t r a k t o r h a r u s m e m p e r h a t i k a n k o o r d i n a s i y a n g d i p e r l u k a n d a l a m k egi atan
transp o rtasi b ai k untuk p ek erjaan y ang sed ang di l ak sanak an atau y ang
sedang dil ak sanakan dal am kontrak - ko ntrak l ainya m aup un un tu k p e k e rj aa n
d e ng an su b k o nt ra k t o r at au p e ru sa ha a n uti l i t as d a n lainnya yang dipandang
perlu.
Bilamana terjadi tumpang tindih pelaksanaan antara beberapa
kontraktor, maka direksi pekerjaan harus mempunyai kekuasaan penuh untuk
memerintahkan setiap kontraktor dan berhak menentukan urutan pekerjaan
selanjutnya untuk menjaga kelancaran penyelesaian seluruh proyek dan dalam
segala hal keputusan direksi pekerjaaan harus diterima d a n d i a n g g a p s e b a g a i
k e p u t u s a n a k h i r t a n p a m e n y e b a b k a n a d a n y a tuntutan apapun.
3) Pembatasan beban transportasi
a) Bilamana diperlukan, direksi pekerjaan dapat mengatur batas beban dan
muatan sumbu untuk melindungi jalan atau jembatan yang ada di lingkungan
proyek.
b) Kontraktor harus bertanggung jawab atas setiap kerusakan jalan m a up un
j em b a ta n y a ng d i se b a b k an o l e h k eg i at an p el ak sa na an pekerjaan.
c) B i l a m a n a menurut pendapat direksi pekerjaan, kegiatan
pengangkutan yang dilakukan oleh kontraktor akan mengakibatkan kerusakan
jalan raya atau jembatan atau bilamana terjadi banjir yang dapat menghentikan
kegiatan pengangkutan kontraktor, maka direksi pekerjaan dapat
m em e r i n t a h k a n k o n t r a k t o r u n t u k m e n g g u n a k a n j a l a n a l t e r n a t i f d a n
k o n t r a k t o r t a k b e r h a k m e n g a j u k a n t u n t u t a n apapun untuk komp ensasi
tambahan sebagai akib at dari p erintah direksi pekerjaan.
4) P emb uang an bahan di luar daerah milik jalan
a) Kontraktor harus mengatur pembuangan bahan di luar daerah milik ja l a n
se b a g a i m a na d i sy ar at k a n d al am p a sa l 3. 1. 1. ( 11 ) . (d ) d a ri spesifikasi ini.
b) Bilamana terdapat bahan yang hendak dibuang di luar daerah milik jalan,
maka kontraktor harus mendapatkan ijin tertulis dari pemilik tanah dimana
10
bahan buangan tersebut akan ditempatkan, dan ijin tersebut harus ditembuskan
kepada direksi pekerjaan bersama dengan permohonan (request) untuk
pelaksanaan.
c) Bilamana bahan yang dibuang seperti yang disyaratkan diatas dan lokasi
pembuangan tersebut terlihat dari jalan maka kontraktor harus membuang bahan
tersebut dan meratakannya sedemikian hingga dapat diterima oleh direksi
pekerjaan.

Pasal 6 : PEMBERSIHAN TAPAK

6.1 Lapangan terlebih dahulu harus dibersihkan dari rumput, semak dan akar pohon.


6.2 Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih dan rata.

Pasal 7 : PENGUKURAN TAPAK KEMBALI

7.1 Kontraktor   diwajibkan mengadakan   pengukuran   dan gambaran kembali lokasi pembangunan
dengan dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah, letak pohon, letak
batas-batas tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.
7.2 Ketidak cocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan   lapangan yang sebenarnya
harus   segera dilaporkan   kepada Perencana/Pengawas untuk dimintakan keputusannya.
7.3 Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat-alat waterpass atau
Theodolith yang ketepatannya dapat dipertanggung jawabkan.
7.4 Kontraktor harus menyediakan Theodolith/waterpass beserta petugas yang melayaninya untuk
kepentingan pemeriksaan Perencanaan/Pengawas selama pelaksanaan proyek.
7.5 Pengurusan sudut siku dengan prisma atau barang secara asas Segitiga Phytagoras hanya
diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujui oleh Perencana/ Konsultan Pengawas.
7.6 Segala pekerjaan pengukuran persiapan termasuk tanggungan Kontraktor.
7.7 Tugu Patokan Dasar :
7.7.1 Letak dan jumlah tugu patokan dasar ditentukan oleh Perencana atau Konsultan Pengawas.
7.7.2 Tugu patokan dibuat dari beton berpenampang sekurang-kurangnya 20 X 20 cm, tertancap
kuat ke dalam tanah sedalam 1 m dengan bagian yang menonjol di atas muka tanah
secukupnya untuk memudahkan pengukuran selanjutnya dan sekurang-kurangnya setinggi
40 cm di atas tanah.
7.7.3 Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda yang jelas dan dijaga
keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari Perencana/Konsultan Pengawas untuk
membongkarnya.
7.7.4 Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk tanggungan Kontraktor.

7.8 Papan Dasar Pelaksanaan (Bouwplank)


7.8.1 Papan dasar pelaksanaan dipasang pada patok kayu kasau 5/7, tertancap ditanah sehingga
tidak bisa digerak-gerakkan atau diubah-ubah, berjarak maksimum 2 m satu sama lain.
7.8.2 Papan  patok  ukur dibuat dari  kayu Kls. III,  dengan ukuran tebal 3 cm, lebar 20 cm, lurus
dan diserut rata  pada sisi sebelah atasnya (waterpass).
7.8.3 Tinggi sisi atas papan patok ukur harus sama satu dengan   lainnya, kecuali dikehendaki lain
oleh Perencana/Pengawas.
7.8.4 Papan dasar pelaksanaan dipasang sejauh 300 cm dari as pondasi terluar.
7.8.5 Setelah selesai pemasangan papan dasar pelaksanaan, Kontraktor harus melaporkan kepada
Perencana/Pengawas.
7.8.6 Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan termasuk tanggungan Kontraktor.

7.9 Drainage Tapak


7.9.1 Dengan   mempertimbangkan keadaan   topographi/kontur tanah yang ada di tapak,
Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk pembuangan air yang
ada.
7.9.2 Arah aliran ditujukan ke daerah/permukaan yang terendah yang ada di tapak atau ke
saluran yang sudah ada dilingkungan daerah pembuangan.
7.9.3 Pembuatan saluran sementara harus sesuai petunjuk  dan persetujuan Pengawas.

7.10 Pagar Pengaman Proyek


7.10.1 Sebelum Kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka terlebih dahulu memberi
pagar pengaman pada sekeliling site pekerjaan yang akan dilakukan.

11
7.10.2 Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga tidak mengganggu
pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta mengamankan tempat penimbunan
bahan-bahan.
7.10.3 Dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat bertahan atau kuat sampai pekerjaan selesai.
7.10.4 Syarat Pagar Pengaman
- Pagar dari seng gelombang BJLS 20 finish cat, tinggi 180 cm, bagian yang masuk pondasi
minimum 40 cm.
- Rangka kayu Borneo ukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur menurut tinggi pagar.
- Pondasi cor beton setempat minimum penampang diameter 30 cm dalam 50 cm dari
permukaan tanah setempat. Perbandingan beton dengan adukan adalah 1 : 3 : 5.
- Lengkap pembuatan pintu masuk dari bahan yang sama.
- Pagar dicat warna dilengkapi dengan logo pada tiap jarak tertentu.
7.11 Kantor Kontraktor dan Los Kerja
7.11.1 Ukuran luas kantor Kontraktor Los Kerja serta  tempat simpan bahan, disesuaikan dengan
kebutuhan  Kontraktor dengan   mengabaikan  keamanan dan  kebersihan serta dilengkapi
dengan pemadam kebakaran.
7.11.2 Khusus untuk  tempat  simpan  bahan-bahan  seperti :  pasir,  kerikil  harus dibuatkan
kotak simpan yang dipagari  dinding  papan yang  cukup  rapat, sehingga masing-masing
bahan tidak tercampur.

7.12 Papan Nama Proyek


7.12.1 Kontraktor harus menyediakan Papan Nama Proyek yang mencantumkan nama-nama
Pemberi Tugas,   Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Kontraktor.
7.12.2 Ukuran layout dan peletakan papan nama harus  dipasang  sesuai dengan pengarahan
Konsultan Pengawas.

Pasal - 8 : TAHAPAN PEKERJAAN TIANG PANCANG :

Tiang pacang harus dirancang dan dirawat untuk memperoleh kekuatan yang diperlukan sehingga tahan terhadap
pengangkutan, penanganan, dan tekanan akibat pemancangan tanpa kerusakan. Tiang pancang segi empat harus
mempunyai sudut-sudut yang ditumpulkan. Pipa pancang berongga (hollow piles) harus digunakan bilamana panjang
tiang yang diperlukan melebihi dari biasanya.

Baja tulangan harus disediakan untuk menahan tegangan yang terjadi akibat pengangkatan, 
penyusunan dan pengangkutan tiang pancang maupun tegangan yang terjadi akibat pemncangan dan beban-
beban yang didukung. Selimut beton tidak boleh kurang dari 40 mm dan bilamana tiang pancang terekspos terhadap
air laut atau korosi lainnya, selimut beton tidak boleh kurang dari 75 mm.

12
8.1 Tiang Pancang Pipa ( PC Spun Pile Ø 300 mm ) dan Tiang Pancang Persegi 250 x 250
mm
Tiang pancang pipa ( PC Spun Pile Ø 300 mm ) terdapat pada area Laut ( Dermaga Baru ). Tiang
pancang Persegi 250 x 250 mm terdapat pada area Pelebaran Dermaga lama. Diameter tiang
pancang pipa adalah 300 mm dan tiang pancang persegi 250 x 250 mm.

 Spesifikasi Tiang:
Tiang pancang harus memenuhi spesifikasi “Prestressed Concrete Post Tension Spun Piles
(Cylinder Piles), memenuhi standard Industri Indonesia.
Diameter tiang pancang yang dipergunakan berukuran 300 mm dan 250 x 250 mm untuk yang
persegi.

13
14
8.2 Pengadaan dan Pengangkutan Tiang Pancang

 Pengadaan tiang pancang ini dilakukan setelah dilakukan Pengujian terhadap tanah yang akan dipasang
tiang pancang, hal ini dilakukan agar pekerja mengetahui jenis tanah yang ada dan juga seberapa dalam
lapisan tanah yang keras pada lokasi tersebut. Struktur pondasi pada tiang pancang dihitung  dengan
tepat agar diketahui ukuran tiang dan spesifikasi material serta kedalaman yang diperlukan tiang
pancang.
 Setelah perhitungan dilakukan, maka tiang pancang dapat diproduksi di pabrik sesuai dengan hasil dari
perhitungan tersebut/sesuai dengan desain perencanaan.
 Adapun Pengangkutan tiang pancang yang sudah selesai kepelabuhan awal dengan menggunakan truck
besar.

15
 Dan pengakutan dari Pelabuhan awal ke Pelabuhan akhir menggunakan transportasi yang sudah
disiapkan oleh supplier.
 Setelah tiang pancang sampai dipelabuhan akhir Matrial akan dipindahkan lagi ke transportasi laut
maupun darat yang telah disediakan oleh kontraktor
 Sebelum melakukan pengangkutan menuju alat pemancang/lokasi pemancangan, terlebuh dahulu
menentukan titik-titik letak pengikatan tiang.
 Titik-titik ini didsarkan pada momen-momen lentur khusus yang dikembangkan selama waktu
pengambilan tiang pancang, Beberapa letak titik pengikatan adalah sebagai berikut :

 Setelah meakukan penenuan titik, lalu dilakukan pengangkatan dilakukan dengan menggunakan Service
Crane. Dengan Service crane ,tiang dipasangkan ke alat pemancang dimana biasa alat pemancang
sudah berada tepat diarea titik pancang.

8.3 Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Tahap pertama sebelum memulai suatu pelaksanaan proyek konstruksi, harus ditentukan terlebih dahulu
suatu metode untuk melaksanakannya. organisasi suatu proses perencanaan pelaksanaan proyek konstruksi,
sangatlah penting untuk menentukan metode konstruksi terlebih dahulu, karena setiap jenis metode
konstruksi akan memberikan karakteristik pekerjaan berbeda. Penentuan jenis metode konstruksi yang dipilih
akan sangat membantu menentukan jadwal proyek. Metode konstruksi yang berbeda akan memberikan ruang
lingkup pekerjaan dan durasi yang berbeda pula, yang sudah barang tentu juga mempunyai pertimbangan
finansial dalam bentuk biaya. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi jenis ruang lingkup pekerjaan yang
dilakukan, sehingga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu:

1. Sumber daya manusia dengan skill yang cukup untuk melaksanakan suatu metode
pelaksanaan konstruksi.
2. Tersedianya peralatan penunjang pelaksanaan metode konstruksi yang dipilih.
3. Material cukup tersedia.
4. Waktu pelaksanaan yang maksimum dibanding pilihan metode konstruksi lainnya.
5. Biaya yang bersaing.

Oleh karena faktor – faktor yang mempengaruhi metode pelaksanaan seperti:


16
design bangunan, medan/lokasi pekerjaan, dan ketersediaan dari tenaga kerja, bahan, dan peralatan, seperti
sudah dijelaskan diatas, maka kadang – kadang metode pelaksanaan hanya memiliki alternatif yang terbatas.

Pada Pekerjaan ini metoda yang digunakan adalah menggunakan Diesel Hammer Pontoon
Kontraktor wajib menyediakan pontoon diesel hammers untuk pemancangan di lepas pantai, sbb:
8.3
8.3.1
8.3.2
8.3.2.1 Ukuran pontoon harus sesuai dengan beban yang akan dipikulnya, pontoon yang dipergunakan harus
pontoon yang didesain khusus untuk pekerjaan pemancangan dilaut.
8.3.2.2 Untuk pekerjaan pemancangan dilaut ini harus dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan yang
memadai.
8.3.2.3 Untuk melaksanakan pekerjaan pemancangan dilaut tersebut harus dilaksanakan oleh tenaga ahli
yang berpengalaman dibidangnya minimal 2 tahun dan telah bekerja diproject ini selama minimal 6
bulan. Project Manager berhak mengganti tenaga tersebut bila ternyata tidak memiliki kemampuan
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
8.3.2.4 Pemancangan Tiang
1. Spesifikasi teknis peralatan pancang yang akan digunakan dan set pukulan selama penetrasi terakhir
yang direncanakan harus diserahkan kepada pengawas/perencana paling sedikit 2 minggu sebelum
permulaan pemancangan, dan harus disetujui oleh pengawas/perencana.
2. Sebelum permulaan pemancangan tiang, kontraktor harus sudah melengkapi set out posisi tiang pada
site. Kontraktor juga harus melaporkan lokasi tiang dengan tepat secara tertulis kepada
pengawas/perencana.
3. Kepala tiang pancang harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel. Tiang pancang diikatkan pada
sling yang terdapat pada alat, lalu ditarik sehingga tiang pancang masuk pada bagian alat.
4. Jangan memancang tiang sampai pekerjaan tanah di daerah yang akan dipancang tiang diselesaikan.
5. Secara kontinu pemancangan tiang pada lokasi yang dinyatakan sampai mencapai kedalaman yang
diperlukan dan driving resistance yang ditentukan berdasarkan pemancangan dan pembebanan used
test pile.
6. Jika terdapat lapisan keras dekat permukaan yang harus ditembus, maka preboring harus dilakukan
untuk menembus tanah keras menggunakan continous flying auger dengan diameter lubang sedikit lebih
kecil dari penampang tiang. Speed pile dapat digunakan untuk mengurangi hard driving tiang pancang
selama tahap awal operasi pemancangan.
7. Jika sambungan diperlukan maka sambungan tiang terdiri bagian plat penyambung dapat digunakan.
Kedua bagian disambung bersama dengan las dilapangan, setelah modul tiang dipaskan pada as yang
sama. Plat baja male dan female dicor pada ujung setiap tiang yang akan disambung. Plat diangkur
kedalam bagian beton menggunakan batang tulangan, dilas ke plat kedalam kolom.
8. Apabila pemancangan dihentikan sebelum penetrasi akhir tercapai maka,pencatatan penetrasi tidak
boleh diambil sebelum penetrasi mencapai sedikitnya 300-mm pemancangan ulang ( redriving).
9. Setiap tiang yang harus dipancang vertical dan tepat pada posisi yang benar seperti dinyatakan dalam
gambar.
10. Tiang tidak boleh menyimpang lebih dari 1,0% dalam arah vertical atau ketegakan dan tidak boleh
bergeser lebih dari yang ditunjukan dalam Tabel 1.
11. Semua tiang harus dipancang secara kontinu tanpa terputus sampai penetrasi yang disyaratkan
tercapai.jumlah pukulan untuk setiap penetrasi 0,5 m harus dicatat.
12. Jika tiang dicabut karena kesalahan pemancangan, maka lubang yang terbentuk harus diurug dengan
gravel atau pasir tanpa tambahan biaya.
13. Kontraktor harus menyerahkan suat denah tiang as-built, dalam 4 copy dalam jangka waktu 10 hari
kerja sejak pemancangan tiang terakhir.
14. Laporan pemancangan tiang harus diserahkan dalam jangka waktu 24 jam setelah pemancangan,dan
laporan ini harus disetujui oleh pengawas/perencana.
Laporan pemancangan tiang ini mencangkup hal-hal sebagai berikut:
a. Lokasi tiang, nomor identifikasi,elevasi tanah.
b. Data tiang.
c. Data hammer.
d. Jenis driving cap tiang yang digunakan.

8.3.2.5 Metode Pelaksanaan Tiang Pancang

1. Persiapan Lokasi Pemancangan


Mempersiapkan lokasi dimana alat pemancang akan diletakan, tanah haruslah dapat menopang berat alat.
Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli, maka galian harus
dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan. Perhatian khusus harus diberikan agar dasar pondasi
tidak terganggu oleh penggalian diluar batasbatas yang ditunjukan oleh gambar kerja.

17
2. Persiapan Alat Pemancang
Pelaksana harus menyediakan alat untuk memancang tiang yang sesuai dengan jenis tanah dan jenis tiang
pancang sehingga tiang pancang tersebut dapat menembus masuk pada kedalaman yang telah ditentukan
atau mencapai daya dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan. Bila diperlukan, pelaksana dapat
melakukan penyelidikan tanah terlebih dahulu.

3. Penyimpanan Tiang Pancang


Tiang pancang disimpan di sekitar lokasi yang akan dilakukan pemancangan. Tiang pancangdisusun seperti
piramida, dan dialasi dengan kayu 5/10. Penyimpanan dikelompokan sesuai dengan type, diameter, dimensi
yang sama.

4. Pemancangan
Kepala tiang pancang harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel. Tiang pancang diikatkan pada
sling yang terdapat pada alat, lalu ditarik sehingga tiang pancang masuk pada bagian alat. Setelah
melakukan pemancangan, dilakukan monitoring pancang sesuai dengan from yang ditelah disetujui.

8.5 Pengawasan Pembuatan Dan Pengujian Tiang Pancang


Untuk kesiapan kerja, harus ada gambar kerja, program pemancangan, perhitungan rancangan,
rumus pemancangan, alat pancang yang digunakan, metoda penyambungan, pengujian tiang,
serta contoh dan data tiang pancang yang akan digunakan.
Toleransi:
a. Lokasi Kepala Tiang Pancang
Pergeseran lateral kepala tiang pancang dari posisi yang ditentukan dalam segala arah tidak
melebihi 75 mm.
b. Kemiringan Tiang Pancang
Penyimpangan arah Vertikal atau kemiringan yang disyaratkan 20 mm per meter (1/50) tidak
melebihi 20 mm per meter (1/50)
c. Kelengkungan (BOW)
(i) Kelengkungan tiang pancang beton cor langsung tidak melebihi 1% panjang tiang
ditempat dalam segala arah.

(ii) Kelengkungan lateral tiang pancang baja tidak melebihi 0.7% panjang total tiang pancang

Dalam hal pemancangan tiang, alat yang harus digunakan harus disesuaikan jenis dan berat tiang
yang dipancang dan harus dibuat catatan proses pemancangan (Calendering).

Urutan Daftar pengawasan pekerjaan pondasi tiang pancang :


Verifikasi 1 (Persiapan)
 Periksa perisapan pelaksanaan pekerjaan meliputi tiang pancang, peralatan pemancangan
staking out dan Gambar Kerja serta metode kerja.

Verifikasi 2 (Pengajuan kesiapan kerja)


 Pastikan Penyedia Jasa mengajukan kepada Direksi Pekerjaan hal-hal sebagai berikut:
1) Program yang terinci untuk pemancangan.
2) Perhitungan rancangan termasuk rumus penumbukan.
3) Usulan untuk pengujian pembebanan tiang pancang.
Verifikasi 3 (Check)
 Periksa program pemancangan yang diajukan Penyedia Jasa dan rekomendasikan persetujuan
sebelum memulai pekerjaan pemancangan.

 Penyedia Jasa telah memperoleh persetujuan sebelum memulai pekerjaan pemancangan.

Verifikasi 4 (Tiang Pancang)


 Periksa Gambar Rencana, jenis dan dimensi tiang pancang yang digunakan.

Verifikasi 5 (Pengujian Tiang Pancang (Test Pile))


 Pengawasan pelaksanaan tiang uji sebagai berikut:
1) Diperlukan Tiang uji untuk mengetahui kedalaman dan daya dukung dari pondasi tiang
pancang pada jembatan.

2) Jumlah tiang pancang dan lokasi yang diuji disesuaikan dengan yang ditentukan Direksi
Pekerjaan, tetapi minimal satu dan tidak lebih dari empat untuk setiap jembatan.
 Tiang uji harus diuji dengan pengujian pembebanan Statis (Loading test) atau pengujian tiang
pancang dinamis.

18
Verifikasi 6 (Pengajuan Panjang Tiang Pancang)
 Pastikan Penyedia Jasa mengajukan panjang tiang pancang berdasarkan hasil tiang uji ( test
pile).
 Periksa dalam menentukan panjang tiang pancang, Penyedia Jasa harus memperhitungkan
untuk sisa panjang yang harus diselesaikan dalam struktur.

Verifikasi 7 (Check)
1. Periksa sertifikat pabrik untuk contoh material yang akan digunakan sesuai spesifikasi.
2. Evaluasi Daftar Panjang Tiang Pancang yang diajukan oleh Penyedia Jasa.
3. Rekomendasikan hasil evaluasi panjang tiang pancang untuk persetujuan Direksi Pekerjaan.

Verifikasi 8 (Pembelian Tiang Pancang)


1. Kendalikan dan konsultasikan dengan Ahli Teknik Pondasi Tiang Pancang mengenai jenis
tiangpancang yang sesuai untuk digunakan dan memenuhi persyaratan gambar dan spesifikasi

Verifikasi 9 (Pemancangan)
1. Periksa alat pancang yang digunakan disesuaikan dengan jenis tanah dan jenis tiang pancang.
2. Jika elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli, maka galian
harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan.
3. Pastikan kepala tiang pancang baja dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel.
4. Periksa palu, topi baja, bantalan topi, katrol dan tiang pancang harus mempunyai sumbu yang
sama dan harus terletak tepat satu di atas lainnya.
5. Pastikan tiang pancang miring dipancang secara sentris, diarahkan dan dijaga dalam posisi
yang tepat.
6. Pastikan tinggi jatuh palu maksimal 2.5 meter.
7. Pastikan alat pancang mampu memasukkan tiang pancang minimal 3 mm untuk setiap
pukulan pada 15 cm dari akhir pemancangan dengan daya dukung yang diinginkan
sebagaimana yang ditentukan dari rumus pemancangan yang disetujui.
8. Pastikan penumbukan dengan gerakan dengan gerakan tunggal (Single acting) atau palu yang
dijatuhkan harus dibatasi sampai 1.2 meter dan lebih baik 1 meter.
9. Periksa jika untuk 10 kali pukulan terakhir telah mencapai hasil yang memenuhi ketentuan,
penumbukan ulangan harus dilaksanakan dengan hati-hati, dan pemancangan yang terus
menerus setelah tiang pancang hampir berhenti penetrasi harus dicegah. Suatu catatan
pemancangan (Calendering) yang lengkap harus dibuat.
10. Perhatikan setiap perubahan yang mendadak dari kecepatan penetrasi yang tidak dapat
dianggap sebagai perubahan biasa dari sifat alamiah tanah harus dicatat dan penyebabnya
harus dapat diketahui, bila memungkinkan, sebelum pemancangan dilanjutkan.
11. Pastikan untuk tidak memancang tiang pancang dalam jarak 6 m dari beton yang berumur
kurang dari 7 hari.
12. Kapasitas daya dukung tiang pancang harus diperkirakan dengan menggunakan rumus
dinamis.

Verifikasi 10 (Penyambungan Tiang Pancang)


1. Tiang pancang yang sudah masuk kemudian disambung dengan cara menyisakan bagian atas
tiang yang menonjol di atas permukaan tanah sepanjang 20 cm.
2. Kasarkan dan keringkan permukaan beton yang akan disambung dan bersihkan lubang tempat
tulangan penyambungan untuk menjamin epoxy dapat menyambung dengan kuat.
3. Pastikan bagian dalam selubung baja dan tulangan penyambung di olesi oleh epoxy dengan
merata.
4. Pastikan pemasangan selubung baja dikepala tiang, celah antara bagian dalam selubung baja
dan permukaan tiang harus sepenuhnya terisi epoxy.
5. Pastikan seluruh permukaan beton pada tiang penyambung serta lubang tempat tulangan
sambungan di lapisi dengan epoxy setebal 1,0 – 1,5 mm.
6. Angkat tiang penyambung sesuai prosedur yang berlaku, kemudian ujung bawah tiang
dimasukan kedalam selubung baja.

Verifikasi 11 (Check)
1. Perhitungan desain Penyedia Jasa mengenai kapasitas tiang sesuai peralatan yang
digunakan.
2. Periksa metoda sambungan yang digunakan Penyedia Jasa.
3. Tiang dipancang sampai kedalaman tertentu sesuai ketentuan.
4. Pemancangan tiang dicatat sesuai rencana.
5. Periksa tiang yang tidak sempurna dan keluar dari toleransi Penyedia Jasa harus memperbaiki.

Verifikasi 12 (Perbaikan)
19
1. Periksa bila toleransi yang diberikan dalam spesifikasi telah dilampaui maka Penyedia Jasa
harus menyelesaikan setiap langkah perbaikan yang dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan
dengan biaya sendiri.
2. Periksa tiang pancang yang rusak akibat cacat dalam ( internal) atau pemancangan tidak
sebagaimana mestinya, dipancang di bawah elevasi yang ditunjukkan dalam Gambar, harus
diperbaiki atas biaya Penyedia Jasa.
3. Periksa pekerjaan perbaikan seperti yang telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan. Akan
mencakup, tetapi tidak perlu dibatasi seperti berikut ini:
a. Penarikan kembali tiang pancang yang rusak dan penggantian dengan tiang pancang
baru atau lebih panjang, sesuai dengan yang diperlukan.
b. Pemancangan tiang pancang kedua sepanjang sisi tiang pancang yang cacat atau
pendek.

Verifikasi 13 (Pemotongan Kepala Tiang)


A. Untuk Pemotongan kepala tiang perhatikan hal – hal sebagai berikut:
 Beton tiang pancang dikupas sampai pada elevasi yang sedemikian sehingga beton yang
tertinggal akan masuk ke dalam pur (pile cap) sedalam 50 mm sampai 75 mm.

 Untuk tiang pancang beton bertulang, baja tulangan yang tertinggal setelah pengupasan
harus cukup panjang sehingga dapat diikat ke dalam pur (pile cap) dengan baik.

 Untuk tiang pancang beton pratekan, kawat pra-tegang yang tertinggal setelah
pengupasan harus dimasukan ke dalam pur (pile cap) paling sedikit 600 mm.

 Penjangkaran harus dilengkapi, jika perlu, dengan baja tulangan yang dicor kedalam
bagian atas tiang pancang.

 Pengupasan tiang pancang beton harus dilakukan dengan hati – hati untuk mencegah
pecahnya atau kerusakan lainnya pada sisa tiang pancang.

 Setiap beton yang retak atau cacat harus dipotong dan diperbaiki dengan beton baru
yang direkatkan sebagaimana mestinya dengan beton yang lama

Verifikasi 14 (Pengukuran Hasil Pekerjaan)


 Periksa satuan pengukuran untuk pembayaran tiang pancang kayu dan beton pracetak
(bertulang atau pratekan) harus diukur dalam meter kubik dari tiang pancang yang
disediakan.

 Tiang pancang kayu, baja dan betin akan diukur untuk pemancangan sebagai jumlah meter
panjang dari tiang pancang yang diterima dan tertinggal dalam struktur yang telah selesai.

 Tiang uji akan diukur dengan cara yang sama, untuk penyediaan dan pemancangan seperti
yang diuraikan dalam ketentuan spesifikasi.

8.6 HASIL PRODUK

8.6.1 Produk Tiang Pancang


1. Jenis tiang yang digunakan adalah tiang pancang beton prategang persegi 250 x 250 cm dan
Silinder (PC Spun Pile) Ø 300 mm. Mutu beton 41,5 Mpa berdasarkan kekuatan silinder
ekivalen dengan 45 Mpa kekuatan kubus.
2. Jika jenis tiang pancang lainya akan digunakan, maka harus diusulkan selama tender,
dilengkapi dengan proposal teknis. Ukuran dan kekuatan tiang harus ekivalen dengan desain
aslinya, dan memberikan daya dukung yang sama
3. Setiap tiang harus memiliki sedikitnya satu tes silinder, hasilnya harus diserahkan kepada
pengawas.
4. Kapasitas alat pancang minimum 250% kali daya dukung yang ingin dicapai untuk jenis tanah
pasir sedangkan untuk jenis tanah lempung kapasitas alat pancang 200% kali daya dukung
tiang.

Pasal – 9 : PEKERJAAN STRUKTUR BETON :

9.1. PERSYARATAN MUTU.

20
9.1.1. Mutu Beton.
Beton yang dipergunakan untuk seluruh struktur bangunan ini harus mempunyai mutu
karakteristik minimal, sebagai berikut :
a. Tiang Pancang 250 x 250 mm : K-300
b. T i a n g P a n c a n g P C S p u n P i l e Ø 3 0 0 m m : K - 3 5 0
c. P i le C a p : K-300
d. Kolom, Balok, Dak Beton : K-300
e. L a n t a i K e r j a ( Le a n C o n c r e t e ) : K-125
f. Adukan Beton.
Adukan beton yang dipergunakan untuk seluruh struktur Atas bangunan ini dibantu
dengan alat CONCRETE MIXER 0.3-0.6 M3, kecuali ada pertimbangan lain pada
bagian-bagian tertentu dapat menggunakan beton konvensional yang
sebelumnya sudah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas / Konsultan
Pengawas.
9.1.2. Mutu Baja/Besi Profil Tulangan.
Mutu Baja/Besi Profil tulangan yang dipergunakan untuk seluruh struktur bangunan ini adalah
sebagai berikut :
a. Mutu Baja/Besi Profil tulangan s/d. ∅ 12 mm. adalah BJTP 240 ( U-24 ) dengan
kekuatan tarik 2080 Kg/Cm2.
b. Mutu Baja/Besi Profil tulangan D 12 mm. (diameter luar) adalah BJTD 400 (U40)
dengan kekuatan tarik 2780 Kg/Cm2.
c. Mutu Baja/Besi Profil tulangan ≥ D 13 mm. (diameter luar) adalah BJTD 500 (U50)
dengan kekuatan tarik 2780 Kg/Cm2.

9.2. PERSYARATAN BAHAN BETON.


9.2.1. Semen.
a. Semua semen harus Semen Portland yang disesuaikan dengan persyaratan dalam
Peraturan Portland Cement Indonesia NI-8 atau ASTM C-150 Type 1 atau standar Inggris
BS 12.
b. Mutu semen yang memenuhi syarat dan dapat dipakai adalah setara HOLCIM atau
Merk yang Ekuivalent serta memenuhi persyaratan NI-8. Pemilihan salah satu merk
semen adalah mengikat dan dipakai untuk seluruh pekerjaan.
c. Pemeriksaan
i. Konsultan Pengawas dapat memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada
setiap waktu sebelum dipergunakan. Kontraktor harus bersedia untuk memberi
bantuan yang dibutuhkan oleh Konsultan Pengawas untuk pengambilan contoh-
contoh tersebut.
ii. Semen yang tidak dapat diterima sesuai pemeriksaan oleh Konsultan Pengawas,
harus tidak dipergunakan atau diafkir. Jika semen yang dinyatakan tidak
memuaskan tersebut telah dipergunakan untuk beton, maka Konsultan Pengawas
dapat memerintahkan untuk membongkar beton tersebut dan diganti dengan
memakai semen yang telah disetujui atas beban Kontraktor.
iii. Kontraktor harus menyediakan semua semen-semen dan beton yang dibutuhkan
untuk pemeriksaan atas biaya Kontraktor.

d. Tempat Penyimpanan
· Kontraktor harus menyediakan tempat penyimpanan yang sesuai untuk semen, dan setiap
saat harus terlindung dengan cermat terhadap kelembaban udara. Tempat
penyimpanan tersebut juga harus sedemikian rupa agar memudahkan waktu
pengambilan.
· Gudang penyimpanan harus berlantai kuat dibuat dengan jarak minimal 30 cm.
dari tanah, harus cukup besar untuk dapat memuat semen dalam jumlah cukup besar
sehingga kelambatan atau kemacetan dalam pekerjaan dapat dicegah dan harus
mempunyai ruang lantai yang cukup untuk menyimpan tiap muatan truk semen secara
terpisahpisah dan menyediakan jalan yang mudah untuk mengambil contoh,
menghitung zak-zak dan memindahkannya. Semen dalam zak tidak boleh ditumpuk
lebih tinggi dari 2 meter.
· Untuk mencegah semen didalam zak disimpan terlalu lama sesudah penerimaan,
Kontraktor hendaknya mempergunakan semen menurut urutan kronologis yang
diterima di tempat pekerjaan. Tiap kiriman semen harus disimpan sedemikian rupa
sehingga mudah dibedakan dari kiriman lainnya. Semua zak kosong harus disimpan
dengan rapih dan diberi tanda yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.

21
· Timbangan-timbangan yang baik dan teliti harus diadakan oleh Kontraktor untuk
menimbang semen didalam gudang dan di lokasi serta harus dilengkapi segala
timbangan untuk untuk keperluan penyelidikan
· Kontraktor harus menyediakan penjaga yang cakap, untuk mengawasi gudang-gudang
semen dan mengadakan catatan-catatan yang cocok dari penerimaan dan pemakaian
semen seluruhnya.
· Tembusan dari catatan-catatan harus disediakan untuk Konsultan Pengawas bila
dikehendakinya, jumlah dari semen yang digunakan selama hari itu ditiap bagian
pekerjaan.

9.2.2. Pasir dan kerikil


a. Kontraktor harus mengangkut, membongkar, mengerjakan dan menimbun semua pasir dan
kerikil. Segala cara yang dilaksanakan oleh Kontraktor untuk pembongkaran, pemuatan,
pengerjaan dan penimbunan pasir dan kerikil harus mendapatkan persetujuan dari
Konsultan Pengawas.
b. Tempat dan pengaturan dari semua daerah penimbunan harus mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas. Kontraktor harus membersihkan bahkan memperbaiki saluran
buangan disemua tempat penimbunan dan harus mengatur semua pekerjaan penimbunan
pasir dan kerikil sedemikian rupa sehingga timbulnya pemisahan dan pencampuran antara
pasir dan kerikil akan dapat dihindari dan bahan yang ditimbun tidak akan
tercampur tanah atau bahan lain pada waktu ada banjir atau air rembesan.
Kontraktor diminta untuk menanggung sendiri segala biaya untuk pengolahan
kembali pasir dan kerikil yang kotor karena timbunan yang tidak sempurna dan lalai
dalam pencegahan yang cukup. Pasir dan kerikil tidak boleh dipindah-pindah dari timbunan,
kecuali bila diperlukan untuk meratakan pengiriman berikutnya.

c. P a s i r
· Jenis pasir yang dipakai untuk pekerjaan bangunan ini adalah pasir alam yaitu pasir
yang dihasilkan dari sungai atau pasir alam lain yang didapat dengan persetujuan
Konsultan Pengawas.
· Persetujuan untuk sumber-sumber pasir alam tidak dimaksudkan sebagai
persetujuan dasar ( pokok ) untuk semua bahan yang diambil dari sumber tersebut.
Kontraktor harus bertanggung jawab atas kualitas tiap jenis dari semua bahan yang
dipakai dalam pekerjaan. Kontraktor harus menyerahkan pada Konsultan Pengawas
sebagai bahan pemeriksaan pendahuluan dan persetujuan, contoh yang cukup, seberat 15
kg. dari pasir alam yang diusulkan untuk dipakai, sedikitnya 14 hari sebelum diperlukan.
· Timbunan pasir alam harus dibersihkan dari semua tumbuh-tumbuhan dan dari bahan-
bahan lain yang tidak dikehendaki. Segala macam tanah pasir dan kerikil yang tidak
dapat dipakai, harus disingkirkan. Timbunan harus diatur dan dilaksanakan sedemikian
rupa sehingga tidak merugikan kegunaan dari timbunan.
· Pasir harus halus, bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan kecil dan lunak dari tanah
liat, mika dan hal-hal yang merugikan dari substansi yang merusak, jumlah prosentase
dari segala macam subsansi yang merugikan, beratnya tidak boleh lebih dari 5% berat
pasir
· Pasir harus mempunyai “modulus kehalusan butir“ antara 2 sampai 32, atau jika diselidiki
dengan saringan standar harus sesuai dengan standar Indonesia untuk beton atau
dengan ketentuan sebagai berikut :

Saringan Persentase satuan timbangan


No. tertinggal di saringan

4 0 - 15
8 6 - 15
16 10 - 25
30 10 - 30
50 15 - 35
100 12 - 20

22
PAN 3 - 7

Jika persentase satuan tertinggal dalam saringan no. 16 adalah 15 % atau kurang,
maka batas maksimum untuk persentase satuan dalam saringan no. 8 dapat naik sampai
20%.
d. Agregat Kasar ( Kerikil )
· Agregat kasar harus didapat dari sumber yang telah disetujui. Ini dapat berupa kerikil
sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang
diperoleh dari pemecahan batu.
· Kebersihan dan mutu
Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bagian-bagian yang halus, mudah pecah,
tipis atau yang berukuran panjang, bersih dari alkali, bahan-bahan organis atau dari
substansi yang merusak dalam jumlah yang merugikan. Besarnya persentase dari
semua substansi yang merusak tidak boleh mencapai 3 (tiga) persen dari beratnya.
Agregat kasar harus berbentuk baik, keras, padat, kekal dan tidak berpori. Apabila
kadar lumpur melampaui 1%, maka agregat kasar harus dicuci.
· Gradasi
Agregat kasar harus bergradasi baik dengan ukuran butir berada antara 5 mm.
sampai dengan 25 mm. dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Sisa di atas ayakan 31,5 mm, harus 6 % berat.
- Sisa di atas ayakan 4 mm harus berkisar antara 90% dan 98% berat.
· Selisih antara sisa-sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan, adalah
maksimum 60% dan minimum 10% berat serta harus menyesuaikan dengan
semua ketentuan-ketentuan yang terdapat di NI-2 PBI-1971.
Agregat kasar harus sesuai dengan spesifikasi ini dan jika diperiksa oleh Konsultan
Pengawas ternyata tidak sesuai dengan ketentuan gradasi, maka Kontraktor harus
menyaring kembali atau mengolah kembali bahannya atas bebannya sendiri, untuk
menghasilkan agregat yang dapat disetujui Konsultan Pengawas.

9.3. Air
Air yang dipakai untuk semua pekerjaan beton, spesi / mortar dan spesi injeksi harus bebas
dari lumpur, minyak, asam, bahan organik basah, garam dan kotoran-kotoran lainnya dalam
jumlah yang dapat merusak. Air tersebut harus diuji di Laboratorium pengujian yang
ditetapkan oleh Konsultan Pengawas untuk menetap-kan sesuai tidaknya dengan ketentuan-
ketentuan yang ada di dalam PBI-1971 untuk bahan campuran beton.

9.4. Baja/Besi Profil Tulangan


a. Semua Baja/Besi Profil tulangan beton harus baru, mutu dan ukuran sesuai dengan
standar Indonesia untuk beton NI-2, PBI-1971, atau ASTM Designation A-15, dan harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Konsultan Pengawas berhak meminta kepada Kontraktor, surat keterangan tentang
pengujian oleh pabrik dari semua Baja/Besi Profil tulangan beton yang disediakan,
untuk persetujuan Konsultan Pengawas sesuai dengan persyaratan mutu untuk
setiap bagian konstruksi seperti tercantum di dalam gambar rencana.
b. Baja/Besi Profil tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih,
karat, minyak, gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya
lekat antara Baja/Besi Profil tulangan dengan beton.
c. Khusus untuk plat lantai apabila pada gambar menggunakan wiremesh, maka wiremesh
yang digunakan adalah tipe deform (ulir) produk UNION METAL atau BRC LYSAGHT.

9.5. Cetakan ( bekisting )


a. Bekisting untuk seluruh struktur bangunan ini memakai multiplex dengan tebal minimum
18 mm. Bekisting dari multiplex tersebut harus diperkuat dengan rangka kayu Kls. II ukuran
5/7, 6/10, 6/12 dan sebagainya, untuk mendapatkan kekuatan dan kekakuan yang
sempurna, atau dari bahan lain yang disetujui oleh Konsultan Pengawas /
Konsultan Perencana.
b. Steiger / penyangga bekisting harus terdiri dari pipa-pipa besi standar pabrik
(schafolding) atau kayu dan tidak diperkenankan memakai bambu.

9.6. Water stop


Water stop harus dipasang di setiap penghentian pengecoran untuk bagian- bagian yang
harus kedap air, yaitu antara lain pelat atap, lantai toilet dan tempat-tempat basah lainnya
sesuai dengan Gambar Kerja.
23
Water stop yang digunakan adalah SUPERCAST SW 10 merk FOSROC, tipe disesuaikan dengan
posisi joint dengan minimum lebar 20 cm.

9.7. Bonding Agent


Dipergunakan pada elemen-elemen beton yang harus disambungkan / dicor secara terputus,
untuk mendapatkan sistem struktur yang kokoh sesuai dengan design dan perhitungannya.
Bonding agent yang dipergunakan adalah NITOBOND PVA merk FOSROC
berupa material liquid berwarna putih terbuat dari bahan polymer acrylic digunakan
pada sambungan pengecoran beton lama dan baru khusus untuk
daerah kering. Cara pemakaiannya harus sesuai petunjuk pabrik.

9.8. Admixture
a. Admixture / hardener dipergunakan apabila keadaan memaksa untuk mempercepat
pengerasan beton.
b. Bahan Admixture yang dipakai adalah SIKAMENT 520 merk SIKA dengan takaran
0,8% dari berat semen. Takaran yang lain dapat digunakan untuk mendapatkan
kekuatan maksimal dengan persetujuan dari Konsultan Pengawas / Perencana.
c. Retarder digunakan untuk memperlambat waktu setting beton (initial set), dimana bila waktu
pengiriman beton dari Batching Plant ke proyek dan sampai dengan waktu penuangan
beton memerlukan waktu lebih dari 1 (satu) jam. Bahan retarder yang dipergunakan
adalah CONPLAST RP264M2 dengan takaran 0,20 – 0,60 liter per 100 kg. semen.
Pencampuran dilakukan di Batching Plant.
d. Superplasticizer digunakan untuk membuat beton lebih plastis dan mencapai kekuatan
awal yang lebih tinggi (high early strength). Bahan plasticizer adalah CONPLAST SP
430D dengan takaran 0,60 – 2,00 liter per 100 kg. semen.
e. Pencampuran dilakukan di dalam mixer sebelum beton dituang ke dalam cetakan.

9.9. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN BETON


9.9.1. Kelas dan Mutu Pekerjaan Beton
a. Kelas dan mutu dari beton harus sesuai dengan Standar Beton Indonesia NI-2 PBI-
1971. Bilamana tidak ditentukan lain, kuat tekan dari beton adalah selalu kekuatan tekan
hancur dari contoh kubus yang bersisi 15 cm. (0,003375 m3) diuji pada umur 7 hari, 14 hari
dan 28 hari.
b. Kriteria untuk menentukan mutu beton adalah persyaratan bahwa hasil pengujian
benda-benda uji harus memberikan hasil ó’bk ( kekuatan tekan beton karakteristik ) yang
lebih besar dari yang ditentukan di dalam tabel 4.2.1. PBI-1971.
c. Umur benda uji pada saat pengujian harus dilaksanakan pada umur 7, 14, atau 28 hari
sesuai dengan kesepakatan dengan Konsultan Pengawas yang tertuang dalam risalah rapat.
9.9.2. Komposisi campuran Beton
a. Beton harus dibentuk dari campuran bahan-bahan semen portland, pasir, kerikil dan
air seperti yang ditentukan sebelumnya. Bahan beton dicampur dalam perbandingan
yang tertentu / serasi dan diolah sebaik-baiknya sampai pada kekentalan yang baik /
tepat.
b. Untuk mendapatkan mutu beton yang sesuai dengan yang ditentukan dalam
spesifikasi ini, harus dipakai “campuran yang direncanakan (design mix)“.
c. Campuran yang direncanakan ini dihasilkan dari percobaan-percobaan campuran
yang memenuhi kekuatan karakteristik yang disyaratkan dan dilakukan oleh
laboratorium dari instansi pemerintah atau Badan yang sudah terbukti akreditasinya.
d. Ukuran maksimal dari agregat kasar dalam beton untuk bagian-bagian dari pekerjaan
tidak boleh melampaui ukuran yang ditetapkan dalam persyaratan bahan beton,
ukuran mana ditetapkan sepraktis mungkin sehingga tercapai pengecoran yang tepat
dan memuaskan.
e. Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai mutu,
harus ditetapkan dari waktu ke waktu selama berjalannya pekerjaan, demikian juga
pemeriksaan terhadap agregat dan beton yang dihasilkan.
f. Perbandingan campuran dan faktor air semen yang tepat akan ditetapkan atas dasar
beton yang dihasilkan yang mempunyai kepadatan yang tepat, kekedapan, keawetan dan
kekuatan yang dikehendaki.
g. Kekentalan (konsistensi) adukan beton untuk bagian-bagian konstruksi beton harus
disesuaikan dengan jenis konstruksi yang bersangkutan, cara pengangkutan adukan beton
dan cara pemadatannya. Kekentalan adukan beton antara lain ditentukan oleh faktor air
semen.
h. Agar dihasilkan suatu konstruksi beton yang sesuai dengan yang
direncanakan, maka faktor air semen ditentukan sebagai berikut :
i. Faktor air semen untuk pondasi, sloof, maksimum 0,60.
24
j. Faktor air semen untuk kolom, balok, plat lantai, tangga, dinding beton dan listplank /
parapet, maksimum 0,60.
k. Faktor air semen untuk konstruksi pelat atap dan tempat-tempat basah lainnnya,
maksimum 0,55.
l. Pengujian beton akan dilakukan oleh Konsultan Pengawas atas biaya Kontraktor.
Perbandingan campuran beton harus diubah jika perlu untuk tujuan penghematan
yang dikehendaki, workability, kepadatan, kekedapan, awet atau kekuatan dan
Kontraktor tidak berhak atas klaim yang disebabkan perubahan yang demikian.

9.9.3. Pengujian Konsistensi Beton dan Benda-Benda Uji Beton


a. Banyaknya air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keperluan untuk
menjamin beton dengan konsistensi yang baik dan untuk menyesuaikan variasi
kandungan lembab atau gradasi ( perbutiran ) dari agregat waktu masuk dalam mesin
pengaduk ( mixer ). Penambahan air untuk mencairkan kembali beton padat hasil
pengadukan yang terlalu lama atau yang menjadi kering sebelum dipasang adalah sama
sekali tidak diperkenankan. Keseragaman konsistensi beton untuk setiap kali
pengadukan sangat perlu.
Nilai slump dari beton (pengujian kerucut slump), tidak boleh kurang dari 8 cm. dan tidak
melampaui 12 cm. untuk segala beton yang dipergunakan. Semua pengujian harus
sesuai dengan NI-2 PBI-1971. Konsultan Pengawas berhak untuk menuntut nilai
slump yang lebih kecil bila hal tersebut dapat dilaksanakan dan akan menghasilkan
beton berkualitas lebih tinggi atau alasan penghematan.
b. Kekuatan tekan dari beton harus ditetapkan oleh Konsultan Pengawas melalui
pengujian biasa dengan kubus 15 x 15 x 15 cm. dibuat dan diuji sesuai dengan NI-2
PBI-1971. Pengujian slump akan diadakan oleh Konsultan Pengawas sesuai dengan
NI-2 PBI-1971, Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk
mengerjakan contoh-contoh pemeriksaan yang representatif.

9.9.4. Pekerjaan Baja/Besi Profil Tulangan


a. Baja/Besi Profil tulangan beton harus dibengkokkan / dibentuk dengan teliti sesuai
dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang tertera pada gambar-gambar konstruksi.
Baja/Besi Profil tulangan beton tidak boleh diluruskan atau dibengkokkan kembali dengan
cara yang dapat merusak bahannya. Batang dengan bengkokan yang tidak ditunjukan
dalam gambar tidak boleh dipakai. Semua batang harus dibengkokkan dalam keadaan
dingin, pemanasan dari besi beton hanya dapat diperkenankan bila seluruh cara
pengerjaannya disetujui oleh Konsultan Pengawas atau Perencana.
b. Besi beton harus dipasang dengan teliti sesuai dengan gambar rencana. Untuk
menempatkan tulangan-tulangan tetap tepat ditempatnya, maka tulangan harus diikat
kuat dengan kawat beton ( bendraat ) dan memakai bantalan blok-blok beton cetak ( beton
decking ) dan atau kursi-kursi besi / cakar ayam perenggang.
c. Dalam segala hal untuk besi beton yang horizontal harus digunakan penunjang yang
tepat, sehingga tidak akan ada batang yang turun.
d. Jarak bersih terkecil antara batang yang paralel apabila tidak ditentukan dalam gambar
rencana, minimal harus 1,2 kali ukuran terbesar dari agregat kasar dan harus memberikan
kesempatan masuknya alat penggetar beton.
e. Pada dasarnya jumlah luas tulangan harus sesuai dengan gambar dan perhitungan.
Apabila dipakai dimensi tulangan yang berbeda dengan gambar, maka yang
menentukan adalah luas tulangan.
f. Dalam hal ini Kontraktor diwajibkan meminta persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan
Pengawas.

9.9.5. Pekerjaan Selimut Beton


Penempatan besi beton didalam cetakan tidak boleh menyinggung dinding atau dasar
cetakan sesuai butir 1 .3.4.b. tersebut di atas, serta harus mempunyai jarak tetap dan tertentu
untuk setiap bagian-bagian konstruksi sesuai dengan gambar rencana.
Apabila tidak ditentukan di dalam gambar rencana, maka tebal selimut beton untuk satu sisi
pada masing-masing konstruksi adalah sebagai berikut :

Pondasi Pelat, untuk sisi bawah 8 cm, untuk sisi lainnya 4 cm.

a.
Balok sloof = 4,0 cm.
b.
Kolom = 4,0 cm.
c.
Balok = 3,0 cm.
d.
Pelat beton = 2,0 cm.

25
9.9.6. Pekerjaan Sambungan Baja/Besi Profil Tulangan
Jika diperlukan untuk menyambung tulangan pada tempat-tempat lain dari yang
ditunjukkan pada gambar-gambar, bentuk dari sambungan harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas. Overlap pada sambungan-sambungan tulangan harus minimal 40 kali
diameter batang, kecuali jika telah ditetapkan secara pasti di dalam gambar rencana dan
harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.

9.9.7. Pekerjaan Mengaduk


a. Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai
ketelitian cukup untuk menetapkan dan mengawasi jumlah dari masing-masing bahan
beton. Perlengkapan-perlengkapan tersebut dan cara pengerjaannya selalu harus
mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.
b. Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk
beton ( “batch mixer/beton mollen“ ). Konsultan Pengawas berwenang untuk
menambah waktu pengadukan jika pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal
untuk mendapatkan hasil adukan dengan susunan kekentalan dan warna yang merata /
seragam dalam komposisi atau konsistensi. Air harus dituang lebih dahulu selama
pekerjaan penyempurnaan.
c. Tidak diperkenankan melakukan pengadukan beton yang berlebihan (lamanya) yang
membutuhkan penambahan air untuk mendapatkan konsistensi beton yang
dikehendaki.
d. Mesin pengaduk yang memproduksi hasil yang tidak memuaskan harus diperbaiki dan
atau diganti.
e. Mesin pengaduk yang disentralisir ( batching mixing plant ) harus diatur sedemikian
rupa, sehingga pekerjaan mengaduk dapat diawasi dengan mudah dari stasiun operator.
f. Mesin pengaduk tidak boleh dipakai melebihi dari kapasitas yang telah ditentukan.
Setiap mesin pengaduk harus diperlengkapi dengan alat mekanis untuk mengatur
waktu dan menghitung jumlah adukan.

9.9.8. S u h u
Suhu beton sewaktu dituang tidak boleh lebih dari 32oC dan tidak kurang dari 4,5oC. Bila suhu
dari beton yang dituang berada antara 27oC - 32oC, beton
harus diaduk di tempat pekerjaan untuk kemudian langsung dicor.
Bila beton dicor pada waktu iklim sedemikian rupa sehingga suhu dari beton melebihi 32oC
sebagai yang ditetapkan oleh Konsultan Pengawas, maka Kontraktor harus mengambil
langlah-langkah yang efektif, umpamanya mendinginkan agregat, mencampur dengan
es dan mengecor pada waktu malam hari bila perlu, untuk mempertahankan suhu beton
waktu dicor pada suhu dibawah 32o C.

9.9.9. Pekerjaan Rencana Cetakan


Cetakan (bekisting) harus sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ditentukan dalam gambar
rencana. Bahan yang dipakai untuk cetakan harus mendapatkan persetujuan dari
Konsultan Pengawas sebelum pembuatan cetakan dimulai, tetapi persetujuan yang
demikian tidak akan mengurangi tanggung jawab Kontraktor terhadap keserasian bentuk
maupun terhadap perlunya perbaikan kerusakan-kerusakan yang mungkin dapat timbul
pada waktu pemakaian.
Sewaktu-waktu Konsultan Pengawas dapat mengafkir sesuatu bagian dari bentuk yang tidak
dapat diterima dalam segi apapun dan Kontraktor harus dengan segera
menanggulangi bentuk yang diafkir tesebut dan menggantinya atas bebannya
sendiri.

9.9.10. Pekerjaan Konstruksi Cetakan


a. Semua cetakan harus betul-betul teliti, kuat dan aman pada kedudukannya
sehingga dapat dicegah pengembangan atau lain gerakan selama dan sesudah pengecoran
beton.
b. Semua cetakan beton harus kokoh.
c. Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan (bekisting) harus dilabu ri /
diminya ki d engan minyak bekist ing yang biasa diperdagangkan untuk
maksud itu yang dapat mencegah secara efektif melekatnya beton pada cetakan, dan
akan memudahkan melepas bekisting / cetakan beton. Minyak bekisting tersebut dapat
dipakai hanya setelah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
d. Penggunaan minyak bekisting ini harus hati-hati untuk mencegah kontak dengan besi beton
dan mengakibatkan kurangnya daya lekat.
e. Alat-alat dan usaha-usaha yang sesuai dan cocok untuk membuka cetakan-cetakan
26
tanpa merusak permukaan dari beton yang telah selesai, harus tersedia.
f. Penyangga cetakan ( steiger ) harus bertumpu pada pondasi yang baik dan kuat
sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama pelaksanaan.

9.9.11. Pekerjaan Pengangkutan Beton


Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus sedemikian rupa
sehingga beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat
pekerjaan, tanpa adanya pemisahan dan kehilangan bahan yang menyebabkan perubahan
nilai slump.

9.9.12. Pekerjaan Pengecoran


a. Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, ukuran dan letak
Baja/Besi Profil tulangan beton sesuai dengan gambar pelaksanaan,
pemasangan sparing-sparing instalasi, penyokong, pengikatan dan lainlainnya telah selesai
dikerjakan.
b. Sebelum pengecoran dimulai, permukaan-permukaan yang berhubungan dengan
pengecoran harus sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
c. Segera sebelum pengecoran beton, semua permukaan pada tempat pengecoran
beton ( cetakan / bekisting ) harus bersih dari air yang tergenang, reruntuhan atau
bahan lepas. Permukaan bekisting dengan bahan-bahan yang menyerap pada tempat-
tempat yang akan dicor, harus dibasahi dengan merata sehingga kelembaban / air dari beton
yang baru dicor - tidak akan diserap.
d. Permukaan-permukaan beton yang telah dicor lebih dahulu dimana akan dicor beton baru,
harus bersih dan lembab / basah ketika dicor dengan beton baru. Pembersihan harus
berupa pembuangan semua kotoran, pembuangan beton-beton yang mengelupas atau
rusak, atau bahan-bahan asing yang menutupinya. Semua genangan air harus dibuang
dari permukaan beton lama tersebut sebelum beton baru dicor.
e. Pada sambungan pengecoran ini harus dipakai bahan perekat beton yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
f. Perlu diperhatikan letak / jarak / sudut untuk setiap penghentian pengecoran yang
masih akan berlanjut, terhadap sistem struktur / penulangan yang ada.
g. Beton boleh dicor hanya ketika Konsultan Pengawas atau wakilnya yang ditunjuk serta Staf
Kontraktor yang setaraf ada ditempat / lokasi pekerjaan, dan persiapannya betul-betul
telah memadai.
h. Dalam semua hal, beton yang akan dicor harus diusahakan agar pengangkutan ke
tempat posisi terakhir sependek mungkin, sehingga pada waktu pengecoran tidak
mengakibatkan pemisahan antara kerikil dan spesinya. Pemisahan yang berlebihan dari
agregat kasar dalam beton yang disebabkan jatuh bebas dari tempat yang cukup tinggi,
atau sudut yang terlalu besar, atau bertumpuk dengan Baja/Besi Profil-Baja/Besi Profil
tulangan, tidak diijinkan. Kalau diperkirakan pemisahan yang demikian itu mungkin akan
terjadi, Kontraktor harus mempersiapkan tremie atau alat lain yang cocok untuk mengontrol
jatuhnya beton.
i. Pengecoran beton tidak boleh dijatuhkan lebih tinggi dari 2 meter, semua penuangan
beton harus selalu lapis - perlapis horizontal dan tebalnya tidak lebih dari 50 cm.
Konsultan Pengawas mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut apabila
pengecoran dengan tebal lapisan 50 cm. tidak dapat memenuhi spesifikasi ini.
j. Pengecoran beton tidak diperkenankan selama terjadi hujan deras atau turun hujan yang
lama, sedemikian rupa sehingga spesi / mortar terpisah dari agregat kasar. Selama hujan,
air semen atau spesi tidak boleh dihamparkan pada construction joint, dan air semen
atau spesi yang hanyut terhampar harus dibuang sebelum pekerjaan dilanjutkan.
k. Ember-ember / gerobak dorong beton yang dipakai harus sanggup menuang dengan
tepat dalam slump yang rendah dan memenuhi syaratsyarat campuran.
l. Mekanisme penuangan harus dibuat dengan kapasitas minimal 50 liter. Juga harus
tersedia peralatan lainnya untuk mendukung lancarnya pengecoran dimana diperlukan
terutama bagi lokasi-lokasi yang sulit / terbatas.
m. Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai sepadat mungkin, sehingga bebas
dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapat-rapat semua permukaan dari cetakan
dan material yang diletakan.
n. Dalam pemadatan setiap lapisan dari beton, kepala alat penggetar (vibrator) harus
dapat menembus dan menggetarkan kembali beton pada bagian atas dari lapisan yang
terletak di bawah. Lamanya penggetaran tidak boleh menyebabkan terpisahnya bahan
beton dengan airnya.
o. Semua beton harus dipadatkan dengan alat penggetar type IMMERSON, beroperasi
dengan kecepatan paling sedikit 3.000 putaran per menit ketika dibenamkan ke dalam
beton.
27
9.9.13. Waktu dan Cara-Cara Pembukaan Cetakan
a. Waktu dan cara pembukaan dan pemindahan cetakan harus mengikuti petunjuk
Konsultan Pengawas. Pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton. Beton yang masih muda / lunak tidak diijinkan untuk
dibebani.
b. Segera sesudah cetakan-cetakan dibuka, permukaan beton harus diperiksa
dengan teliti dan permukaan-permukaan yang tidak beraturan harus segera diperbaiki
sampai disetujui Konsultan Pengawas
c. Umumnya diperlukan waktu minimum sebelum cetakan beton boleh dibuka, yaitu
minimum 3 hari untuk cetakan - cetakan samping pada pondasi dan sloof 7 hari untuk
dinding-dinding pemikul dan kolom 21 hari untuk balok-balok, plat lantai, plat atap dan
tangga.

9.9.14. Perawatan ( Curing )


a. Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan di bawah ini atau
disemprot dengan Curing Agent CONCURE P yang berupa bahan cair / liquid material
dimana setelah mengering berbentuk membrane clear dan berfungsi sebagai pelindung
(curing compound) untuk menahan / mencegah penguapan air dari dalam beton, dengan
takaran pemakaian untuk 1 liter adalah 5 – 6 m2.
b. Konsultan Pengawas berhak menentukan cara perawatan bagaimana yang harus
digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
c. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar matahari yang langsung
minimal selama 3 hari sesudah pengecoran.
d. Perlindungan semacam itu dilakukan dengan menutupi permukaan beton dengan deklit
atau karung bekas yang dibasahi dan harus dilaksanakan segera setelah pengecoran
dilaksanakan.
e. Perawatan beton setelah 3 hari, adalah dengan melakukan penggenangan dengan air pada
permukaan beton paling sedikit selama 14 hari terus menerus. Perawatan semacam ini
bisa dilakukan dengan penyiraman secara mekanis atau dengan pipa yang berlubang-
lubang atau dengan cara lain yang disetujui Konsultan Pengawas sehingga selama masa
tersebut permukaan beton selalu dalam keadaan basah. Air yang digunakan dalam
perawatan ( curing ) harus memenuhi persyaratan spesifikasi air untuk campuran beton.

9.9.15. Pekerjaan Perlindungan (Protection).


Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum
penerimaan terakhir oleh Konsultan Pengawas.

9.9.16. Pekerjaan Perbaikan Permukaan Beton


a. Jika sesudah pembukaan cetakan, ada permukaan beton yang tidak sesuai dengan
yang direncanakan, atau tidak tercetak menurut gambar atau diluar garis permukaan,
atau ternyata ada permukaan yang cacat/rusak, semua hal itu dianggap sebagai
tidak sesuai dengan spesifikasi ini dan harus dibuang dan diganti oleh Kontraktor atas
bebannya sendiri. Kecuali bila Konsultan Pengawas memberikan ijinnya untuk
memperbaiki/menambal tempat yang rusak, dalam hal mana perbaikan harus dikerjakan
seperti yang telah tercantum dalam pasal-pasal berikut.
b. Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari sarang
kerikil, kerusakan-kerusakan karena cetakan-cetakan, lubang-lubang karena keropos,
ketidak-rataan dan bengkak harus dibuang dengan pemahatan atau dengan batu gerinda.
Sarang kerikil dan beton lainnya harus dipahat, lubang-lubang pahatan harus diberi
pinggiran yang tajam dan dicor sedemikian sehingga pengisian akan terikat ( terkunci )
di tempatnya. Semua lubang harus terus menerus dibasahi selama 24 jam sebelum dicor,
dan seterusnya disempurnakan.
c. Jika menurut pendapat Konsultan Pengawas hal-hal tidak sempurna pada bagian
bangunan yang akan terlihat jika dengan penambalan saja akan menghasilkan
sebidang dinding yang tidak memuaskan kelihatannya, Kontraktor diwajibkan
untuk menutupi seluruh dinding ( dengan spesi plesteran 1pc : 3ps ) dengan
ketebalan yang tidak melebihi 1 cm, demikian juga pada dinding yang berbatasan
(yang bersambungan) sesuai dengan instruksi dari Konsultan Pengawas.
d. Perlu diperhatikan untuk permukaan yang datar, batas toleransi kelurusan
( pencekungan atau Pencembungan ) bidang tidak boleh melebihi dari L / 1000 untuk
semua komponen

Pasal – 10 : PEKERJAAN LOGAM : ARSITEKTUR


28
10.1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan yang dimaksud meliputi :
· Pekerjaan klem dan semua bentuk pengikat / pengaku hubungan konstruksi yang terbuat
dari logam.
· Pekerjaan logam lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
10.2. PERSYARATAN BAHAN.
10.2.1. Semua bahan / material logam yang digunakan dalam pekerjaan ini harus dalam keadaan
baik, lurus, rata permukaan, bebas karat, bebas cacat akibat benturan ataupun cacat dari
pabrik dan bebas dari noda-noda lainnya yang dapat mengganggu kualitas maupun
penampilan / appearance, serta keluaran dari pabrik yang disetujui Konsultan Pengawas.Mutu
dan kualitas sesuai dengan persyaratan pemakaian bahan bangunan yang berlaku.
10.2.2. Baja/Besi Profil profil, jenis, ukuran, warna, sesuai dengan yang tercantum dalam Gambar
Kerja. Sengkang pengikat talang vertikal, dipakai Baja/Besi Profil galvannized strip 2x30 mm.
Plat stainless steel, bentuk dan ukuran sesuai dgn Gambar Kerja, tebal 3 mm. Plat Baja/Besi
Profil polos, bentuk dan ukuran sesuai dengan Gambar Kerja, tebal 2 mm.
10.2.3. Kontraktor harus sudah siap dengan semua pengikat / penyambung / pengaku seperti
angker, klem, baut, ramset, dynabolt, Baja/Besi Profil strip dan sebagainya. Semua
bentuk dan ukuran sesuai dengan Gambar Kerja dan atau sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas. Bahan produk jadi seperti baut, ramset, dynabolt adalah produk HILTI. Bahan-
bahan pelengkap seperti baut, sekrup, dynabolt, ramset, pengait dan logam fitting lainnya
yang berhubungan dengan udara luar harus dibuat dari besi yang digalvanisasi. Khusus
untuk bahan / material stainless steel, semua baut atau sekrup yang dipakai dan kepalanya
keluar dari permukaan bahan / material tersebut harus ditutup dengan penutup yang di-
verchroom.
10.2.4. Elektroda las yang digunakan harus memenuhi persyaratan Normalisasi Indonesia, dan
sebelum digunakan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
Bahan disimpan di tempat terlindung yang menjamin komposisi dan sifat karakteristik
lainnya dari elektroda las tersebut tidak berubah. Bahan las yang digunakan dari kelas E
6012 AWS dan harus dijaga agar selalu dalam keadaan baik dan kering.

10.3. PERSYARATAN TEKNIS.


10.3.1. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab atas semua ukuran yang
tercantum dalam Gambar Kerja. Pada prinsipnya, ukuran pada Gambar Kerja adalah
ukuran jadi / finish. Harus diperhatikan pula sambungan / hubungan dengan material lain
harus sesuai dengan Gambar Kerja.
10.3.2. Sebelum pelaksanaan dan pemasangan, Kontraktor harus melakukan pengukuran yang
cermat di tempat kerja guna mendapatkan ukuran yang tepat.
10.3.3. Bahan / material berbentuk unit yang akan dipasang harus diberi tanda agar tidak terjadi
kesalahan pemasangan.
10.3.4. Pekerjaan harus bertaraf kelas satu, terutama untukpermukaan logam yang diperlihatkan
(exposed) harus benar-benar rapi dan halus.
10.3.5. Pemotongan logam harus dengan mesin pemotong mekanik (Mechanical Cutting
Machine) kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar Kerja. Pemotongan dengan pembakaran
memakai mesin pembakar standar.
10.3.6. Semua bagian yang dilubangi sesuai dengan Gambar Kerja dan sudah dibersihkan dari
karat, harus diperiksa dan berada dalam keadaan tidak cacat sebelum pemasangan.
10.3.7. Semua pengelasan menerus dengan las busur listrik.
10.3.8. Tambatan, angker, stek, dynabolt dan ramset untuk beton dan pasangan batu bata dimana
diperlukan harus digunakan walaupun tidak ditunjukkan dalam gambar, sesuai dengan
petunjuk Konsultan Pengawas.

10.4. PERSYARATAN PELAKSANAAN.


Semua pekerjaan baut / bolt harus memenuhi syarat AISC Specification for Structural
Joint Bolt.
Semua pekerjaan las harus mengikuti American Welding Society for Arc Welding in Building
Construction Section.
Kontraktor bertanggung jawab terhadap keamanan, kerusakan barang sampai ke tempat
tujuan. Segala kerusakan dan atau kehilangan adalah tanggung jawab Kontraktor.
10.4.1. Plat Baja/Besi Profil dan Stainless Steel.
Penempatan plat harus rapi dan semua lubang baut harus terletak tepat pada jarak masing-
masing baut.

29
Pemasangan plat Baja/Besi Profil tidak boleh bergeser lebih dari 2 mm. dari asnya.
Angker, stek ataupun elemen vertikal lainnya harus tegak lurus terhadap permukaan bidang
tempatnya tertanam.
Semua bagian pekerjaan yang berbentuk unit harus dirakit (assembling) sebelum
pemasangan.
Kontraktor harus mengajukan contoh model (mock-up) yang akan dipasang kepada Konsultan
Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
Sebaiknya semua pekerjaan ini difabrikasi di workshop.
Kontraktor bertanggung jawab atas semua kesalahan detail, fabrikasi maupun ketidak-
tepatan penyetelan / pemasangan.
Kekurang-tepatan pemasangan karena kesalahan fabrikasi harus dibetulkan, diperbaiki dan
atau diganti dengan yang baru, dan semua ini atas biaya Kontraktor serta tidak dapat di-
klaim sebagai pekerjaan tambah.
Semua permukaan logam, terutama yang melekat dengan bahan / material lain sebelum
pemasangan harus sudah diberi lapisan pelindung atau cat dasar.
Pekerjaan ini tidak berlaku untuk Baja/Besi Profil stainless steel dan atau seperti
ditunjukkan Konsultan Pengawas.
10.4.2. Pengelasan.
Pengelasan harus dilakukan dengan hati-hati atau cermat.
Logam yang akan dilas harus bebas dari retak dan cacat lain yang dapat mengurangi
kekuatan sambungan, dan permukaannya harus halus.
Juga permukaan yang dilas harus sama, rata dan kelihatan teratur.
Pekerjaan las sedapat mungkin dilakukan di workshop dan atau dalam ruangan yang
beratap, bebas dari angin dan dalam keadaan kering.
Benda pekerjaan ditempatkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan las dapat dilakukan dengan
baik dan teliti.
10.4.3. Las Perapat / Pengendap.
Dalam setiap posisi dimana dua bagian (dari satu benda) saling berdekatan, harus
dilaksanakan las perapat / pengendap guna mencegah masuknya lengas. Terlepas
apakah detailnya diberikan atau tidak dalam Gambar Kerja, apakah benda / bahan tersebut
terkena cuaca luar atau tidak, dan Kontraktor tidak dapat meng-klaim pekerjaan ini sebagai
pekerjaan tambah.
10.4.4. Macam dan Ukuran Las.
Macam las yan dipakai adalah las lumer (las dengan busur listrik).
Ukuran las harus sesuai dengan Gambar Kerja dan atau tebal las untuk konstruksi
minimum 1/2 V t 2, dimana t adalah tebal bahan terkecil.
Panjang las minimum : 8 kali tebal bahan atau 40 mm. Panjang las
maksimum : 40 kali tebal bahan.
Kekuatan dari bahan las yang dipakai minimum sama dengan kekuatan Baja/Besi Profil yang
dipakai.
10.4.5. Pengelasan permukaan yang ditampakan (exposed).
Sebelum pengelasan, permukaan dari daerah yang akan dilas harus bersih dan bebas dari
kotoran, noda, cat, minyak dan karat.
Pengelasan harus rapi tanpa menimbulkan kerusakan dan cacat pada bahan yang dilas.
Pengakhiran dari cairan elektroda harus rata.
Setelah pengelasan, sisa-sisa / kerak las harus dibersihkan dengan baik.
Pemberhentian pengelasan harus pada tempat yang ditentukan dalam Gambar Kerja
dan atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas dan harus dijamin tidak akan berputar atau
membengkok.
10.4.6. Perbaikan Las.
Bila pekerjaan las ternyata memerlukan perbaikan, maka hal ini harus dilakukan
Kontraktor sebagaimana diperintahkan Konsultan Pengawas. Las yang cacat harus
dipotong dan dilas kembali. Biaya pekerjaan ini ditanggung oleh Kontraktor dan tidak
dapat di-klaim sebagai pekerjaan tambah. Pekerjaan las harus dilakukan oleh orang yang
ahli (mempunyai sertifikat) dan harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam
spesifikasi dan Gambar Kerja.
10.4.7. Mur dan Baut.
Baut yang dipergunakan harus mempunyai ukuran yang sesuai dengan yang tercantum dalam
Gambar Kerja. Pemasangan mur dan baut harus benar-benar kokoh serta mempunyai
kekokohan yang merata antara satu dengan lainnya.
10.4.8. Memotong dan menyelesaikan pinggiran bekas irisan.
Bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan bersih. Sama sekali tidak
diperkenankan ada bekas jalur dan lain sebagainya. Bila bekas pemotongan / pembakaran
dengan mesin menghasilkan pinggiran bekas irisan, maka bagian tersebut harus dibuang

30
sekurang-kurangnya selebar 2,5 mm. Kecuali kalau keadaannya sebelum dibuang setebal 2,5
mm sudah tidak tampak lagi jalur-jalur tersebut di atas.
10.4.9. Meluruskan, mendatarkan dan melengkungkan.
Melengkungkan dalam keadaan dingin hanya boleh dilakukan pada bagian non struktural.
Untuk melengkungkan harus digunakan gilingan lengkung.

PASAL - 11 : PEKERJAAN TALUD PASANGAN BATU BELAH

11 .1. Lingkup pekerjaan.


Penyediaan tenaga kerja,
11.1.1. Penyediaan material (bahan bangunan batu belah, pasir pasang, pasir urug, Semen
Portland)
11.1.2. Penyediaan perlengkapan pembantu yang diperlukan, misalnya penyediaan bak-bak
aduk, dolak untuk ukuran campuran adukan, profil-profil untuk pasangan Talud,
mesin molen, alat bantu lainnya yang diperlukan.
11.2. Macam pekerjaan.
11.2.1. Pasangan Talud Batu Belah termasuk pasangan urugan pasir dibawah pasangan.
11.2.2. Pasangan Talud Batu Belah apabila ada hanya digunakan pada konstruksi yang tidak
menerima berat dan digunakan sebagai PasanganTalud. Dipergunakan campuran
adukan 1 PC : 5 Psr.
11.2.3. Material yang digunakan harus yang bermutu baik, sesuai dengan syarat-syarat pada
PUBI 1970 (NI-3) dan PBI 1971 (NI-2), dan telah disetujui oleh pihak Direksi /
Pengawas untuk dapat digunakan.

11.3. Material Pasangan Talud Batu Belah.


11.3.1. Material yang dipergunakan harus batu bermutu baik, keras, padat, bersih dari
kotoran dan tanah, tidak lapuk ( poreus), ukuran 15 sampai dengan 20 cm dan telah
disetujui oleh Direksi / Pengawas untuk dapat digunakan.
11.3.2. Adukan spesi untuk Pasangan Talud Batu Belah adalah 1 PC : 5 psr.
11.3.3. Pasir urug tidak diperkenankan untuk campuran pasangan.
11.3.4. Pasangan Talud Batu Belah yang terletak pada tanah keras harus didasari dengan
batu kosong (batu tanpa aduk) di urug pasir dan dipadatkan setebal 15 cm, setelah
tanah urug dibawahnya mengalami proses stabilisasi tanah (lihat persyaratan
urugan).
11.4. Penggunaan “ Additive ”.
Penggunaan untuk tujuan mempercepat pengeringan beton dapat dilakukan tanpa mengurangi
mutu dan kekuatan beton setelah mendapat ijin tertulis dari Direksi Lapangan.
11.5. Pelaksanaan.
11.4.1. Pelaksanaan harus sesuai gambar atau petunjuk ketentuan dari Direksi/Konsultan
Pengawas.
11.4.2. Pemborong diwajibkan melaporkan kepada Direksi/Konsultan Pengawas, apabila ada
perbedaan antara gambar dengan ketentuan rencana kerja dan spesifikasi teknis
atau perbedaan antara gambar konstruksi dengan gambar arsitektur

Pasal - 12 : PEKERJAAN LAIN-LAIN :

 Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan bekas pekerjaan, bekas bongkaran,
pembersihan sisa-sisa material, serta pembersihan bidang yang kotor akibat ada kegiatan.
 Keamanan dilokasi pekerjaan selama kegiatan berjalan adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.
 Sebelum pekerjaan diserahkan kepada pihak User, semua jenis pekerjaan sudah dilaksanakan
dengan sempurna.

Tanjungpandan, 25 Maret 2022

31
Mengetahui / Menyetujui Dibuat Oleh

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN PT. MARGA BUANA JAYA

FIRMAWAN, S.Tr Ir. AJI GINANJAR REZKIANTO


NIP. 19770421 201001 1 018 DIREKTUR

32