Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KEPEMIMPINAN TEUKU UMAR

DOSEN PENGAMPU : SUDARMAN,, M.Ag

I
S

S
U
N

oleh :

Nadia Pramesti (2105903040103)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TEUKU UMAR
TAHUN AJARAN
2022/2023
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................................... 2

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... 3

BAB I ............................................................................................................................................... 4

PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 4

A. Latar Belakang ....................................................................................................................... 4

B. Rumusan Masalah ................................................................................................................... 5

C. Tujuan .................................................................................................................................... 5

BAB II .............................................................................................................................................. 6

PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 6

A. Alasan Belanda mengejar Teuku Umar hidup atau mati. ..................................................... 6

B. Alasan mata kuliah Kepemimpinan Teuku Umar harus ada di UTU ................................... 7

C. Hal menarik dari sosok Teuku Umar ..................................................................................... 8

D. Gugurnya Teuku Umar akibat pengkhianatan ................................................................... 10

BAB III .......................................................................................................................................... 12

PENUTUP...................................................................................................................................... 12

A. Kesimpulan ........................................................................................................................... 12

B. Saran...................................................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 13


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah berkat Rahmat dan Karunia Allah, Makalah yang berjudul “kepemimpinan
Teuku Umar” dapat diselesaikan dalam rangka melengkapi tugas pada mata kuliah Kepemimpinan
Teuku Umar. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Sang Revolusioner sejati, Nabi
Muhammad SAW, keluarga serta para sahabat yang telah membawa perubahan dengan menghadirkan
peradaban Islam rahmatalilalamin.

Penulisan makala ini penting bagi penulis untuk dilakukan, sebagai wujud rasa tanggung
jawab akademik untuk mengembangkan kajian ilmu-ilmu Islam sekaligus sebagai rasa tanggung
jawab social dan pengabdian kepada masyarakat. Penulis sangat menyadari, dalam menyelesaikan
penelitian ini sudah barang tentu penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu
kepada mereka penulis sampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya dengan iringan do’a
semoga mendapat balasan dari Allah dan dicatat sebagai amal sholeh. Amin.

Meulaboh, 21 Maret 2022

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Teuku Umar adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia berasal dari Meulaboh Kabupaten
Aceh Barat. Teuku Umar di lahirkan di Meulaboh Kabupaten Aceh barat pada 1854, di Gampong
Masjid (sekarang Gampong Belakang), Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat. Ayahnya
bernama Teuku Ahmad Mahmud dan ibunya Tjut Mohani. Dari pasangan ini di karunia tiga orang
anak yang menjadi saudara kandungnya yaitu 1.Teuku Musa, 2. Tjut Intan dan 3, Teuku Mansur.
Teuku Umar berjuang mempertahankan Aceh dari Belanda dengan menggunakan taktik berpura-pura
bekerjasama dengan Belanda, sehingga ia diberikan kepercayaan penuh untuk mmemimpin pasukan
dengan fasilitas senjata, Ketika senjata telah berhasil dikumpulkan langsung balik arah dan
menyerang Belanda.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Teuku Umar sudah memanggul senjata dan bertempur
melawan Belanda sejak usia 19 tahun, ketika dimulainya agresi Belanda pertama pada
1873. Teuku Umar seorang yang sangat paham dengan kejiwaan orang Aceh, Beliau mampu menarik
pengikutnya dengan sifat dermawan dan riang gembira, dan mampu memperoleh kerjasama mereka
dengan mengobarkan perang sabil. Teuku Umar sempat berdamai dengan Belanda tahun 1883.
Namun satu tahun kemudian perang kembali tersulut di antara keduanya. 9 tahun kemudian tepatnya
1893, Teuku Umar mulai menemukan cara untuk mengalahkan Belanda dari ‘dalam’. Ia lantas
berpura-pura menjadi antek Belanda. Aksi ini sampai membuat Cut Nyak Dien marah besar karena
bingung dan malu. Atas jasanya menundukkan beberapa pos pertahanan di Aceh, Teuku Umar
mendapat kepercayaan Belanda. Ia lalu diberi gelar Johan Pahlawan dan diberi kebebasan untuk
membentuk pasukan sendiri berjumlah 250 orang tentara dengan senjata lengkap dari Belanda. Pihak
Belanda tidak tahu, kalau itu hanya akal-akalan Teuku Umar semata yang telah berkolaborasi dengan
para pejuang Aceh sebelumnya. Tak lama kemudian, Teuku Umar malah diberi lagi tambahan 120
prajurit dan 17 panglima termasuk Pangleot sebagai tangan kanannya.
30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda. Di sinilah ia kemudian
melancarkan serangan berdasarkan siasat dan strategi perang miliknya. Bersama pasukan yang sudah
dilengkapi 800 pucuk senjata, 25.000 peluru, 500 kg amunisi dan uang 18 ribu dolar, Teuku Umar
yang dibantu Teuku Panglima Polem Muhammad Daud dan 400 orang pengikutnya membantai
Belanda. Tercatat, ada 25 orang tewas dan 190 luka-luka dari pihak Belanda. Gubernur Deykerhof
sebagai pengganti Gubernur Ban Teijn yang telah memberi kepercayaan kepada Teuku Umar selama
ini merasa sakit hati karena telah dikhianati Teuku Umar. Ia lantas memerintahkan Van Heutsz
bersama pasukan besarnya untuk menangkap Teuku Umar. Serangan mendadak ke daerah Meulaboh
itulah yang merenggut nyawa Teuku Umar. Ia ditembak dan gugur di medan perang, tepatnya di
Kampung Mugo, pada 10 Februari 1899.
A. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Apa alasan Belanda mengejar Teuku Umar ?

2. Mengapa mata kuliah Kepemimpinan Teuku Umar harus ada di UTU?


3. Hal menarik apa yang ada pada diri Teuku Umar?
4. Bagaimana kronologis gugurnya Teuku Umar?

B. Tujuan

1. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui sosok Teuku Umar

b. Untuk mengetahui pentingnya mata kuliah kepemimpinan Teuku Umar.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Alasan Belanda mengejar Teuku Umar hidup atau mati.


Ada banyak alasan Belanda ingin mengambil jasad Teuku Umar khususnya kepala. Sebab
Belanda tidak habis pikir bagaimana Teuku Umar, seorang pejuang yang tidak belajar ilmu bertempur
atau militer memiliki strategi perang yang sangat brilian sehingga membuat Belanda sangat menderita.
Ceritanya pada awal meletus perang Aceh, Teuku Umar sudah ikut berjuang dengan pasukan
kesultanan Aceh. Saat bertempur dengan tentara Belanda Teuku Umar menyadari bahwa jika pejuang
Aceh hanya mengandalkan senjata seadanya seperti rencong, Tombak dan senjata api rampasan yang
sedikit maka akan banyak menimbulkan korban di pihak pejuang Aceh.
Oleh karena itu, Teuku Umar mengatur strategi bagaimana mendapatkan senjata api yang
banyak. Dengan sebab itu, beliau mempunyai ide untuk menjadi salah satu tentara dari Belanda.
Strategi penyamaran ini hanya diketahui oleh anak buah Teuku Umar saja, sedangkan pasukan Aceh
lain tidak mengetahui maksud dan tujuan Teuk Umar sehingga Teuku Umar di cap sebagai pengkhiat
saat itu. Akhirnya misi dimulai. Teuku Umar tiba -tiba menyerahkan diri kepada Belanda. Belanda
yang sudah putus asa melawan Teuku Umar dengan senang hati menerima penyerahan yang dilakukan
oleh Teuku Umar. Oleh sebab itu, Belanda dengan cepat menjadikan Teuku Umar sebagai tentaranya
dalam memburu pejuang Aceh.
Pada awal bergabung Teuku Umar berhasil membuat Belanda senang. Karena beliau berhasil
menghancurkan pos --pos dari pejuang Aceh. Sehingga atas prestasinya itu Teuku Umar di angkat
sebagai komandan pada salah satu kavaleri Belanda yang khusus memburu pejuang Aceh. Pada saat
menjadi komandan, Teuku Umar baru mulai melakukan aksinya dengan cara menlucuti sedikit demi
sedikit senjata Belanda di Gudang untuk di serahkan kepada pejuang Aceh. Setelah 2 tahun menyamar
dan Teuku Umar merasa sudah cukup mencuri senjata dan peluru Belanda maka Teuku Umar malah
menyerang balik Belanda dan mebuat Belanda semakin terpojok, sebab pejuang Aceh sudah banyak
mempunyai senjata api yang berasal dari Belanda.
Alasan yang kedua Teuku Umar melakukan perang gerilya yang mengandalkan hutan sebagai
tempat bersembunyi, dalam perang gerilya ini Teuku Umar selalu menang dalam pertempuran sebab
pejuang Aceh yang notabene pribumi asli tentu sangat mengetahui medan tempur sendiri jika di
bandingkan dengan Belanda yang tidak tau apa --apa tentang kondisi Aceh secara keseluruhan. Strategi
perang gerilya yang dilakukan adalah dengan cara menyerbu secara mendadak pasukan Belanda yang
sedang berpatroli atau sedang mengangkut logistik perang. Strategi ini sangat membuat Belanda
banyak kehilangan pasukannya. Dan ada juga kejadian saat Teuku Umar mau disergap pada saat subuh
di sungai, Teuku Umar yang mengetahui Belanda mempunyai banyak senjata dan peluru mencoba
menipu Belanda dengan cara dibuangnya buah kelapa ke sungai. Pasukan Belanda yang melihat buah
kelapa seperti kepala pejuang Aceh tanpa pikir panjang terus menembak secara membabi buta sehingga
menghabiskan banyak peluru. Sebab buang kelapa walaupun kena tembakkan tetap mengapung di atas
air. Setelah habis peluru baru di serbu oleh pejuang Aceh yang keluar dari persembunyiannya.
Sehingga muncul sebuah ide dari seorang pribumi Aceh yang bekerja sama dengan Belanda
untuk membuat sebuah satuan yang kerjanya menghanguskan setiap tempat rakyat Aceh tinggal, yang
nama pasukannya dikenal dengan sebutan "Marsose" yang mana satuan ini terdiri dari pasukan elit
Belanda yang sangat kejam. Sebab mereka tidak segan -- segan membakar desa yang mereka lalui.
Dengan adanya pasukan marsose kekuatan pejuang Aceh sedikit menciut sebab desa sebagai tempat
penyediaan makanan bagi tentara Teuku Umar habis dibakar oleh pasukan marsose. Oleh sebab itu,
perlawanan Teuku Umar terhadap Belanda sudah mulai berkurang. Puncaknya Teuku Umar disergap
oleh Belanda di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899 subuh pagi, sesaat sampai di batu putih kota
Meulaboh, beliau Akhirnya mati syahid setelah terkena tembakkan dari sniper Belanda. Setelah mati
syahid jasad Teuku umar di bawah lari oleh pengikutnya supaya tidak diambil oleh tentara Belanda.
Memang sebelum beliau pulang ke Meulaboh beliau sudah bilang sama pasukannya "singoh bengoh
tanyoe jep kupi di Meulaboh atawa lon matee syahid" (besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh
atau saya mati syahid).
Dalam pelarian, pengikut Teuku Umar sengaja membuat kuburan palsu untuk menipu Belanda.
Dan jika ada pengikut yang memberi informasi dimana Teuku Umar maka mata mereka tiba -- tiba
buta sebab mereka sudah berkhianat kepada Teuku Umar.setelah dilakukan beberapa penyamaran
akhirnya Teuku Umar di makamkan di desa mugo Rayeuk Kecamatan Perenmeu Kabupaten Aceh
Barat.Atas banyak tipuannya maka kepala Teuku Umar sangat berharga bagi Belanda. Sebab Belanda
ingin membelah kepala Teuku Umar untuk mengetahui apa isinya didalamnya. Atas perjuangan
pengiikut Teuku Umar maka kepala Teuku Umar berhasil di sembunyikan.

B. Alasan mata kuliah Kepemimpinan Teuku Umar harus ada di UTU

Mata kuliah kepemimpinan teuku umar bisa mendidik para mahasiswa memiliki semangat
juang tinggi seperti Teuku Umar. Teuku Umar mempunyai banyak strategi tentang bagaimana
menggerakkan orang lain dan bagimana dia mengalahkan orang lain, serta bagaimana dia berteman
dengan orang lain. Sehingga dinilai nilai yang dimiliki itu paling relevan digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Selain itu banyak sikap - sikap kepahlawanan Teuku Umar yang dapat diteladani
diantaranya adalah :

 Sikap disiplin adalah dengan membangun jiwa patriot yang dapat diajarkan kepada para remaja
dan pengikutnya.
 Sikap dermawan, sikap ini dilakukannya dalam membiayai pasukannya dalam melawan
Belanda.
 Menghargai orang lain, sikap ini ditunjukan ketika teuku umar mendapat dukungan dari seorang
ulama dan beliau memberikan beberapa bantuan kepada para ulama tersebut.
 Sikap sebagai motivator, sikap ini mampu dijadikan sebuah motivasi ketika teuku umar mampu
memberikan semangat kepada para pengikutnya dan masyarakat.
 Sikapnya yang sopan kepada setiap orang, beliau merupakan seorang pahlawan yang terpelajar
dapat menghargai orang lain dan tetap bersikap sopan kepada siapapun yang beliau temui.

Oleh karena itu mata kuliah Kepemimpinan Teuku Umar harus ada di UTU. Karena dengan
adanya mata kuliah ini mahasiswa diharapkan memiliki semangat juang tinggi seperti Teuku Umar.

C. Hal menarik dari sosok Teuku Umar

Teuku Umar bukan hanya pejuang yang tangkas dalam berperang. Ia juga seorang yang sangat
cerdas dan cerdik meskipun tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Taktik dan manuvernya yang
tak terduga dan mengejutkan seringkali membuat orang heran sekaligus bingung, termasuk istrinya
sendiri, Cut Nyak Dhien. Tahun 1883, Teuku Umar berdamai dengan Belanda. Ia bahkan masuk dinas
militer Belanda. Gaya Umar ini bertolak belakang dengan karakter istrinya, Cut Nyak Dhien. Hingga
akhir Perang Aceh kelak, Dhien tidak sudi takluk kepada bangsa asing yang telah menginjak-injak
tanah kelahirannya. Namun, dengan terpaksa, ia menyetujui langkah Umar kendati terus mengikuti
gerak-gerik suaminya itu. Pada 1884, sebuah kapal milik Inggris terdampar di perairan Aceh. Kapal
bernama Nesisero (atau Nisero) beserta kapten dan seluruh awak kapalnya itu disandera oleh penguasa
kawasan tersebut, Teuku Imam Muda Raja Teunom (Ibrahim, 1996: 48). Raja Teunom meminta
tebusan dalam jumlah besar jika ingin para tawanan beserta kapalnya dibebaskan.

Gubernur Aceh, Laging Tobias, panik karena persoalan ini telah memperburuk hubungan Belanda
dengan Inggris. Maka, Teuku Umar diminta untuk segera mengatasi masalah ini lantaran Belanda
enggan membayar tebusan. Umar yang sesama orang Aceh diharapkan bisa melunakkan Teuku Imam
Muda Raja Teunom. Teuku Umar pun berlayar dengan 32 orang anak buahnya dan pasukan Belanda ke
Teunom. Prof. Dr. M. Dien Madjid (2014) dalam buku Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan,
Diplomasi, dan Perjuangan Rakyat, menyebutkan, dalam perjalanan, para prajurit Belanda itu dibunuh,
senjata mereka pun dirampas. Belanda juga semakin berpolemik dengan Inggris karena gagal
membebaskan para sandera. Inggris terpaksa membayar 100.000 ringgit sebagai tebusan dan Belanda
harus mencabut blokade terhadap Pelabuhan Teunom (hlm. 215

Setelah kejadian tersebut, Teuku Umar tidak kembali ke kubu Belanda, melainkan pulang ke
markas rakyat Aceh yang dipimpin Cut Nyak Dhien. Kepulangan Umar membawa tambahan
persenjataan dan barang-barang berharga yang dirampas dari kapal Belanda. Ada kemungkinan, orang-
orang Umar juga menghabisi lawan-lawannya di kapal itu. Kembalinya Teuku Umar disambut
gembira sekaligus lega oleh Cut Nyak Dhien dan rakyat Aceh yang dipimpinnya. Dua tahun kemudian,
tepatnya pada 14 Juni 1886, Teuku Umar memimpin pasukannya menyergap kapal Hok Canton yang
ternyata juga milik Inggris. Umar menyerbu kapal tersebut karena dicurigai mengangkut senjata yang
akan dijual secara ilegal. Inggris pun lagi-lagi dibuat marah dan mendesak Belanda untuk menuntaskan
masalah ini. Belanda, demi memperbaiki hubungan dengan Inggris setelah kegagalan sebelumnya,
terpaksa bersedia membayar tebusan kepada Teuku Umar sebesar 25 ribu ringgit (Mardanas Safwan,
Teuku Umar, 2007: 22). Kekuatan finansial pasukan Aceh pun bertambah lagi. Namun, pada 1893,
Umar dan 15 orang panglimanya tiba-tiba menyerahkan diri kepada Belanda. Tak pelak, Cut Nyak
Dhien terkejut sekaligus malu bahkan marah dengan kelakuan suaminya itu. Namun, Umar pastinya
sudah punya siasat khusus.

Belanda ternyata masih percaya kepada Umar dan menerimanya kembali. Sosok Umar memang
amat berharga dan sangat berpengaruh. Terlebih, menurut Ibrahim Alfian (1987) dalam Perang di Jalan
Allah: Perang Aceh 1873-1912, dikutip dari tulisan Dr. Razali Muhammad Ali berjudul “Strategi
Muslihat Pahlawan Aceh” (Serambi Indonesia, 2016), Umar dan para pengikutnya mengucapkan
sumpah setia kepada Belanda. Teuku Umar pun diperintahkan memimpin ratusan prajurit Belanda
bersenjata lengkap untuk menumpas perlawanan rakyat Aceh. Sekali lagi, Umar menunjukkan
kepiawaiannya dalam bersiasat. Di depan mata Belanda, ia tampak benar-benar melawan rakyatnya
sendiri, namun yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Bahkan, lagi-lagi Belanda dipecundangi.
Pasukan Umar membawa lari 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg mesiu, 5000 kg timah,
uang tunai, dan peralatan perang lainnya, untuk menambah kekuatan rakyat Aceh
D. Gugurnya Teuku Umar akibat pengkhianatan.

Teuku Umar dan gerombolannya adalah watak pejuang yang paling dibenci oleh Belanda.
Belum pernah dalam sejarah penjajahan Belanda ditipu oleh seorang pribumi sebagaimana dilakukan
oleh Teuku Umar. Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar Johan Pahlawan meninggal dunia,
gugur sebagai seorang jantan pahlawan yang patut dikenang. Ia yang lazim disebut dengan Teuku Uma
atau Teuku Meulaboh tewas di medan jihad 2 kilometer dari Meulaboh (waktu itu) pada jam 8 malam.
Gugurnya beliau disebabkan tembakan-tembakan tepat dari brigade marsose Belanda yang sengaja
dikirimkan ke Suak Ujong Kalak untuk melakukan pengintaian (verkenning) akan adanya informasi
sebuah pasukan Aceh akan menyerang Meulaboh yang pada saat itu hanya berkekuatan dua kompi.

Dalam keadaan yang kalut, pasukan kecil Belanda yang mengobservasi informasi rahasia yang
mereka peroleh bahwa benar adanya sebuah pasukan besar langsung dipimpin Teuku Umar sendiri
berada di tempat itu. Sebelum mundur pasukan Belanda melepaskan tembakan salvo dua kali yang
“kebetulan” mengenai sasatan sekitar api rokok dari penghisapnya, Teuku Umar sendiri. Sebutir dari
dua peluru tersebut mengenai dada kiri Teuku Umar dan tembus ke belakang dengan luka ternganga
berdiameter 10 centimeter dengan luka dimuka hanya kecil saja. Menurut cerita orang-orang tua,
tembakan itu dilepaskan dengan peluru emas dikarenakan Teuku Umar memiliki ilmu kebal.

A. Suasana Meulaboh setelah Teuku Umar Tewas

Jenazah Teuku Umar yang terluka sedemikian parah digotong keluar pasukan dan menghilang
dalam suasana kacau dan menghilang sehingga tidak semua pasukan Aceh mengetahui kejadian yang
sangat merugikan tersebut. Orang-orang di Meulaboh menduga Teuku Umar telah tewas karena tidak
jadi dilangsungkan penyerangan ke tangsi Belanda malam itu, hal ini disebabkan pasukan yang telah
menyusup ke Meulaboh hanya menunggu komando terakhir untuk melakukan penyerbuan. Pasukan
Aceh dan masyarakat yang mendukung perjuangan Teuku Umar menjadi panik sehingga mereka
memutuskan untuk bergerilya dengan pasukan-pasukan kecil di sekitar Meulaboh.

B. Siapa pengkhianat sehingga Teuku Umar gugur?

Jalan pengkhianatan terhadap terbunuhnya Teuku Umar cukup berliku. Pada tahun 1970 seorang
penulis sejarah Aceh bernama Tjoetje berdasarkan cerita ayahnya yang turut dalam pasukan Teuku
Umar menceritakan bahwa ada seorang anak yang bernama Njak Oesoeh berada di kota Meulaboh,
ayahnya bernama Njak Daoed adalah seorang pengikut Teuku Umar. Njak Daoed meminta izin kepada
Teuku Umar untuk mengirimkan surat kepada anaknya supaya keluar dari Meulaboh sebab pasukan
Aceh akan menyerang kota pada malam itu. Teuku Umar tidak keberatan dengan pengiriman surat
tersebut. Surat yang disampaikan Njak Daoed kepada anaknya Njak Oesoeh disampaikan melalui
perantaraan Raja Ameh, entah bagaimana surat ini jatuh ke tangan Toke Dolah dan sampai kepada
komandan marsose Jenderal Van Heutsz yang kebetulan pada saat itu berada di Meulaboh. Dasar surat
tersebut membuat keluar perintah harian komandan marsose itu mengadakan pengintaian ke Suak
Ujing Kalak.

C. Cut Nyak Dien mendengar kabar gugurnya Teuku Umar

Cut Nyak Dhien ketika itu berada di Pucok Woyla (35 kilometer dari Meulaboh) mengetahui
kematian suaminya dari salah seorang panglima Teuku Umar, ia meneteskan air mata karena suami
keduanya Teuku Umar (1899) harus gugur di tangan Belanda sebagaimana suami pertamanya Teuku
Ibrahim Lam Nga juga tewas pada ujung peluru Belanda (1878). Cut Nyak Dien yang oleh Belanda
dikatakan oleh Belanda “manly” (kelelakian) dan “kranig” (tangkas), segera turun gunung bukan
untuk mencari pusara suaminya melainkan membentuk pasukan kembali guna meneruskan perjuangan.
Cut Nyak Dien memimpin secara gerilya di setiap pelosok Aceh Barat seperti Woyla, Seunagan, Tripa,
Blang Pidie sampai Bakongan. Tak henti dan tak menyerah sampai Cut Nyak Dien ditangkap Belanda
pada tahun 1904.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Perang yang terjadi di Aceh merupakan perang terlama yang pernah dihadapi oleh Belanda
dalam upaya menguasi wilayah dan perdagangan Nusantara. Perang ini berlangsung kurang lebih
selama 31 tahun, yaitu dari tahun 1873 sampai 1904. Banyak sekali pemimpin-pemimpin ternama dari
Aceh yang menonjol saat memimpin perlawanan terhadap Belanda. Salah satunya adalah Teuku Umar.
Teuku Umar membuat sebuah rencana yang sangat menggemparkan pihak Aceh. Teuku Umar
memutuskan untuk berpihak kepada Belanda pada 1883. Siasat ini dilakukan Teuku Umar untuk
mengambil keuntungan dari Belanda, yang akan disalurkan untuk kebutuhan perang pihak Aceh. Pihak
Belanda yang sangat mempercayai Teuku Umar, memerintahkannya untuk mengajarkan Teknik perang
gerilya kepada pasukannya. Belanda juga menugaskan Teuku Umar untuk memerangi rakyat Aceh.
Tentu saja Teuku Umar tidak serius berperang melawan tantara Aceh.

Akibat dari siasat berpura-pura yang dilakukan Teuku Umar, pihak Belanda mengalami
kerugian. Baik itu dari keuangan maupun persenjataan. Bahkan, kolonel Deykerhoff yang saat itu
mempercayai Teuku Umar harus diberhentikan dari jabatannya dan digantikan oleh Jendral Vetter.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan.
Begitu pula dengan karya ilmiah ini. Sekeras apapun penulis berusaha menulis karya ilmiah ini, tetap
akan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, karya ilmiah ini perlu dilengkapi lagi dengan perspektif
berbeda dari karya ilmiah lain agar mendekati kesempurnaan. Karya ilmiah ini diharapkan bisa
bermanfaat dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca, khususnya
masyarakat Aceh yang mana Aceh merupakan objek utama dalam pembahasan ini.
DAFTAR PUSTAKA

Algadri, Hamid. Politik Belanda Terhadap Islam dan Arab, Jakarta, Sinar Harapan, 1984
Alfian, Ibrahim. Wajah Aceh Dalam Lintas Sejarah, Aceh, Pusat Dokumen dan Informasi Aceh,
1999
Alamsyah. Ensiklopedi Aceh adat bahasa geografi kesenian sejarah, Aceh, Pejabat Pembuat
Komitmen Bidang Budaya, 2008
Sari, Novia Maya. STRATEGI TEUKU UMAR DALAM MENENTANG KOLONIALISME BELANDA
(1873-1899). Diss. UNIMED, 2017.

Fauzan, M. Fikri. Perlawanan Teuku Umar Terhadap Penjajahan Belanda di Aceh (1873–1899). BS
thesis. Fakultas Adab dan Humaniora.

Alfian, Ibrahim. Wajah Aceh Dalam Lintas Sejarah, Aceh, Pusat Dokumen dan Informasi Aceh, 1999
Dumadi, Sagimun Mulus. Teuku Umar, Jakarta, Bhratara Karya Aksara, 1983
Hadi, Amirul. Aceh : Sejarah, Budaya, dan Tradisi, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010