Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti adanya sampah yang berserakan terutama jenis sampah plastik, kaleng-kaleng, botol-botol dan pecahan kaca yang dapat menimbulkan pencemaran dan mengganggu estetika, juga merupakan media tumbuh dan berkembangnya bakteri penyakit serta vekror berbagai penyakit (Kusnoputranto,2002). Kondisi perumahan yang jelek seperti rumah yang terlalu padat dan jarak yang terlalu dekat antara yang satu dengan yang lainnya, tempat penampungan air yang tidak memiliki penutup serta jarang dibersihkan, bergantungan pintu yang dan jendela yang jarang dibuka, faktor pakaian

semuanya

merupakan

pendukung

berkembang biaknya vector penyakit. (Kusnoputranto,2002). Salah satu penyakit yang muncul akibat kondisi sanitasi

lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah Demam Berdarah Dengue. DBD telah menjadi endemik di negara-negara Asia Tenggara seperti Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Philipina, Indonesia, Thailand dan Negara-negara di Pasifik barat. Di Indonesia setelah KLB DBD pada tahun 1998, terjadi penurunan angka kesakitan, kemudian

terjadi ledakan kasus pada tahun 2003. Nampaknya pola insiden DBD adalah jika terjadi lonjakan kasus pada tahun tertentu maka dua tahun berikutnya akan terjadi penurunan, kemudian tahun berikutnya lagi akan terjadi ledakan kasus. Sebagai contoh kasus yang terjadi di Kepulauan Pasifik. Pada tahun 1998, terjadi KLB DBD di Kepulauan Pasifik yang menyebar hingga Pasifik barat yaitu sebanyak 356.000 kasus. Dua tahun berikutnya terjadi penurunan dengan hanya 50.000 kasus per tahun. Kemudian terjadi lagi lonjakan pada tahun 2001 sebanyak 132.000 kasus (WHO, 2005 ). Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypti (Depkes RI 2003). Menurut Anwar (2000), bahwa faktor-faktor risiko yang

mempengaruhi terjadinya penyakit demam berdarah dengue antara lain tingkat pengetahuan tentang tanda atau gejala, cara penularan dan pencegahan penyakit DBD, kebiasaan tidur siang, kebiasaan

menggantung pakaian, kebiasaan membersihkan tempat penampungan air, kebiasaan membersihkan halaman disekitar rumah, tempat

penampungan air didalam atau diluar rumah yang terbuka dan tempat penampungan air didalam atau diluar rumah yang positif jentik. Semua faktor-faktor tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD.

Selain itu Berdasarkan Penelitian yang dilakukan

oleh Fath,

Soedjajadi K, dan Chatarna U.W, (2005). Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut, Penyakit DBD juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, adanya kontainer buatan ataupun alami di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun ditempat sampah lainnya, penyuluhan dan perilaku masyarakat, antara lain : pengetahuan, sikap, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging, abatisasi, dan pelaksanaan 3M (menguras, menutup dan mengubur). Selain itu penelitian yang dilakukan Tamawiwy W.H, Pratiwi B dan Tarmizi (2006) di Manado menunjukan Hasil penelitian

menunjukkan adanya hubungan antara tempat penampungan air dengan kejadian DBD dimana sebanyak 12 dari 15 (48%) tempat penampungan air responden tidak memenuhi syarat menderita DBD, Pengelolaan sampah juga ada hubungan dengan kejadian DBD dimana diketahui bahwa sebanyak 19 dari 41 (46,3%) pengelolaan sampah responden tidak memenuhi syarat menderita DBD, Untuk kondisi rumah dengan kejadian DBD diperoleh hasil yang tidak ada hubungan secara signifikan, sebanyak 30 dari 180 (16,7%). Metode fisik/lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pengelolaan sampah padat, modivikasi tempat

perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Contoh menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali. Menutup dengan rapat tempat penampungan air. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya (WHO, 2007). Sesuai dengan teori Bloom, (1974) yang menyampaikan bahwa faktor lingkungan dan perilaku mempunyai pengaruh terbesar terhadap status kesehatan, di samping faktor pelayanan kesehatan dan genetik. Untuk itu cara pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit tersebut harus melalui upaya perbaikan lingkungan / sanitasi dasar dan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan paradigma yang lebih menonjol adalah aspek pencegahan dan promosi. (DEPKES RI 2003). Pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup tinggi,

memberikan implikasi semakin rendahnya tingkat kesehatan terutama kebersihan lingkungan sehingga menimbulkan berbagai penyakit infeksi salah satunya penyakit demam berdarah dengue yang hingga saat ini belum ada obatnya. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia dan sering menimbulkan suatu letusan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kematian yang besar. Di Indonesia nyamuk penular

(vektor) penyakit DBD yang penting adalah Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Aedes scutellaris, tetapi sampai saat ini yang menjadi vektor utama dari penyakit DBD adalah Aedes aegypti. (Depkes RI, 2007). Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan Case Fatality Rate (CFR) = 41,3%. Sejak itu penyakit DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kasus dan luas daerah terjangkit. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, Kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Pada tahun 2003 penyakit ini telah meyebar kesebagian besar kabupaten kota di Indonesia dan sering menimbulkan KLB dengan resiko kematian tinggi. (Depkes RI, 2003). Kalimantan Timur merupakan suatu daerah di timur Indonesia yang memiliki 14 kabupaten kota. Kalimantan merupakan suatu daerah dari Indonesia yang perlu mendapatkan perhatian terutama dalam hal kesehatan dimana dengan kondisi geografis yang sangat sulit terjangkau oleh daerah ibu kota sehingga menyebabkan daerah ini jauh tertinggal dengan daerah lainya terutama dalam hal kesehatan pemberantasan penyakit menular terutama demam berdarah dengue. Data kasus dan kematian yang ada pada Dinas Kesehatan Provinsi kalimantan timur pada 3 tahun terakhir menunjukan tingginya

angka penyakit demam berdarah dengue di kalimantan timur yaitu di tahun 2007 sebanyak 5.341 kasus dan kematian 102, (CFR 1,909%), tahun 2008 terjadi peningkatan menjadi 5.777 kasus dan kematian 105 kematian, (CFR 1,817%). Pada periode yang sama Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat sebanyak 5.806 kasus demam berdarah dengue dengan kematian 109 penderita di tahun 2009, (CFR 1,877%), Setidaknya Jika dirata-rata warga yang meninggal karena demam berdarah dengue setiap bulannya sekitar 9 orang pada 2009. Dengan temuan kasus DBD, angka kesakitan Kalimantan Timur mencapai 172,1 setiap 100.000 penduduk. Padahal rasio normal perhitungan nasional hanya 20 per 100.000 penduduk. Begitu pula dengan angka kematian sebesar 1,9 %. Sementara angka normal seharusnya di bawah 1 % (Dinas kesehatan Provinsi Kaltim 2010). Kabupaten Paser khususnya yang memiliki 10 kecamatan yang salah satunya kecamatan Tanah Grogot, merupakan salah satu dari 10 kecamatan yang merupakan daerah endemis untuk penyakit DBD yang memiliki penderita paling tinggi dari kecamatan lainya. Hasil data yang di dapatkan tahun 2009 dari Dinas Kesehatan di dapatkan data dari seluruh kecamatan yaitu 389 penderita yang masing-masing terbagi kecamatan Tanah Grogot 208 penderita, Kecamatan Long kali 17 penderita, kecamatan Long Ikis 33 penderita, kecamatan Kuaro 15 penderita, kecamatan Batu Sopang 29 penderita, kecamatan Muara

Koman 4 penderita, Kecamatan Muser 2 penderita, kecamatan Pasir Belengkong 56 penderita, kecamatan batu Engau 10 penderita dan kecamatan Tanjung Harapan 3 penderita DBD (Dinkes Paser 2010). Berdasarkan hasil laporan bulanan Puskesmas Tanah Grogot kasus DBD dari tahun ke tahun cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2007 terdapat 162 penderita dengan jumlah kematian 1 orang (CFR 0,61%), tahun 2008 mengalami penurunan dengan jumlah penderita 81 orang dengan jumlah kematian 0, dan pada tahun 2009 meningkat tajam sebanyak 208 kasus dengan jumlah kematian 3 orang (CFR 1,11%). Puskesmas Tanah Grogot terdiri dari 1 kelurahan dan 11 desa dari laporan tersebut di dapatkan data yaitu Kelurahan Tanah Grogot yang merupakan daerah tertinggi untuk kasus penderita DBD di tahun 2009 yaitu sebanyak 99 dengan jumlah kematian 3 orang (CFR 3,03%) dan bulan Desember Kelurahan tanah Grogot dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa. Untuk dapat menanggulangi penyakit demam berdarah dengue di perlukannya suatu pencegahan terhadap penyakit tersebut terutama pencegahan terhadap lingkungan. Pada dasarnya pencegahan

penyakit lebih murah dari pada pengobatan penyakit tersebut. Proses pencegahan tersebut tidak dapat di pisahkan dari kodisi lingkungan dan sejarah terjadinya penyakit (Mukono 2000).

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang faktor risiko kejadian demam berdarah dengue di Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan Tanah Grogot tahun 2009.

B. Rumusan Masalah Apakah kondisi sanitasi lingkungan ( keadaan rumah, tempat penampungan air, dan keberadaan jentik) merupakan faktor risiko kejadian demam berdarah dengue di Kelurahan Tanah Grogot Kabupaten Paser tahun 2009 ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor risiko kejadian Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan Tanah Grogot tahun 2009. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui apakah keadaan rumah merupakan

factor risiko kejadian DBD di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009. b. Mengetahui apakah tempat penampungan air

merupakan factor risiko kejadian DBD di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009.

c.

Mengetahui apakah keberadaan jentik merupakan

faktor risiko kejadian DBD di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis Merupakan penerapan pengetahuan teori dan wawasan serta pencapaian ilmu selama perkuliahan. 2. Bagi Masyarakat Dapat melaksanakan program PSN-DBD agar dapat terhindar dari terjangkitnya penyakit DBD. 3. Bagi pihak instansi terkait Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi instansi yang terkait seperti Dinas Kesehatan, LSM, serta akademisi sebagai pedoman dalam menentukan prioritas pelaksanaan

program dan menentukan arah kebijakan dalam upaya penanganan penyakit DBD. 4. Bagi peneliti lain Sebagai referensi bagi peneliti lain untuk bahan informasi awal penelitian lebih lanjut.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA TIDAK ( DI PRINT)

A. Tinjauan umum tentang penyakit Demam Berdarah Dengue 1. Pengertian demam berdarah dengue (DBD) Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditandai dengan panas (demam) dan disertai dengan pendarahan (Depkes RI 2007). Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypti (Depkes RI 2003). Selain itu menurut WHO 1999 Demam berdarah dengue adalah penyakit Febris-virus akut, sering kali disertai dengan akibat sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam dan leucopenia sebagai gejalanya. Demam berdarah dengue ditandai dengan empat manifestasi klinis utama; demam tinggi, fenomena

hemoragik, sering dengan hepatomegali dan kegagalan sirkulasi yang ditularkan oleh virus dengue ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes terhinpeksi, terutama aedes aegpti.

11

2. Penyebab demam berdarah dengue Penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh dari

kelompok arbovirus B. Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk kedalam antropoda virus (antrovoda borne virus) grup B, terdiri dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3,dan 4. Keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis. Virus degue yang termasuk dalam flvivirus dari famili flaviviridae berukuran diameter 40 nanometer, dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel-sel mammalian misalnya sel BHK (baby hamster kidney) maupun sel-sel antropoda misalnya aedes alboictud (seordarto 1996). Penyakit DBD disebabkan oleh Virus dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga (Depkes RI 2003). 3. Vector Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes dari subgenus Stegomyia. Aedes aegypti merupakan

12

vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Aedes albopictus, Aedes. polynesiensis, anggota dari Aedes Scutellaris complex, dan Aedes. (Finlaya) niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Aedes aegyti semuanya

mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. Aedes aegyti merupakan vektor utama di Indonesia yang keberadaannya hingga dewasa ini tersebar di seluruh pelosokpelosok desa dan kota di tanah air. Vektor ini bersarang di bejana yang berisi air jernih dan tawar. Tempat perindukan aedes aegypti yang potensial ialah tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, ember, tempayan, drum, tangki, vas bunga , tempat minum, barang bekas (ban, botol, kaleng, plastik dll), celah pohon/lobang pagar, pelepah pisang, tempurung kelapa, potongan tempat penampungan air lainnya (Depkes RI 2000). Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan sutropis. Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efesien untuk Arbovirus, karena nyamuk ini sangat antrofilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup di dalam rumah. Wabah dengue juga disertai dengan aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan banyak spesies kompleks aedes scutellaris. Setiap spesies ini mempunyai distribusi geografisnya masing-masing: namun mereka adalah vector epidemik yang kurang dibandingkan Aedes aegypti.

13

Sementara penularan vertikal (kemungkinan transovarian) virus dengue telah dibuktikan di labotarium dan dilapangan, signifikansi penularan ini untuk pemeliharaan virus belum dapat di tekan. Faktor penyulit pemusnahan adalah bahwa telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan), kadang selama lebih dari 1 dekade (WHO, 1999). 4. Patogenesis DBD Infeksi virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk kemudian bereplikasi (memperbayak diri). Sebagai perlawanan tubuh akan membentuk antibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigen. Komplek antigen antibodi tersebut akan melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Ada dua perubahan pantologis utama terjadi pada DHF. Pertama adalah penigkatan permeabilitas vaskular yang

menigkatkan kehilangan plasma dari kompartemen vaskular. Keadaan ini mengakibatkan hemokosentrasi, tekanan nadi rendah, tanda syok lain, bila kehilangan plasma sangat membahayakan. Perubahan kedua adalah gangguan pada hemostasis yang

meyangkut perubahan Vaskular, Trombositopenia, dan Koagulopati. (Widoyono, 2005).

14

5. Tempat Perkembangbiakan Tempat perkembang biakan utama ialah tempat -tempat penampungan air berupa genagan air yang tertampung disuatu tempat oleh bejana didalam atau sekitar rumah atau tempat tempat umum biasanya tidak melebihi jarak 500 meter. Dari rumah nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembang biak di genagan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Jenis tempat perkembang biakan nyamuk Aedes aeypti dapat dikelompokkan sebagai berikut. a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan

sehari-hari seperti drum, tangki, reservoir, tempayan, bak mandi /wc dan ember. b. Tempat penampungan air bukan keperluan

sehari-hari seperti tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik, dan lain-lain) c. Tempat penampungan alamiah seperti lubang

pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan ban.

15

6. Gejala dan Tanda Pasien penyakit demam berdarah dengue pada umumnya disertai dengan tanda-tanda berikut : a. Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas. b. Manifestasi pendarahan dengan tes rumple leede (+), mulai dari petekie sampai pendarahan spontan seperti mimisan, muntah darah, atau berak darah hitam. c. Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal: 150.000300.000L), hematokrit menigkat (normal: pria < 45, wanita <40). d. Akral dingin, gelisa tidak sadar (DSS, dengue shock symdrome). Kriteria diagnosis (WHO 1997) dalam Widoyono 2005 a. Kriteria klinis 1. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan

berlangsung terus menerus selama 2-7 hari. 2. 3. 4. Terdapat manifestasi pendarahan. Pembesaran hati. Syok.

b. Kriteria labotarium 1. 2. Trombositopenia (<100.000/mm3). Hemokosentrasi (Ht meningkat >20%).

Seseorang penderita dinyatakan menderita demam berdarah dengue bila terdapat gejala klinis yang positif dan 1 hasil labotarium

16

yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan di atas maka pasien dinyatakan menderita DBD (Widoyono,2005).

7. Pencegahan Demam Berdarah Dengue Pencegahan demam berdarah dengue terutama ditujukan kepada upaya untuk memberantas vektor penularan yaitu nyamuk aedes aegypti dan Aedes albopictus. Pemberantasan vektor dilakukan dengan atau tanpa insektisida. Pemberantasan dengan insektisda ditujukan baik terhadap nyamuk dewasa maupun terhadap larva nyamuk sebaiknya menggunakan organofosfat untuk mencegah pencemaran lingkungan. Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan ditingkatkan, sehingga perilaku dan keadan lingkungan sosialnya menjadi sehat (Notoadmodjo,2003). Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara penyemprotan ( pengasapan = fogging ) dengan insektisida. Hal ini dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah seperti pada pemberantasan nyamuk penular malaria. Insektisida yang digunakan adalah dari golongan : a. Organophospate misalnya malathion, fenitrathion.

17

b. permetrin. c.

Pyretroid

sintetic

misalnya

lamda

silahotrin,

Carbamat Alat yang digunakan untuk menyemprot adalah mesin Fog

atau mesin ULV, karena penyemprotan dilakukan dengan cara pengasapan maka tidak mempunyai efek residu. Penyemprotan insektisida dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus dengue. Pada penyemprotan siklus 1 semua nyamuk yang mengandung virus dengue ( nyamuk infektif ) dan nyamuk lainnya akan mati tetapi akan segera muncul nyamuk baru yang diantaranya akan mengisap darah penderita viremia yang masih ada setelah penyemprotan siklus 1 yang selanjutnya dapat menimbulkan penularan virus dengue lagi sehingga dilakukan penyemprotan siklus II. Dengan penyemprotan yang ke II satu minggu setelah penyemprotan I nyamuk baru yang infektif akan terbasmi sebelum sempat menularkan ke orang lain (Depkes RI, 2005). a. Pengendalian vektor Cara paling efektif dari pengendalian vektor adalah penatalaksanaan lingkungan, yang termasuk perencanaan, pengorganisasian, penatalaksanaan dan pemantauan aktivitas untuk modifikasi atau manipulasi faktor-faktor lingkungan dengan suatu pandangan untuk mencegah atau mengurangi

18

perkembangan vektor dan kontak mencegah atau megurangi perkembangan vektor dan kontak manusia vektore - patogen (WHO 1999).

Mendefinisikan tiga tipe penatalaksanaan lingkungan : 1) Modifikasi lingkungan-trasformasi fisik jangka panjang

dari habitat vektor. 2) Manipulasi lingkungan perubahan temporer pada

habitat vektor sebagai hasil dari aktivitas yang direncanakan untuk menghasilkan kondisi yang tidak disukai dalam perkembangbiakan vektor. 3) Perubahan pada habitat atau prilaku manusia-upaya

untuk mengurangi kontak manusia-vektor-patogen. b. Metode untuk penatalaksanaan lingkungan Metode penatalaksanaan lingkungan untuk megontrol Aedes aegypti dan Aedes albopitus dan megurangi kontak vektor manusia termasuk perbaikan suplai air dan peyimpanan air, penanganan sampah padat dan modifikasi habitat larva yang dibuat manusia. Penatalaksanaan lingkungan harus difokuskan pada penghancuran, pembuangan atau daur ulang wadah dan habitat

19

larva alamiah yang menghasilkaan jumlah terbesar nyamuk Aedes dewasa pada setiap komunitas. c. Perbaikan suplai dan penyimpanan air Satu metode untuk pengendalian vektor Aedes aegypti adalah untuk memperbaiki suplai air domestik. Pengiriman air yang dapat diminum untuk rumah tangga atau rumah individu tidak cukup untuk air yang menguranggi memakai penggunaan peran dominan wadah dalam

penyimpanan

perkembang biakan Aedes aegypti dibanyak daerah urban perkotaan. Dengan simpanan air ini timbul bersamaan masalah perkembang biakan Aedes aegypti dan penigkatan resiko infeksi dengue. d. Penanganan sampah padat Upaya pengendalian vektor harus mendorong penaganan sampah yang efektif dan memperhatikan lingkungan dengan meningkatkan aturan dasar menguranggi, meggunakan ulang, dan daur ulang. Sebagai contoh ban bekas adalah sampah padat yang sangat penting untuk pengendalian Aedes aegypti. e. Pengendalian secara kimia Bahan kimia digunakan untuk megendalikan Aedes aegypti seperti penggunaan inteksida organofosfat, termasuk fenthion, malatihion, fenitrothion, dan temephos, digunakan untuk pegendalian aedes aegypti. Metode terbaru penanganan

20

mencakup penggunaan larvasida yang mempunyai efek residu 3 bulan, penyemperotan ruangan. f. Pengendalian secara biologis Intervensi yang didasarkan pada pegenalan organisme pemangsa, parasit, yang bersingan dengan atau cara penurunan jumlah Aedes aegypti atau Aedes albopictus masih menjadi percobaan dan informasi tentang keampuhannya didasarkan pada hasil operasi lapangan berskala kecil. Ikan pemagsa larva dan Biosida bacillus thuringiensis H-14(BTI) adalah dua

organisme yang paling sering digunakan. Keuntungan dari pengendalian biologis tidak adanya kontaminasi kimiawi

terhadap lingkungan.

B.

Tinjauam Umum Tentang Sanitasi Lingkungan Lingkungan dapat diartikan bahwa segala sesuatu yang ada

disekitar kita yang tidak hanya sebatas pandangan akan tetapi sampai kepada cakrawala pandangan, baik yang nampak oleh mata telanjang maupun yang masih samar-samar (Daud, 2002). Sanitasi lingkungan adalah ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masayarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta dapat mengancam kelangsungan hidup manusia (Chandra 2007).

21

Menurut Etiang (2000) Higiene sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan di perbanyak sedangkan yang merugikan di perbaiki atau dihilangkan. Pentingnya lingkungan yang sehat ini telah dibuktikan WHO dengan peyelidikan-peyelidikan di seluruh dunia dimana didapatkan hasil bahwa angka kematian (mortality), angka perbandingan orang sakit (morbility) yang tinggi serta seringnya terjadi epidemik, terdapat dimana higien sanitasi lingkungan yang buruk yaitu tempat-tempat dimana banyak terdapat lalat, nyamuk, pembuangan kotoran dan sampah yang tak teratur, air rumah tangga yang buruk, perumahan yang terlalu sesak dan keadaan sosial ekonomi yang jelek. Secara keseluruhan dapat dikemukakan bahwa lingkungan hidup serta manusia segala faktornya merupakan bagian dari lingkaran kehidupan manusia yang disebut system ekologi. Didalam ekosisitem tersebut manusia disatu pihak berusah menciptakan lingkungan yang nyamam untuk kehidupannya dengan cara mempengaruhi lingkungan, sedangkan di lain pihak manusia senantiasa terancam oleh lingkungan sendiri sehingga keadaan tersebut mengancam kesehatan manusia bersangkutan kesehatan lingkungan biasanya menentukan sering atau tidaknya seseorang berhubungan dengan bakteri, virus, dan parasit, yang menyebabkan kematian (Dainur 1995).

22

Selain itu menurut Mukono (2000) resiko lingkungan merupakan resiko terhadap manusia yang disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik fisik, hayati, maupun sosial-ekonomi-budaya.

C. Tinjauan Umum Tentang Perumahan Perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan higien sanitasi lingkungan. seperti yang di kemukakan WHO bahwa perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit mengakibatkan juga tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat (Entiang, 2000). Perumahan merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian dan saranan pembinaan keluarga yang dilengkapai dengan prasarana dan sarana lingkungan. Sedangkan menurut Notoatmodjo, (2003) Perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan higiene dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah yang sehat ditinjau dari ventilasi, cahaya, luas bangunan rumah, Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut : a. Ventilasi Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar dan untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen. Luas

23

ventilasi kurang lebih 15-20 % dari luas lantai rumah dan luas ventilasi permanen 10 % dari luas lantai. b. Cahaya Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit. Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux. c. Luas bangunan rumah Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat

menyediakan 2,5-3 m2 untuk tiap orang. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni maka menyebabkan kurangnya konsumsi O2, sehingga jika salah satu penghuni menderita penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada anggota keluarga lain dan jarak rumah yang terlalu dekat kurang dari 3m dari rumah tetangga akan mempermudah penyebaran penyakit menular. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Rumah berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainya. Selain itu rumah juga merupakan pengembangan kehidupan dan tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk menghabiskan sebagian besar waktunya.

24

Bahkan bayi, anak-anak, orang tua, dan orang sakit menghabiskan hampir seluruh waktunya dirumah. Rumah sehat merupakan sumber inspirasi penghuninya untuk berkarya, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya (Depkes RI, 2002).

kriteria rumah sehat menurut Depkes berikut: 1. Memenuhi syarat kebutuhan

RI 2002 sebagai

fisiologis

antara

lain

pencahayaan penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang menggangu. 2. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antara anggota keluarga dan penghuni rumah. 3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyedian air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup. 4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, kontruksi yang

25

tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar dan tidak cederung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Parameter rumah yang dinilai Lingkup penilaian kelompok komponen rumah sehat yaitu; a. b. c. d. e. f. g. h. Langit-langit Dinding Lantai Jendela kamar tidur Jendela ruang keluarga dan ruang tamu Ventilasi Sarana pembuangan asap dapur Pencahayaan

D. Tinjauan Umum Tentang Tempat Penampungan Air Penggunaan tempat penampungan air (TPA) di daerah

permukiman dimana keperluan air untuk sehari-hari tergantung pada air olahan yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering menimbulkan masalah bagi perindukan vektor. Masalah ini sering timbul karena penduduk menampung air pada suatu tempat

26

(TPA) untuk keperluan sehari-hari, karena mereka khawatir suatu waktu air tidak tersedia. Dengan alasan ini maka tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti cenderung menjadi banyak, sehingga memperluas peluang terjadinya transmisi virus dengue (Hasyimi dan Soekirno 2004). Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan mati lebih cepat karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air, air di dalam tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan bayi 80%.Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Diantara kegunaaan air tersebut air harus memenuhi syarat kesehatan sehingga tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmojo, 2003). Dengan Adanya kebutuhan untuk menyimpan air dalam berbagai jenis wadah. Hal ini akhirnya akan memperbanyak tempat

perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti karena sebagian besar wadah yang digunakan memiliki ukuran yang besar dan berat yang tidak mudah dibuang atau dibersihkan, misalnya: gentong air, ember besar. Dengan demikian, sangatlah penting apabila persediaan air minum dialirkan dalam jumlah, mutu, dan konsistensi yang layak untuk mengurangi keharusan dan penggunaan wadah penyimpanan air yang

27

dapat berfungsi sebagai habitat larva yang paling produktif. (Umi Syarifah 2007). 1. Macam Tempat Penampungan Air Secara fisik macam tempat penampungan air dibedakan lagi berdasarkan bahan tempat penampungan air (logam, plastik, porselin, fiberglass, semen,tembikar, dll), warna tempat

penampungan air (putih, hijau, coklat, dll), volume tempat penampungan air (kurang dari 50 lt, 51-100 lt, 101- 200 lt, dll), letak tempat penampungan air (didalam rumah atau diluar rumah), penutup tempat penampungan air (ada atau tidak ada),

pencahayaan pada tempat penampungan air ( terang atau gelap) (Depkes RI, 2002). Untuk meletakkan telurnya, nyamuk betina tertarik pada kontainer berair yang berwarna gelap, terbuka, dan terutama yang terletak ditempat- tempat yang terlindung dari sinar matahari. Telur diletakkan di dinding kontainer diatas permukaan air, bila terkena air akan menetas menjadi larva/jentik, setelah 5-10 hari larva menjadi pupa dan 2 hari kemudian menjadi nyamuk dewasa memerlukan waktu 7-14 hari (Depkes RI,2002). Penyakit yang ditularkan melalui air disebut water brone diasease atau water related disease. Terjadinya suatu penyakit tentunya memerlukan adanya agens dan terkadang vektor (Chandra 2006).

28

Penyakit penyakit yang berhubungan dengan air dapat dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan cara penularanya antara lain : a. Water brone mechanism Di dalam mekanisme ini, kuman pantogen dalam air yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia ditularkan kepada manusia melalui mulut atau sistem pencernaan.

b. Water washed mechanism Mekanisme penularan ini berkaitan dengan kebersihan umum dan persorangan. Cara penularan melalui infeksi alat pencernaan, infeksi melalu kulit dan mata serta, infeksi melalui binatang pengerat. c. Water based mechanism Penyakit yang ditularkan dengan mekanisme ini memiliki agens penyebab yang menjalani siklus hidupnya didalam tubuh vektor atau sebagai intermediate hostyang hidup didalam air. d. Water related insectvector mechanism Agens penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak didalam air. E. Tinjauan Umum Keberadaan Jentik Eksistensi nyamuk Aedes aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan lingkungan biologik.

29

a. Pengaruh Lingkungan Fisik Lingkungan fisik ada bermacam macam misalnya tata rumah, macam container, ketinggian tempat dan iklim. Jarak antar rumah ke rumah lain turut mempengaruhi keberadaan jentik, karena semakin dekat jarak rumah semakin mudah nyamuk menyebar ke rumah disebelahnya. Iklim adalah salah satu pokok lingkungan fisik yang terdiri dari suhuh udara, kelembaban udara, curah hujan, angin, jenis tempat penampungan air, kebiasaan menutup penampungan air dan frekuensi menguras tempat penampungan air mempengaruhi keberadaan jentik vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). 1). Pengaruh suhu udara Rata rata suhu untuk pertumbuhan nyamuk adalah 250 C 310C 2). Pengaruh kelembaban udara Kelembaban udara akan menyebabkan pengaruh uapan air dari dalam tubuh nyamuk, yang menyebabkan keringnya cairan tubuh nyamuk, penguapan adalah salah satu musuh nyamuk. 3). Pengaruh hujan/musim

30

Hujan memepengaruhi dengan dua cara yaitu menyebabkan kenaikan kelembaban udara dan menambah jumlah tempat perindukan. 4). Pengaruh angin Angin tidak nampak berpengaruh pada penularan nyamuk Aedes aegypti, secara tidak langsung pengaruh angin adalah pada jarak terbang nyamuk. 5). Jenis Tempat Penampungan Air ( TPA ) Jenis tempat penampungan air yang dipakai sehari hari antara lain tempayan, drum, ember plastik dan sebagainya yang terdiri dari bahan yang berbeda. Perbedaan bahan pembuatan penampungan air seperti adanya permukaan kasar sangat disenangi nyamuk untuk meletakkan telur telurnya., Jenis bahan tempat jentik penampungan dengan air mempengaruhi penelitian

keberdaan Sumadji,2000 Bahwa jenis

sesuai

hasil

bahan

tempat

penampungan

air

(TPA)

ditemukan dari bahan semen 1.100 (45,4%),porselin 355 (14,4%),tanah (Besi)7(0,3%). 6). Kebiasaan menutup tempat penampungan air 71(2,9%),plastic 892(36,8%) dan logam

31

Kebiasaan menutup tempat penampungan air berkaitan dengan peluang dari nyamuk Aedes untuk hinggap dan menempatkan telur telurnya. Pada tempat penampungan air yang senantiasa tertutup rapat, maka peluang nyamuk untuk bertelur menjadi kecil sehingga mempengaruhi

keberadaannya di tempat penampungan air tersebut. 7). Frekuensi menguras tempat penampungan air Tempat penampungan air yang selalu dikuras dengan teratur akan menyebabkan kelangsungan siklus hidup nyamuk menjadi terganggu. Dengan siklus hidup yang berlangsung sekitar seminggu, maka bila melakukan pengurasan setiap minggu secara teratur akan memutuskan siklus perkembang biakan nyamuk Aedes pada tempat penampungan air yang dipergunakan rumah tangga. b. Pengaruh Lingkungan Biologik Pada container air yang lama biasanya terdapat pathogen dan parasit yang mempengaruhi pertumbuhan larva dari instar ke instar (stadium). Tumbuhan yang banyak disekitar rumah mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan dalam rumah. Survei Jentik Untuk mengetahui situasi vektor penyakit DBD disuatu kawasan di lingkungan pemantauan vektor DBD yang mencakup kegiatan survei di rumah-rumah. Kegiatan survei yang biasa

32

dilakukan adalah survei nyamuk dewasa, survei jentik dan survei perangkap atau ovitrap. Adapun untuk survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat

perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti diperiksa dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik. b. Untuk memeriksa tempat penampungan air (TPA)

yang berukuran besar seperti : bak mandi, tempayan, drum dan bak penampungan air lainnya, jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu kirakira sampai 1 menit untuk memastikan bahwa benar jentik tidak ada. c. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan

yang kecil seperti vas bunga/pot tanaman air atau botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain. d. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap

atau airnya keruh, biasanya digunakan senter baterai.

Ada dua cara survei atau pemeriksaan jentik yaitu: 1) Cara single larva

33

Survei ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik. Untuk diidentifikasi lebih lanjut jenis jentiknya. 2) Cara visual Survei ini cukup dilakukan dengan melihat ada tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Jentik Telur menetas dan menjadi jentik dan mengalami empat tingkatan atau stadium yaitu waktu antara pergantian kulit ke pergantian kulit selanjutnya. Bentuk jentik antar stadium disebut instar. Waktu pertumbuhan dari masing masing stadium adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV : 1 hari : 1- 2 hari : 2 hari : 2 3 hari

Jentik Aedes aegypti dalam air dapat dikenal dengan ciri ciri sebagai berikut : a) b) Ukuran 0,5 1 cm Selalu bergerak aktif dalam air

34

c)

Gerakannya berulang ulang dari bawah ke atas

permukaan air untuk bernapas, kemudian turun kembali ke bawah dan seterusnya d) Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus

dengan permukaan air. Pupa (Kepompong) Jentik berkembang menjadi pupa, pada tingkat pupa ini tidak memerlukan makanan, tetapi perlu udara. Waktu

pertumbuhan menjadi nyamuk adalah 1 2 hari. Pada umumnya nyamuk jantan menetas lebih dahulu daripada nyamuk betina. Nyamuk Dewasa Pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa dan tidak lagi hidup di air. Ciri ciri nyamuk Aedes aegypti adalah : 1) Berwarna hitam dan belang belang putih ( loreng ) pada seluruh tubuhnya. 2) Berkembang biak ditempat penampungan air ( TPA ) dan barang-barang yang memungkinkan tergenang air : bak mandi/WC, tempayan, drum, tempat minum burung, vas/pot bunga, kaleng bekas, ban bekas, botol plastik yang dibuang disembarang tempat. 3) Nyamuk Aedes aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan/got atau kolam yang airnya berhunbungan

langsung dengan tanah.

35

4)

Biasanya menggigit ( menghisap darah ) pada pagi hari sampai sore hari.

5)

Mampu terbang sampai 200 meter. Perkembangan dari telur menjadi nyamuk dewasa

memerlukan waktu

7-10 hari. Tiap 2 hari nyamuk betina

menghisap darah manusia untuk bertelur. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan (Depkes RI, 2003).

Bionomik Nyamuk Aedes aegypti Bionomik nyamuk yang dimaksud adalah kesenangan tempat perindukan, kesenangan menggigit, dan kesenangan tempat istirahat serta jarak terbang. Tempat Perindukan Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti adalah genangan genangan air yang tertampung di wadah yang biasa disebut container, bukan pada genangan genangan air di tanah. Container tempat perindukan ini dibedakan sebagai berikut : 1) Tempat penampungan air ( TPA ),

yaitu tempat untuk menampung air guna keperluan sehari hari seperti tempayan, bak mandi, bak wc, bak penampungan air, ember, dan lainlain.

36

2)

Bukan tempat penampungan air

( Non TPA ), seperti tempat minum hewan peliharaan (tempat minum burung, ayam, dll), barangbarang bekas ( ban bekas, kaleng bekas, botol, pecahan piring/gelas ), vas/pot

kembang, dll. 3) alami ( Tempat penampungan air buatan Natural/alamiah ), seperti lubang dipohon, lubang

batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, kulit coklat, potongan bambu, dll. Container ini umumnya

ditemukan di luar rumah.

F. Kerangka Teori Kerangka teori kesehatan H.L Blum 1974 dalam Notoatmodjo 2003. Gambar 1

Lingkungan

Genetik

Status Kesehatan

Pelayanan kesehatan

37

Perilaku

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dipergunakan adalah survei analitik dengan pendekatan Case Control Study yang bersifat observasional dengan mengikuti perjalanan penyakit ke arah belakang (retroskpektif) untuk menguji hipotesis spesifik tentang adanya hubungan pemaparan

38

terhadap faktor risiko di masa yang lalu dengan timbulnya penyakit DBD di Kelurahan Tanah Grogot. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tanah Grogot

Kecamatan Tanah Grogot tahun 2010. 2. Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2010. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Semua Orang yang didiagnosa menderita penyakit DBD di kelurahan tanah Grogot sebagai kasus dan orang yang tidak menderita penyakit DBD sebagai kontrol yang tinggal dikelurahan tanah Grogot . Yang di ambil berdasarkan maching lokasi dan keadaan rumahnya.

2. Sampel Sampel penelitian terbagi 2 kelompok yaitu kasus dan kontrol. a. Kasus adalah penderita DBD di Kelurahan Tanah Grogot periode Oktober-Desember 2009 berdasarkan hasil diagnosis dokter dan hasil laboratorium sebanyak 45 penderita.

39

b. Kontrol adalah orang yang tidak menderita DBD yang diambil dari tetangga kasus dengan perbandingan 1 kasus : 1 kontrol, sehingga jumlah responden sebanyak 90 orang. Pengambilan sampel kontrol berdasarkan matching lokasi dan keadaan rumahnya. D. Kerangka Konsep Penelitian
Keadaan Rumah (+) Tempat Penampungan Air (+) Keberadaan Jentik (+) DBD Keadaan Rumah (-) Tempat Penampungan Air (-) Keberadaan Jentik (-) Keadaan Rumah (+) Tempat Penampungan Air (+) Keberadaan Jentik (+) Keadaan Rumah Tempat Penampungan Air Keberadaan Jentik (-) (-) (-) Bukan DBD

GaSampel

mbar 2. Kerangka konsep penelitian

E.

Hipotesis penelitian Hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Keadan rumah merupakan faktor risiko kejadian demam berdarah dengue di Kelurahan Tanah Grogot .

40

2.

Tempat penampungan air merupakan faktor risiko kejadian demam berdarah dengue di Kelurahan Tanah Grogot.

3.

Keberdaan jentik merupaka faktor risiko kejadian demam berdarah dengue di Kelurahan Tanah Grogot.

F. 1. a. b. c. 2. Definisi Operasional

Variabel Penelitian Variabel independen Keadaan rumah Tempat Penampungan air Keberdaan jentik Variabel dependen yaitu kejadian DBD.

Definisi operasional adalah batasan-batasan yang berguna untuk membatasi ruang lingkup variable yang akan di teliti. Definisi oprasional berfungsi untuk mengarahkan kepada pengukur untuk mangarahkan variable-variabel yang berkaitan serta pengembangan alat ukur (Notoatmodjo, 2003).

Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif Variable Definisi Operasional Kriteria objektif Alat ukur Skala ukur

41

Kejadian DBD

Orang yang sakit perdarahan, demam, atau riwayat demam akut berlangsung 2 7 hari dan berdasarkan hasil diagnosis dokter serta pemeriksaan laboratorium

1. Ya : Jika menderita DBD 2. Tidak : Jika tidak menderita DBD

a. Diagnosa dokter b. Rekam medik

Nominal

1. Tidak Memenuhi
syarat : Jika luas ventilasi <10 % dari luas lantai rumah, jendela tidak dibuka setiap pagi dan ditutup setiap sore, dan jarak antara rumah dengan rumah tetangga <3m 2. Memenuhi syarat Jika luas ventilasi 10 % dari luas lantai rumah, jendela dibuka setiap pagi dan ditutup setiap sore, dan jarak antara rumah 3m dengan rumah tetangga 1. Tidak Memenuhi syarat : Jika TPA tidak tertutup rapat, tidak dikuras minimal 1 kali seminggu 2. Memenuhi syarat : Jika TPA tertutup rapat, dikuras minimal 1 kali seminggu 1. Ada : Jika ditemukan jentik nyamuk di TPA 2. Tidak Ada : Jika tidak ditemukan jentik di TPA

Keadaan Rumah

Keadaan rumah merupakan keadaan tempat tinggal responden yang akan diteliti meliputi ventilasi. jendela dan jarak rumah.

Kuesioner, Observas Dan lembar chek list

Ordinal

Tempat Penampungan Air

Segala bentuk tempat penampungan air responden baik berupa bak, tong, maupun yang lainnya yang di pakai menampung air baik terletak di dalam maupun di luar rumah.

Kuisioner, Observasi dan lembar checklist

Ordinal

Keberadaan Jentik

Segala tempat penampungan air responden didalam rumah maupun diluar rumah.

Kuisoner, Observasi dan chek list

Ordinal

H.Teknik Analisis Data 1. Analisis Univariat

42

Dilakukan secara deskriptif masing-masing variabel dengan analisis pada tabel distribusi frekuensi. 2. Analisis Bivariat Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui faktor risiko kejadian DBD dan besar risiko dari setiap variabel independen yang diteliti dengan menggunakan uji Odds Ratio.