Anda di halaman 1dari 6

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
Jalan H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kavling 4-9 Jakarta 12950
Telepon (021) 5201590 (Hunting)

Nomor : PV.03.04/5/1349/2022 20 Mei 2022


Lampiran : empat lembar
Hal : Undangan Virtual Workshop Penanganan Kasus Gigitan Hewan Berbisa (Ular)
untuk Tenaga Kesehatan

Yth. (Daftar Undangan Terlampir)

Sehubungan dengan banyaknya penyakit akibat gigitan hewan berbisa (ular) di Indonesia menurut
laporan Indonesia Toxinology Society dimana kasus kejadian akibat gigitan ular maupun hewan
berbisa lainnya sangat tinggi di Indonesia. Dalam satu tahun kasus gigitan ular mencapai 135.000
kasus tersebar di 34 provinsi dengan kematian 10% dari insiden atau sekitar 50 -100 orang tiap
tahunnya.
Dalam rangka mengoptimalkan penanganan kasus gigitan hewan berbisa (Ular) tersebut, kami
bermaksud untuk menyelenggarakan Virtual Workshop penanganan kasus gigitan hewan berbisa
(Ular) untuk Tenaga Kesehatan yang akan dilaksanakan pada:

hari, tanggal : Jumat, 27 Mei 2022


waktu : pukul 08.30 – 11.30 WIB
agenda : terlampir
metode : daring menggunakan aplikasi Zoom dan YouTube

Sehubungan dengan hal tersebut, mohon Saudara atau yang mewakili dapat hadir pada
pertemuan tersebut. Link (tautan) tercantum dalam Agenda terlampir. Untuk informasi lebih lanjut
dapat menghubungi Zainal Khoirudin (081241235646) / Suhesti Dumbela (091289298801).

Atas perhatian dan kerja sama Saudara kami ucapkan terima kasih.

Plt. Direktur Pencegahan dan


Pengendalian Penyakit Menular,

dr. Tiffany Tiara Pakasi


NIP. 197408092001122001
Lampiran 1
Nomor : PV.03.04/5/1349/2022
Tanggal : 20 Mei 2022

Daftar Peserta Undangan:

1. Pengelola Zoonosis Dinas Kesehatan Provinsi se- Indonesia


2. Pengelola Zoonosis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se- Indonesia
3. Pengelola Kegawatdaruratan IGD Rumah Sakit Umum Daerah se- Indonesia
4. Pengelola Kegawatdarutan IGD Puskesmas se-Indonesia

Plt. Direktur Pencegahan dan


Pengendalian Penyakit Menular,

dr. Tiffany Tiara Pakasi


NIP. 197408092001122001
Lampiran 2
Nomor : PV.03.04/5/1349/2022
Tanggal : 20 Mei 2022

AGENDA
VIRTUAL WORKSHOP PENANGANAAN KASUS GIGITAN HEWAN BERBISA
27 MEI 2022

Waktu Materi Penanggung Jawab


Jumat, Penanganan Kasus Gigitan Hewan Berbisa (Ular, MC: Nirma
27 Mei 2022
Ubur2 dan Tawon) untuk Tenaga Kesehatan Moderator: Tulus Riyanto
Link Registrasi :
https://bit.ly/PenangananBisa-270522
08.30 - 09.00 Pembukaan/Sambutan Direktur P2PM (Kemenkes)
09.00 - 09.45 Paparan Penanganan Kasus Gigitan Hewan Berbisa Dr. dr. Tri Maharani,MSi, Sp EM
(Ular) untuk Nakes + BHD &AED (Philip)
09.45 - 10.00 Pemutaran Video Panitia
10.00 - 11.30 Diskusi Moderator
11.30 Penutupan Ketua Tim Kerja Zoonsosis dan
penyakit Akibat Gigitan Hewan
Berbisa dan Tanaman Beracun
KERANGKA ACUAN
KEGIATAN VIRTUAL WORKSHOP PENANGANAN GIGITAN HEWAN BERBISA
TAHUN 2022

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan jenis hewan berbisa dan tanaman beracun yang
cukup banyak. Terdapat 370 jenis ular dan 77 diantaranya merupakan ular berbisa di
Indonesia antara lain ular laut, ular Elapid (Ular Australia, Ular Cobra, King Cobra,
Weling Welang, Calliophis, Trimeresurus sp, Daboia sp, Calloselesma sp, Rhabdophis
sp dan lain lain. Sementara negara lain seperti Taiwan 6, Malaysia 20, Thailand 40 dan
Australia 60 jenis ular berbisa. Sedangkan untuk jenis Hymenopterans Sting (hewan
penyengat) ada Tawon, Lebah, Semut, Centipedes, Millipedes, Toads, Scorpion,
Caterpillar, Spider. Hewan laut yang memiliki racun ada beberapa spesies seperti Ubur
ubur, Bintang laut, Bulu babi, Cone snail, Blue ringed octopus, Lionfish, Scorpionfish,
Stonefish, Stingray, Pufferfish, Parrotfish, Horseshoe crabs, Sea anemones,
Corals.moray eel yang memiliki berbagai spesies yang hidup di Indonesia. Sedangkan
Tanaman beracun yang dapat mengancam kehidupan manusia seperti jamur dan
tanaman lain banyak terdapat di Indonesia.

Kasus kejadian akibat gigitan ular maupun hewan berbisa lainnya sangat tinggi di
Indonesia. Dalam satu tahun kasus gigitan ular mencapai 135.000 kasus tersebar di 34
propinsi dengan kematian 10% dari insiden atau sekitar 50 -100 orang tiap tahunnya
dari yang dilaporkan ke Indonesia toxinology society yang mengumpulkan data ini
selama 2012 sampai 2021 sekitar 500-1000 kasus Data yang berhasil dikumpulkan
Indonesia Toxinology society menunjukkan untuk tahun 2021 Aceh 250 kasus,
Sumatera Utara 400 kasus, Sumatera Barat 100 kasus, Jambi 30 kasus, Bengkulu 20
kasus, Sumatera Selatan 50, Bangka Belitung 10 kasus, lampung 30 kasus, Kepulauan
Riau 20 kasus, DKI Jakarta 60 kasus, Banten 120 kasus, Jawa Barat 350 kasus, Jawa
Timur 400 kasus, DIY 100 kasus,Kalimantan Barat 100 kasus, Kalimantan Tengah 50
kasus, Kalimantan selatan 30 kasus, Kalimantan timur 20 kasus, Kalimantan Utara 10
kasus, Sulawesi Utara 50 kasus, Gorontalo 30 kasus, Sulawesi Tengah 25 kasus,
Sulawesi Barat 30 kasus, Sulawesi Selatan 100 kasus ,Sulawesi Tenggara 50 kasus,
NTB 10 kasus, NTT 22 kasus, Papua 29 kasus, papua barat 13 kasus, maluku 11
kasus, Maluku Utara 10 kasus, dan Maluku tenggara 1 kasus.Tapi data ini adalah data
yang tidak bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya karean hanya berdasarkan
laporan dari para klinisi di lapangan yaitu dari rumah sakit dan puskesmas serta dari
masyarakat dan belum dikumpulkan secara remsi oleh kementria kesehatan. (Tri
Maharani, 2022).

Sampai sekarang penanganan kasus akibat bisa hewan dan tanaman beracun masih
belum terkoordinir dalam program, sehingga perlu membuat program baru di
pencegahan dan pengendaliannya sehingga perlu dilakukan Sosialisasi First Aid
Penanganan Kasus Akibat Hewan Berbisa (Ular) kepada Tenaga Kesehatan Di
Puskesmas maupun Rumah Sakit yang setiap harinya melakukan penanganan kasus
tersebut.

B. Tujuan.
Tujuan Umum
Penyakit Akibat Gigitan Hewan Berbisa (PAGHB) dapat ditanggulangi sesuai dengan
standart.

Tujuan Khusus:
- Tersosialisasikan penanganan kasus gigitan ular ini kepada petugas kesehatan
- Petugas Kesehatan dapat melakukan tindakan penagangan yang SOP terhadap
kasus gigitan hewan berbisa.

C. WAKTU DAN TEMPAT


1. Tenaga Kesehatan
hari /Tanggal : Jumat, 27 Mei 2022
waktu : 08.30 WIB – 11.30 WIB
link Registrasi : https://bit.ly/PenangananBisa-270522

2. Non Kesehatan
hari /Tanggal : Minggu, 29 Mei 2022
waktu : 09.00 WIB – 12.00 WIB
link Registrasi : https://bit.ly/PenangananBisa-290522

3. dr. Spesialis
hari /Tanggal : Senin, 30 Mei 2022
waktu : 09.00 WIB – 12.00 WIB
link Registrasi : https://bit.ly/PenangananBisa-300522

D. NARASUMBER dan MODERATOR


1. Direktur P2PM
2. Ketua Tim Kerja Zoonosis dan Penyakit Akibat Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman
Beracun
3. Dr. dr. Tri Maharani,MSi, Sp EM

E. PESERTA

1. Pengelola Zoonosis Dinas Kesehatan Provinsi se- Indonesia


2. Pengelola Zoonosis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se- Indonesia
3. Pengelola Kegawatdaruratan IGD Rumah Sakit Umum Daerah se- Indonesia
4. Pengelola Kegawatdarutan IGD Puskesmas se-Indonesia
5. Ketua PABI (Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia) dan
anggota
6. Ketua PAPDI (Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) dan
anggota
7. Ketua PERDOSSI (Perhimpuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) dan
anggota
8. Ketua IDAI (Ikatan Dokter Spesialis Anak Indonesia) dan anggota
9. Ketua PERDATIN (Persatuan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif)
dan anggota
10. Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan anggota
11. Ketua PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dan anggota
12. Ketua IBI (Ikatan Bidan Indonesia) dan anggota

F. PROSES:
1. Presentasi via online
2. Tanya jawab via Chat Box
Jakarta, 10 Oktober 2019