Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI KOAGULASI-FLOKULASI

Dosen Pembimbing : Dianty R

Nama

: Fadlilah Sukri P Fawzie Handoso Fithri B. S

(08414012) (08414013) (08414014)

Kelompok Kelas

:3 : 3A TKPB

PRODI TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2011

KOAGULASI-FLOKULASI I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh partikel koloid yang tidak bisa diendapkan secara alamiah dalam waktu singkat. Partikel-partikel koloid dibedakan berdasarkan ukuran. Jarak ukurannya antara 0,001 mikron (10-6 mm) sampai 1 mikron (10-3 mm). Partikel yang ditemukan dalam kisaran ini meliputi : 1. 2. 3. partikel anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, presipitat koagulan, dan partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton.

Dispersi koloid mempunyai sifat memendarkan cahaya. Sifat pemendaran cahaya ini terukur sebagai satuan kekeruhan. Koloid merupakan partikel yang tidak dapat mengendap secara alami karena adanya stabilitas suspensi koloid. Stabilitas koloid terjadi karena gaya tarik van der Wall's dan gaya tolak/repulsive elektrostatik serta gerak brown. Gaya Van der Waals merupakan gaya tarik-menarik antara dua massa, yang besarnya tergantung pada jarak antar keduanya. Pada kimia koloid, ikatan Van der Waals adalah lawan dari gaya elektrostatik. Gaya elektrostatik adalah gaya utama menjaga suspensi koloid pada keadaan yang stabil. Sebagian besar koloid mempunyai muatan listrik. Sifatnya berbeda tergantung sifat dasar koloidnya. Oksida metalik umumnya bermuatan positif, sedangkan oksida nonmetalik dan sulfida metalik umumnya bermuatan negatif. Kestabilan koloid terjadi karena adanya gaya tolak antar koloid yang mempunyai muatan yang sama. Gerak Brown. Gerak ini adalah gerak acak dari suatu partikel koloid yang disebabkan oleh kecilnya massa partikel. 1.2 Tujuan Percobaan 1. Menentukan dosis optimum untuk koagulan dan flokulan yang digunakan 2. Mengetahui pengaruh penambahan flokulan pada pengendapan

II. DASAR TEORI II.1Proses Koagulasi dan Flokulasi Pengolahan air buangan yang dilakukan dengan proses koagulasi dan flokulasi bertujuan untuk memisahkan polutan koloid tersuspensi dari dalam air dengan memperbesar ukuran partikel-partikel padat yang terkandung didalamnya. Pada proses koagulasi ditambahkan bahan kimia (koagulan) ke dalam air limbah dengan sifat-sifat tertentu yakni dapat memberikan muatan (+) sehingga akan menetralkan muatan (-) yang pada umumnya dimiliki oleh suatu koloid . Jenis koagulan yang biasa ditambahkan antara lain : Al2(SO4)3, FeSO4, FeCl3, atau PAC (Poly Alumunium Chlorida). Selain pembubuhan koagulan diperlukan pengadukan sampai flok-flok ini terbentuk dari partikel-partikel kecil dan koloid yang bertumbukan dan akhirnya mengendap bersama-sama. Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar. Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi

Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah aluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi, temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkat agitasi selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan- pembantu. Pemilihan koagulan dan kadarnya membutuhkan studi laboratorium atau pilot plant (menggunakan jar test) untuk mendapatkan kondisi optimum II.2Koagulan PAC PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear mempunyai rumus umum Alm(OH)nCl(3m-n). Beberapa keunggulan yang dimiliki PAC dibanding koagulan lainnya adalah : 1. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu. 2. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawa karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untuk diikat membentuk flok. 3. Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatif akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatan karbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatau makromolekul terutama gugusan protein, amina, amida dan penyusun minyak dan lipida. 4. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan, sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh. Jika digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garis linier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehingga penghematan bahan kimia dapat dilakukan. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola

terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis. 5. PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam pemakaian bahan pembantu, ini berarti disamping penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air. 6. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam air sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat dilakukan.
7. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkan dari

gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat, penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul, dengan demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-load bagi instalasi yang ada, kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh. II.3Prinsip jartest Suatu larutan koloid yang mengandung partikel-partikel kecil dan koloid dapat dianggap stabil bila : 1. 2. Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan waktu yang pendek (beberapa jam). menjadi partikel yang lebih besar dan berat, karena muatan elektris pada permukaan elektrostatis antara partikel satu dengan yang lainnya. Dengan pembubuhan koagulan, maka stabilitas akan terganggu. Proses flokulasi terdiri dari tiga langkah :
1. 2.

Pelarutan reagen melalui pengadukan cepat ( 1 menit ; 100 rpm) Pengadukan lambat untuk membentuk dan menggambung flok (10 Pemisahan flok-flok dengan koloid yang terkurung dari larutan

menit ; 60 rpm) 3. melalui pengendapan.

III.

ALAT DAN BAHAN


III.1

Alat : 1 set

1. Turbidimeter 2. Ph-meter 1 set

3. Peralatan jartest 1 set 4. Gelas kimia 1000 ml 5. Gelas kimia 100 ml 6. Gelas ukur 1000 ml 7. Pipet ukut 5 ml 1 buah 8. Pipet ukur 1 ml 1 buah 9. Kerucut imhoff 12 buah 10. Bola isap 1 buah
III.2

6 buah 2 buah 1 buah

Bahan :

1. Air cuplikan 2. PAC 1% 3. Aqua clear 0,1%

IV.SKEMA KERJA
Ukur pH sampel

Ukur kekeruhan sampel (aduk sebelum diukur)

Masukkan 800 ml sampel ke dalam gelas kimia 1 liter (6 gelas kimia)

Tambahkan variasi volume koagulan ke dalam masing- masing gelas kimia

Lakukan pengadukan dengan pengaduk JARTEST dengan kecepatan 100 rpm selama 1 menit, dilanjutkan dengan kecepatan 60 rpm selama 10 menit

Tuangkan sampel yang telah diaduk ke dalam kerucut dan biarkan selama 1 jam

Ukur kekeruhan masing-masing sampel setelah satu jam

Catat tinggi dan volume endapan dari masing-masing kerucut

Ukur pH dan kekeruhan masing-masing sampel

Buat grafik hubungan volume koagulan-flokulan terhadap kekeruhan dan terhadap tinggi endapan

Tentukan dosis optimum koagulan dan flokulan

V. DATA PENGAMATAN Kekeruhan awal sampel = 85,29 NTU pH awal sampel Koagulan Flokulan
a. 10 ppm PAC 1%

= 5,89 = PAC 1% = Aquaclear 0,1%

5.1 Menghitung volume koagulan (PAC 1%) Vol sampel = 800 ml Konsentrasi lart sampel = 10 mg/L x 800 ml = 8 mg Konsentrasi : PAC 1% = 1 gr/100 ml =10 mg/ml Volum PAC yang dibutuhkan Volume PAC =
b. 20 ppm PAC 1%

= 0,8 ml

Vol sampel = 800 ml Konsentrasi lart sampel = 20 mg/L x 800 ml = 16 mg Konsentrasi : PAC 1% = 1 gr/100 ml =10 mg/ml Volum PAC yang dibutuhkan Volume PAC =
c. 30 ppm PAC 1%

= 0,8 ml

Vol sampel = 800 ml Konsentrasi lart sampel = 30 mg/L x 800 ml = 24 mg Konsentrasi : PAC 1% = 1 gr/100 ml =10 mg/ml Volum PAC yang dibutuhkan Volume PAC = = 2,4 ml

d. 40 ppm PAC 1%

Vol sampel = 800 ml Konsentrasi lart sampel = 40 mg/L x 800 ml = 32 mg Konsentrasi : PAC 1% = 1 gr/100 ml =10 mg/ml Volum PAC yang dibutuhkan Volume PAC =
e. 50 ppm PAC 1%

= 3,2 ml

Vol sampel = 800 ml Konsentrasi lart sampel = 50 mg/L x 800 ml = 40 mg Konsentrasi : PAC 1% = 1 gr/100 ml =10 mg/ml Volum PAC yang dibutuhkan Volume PAC = = 4 ml

5.2 Menghitung konsentrasi flokulan (aquaclear 0,1 %) a. 2 mL flokulan Massa Volume Konsentrasi = 0,1% x 4 mL = 0,004 g = 4 mg = (800 + 4) mL = 804 mL = 0,804 L = = 0,005 mg/L

5.3 Tabel Data Pengamatan RUN 1 Koagulan : PAC 1% Flokulan : 4 ml Aqua clear 0,1% Tabel data koagulasi-flokulasi Koagulan mL ppm 0 0 0,8 1,6 2,4 3,2 4
10 20 30 40 50

Sampel 1 2 3 4 5 6

Flokulan ml ppm 4 4 4 4 4 4 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005

Kekeruhan (NTU) 5,89 3,37 3,18 3,03 3,28 3,00

Banyak endapan Volume (ml) Tinggi (cm) 1,3 3 6 6,5 5,75 8 1,8 4,2 5,8 6,3 5,7 5,9

pH 6,74 6,68 6,69 6,72 6,73 6,75

RUN 2 Koagulan : Tawas Flokulan : 4 ml Aqua clear 0,1% Tabel data koagulasi-flokulasi

VI.PENGOLAHAN DATA Koagulan Flokulan Sampel mL ppm mL ppm 0 0,005 1 4 2 3 4 5 6


VI.1

Kekeruhan (NTU) 9,47 2,38 2,46 2,47 2,56 3,08

Banyak endapan Volume (ml) Tinggi (cm) 2,25 3,5 4,25 5 5,5 6,25 2,6 4 4,2 4,3 4,5 5,5

pH 6,67 6,68 6,73 6,74 6,76 6,78

0,8 1,6 2,4 3,2 4

10 20 30 40 50

4 4 4 4 4

0,005 0,005 0,005 0,005 0,005

Kurva kekeruhan (NTU) vs Konsentrasi PAC (ppm)

VI.2

Kurva hubungan konsentrasi PAC (ppm) vs tinggi endapan (cm)

VI.3

Kurva kekeruhan (NTU) vs Konsentrasi Tawas (ppm)

VI.4

Kurva hubungan konsentrasi PAC (ppm) vs tinggi endapan (cm)

PEMBAHASAN Fadlilah Sukri Pertami (08414008) Pada run pertama, koagulan yang digunakan adalah PAC 1% dengan variasi konsentrasi 0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm dengan flokulan aquaclear yang digunakan 4 ml. Berdasarkan grafik kekeruhan (NTU) vs konsentrasi PAC (ppm) dan grafik konsentrasi PAC (ppm) vs tinggi endapan (cm), maka dapat diketahui bahwa dosis optimum pemakaian PAC melalui percobaan jartest ini adalah 30 ppm PAC, dengan tinggi endapan 6,3 cm dan nilai kekeruhan 3,03 NTU. Pada run kedua, koagulan yang digunakan adalah tawas, dengan variasi konsentrasi tawas 0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm dengan flokulan aquaclear yang digunakan 4 ml. Dari hasil grafik antara nilai kekeruhan (NTU) dengan konsentrasi PAC (ppm), serta dari grafik antara konsentrasi PAC (ppm) dengan

tinggi endapan (cm), dapat diketahui bahwa dosis optimum penggunaan tawas yaitu sebesar 10 ppm, dengan nilai kekeruhan yaitu 2,38 NTU dan tinggi endapan yaitu 4 cm. Besarnya dosis optimum diatas, baik menggunakan koagulan PAC maupun tawas, merupakan konsentrasi koagulan yang mampu menghasilkan nilai kekeruhan yang paling rendah dan menghasilkan endapan lumpur yang paling besar. Jika pemakaian koagulan maupun flokulan terlalu sedikit, maka pemisahan polutan yang terkandung dalam limbah cair tidak optimal. Sedangkan jika koagulan maupun flokulan yang ditambahkan terlalu banyak, maka sisa koagulan dan flokulan tersebut akan menambah nilai kekeruhan dan mengendap (sehingga menambah tinggi endapan). Kesimpulan : 1) Penambahan flokulan dan koagulan berpengaruh dalam menurunkan jumlah polutan yang terkandung dalam limbah cair
2) Dosis optimum dari hasil jartes untuk koagulan PAC adalam 30 ppm sedangkan

dosis optimum untuk penggunaan koagulan tawas adalah 10 ppm.

DAFTAR PUSTAKA Yeti, zalni. -. Koagulasi-Flokulasi Jartes. Bandung : Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung http://smk3ae.wordpress.com/2008/08/05/bahan-kimia-penjernih-air-koagulan/ http://www.scribd.com/doc/38473737/laporan-koagulasi-flokulasi