Anda di halaman 1dari 18

USULAN MASALAH KHUSUS

KAJIAN PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA PADA RUMAH POTONG HEWAN

Oleh : IKA KARTIKA F34070092

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

KAJIAN PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA PADA RUMAH POTONG HEWAN

USULAN MASALAH KHUSUS Sebagai salah satu syarat untuk melakukan penelitian pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh : IKA KARTIKA F34070092

Disetujui Bogor, Maret 2011

Dr. Ir. Mohamad Yani, M.Eng NIP. 19630805 199002 1001

I. JUDUL

KAJIAN PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA PADA RUMAH POTONG HEWAN

II. PERSONALIA A. PELAKSANA

: Ika Kartika (F34070092)


Mahasiswa tingkat akhir pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

B. PEMBIMBING

: Dr. Ir. Moh. Yani, M.Eng


Staf pengajar pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

III. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG


Perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan kebutuhan produk pangan yang sehat dan bergizi semakin meningkat. Hal ini merupakan suatu tantangan bagi industri pangan, khususnya bahan pangan yang berasal dari hewan. Industri peternakan dituntut untuk selalu menyediakan daging yang sehat dan dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, penelitian terbaru mengatakan bahwa industri peternakan ditengarai sebagai sumber emisi gas rumah kaca terbesar di bumi. Peternakan merupakan salah satu sektor yang menghasilkan gas rumah kaca berupa gas metana (CH4) yaitu ternak yang menghasilkan 18% emisi global. Isu-isu lingkungan ini akan berdampak pada menurunnya konsumsi daging dan hasil peternakan lainnya, khususnya di Indonesia. Gas rumah kaca adalah penyebab terjadinya pemanasan global yang juga mengakibatkan terjadinya perubahan iklim di muka bumi. Efek rumah kaca terbentuk karena adanya interaksi antara CO 2 dalam atmosfir yang jumlahnya bertambah oleh radiasi solar, selain itu gas yang ikut menyumbang gas rumah kaca adalah gas CH4 dari industri peternakan. Industri peternakan sebagai produsen hasil ternak, dituntut untuk ikut mengelola lingkungan agar tetap terjaga. Adanya isu lingkungan tersebut, industri peternakan juga harus memiliki sertifikasi ISO seri 14000 dan carbon foot print sebagai prasyarat diterimanya produk oleh konsumen. Salah satu cara untuk mendapatkan prasyarat tersebut, industri harus melakukan penurunan rata-rata enam gas sumber emisi gas rumah kaca sebagaimana yang telah diratifikasi pada Protokol Kyoto dan disetujui pemerintah Indonesia. Industri peternakan memerlukan strategi bisnis yang tepat agar dapat meningkatkan produk dan kinerja lingkungan secara bersaman. Eco-efficiency merupakan strategi bisnis dalam memproduksi hasil peternakan dengan menggunakan sedikit energi dan menurunkan gas metan dari ternak. Upaya penurunan emisi gas rumah kaca merupakan salah satu cara dalam menerapkan strategi tersebut. Inpres No. 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi, menyebutkan bahwa himbauan kepada semua instansi pemerintah dan swasta untuk melaksanakan upaya penghematan energi, untuk mengatasi peningkatan masalah krisis energi dunia dan degradasi lingkungan. Industri peternakan, khususnya rumah potong hewan (RPH), perlu menggunakan sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Metode

greenhouse gas inventory merupakan sebuah metode yang membantu dalam menentukan opsi yang akan digunakan agar program efisiensi dan konservasi energi dapat terlaksana.

B. KERANGKA PEMIKIRAN
Pemanasan global yang semakin meningkat menuntut industri, khususnya industri peternakan untuk ikut serta dalam upaya penurunan emisi gas. Penurunan emisi gas dengan metode Greenhouse Gas Inventory. Penggunaan metode ini berupa cara perhitungan emisi karbon yang dikeluarkan oleh industri, dengan adanya perhitungan jejak karbon maka dengan begitu industri dapat mengontrol dan mengurangi emisi karbon yang dikeluarkan. Berikut ini adalah gambaran kerangka berpikir dalam penelitian ini (Gambar 1).

Penggunaan energi yang boros Emisi gas CO2 meningkat

Penggunaan bahan bakar fosil

Berkembangnya industri peternakan Emisi gas CH 4 terbesar

Pemanasan global

Protokol Kyoto

Industri peternakan sebagai penghasil CH 4 dan pengguna bahan bakar fosil

Tuntutan penurunan emisi GRK

Greenhouse Gas Inventory

Greenhouse Gas Calculation

Upaya penurunan emisi GRK

Gambar 1. Kerangka Berpikir

C. PERUMUSAN MASALAH
Emisi yang dihasilkan industri bukan hanya berasal dari cerobong asap, tetapi emisi rumah kaca (GRK) ditimbulkan dari semua aktifitas yang dilakukan industri tersebut. Industri peternakan menghasilkan emisi selain gas CO2, yaitu gas metan (CH4). Limbah peternakan berupa kotoran hewan merupakan salah satu penghasil gas metan. Emisi GRK juga dapat dihasilkan dari aktifitas yang menggunakan energi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penggunaan listrik PLN merupakan salah satu aktifitas yang menggunakan

energi secara tidak langsung dan tentunya tetap menimbulkan emisi GRK. Penghematan konsumsi energi dan upaya pengurangan gas metan yang dihasilkan ternak akan mampu mengurangi biaya produksi industri peternakan sehingga keuntungan dapat ditingkatkan. Adanya tuntutan pasar terhadap produk yang ramah lingkungan, industri multinasional atau internasional perlu melakukan penghitungan emisi GRK agar dapat memperkirakan penghematan energi yang dapat dilakukan dan keuntungan finansial yang akan dihasilkan per produk. RPH PT Elders Indonesia merupakan salah satu RPH yang berskala internasional sehingga perlu melakukan proses penghitungan emisi gas rumah kaca (Greenhouse Gas Calculation).

D. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengindentifikasi dan mengklasifikasikan bagian yang berpotensi sebagai sumber penghasil emisi GRK pada RPH 2. Menghitung konsumsi energi dan produksi emisi CO 2 dan CH4 dari kegiatan pemotongan hewan 3. Memilih opsi yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi GRK 4. Analisa finansial jika dilakukan penurunan terhadap emisi yang dihasilkan

E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. RPH dapat melakukan pengurangan pengeluaran gas metan dari ternak dan menghemat penggunaan energi, sehingga dapat menurunkan tingkat emisinya 2. RPH dapat mengurangi biaya produksi dengan melakukan opsi yang disarankan

IV. TINJAUAN PUSTAKA A. PEMANASAN GLOBAL DAN EMISI GAS RUMAH KACA
Udara adalah campuran beberapa macam gas dan berupa atmosfir yang mengelilingi bumi dan memiliki fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan kehidupan di bumi. Susunan udara bersih dan kering adalah nitrogen (N2) sebanyak 78,09%, oksigen (O2) sebanyak 21,94%, argon (Ar) sebanyak 0,93%, dan karbon dioksida (CO2) sebanyak 0,032% (Wardhana 2004). Pencemaran udara merupakan adanya komponen-komponen asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan udara dari keadaan normalnya. Pencemaran udara disebabkan oleh pembangunan yang berkembang pesat pada sektor industri dan teknologi serta meningkatnya kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil, hal tersebut menyebabkan udara yang dihirup manusia menjaadi tercemar oleh gas-gas buangan hasil pembakaran (Wadhana 2004). Menurut Soemarno (1999) pencemaran udara ada dua macam berdasarkan sumbernya yaitu, alami dan non-alami. Pencemaran udara alami adalah masuknya zat pencemar ke dalam udara, diakibatkan oleh proses-proses alam, sedangkan pencemaran non-alami adalah masuknya zat pencemar ke dalam udara yang diakibatkan oleh hasil samping aktifitas manusia yang tanpa disadari. Pemanasan global merupakan salah satu dampak dari terjadinya pencemaran udara di bumi. Peristiwa diakibatkan oleh meningkatnya temperatur rata-rata pada lapisan atmosfir,

                           #                                             !                 'F887$ 

'   @  E   E $        D 7 @ 

'7CCB A 4$                  &%             %              &         '7 @ $    !  '9887   5  5$ ' 645$     ' 4$

' 4 $ '% & $  ' ( $ 20103 2010 3 ) ' &% $      #   "                       !                       

t ti i i t i i l

ii

it

i l t i l

t l

i l

i j i

ti

i i i i

l chl

t j i

ti ilt

i i t j i i / i i/

B E
i j l lit i l M i t i l i l i tB i i i

Karbon merupakan salah satu bahan yang terdapat di udara sebagai karbon dioksida di air sebagai C terlarut dan di tanah sebagai bebatuan karbonat Karbon adalah (C bahan dasar penyusun semua kehidupan, senyawa-senyawa ini dimakan oleh konsumen, sehingga karbon berpindah-pindah dari tanaman ke hewan dan dari hewan kembali lagi ke udara berupa gas (Goni k dan Outwater 2004). Fardiaz (1992) menyatakan bahwa unsur karbon dalam CO2 bukan termasuk polutan udara dan komponen yang terdapat dalam susunan udara, serta CO2 yang secara terusmenerus mengalami sirkulasi ke dalam dan ke luar atmosfer melalui akti itas tanaman dan hewan merupakan hal yang normal dan tidak menimbulkan kerusakan, namun dengan bertambahnya akti itas manusia, menyebabkan siklus tersebut terganggu sehingga jika
S R PI RQ PI

j i

B
i i t i l tt :// t i t t t i i t i fl t i t l

i l ji ti t t

l t it carbon C C tj j t i t t l t i i i t

l i i

l j ii l t li li

it i t

ET
i C t t i t t l t i i t ti i

j i ii i i C hydro-fl oro-carbon

ti it

i i t i i

diakumulasikan dari seluruh aktivitas yang terjadi maka akan terjadi kenaikan CO2 di atmosfer dan menyebabkan adanya efek rumah kaca. Burnie (2005) menyatakan bahwa, Seorang ahli fisika Inggris bernama John Tyndall menemukan sifat dari gas karbondioksida yang tidak biasa, yaitu gas tersebut tembus cahaya namun menghalangi panas. Sifat inilah yang menjadi penyebab efek rumah kaca. Selama kurun waktu 100 tahun gas karbon dioksida meningkat 44 % dari 250 part per million (ppm) saat sebelum revolusi industri, yaitu menjadi sebesar 360 ppm. Hal tersebut termasuk dalam perubahan yang luar biasa cepat. Gas karbon dioksida tambahan tersebut sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil. Pada tahun 1957, para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Penelitian tersebut menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer (Gambar 3). Banyaknya konsentrasi dalam atmosfer menyebabkan peningkatan suhu di bumi. Selama penelitian tersebut berlangsung, IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.

Gambar 3. Perubahan Konsentrasi Karbon dioksida di Atmosfer dari tahun 1960 sampai 2010 (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan global)
V

Menurut Sugiyono (2006), kontribusi gas rumah kaca terhadap pemanasan global, khususnya CO2 mencapai 64%, CH4 mencapai 19%, N2O sebesar 6%, HFC dan PFC sebesar 10%, serta 1% untuk gas lainnya. Data tersebut menujukkan bahwa jumlah karbon dioksida paling banyak berkontribusi dalam pemanasan global. Gas lain yang menyebabkan terjadinya pemanasan global adalah CH4. Menurut Whitman et al (1992) dalam Boone (2000), metana adalah produk penting yang terbentuk dari hasil degradasi bahan organik oleh bakteri di lingkungan seperti tanah tergenang, lahan basah, muara, sedimen air tawar dan laut, serta saluran pencernaan binatang. Setiap

tahunnya ada 350-500 juta ton gas metan yang dihasilkan dari peternakan, penggunaan bahan bakar fosil, gas alam, kultivasi padi, dan lahan tempat pembuangan akhir sampah. Artikel dalam Koran Jakarta (2010) menyebutkan bahwa, gas metan 25 kali lebih panas daripada gas karbondioksida dengan kata lain

gas metan merupakan gas yang paling banyak berkontribusi dalam pemanasan global, sedangkan menurut Wahyuni (2009) CH4 memiliki dampak 21 kali lebih tinggi dibandingkan gas karbondioksida sehingga gas ini termasuk gas yang menimbulkan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global . Berikut adalah Gambar 4 yang menunjukan peningkatan gas metan dari tahun 1970 hingga tahun 2000.

Gambar 4. Perubahan Konsentrasi Metana di Atmosfer dari tahun 1970 sampai 2000 (Hopwood N dan Cohen J 1998)

C. INDUSTRI PETERNAKAN RUMAH KACA

SEBAGAI

SUMBER

EMISI

GAS

Manusia berupaya dengan segala daya untuk mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada demi mencapai kualitas hidup yang diinginkan. Industri merupakan salah satu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Namun pada kenyataannya, kualitas hidup yang diingikan tersebut semakin jauh dari jangakuan karena dengan adanya industri dan teknologi yang semakin berkembang maka akan berdampak pula pada lingkungan dan kehidupan manusia. Dampak terhadap lingkungan dapat mengurangi daya dukung alam yang juga akan mengurangi kemampuan alam untuk mendukung kelangsungan hidup manusia. Penurunan daya dukung alam ini tentunya akan berdampak pada kehidupan manusia yaitu menurunkan bahkan menurunkan kualitas hidup manusia (Wardhana 2004). Perkembangan industri peternakan merupakan salah satu upaya manusia dalam mencapai kualitas hidup yang diinginkan dari segi pangan. Industri peternakan di Indonesia, umumnya masih terfokus pada peningkatan kualitas produk dan kurang memperhatikan aspek lingkungan. Menurut penelitian pada tahun 2006 diketahui bahwa 51% emisi GRK berasal dari industri peternakan. Industri peternakan, khususnya rumah potong hewan termasuk industri yang menghasilkan emisi GRK berupa gas CO2 dari penggunaan energi seperti listrik dan gas CH 4 dari hewan ternak. Emisi gas metan yang dihasilkan dari hewan ternak jenis ruminansia merupakan proses metanogenesis di dalam sistem pencernaan hewan tersebut. Proses metanogenesis dilakukan oleh bakteri metanogenik atau metanogen, bakteri ini merupakan bakteri yang terdapat dalam bahan-bahan organik dan menghasilkan gas metan dan gas-gas lainnya pada proses reaksinya dalam keadaan anaerobik. Menurut penelitian Dewi Ratih Ayu (2010)

dalam artikel majalah Trobos, bakteri metanogenik di dalam rumen (lambung) sapi dapat menghasilkan gas metan karena adanya simbiosis dengan protozoa yang dapat memecah pati, sehingga apabila protozoa dalam rumen sapi dapat dikendalikan maka gas metan yang dihasilkan ternak tersebut juga dapat dikurangi. Protokol Kyoto pada tahun 2005, mengamandemenkan sebuah persetujuan untuk dilakukannya penurunan emisi GRK di negara-negara yang menyutujui Protokol tersebut (Anonim 2010). Pemberlakuan Protokol tersebut berpengaruh terhadap industri peternakan sebagai salah satu produsen pangan. Pengaruh yang ditimbulkan seperti tuntutan konsumen untuk adanya logo carbon foot print pada setiap produk yang mereka konsumsi. Pemasangan logo carbon foot print (Gambar 5) pada setiap produk yang dihasilkan industri, dilakukan untuk meyakinkan konsumen bahwa perusahaan tersebut telah melakukan sertifikasi ISO seri 14000 dan dapat diterima oleh konsumen.

Gambar 5. Contoh Logo Carbon Foot Print (http://www.treehugger.com/files/2009/07/reduce-carbon-footprint.php)

D. PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA


Indonesia merupakan negara yang dinyatakan sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia yaitu mencapai 2,1 milyar ton karbon dioksida di tahun 2005. Para peneliti mengestimasikan penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia, hal tersebut di deskripsikan pada Gambar 6 (Butler 2010).

Gambar 6. Estimasi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Penurunan emisi dapat dilakukan dengan menginventarisasi emisi karbon yang dihasilkan suatu perusahaan. Metode tersebut digunakan untuk mengestimasikan emisi

karbon yang dapat diturunkan industri. Penurunan emisi karbon penting dilakukan suatu industri peternakan di Indonesia, dengan adanya tuntutan bahwa industri tersebut harus ikut serta dalam rencana penurunan emisi karbon di Indonesia serta tuntutan konsumen yang menginginkan produk yang ramah lingkungan. Greenhouse Gas Inventory merupakan metode pendekatan yang digunakan dalam proses penurunan emisi gas rumah kaca (Putt del Pino et al 2006). Menurut Wardhana (2004), emisi gas rumah kaca dari sektor industri dapat ditanggulangi atau dikurangi secara teknis dengan cara mengganti sumber energi yang digunakan, yaitu mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar LNG (Liquid Natural Gases) yang akan menghasilkan gas buang yang lebih bersih. Emisi gas rumah kaca berupa CH4 dapat ditanggulangi dengan cara mengubahnya menjadi biogas. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan anaerob. Pembuatan biogas memerlukan digester untuk menguraikan emisi gas metan agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar alternatif (Wahyuni 2009). Selain itu, menurut penelitian Dewi Ratih Ayu (2010) gas metan yang dihasilkan oleh ternak ruminansia dapat dikurangi dengan cara pemberian pakan yang mengandung tanin, karena tanin dapat menekan jumlah protozoa pemecah pati dalam rumen ternak agar tidak memproduksi gas metan yang berlebihan.

V. METODOLOGI
Penelitian ini akan dilakukan pada industri yang bergerak pada bidang agroindustri. Penelitian ini akan dimulai dengan melakukan pengumpulan data umum industri peternakan, dalam kasus ini adalah rumah potong hewan. Target pengambilan data tersebut adalah bagianbagian dari rumah potong hewan yang diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Pengukuran emisi GRK dilakukan dengan pengumpulan data sekunder dari RPH yang bersangkutan, seperti proses produksi, data penggunaan listrik, data penggunaan air, data penggunaan bahan bakar, dan data limbah organik yang dihasilkan (kotoran ternak, sisa pakan ternak, dan lain-lain). Rumah potong hewan yang memungkinkan untuk dilakukan penerapan Greenhouse Gas Inventory adalah PT Elders Indonesia.

METODE PENELITIAN
Penurunan emisi GRK pada suatu industri dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu mengidentifikasi sumber CO2 dan CH4 pada RPH, mengklasifikasikan sumber emisi menjadi emisi langsung dan tidak langsung, mengidentifikasi data yang dibutuhkan, mengestimasikan faktor emisi, menghitung emisi yang dapat direduksi, menentukan target atau bagian yang dapat dilakukan penurunan emisi, dan analisis finansial. Berikut ini adalah diagram metode yang akan dilakukan dalam penelitian ini (Gambar 7).

Perencanaan dan Identifikasi

Klasifikasi sumber emisi CO 2 dan C 4


X

Identifikasi data

Menghitung emisi

Opsi penurunan emisi

nalisa finansial

aporan prakiraan emisi yang dapat diturunkan

Gambar 7. Tahapan Penelitian

1. Tahap Perencanaan dan Identifikasi (Plan and Identify)


Tahap perencaan merupakan tahapan yang dilakukan untuk merencanakan kajian yang akan dilakukan. Komitmen dari manajemen puncak sangat dibutuhkan untuk menjalankan tahapan selanjutnya. Manajemen puncak dan tim harus sepakat dalam menentukan area atau bagian dari industri yang akan dilakukan efisiensi. Tahap identifikasi merupakan tahap mengidentifikasi bagian-bagian dari industri yang memiliki potensi menghasilkan emisi gas rumah kaca, khususnya CO2 dan C 4 . Fokus dari tahap ini adalah sumber emisi atau energi yang digunakan dan jumlah yang dipergunakan pada industri tersebut.

2. Tahap Klasifikasi Sumber Emisi CO2 dan C

Tahap klasifikasi merupakan tahapan setelah tahap perencanaan dan identifikasi. Pada tahap ini dilakukan pengelompokan emisi CO2 dan C 4 berdasarkan sumbernya. Berdasarkan sumbernya emisi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu emisi langsung (direct emissions) dan emisi tidak langsung (indirect emissions). Tahap klasifikasi ini diperlukan untuk membedakan perhitungan emisi CO2 dan C 4 yang dihasilkan dari sumber yang berbeda-beda pula.
X X

Y ` W

(Classification)

3. Tahap Identifikasi Data (Gather Data)


Tahap identifikasi data merupakan tahap pengelompokan data menjadi dua bagian, yaitu data aktifitas dan faktor emisi. Dua bagian tersebut dibutuhkan untuk menghitung emisi CO2. Data aktifitas yang digunakan berupa data kuantitas yang berasal dari aktifitas yang menjadi sumber emisi secara langsung dan tidak langsung, sedangkan faktor emisi yang digunakan berdasarkan penggunaannya. Berdasarkan Project Design Document/PDD dalam situs UNFCCC, disebutkan bahwa pembakaran gas alam akan menghasilkan emisi gas rumah kaca berupa CO2, CH4, dan N2O, berikut faktor konversi dari pembakaran gas alam (Tabel 1): Tabel 1. Faktor emisi dari pembakaran gas alam Faktor Emisi EF CO2-NG : Faktor Emisi CO 2 EF CH4-NG : Faktor Emisi CH 4 EF N2O-NG : Faktor Emisi N 2O Besaran 56,10 0,021 0,031 Unit tCO2/TJ tCO2/TJ tCO2/TJ

   Emisi yang dikeluarkan akibat penggunaan listrik PLN adalah sebagai berikut :  

Menurut Wiharja (2010), total emisi dari pembakaran gas alam, PENG tCO2 adalah sebagai berikut :      

Menurut artikel dalam majalah Trobos (2010), total emisi CO 2 yang dihasilkan dari gas CH4 adalah sebagai berikut :    

Sehingga perhitungan emisi karbon yang dikeluarkan dari limbah RPH adalah sebagai berikut :        

4. Tahap Menghitung Emisi (Calculate the Emissions)


Tahap ini dilakukan setelah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan berupa data aktifitas dan faktor emisi. Berikut adalah formulasi perhitungan emisi CO2 (Putt del Pino dan Bhatia 2002):    

Perhitungan emisi dilakukan dengan mengelompokan berdasarkan sumber emisi GRK tersebut. Perhitungan ini akan menghasilkan nilai dengan satuan kg CO2.

5. Tahap Penentuan Opsi Penurunan Emisi


Tahap penentuan opsi penurunan emisi merupakan tahap pemberian opsi-opsi yang dapat dilakukan perusahaan untuk menurunkan emisi karbon yang dihasilkan. Penentuan opsi ini dilakukan setelah sumber emisi dan jumlah emisi yang dihasilkan diketahui.

6. Tahap Analisa Finansial


Tahap analisa finansial merupakan tahap perhitungan penurunan emisi secara ekonomi. Perhitungan ini dapat digunakan sebagai penentu apakah program penurunan emisi dapat dilanjutkan atau tidak. Metode standar dalam perhitungan keuangan yang umumnya digunakan antara lain: a. Net Present Value (NPV) NPV merupakan perbedaan nilai investasi sekarang dari keuntungan dan biaya di masa yang akan datang (Gray et al. 1992 dalam Indrasti dan Fauzi 2009). Formulasi yang digunakan adalah :  

Keterangan : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya proyek tahun ke-t i = tingkat suku bunga n = umur ekonomis proyek b. Internal rate of return (IRR) IRR adalah tingkat keuntungan yang akan didapatkan investor dari investasi proyek tersebut (Gray et al. 1992 dalam Indrasti dan Fauzi 2009). Formulasi yang digunakan adalah :

Keterangan : i* = tingkat suku bunga yang dicari i = tingkat suku bunga yang berlaku NPV = total nilai sekarang c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net B/C adalah nilai perbandingan antara jumlah nilai sekarang yang positif dengan jumlah nilai sekarang yang negatif (Gray et al. 1992 dalam Indrasti dan Fauzi 2009). Formulasi yang digunakan adalah :     

d. Pay Back Period (PBP)

PBP adalah waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal (Newman 1990 dalam Indrasti dan Fauzi 2009). Formulasi yang digunakan adalah :   

 atau 

Nilai NPV berbanding terbalik dengan PBP. Jika nilai NPV semakin besar, maka nilai PBP semakin mengecil dan demikian pula sebaliknya. e. Break Even Point (BEP) BEP adalah jumlah hasil penjualan dimana proyek tidak menderita kerugian dan juga tidak mendapatkan keuntungan, dengan kata lain impas (Sutojo 1996 dalam Indrasti dan Fauzi 2009). Formulasi yang digunakan adalah :

Keterangan : QBEP BV BT P

= jumlah penjualan break even point = biaya variabel per tahun (Rp) = biaya tetap per tahun (Rp) = harga jual produk per unit (Rp)

7. Tahap Penulisan Laporan Prakiraan Penurunan Emisi (Reporting)


Penulisan laporan prakiraan penurunan emisi merupakan laporan estimasi yang dibuat untuk membantu industri dalam mengimplementasikan penurunan emisi CO2. Laporan ini akan menjelaskan tahapan yang harus dilakukan RPH dalam upaya penurunan emisi CO2, opsi yang dapat dipilih untuk mengimplementasikan program tersebut, dan keuntungan yang didapatkan industri jika melakukan program ini.

VI. WAKTU PENELITIAN


Penelitian akan dilakukan selama 2(dua) bulan, yaitu pada bulan 14 Maret 2011 sampai dengan 14 Mei 2011. Berikut ini jadwal kegiatan penelitian yang akan dilakukan:

Bulan No Aktivitas 1 1 2 Penyusunan proposal Survei awal lokasi penelitian Identifikasi proses produksi Identifikasi sumber emisi Pengisian Kuisoner Analisa data Penulusuran literatur Penyusunan laporan Januari 2 3 4 1 Februari 2 3 4 1 Maret 2 3 4 1 April 2 3 4 1 Mei 2 3 4 1 Juni 2 3 4

3 4 5 6 7 8

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Protokol Kyoto. http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol Kyoto. [1 Februari 2011] ----------. 2010. Peternakan Merupakan Penghasil Metana Terbesar. http://www.koranjakarta.com/berita-detail.php?id=55895. [3 maret 2011] ----------. 2011. Greenhouse Gas. http://www.wikipedia.org/free+encyclopedia/green-house-gas/. [28 Januari 2011] Boone DR. 2000. Biological Formation and Consumption of Methane. In : Khalik, MAK. (ed.) Atmospheric Methane : Its Role In The Global Environtment. Springer-Verlag Berlin Heidelberg, Germany. Burnie D. 2005. Bengkel Ilmu : Ekologi. Penerbit Erlangga, Jakarta. Butler R A. 2010. Indonesia Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar Ke-3 Namun Pengurangan Penggundulan Hutan Tawarkan Kesempatan Besar, Kata Pemerintah. http://indonesia.mongabay.com/news/2010/id1001-0927-indonesia abatement.html. [2 Februari 2011] Fardiaz S. 1992. Polusi Air dan Polusi Udara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan & Gizi. IPB, Bogor. Gonick L dan Outwater A. 2004. Kartun Lingkungan. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. Gray C.P. Simanjuntak, L.K. Sabur, P.F.L. Maspaitella dan R. G.C. Varley. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. dalam Indrasti N.S. dan Fauzi A.M. 2009. Produksi Bersih. IPB Press, Bogor. Hopwood N dan Cohen J. 1998. Greenhouse Gas and Society. http://www.umich.edu/~gs265/society/greenhouse.htm [5 Maret 2011] http://en.wikipedia.org/wiki/Greenhouse gas. [28 januari 2011] Newman D.G. 1990. Engineering Economic Analysis. Binarupa Aksara, Jakarta. dalam Indrasti N.S. dan Fauzi A.M. 2009. Produksi Bersih. IPB Press, Bogor. Putt del Pino S dan Bathia P. 2002. Working 9 to 5 on Climate Change : An Office Guide. World Resources Institute, Washington D.C. Putt del Pino S, Levinson R, dan Larsen J. 2006. Hot Climate, Cool Commerce: A Service Sector Guide to Greenhouse Gas Management. World Resources Institute, Washington D.C. Soemarno S H. 1999. Meteorologi Pencermaran Udara. Catatan Kuliah. Penerbit ITB, Bandung. Sugiyono A. 2006. Penanggulangan Pemanasan Globaldi Sektor Pengguna Energi. Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca 7(2) : 15-19. Susanta G dan Sutjahjo H. 2007. Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global. Penebar Swadaya, Jakarta. Sutojo T. 1993. Studi Kelayakan Proyek. PT Pustaka Binaman Pressinda, Jakarta. dalam Indrasti N.S. dan Fauzi A.M. 2009. Produksi Bersih. IPB Press, Bogor. Trobos. 2010. Ternak Ramah Lingkungan dengan Limbah Teh. Majalah. http://www.trobos.com/show article.php?rid=19&aid=2409. [3 Maret 2011] Wahyuni S. 2009. Biogas. Penebar Swadaya, Jakarta. Wardhana W A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset, Yogyakarta.
b a b b

CURRICULUM VITAE
Identitas Diri Nama NIM : Ika Kartika : F34070092

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 10 Juli 1990 Jenis Kelamin Agama Nama Bapak Nama Ibu Alamat Rumah : Perempuan : Islam : Yanizar Matropi, S.E : Tetty Widyastoety : Komp. Pondok Pucung Indah II Jl. Krakatau I Blok A3/11 Pondok Aren Tangerang Selatan 15229 Alamat Bogor Telepon/Hp : Pondok Irafan Babakan Lebak : 021-745 5251 / 085691042028

Riwayat Pendidikan Formal TK Kartini Jakarta Pusat SD Dahlia Tangerang SD Az Zahra Palembang SD Dahlia Tangerang SLTP N 11 Jakarta SMA N 29 Jakarta Institut Pertanian Bogor Riwayat Pendidikan Informal English Camp SMA N 29 Jakarta Ajang Orientasi Bersama Mahasiswa Agraris 44 Seminar Nasional Konservasi Penyu Indonesia Bird Lecture 2008 Indonesian Bird Conservation Seminar Nasional Konservasi Orang Utan Indonesia Bird Banding Training UKF IPB WCS Indonesian Program Seminar Nasional Perdagangan Satwa Liar Seminar Nasional Agroindustri Pengalaman Organisasi Anggota Paduan Suara SMA N 29 Jakarta Anggota Majalah Dinding SMA N 29 Jakarta Humas Eksternal Paduan Suara SMA N 29 Jakarta Pengurus Kelas (Bendahara) XI IPA 2 SMA N 29 Jakarta Kepala Biro Kepustakaan UKM Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB Bendahara Eksternal UKM Uni Kenservasi Fauna IPB Anggota HIMALOGIN IPB

1993 - 1995 1995 1997 1997 1999 1999 2001 2001 2004 2004 2007 2007 2011

2004 2007 2007 2008 2009 2010 2010 2010

2004 2007 2004 2006 2005 2006 2005 2006 2008 2009 2009 2010 2008 2011

Anggota Aktif UKM Uni Konservasi Fauna IPB Anggota Divisi Konservasi Burung UKF IPB Pengalaman Kepanitian Bendahara Ekspedisi Global UKF IPB Staff Divisi Dana Usaha EXPO UKF 2008 Staff Divisi Medis Reds Cup (BEM-F) Bendahara UKF EXPO 2009 Kepala Divisi Konsumsi 2 nd Tetranology (BEM-F) Staff Divisi Konsumsi UKF EXPO 2010 PJ Open Recruitment Metamorfosa 9 UKF IPB Prestasi Peserta Olimpiade Matematika Nasional Peserta Lomba Essay Nasional Terumbu Karang Diterima di IPB Melalui Jalur USMI

2007 2011 2007 2011

2008 2008 2009 2009 2009 2010 2010

2005 2007 2007