Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH ANALISIS AKIBAT HUKUM KEPUTUSAN PADA KASUS

GUGATAN TIGA PEGAWAI KPK TERKAIT PENERBITAN SURAT


KEPUTUSAN (SK) PIMPINAN KPK MENGENAI PENGANGKATAN
PEJABAT STRUKTURAL DI KPK

Disusun untuk Memenuhi Penilaian Tugas Mata Kuliah Kelas


Hukum Administrasi Negara C (Reguler)

KELOMPOK 2:
Dania Rizky Nabilla (1806139191)
Dina Riantika (1806139222)
Dyah Assifa Rizki (1806139235)
Farah Clarissa (1806139292)
Habibah Shabila (1806139310)

Fakultas Hukum Universitas Indonesia


Depok
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Tahun
1945 (UUD 1945), menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.
Sehingga, segala sesuatu mengenai pemerintahan di Indonesia harus berdasar pada
hukum pula. Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasar kepada Pancasila
dan UUD 1945 yang memiliki tujuan untuk mewujudkan tatanan negara yang
sejahtera, aman, tentram, serta menjamin persamaan kedudukan warga masyarakat
dalam hukum, dan menjamin terpeliharanya hubungan yang serasi, seimbang, serta
selaras antara aparatur di bidang Tata Usaha Negara dengan para warga masyarakat.1
Keputusan Tata Usaha Negara adalah merupakan penetapan tertulis yang
dikeluarkan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara berdasarkan asas peraturan
perundang-undangan yang bersifat konkrit, individual dan final.2 Penetapan tertulis
merupakan keputusan yang tertulis yang dapat dibuktikan dengan nyata yang bersifat
konkrit. Berbeda dengan keputusan yang bersifat individual, yaitu keputusan yang
dikenakan kepada seseorang secara personal atau pribadi, sedangkan bersifat final
adalah keputusan yang sudah definitif, tidak diperlukan persetujuan pejabat yang
lebih tinggi tingkatannya.
Keputusan (besluit) merupakan penetapan tertulis sebagai wadah atau
perwujudan dari berbagai bentuk penetapan norma-norma hukum secara tertulis.
Keputusan adalah tindakan tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang
bersifat sebelah pihak dengan tanpa meminta persetujuan dari pihak yang dikenai
keputusan. Sedangkan ketetapan adalah bentuk tindakan tertulis yang dikeluarkan
oleh pejabat berwenang yang dilakukan oleh Badan Pemerintah. Penetapan tertulis
adalah perbuatan hukum administrasi/tata usaha negara yang menimbulkan akibat

1Muchsin, Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka & Kebijakan Asasi, (Jakarta: STIH
IBLAM, 2004), hal. 25.
2 Soegijatno Tjakra Negara, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: Sinar
Grafika, 1994), hlm. 4.
hukum, penetapan tertulis sebagai perbuatan hukum administrasi itu merupakan
keputusan yang melahirkan, mengubah atau menetapkan atau menghapus hubungan
hukum. Pejabat Tata Usaha Negara dalam mengeluarkan keputusan (beschikking)
harus melihat peraturan dasar pada keputusan yang akan dikeluarkan, tetapi dalam
hal-hal lain keputusan dapat dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara yang
bersangkutan diberi keleluasaan atau kebebasan untuk menentukan sendiri (Freies
Ermessen atau Diskresi) untuk melakukan kebijaksanaannya. Freies Ermessen adalah
kebebasan yang diberikan kepada Pejabat Tata Usaha Negara untuk melakukan
kebijaksanaan yang berkaitan dengan wewenangnya.3

1.2. PERMASALAHAN YANG DIANGKAT


Permasalahan yang dipilih oleh penulis dalam makalah ini merupakan
permasalahan yang terjadi pada tiga pegawai KPK yang menggugat pengangkatan
pejabat struktural ke PTUN. Tiga pegawai KPK tersebut mengajukan gugatan ke
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta terkait penerbitan surat keputusan
(SK) pimpinan KPK mengenai pengangkatan pejabat struktural di KPK. Gugatan
didaftarkan ke PTUN Jakarta dengan nomor 213/G/2018/PTUN-JKT tertanggal 17
September 2018, yang diajukan oleh penggugat I, penggugat II, dan penggugat III.
Objek sengketa tata usaha negara dalam perkara tersebut adalah Keputusan Pimpinan
KPK No. 1445 Tahun 2018 tanggal 24 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Direktur
Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi pada KPK; Keputusan
Pimpinan KPK No. 1448/2018 tanggal 24 Agustus 018 tentang Pengangkatan Pejabat
Struktural setingkat Eselon III pada KPK. Tiga orang yang mengajukan gugatan
tersebut adalah:
1. Direktur Pembinaan Jaringan Kerja dan Antar Komisi dan Instansi
Sujanarko (jabatan sebelumnya adalah Direktur Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat).

3 La Sina, Kedudukan Keputusan Tata Usaha Negara Dalam Sistem Hukum Indonesia,
“Jurnal Hukum Pro Justitia”, Vol. 28, No. 1, 2010, hlm. 68-69.
2. Koordinator Pusat Edukasi Antikorupsi KPK Dian Novianthi
(sebelumnya menjabat Kepala Biro SDM).
3. Kepala Satuan Tugas Pembelajaran Internal pada Pusat Edukasi Anti-
korupsi Hotman Tambunan (sebelumnya menjabat Kepala Bagian
Kearsipan dan Administrasi Perkantoran Biro Umum).
Penggugat mengatakan bahwa gugatan ini harus diajukan karena para
penggugat menilai dasar, cara, proses, dan keputusan tergugat melakukan
tindakan rotasi telah berlawanan dengan prinsip fundamental dalam
pemberantasan korupsi, yaitu ketaatan pada asas, aturan hukum, objektivitas,
transparansi, dan akuntabilitas. Menurut penggugat, putusan pengadilan atas
sengketa ini akan menjadi preseden yang menentukan bagaimana paradigma
KPK sebagai lembaga pemberantasan korupsi pada masa mendatang.
Penggugat menanyakan mengenai persoalan apakah prinsip ketaatan hukum,
objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas masih menjadi dasar utama dalam
praktik birokrasi KPK, atau sebaliknya kekuasaan dan kepentingan pimpinan
boleh mengesampingkan prinsip-prinsip tersebut.
Sebelumnya, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo sempat
mengatakan bahwa rotasi itu diduga tidak transparan. Penentuan posisi rotasi
yang tidak diketahui persis dasar kompetensinya dan dugaan pelanggaran
prinsip-prinsip dasar KPK sehingga berpotensi merusak independensi KPK.
Namun, pimpinan KPK pada tanggal 24 Agustus 2018, akhirnya melantik 14
orang pejabat struktural di tengah kritik para pegawai tersebut. Saat
pelantikan, Ketua KPK RI Agus Rahardjo mengatakan bahwa pimpinan KPK
sudah mengeluarkan keputusan pimpinan KPK No. 1426/2018 tentang Tata
Cara Mutasi di Lingkungan KPK merujuk pada peraturan KPK tahun 2006.
Diakuinya bahwa pelantikan agak tertunda sedikit karena pimpinan ingin
mengikuti aturan yang ada, kemudian keluar keputusan pimpinan. Ia
mengakui pula ada yang mempermasalahkan sebetulnya berwujud peraturan
komisi, bukan keputusan pimpinan. Oleh karena itu, pihaknya me-"refer" pada
peraturan tahun 2006. Agus mengatakan bahwa keputusan pimpinan segera
setelah dilantik mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama peraturan di
KPK yang sudah menunggu lama tentang cara mutasi segera diselesaikan.4

1.3. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang terdapat
dalam makalah ini adalah:
2.1. Bagaimana hukum administrasi negara memandang akibat hukum
keputusan?
2.2. Bagaimana akibat hukum dari keputusan yang dikeluarkan oleh badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara dalam hal pengangkatan atau pemberhentian
seseorang sebagai pegawai negeri?

4 Sandro Gatra, "Tiga Pegawai KPK Gugat Pengangkatan Pejabat Struktural ke PTUN",
https://nasional.kompas.com/read/2018/09/17/17154811/tiga-pegawai-kpk-gugat-pengangkatan-
pejabat-struktural-ke-ptun?page=all., diakses 3 Oktober 2019.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. PENGERTIAN AKIBAT KEPUTUSAN HUKUM
Sebelum diuraikan mengenai pengertian akibat hukum keputusan, terlebih
dahulu harus dibahas tentang masing-masing pengertian dari akibat hukum dan
keputusan. Menurut Soeroso, akibat hukum adalah akibat suatu tindakan hukum yang
dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang dikehendaki oleh pelaku dan yang
diatur oleh hukum.5 Jadi, pengertian singkat akibat hukum adalah akibat dari suatu
tindakan hukum.6 Sebagai contoh, yaitu ketika melakukan suatu tindakan hukum
berupa perjanjian, maka timbul akibat hukum berupa hubungan hukum atau perikatan
di antara para pihak yang terlibat.
Mengenai arti keputusan, Prins mendefinisikannya sebagai suatu tindakan
hukum yang bersifat sepihak dalam pemerintahan, dilakukan oleh suatu badan
pemerintah berdasarkan wewenangnya yang luar biasa.7 Selanjutnya, pengertian
keputusan tersebut dapat diuraikan menjadi lima unsur, yaitu adanya tindakan hukum,
bersifat sepihak, berada dalam lingkup pemerintahan, dilakukan oleh badan
pemerintah, dan berdasarkan wewenangnya yang luar biasa. 8 Selanjutnya UU No. 5
Tahun 1986 jo. Pasal 1 angka 3 UU No. 9 Tahun 2004 menyatakan bahwa,
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat
konkret, individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau
badan hukum perdata”. Dengan demikian, pengertian akibat hukum keputusan dapat
disimpulkan secara singkat sebagai akibat dari suatu tindakan hukum yang dilakukan
oleh badan pemerintah yang bersifat sepihak, konkret dan final dalam pemerintahan.9

5R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 295.
6Sovia Hasanah, “Arti Perbuatan Hukum, Bukan Perbuatan Hukum dan Akibat Hukum,”
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5ceb4f8ac3137/arti-perbuatan-hukum--bukan-
perbuatan-hukum-dan-akibat-hukum/, diakses 3 Oktober 2019.
7Safri Nugraha, et al., Hukum Administrasi Negara (Depok: FH UI, 2007), hlm. 108.
8Ibid., hlm. 109.
9 Ibid., hlm. 110.
Menimbulkan akibat hukum yaitu menimbulkan suatu perubahan dalam
suasana hukum yang telah ada. Karena Penetapan Tertulis itu merupakan suatu
tindakan hukum, maka sebagai tindakan hukum ia selalu dimaksudkan untuk
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. Apabila tidak
dapat menimbulkan akibat hukum ia bukan suatu tindakan hukum dan karenanya juga
bukan suatu Penetapan Tertulis. Sebagai suatu tindakan hukum, Penetapan Tertulis
harus mampu menimbulkan suatu perubahan dalam hubungan-hubungan hukum yang
telah ada, seperti:
1. Menguatkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang telah ada
(decratoir).
2. Menimbulkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang baru
(constitutief).
3. Menolak untuk menguatkan hubungan hukum atau keadaan hukum yang telah
ada atau keadaan hukum yang baru.

2.2 TEORI PENDUKUNG


Teori Pendukung10 untuk permasalahan pada kasus ini adalah:
1. Isi Keputusan
Pembahasan mengenai teori keputusan adalah mengenai tiga hal, yaitu
mengenai siapa yang memutus, prosedurnya dan dasar materinya. Siapa yang
memutuskan berkaitan dengan apabila suatu wewenang diskresi diberikan
kepada seseorang tertentu, maka wewenang tersebut harus dilaksanakan oleh
orang tertentu yang bersangkutan tersebut, bukan oleh orang lain. Kemudian
mengenai dasar materi, semua keputusan dibuat berdasarkan materi yang
diseleksi sesuai relevansinya dengan pembuatan keputusan yang dimaksud.
Mengenai isi keputusan, asas-asas isi keputusan di Belanda meliputi, yaitu
larangan melampaui wewenang, kepastian hukum, pengharapan, perlakuan
yang sama terhadap kasus yang sama, dan pertimbangan kepentingan. Hal
tersebut tidak jauh berbeda di Jerman, dimana isi keputusannya mencakup

10 Safri Nugraha, et al., Hukum Administrasi Negara (Depok: FH UI, 2007), hlm. 111-121.
beberapa ketentuan, seperti kewenangan pemerintah untuk kepentingan umum
(bukan untuk kepentingan pribadi), organ pemerintah tidak boleh bertindak
melampaui kewenangan yang diberikan Undang-Undang, pemerintah tidak
boleh salah dalam melaksanakan kewenangan diskresi, harus sesuai dengan
tujuan yang dicapai, dan mempersempit interpretasi hakim.

2. Keputusan yang Sah (rechtsgeldige beschikking)


Menurut Van der Pot, terdapat 4 syarat yang harus dipenuhi agar keputusan
dapat berlaku secara sah.11 Penjelasan mengenai 4 syarat tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Keputusan harus dibuat oleh organ yang berwenang. Organ pemerintahan
yang berwenang tersebut meliputi alat pemerintahan yang bersifat
administrasi, badan legislatif, dan yudikatif. Dalam hal ini,
ketidakwenangan sering terjadi dalam pembuatan keputusan. Berikut
merupakan bentuk ketidakwenangan tersebut:
● Tidak berwenang ratione materiae (isi, pokok, objek). Ini berarti
pejabat mengeluarkan keputusan tentang materi yang menjadi
wewenang pejabat lain.
● Tidak berwenang ratione loci (tempat), yaitu dari segi wilayah atau
tempat, kewenangan yang dilakukan bukan merupakan kewenangan
pejabat yang bersangkutan.
● Tidak berwenang ratione temporis (waktu). Ketidakwenangan ini
terjadi ketika menggunakan kewenangan yang terkait setelah lewat
batas waktu yang ditentukan.
b. Tidak boleh ada kekurangan yuridis dalam pembentukan kehendak dari
organ pemerintahan yang mengeluarkan keputusan. Kekurangan yuridis
tersebut dapat disebabkan oleh salah kira, paksaan dan tipuan.

11 E. Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Cet IV, (Jakarta: Ichtiar, 1985), hlm.
77.
c. Keputusan harus diberi bentuk. Bentuk tersebut antara lain adalah lisan dan
tertulis. Lisan (mondelinge beschikking) dibuat dalam hal akibatnya tidak
membawa akibat lama dan tidak begitu penting bagi administrasi negara
dan biasanya dikehendaki suatu akibat yang timbul dengan segera. Hal
yang demikian berbeda halnya dengan tertulis (schriftelijke beschikking)
yang digunakan karena sudah biasa dan penting dalam penyusunan alasan.
Bentuk dari keputusan tertulis ini juga dapat bermacam-macam karena
administrasi negara yang membuatnya juga bermacam-macam, misal oleh
menteri dan kepala pemerintahan daerah.
d. Isi dan tujuan keputusan harus sesuai dengan peraturan yang menjadi dasar
penerbitannya. Syarat ini harus dipenuhi dalam suatu negara hukum
mengingat syarat tersebut merupakan syarat legalitas.

Keputusan yang sah memiliki kekuasaan hukum formil dan materiil.12


Suatu keputusan dianggap memiliki kekuatan hukum formil jika tidak dapat
lagi dibantah atau ditarik kembali oleh administrasi negara yang membuatnya
karena keputusan tersebut telah memenuhi syarat-syarat dalam undang-
undang yang berlaku, atau jika hak banding tidak dapat digunakan terhadap
keputusan tersebut. Kekuatan hukum materiil adalah pengaruh yang timbul
karena isi keputusan, yaitu jika keputusan itu tidak bisa ditiadakan oleh
administrasi negara yang membuatnya. Suatu keputusan berkekuatan hukum
materiil pada umumnya dapat dibantah dan memungkinkan untuk naik
banding karena dibuat berdasarkan kewenangan bebas.

3. Keputusan yang Tidak Sah (Niet-Rechtsgeldige Beschikking)


Keputusan yang tidak sah dapat berbentuk pembatalan yang berbeda-beda,
yaitu:

12 Ibid., hlm. 116-123.


a. Batal (nietig) atau batal mutlak (absoluut nietig). Pembatalan ini bersifat
ex-tunc dan dilakukan oleh hakim karena kekurangan esensiil dan akibat
hukumnya adalah perbuatan yang dilakukan dianggap tidak ada.
b. Batal demi hukum (nietig van rechtswege). Pembatalan ini bersifat ex-
tunc dan akibat hukumnya dianggap tidak ada tanpa memerlukan putusan
hakim atau badan pemerintahan lain yang berkompeten.
c. Dapat dibatalkan (vernietigbaar). Pembatalan ini adalah bersifat ex-nunc
dan dapat terjadi karena ada kekurangan. Dari perspektif hukum,
perbuatan yang dilakukan dan akibat hukumnya dianggap sah sampai
waktu pembatalan oleh hakim atau badan pemerintahan yang
berkompeten.

4. Klasifikasi Keputusan
Dalam hal bentuk, keputusan dibagi menjadi keputusan lisan dan tertulis. Jika
dilihat dari manifestasi kehendak, terbagi atas keputusan unilateral, bilateral
dan multilateral. Lalu dalam hal daya laku, maka keputusan bisa berdaya laku
interen (dalam instansi/lembaga) dan exteren (keluar instansi/lembaga).
Selanjutnya, berdasarkan jangka waktu, keputusan ada yang bersifat
sementara (terbatas) dan lama (photografis). Kemudian jika ditinjau dari sifat
kehendak, keputusan terdiri atas keputusan komisi (jabatan/pangkat, panitia,
komisi, pengangkatan) dan omisi (penghilangan, kelalaian, tidak
dicantumkan).

5. Macam-Macam Keputusan Tertulis13


Menurut Hadjon dalam bukunya yang berjudul Pengantar Hukum
Administrasi Negara, keputusan terbagi menjadi dua macam, yaitu dilihat dari
dampak keputusan terhadap orang yang dituju oleh keputusan dan dilihat dari
keterkaitan dengan akibat hukum tertentu. Jenis yang pertama tersebut terdiri

13 Philipus M. Hadjon. et. al., Pengantar Hukum Administrasi Negara (Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1993), hlm. 181-183
atas, yaitu keputusan dalam rangka ketentuan larangan dan atau perintah,
keputusan yang menyediakan sejumlah uang, keputusan yang membebankan
kewajiban keuangan, keputusan yang memberikan suatu kedudukan, dan
keputusan penyitaan. Pada jenis yang kedua tersebut, yaitu meliputi keputusan
bebas-terikat, keputusan menguntungan-membebankan, keputusan yang
seketika berakhir lama-berjalan terus, dan keputusan kebendaan-perorangan.

6. Pencabutan Keputusan14
Dalam pencabutan keputusan, terdapat 6 asas yang penting untuk
diperhatikan, kecuali jika Undang-Undang melarang dengan tegas untuk
mecabutnya. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keputusan dibuat karena tipuan, maka dapat dinyatakan tidak berlaku
secara ab-ovo (sejak awal dianggap tidak ada).
b. Keputusan yang isinya belum diberitahukan kepada yang bersangkutan,
yaitu belum menghasilkan hubungan hukum. Ini dapat dinyatakan tidak
berlaku secara ab-ovo.
c. Keputusan yang menguntungkan yang diberikan dengan syarat-syarat dapat
dicabut jika pihak yang diuntungkan lalai memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
d. Keputusan yang menguntungkan tidak dapat dicabut setelah jangka waktu
tertentu jika dengan pencabutan itu menyebabkan suatu keadaan yang
semula sah menjadi tidak sah.
e. Jika sebagai akibat keputusan yang tidak benar terjadi keadaan yang tidak
sah, maka keadaan yang tidak sah tersebut tidak boleh ditiadakan dengan
mencabut keputusan kalau pihak yang terkena akibat pencabutan akan
dirugikan.
f. Pencabutan keputusan harus memenuhi persyaratan yang sama seperti pada
waktu keputusan tersebut dibuat (asas contrarius actus).

14 W. F Prins-R. Kosim Adisaputra, Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara, (Jakarta:


Pradnya Paramita, 1978), hlm.102-103.
BAB 3
ANALISIS
3.1. ANALISIS PERMASALAHAN
3.1.1. Bagaimana hukum administrasi negara memandang akibat hukum
keputusan?
Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, kedaulatan berada di tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Selanjutnya menurut ketentuan
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini berarti bahwa sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara Republik Indonesia harus berdasarkan
atas prinsip kedaulatan rakyat dan prinsip negara hukum. Berdasarkan prinsip-
prinsip tersebut, segala bentuk Keputusan dan/atau Tindakan Administrasi
Pemerintahan harus berdasarkan atas kedaulatan rakyat dan hukum yang
merupakan refleksi dari Pancasila sebagai ideologi negara. Dengan demikian
berdasarkan kekuasaan yang melekat pada kedudukan penyelenggara
pemerintahan itu sendiri. Keputusan dan/atau Tindakan terhadap Warga
Masyarakat harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
asas-asas umum pemerintahan yang baik. Pengawasan terhadap Keputusan
dan/atau Tindakan merupakan pengujian terhadap perlakuan kepada Warga
Masyarakat yang terlibat telah diperlakukan sesuai dengan hukum dan
memperhatikan prinsip-prinsip perlindungan hukum yang secara efektif dapat
dilakukan oleh lembaga negara dan Peradilan Tata Usaha Negara yang bebas dan
mandiri. Karena itu, sistem dan prosedur penyelenggaraan tugas pemerintahan
dan pembangunan harus diatur dalam undang-undang. Undang-Undang
Administrasi Pemerintahan mengaktualisasikan secara khusus norma konstitusi
hubungan antara negara dan Warga Masyarakat.
Pengaturan Administrasi Pemerintahan dalam Undang-Undang ini
merupakan instrumen penting dari negara hukum yang demokratis, dimana
Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Badan
dan/atau Pejabat Pemerintahan atau penyelenggara negara lainnya yang meliputi
lembaga-lembaga di luar eksekutif, yudikatif, dan legislatif yang
menyelenggarakan fungsi pemerintahan yang memungkinkan untuk diuji melalui
Pengadilan. Hal inilah yang merupakan nilai-nilai ideal dari sebuah negara
hukum. Penyelenggaraan kekuasaan negara harus berpihak kepada warganya dan
bukan sebaliknya.
Menurut H.D. van Wijk/Willem Konijnenbelt, beschikking (keputusan)
merupakan keputusan pemerintah untuk hal yang bersifat konkret dan individual
(tidak ditujukan untuk umum) dan sejak dulu telah dijadikan instrumen yuridis
pemerintahan yang utama. Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 30 Tahun 2014
tentang Administrasi Pemerintahan merumuskan, “Keputusan Administrasi
Pemerintahan yang juga disebut Keputusan Tata Usaha Negara atau Keputusan
Administrasi Negara yang selanjutnya disebut Keputusan adalah ketetapan
tertulis yang dikeluarkan oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam
penyelenggaraan pemerintahan.”Dapat dikatakan bahwa keputusan merupakan
wujud konkret dari tindakan hukum pemerintahan (bestuursrecthandelingen).15
Keputusan yang dikeluarkan tersebut memiliki sifat untuk menimbulkan akibat-
akibat hukum yaitu munculnya hak, kewajiban, kewenangan atau status tertentu.
Dalam membuat suatu keputusan, perlu diperhatikan adanya syarat-syarat
yang harus dipenuhi dalam pembuatan keputusan yang mencakup syarat materiil
dan syarat formal.16
Syarat-syarat materiil terdiri atas:
1) Organ pemerintahan yang membuat keputusan harus berwenang;
2) Karena keputusan suatu pernyataan kehendak (wilsverklaring), maka
keputusan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis,
seperti penipuan, paksaan atau sup, kesesatan.
3) Keputusan harus berdasarkan suatu keadaan (situasi) tertentu;

15 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Ed. Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2019) hlm. 154.
16 Ibid., hlm. 162.
4) Keputusan harus dapat dilaksanakan dan tanpa melanggar peraturan-
peraturan lain, serta isi dan tujuan keputusan itu harus sesuai dengan
isi dan tujuan peraturan dasarnya.
Selain itu, syarat-syarat formal terdiri atas:
1) Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan dibuatnya
keputusan dan berhubungan dengan cara dibuatnya keputusan harus
dipenuhi;
2) Keputusan harus diberi bentuk yang telah ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya keputusan
itu;
3) Syarat-syarat berhubung dengan pelaksanaan keputusan itu harus
dipenuhi;
4) Jangka waktu harus ditentukan antara timbulnya hal-hal yang
menyebabkan dibuatnya dan diumumkannya keputusan itu harus
diperhatikan.
Apabila syarat materiil dan syarat formal ini telah terpenuhi, maka
keputusan itu akan sah menurut hukum. Begitu pula sebaliknya, apabila satu atau
beberapa persyaratan itu tidak terpenuhi, maka keputusan itu mengandung
kekurangan dan menjadi tidak sah.

3.1.2. Bagaimana akibat hukum dari keputusan yang dikeluarkan oleh


badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dalam hal pengangkatan atau
pemberhentian seseorang sebagai pegawai negeri?
Pengangkatan atau pemberhentian seseorang sebagai pegawai negeri
berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang
merupakan salah satu contoh dari akibat hukum keputusan. 17 Surat keputusan
tersebut akan menimbulkan akibat hukum berupa lahirnya atau lenyapnya hak
dan kewajiban bagi pegawai yang tertera dalam surat keputusan tersebut. Hal ini
sesuai dengan kasus yang kami angkat dalam makalah ini mengenai Gugatan

17 Ibid., hlm. 155.


Tiga pegawai KPK ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta terkait
penerbitan surat keputusan (SK) pimpinan KPK mengenai pengangkatan pejabat
struktural di KPK. Gugatan ini diajukan karena para penggugat menilai dasar,
cara, proses, dan keputusan tergugat melakukan tindakan rotasi telah berlawanan
dengan prinsip fundamental dalam pemberantasan korupsi, yaitu ketaatan pada
asas, aturan hukum, objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.
Surat-surat keputusan yang dikeluarkan oleh Pimpinan KPK mengandung
kekurangan dan dapat dianggap tidak sah. Meskipun surat-surat keputusan yang
diperkarakan di PTUN Jakarta dikeluarkan oleh pihak yang berwenang untuk
membuat keputusan, surat keputusan tersebut tidak memenuhi poin 4 syarat-
syarat materiil dan poin 1 syarat-syarat formal. Penentuan posisi rotasi yang tidak
diketahui persis dasar kompetensinya dan dugaan pelanggaran prinsip-prinsip
dasar KPK sehingga berpotensi merusak independensi KPK. Peraturan yang
dilanggar antara lain, dalam huruf E angka 4 tentang Kepemimpinan, Peraturan
KPK RI No 7 Tahun 2013 tentang Nilai-Nilai Dasar Pribadi, Kode Etik, dan
Pedoman Perilaku Komisi Pemberantasan Korupsi, dijelaskan bahwa Pimpinan
KPK wajib menilai orang yang dipimpinnya secara objektif berdasarkan kriteria
yang jelas. Jika tidak mempertimbangkan parameter kriteria yang jelas, para
penggugat menilai, maka rotasi ini bersifat subjektif dan cacat prosedur. Apabila
suatu keputusan mengandung kecacatan, maka keputusan tersebut dapat ditunda
pelaksanaannya, dicabut, diubah ataupun dibatalkan. Hal ini sesuai dengan Pasal
64 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 menyatakan, Keputusan hanya
dapat dilakukan pencabutan apabila terdapat cacat: a) wewenang; b) prosedur
dan/atau; c) substansi.
Berdasarkan Keputusan Persidangan Banding 160/B/2019/PT.TUN.JKT,
majelis hakim mengabulkan gugatan dari tiga pegawai KPK. Pengadilan
mewajbkan pimpinan KPK mencabut surat-surat keputusan yang telah
dikeluarkan yaitu:
1) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1445 Tahun
2018 tanggal 23 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Direktur Pembinaan
Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi pada Komisi Pemberantasan
Korupsi atas nama Sujanarko (Penggugat I/Pembanding).
2) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1447 Tahun
2018 tanggal 23 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Koordinator Pusat
Edukasi Anti Korupsi pada Komisi Pemberantasan Korupsi atas nama
Dian Novianthi (Penggugat III/Pembanding)
3) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1448 Tahun
2018 tanggal 23 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Pejabat Struktural
Setingkat Eselon III pada Komisi Pemberantasan Korupsi atas nama
Hotman Tambunan (Penggugat II/Pembanding)
4) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1442 Tahun
2018 tanggal 23 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Direktur Pendidikan
dan Pelayanan Masyarakat pada Komisi Pemberantasan Korupsi atas
nama Giri Suprapdiono yang menggantikan Penggugat I sebagai Direktur
Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat.
5) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 1448 Tahun
2018 tanggal 23 Agustus 2018 tentang Pengangkatan Pejabat Struktural
Setingkat Eselon III pada Komisi Pemberantasan Korupsi atas nama Sri
Sembodo Adi yang menggantikan Penggugat II sebagai Kepala Bagian
Kearsipan dan Administrasi Perkantoran;
Maka, dengan ini Pimpinan KPK harus mencabut keputusan tersebut
paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak perintah Pengadilan tersebut, dan
berlaku sejak tanggal ditetapkan keputusan pencabutan, sesuai dengan Pasal 64
ayat (5) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014. Di dalam Pasal 68 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014 dijelaskan bahwa Keputusan
pengangkatan pejabat yang masa jabatan yang bersangkutan telah berakhir, maka
Keputusan pengangkatan tersebut dengan sendirinya menjadi berakhir dan tidak
mempunyai kekuatan hukum. Dalam hal ini pula pada ayat (5) di Pasal 68
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2014 menjelaskan bahwa, apabila ketentuan
peraturan perundang-undangan mengatur tentang masa berlakunya suatu
Keputusan, sedangkan dalam Keputusan pengangkatan pejabat yang
bersangkutan tidak dicantumkan secara tegas maka berakhirnya Keputusan
memerlukan penerbitan Keputusan baru demi kepastian hukum. Dalam hal
terjadi perubahan struktur organisasi pemerintahan dari organisasi yang lama ke
organisasi baru yang berakibat pada perubahan nomenklatur jabatan, sedangkan
pemangku jabatan tidak ditentukan masa berlakunya dalam keputusan
pengangkatan, maka diperlukan penetapan keputusan baru untuk mengakhiri
masa jabatan pejabat yang bersangkutan.18

18 Indonesia, Undang-Undang Administrasi Negara, UU No. 30 Tahun 2014, LN No. 292


Tahun 2014, TLN No. 5601, Penjelasan Ps. 68 ayat (5).
BAB 4
KESIMPULAN
Negara Indonesia adalah Negara Hukum sesuai dengan yang diatur adalam
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat 3. Sebagai negara hukum, tentunya segala
aspek kehidupan haruslah berdasarkan hukum yang berlaku di Negara Indonesia.
Begitu juga dengan halnya dalam Hukum Admministrasi Negara. Dalam hal ini
berhubungan dengan Keputusan Tata Usaha Negara. Kedudukan Keputusan Tata
Usaha Negara dalam sistem hukum Indonesia adalah berbentuk Beschikking yang
bersifat final, individual, dan konkrit. Dalam melaksanakan Keputusan Tata Usaha
Negara tidak dibenarkan menyalahi daripada peraturan perundang-undangan, dengan
demikian dapat dihindari agar pelaksanaan Keputusan Tata Usaha tidak berbentuk
pada proses gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.
DAFTAR PUSTAKA

I. Buku

Soeroso, R. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 2011.

Nugraha, Safri. et al. Hukum Administrasi Negara. Depok: FH UI, 2007.

Muchsin, Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka & Kebijakan Asasi. Jakarta: STIH
IBLAM, 2004.

Negara, Soegijatno Tjakra. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jakarta:
Sinar Grafika, 1994.

Utrecht, E. Pengantar Hukum Administrasi Negara Cet IV. Jakarta: Ichtiar, 1985.

Hadjon, Philipus M. et. al. Pengantar Hukum Administrasi Negara. Yogyakarta:


Gajah Mada University Press, 1993.

Prins, W.F-R. Kosim Adisaputra. Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara.


Jakarta: Pradnya Paramita, 1978.

HR, Ridwan. Hukum Administrasi Negara, Ed. Revisi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2019.

II. Jurnal

La Sina, “Kedudukan Keputusan Tata Usaha Negara Dalam Sistem Hukum


Indonesia”, Jurnal Hukum Pro Justitia, Vol. 28, No. 1, 2010, hlm. 68-69.

III. Peraturan Perundang-undangan

Indonesia. Undang-Undang Administrasi Negara, UU No. 30 Tahun 2014, LN


No. 292 Tahun 2014, TLN No. 5601.
IV. Internet

Hasanah, Sovia. “Arti Perbuatan Hukum, Bukan Perbuatan Hukum dan Akibat
Hukum.”
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5ceb4f8ac3137/arti-
perbuatan-hukum--bukan-perbuatan-hukum-dan-akibat-hukum/. Diakses 3
Oktober 2019.

Gatra, Sandro. "Tiga Pegawai KPK Gugat Pengangkatan Pejabat Struktural ke


PTUN." https://nasional.kompas.com/read/2018/09/17/17154811/tiga-
pegawai-kpk-gugat-pengangkatan-pejabat-struktural-ke-ptun?
page=all#page1. Diakses 3 Oktober 2019