Anda di halaman 1dari 6

ASWAJA ANNAHDLIYAH

Mei 22, 2018  NoComment

Oleh : Yusuf Hasyim, S.Ag, M.S.I**


Pengantar
Aswaja adalah aliran keagamaan yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Indonesia, khususnya
Nahdlatul Ulama. Aswaja NU terkenal dengan nama AswajaNahdliyah, yaitu Aswaja yang menjadi
keyakinan dan dasar utama bagi warga NU dalam semua bidang, agama, sosial, pendidikan, ekonomi,
budaya, dan politik. Namun sayang, mayoritas warga NU belum memahami secara mendalam apa itu
Aswaja ?, apa yang membedakan Aswaja dengan aliran lain ?, dalil-dalil yang menjadi dasar amaliyah
warga NU seperti tahlilan, manakiban, yasinan, dan lain-lain ?, Apakah benar amaliyah warga NU
termasuk bid’ahdhalalah (sesat) ? kalau tidak, apakah termasuk kategori sunnah ? Wacana bid’ah
selalu dijadikan senjata untuk menyerang amaliah warga NU secara terus menerus. Pelurusan wacana
sangat penting dan mendesak, supaya warga NU bisa mengamalkan tradisinya secara nyaman dan
tenang.
Selain itu, tantangan modernisasi dan globalisasi membuat formulasi Aswaja klasik mengalami
kemunduran, karena dirasa kurang mampu menjawab tuntutan dinamika zaman. Maka, menjadi suatu
keniscayaan melakukan penyegaran dan pembaruan doktrin Aswaja. Salah satunya adalah
menjadikan Aswaja sebagai manhajal-fikr (metodologi berpikir) dalam membaca realitas secara
dinamis, analitis, produktif, dan solutif. Persoalan muncul lagi, bagaimana mengaplikasikan Aswaja
sebagai manhajal-fikr dalam organisasi dan program-programnya. Disinilah pentingnya membumikan
Aswaja sebagai manhajal-fikr dalam organisasi dan program-programnya supaya operasional kuatitatif
sehingga bisa meningkatkan kualitas warga NU secara maksimal.
Latar Belakang Historis Lahirnya Aswaja
Lahirnya Aswaja tidak bisa dilepaskan dari munculnya pergolakan firqoh-firqoh dalam Islam  wafatnya
Rasulullah  Saw.  Setelah  Rasulullah  Saw  wafat  peran sebagai  kepala  Negara  digantikan  oleh
para  sahabat-sahabatnya,  yang  disebut khulafaur Rasyidin  yakni Abu  Bakar,  Umar bin  Khatab,
Utsman bin Affan, dan Ali  bin Abi  Thalib.  Namun,  ketika  pada  masa  Utsman  bin Affan  mulai
timbul adanya  perpecahan  antara  umat  Islam  yang  disebabkan  oleh  banyaknya  fitnah yang timbul
pada masa itu. Sejarah mencatat, akibat dari banyaknya fitnah yang timbulkan pada masa itu
menyebabkan perpecahan pada umat Islam, dari masalah politik sampai pada masalah  teologis.
Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (faham/golongan) dalam lingkungan umat
Islam, dimana satu dengan lainnya bertentangan faham secara tajam dan sulit untuk didamaikan.
Didalam buku Bugyatul Mustarsyidin karangan Mufti Sheikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin
Husein bin Umar, bahwa ada 72 firqah yang sesat  bertumpu pada 7 firqah yaitu :
1. Faham Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak
mengakui Khalifah Rasyidin yang lain seperti Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, Khalifah Umar
Ibnu Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan. Kaum Syi’ah terpecah menjadi 22 aliran, termasuk
di antaranya adalah Kaum Bahaiyah dan Kaum Ahmadiyah Qad-yan.
2. Faham Khawarij, yaitu kaum kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina Ali bin Abi Thalib,
bahkan di antaranya ada yang mengkafirkan Saidina Ali. Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang
yang membuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij terpecah menjadi 20 aliran.
3. FahamMu’tazilah, yaitu kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa
manusia membuat pekerjaannya sendiri, Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata dalam surga,
orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan mi’raj Nabi
Muhammad SAW hanya dengan roh saja, dll. Kaum Mu’tazilah terpecah menjadi 20 aliran,
termasuk di antaranya adalah Kaum Qadariyah.
4. FahamMurjiah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa membuat maksiat (kedurhakaan) tidak
memberi mudharat jika sudah beriman, sebaliknya membuat kebaikan dan kebajikan tidak
bermanfaat jika kafir. Kaum ini terpecah menjadi 5 aliran.
5. FahamNajariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk,
yaitu dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah
terpecah menjadi 3 aliran.
6. FahamJabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa manusia “majbur”, artinya tidak
berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
7. FahamMusyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan
manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik dan turun tangga dll. Kaum ini hanya 1
aliran saja. Kaum Ibnu Taimiyah termasuk dalam golongan ini, dan Kaum Wahabi adalah
termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.
Sebagai reaksi dari timbulnya firqah-firqah yang sesat tadi, maka pada akhir abad ketiga Hijriyah
muncullah golongan yang yang bernama AhlussunnahwalJama’ah yang dipelopori oleh dua orang
ulama besar dalam Ushuluddin yaitu Sheikh Abu Hasan Ali al-Asy’ari dan Sheikh Abu Mansur al-
Maturidi. Perkataan AhlussunnahwalJama’ah kadang-kadang dipendekkan menjadi Ahlussunnah saja
atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asy’ari atau Asy’ariyah, dikaitkan kepada guru besarnya
yang pertama yaitu Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari.
Ahlusunnahwaljama’ah berarti kaum atau golongan yang menganut serta mengamalkan ajaran Islam
yang murni sesuai ajaran Rosulullah SAW dan para sahabatnya. I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu
telah terdapat dalam Al-Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpencar-pencar, belum tersusun rapi
dan teratur, tetapi kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin
yang besar, yaitu Sheikh Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari. Karena itu ada orang yang memberi nama kepada
kaum AhlussunnahwalJama’ah dengan kaum Asya’irah. Dalam buku-buku Ushuluddin biasa dijumpai
perkataan Sunni sebagai kependekan dari AhlussunnahwalJama’ah dan pengikut-pengikutnya
dinamai Sunniyun.
Di dalam buku ‘IhtihafSadatul Muttaqin’ karangan Imam Muhammad bin Muhammad al-Husni Az-
Zabidi, yaitu buku Syarah dari Ihya Ulumuddin disebutkan bahwa apabila disebut kaum
AhlussunnahwalJama’ah, maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikut rumusan (faham)
Asy’ari dan faham Abu Mansur al-Maturidi.
Hubungan NU & Aswaja
Nahdlatul ‘Ulama didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31
Januari 1926 M oleh para ulama pengasuh pesantren yang didalam komunitas Islam mempunyai
kesamaan wawasan, pandangan, sikap dan tata cara pemahaman, penghayatan dan pengamalan
ajaran Islam Ahlussunnahwaljama’ah.
Paling tidak ada tiga faktor yang melatarbelakangi berdirinya Nahdlatul ‘Ulama yaitu :  Pertama, Usaha
untuk mempertahankan fahamAhlus-Sunnah Wal Jama’ah dan rasa cinta tanah air (untuk Persatuan
dan Kesatuan). Kedua, Berkembangnya Ajaran wahabiyah (haram Ziarah kubur, tidak mengakui
waliyullah, haram Tahlilan, berdoa langsung pada Allah, Haram Dhiba’/Berjanzi, Haram shodaqoh
untuk orang yang telah meninggal, dsb). Ketiga, Berdirinya Komite Hijaz.
Besarnya pengaruh kyai/ulama melalui lembaga pendidikan pesantren mengakibatkan Nahdlatul
‘Ulama mudah berkembang dengan pesat, khususnya di daerah basis pesantren. Sebagai  Jam’iyyah
Diniyah yang bermotif keagamaan dan berlandaskan keagamaan, segala sikap, perilaku, dan
karakteristik perjuangan Nahdlatul ‘Ulama selalu disesuaikan dan diukur dengan norma dan ajaran
agama Islam Ahlussunnahwaljama’ah, serta bercita-cita keagamaan yakni Izzul Islam Wal
Muslimin atau dengan kata lain tercapainya Sa’adatuddarain bagi umat dan warganya.
Sejak awal Nahdlatul ‘Ulama menegaskan bahwa ia merupakan penganut AhlusunnahwalJama’ah,
sebuah paham keagamaan yang bersumber pada Al Qur’an, As sunnah, Al Ijma’, dan Al Qiyas. Secara
harfiah AhlusunnahwalJama’ah berarti penganut sunnah Nabi Muhammad saw dan jama’ah (para
sahabat) atau segolongan pengikut sunnah Rasulullah saw yang didalam melaksanakan ajaran-
ajarannya berjalan di garis yang dipraktekkan oleh jama’ah (para sahabat). Menurut NU,
fahamAhlusunnahwalJama’ah tidak dapat dipisahkan dari haluan bermadzhab, sebagaimana
ditegaskan dalam Naskah Khittah NU pada butir 3 sebagai berikut :
1. a.     Nahdlatul ‘Ulama mendasarkan faham keagamaannya kepada sumber ajaran Islam: Al
Qur’an, As-Sunnah, Al Ijma’, dan Al Qiyas.
2. Dalam memahami, menafsirkan Islam dari sumber ajarannya, Nahdlatul ‘Ulama mengikuti
fahamAhlusunnahwalJama’ah dan menggunakan jalan pendekatan al-Madzhab, yaitu: 
Pertama, dalam bidang aqidah, Nahdlatul ‘Ulama mengikuti fahamAhlusunnahwalJama’ah yang
dipelopori oleh Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi.  Kedua, dalam
bidang hukum Islam (fiqih), Nahdlatul ‘Ulama mengikuti jalan pendekatan (alMadzhab) salah
satu dari madzhab Imam Abu Hanifah anNu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin
Idris Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal . Ketiga, dalam bidang tasawuf mengikuti antara
lain Imam Al Junaid Al Baghdadi dan Imam Al Ghazali, serta imam-imam yang lain.
Aswaja sebagai Mazhab
Aswaja, selama ini sering dipandang hanya sebagai mazhab (aliran, sekte, ideologi, atau sejenisnya).
Hal ini menyebabkan aswaja dianut sebagai sebuah doktrin yang diyakini kebenarannya, secara apriori
(begitu saja). Kondisi ini menabukan kritik, apalagi mempertanyakan keabsahannya.
Jadi, tatkala menganut aswaja sebagai mazhab, seseorang hanya mengamalkan apa yang menjadi
doktrin Aswaja. Doktrin-doktrin ini sedemikian banyak dan menyatu dalam kumpulan kitab yang pernah
dikarang para ulama terdahulu. Di kalangan pesantren Nusantara, kiranya ada beberapa tulisan yang
secara eksplisit menyangkut dan membahas doktrin Aswaja.
Hadrotus-Syeikh Hasyim Asy’ari menjelaskan Aswaja dalam kitab Qanun NU dengan melakukan
pembakuan atas ajaran aswaja, bahwa dalam hal tawhidaswaja (harus) mengikuti Al-Maturidi, ulama
Afganistan atau Abu Hasan Al Asy’ari, ulama Irak. Bahwa mengenai fiqh, mengikuti salah satu di
antara 4 mazhab. Dan dalam hal tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali atau Al-Junaidi.
Selain itu, KH Ali Maksum Krapyak, Jogjakarta juga menuliskan doktrin aswaja dengan judul Hujjah
AhlusSunnahwal Jamaah, kitab yang cukup populer di pesantren dan madrasah NU. Kitab ini
membuka pembahasan dengan mengajukan landasan normatif Aswaja. Beberapa hadits (meski dho’if)
dan atsar sahabat disertakan. Kemudian, berbeda dengan Kyai Hasyim yang masih secara global,
Mbah Maksum menjelaskan secara lebih detail. Beliau menjelaskan persoalan talqinmayit, shalat
tarawih, adzan Jumat, shalatqabliyah Jumat, penentuan awal ramadhan dengan rukyat, dan
sebagainya.
Itu hanya salah sat di antara sekian pembakuan yang telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.
Akhirnya, kejumudan (stagnasi) melanda doktrin Aswaja. Dipastikan, tidak banyak pemahaman baru
atas teks-teks keagamaan yang muncul dari para penganut Aswaja. Yang terjadi hanyalah daur ulang
atas pemahaman ulama-ulama klasik, tanpa menambahkan metodologi baru dalam memahami agama.
Reformulasi Aswaja Sebagai Manhajul Fikr dan Manhajul Amaly;
KH. Said Agil Siradj memberikan pengertian lain. Menurutnya, Ahlussunnah Waljamaah adalah orang-
orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang
berlandaskan atas dasar-dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleransi. Baginya
Ahlussunnah Waljamaah harus diletakkan secara proporsional, yakni Ahlussunnah Waljamaah bukan
sebagai mazhab, melainkan  sebuah manhajal-fikr (pendekatan berpikir tertentu) yang digariskan oleh
sahabat dan para muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi dan relatif netral
dalam menyikapi situasi politik ketika itu. Namun harus diakui bahwa kelahiran Ahlussunnah
Waljamaah sebagai manhajal-fikr  tidak terlepas dari  pengaruh tuntutan realitas sosio-kultural dan
sosio-politik yang melingkupinya.
Dalam merespon berbagai persoalan baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun
kemasyarakatan, Nahdlatul ‘Ulama memiliki manhaj AhlusunnahwalJama’ah yang dijadikan sebagai
landasan berpikir Nahdlatul ‘Ulama ( Fikrah Nahdliyah). Adapun ciri-ciri dari Fikrah Nahdliyah antara lain
:
1. Fikrah Tawassuthiyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa
bersikap tawazun (seimbang) dan I’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan.
2. Fikrah Tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul ‘Ulama dapat hidup berdampingan
secara damai dengan berbagai pihak lain walaupun aqidah, cara piker, dan budayanya berbeda.
3. Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul ‘Ulama selalu mengupayakan
perbaikan menuju kearah yang lebih baik ( alishlahilamahuwaalashlah).
4. Fikrah Tathawwuriyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa melakukan
kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
5. Fikrah Manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa menggunakan
kerangka  berpikir  yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul ‘Ulama.
Konsep Fikrah Nahdliyah  itulah yang menyebabkan Nahdlatul ‘Ulama nampak sebagai organisasi
social keagamaan yang sangat moderat, toleran, dinamis, progressif dan modern. Secara konseptual
sebenarnya pola pikir Nahdlatul ‘Ulama  tidak  tradisionalis, ortodok, ataupun konservativ , hal ini bisa
kita lihat pada perkembangan intelektual di lingkungan Nahdlatul ‘Ulama khususnya kaum muda
Nahdlatul ‘Ulama yang menunjukkan kecenderungan radikal dalam berpikir dan moderat dalam
bertindak  sebagaimana laporan penelitian MitsuoNakamura saat mengikuti Muktamar Nahdlatul
‘Ulama Ke-26 di Semarang (1979), demikian pula Martin Van Bruinessen (1994).
Nahdlatul ‘Ulama berpendirian bahwa fahamAhlusunnahwalJama’ah harus diterapkan dalam tata
kehidupan nyata di masyarakat dengan serangkaian sikap yang bertumpu pada karakter
AhlusunnahwalJama’ah (Manhajul Amaly). Ada lima istilah utama yang diambil dari Al Qur’an dan
Hadits dalam menggambarkan karakteristik Ahlussunnahwaljama’ah sebagai landasan Nahdlatul
‘Ulama dalam bermasyarakat atau sering disebut dengan konsep Mabadiu Khaira Ummat yakni sebuah
gerakan untuk mengembangkan identitas dan karakteristik anggota Nahdlatul ‘Ulama dengan
pengaturan nilai-nilai mulia dari konsep keagamaan Nahdlatul ‘Ulama, antara lain :
1. 1.     At-Tawassuth
Tawassuth berarti pertengahan, maksudnya menempatkan diri antara dua kutub dalam berbagai
masalah dan keadaan untuk mencapai kebenaran serta menghindari keterlanjuran ke kiri atau ke
kanan secara berlebihan.
1. 2.     Al I’tidal
I’tidal berarti tegak lurus, tidak condong ke kanan dan tidak condong ke kiri. I’tidal juga berarti berlaku
adil, tidak berpihak kecuali pada yang benar dan yang harus dibela.
1. 3.     At-Tasamuh
Tasamuih berarti sikap toleran pada pihak lain, lapang dada, mengerti dan menghargai sikap pendirian
dan kepentingan pihak lain tanpa mengorbankan pendirian dan harga diri, bersedia berbeda pendapat,
baik dalam masalah keagamaan maupun masalah kebangsaan, kemasyarakatan, dan kebudayaan.
1. 4.     At-Tawazun
Tawazun berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak kelebihan sesuatu unsur atau kekurangan
unsur lain.
1. 5.     Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Amar ma’ruf nahi munkar artinya menyeru dan mendorong berbuat baik yang bermanfaat bagi
kehidupan duniawi maupun ukhrawi, serta mencegah dan menghilangkan segala hal yang dapat
merugikan, merusak, merendahkan dan atau menjerumuskan nilai-nilai moral keagamaan dan
kemanusiaan.
Berbeda dengan konsep aswaja sebagai manhajal-fikr, yang belakangan dikembangkan juga
sebagai manhajal-amal (pendekatan melakukan kegiatan), aswaja diposisikan sebagai metode berpikir
dan bertinadak yang berarti menjadi alat (tools) untuk  mencari, menemukan, dan menyelesaikan
berbagai  permasalahan sosial. Sebagai alat, maka sikap pro aktif untuk mencari penyelesaian menjadi
lebih  bersemangat  guna  melahirkan pikiran-pikiran yang kreatif dan orisinil. Dalam hal ini  pendapat 
para ulama terdahulu tetap ditempatkan dalam kerangka lintas-komparatif, namun tidak sampai harus
menjadi belenggu pemikiran yang dapat mematikan atau membatasi kreativitas
Perubahan kultur dan pola pikir ini juga dapat dilihat dalam prosedur perumusan hukum dan ajaran
AhlusunnahwalJama’ah dalam tradisi jam’iyahNahdlatul ‘Ulama yang menggunakan pola Maudhu’iyah
(tematik) atau terapan (Qonuniyah) yang berbentuk tashawur lintas disiplin keilmuan empiric
dan Waqi’iyah (kasuistik) dengan pendekatan tathbiqal-syari’ah dan metode takhayyur (eklektif).
Nilai-nilai ini bila dikembangkan akan menyebabkan aswaja semakin shalihlikullizamânwamakân,
aplikabel di setiap masa dan ruang. Disamping itu NU menjadi sentral gerakan dalam menjaga
stabilitas sosial keagamaan yang rahmatan lil ‘alamin. Menurut Badrun (2000), terdapat lima ciri yang
perlu diperhatikan dalam memosisikan aswaja sebagai manhajal-fikr atau manhajal-amal :
(1)   Selalu mengupayakan untuk interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks fiqih untuk mencari
konteksnya yang baru;
(2)   Makna bermadzhab diubah dari bermadzhab secara tekstual (madzhabqauly) menjadi
bermadzhab secara metodologis (madzhabmanhajy);
(3)   Melakukan verifikasi mendasar terhadap mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana yang
cabang (furu’);
(4)   Fiqih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif;
(5)   Melakukan pemahaman metodologi pemikiran filosofis terutama dalam masalah-masalah sosial
dan budaya.
Dalam upaya “Revitalisasi NU untuk masyarakat dan bangsa yang damai dan berkeadilan bagi
semua”,  perlu upaya dan strategi yang terencana dan dapat diaplikasikan secara efektif di semua
tingkatan dengan tujuan dapat tercipta sebuah organisasi dan infra struktur NU yang kuat dan mandiri.
Upaya-upaya yang dilakukan meliputi:
(1)   Perspektif umat, melakukan pemberdayaan warga nahdliyyin dan kelompok masyarakat
terpinggirkan melalui advokasi kebijakan publik pada level lokal, dan melakukan aksi-aksi praktis
pendampingan kelompok-kelompok warga pada tingkat local dan akar rumput;
(2)   Perspektif finansial, melakukan revitalisasi Badan atau unit-unit usaha warga atau organisasi NU,
membangun kemitraan dengan berbagai pihak, pemerintah, swasta dengan menerapkan manajemen
keuangan yang professional, transparan dan akuntabel;
(3)   Perspektif organisasi,  mengupayakan terciptanya tata laksana organisasi yang modern, rasional,
dan terpercaya dengan berbdasis teknologi informasi dimana mekanisme, pembinaan dan penguatan
berjalan efektif dengan orientasi yang jelas pada kepentingan warga;
(4)   Perspektif sumber Daya Manusia; mengupayakan terciptanya jaringan SDM multi disiplin dan
talenta yang berkualitas, kompeten, jujur, peduli dan konsisten dengan semangat pengorbanan dan
kesetiakawanan yang tinggi bagi tercapainya tujuan bersama