Anda di halaman 1dari 6

1

LESI ULSERATIF, LESI VESIKULAR DAN LESI BULOSA Lesi ulseratif merupakan bentuk lesi yang paling sering dijumpai, sebagian simtomatik, namun sebagian besar asimtomatik. Sebagian besar ulser yang merupakan bagian dari gejala penyakit serius, merupakan kategori asimtomatik. Penyakit serius tersebut antara lain : Syphilis, TBC, Histoplasmosis, Squamous cell carcinoma, Lymphoma. Lesi-lesi ini cenderung tidak sembuh secara spontan kecuali chancre pada syphilis. Ulser adalah suatu defek dalam pada epitelium, merupakan suatu lesi yang dangkal dan berbatas tegas, dan lapisan epidermal di atasnya telah hilang. Vesikel adalah blister atau lepuh yang lebih tinggi dari jaringan disekitarnya, mengandung cairan bening yang diameternya kurang dari satu sentimeter. Bula adalah vesikel yang besar, biasanya berdiameter lebih dari satu sentimeter. Lesi-lesi pada mukosa mulut harus dapat didiagnosis dengan tepat karena banyak penyakit yang memiliki gambaran klinis serupa. Hal ini dikarenakan mukosa mulut merupakan bagian yang tipis, sehingga vesikula dan bula akan cepat peach menjadi ulser dan ulser ini pun mudah sekali terkena trauma dari gigi geligi maupun makanan serta mengalami infeksi sekunder oleh flora mulut. Diagnosis lesi-lesi mukosa oral dapat melalui : 1. Riwayat penyakit-penyakit secara detail a. Waktu : Akut / kronis / rekuren b. Single / Multiple 2. Tinjauan atau review lengkap dari catatan medik harus dilakukan pada tiap pasien meliputi pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan lesi saat ini di kulit, mata genital atau rektal. 3. Simptom-simptom yang perlu diwaspadai : sakit persendian, kelemahan oto-otot, dyphnea, diplopia, sakit dada. Klasifikasi lesi ulseratif di rongga mulut : 1. Acute Multiple Lesions. a. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) b. Erythema Multiforme c. Stomatitis Alergica d. Acute Viral Stomatitis e. Oral Ulcer karena kemoterapi kanker 2. Recurring Oral Ulcers a. Recurrent Aphtous Stomatitis b. Behcets Disease c. Recurrent Herpes Simplex Virus Infection 3. Chronic Multiple Lesions a. Pemphigus Vulgaris b. Pemphigus Vegetan c. Bulous Pemphigoid d. Cicatricial Pemphigoid e. Erosif an Bullous Lichen Planus 4. Single Ulcers a. Histoplamosis b. Blastomycosis c. d. Mucormycosis Infeksi virus herpes simplex kronis

ACUTE MULTIPLE LESIONS ( LESI MULTIPEL AKUT) 1. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) Suatu gingivitis yang dikaitkan dengan sejumlah besar organisme Fusosipirochaeta. Penyakit ini dimulai dari satu reaksi akut dimana keadaannya didominasi oleh lesi ulseratif yang sangat sakit, nekrotik dan lesi membranosa sampai infeksi kronis dengan sedikit gejala. Sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Penyakit ANUG biasa dijumpai pada oral hygiene yang buruk, namun dapat juga terjadi pada oral hygiene yang relatif baik. Faktor predisposing penyakit ini antara lain : Faktor Sistemik a. Nutrisi yang tidak memadai b. Penyakit hematology c. Istirahat yang tidak cukup d. Kebiasaan merokok 2. Faktor Lokal a. Perikoronitis Margin restorasi yang berlebihan Gingivitis marginalis Manifestasi Klinik : a. Timbul tiba-tiba, rasa sakit, sensitifitas tinggi, hipersalivasi, perdarahan spontan dari jaringan gusi, kadang timbul kegoyangan gigi. Tanda-tanda yang sering terjadi adalah perdarahan gusi dan tumpulnya papilla interdental. b. Lesi yang khas terdiri dari ; ulserasi yang dangkal dan nekrotik, paling sering timbul pada papila interdental dan margin gusi. Dapat terjadi pula pada bibir, pipi dan lidah dimana jaringan ini berkontak dengan lesi gingival atau setelah terjadinya trauma. c. Lesi ulseratif dapat berkembang dan melibatkan prosesus alveolar disertai dengan sekuestrasi dari gigi dan tulang. Bila perdarahan gusi merupakan gejala yang paling menonjol maka gigi dapat terwarnai superfisial dengan warna coklat disertai bau mulut. d. Nodus limfe regional biasanya sedikit membesar, kadang ditemukan limfadenopati yang mencolok, terutama pada anak-anak. e. Bila terdapat demam, merupakan manifestasi penyakit sistemik yang menyertainya. Terapi ; 1. Pada kunjungan awal gingival harus dibersihkan dengan irigasi maupun kuretase periodontal. Penyembuhan lesi sejalan dengan penghilangan faktor lokal. Penghilangan faktor lokal secara sempurna biasanya sulit dilakukan pada awal pertemuan karena adanya rasa sakit yang sangat hebat. Pada kunjungan pertama ini diberikan OHI. 2. Pemberian antibiotik biasanya tidak dibutuhkan untuk kasus-kasus ringan ANUG kecuali bila terjadi serangan luas pada gingival, limfadenopati atau tanda-tanda sistemik lainnya. Penisilin merupakan 1.

2
obat terpilih pada pasien yang tidak alergi terhadap penisilin. 3. Setelah penyakit sembuh, pasien harus kembali untuk menjalani evaluasi periodontal yang lengkap. 2. Erythema Multiforme Merupakan suatu penyakit akut dari kulit dan membran mukosa yang dapat menyebabkan beberapa jenis lesi kulit. Gambaran khas terdapat lesi pada mulut, vesikel yang khas yang cepat pecah dan terdapat bula. Dapat terjadi sekali atau kambuh kembali. Etiologi : 1. Deposisi imun kompleks pada mikrovaskular superfisial dikulit dan mukosa. 2. Deposisi IgM dan C3 di pembuluh darah superfisialis. 3. Infeksi jamur, bakteri dan virus. 4. Dikaitkan dengan leiomyoma dari lambung dan uterus fibroma dari ovarium. 5. Penyakit Crohn dari usus besar, penyakit Addison, sarkoides dan karsinoma berhubungan pula dengan erythema multiforme. 6. faktor stress dan emosional serta idiopatik. Manifestasi Klinik ; 1. Sering ditemukan pada anak kecil dan orang dewasa muda. 2. Penyakit ini memiliki suatu serangan akut atau eksplosif. Seorang pasien mungkin saja tidak bergejala dan dalam waktu kurang dari 24 jam akan memperlihatkan lesi yang eksplosif di kulit dan mukosa. 3. Bentuk paling ringan adalah makula serta papula dengan diameter 0,5 - 2 cm. Bentuk vesikobulosa muncul pada penyakit yang lebih berat dapat menyebabkan pengelupasan yang ekstensif dsari kulit dan menyebabkan ketidakmampuan yang hebat atau kematian akibat infeksi sekunder atau ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. 4. Daerah di kulit yang paling sering terserang adalah tangan, kaki dan permukaan ekstensor dari siku serta lutut. 5. Lesi erythema multiforme dapat mengambil banyak bentuk, tetapi target patognomonik harus dicari dalam penyakit ini. Lesi ini terdiri dari sebuah bula sentral atau daerah yang pucat dilelilingi oleh edema dan pinggiran kemerahan. Kadang-kadang lesi ini mengandung beberapa pinggiran merah yang konsentris. 6. Lesi dalam mulut biasanya muncul bersama lesi kulit. Bila lesi mulut ini dominan sekali dan tidak terdapat lesi target di kulit maka harus dapat dibedakan dengan infeksi herpes simpleks primer. 7. Gambaran histologik dari eritema multiforme di mulut tidak dianggap spesifik, akan tetapi adanya infiltrat limfositik perivaskular dan edema epitilial serta hiperplasia dianggap cukup untuk mencurigai adanya suatu erithema multiforme.

8. Serangan lesi cepat dimulai, diawali dengan bula


dengan dasar kemerahan, mudah pecah menjadi ulser yang tidak teratur. Lesi erythema multiforme lebih sering terjadi pada bibir dan jarang mengenai gingival. Terapi : 1. Kasus ringan, diatasi dengan tindakan suportif yaitu obat kumur anestesi topikal dan diet lunak atau diet cair. 2. Terapi dengan cairan intravena jika terjadi ketidakseimbangan elektrolit. 3. Erythema Multiforme derajat sedang sampai berat dirawat dengan kortikosteroid jangka pendek. 3. Stomatitis Alergika Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai substansi yang meliputi gigi tiruan dari bahan crom, cobalt, restorasi inlay, bahan soft lining gigi tiruan, permen karet, tambalan amalgam, gigi tiruan dari akrilik, jembatan cekat sementara, dan pasta gigi, elastik ortodonti. Alergi kontak terhadap amalgam biasanya disebabkan oleh merkuri yang dibebaskan selama proses kondensasi. Alergi kontak dengan pasta gigi jarang ditemui tetapi bisa terjadi. Alergi ini diduga disebabkan oleh minyak kayu manis ( cinnamon Oil ) yang terdapat dalam pasta gigi. Gambaran kliniknya meliputi pembengkakan, pecah-pecah, dan fisur di bibir, deskuamasi perioral serta edema, cheiletis angular, pembengkakan dari gusi serta ulser di mulut. Biasanya semua lesi menghilang dalam 1 minggu setelah penghentian pemakaian pasta gigi. Alergi terhadap akrilik biasanya akibat monomer bebas yang lazim dijumpai pada dokter gigi dan ara teknisi gigi. Gambaran klinisnya sulit dibedakan dari trauma, eritem, edema, dan kasus-kasus berat. Tetapi biasanya tanda khas dari penyakit ini adalah ulserasi di lokasi kontak. Keluhan yang khas yang terjadi pada kulit adalah gatal-gatal. Sedangkan pada mukosa mulut keluhan yang biasa dirasakan adalah rasa terbakar. Diagnosa : Patch test merupakan satu-satunya yang dapat digunakan untuk membedakan lesi akibat alergi dengan lesi lainnya. Pada tes ini, alergen yang dicurigai diletakkan pada kulit normal yang tidak berambut. Substansi yang diuji, dibiarkan berkontak dengan kulit selama 48 jam. Kemudian patch ini diangkat, setelah 2 sampai 4 jam kemudian daerah tersebut diperiksa apakah daerah itu terdapat kemerahan yang menetap. Terapi ; Tergantung pada tingkat keparahan dari lesi. Pada kasus ringan, cukup dengan penghentian kontak dengan alergen. Pada kasus yang parah disertai dengan eritema atau ulser, aplikasi preparat kortikosteroid topikal akan sangat membantu. 4. Acute Viral Stomatitis Terdiri dari : a. Infeksi birus herpes simpleks primer b. Infeksi coxsackie virus c. Infeksi virus varicella zoster

3
Infeksi virus herpes simpleks primer Riwayat dari penyakit akan dapat membantu dalam membedakan lesi infeksi HSV primer dari jenis yang lain dari suatu lesi multiple yang akut dalam mukosa mulut pasien yang memiliki gejala prodormal selama satu sampai dua hari dapat membedakan infeksi virus ini dari stomatitis alergika atau eritema multiforme. Riwayat tingkah laku seksual yang buruk untuk rekuren herpes labialis atau yang mempunyai hubungan dekat dengan pasien yang menderita herpes primer atau herpes rekuren juga sangat membantu dalam menegakkan diagnosa. Kira-kira dalam waktu 1 sampai 2 hari setelah gejala prodormal, vesikel kecil akan muncul pada mukosa mulut. Vesikel ini cepat pecah dan menghasilkan suatu ulser diskret yang bulat dan dangkal yang dikelilingi oleh peradangan. Lesilesi ini terjadi pada semua bagian mukosa, seiring dengan berkembangnya penyakit, beberapa lesi akan berkumpul, membentuk beberapa lesi iregular yang lebih besar. Suatu kriteria penting adalah gambaran gingivitis marginal akut di seluruh mulut. Seluruh gingiva mulut edematous dan meradang. Beberapa ulser gingival yang kecil sering dijumpai. Terapi : Terapi pada anak-anak kecil dan orang dewasa yang sehat pada dasarnya bersifat suportif yang meliputi pemberian aspirin atau asetaminofen untuk mengatasi demam dan cairan untuk mempertahankan hidrasi yang layak dan keseimbangan elektrolit. Jika pasien memiliki kesulitan untuk makan dan minum, maka perlu diberikan anestetik topikal yang diberikan sebelum makan misalnya dyclonine hydrochloride 0,5 %.antibiotik tidak membantu dalam terapi herpes rimer, dan penggunaan kortikosteroid merupakan suatu kontraindikasi. Infeksi Coxsackie virus Penyakit ini dibagi dalam 2 kelompok yaitu A dan B. jenis infeksi klinis di regio mulut biasanya disebabkan oleh kelompok Coxsackie virus A L Herpangina, penyakit tangan, kaki dan mulut, dan faringitis limfonodular akut. Herpangina Penyakit ini mayoritas mengenai anak-anak, tetapi pada orang dewasa muda juga pernah dilaporkan. Infeksi dimulai dari gejala umum berupa demam, menggigil, dan anoreksia. Selain itu pasien juga akan mengeluh sakit tenggorokan, disfagia dan kadang-kadang sakit di mulut. Pemeriksaan dari mulut serta dinding faringeal posterior menunjukkan vesikel kecil, diskret dan bilateral yang kebanykan menyerang daerah faring posterior, tonsil, pilar-pilar fausia dan palatum lunak. Lesi jarang ditemukan pada mukosa bukal, lidah dan palatum keras. Dalam waktu 24 48 jam vesikel akan pecah, membentuk ulser kecil berdiameter 1-2 mm. Penyakit ini biasanya ringan dan akan sembuh tanpa diberi terapi dalam waktu 1 minggu. Terapi : Hanya bersifat suportif yang meliputi hidrasi yang selayaknya dan pemberian anestesi topikal bila pendertia mengalami kesulitan dalam makan dan minum. Penyakit kaki, tangan dan mulut Penyakit ini ditandai dengan demam ringan, vesikel dan luser di mulut, dan makula non pruritus, papula dan vesikel terutama pada permukaan ekstensor dari tangan dan kaki. Lesi mulutnya lebih ekstensif dibandingkan dengan herpangina. Biasanya lesi terdapat di palatum keras, lidah serta mukosa bukal. Faringitis limfonodular akut Gambaran klinis dari lesi ini berbeda dengan gambaran klinis yang dijumpai dalam herpangina dan penyakit tangan, kaki dan mulut. Dapat dijumpai nodul kuning keputihan yang menonjol dari jaringan di sekitarnya pada suatu dasar yang kemerahan pada dinding posteriornya. Tidak dijumpai lesi di mulut. Gejala dan tanda-tanda akan hilang dalam waktu 1-2 minggu. Terapi : hanya simtomatik Infeksi virus varicella zoster Manifestasi Klinik : Ditandai dengan suatu erupsi yang sangat gatal di seluruh tubuh dan akan berkembang dengan cepat menjadi vesikel dengan dasar kemerahan dan dengan cepat pula mengalami ulserasi.. Lesi herpes zoster mungkin hanya terbatas pada daerah mulut dan wajah. Semua daerah pada mukosa mulut dapat terkena. Lesi tidak terasa sakit. Periode prodormal selama 2-4 hari. Penyembuhan akan terjadi dalam waktu 2-3 minggu. Terapi : 1. Hanya simtomatik pada kasus yang tidak memberikan komplikasi di kulit dan mulut. 2. Vidarabine (Ara-A) atau acyclovire untuk pasien yang mengalami imunosupresi 3. Kortikosteroid, untuk pasien yang berusia diatas 60 tahun untuk mencegah terjadinya neuralgia postherpetik 5. Oral Ulcer Karena Kemoterapi Kanker obat-obat kemoterapik sering digunakan untuk mencapai remisi pada tumor-tumor yang solid mauun keganasan hematologik. Empat jenis obat anti kanker utuma yaitu : alkylating agents, antimetabolite, antibiotik dan alkaloid. Salah satu dari efek samping yang biasa terjadi adalah ulser mulut multiple baik secara langsung maupun tidak langsung. Obat yang menyebabkan stomatitis secara tidak langsung akan mendepresi sumsum tulang dan respon imun yang menyebabkan suatu infeksi invasif pada mulut. Yang lainnya misalnya seperti methotrexate menyebabkan ulser mulut melalui efek langsung pada replikasi dan pertumbuhan dari selsel epitel mulut dengan menghambat sintesa protein dan asam nukleat sehingga mengakibatkan penipisan serta ulserasi dari mukosa mulut. Ulser di mulut mungkin merupakan tanda dini dari toksisitas obat dan dalam beberapa kasus dapat memaksa dilakukannya reduksi atas dosis obat-obat tersebut atau penghentian total dari terapinya. Lesi di mulut sebagai akibat tidak langsung dari obat kemoterapi tersebut ditandai dengan ulser nekrotik yang besar dan dalam yang sangat khas, tanpa disertai dengan kerusakan jaringan dan dengan dasar yang mengalami peradangan minimal yang dapat menyerang semua permukaan mukosa. Lesi-lesi tersebut dapat dibedakan secar klinis dari jenis yang lain, suatu ulser multiperl yang akut dengan riwayat baru mendapatkan kemoterapi dan melalui gambaran klinis dari lesi-lesinya. Semua ulser harus dikultur karena ulser tersebut sering terinfeksi dengan basilus gravidarum dan dapat menyebakan septikemia yang fatal. Ulser harus dibiopsi bila dicurigai telah terjadi infeksi jamur yang kronis. Untuk meningkatkan

4
kenyamanan pasien, kumur-kumur dengan anestesi topikal seperti dyclonina atau diphenhidramine hydrochloride. RECURRING ORAL ULCERS (ULSER MULUT REKUREN) 1. Recurrent aphtous stomatitis (RAS) Merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan ulser yang rekuren dan terbatas pada mukosa mulut. RAS diklasifikasikan dalam 3 kelompok menurut ukurannya yaitu : aphtae minor berdiameter kurang dari 1 cm dan sembuh tanpa disertai pembentukan jaringan parut. Aphtae mayor berdiameter lebih dari 1 cm dan membentuk jaringan parut jika sembuh, ulkus herpetic formis bermanifestasi sebagai suatu kumpulan yang rekuren dari ulkus kecil yang banyak yang timbul di seluruh mulut. Etiologi : Tidak diketahui, tetapi dicurigai disebabkan oleh faktor psikologis, herediter, defisiensi nutrisi. Manifestasi Klinis : RAS paling sering dimulai selama decade kedua dari kehidupan seseorang. Lesinya terbatas pada mukosa mulut, dan dimulai dengan gejala prodormal, dan rasa terbakar seitap waktu mulai dari 2 sampai 48 jam sebelum munculnya ulser. Setelah itu diikuti sakit hebat selama beberapa hari Diagnosa : RAS didapat dari riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis yang teliti yang tidak meliputi jlesi di kulit, konjungtiva, genetalia atau ruktum. Tes laboratorium perlu dilakukan jika dicurigai terdapat kelainan darah. Terapi : Memberikan betadine gargle mouth was dengan kandungan providone iodine 1 %, dikumur selama 3 detik dan diulang 3-4 jam setelahnya. Obat-obat antibiotid dan anti peradangan dapat diberikan untuk mengurangi tingkat kehebatan penyakitnya, rasa sakit, dan waktu penyembuhan dari lesinya. 2. Behcets Syndrome] Penyakit ini digambarkan sebagai suatu trias gejala yang meliputi : ulser mulut rekuren, ulser genital rekuren dan lesi di mata. Etiologi : Diperkirakan oleh kompleks imun yang bersirkulasi yang menyebabkan vaskuliti pembuluh darah yang berukuran kecil dan medium, kompleks imun tersebut telah berhasil dideteksi di bagian penyakit yang aktif. Penyelidikan mengenai abnormalitas imun yang dikaitkan dengan penyakit ini meliputi sama dengan pada pasien RAS. Selain itu penyakit ini dicurigai berhubungan dengan polusi lingkungan. Manifestasi : Lokasi yang paling sering terserang adalah lokasi di dalam mulut. Lesi ini tidak dapat dibedakan dari RAS. Daerah genital merupakan tempat kedua yang paling sering terserang. Terdapat lesi pada skrotum dan penis pada pria dan ulser labium pada wanita. Lesi di mata terdiri dari uvaskulitis retina, atrofi optik, konjungtivitis dan keratitis. Diagnosa : kriteria meliputi : 1. Lesi mulut rekuren, ulser genital rekuren, lesi di mata dan kulit. 2. Kiteria diagnosa tambahan meliputi lesi gastrointestinal, vaskuler, kardiovaskuler, arthritis, gangguan pada SSP, dan riwayat keluarga yang positip. Terapi : Tergantung pada manifestasi klinis. Jika ada serangan sistemik berat dirawat dengan kortikosteroid sistemik dan agen imunosupresif, misalnya azathioprine, syclophosphatemide. Terapi lesi mulut sama dengan terapi RAS. 3. Infeksi Virus Herpes Rekuren Infeksi pada mulut terjadi pada pasien yang memiliki riwayat infeksi herpes simpleks yang memiliki proteksi serum antibodi terhadap infeksi primer eksogenus lainnya. Pada individu yang sehat infeksi ini terbatas pada suatu bagian dari kulit atau membran mukosa. Herpes simpleks rekuren cenderung membentuk kelompok-kelompok vesikel berulserasi. Vesikel tersebut berkembang dengan cepat pada daerah yang sama mengikuti penyebaran dari saraf yang terinfeksi. Kekambuhan pada tepi vermilion bibir secara klinis lebih jelas daripada kekambuhan intraoral. Manifestasi Klinik : Herpes Labialis Rekuren (RHL), Common Could Sore (Fever Blister) dapat dicetuskan oleh keadaan umum, menstruasi, sinar ultra violet dan mungkin emosional stress. Lesi ini didahului dengan suatu periode prodormal dan akan timbul gejala terbakar dan perih. Gejala ini disertai dengan edema di tempat lesi, disusul dengan pembentukan suatu kelompok vesikel kecil. Lesi herpes intraoral rekuren memiliki kemiripan dengan lesi herpes labialis rekuren, akan tetapi vesikelnya cepat pecah dan membentuk ulser. Lesi ini khas, merupakan kelomok dari vesikel kecil-kecil pada satu bagian mukosa yang berkeratinisasi tebal dari gingival palatum dan alveolar ridge. Terapi : 1. Idoxuridine (IDU) secara parenteral untuk herpes menyeluruh dan secara topical untuk herpes ocular. 2. Vidarabine (Ara-A) secara parenteral untuk penderita herpes neonatus dan secara topikal untuk infeksi herpetik okular. 3. Acyclovir secara topikal pada pasien dengan herpes genital primer dan pasien yang mengalami imunosupresi akibat infeksi herpes. Acyclovir intravena telah terbukti sebagai suatu antiherpes yang poten dan tidak toksik dan lebih efektif disbanding dengan IDU atau Vidarabine. CHRONIC MULTIPLE LESIONS 1. Pemphigus Vulgaris Pemphigus merupakan suatu penyakit bulosa yang berpotensi untuk berakibat fatal pada kulit dan mukosa. Pemphigus vulgaris merupakan bentuk yang paling sering terjadi. Lesinya terjadi akibat destruksi dalam lapisan sel spinosum. Lesi berbentuk bula berdinding tipis pada kulit atau mukosa normal. Bula ini dengan cepat akan pecah dan terus meluas di bagian perifernya dan akhirnya akan menghasilkan suatu daerah yang luas dan terkelupas dari kulit tersebut. Tanda khas dari pemphigus vulgaris adalah terdapatnya nicolsky. Lesi pada mulut dimulai dengan suatu bula dengan dasar yang tidak meradang, cepat pecah. Sering ditemukan pada mukosa bukal, palatum dan gingival.

5
Terapi : Kortikosteroid sistemik. Bila lesi ini terbatas pada mulut, dosis awal dari prednisone untuk menekan lesinya kurang lebih 100 mg perhari. Setelah lesi dapat dikontrol dosis harus diturunkan secara perlahan-lahan, karena terapi steroid ini mungkin dibutuhkan untuk jangka waktu yang lama, maka pasien harus dirawat dengan dokter yang berpengalaman dalam penggunaan terapi steroid dosis tinggi yang berjangka panjang. 2. Pemphigus Vegetan Merupakan varian yang relatif jinak daripada pemphigus vulgaris dimana pasien menunjukkan kemampuan sembuhnya daerah yang sudah mengalami denudasi. Ada 2 bentuk pemphigus vegetan yang sudah dikenal yaitu jenis Neumann dan henis hallopeau. Jenis Neumann lebih sering dan lesi yang dini akan terlihat mirip dengan lesi yang dijumpai pada pemphigus vulgaris dengan bula yang besar dan daerah yang mengalami denudasi. Daerah tersebut akan berusaha untuk sembuh dengan membentuk vegetasi dari jaringan granulasi heperplastik. Dalam jenis haallpeau, lesi dininya berbentuk pustula bukan bula. Pustula ini disusul dengan verukosa, vegetasi hiperplastik. Manifestasi Mulut : Lesi mulut sering dijumpai pada kedua bentuk dari pemphigus vegetan dan mungkin merupakan tanda pertama dari penyakit. Lesi gingival digambarkan sebagai ulser seperti kisi-kisi dengan permukaan purulen dengan dasar yang merah. Lesi gingivanya memiliki gambaran granular atau batu kerikil. Lesinya dapat juga terdapat pada mukosa bukal dan sublingual. Lesi tersebut memiliki dasar kemerahan dan memiliki suatu permukaan yang kusut dengan bercak-bercak putih. Seperti pemphigus vulgaris, sifat kronis dari lesi yang multiple ini memberikan kesan sebagai pemhigus sehingga harus dilakukan biopsi. 3. Pemphigoid Bulosa Terutama terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun dan pada orang dewasa di atas 60 tahun. Penyakit ini bersifat self limiting dan jarang yang bertahan lebih dari 5 tahun. Pada pemphigoid defek pertamanya lebih cenderung subepitelial di regio membrana basalis. Tidak akan ada tolisis dan tidak ada tanda-tanda nikolsky. Penyakit ini jarang mengancam kehidupan karena bulanya tidak meluass pada tepi-tepinya untuk membentuk daerah denudasi yang besar seperti pada pemphigus yang lain. Lesi pemphigoid bulosa ini tetap setempat dan akan sembuh spontan. Etiologi tidak diketahui, akan tetapi antibodi dalam sirkulasi yang melawan antigen zona membrana basalis dapat dideteksi pada diri penderitanya. Tidak ada predisposisi seksual ataupun ras dalam penyakit ini. Manifestasi Mulut : Gejala mulut agak jarang pada pemphigoid bulosa. Lesi mulut paling sering terjadi pada mukosa bukal. Lesinya lebih kecil, terbentuk lebih lambat, dan tidak begitu sakit dibandingkan dengan lesi yang dijumpai dalam pemphigus vulgaris. Lesi gingivanya terdiri dari odema yang menyeluruh, peradangan dan deskuamasi disertai dengan pembentukan vesikel yang diskret. Terapi : kortikosteroid sistemik dengan dosis yang rendah dan waktu yang lebih singkat, dapat juga dikombinasikan dengan obat-obat imunosupresif selain itu dapat digunakan sulfone dan sulfapyeridine. 4. Pemphigoid Membran Mukosa Jinak / Cycatrical Pemphigoid Lesi mulut merupakan tanda yang paling sering ditemukan dan mulut mungkin merupakan satu-satunya tempat yang terserang. Diawali dengan erosi non spesifik yang mirip dengan pemphigus atau sebagai vesikel yang utuh. Tidak jarang dijumpai erosi pada pipi dan vesikel pada palatum. Merupakan penyakit yang terjadi lebih lambat disbanding pemphigus dan lesinya lebih kecil dan jarang yang meluas. Lesi gingival digambarkan sebagai suatu bentuk gingivitis deskuamatif. Terapi : Tergantung pada tingkat keparahan dan gejala-gejalnya. Bila terbats pada mukosa mulut maka kortikosteroid akan menekan pembentukannya. Pasien dengan penyakit yang ringan harus dirawat dengan steroid topikal dan intra lesional. Dalam kasus yang berat steroid sistemik mungkin dibutuhkan 40-60 mg prednisone untuk mengontrol penyakit dan dosisnya harus dikurangi secara perlahan-lahan sampai mencapai dosis terendah untuk mengontrol gejala-gejalanya. 5. Lichan Planus Erosif dan Bulosa Lichen Planus erosif ditandai oleh adanya vesikel, bula atau ulser yang dangkal yang tidak beraturan. Lesi ini biasanya terdapat selama berminggu-mingu sampai berbulan-bulan. Penyakit ini sulit dibedakan dari cycatrical pemphigoid kecuali bila terdapat lesi papula putih yang khas atau lesi yang berlekuklekuk (seperti renda). Terapi : terapi terpilih untuk penyakit ini adalah kortikosteroid topiKal. Steroid intra lesional dapat digunkan untuk lesi indolen. Dalam kasus eksaserbasi yang hebat, steroid sistemik mungkin dapat dipertimbangkan untuk jangka waktu pendek. SINGLE ULCERS (LESI TUNGGAL) Penyebab lesi tunggal yang paling umu adalah trauma yang disebabkan oleh gigi geligi, makanan, plak, terapi gigi, panas, zat kimia atau arus listrik. Biasanya diagnosanya pun sederhana dan didasarkan atas riwayat serta gejala-gejala fisiknya. 1. Histoplasmosis Disebabkan oleh jamur histoplasma capsulatum. Infeksi terjadi akibat terhirupnya debu yang telah terkontaminasi oleh tinja terutama dari burung atau kelelawar yang terinfeksi. Serangan di mulut biasanya merupakan akibat tidak langsung dari serangan pada pulmonal yang terjadi pada pasien dengan histoplasmosis yang menyebar. Lesi mukosa mulut dapat terlihat sebagai suatu papula, nodul, ulser atau vegetasi. Jika dibiarkan tanpa dirawat maka lesi ini akan berkembang dari suatu papula yang keras menjadi sebuah nodul, yang akan mengalami ulserasi dan membesar dengan perlahan. Nodus limfe bagian Servikal membesar dan keras. Terapi : Digunakan Amphoterisin B intravena selama 10-12 minggu. Pasien harus dirawat oleh dokter yang berpengalaman yang telah terbiasa dengan efek sampingnya yang potensial.

6
2. Blastomikosis Merupakan suatu infeksi jamur yang disebakan oleh Blastomyces dermatitidis. Lesi mulut jarang yang menjadi tempat primer dari infeksi ini. Bila lesi mulut dilaporkan sebagai tanda pertama dari blastomikosis maka lesi ini dapat terjadi pada pasien dengan gejala paru yang ringan. Sebagian besar dari kasus yang menyerang mulut akan menunjukkan suatu lesi paruparu secara bersamaan pada rontgen dada. Gambaran yang paling lazim adalah suatu ulser yang verukosa yang tidak sakit, dan tidak spesifik dengan tepi-tepi yang mengeras pada rongga mulut. Lesi-lesi mulut lainnya yang pernah dilaporkan meliputi nodul dan lesi radiolusen di rahang. Terapi : Terapi untuk blastomikosis ini adalah obat anti jamur. Amphoterisin B secara intravena dapat diberikan selama 8-10 minggu. Obat ini merupakan obat yang toksik yang dapat menyebabkan fungsi ginjal terganggu, aritmia cardiac dan supresi sumsum tulang. Pengobatan lainnya yaitu ketoconazole, masih dalam tahap percobaan. 3. Mucormycosis Disebut juga phycomycosis. Disebabkan oleh suatu infeksi dengan jamur saprofitik yang biasanya terjadi di dalam tanah dan sebagai suatu jamur pada makanan yang sudah basi. Tanda dalam rongga mulut yang paling sering adalah ulserasi pada palatum yang terjadi akibat nekrosis oleh invasi jamur ke pembuluh darah palatl. Lesi besar dan dalam serta dapat menyebabkan denudasi dari tulang dibawahnya. Ulser juga dapat terjadi pada gingival, bibir dan alveolaris. Terapi : Bila terdiagnosa secara dini, mucormycosis dapat disembuhkan dengan kombinasi debridemen secara bedah pada daerah yang terinfeksi dan pemberian Amphoterisin B secara sistemik selama 1-3 bulan. 4. Infeksi Virus Herpes Simpleks Kronis Dibagi menjadi bentuk primer dan rekuren. Pasien imunosupresi dapat menderita bentuk kronis dari infeksi herpes. Bentuk kronis ini merupakan variasi dari infeksi virus herpes simpleks rekuren. Lesi-lesi dari herpes kronis dapat terjadi di bibir dan mukosa intraoral. Lesi mulut biasanya menyerupai lesi yang kecil, bulat dan simetris. Dapat juga berupa sebuah lesi yang dalam dan besar. Lesi ini bertahan mulai dari beberapa minggu sampai beberapa bulan dan bisa mencapai diameter beberapa sentimeter. Jika lesi tidak terdiagnosa atau dirawat secara tidak benar dapat mengakibatkan suatu penyebaran penyakit yang fatal. Terapi : Fase ringan dari herpes kronis harus dirawat dengan Acyclovir topikal. Dalam kasus yang lebih berat diberikan Acyclovir parenteral. SUMBER : Lynch, M.A; Vernon J. Brightman; Martin S. Greenberg. 1994. Burket : Ilmu penyakit mulut. Edisi kedelapan. Jilid I. Sianita Kurniawan. Jakarta. Binarupa Aksara. Pindborg, J.J. 1994. Atlas penyakit mukosa mulut. Edisi keempat. Kartika Wangsaraharja. Jakarta. Binarupa Aksara.