Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia terhadap energi termasuk kebutuhan terhadap minyak dan gas bumi meningkat setiap tahunnya. Sebagai konsekuensi dari meningkatnya hal ini adalah meningkatnya permintaan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya laut yang baru, hal ni berarti inovasi baru akan selalu ditemukan hal ini berarti inovasi dan pengembangan akan selalu dilakukan terutama dalam bidang strukur, teknologi perlengkapan, inspeksi, perbaikan dan optimasi ekonomi akan sumur. Pengetahuan mengenai perilaku hidrodinamis struktur terapung adalah syarat awal untuk menentukan pengembangan struktur laut dalam. Setiap jenis platform memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini dipengaruhi oleh jenis struktur dan keadaan lingkungan.

Pengembangan teknologi pertambangan minyak akhir-akhir ini beralih dari laut dangkal menuju laut yang dalam (lebih dari 2000 meter). Untuk menjawab tantangan itu maka sistem struktur baru terus dikembanfan. Sistem laut dalam yang bisa diterapkan tersiri dari compliant tower (CT), conventional tension leg platforms (TLP), mini-TLP, semi-FPS (floating production system), truss spar, classic spar, control buoy (CB), dan unit floating production storage and offloading (FPSO). Secara garis besar, menurut Soedjono (1998) konstruksi anjungan lepas pantai dapat dibedakan menjadi 3 golongan utama, yaitu : Anjungan terapung (Mobile Offshore Drilling Unit/MODU atau Floating Production Platform) seperti : semi submersible, drilling ship, tension leg platform,jack-up, FPSO, dll. Anjungan terpancang (Fixed Offshore Platform), seperti : jacket platform, concrete gravity, tripod,dll. Anjungan struktur lentur (Compliant Platform), seperti : Articulated Tower, Guyed tower,dll.

Menurut Arifin (2000) dalam merancang bangunan lepas pantai pertimbangan penting yang digunakan adalah biaya investasi, perilaku hidrodinamis, kemampuan mobilitas, serta reliability dalam pengoperasiannya. Pada perairan tertentu sumber minyak dan gas alam biasanya mempunyai volume antara kecil hingga sedang dan berada pada lokasi yang terpencar-pencar. Sehingga menjadikan lokasi ini tidak ekonomis lagi untuk digunakan anjungan terpancang dalam eksplorasinya. Oleh karena itu pemilihan anjungan terapung (floating structures) adalah hal yang paling tepat, salah satunya adalah FPSO. FPSO (Floating Production Storage and Offloading) adalah sebuah fasilitas terapung yang dipasang di sekitar ladang minyak dan gas bumi lepas pantai yang fungsinya untuk menerima, memproses, menyimpan dan menyalurkan/mengirim minyak dan gas bumi, terutama untuk menyalurkan minyak mentah ke tanker. FPSO memiliki bentuk kapal tanker, biasanya dibuat baru ataupun hasil modifikasi dari tanker yang biasa menyimpan hidrokarbon yang secara permanen di tambatkan ditempatnya beroperasi. Tidak seperti kapal kargo yang bisa masuk dok untuk perawatan berkala, anjungan produksi terapung harus berada di tempat yang tetap untuk periode yang lama. Hal ini mengakibatkan anjungan tersebut harus memiliki analisa respon yang lebih kuat. FPSO ini terdiri dari sebuah struktur pengapung berbentuk sebuah kapal (bangunan baru atau dari modifikasi kapal tanker yang dialihfungsikan) yang secara permanen di tambatkan ditempatnya beroperasi. Konfigurasi sistem tambatnya bisa berupa jenis tambat menyebar (spread mooring type) dan sistem tambat titik tunggal (single point mooring system). Salah satu jenis single point mooring adalah sistem tambat turret (turret mooring) (API RP 2SK, 1996). Pengetahuan tentang perilaku struktur terapung (floating structures) pada laut lepas adalah persyaratan dasar dalam pengembangan teknologi laut dalam yang berkelanjutan. Setiap tipe platform mempunyai karakteristik masing-masing. Karakteristik gerakan pada FPSO misalnya berbeda dengan karakteristik gerakan

Tension Leg Platform (TLP) atau SPAR. Di sisi lain, laut lepas memiliki karakteristik lingkungan sendiri. Karena itu pengetahuan tentang perkiraan respon sebuah struktur pada suatu lingkungan tertentu sangatlah penting. Menurut Yilmaz dan Incecik (1994), dengan menghitung beban-beban lingkungan secara komprehensif akan diketahui respon dinamis FPSO. Beban lingkungan yang bekerja diantaranya adalah beban gelombang, beban angin dan beban arus. Pada umumnya respon kapal, mooring lines dan riser tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Offset dari riser dipengaruhi oleh offset kapal yang dibatasi oleh beban sistem mooring. Offset mooring tergantung pada karakteristik gerakan kapal, yang mana bisa berubah disebabkan oleh gaya pengembali dan gaya redaman sistem mooring dan riser. Yang harus menjadi catatan bahwa offset kapal cukup sensitif terhadap nilai redaman mooring dan riser. Di sisi lain, nilai redaman tergantung pada amplitudo dan frekuensi gerakan kapal. Respon mooring dan riser sebagian besar non linier dengan frekuensi natural tidak sama dengan rentang frekuensi gerakan kapal (Aryawan, 2005). Salah satu tujuan perhitungan respon dinamis struktur adalah untuk mendapatkan respon ekstrem dari sistem (gerakan ekstrem, offset mooring ekstrem, tension riser ekstrem). Cara tradisional untuk melakukan analisa adalah dengan mengecek respon struktur untuk satu desain data lingkungan seperti gelombang signifikan 100 tahun, kecepatan angin 100 tahun dan arus 100 tahun. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap floating structure mempunyai karakteristik gerakan khusus. Prosedur standar analisa respon untuk FPSO terdiri atas : 1. Analisa respon FPSO 2. Analisa mooring, 3. Analisa riser Untuk menjaga FPSO berada pada posisinya maka harus dibuat suatu sisitem tambat. Konfigurasi sistem tambat FPSO bisa berupa jenis tambat menyebar (spread mooring

type) dan sistem tambat titik tunggal (single point mooring system), Tetapi pada umumnya berbentuk sistem tambat turret (turret mooring system) (Prastianto, 2006). Sistem turret mooring didefinisikan sebagai sistem tambat dimana jumlah kaki catenary mooring yang dipasang pada turret merupakan bagian penting dari FPSO yang ditambat. Turret terdiri atas bearings yang menyebabkan kapal bisa berputar di sekitar kaki jangkar. Sistem turret ini memberikan kemampuan kepada FPSO terhadap weathervane sehingga didapatkan sebuah posisi dimana beban-beban lingkungan seperti arus, gelombang dan angin di sekitar mooring menjadi kecil. Sistem turret mooring pertama kali dipergunakan pada tahun 1985 untuk menambatkan FPSO, sistem yang digunakan adalah external turret mooring. External turret mooring terdiri dari struktur kotak baja dengan jarak dari haluan atau buritan yang tetap ataupun bisa ditambah, menyediakan pondasi untuk pengaturan bearing dan turret yang bias berotasi. Bearing menyediakan tempat tetap untuk tempat rantai jangkar dan selang transfer fluida untuk dipasang. Kaki rantai di tambatkan di dasar laut dengan jangkar ataupun piles. Koneksi produk dan utilitas dibuat diantara fasilitas pada tanker dan dasar laut melalui susunan swivel pada turret, sehingga tanker bisa weathervane disekeliling tempat yang tetap dan tidak mengganggu proses produksi. Pada tugas akhir ini akan dilakukan analisa perilaku dinamis terhadap FPSO yang menggunakan sistem tambat turret eksternal (gambar 1.1) sehingga diharapkan bisa memberi pemahaman tentang perilaku dinamis FPSO sebagai pertimbangan dalam pemilihan jenis sistem tambatnya. Analisa perilaku dinamis FPSO ini menggunakan software MOSES.

Gambar 1.1 FPSO dengan Sistem Turret Mooring Eksternal (Sumber : singlebuoy.com)

1.2. Perumusan Masalah Permasalahan yang menjadi bahan kajian dalam tugas akhir ini antara lain : 1. Berapa besar frekuensi natural dan perilaku gerakan di gelombang reguler dari FPSO dengan sistem external turret mooring untuk arah surge, sway, heave, roll, pitch, dan yaw ? 2. Bagaimana perilaku dinamis FPSO dengan sistem external turret mooring pada kondisi gelombang acak ? 3. Berapa besar tension maksimum yang terjadi pada mooring lines dan displacement yang terjadi ?

1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian dalam Tugas Akhir ini adalah : 1. Untuk mengetahui besar frekuensi natural dan perilaku gerakan FPSO dengan sistem external turret mooring untuk arah surge, sway, heave, roll, pitch, dan yaw pada gelombang reguler 2. Untuk mengetahui spektra respon dinamis FPSO dengan sistem external turret mooring pada gelombang acak.

3. Untuk mengetahui tension maksimum yang terjadi pada mooring lines dan mengetahui besarnya excursion (displacement).

1.4. Manfaat Penelitian Dari Tugas Akhir ini diharapkan bisa memberi pemahaman yang baik tentang perilaku dinamis FPSO dengan sistem external turret mooring sehingga bisa dijadikan pertimbangan dalam pemilihan sistem tambat (mooring system) pada FPSO.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian Batasan-batasan yang diberlakukan dalam penelitian ini antara lain : 1. Penempatan external turret mooring berada di haluan (bow)FPSO. 2. Jumlah mooring lines diasumsikan 8 buah dan simetris. 3. Beban yang bekerja adalah beban gelombang, angin dan arus. 4. Gerak FPSO yang ditinjau adalah gerak arah surge, sway, heave, roll, pitch dan yaw. 5. Perhitungan RAO gerakan FPSO menggunakan software MOSES. 6. Perhitungan tension mooring lines menggunakan software ORCAFLEX 7. Riser tidak dimodelkan. 8. Tinggi sarat yang ditinhau adalah sarat full load dan ballast 9. Tinggi gelombang ditinjau untuk kondisi lingkungan 1 tahun, 10 tahun dan 100 tahun

1.6.Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam penulisan laporan tugas akhir ini adalah sebagai berikut: Bab I. Pendahuluan Bab ini menjelaskan tentang latar belakang penelitian yang akan dilakukan, perumusan masalah, tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan tugas akhir ini, manfaat yang diperoleh, ruang lingkup penelitian untuk membatasi analisa yang dilakukan dalam tugas akhir ini, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan laporan.

Bab II. Tinjauan Pustaka Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis berpedoman pada beberapa penelitian tentang struktur bangunan lepas pantai yang pernah dilakukan, teori gelombang, aplikasi teori keandalan pada struktur lepas pantai serta ketentuan dan peraturan menegenai struktur yang direkomendasikan oleh API RP2S. Bab III. Metodologi Penelitian Pada bab ini akan dijelaskan mengenai langkah-langkah pengerjaan dalam penyelesaian tugas akhir, beserta metode-metode yang digunakan. Bab IV. Analisa Hasil Dan Pembahasan Pada bagian analisa hasil dan pembahasan ini akan dilakukan analisa perilaku dinamis pada struktur FPSO dengan sistem external turret mooring dan juga tergangan dan excursin yang dihasilkan dari mooring lines. Bab V. Kesimpulan Dan Saran Menjelaskan tentang kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil analisa perilaku dinamis pada struktur FPSO dengan sistem external turret mooring serta saran-saran dan tindak lanjut yang dapat dilakukan dari penelitian ini.

Halaman ini adalah halaman kosong

Beri Nilai