Anda di halaman 1dari 10

BAB 3 PEMBAHASAN 3.

1 Proses Polimerisasi Resin Akrilik Polimerisasi terjadi melalui beberapa reaksi kimia dimana molekul makro, atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul-molekul yang dikenal sebagai monomer. Sifat polimer yang paling nyata adalah polimer terdiri atas molekul-molekul yang amat besar dan bahwa struktur molekul tersebut mempunyai konfigurasi dan perubahan bentuk yang tak terbatas. Polimer terdiri atas satu atau beberapa unit struktural sederhana, yang terbentuk atas struktur monomer individual. Unit monomer tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya sepanjang rantai polimer oleh ikatan kovalen. Polimerisasi adalah reaksi intermolekul berulang secara fungsional mampu berlanjut tidak terbatas. MEKANISME POLIMERISASI Polimerisasi dapat terjadi baik dari serangkaian reaksi terlokalisasi yang seringkali, namun tidak selalu, menghasilkan suatu produk sampingan, atau dari reaksi-reaksi sederhana tambahan. Bila polimerisasi terjadi dari mekanisme pertama, proses tersebut dikenal sebagai pertumbuha bertahap atau polimerisasi kondensasi. Bila polimerisasi terjadi dari reaksi tambahan, berarti terjadi polimerisasi tambahan. a). Polimerisasi Pertumbuhan Bertahap. Reaksi yang menghasilkan polimerisasi pertumbuhan bertahap berlangsung dalam mekanisme yang sama seperti reaksi kimia antara 2 atau lebih molekulmolekul sederhana. Senyawa utama bereaksi, seringkali dengan pembentukan produk sampingan seperti air, asam halogen, dan amonia. Pembentukan produk sampingan ini adalah alasan mengapa polmerisasi pertumbuhan bertahap, seringkali disebut polimerisasi kondensasi. Struktur monomer adalah sedemikina rupa sehingga proses tersebut dapat berulang sendiri dan membentuk molekul makro. Pada polimerisasi pertumbuhan bertahap, diperoleh rantai linier dari residu monomer melalui kondensasi antar molekul bertingkat atau penambahan gugus reaktif dalam monomer bifungsional. Reaksi-reaksi ini analog dengan reaksi dimana unit monofungsional mengalami reaksi poliesterifikasi yang melibatkan rantai diol dan asam dibasik. b). Polimerisasi Tambahan. Kebanyakan resin gigi terpolimerisasi dengan polimerisasi tambahan. Jenis reaksi ini begitu banyak terjadi sehingga seringkali istilah polimerisasi secara umum digunakan untuk menggambarkan proses tersebut.

10

Tidak seperti polimerisasi kondensasi, tidaka ada perubahan komposisi selama polimerisasi tambahan. Makromolekul dibentuk dari unit-unit yang lebih kecil, atau monomer, tanpa perubahan dalam komposisi, karena monomer dan polimer memilki rumus empiris yang sama. Dengan kata lain, struktur monomer diulangi berkali-kali dalam polimer. T AHAP-TAHAP DALAM POLIMERISASI TAMBAHAN Proses polimerisasi tambahan terjadi dalam 4 tahap: induksi, penyebaran, pengakhiran, dan pengalihan rantai. 1). Induksi. Untuk memulai proses polimerisasi tambahan , haruslah terdapat radikal bebas. Radikal bebas dapat dihasilkan dengan mengaktifkan molekul monomer dengan sinar ultraviolet, sinar biasa, panas, atau pengalihan energi dari komposisi lain yang bertindak sebagai radikal bebas. Kimiawi radikal bebas yang digunakan untuk memulai polimerisasi bukanlah suatu katalis, karena masuk ke dalam reaksi kimia dan menjadi bagian akhir dari komposisi kimia. Suatu istilah yang lebih akurat adalah initiator/pemulai. Metode polimerisasi ini bergantung pada pembentukan suatu persenyawaan dengan elektron tidak berpasangan (radikal beb as). Elektron tidak berpasangan membuat radikal bebas tersebut amat aktif. Initiator yang paling sering diguanakan adalah benzoil peroksida, yang terurai pada temperatur yang relatif rendah untuk melepaskan 2 radikal bebas per satu molekul benzoil peroksida, terjadi cukup cepat antara 500 dan 100 0 C. Periode induksi adalah waktu dimana molekul-molekul initiator menjadi berenergi atau teraktivasi, membentuk radikal bebas yang berinteraksi dengan molekul monomer. Periode ini amat dipengaruhi oleh kemurnian monomer. Proses polimerisasi yang berguna untuk resin gigi umumnya teraktivasi melalui 1 dari 3 proses: panas, kimia, dan sinar. Kebanyakan resin basis protesa ter polimerisasi dengan aktivasi panas. Jadi, radikal bebas diperoleh dengan pemanasan benzoil peroksida. Selama pemanasan , molekul benzoil peroksida pecah menjadi 2 radikal bebas, yang kemudian mengawali polimerisasi monomer metil metakrilat. Sistem induksi tipe dua diaktivkan secara kimia pada temperatur mulut. Sistem ini terdiri atas sedikitnya 2 reaktan yang bila diaduk bersama, mengalami reaksi kimia yang menghasilkan radikal bebas. Selama penyimpanan komponen ini harus dipisahkan satu sama lain. Suatu contoh sistem tersebut adalah amin tersier sebagai

11

aktivator benzoil peroksida, initiator, yang diaduk bersamaan untuk mengawali polimerisasi dari resi gigi yang mengeras sendiri. Sistem induksi tipe ketiga diaktivkan dengan sinar. Dalam sistem ini, foton mengaktifkan initiator untuk menghasilakan radikal bebas yang, sebaliknya, dapat memulai proses polimerisasi. Awalnya, sinar ultraviolet digunakan untuk proses ini. Namun karena pertmbangan efek sinar UV pada retina serta jaringan mulut yang tidak terpigmentasi, keterbatasan kedalaman penembusan, dan penurunan intensitas sumber sinar UV dengan berlalunya waktu,sistem dikembangkan sehingga dapat diaktifkan dengan cahaya tampak. Untuk memicu reaksi ini, diperlukan sinar atau cahaya dengan panjang gelombang sekitar 470 nm. 2). Penyebaran. Reaksi rantai harus berlanjut dengan terbentuknya panas, sampai semua monomer telah diubah menjadi polimer. Meskipun demikian, reaksi polimerisasi tidak pernah sempurna. 3). Pengakhiran. Reaksi rantai dapat diakhiri dengan baik dengan cara penggabungan langsung atau pertukaran atom hidrogen dari satu rantai yang tumbuh ke rantai yang lain. Pengakhiran dengan penggabungan langsung dapat digambarkan dalam suatu diagram reaksi. Anggap saja IlMm mewakili monomer m dan IlMn dari unit n. Jadi, dengan kata lain kedua molekul berkombinasi dan tidak teraktivasi oleh pertukaran energi. 4). Pemindahan Rantai. Meskipun pengakhiran rantai dapat berasal dari pemindahan rantai, prosesnya berbeda dengan reaksi pengakhiran yang telah dijelaskan, dimana keadaan aktif diubah dri suatu radikal aktif menjadi suatu molekul tidak aktif, dan tercipta molekul baru untuk pertumbuhan selanjutnya. Sebagai contoh , molekul monomer dapat diaktifkan dengan pertumbuhan makromolekul sedemikian rupa sehingga terjadi pengakhiran. Jadi, dihasilkan suatu nukleus baru untuk pertumbuhan. Dengan cara yang sama, rantai yang telah diakhiri dapat diaktifkan kembali dengan pemindahan rantai, dan rantai tersebut akan terus tumbuh. 3.2 Proses Manipulasi Resin Akrilik Resin acrylic adalah resin termoplastis, merupakan persenyawaan kompon non metalik yang dibuat secara sintetis dari bahan-bahan organic. Resin ini dapat dibentuk selama masih dalam keadaan plastis dan mengeras apabila dipanaskan

12

karena tejadi reaksi polymerisasi adisi antara polymer dan monomer. Berdasarkan polimerisasinya, resin acrylic dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Heat Cured Acrylic (membutuhkan pemasakan pada pengolahannya untuk membantu proses polimerisasinya). b. Self Cured Acrylic (dapat berpolymerisasi sendiri pada temperatur ruang). c. A. Light Cured Acrylic Resin

HEAT CURED ACRYLIC Heat cured acrylic resin, komposisinya terdiri dari dua kemasan yaitu: 1. Polymer (Bubuk): i. Polymer; poly (methyl methacrylate).Polimer, polimethyl metacrylate, baik serbuk yang diperoleh dari polimerisasi methyl metacrylate dalam air maupun pertikel yang tidak teratur bentuknya yang diperolah dengan cara menggerinda batangan polimer. ii. Initiator Peroxide; berupa 0,2-0,5% benzoil peroxide. iii. Pigmen; sekitar 1% tercampur dalam partikel polymer. 2. Cairan (Monomer): i. Monomer: methyl methacrylate. selama penyimpanan. iii. Terkadang terdapat bahan untuk memacu cross-link; seperti ethylene glycol dimethacrylate. (E. combe 1992: 270) Manipulasi Heat Cured Acrylic Perbandingan monomer dan polymer akan menentukan sturktur resin. Perbandingan monomer dan polymer, biasanya 3 sampai 3,5/1 satuan volume atau 2,5/1 satuan berat. Bila ratio terlalu tinggi, tidak semua polymer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya acrylic yang digodok akan bergranula. Selain itu juga tidak boleh terlalu rendah karena sewaktu polmerisasi monomer murni terjadi pngerutan sekitar 21% satuan volume. Pada adonan acrylic yang berasal dari perbandingan monomer dan polymer yang benar, kontraksi sekitar 7%. Bila terlalu banyak monomer, maka kontraksi yang terjadi akan lebih besar.Pencampuran polymer dan monomer harus dilakukan dalam tempat yang terbuat dari keramik atau gelas yang tidak tembus cahaya (mixing jar). Hal ini dimaksudkan supaya tidak terjadi polymerisasi awal. ii. Stabilizer; sekitar 0,006% hydroquinone untuk menccegah polymerisasi

13

Bila polymer dan monomer dicampuur, akan terjadi reaksi dengan tahap-tahap sebagai berikut: Tahap 1 Tahap 3 : Adonan seperti pasir basah (sandy stage). : Adonan apabila disentuh dengan jari atau alat bersifat lekat, apabila ditarik akan membentuk serat (stringy stage). Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas meresap ke dalam polimer. Tahap 4 : Adonan bersifat plastis (dough stage). Pada tahap ini sifat lekat hilang dan adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang kita inginkan. Tahap 5 : Kenyal seperti karet (rubbery stage). Pada tahap ini lebih banyak monomer yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang kasar. Tahap 6 : Kaku dan keras (rigid stage). Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan getas pada permukaannya, sedang keadaan bagian dalam adukan masih kenyal.Waktu dough (waktu sampai tercapainya konsistensi liat) tergantung pada: 1. Ukuran partikel polymer; partikel yang lebih kecil akan lebih cepat dan lebih cepat mencapai dough. 2. Berat molekul polymer; lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi liat. 3. Adanya Plasticizer yang bisa mempercepat terjadinya dough. 4. Suhu; pembentukan dough dapat diperlambat dengan menyimpan adonan dalam tempat yang dingin. 5. Perbandingan monomer dan polymer; bila ratio tinggi maka waktu dough lebih singkat. Pengisian Ruang Cetak (Mould Space) dengan Acrylic Ruang cetak adalah rongga/ruangan yang telah disiapkan untuk diisi dengan acrylic. Ruang tersebut dibatasi oleh gips yang tertanam dalam kuvet (pelat logam yang biasanya terbuat dari logam). Sebelum rongga tersebut diisi dengan acrylic, lebih dulu diulasi dengan bahan separator/pemisah, yang umumnya menggunakan could mould seal (CMS). Ruang cetak diisi dengan akrilik pada waktu adonan mencapai tahap plastis (dough stage). Pemberian separator tersebut dimaksudkan untuk: Tahap 2 : Adonan seperti Lumpur basah (mushy stage).

14

a. Mencegah merembesnya monomer ke bahan cetakan (gips) dan ber-polimerisasi di dalam gips sehingga menghasilkan permukaan yang kasar dan merekat dengan bahan cetakan/gips. b. Mencegah air dari bahan cetakan masuk ke dalam resin acrylic. Sewaktu melakukan pengisian ke dalam cetakan pelu diperhatikan : - Cetakan terisi penuh. - Sewaktu dipress terdapat tekanan yang cukup pada cetakan, ini dapat dicapai dengan cara mengisikan dough sedikit lebih banyak ke dalam cetakan. Selama polimerisasi terjadi kontraksi yang mengakibatkan berkurangnya tekanan di dalam cetakan. Pengisian yang kurang dapat menyebabkan terjadi shrinkage porosity.Ruang cetak diisi dengan acrylic pada tahap adonan mencapai tahap plastis (dough). Agar merat dan padat, maka dipelukan pengepresan dengan menggunakan alat hydraulic bench press. Sebaiknya pengepresan dilakukan dilakukan berulang-ulang agar rongga cetak terisi penuh dan padat. Cara pengepresan yang benar adalah: 1. Adonan yang telah mencapai tahap dough dimasukkkan ke dalam rongga cetak, kemudian kedua bagian kuvet ditutup dan diselipi kertas selofan. Pengepresan awal dilakkukan sebesar 900psi, kelebihan acrylic dipotong dengan pisau model. Kedua bagian kuvet dikembalikan, diselipi kertas selofan. 2. Pengepresan dilakukan lagi seperti di atas, tetapi tekanan ditingkatkan menjadi 1200 psi. Kelebihan acrylic dipotong dengan pisau model. Kedua bagian kuvet dikembalikan tanpa diselipi kertas selofan. 3. Pengepresan terakhir dilakukan dengan tekanan 1500 psi, kemudian kuvet diambil dan dipindahkan pada begel.Pemasakan (Curing) Untuk menyempurnakan dan mempercepat polimerisasi, maka setelah pengisian (packing) dan pengepresan perlu dilakukan pemasakan (curing) di dalam oven atau boiling water (air panas). Di dalam pemasakan harus diperhati-kan, lamanya dan kecepatan peningkatan suhu/temperature. Metode pemasakan dapat dilakukan dengan cara cepat atau lambat. Ada tiga metode pemasakan resin acrylic, yaitu: 1. Kuvet dan Begel dimasukkan ke dalam waterbath, kemudian diisi air setinggi 5 cm diatas permukaan kuvet. Selanjutnya dimasak diatas nyala api hingga mencapai temperature 700C (dipertahankan selama 10 menit). Kemudian

15

temperaturnya ditingkatkan hingga 1000C (dipertahankan selama 20 menit). Selanjutnya api dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai temperature ruang. 2. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dan beugel dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali (dipertahankan selama 20 menit), api dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai temperature ruang. 3. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dan beugel dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali. Setelah mendidih api segera dimatikan dan dibiarkan selama 45 menit. Kuvet dan begel yang terletak dalam water bath harus dibiarkan dingin secara perlahan-lahan. Selama pendinginan terdapat perbedaan kontraksi antara gips dan acrylic yang menyebabkan timbulnya stress di dalam polimer. Pendinginan secara perlahan-lahan akan akan memberi kesempatan terlepasnya stress oleh karena perubahan plastis. Selama pengisian mould space, pengepresan dan pemasakan perlu dikontrol perbandingan antara monomer dan polimer. Karena monomer mudah menguap, maka berkurangnya jumlah monomer dapat menyebabkan kurang sempurnanya polimerisasi dan terjadi porositas pada permukaan acrylic. Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah monomer adalah: 1. Perbandingan monomer dan polimer yang tidak tepat. 2. Penguapan monomer selama proses pengisisan rongga cetak. 3. Pemasakan yang terlalu panas, melebihi titik mdidih monomer (100,30C). Secara normal setelah pemasakan terdapat sisa monomer 0,2-0,5%. Pemasakan pada temperature yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat akan menghasilkan sisa monomer yang lebih besar. Ini harus dicegah, karena: a. Monomer bebas dapat lepas dari gigi tiruan dan mengiritasi jaringan mulut. b. Sisa monomer akan bertindak sebagai plasticizer dan membuat resin menjadi lunak dan lebih flexible. Porositas dapat memberi pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan dan sifat-sfat optic acrylic. Porositas yang terjadi dapat berupa shrinkage porosity (tampak geleembung yang tidak beraturan pada permukaan acrylic) dan gaseous porosity (berupa gelembung uniform, kecil, halus dan biasanya terjadi pada bagian acrylic yang tebal dan jauh dari sumber panas).

16

Permasalahan yang sering timbul pada acrylic yang telah mengeras adalah terjadinya crazing (retak) pada permukaannya. Hal ini disebabkan adanya tensile stress ysng menyebabkan terpisahnya moleku-molekul primer. Retak juga dapat terjadi oleh karena pengaruh monomer yang berkontak pada permukaan resin acrylic, terutama pada proses reparasi. Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena : 1. Stress mekanis oleh karena berulang-ulang dilakukan pengerigan dan pembasahan denture yang menyebabkan kontraksi dan ekspansi secara berganti-ganti. Dengan menggunakan bahan pengganti tin-foil untuk lapisan cetakan maka air dapat masuk ke dalam acrylic sewaktu pemasakan; selanjutnya apabila air ini hilang dari acrylic maka dapat menyebabkan keretakan. 2. Stress yang timbul karena adanya perbedaan koefisien ekspansi termis antara denture porselen atau bahan lain seperti klamer dengan landasan denture acrylic;retak-retak dapat terjadi di sekeliling bahan tersebut. 3. Kerja bahan pelarut; missal pada denture yang sedang direparasi, sejumlah monomer berkontak dengan resin dan dapat menyebabkan keretakan. Denture dapat mengalami fraktur atau patah karena: 1. Impact; missal jatuh pada permukaan yang keras. 2. Fatigue; karena denture mengalami bending secara berulang-ulang selama pemakaian. ( E. Combe 1992:270-275) B. SELF CURED ACRYLIC Komposisi serupa dengan bahan heat cured acrylic, kecuali bahwa cairannya berikut : a. Berbeda dalam metode aktivasinya. bahan activator seperti dimethyl paratoluidin. c. Porositas bahan self cured lebih daripada bahan heat cured, meskipun tidak mudah dilihat pada resin yang diberi pigmen. Hal ini disebabkan oleh karena terlarutnya udara dalam monomer yang tidak larut dalam polimer pada suhu kamar. d. Secara umum bahan self cured mempunyai berat molekul yang lebih rendah dan mengandung lebih banyak sisa monomer, yaitu sekitar 2-5%. b. Komposisinya sama tapi pada bahan self cured cairannya mengandung mengandung bahan activator seperti dimethyl-p-toluidine. Perbandingan bahan akrilik heat cured dengan bahan akrilik self cured sebagai

17

e.

Bahan self cured tidak sekuat heat cured; transverse strength bahan ini kirakira 80% dari bahan heat cured. Ini mungkin berkaitan dengan berat molekulnya yang lebih rendah.

f.

Mengenai sifat-sifat rheologinya; bahan heat cured lebih baik dari self cured karena bahan self cured menunjukkan distorsi yang lebih besar dalam pemakaian. Pada pengukuran creep bahan poly (polymethyl methacrylate), polimer heat cured mempunyai deformasi awal yang lebih kecil, juga lebih sedikit creep, dan lebih cepat kembali dibandingkan dengan bahan self cured.

g. Stabilitas warna bahan self cured jelek, bila dipakai activator amina tertier dapat terjadi penguningan setelah beberapa lama. (E. Combe 1992:277) 3.3 Proses Reparasi Resin Akrilik A Reparasi dengan self cured. Hal hal berikut ini penting diperhatikan sewaktu melakukan reparasi agar diperoleh hasil yang baik : i. Bagian patahan gigi tiruan disatukan kembali dengan bantuan sticky wax dan kawat, lalu dibuat model dengan plaster / gips. ii. Bagian-bagian gigi tiruan kemudian dikeluarkan dari model, permukaan yang hendak disambung dihaluskan hingga diperoleh pinggiran yang halus dan tumpul dan terbentuk jarak untuk sambungan sekitar 3 sampai 5 mm. Hendaknya dicegah adanya pinggiran berbentuk-V karena hal ini menimbulkan penumpukan stress. iii. Model diberi bahan separasi alginate ( pengganti tin foil ), dan bagian bagian gigi tiruan dipasang kembali pada posisinya. iv. Bahan reparasi self curing acrylic dicampur dengan konsistensi yang encer lalu dimasukkan pada daerah yang hendak direparasi. v. Porositas yang timbul pada akrilik self cured akan lebih sedikit apabila polimerisasi dilakukan di bawah tekanan hydroulic hingga sebesar 250 kN / m2 pada suhu 40 sampai 50C. B Reparasi dengan acrylic heat-cured. Sering dianjurkan untuk bagian gigi tiruan yang luas tetapi kecil. Masalahnya adalah kemungkinan dapat terjadi perubahan bentuk. Hal ini dapat

18

diatasi dengan mengganti seluruh bagian palatal gigi tiruan dengan heat cured acrylic yang baru. Kadang-kadang gigi tiruan membutuhkan penyesuaian permukaan kontaknya untuk mengimbangi perubahan yang terjadi pada jaringan lunak. Ini dapat dilakukan dengan cara membentuk landasan gigi tiruan yang baru (rebasing), atau membuat permukaan kontak yang baru (relining). Dalam akrilik yang dimodifikasi dibutuhkan bahan yang mempunyai kekuatan impact dan fatigue strength yang lebih besar. Ke dalam bahan ini termasuk vinyl co-polymer dan rubber acrylic graft co-polymer. Beberapa macam produk tersebut tersedia di pasar, sebagian diantaranya membutuhkan kiur dengan teknik injeksi. Graft co-polymer mempunyai daya tahan impact yang lebih baik dari pada bahan akrilik biasa. Salah satu kelompok bahan tersebut di atas adalah berupa emulsi butiran poly ( methyl methacrylate) yang telah polimerisasi, ke dalam mana lapisan butadiene-styrene merekat yang kemudian dibungkus oleh poly (methyl methacrylate). Butiran ini dicampur dengan monomer yang terdiri dari methyl methacrylate, bahan pemacu cross-link, dan bahan inhibitor. Bahan ini mempunyai daya tahan lebih besar terhadap crack, mengakibatkan laju crack bertambah lambat sewaktu mencapai fase rubber. Rubber modified resin mempunyai sifat-sifat impact dan fatigue yang lebih baik. Suatu orientasi penelitian terhadap penemuan bahan landasan gig tiruan yang lebih kuat diarahkan terhadap ikut sertanya serat serat tertentu ke dalam akrilik, seperti misalnya, alumina. Juga telah pernah dicoba dilakukan penambahan serat karbon yang telah di rawat dengan baik, meskipun hal ini meningkatkan kekuatannya tetapi warna serat yang hitam menyebabkan estetis gigi tiruan tidak baik. Produk lain adalah co-polymer methyl methacrylate dan hydroxy-ethyl methacrylate. Disebutkan bahwa bahan ini mudah basah, sehingga dapat dicapai retensi gigi tiruan yang lebih baik. Tetapi apabila bahan ini telah jenuh dengan air, sifat-sifat mekanisnya akan menjadi lebih jelek dari poly (methyl methacrylate).