Anda di halaman 1dari 15

Patofisiologi hipotiroidisme primer: jaringan kelenjar tiroid yang hilang menyebabkan berkurangnya produksi hormon tiroid, akibatnya TSH

SH meningkat dan menyebabkan goiter Pada aplasia kelenjar tiroid tidak akan ditemukan goiter Pada hipotiroidisme sekunder: TSH berkurang hipofisa gagal memproduksi TSH, sering karena nekrosis atau tumor hipofisa. Manifestasi Klinis Hipotiroidisme mempengaruhi seluruh metabolisme Onset perlahan, sehingga sering diketahui terlambat. Pengaruhnya terhadap tubuh:

menurunnya metabolisme energi dan produksi panas. Metabolisme basal rendah, tidak tahan hawa dingin, letargi, cepat lelah, dan suhu badan menjadi rendah.

Tanda khas hipotiroidisme yang lama adalah : miksedema terjadi akibat perubahan komposisi kulit dan jaringan lain jaringan ikat terinfiltrasi oleh penambahan protein dan mukopolisakarida

Kompleks protein mukopolisakarida ini mengikat air, menyebabkan nonpitting edema , terutama sekitar mata, tangan, kaki dan fosa supraklavikular.

Pengikatan air juga menyebabkan makroglosia, pembengkakan pita suara (menyebabkan suara parau). Laboratorium kadar T4 dan FT4 yang rendah TSH : hipotiroid primer: meningkat karena sistem umpan balik negatif hipotiroidisme sekunder: rendah karena hipofungsi hipofisa Diagnosis Di negara maju diagnosis ditegakkan melalui proses skrining bayi baru lahir Gejala klinis Uji fungsi tiroid :

Primer: T4 dengan TSH (hipotiroid kongenital) Sekunder : T4 dengan TSH

Skintigrafi Tiroid Evaluasi awal harus dilakukan dalam 2-5 hari

Terapi

harus segera sejak diagnosis ditegakkan dengan L-thyroxine:


Umur 0-3 bulan 10-15 g/kgBB/hari 3-6 bulan 8 -10 g/kgBB/hari 6-12 bulan 6 - 8 g/kgBB/hari 1-3 tahun 4 - 6 g/kgBB/hari 3-10 tahun 3 4 g/kgBB/hari 10-15 tahun 2- 4 g/kgBB/hari > 15 tahun 2 3 g/kgBB/hari

Tujuan utama: mengembalikan penderita ke metabolisme yang normal (eutiroid)

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROIDISME


Filed under: Uncategorized by meifitria Leave a comment April 14, 2011 ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROIDISME OLEH : Mei Fitria 01.08.065 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO 2011 KASUS Ny. E ( 19 th ) masuk rumah sakit dengan keluhan kelelahan yang ekstrim, kerontokan rambut, kuku rapuh, kulit kering, parestesia pada jari tangan, suara menjaidadi kasar / parau, tidak tahan dingin, keringat berkurang, kulit dingin dan kering, wajah membengkak,lidah membesar, mengeluh hipermenorea atau amenorea dan kehilangan libido. TINJAUAN KASUS A. PENGKAJIAN Jam 08.00 wib 1. BIODATA PASIEN : Ny. E : 19 tahun : perempuan : Jawa / Indonesia : Islam : SMA Nama Umur Jenis kelamin Suku / bangsa Agama Pendidikan tanggal 8 maret 2011

Pekerjaan Alamat No. reg Diagnose medis 2. A. B.

: Swasta : Jl. Jabon Gg. v/ 23- Mojokerto : 93611 : hipotiroidisme

RIWAYAT KEPERAWATAN Keluhan utama Riwayat keperawatan sekarang

Pasien mengatakan merasakan kelelahan yang ekstrim Pasien mengatakan mengalami kelelahan yang ekstrim sehingga sulit untuk melakukan aktivitasnya. Kerontokan pada rambut, kuku rapuh serta kulit yang kering juga pasien alami,pasien tidak tahan dingin meskipun pada tempat yang hangat. C. D. Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga Pasien mengatakan sudah merasakan gejala ini sejak umur 18 tahun. Pasien mengatakn dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti hepatitis, TBC, dan penyakit menurun seperti DM, 3. a. b. c.

POLA AKTIVITAS Pola istirahat tidur Sebelum MRS : pasien mengatakan sering tidur dan tidak ada gangguan Saat MRS : pasien mengatakan tidurnya kurang nyaman karena suasana ramai Pola persepsi dan tata laksana hidup Sebelum MRS : mandi teratur, jarang olahraga Saat MRS : Jarang mandi. tidak olahraga, Pola nutrisi dan metabolisme Sebelum MRS : kebiasaan makan teratur 3x sehari, porsi sedang, lauk pauk, nasi , dan sayur. Suka minum air putih Saat MRS : nafsu makan menurun, porsi kurang, lauk pauk, nasi, buah dan sayur, porsi jarang habis Pola eliminasi Sebelum MRS : Jarang BAB, 1minggu 2x, BAK normal 1500 liter/ jam Saat MRS : Tidak pernah BAB, BAK menurun 1300 liter / jam Pola sensori dan kognitif Sebelum MRS : Merasakan lelah yang sangat ekstrim jika melakukan aktivitas Saat MRS : Rasa lelah berkurang karena aktivitas berkurang Pola reproduksi Sexual Sebelum MRS : kebutuhan sexual belum terpenuhi karena belum menikah Saat MRS : SAMA

d.

e.

f.

g. h. i. j. 4. a.

Pola penanggulangan stress Sebelum MRS : dalam menghadapi masalah penyakitnya, pasien menanggapi dengan tenang dan sabar Saat MRS : dalam menghadapi penyakitnya pasien didampingi dan didukung oleh keluarga Pola aktivitas dan latihan Sebelum MRS : aktivitas sehari hari dikerjakan sendiri Saat MRS : Saat dirumah sakit dibantu oleh keluarga dan perawat Pola hubungan peran Sebelum MRS : Hubungan dengan keluarga baik Saat MRS : Hubungan dengan keluarga makin erat Pola tata nilai dan kepercayaan Sebelum MRS : Taat beribadah Saat MRS Breathing ( b1 ) : beribadah tapi tidak maksimal PEMERIKSAAN FISIK

Perkusi : tidak ada timpani Inspeksi : tidak ada retraksi dada, tidak ada pernapasan panjang dan pendek Auskultasi : tidak bunyi ronchi ( suara tambahan ) b. Blood ( b2 ) Inspeksi : tidak ada perdarahan, Perkusi dan palpasi : tidak ada pembesaran jantung Auskultasi : bunyi jantung 1 di ICS 4 dan 5 daerah mitral triskupidalis. Bunyi jantung 2 di ICS 1 dan 2 di aorta dan pulmonal, tidak ada wishing / murmur c. Brain ( b3 ) Inspeksi dan palpasi : wajah bengkak, apatis, rambut rontok, adanya edema disekitar mata,lidah menebal, mukosa pucat, tidak ada nyeri tekan pada kepala. Tingkat kesadaran menurun GCS ( 3 5 4 ) d. Bladder ( b4 ) Inspeksi : keluaran urine 1300 liter / jam, warna normal, tidak ada bau amoniak,tidak ada hematuria, proteinuria Palpasi : tidak ada distensi bladder e. Bowel ( b5 ) Inspeksi dan palpasi: abdomen simetris, tidak ada luka, tidak ada jaringan parut, tidak ada ascites, adanya distensi abdomen (konstipasi) f. Bone ( b6 )

Inspeksi dan palpasi : warna kulit merata, adanya penebalan kulit, kuku rapuh, adanya parastesia , reflek tendon (). g. h. Sistem Endokrin Sistem Reproduksi Penurunan fungsi hormon tiroid -hipermenore -libido (-) 5. 1. No 1 PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Pemeriksaan Urin lengkap Feses warna Bj pH protein reduksi lirobilin bilirubin sedimen eritrosit leukosit epitel kristal caox urinacid amorpin bakeri silinderurin hyalin waxy granula nitrit keton Hasil 1,05 5,0 Negatif Negatif Negatif Positif Negatif 1-2/Lp 1-2/Lp Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Coklat Lunak Negatif Negatif Positif Nilai normal 1,001-1,035 5,0-8,5 Negatif Nrgatif Negatif Negatif 0-1/Lp 1-2/Lp 1-2/Lp Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Kuning Lunak Negative Negative Negative

thorak eritrosit Positif

PTC T3 T4 TSH 2. 6. 1. 2.

konsistensi lendir darah

65- 100g / dl 70- 220 g/ dl 3- 4g/dl 4.5- 11.5g/dl

EKG : test faal jantung PENATALAKSANAAN DAN TERAPI Infus RL D5% 20 Tpm Obat hormonal :

a. Euthyrox b. Jodipin ultra c. Joodkali d. Thyrax B. ANALISA DATA Nama pasien Umur No. reg Mrs No 1. 2. : Ny. E : 19 Thn :93611 : 8 maret 2011 Data penunjang DS : Px mengatakan merasakan kelelahan yang ekstrim Penyebab Masalah Gangguan organic Intoleransi kelenjar tiroid aktivitas Produksi hormone Hipotermi tiroid menurun

Diagnosa medis : Hipotiroidisme

Do : ku lemah , kesadaran apatis, TD 110/ Gangguan 60 mmHg metabolisme S: 36 c, RR 18x/mnt, N 75x/mnt Ds : px mengatakan badannya tidak tahan dingin

Produksi Atp dan Adp menurun Kelelahan Aktivitas intoleran

Gangguan fungsi Do: ku lemah , kesadaran hipotalamus apatis, TD 110/ 60 mmHg Sekresi TSH me S: 36 c, RR 18x/mnt, N Produksi hormone 75x/mnt

tiroid me Gangguan metabolisme Produksi kalor me Hipotermi C. INTERVENSI KEPERAWATAN Nama pasien Umur No. reg Mrs : Ny. E : 19 Thn :93611 : 8 maret 2011 KH 1.px dapat beraktivitas tanpa keluhan Intervensi Rasional

Diagnosa medis : Hipotiroidisme No Dx Tujuan keperawata n 1 Intoleransi Setelah 2. aktivitas b/d dilakukan kelelahan tindakan Perubahan 124 jam, suhu tubuh pasien dapat meningkatka b/d penurunan n partisipasi dalam fungsi metabolik aktivitasnya

1.atur 1.mendorong interval aktivitas waktu antar sambil aktivitas memberikan 2.kelelahan untuk waktu untuk Menurun meningkatka istirahat yang n istirahat adekuat 3.ku baik dan latihan 2.mengurangi 1.px dapat yang dapat mempertahanka Resiko cedera ditolerir Setelah n suhu tubuh pada keadaan dilakukan 2.bantu dasar lelah tindakan aktivitas 2. KU baik 3.menjaga px 124 jam, px perawatn agar dapat mandiri merasakan ktika px tidak suhu tubuh dalam melakukan yang normal keadaan lelah aktivitas yang berlebihan 3.pantau respon px 4.untuk terhadap menentukan peningkatan terapi aktivitas pengobatan yang sesuai 4.lakukan kolaborasi 1.minimalkan dengan tim kehilangan medis panas a. Euthyrox 2.mengurangi b. Jodipin

ultra c. Joodkali d. Thyrax 1.berikan tambahan pakaian atau tambahan selimut

resiko Vasodilatasi perifer 3.meningkatka n Kenyamanan px dan menurunkan

2.hindari lebih lanjut penggunaan kehilangan panas dari panas. luar 3.lindungi terhadap pajanan hawa dingin dan hembusan angin PATHWAY KEPERAWATAN Infeksi kronis kelenjar tiroid Atropi kelenjar tiroid Produksi ATP dan ADP menurun Produksi hormon tiroid menurun kelelahan Gangguan metabolisme Aktivitas intoleran Produksi kalor menurun hipotermi

A. Latar Belakang Masalah Kelenjar tiroid mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai jaringan agar optimal sehingga mereka berfungsi normal. Hormon tiroid merangsang konsumsi oksigen pada sebagaian besar sel di tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal. Kelenjar tiroid tidak essensial bagi kehidupan, tetapi ketiadaannya menyebabkan perlambatan perkembangan mental dan fisik, berkurangnya daya tahan terhadap dingin, serta pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan. Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menyebabkan badan menjadi kurus, gelisah, takikardi, tremor, dan kelebihan pembentukan panas. Fungsi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (Thyroid stimulating hormon = TSH) dari hipofisis anterior. Sebaliknya, sekresi hormon tropik ini sebagian diatur oleh umpan balik inhibitorik langsung kadar hormon tiroid yang tinggi pada hipofisis serta hipotalamus dan sebagian lagi melalui mekanisme neural yang bekerja melalui hipotalamus. Dengan cara ini, perubahan-perubahan pada lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyesuaian kecepatan sekresi tiroid. B. Definisi Masalah Wanita, 28 tahun, dengan keluhan benjolan di leher depan sejak 5 tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, benjolan makin besar, badan panas, lemah, leher tidak nyeri dan didiagnosis oleh dokter radang tiroid. Satu bulan ini, banyak berkeringat, suka hawa dingin, sering berdebar, tremor. Hasil pemeriksaan : tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 110 kali/menit, respirasi 20 kali/menit, mata exoftalmus, benjolan lunak, tidak nyeri, mudah digerakan, TSHs < 0,005 IU/ml, FT4 20 g/dl, FT3 15 ng/ml. Mendapat obat propiltiourasil 3 X 200 mg dan propanolol 3X10 mg. Tetangga pasien juga ada benjolan di leher dan memiliki anak yang terganggu pertumbuhan dan sering tidak naik kelas. C. Tujuan Penulisan 1. menyelesaikan tugas tutorial 2. mengenal dan mengetahui gangguan sekresi tiroid 3. menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan penyakit grave. D. Manfaat Penulisan 1. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar sistem endokrinologi. 2. Mahasiswa dapat menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer pada penyakit akibat gangguan sekresi hormon tiroid. TINJAUAN PUATAKA Metabolisme dan biosintesis hormon tiroid

skema biosintesis hormon tiroid Pembentukan hormon tiroid dibagi menjadi 6 tahap 1. penangkapan iodida, proses ini adalah proses aktif yang membutuhkan energi. 2. oksidasi yodida menjadi yodium, oleh enzim yodida peroksidase. 3. organifikation, pada tahap ini tirosin pada tiroglobulin digabungkan denngan yodium membentuk monoyodotironin dan diyodotironin. 4. coupling, tahap ini terjadi penggabungan monoyodotironin dengan diyodotironin membentuk triidotironin (T3) dan diyodotironin dengan diyodotironin membentuk tiroksin (T4). 5. penyimpanan, setelah proses coupling, hormon tiroid disimpan di masa koloid. 6. pelepasan hormon, dengan proses pinositosis. Dalam plasma tiroid hormon diikat oleh TBG, TBPA dan TBA. Hipertiroidisme Istilah hipertiroidisme dan tirotoksikosis sering dipertukarkan. Tirotoksikosis menandai temuan klinis, fisiologik, dan biokimiawi yang dihasilkan saat jaringan terpajan dan memberikan respon terhadap horon tiroid yang berlebihan. Ada bebeapa variasi yang dapat menyebabkan tirotoksikosis : Berkaitan dengan hiperfungsi tiroid A. produksi TSH yang berlebihan B. stimulator tiroid abnormal 1. penyakit grave 2. tumor trofoblastik C. autonomi tiroid intrinsik 1. adenoma yang hiperfungsi 2. struma multinoduler toksik Tidak berkaitan dengan hiperfungsi tiroid A. kelainan penyimpanan hormon 1. tiroidis subakut 2. tiroidis kronik B. sumber hormon ekstra tiroid 1. tirotoksikosis faktilia

2. toksikosis hamburger 3. jaringan tiroid ektopik Dari kasus-kasus hipertiroidisme yang paling banyak adalah penyakit grave. Insidensi tertinggi pada kelompok usia 15-40 tahun. Terdapat kecenderungan familial dan hubungan dengan antigen histokompatibilitas HLA-DR3 dan B8 pada ras Kaukasia, HLA-Bw36 pada orang Jepang, dan HLA-Bw46 pada orang Cina. Penderita penyakit grave sering menderita penyakit autoimun lain (misal, anemia pernisiosa) dan terjadi tumpang tindih dengan penyakit hashimoto. Penyakit grave adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan adanya autoantibodi kelas IgG dalam serum yang ditujukan untuk melawn reseptor Tsh pada sel tiroid. Kombinasi antibodi dengan reseptor TSH menyebabkan stimulasi sel untuk menghasilkan hormon tiroid. Manifestasi tirotoksikosis antara lain : gelisah, sulit tidur, tremor, motilitas usus, keringat berlebih, intoleransi panas, kehilangan berat badan, kelemahan otot. Manifestasi penyakit grave : struma hiperfungsi difusa, eksoftalmus, miksedema pratibia. Pada uji laboratorium didapatkan TSH yang tidak terdeteksi, peningkatan RAIU, T4 serum dan T3. Pengobatan dengan obat antitiroid, ablasi (pembedahan), dan propanolol untuk mengendalikan efek-efek tirotoksikosis. Hipotiroidisme Hipotiroidisme dapat dihasilakan dari berbagai variasi abnormalitas yang mengarah pada sintesis hormon tiroid yang insufisien. Klasifikasi hipotiroidisme berdasakan penyebabnya : Dari tiroid A. Tirotrivik a. Defek perkembangan kongenital b. Idiopatik primer c. Pascaablasi d. Pascaradiasi B. Goitrous a. Defisiensi yodium b. Dielisitasi oleh obat c. Tiroiditis akronik Dari supratiroid (di luar tiroid) A. Hipofisis a. Panhipopituitarisme b. Defisiensi TSH terisolasi B. Hipotalamus a. Defek kongenital b. Infeksi c. Neoplasma d. Infiltratif (sarkoidosis) Penampakan dari hipotiroidisme tergantung pada usia saat desisiensi. Kretinisme dapat termanifestasi pada saat lahir tetapi biasanya menjadi nyata dalam beberap bulan pertam, tergantung derajat kegagalan tiroid. Manifestasi berupa : ikterus, tangisan parau, konstipasi, somnolen; pada bulan selanjutnya : bentuk tubuh pendek, lidah kasar menjulur keluar, hidung lebar dan rata, mata melebar, rambut dan mata kering, abdomen buncit, retardasi mental.

Pada anak yang lebuh tua bermanifestasi dengan pendeknya tubuh, retardasi maturasi seksual. Pada orang dewasa dapat menyebabkan miksedema. Hormon yang tersedia untuk terapi hipotiroidisme adalah hormon sintetik levotiroksin, liotironin, dan liotrix. PEMBAHASAN Pada skenario, pasien dua tahun yang lalu didiagnosis radang tiroid oleh dokter. Ada perbedaan yang nyata antara radang tiroid dengan penyakit tiroid yang lainnya. Radang tiroid sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu akut, subakut, dan kronis. Radang tiroid disebabkan oleh infeksi, baik itu oleh virus, maupun oleh bakteri dan jamur. Secara umum gejala peradangan adalah dolor, rubor, kalor, tumor, dan fungsiolesa. Berdasar data, pasien tidak merasakan nyeri di lehernya. Berarti ini bukanlah suatu gejala radang. Namun, kita tidak bisa menyimpulkan dengan pasti karena tidak didapatkan data lain berupa pemeriksaan penunjang. Bukti kedua, penyakit pasien bukanlah radang adalah sampai sekarang (sudah lima tahun) penyakit tersebut belum juga sembuh, bahkan menimbulkan gejala lain. Sedangkan bila radang, khususnya radang akut seharusnya bisa sembuh sendiri, apalagi pada skenario pasien sudah berobat ke dokter. Berdasarkan pemeriksaan, didapatkan tekanan darah normal, nadi tinggi / takikardia, respirasi normal, mata exoptalmus, benjolan leher dengan konsistensi lunak dan tidak nyeri, TSHs turun (N= 2-5,4 IU/ml),FT3 naik (N= 0,8-2 ng/ml), FT4 naik (N= 4,5-13 g/dl). Dari data ini, diagnosis yang tepat adalah hipertiroidisme berupa penyakit grave. Gejala klinis penyakit grave adalah banyak berkeringat, suka dingin, sering berdebar, kedua tangan sering bergetar, nadi cepat adalah konsekuensi dari hipertiroidisme. Hormon tiroid berfungsi untuk meningkatkan metabolisme. Metabolisme yang cepat menghasilkan banyak panas sehingga tubuh akan banyak berkeringat, karena berkeringat tubuh lebih suka pada keadaan dingin. Metabolisme yang cepat membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga jantung memompa lebih banyak dan cepat sehingga jantung akan terasa berdebar-debar. Hormon tiroid juga mempengaruhi saraf simpatis. Ketika keadaan berlebih timbul gerakan tidak terkontrol berupa gemetar/ tremor. Exoptalmus pada penyakit grave disebabkan oleh pembengkakan otot-otot ekstraokulus dan pada jaringan retroorbital. Hal ini mendorong mata ke depan. Pembengkakan disebabkan oleh infiltrasi limfositik pada jaringan orbital disertai cairan edema dan mukopolisakarida. Pada skenario, pasien diberi pengobatan dengan propiltiourasil dan propanolol. Propiltiourasil adalah salah satu obat anti tiroid yang mempunyai kerja imunosupresif, dapat menurunkan konsentrasi thyroid stimulating imunoglobulin (TSI) sebagai penyebab penyakit grave. Perbaikan gejala biasanya terjadi 3 minggu dan eutiroidisme dapat terjadi 6-8 minggu. Selama pengobatan, pasien dipantau tiap bulan selama 3-4 bulan pertama, kemudian tiap 3-4 bulan, yaitu dengan pemeriksaan FT4. pemeriksaan TSH sangat membantu untuk mengetahui pengobatan yang berlebihan. Lama pengobatan umumnya 18-24 bulan. Apabila operasi, ini sangat efektif untuk menanggulangi hipertiroidisme. Namun harus dengan yang benar-benar ahli melakukannya. Bila dalam tindakan operasi, kelenjar yang tertinggal terlalu besar biasanya kambuh kembali, sedang bila terlalu kecil, terjadi hipotiroidisme. Selain itu, karena kelenjar paratiroid yang kecil dan menempel pada tiroid, ada kemungkinan ikut terangkat sehingga mengakibatkan hipoparatiroid.

Mengenai tetangga pasien yang juga mengalami benjolan di leher dan anaknya yang kretinisme, kemungkinan akibat hipotiroidisme. Kemungkinan pertama, si ibu ketika hamil terkena tiroiditis hashimoto, dimana diyakini disebabkan oleh autoimun. Sel IgG yang ada pada ibu, tertransfer ke janin lewat plasenta sehingga anaknya juga terkena hipotiroidisme, yang akhirnya kretinisme. Kemungkinan kedua, keluarga tersebut mengalami kekurangan yodium dalam pola makan atau makan memakan bahan goitrogenik. Pada kondisi kekurangan yodium, pembentukan hormon tiroid terganggu sehingga hipotiroidisme, akhirnyasi anak mengalami kretinisme. Inilah kemungkinan terkuat. PENUTUP SIMPULAN 1. Pasien pada skenario di atas menderita penyakit grave dengan gejala berupa manisfestasi dari hipertiroidisme. 2. Pasien harus mendapat perawatan yang teratur selama 18-24 bulan untuk menjadi normal kembali. 3. Tetangga pasien menderita hipotiroidisme dan anaknya mengalami kretinisme sebagai akibat hipotiroidisme dengan kemungkinan terbesar keluarga tersebut kekurangan yodium. SARAN 1. Pasien harus sabar menjalani perawatan, dan jika berani menanggung resiko, pasien bisa menjalani operasi dengan syarat mencari dokter yang ahli di bidangnya. 2. Sebaiknya tetangga pasien mengkonsumsi makanan yang diberi garam beryodium dan menghindari makanan goitrogenik. DAFTAR PUSTAKA 1. Ganong, William F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17th . Jakarta: EGC. 2. Guyton, AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th . Jakarta: EGC. 3. Hadley, Mac E. 2000. Endocrinology. 5th . New Jersey: Prentice Hall, inc. 4. Mansjoer, Arif, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. 5. Murray, Robert K (et al). 2003. Biokimia Harper. 5th ed. Jakarta : EGC 6. Parakrama Chandrasoma dan Clive R Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2. Jakarta : EGC. 7. Price and Willson. 2005. Patofisiologi. 6th . Jakarta: EGC. 8. Tjokronegoro, Arjatmo, dkk. 2002. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. A. Definisi Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Hipertiroidisme (Hyperthyrodism) adalah keadaan disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan sehingga menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah. Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus:

infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat. 1. Apakah itu tiroid ? Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah depan leher yang memproduksi hormon tiroid 2. Hormon Tiroid Hormon yang terdiri dari asam amino yang mengawal kadar metabolisme Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut immunooglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin), meningkatkan pembenftukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari kadar HT yang tinggi. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyaldt Grave tidak diketahuidan hormon calcitoninnamun tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, Yang paling sering terkena adalah wanita berusia antara 20an sampai 30an. Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu, tetap memproduksi HT dalm jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik. Dapat terjadi adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus, walaupun jarang. B. Klasifikasi Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) di bagi dalam 2 kategori: 1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme 2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme C. Penyebab Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan keduanya. Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambamn kadar HT dan TSH yang finggi. TRF akan Tendah karena uinpan balik negatif dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan. 1. Penyebab Utama a. Penyakit Grave b. Toxic multinodular goitre c. Solitary toxic adenoma 2. Penyebab Lain

a. Tiroiditis b. Penyakit troboblastis c. Ambilan hormone tiroid secara berlebihan d. Pemakaian yodium yang berlebihan e. Kanker pituitari f. Obat-obatan seperti Amiodarone D. Gejala-gejala 1. Peningkatan frekuensi denyut jantung 2. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap