Anda di halaman 1dari 3

Aspek Kolaboratif dalam Rencana Pemindahan Aparatur Sipil Negara (ASN) Ke Ibu

Kota Negara (IKN) Baru Nusantara

Kolaborasi menjadi hal sangat penting di tengah tantangan global yang dihadapi saat
ini. Banyak ahli merumuskan terkait tantangan-tantangan tersebut. Morgan (2020)
mengungkapkan lima tantangan yang dihadapi yaitu new behaviour, perkembangan
teknologi, tenaga kerja milenial, mobilitas tinggi, serta globalisasi. Vielmetter dan Sell (2014)
mengungkapkan tentang global mega trend 2013 yaitu Globalization 2.0, environmental
crisis, individualization and value pluralism, the digital era, demographic change, and
technological convergence.

Berkaitan dengan globaliasasi, IKN memiliki visi sebagai kota dunia dan akan
dibangun dengan konsep smart, green, beautiful, dan sustainable maka diperlukan dukungan
sumber daya ASN yang smart dan melek teknologi (tech savvy). Ini dimaksudkan agar ASN
mampu beradaptasi dengan simplikasi proses bisnis melalui penerapan ekosistem digital
pemerintahan. Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya ASN itu, Kementerian PANRB
menekankan bahwa ASN yang saat ini bekerja pada kementerian/lembaga harus siap pindah
ke IKN Nusantara.

Visi IKN baru adalah sebagai kota dunia untuk semua dan juga sebagai simbol
identitas bangsa yang modern dan berstandar internasional. IKN baru dibangun dan dikelola
dengan tujuan untuk menjadi kota paling berkelanjutan di dunia, sebagai penggerak ekonomi
Indonesia di masa depan, serta menjadi simbol identitas nasional. Mengacu pada visi
tersebut, konsep kelembagaan dan tata kelola pemerintahan di IKN berlandaskan pada smart
governance yang menghasilkan tata kelola pemerintahan yang efisien, efektif, dan
kolaboratif.

Kolaboratif adalah proses bekerja sama untuk menelurkan gagasan atau ide dan
menyelesaikan masalah secara bersama-sama menuju visi bersama. Collaborative governance.
Menurut Ansell dan Gash A (2007:559) mencakup kemitraan institusi pemerintah untuk
pelayanan publik. Sebuah pendekatan pengambilan keputusan, tata kelola kolaboratif,
serangkaian aktivitas bersama di mana mitra saling menghasilkan tujuan dan strategi dan berbagi
tanggung jawab dan sumber daya (Davies Althea L Rehema M. White, 2012).

Disini tata kelola kolaboratif lebih mendalam pelibatan aktor kebijakan potensial dengan
meninggalkan mestruktur kebijakan tradisional. Kondisi ini akan mungkin bila didukung
kepemimpinan yang kuat (Weber 2009). Pemimpin dalam konteks kolaboratif fokus pada
perekrutan perwakilan yang tepat, membantu memulihkan ketegangan yang mungkin ada di
antara mitra, mempromosikan dialog yang efektif dan saling menghormati antara pemangku
kepentingan dan menjaga reputasi kolaboratif di antara para peserta dan pendukungnya.

Meninjau rencana pemindahan ASN ke IKN baru dalam tata kelola kolaboratif,
pemerintah telah melakukan hal-hal berikut :

a. Perencanaan bersama antara Kementerian Perencanaan Pembangunan


Nasional/Bappenas, Kemenkeu, dan instansi terkait

b. Perekrutan/pemindahan ASN ke IKN baru

c. Pembangunan ekosistem digital multisektor

d. Penguatan koordinasi dan jejaring institusi

e. Penataan manajemen ASN melalui pengembangan kompetensi dan


pemenuhan kesejahteraan yang relevan

f. Perkantoran pemerintahan di IKN baru akan dibangun dalam konsep kantor


bersama (shared offices) yang mengedepankan konektivitas fisik dan
digital, flexible working arrangement agar cara kerja lebih informal, interaktif,
kasual, dan tidak terbatas ruang-ruang kantor, serta menerapkan cara kerja
secara hibrida yang berbasis TIK

ASN harus mampu menerapkan nilai berAKHLAK dalam setiap tugas


termasuk ketika tugas yang diberikan mengharuskan ASN berpindah lokasi kerja.
pada kasus tersebut ASN diminta mutasi dan pindah pada IKN dimana fasilitas
IKN jelas berbeda jauh dengan IBukota saat posisinya masih di jakarta dengan
segala fasilitas yang mendukung dengan memahami, menginternalisasi dan
implemeentasi nilai berAKHLAK maka keputusan presiden untuk memindahkan
ASN pusat ke IKN yang baru harusnya tidak menjadi hambatan dan masalah
sehingga proses terbentuknya IKN baru bisa lebih cepat dan penyelenggaraan
negara akan maksimal.
REFERENSI

Ansell, Chris & Gash, Alison. 2012.Collaborative Governance in Theory and Practice.
Jurnal JPART 18: 543-571.

Esteve March; Boyne, George; Sierra, Vicenta; Ysa, Tamyco. 2013. Organizational
Collaboration in the Public Sector: Do Chief Executives Make a Difference?. Journal of
Public Administration Research and Theory · October 2013.
Ratner. 2012. Collaborative Governance Assessment. Malaysia: CGIAR.

Suradinata, Ermaya, (1998), Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Bandung,


Ramadan.

Tri AS, 2021. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, Jakarta : LAN, hal 6-
17