Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA TN. H DENGAN


DIAGNOSA MEDIS BPH DENGAN TINDAKAN TRANSURETHRAL
RESECTION OF PROSTATE (TURP)
( Memenuhi Tugas Assesment Kompetensi 1b )

CI Pembimbing:
Tiorida Sihombing, Amk

Disusun Oleh :
Ns. Muhammad Ridho, S.Kep

Kualifikasi Bedah Rumah Sakit Hermina Bekasi


2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Perioperatif
pada Tn. H dengan Diagnosa Medis BPH dengan tindakan Transurethral Resection of Prostate
(TURP)” ini dapat diselesaikan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
Keperawatan Kegawatdaruratan, Alhamdullilah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati ingin mengucapkan terima
kasih kepada Tiorida Sihombing,Amk selaku pembimbing penulisan laporan kasus ini. Penulis
juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman – teman atas segala
bimbingan dan ilmu yang diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan
dalam penyusunan makalah ini akibat keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis. Oleh karena
itu, semua saran dan kritik akan menjadi sumbangan yang sangat berarti guna
menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya penulis mengharapkan laporan kasus ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.

Wassalamu’alaikum . Wr. Wb Bekasi , Januari 2021

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................................................i
Daftar Isi .......................................................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ............................................................................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................................................................................ 2
C. Manfaat Penulisan ...................................................................................................................................... 2
BAB II Tinjauan Teoritis
A. Definisi .......................................................................................................................................................... 3
B. Tahap Perkembangan Penyakit BPH .................................................................................................... 4
C. Anatomi Dan Fisiologi Prostat .............................................................................................4
D. Manifestasi Klinis ..................................................................................................................................... 7
E. Tes Diagnostik............................................................................................................................................. 8
F. Komplikasi ....................................................................................................................................................... 8
G. Pathway ....................................................................................................................................................... 10
H. Penatalaksanaan Medis ........................................................................................................................... 10
I. Indikasi dan Kontraindikasi TURP ..................................................................................................... 11
J. Komplikasi TURP .......................................................................................................................................... 12
K. Persiapan Klien TURP ............................................................................................................................ 13
L. Mekanisme TURP .................................................................................................................................... 13
M. Konsep Asuhan Keperawatan BPH dengan Tindakan Operasi TURP ........................................................... 14
BAB III Tinjauan Kasus
A. Pre Operatif ................................................................................................................................................ 22
B. Intra Operatif ............................................................................................................................................ 25
C. Post Operatif .............................................................................................................................................. 26
D. Analisa Data ............................................................................................................................................... 25
E. Diagnosis Keperawatan .......................................................................................................................... 26
F. Intervensi Keperawatan .......................................................................................................................... 28
G. Implementasi Keperawatan ................................................................................................................... 29
H. Evaluasi ....................................................................................................................................................... 33
BAB IV Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan ................................................................................................................................................ 36
B. Saran .............................................................................................................................................................. 36
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Benign Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit yang berhubungan dengan
penuaan yang paling sering terjadi pada pria. Gejala yang dirasakan dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari yang normal dan menganggu pola tidur. Gejala yang
dialami biasanya berupa peningkatan frekuensi berkemih, urgensi, penururnan aliran
air kencing dan adanya rasa tidak puas setelah buang air kecil. Tatalaksana BPH
mencakup tatalaksana non bedah dan pembedahan. ( Baradero, Dayrit, dkk, 2007).

Salah satu pembedahan yang sering dilakukan adalah Transurethral Rectoplasty of


the Prostate (TURP). TURP masih merupakan salah satu terapi standar dari
Hipertropi Prostat Benigna (BPH) yang menimbulkan obstruksi uretra. Operasi ini
sudah dikerjakan mulai beberapa puluh tahun yang lalu di luar negeri dan
berkembang terus dengan makin majunya peralatan yang dipakai. Tapi di Indonesia
ini relatif baru. Di RS Hermina Bekasi sendiri dalam 3 bulan terakhir ada 11 kali
tindakan TURP dilakukan pada pasien dengan BPH (Rekam Medik RS Hermina Bekasi,
2021). Terapi ini populer karena trauma operasi pada TURP jauh lebih rendah
dibandingkan dengan prostatektomi secara terbuka. Dalam TURP dilakukan reseksi
jaringan prostat dengan menggunakan kauter yang dilakukan secara visual.

Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada


saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadinya
pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta
otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase
penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka
destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi
untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan
hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Oleh karena itu penting bagi perawat
untuk mempelajari patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan
keperawatan yang komprehensif pada klien Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) beserta
keluarganya.

1
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan BPH secara komprehensif dengan TURP
Transurethral Resection Of The Prostate.

2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien BPH dengan
TURP
b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien BPH
dengan TURP
c. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah
keperawatan yang timbul pada klien BPH dengan TURP
d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada
klien BPH dengan TURP.

C. Manfaat Penulisan
1. Secara Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru atau paling tidak
mengingatkan kembali tentang konsep dasar penyakit BPH serta asuhan
keperawatan Perioperative pada klien dengan BPH. Dengan demikian, perawat
diharapkan semakin menyadari perannya sebagai tenaga kesehatan professional
yang perlu meningkatkan ilmu pengetahuan dan kualitas kerja yang efektif dan
efesien dengan menjadikan makalah ini sebagai sumber referensi tentang proses
keperawatan Perioperative klien dengan BPH.

2. Secara Aplikatif
Manfaat aplikatif diturunkan dari manfaat teoritis. Makalah ini diharapkan dapat
memberikan contoh asuhan keperawatan perioperative yang tepat, efektif dan
efesien, bermanfaat untuk mendukung proses Pre, Intra dan Post operasi sampai
pemulihan klien dengan BPH.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Ada beberapa pengertian penyakit Benigna Prostate Hiperplasia ( BPH ) menurut
beberapa ahli adalah :
1. Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar prostat,
memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter) dan ginjal
(hidronefrosis) secara bertahap (Smeltzer dan Bare, 2002).
2. BPH merupakakan pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk dalam
prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi
yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa, prostat
tersebut mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian periuretral menyebabkan
obstruksi leher kandung kemih dan uretra parsprostatika yang menyebabkan aliran
kemih dari kandung kemih (Price dan Wilson, 2006).
3. BPH merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada pria umur 50 tahun atau
lebih yang ditandai dengan terjadinya perubahan pada prostat yaitu prostat
mengalami atrofi dan menjadi nodular, pembesaran dari beberapa bagian kelenjar
ini dapat mengakibatkan obstruksi urine ( Baradero, Dayrit, dkk, 2007).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna Prostat


Hiperplasi (BPH) merupakan penyakit pembesaran prostat yang disebabkan oleh proses
penuaan, yang biasa dialami oleh pria berusia 50 tahun keatas, yang mengakibatkan
obstruksi leher kandung kemih, dapat menghambat pengosongan kandung kemih dan
menyebabkan gangguan perkemihan.

3
B. Tahap Perkembangan Penyakit BPH
Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat dan De jong (2005)
secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4 gradiasi :

Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur


ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan
sisa urin kurang dari 50 ml
Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok dubur
dan batas atas dapat dicapai, sedangkan sisa volum urin
50100 ml.
Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas
prostat tidak dapat diraba dan sisa volum urin lebih dari 100
ml.
Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total

C. Anatomi dan Fisiologi Prostat


1. Anatomi Prostat
Menurut Wibowo dan Paryana (2009). Kelenjar prostat terletak dibawah kandung
kemih, mengelilingi uretra posterior dan disebelah proksimalnya berhubungan

dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada
diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Gambar letak
prostat terlihat di gambar 2.1

4
Gambar 1 : Letak anatomi prostat ( Hidayat, 2009 )
Prostat terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran, dan otot polos Prostat dibentuk
oleh jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular. Prostat dibungkus oleh capsula
fibrosa dan bagian lebih luar oleh fascia prostatica yang tebal. Diantara fascia
prostatica dan capsula fibrosa terdapat bagian yang berisi anyaman vena yang disebut
plexus prostaticus. Fascia prostatica berasal dari fascia pelvic yang melanjutkan diri ke
fascia superior diaphragmatic urogenital, dan melekat pada os pubis dengan diperkuat
oleh ligamentum puboprostaticum. Bagian posterior fascia prostatica membentuk
lapisan lebar dan tebal yang disebut fascia Denonvilliers. Fascia ini sudah dilepas dari
fascia rectalis dibelakangnya. Hal ini penting bagi tindakan operasi prostat ( Purnomo,
2011).

Gambar 2 : Bagian prostat


Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 3050 kelenjar yang terbagi
atas empat lobus, lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior, dan lobus medial.
Lobus posterior yang terletak di belakang uretra dan dibawah duktus ejakulatorius,
lobus lateral yang terletak dikanan uretra, lobus anterior atau isthmus yang terletak di
depan uretra dan menghubungkan lobus dekstra dan lobus sinistra, bagian ini tidak
mengandung kelenjar dan hanya berisi otot polos, selanjutnya lobus medial yang
terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius, banyak mengandung kelenjar dan
merupakan bagian yang menyebabkan terbentuknya uvula vesicae yang menonjol
kedalam vesica urinaria bila lobus medial ini membesar. Sebagai akibatnya dapat
terjadi bendungan aliran urin pada waktu berkemih (Wibowo dan Paryana, 2009).

5
Menurut Hidayat, 2009 Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah
walnut atau buah kenari besar. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm,
dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat sekitar 20 gram. Bagian- bagian
prostat terdiri dari 50 – 70 % jaringan kelenjar, 30 – 50 % adalah jaringan stroma
(penyangga) dan kapsul/muskuler. Bagian prostat terlihat di gambar 2

Prostat merupakan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus


prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut parasimpatik dari
korda spinalis dan simpatik dari nervus hipogastrikus. Rangsangan parasimpatik
meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik
menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. System simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula
prostat, dan leher buli-buli. Ditempat itu terdapat banyak reseptor adrenergic.
Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot tersebut. Pada usia
lanjut sebagian pria akan mengalami pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasi
jinak sehingga dapat menyumbat uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya
obstruksi saluran kemih (Purnomo, 2011).

2. Fisiologi
Menurut Purnomo (2011) fisiologi prostat adalah suatu alat tubuh yang
tergantung kepada pengaruh endokrin. Pengetahuan mengenai sifat endokrin ini
masih belum pasti. Bagian yang peka terhadap estrogen adalah bagian tengah,
sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen. Oleh karena itu pada orang tua
bagian tengahlah yang mengalami hiperplasi karena sekresi androgen berkurang
sehingga kadar estrogen relatif bertambah. Sel-sel kelenjar prostat dapat
membentuk enzim asam fosfatase yang paling aktif bekerja pada pH 5.
Kelenjar prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih susu dan bersifat
alkalis. Cairan ini mengandung asam sitrat, asam fosfatase, kalsium dan
koagulase serta fibrinolisis. Selama pengeluaran cairan prostat, kapsul kelenjar
prostat akan berkontraksi bersamaan dengan kontraksi vas deferen dan cairan
prostat keluar bercampur dengan semen yang lainnya. Cairan prostat merupakan
70% volume cairan ejakulat dan berfungsi memberikan makanan spermatozon
dan menjaga agar spermatozon tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana
sekret vagina sangat asam (pH: 3,5-4). Cairan ini dialirkan melalui duktus
skretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama

6
cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat kurang lebih
25% dari seluruh volume ejakulat. Dengan demikian sperma dapat hidup lebih
lama dan dapat melanjutkan perjalanan menuju tuba uterina dan melakukan
pembuahan, sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH cairan sekitarnya
meningkat 6 sampai 6,5 akibatnya mungkin bahwa cairan prostat menetralkan
keasaman cairan dan lain tersebut setelah ejakulasi dan sangat meningkatkan
pergerakan dan fertilitas sperma ( Wibowo dan Paryana, 2009 ).

3. Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab
terjadinya BPH, namun beberapa hipotesisi menyebutkan bahwa BPH erat
kaitanya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses
menua. Terdapat perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia
30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi
perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun, dan angka
kejadiannya sekitar 50%, untuk usia 80 tahun angka kejadianya sekitar 80%, dan
usia 90 tahun sekiatr 100% (Purnomo, 2011)

Etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga
menjadi penyebab timbulnya Benigna Prosat, teori penyebab BPH menurut
Purnomo (2011) meliputi, Teori Dehidrotestosteron ( DHT), teori hormon
(ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron), faktor interaksi stroma dan
epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel (apoptosis), teori sel stem.

D. Manifestasi Klinis
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan
diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda dan gejala dari BPH yaitu :
keluhan pada saluran kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih bagian atas, dan
gejala di luar saluran kemih.
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
a. Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung kemih
sehingga urin tidak bisa keluar), hesitansi (sulit memulai miksi),
pancaran miksi lemah, Intermiten (kencing terputus-putus), dan miksi
tidak puas (menetes setelah miksi)

7
b. Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi ( perasaan ingin
miksi yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas


Akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa adanya gejala
obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang (merupakan tanda dari
hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.

3. Gejala diluar saluran kemih


Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada saan miksi sehingga
mengakibatkan tekanan intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang
tampak pada pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar,
kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual dan muntah, rasa
tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi
kronis dan volume residual yang besar.

E. Tes Diagnostik
1. Cek darah lengkap, untuk mengevaluasi adanya infeksi dan anemia dalam
hematuria
2. Blood Urea Nitrogen (BUN) , untuk mengetahui tingkat serum kreatinin dan
mengevaluasi fungsi renal
3. A Prostate-specific Antigen (PSA), jika terkena kanker prostat dapat diketahui
dari tingkat keasaman fosfat.
4. TRUS (Transrectal Ultrasound Antigen)  untuk mendeteksi adanya kanker
prostat, aliran urine, dan systoscopy
5. Cystoureroscopy : untuk mengevaluasi obstruksi leher kandung kemih
6. Pemeriksaan Trans Abdominal Ultra Sound (TAUS) dapat mendeteksi adanya
hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.

F. Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
2. Infeksi saluran kemih
3. Involusi kontraksi kandung kemih
8
4. Refluk kandung kemih
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
7. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut
dapat pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan
pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu
miksi pasien harus mengedan.

9
G. Pathway

H. Penatalaksaan Medis
1. Konservatif
Therapi obat hormonal untuk mengurangi hiperplasia jaringan dengan
menurunkan endogren.
a. Finasteride (proscar) block, enzim 5α – reduktase.
b. Penyekat reseptor alfa adrenergik, misalnya minipres, cardura, hytrin
dan flamox untuk melemaskan otot halus kolum kandung kemih dan
prostat.
10
2. Pembedahan
a. TUIP (Transurethral incision of the Prostate) Yaitu dilakukan anastesi
local pada pembedahan ini. Pembedahan ini dilakukan pada pria yang
baru mengalami gejala awal dan mengurangi tekanan pada ureter.
b. Transuretral microwave thermotherapy (TUMT): memanaskan dan
menggumpalkan jaringan prostat melalui probe transuretal. Kateter
kemih dapat dibiarkan di tempat selama satu minggu setelah perawatan
untuk memfasilitasi lewatnya jaringan nekrotik dan mencegah retensi
urin.
c. Teansuretral nedlle ablation (TUNA): menempatkan jarum frekuensi
radio langsung ke prostat untuk membekukan daerah jaringan spesifik
hematuria.
d. Transuretral Resection of the prostate (TURP): suatu operasi
pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektoskop.
TURP merupakan operasi tertutup tanpa insisi serta tidak mempunyai
efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan
pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram dan
kemudian dilakukan reseksi.
e. Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter folly 3 saluran yang
dilengkapi balon 30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan
darah dari kandung kemih. Irigasi kandung kemih yang konstan
dilakukan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan darah lagi. Kemudian
kateter dibilas tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter diangkat setelah
3-5 hari setelah operasi dan pasien harus sudah dapat berkemih dengan
lancar. TURP masih merupakan standar emas.

I. Indikasi dan Kontraindikasi TURP


Secara umum indikasi untuk metode TURP adalah pasien dengan gejala sumbatan yang
menetap, progresif akibat pembesaran prostat, atau tidak dapat diobati dengan terapi
obat lagi.Indikasi TURP ialah gejala-gejala dari sedang sampai berat, volume prostat
kurang dari 60 gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi.

Menurut Agency for Health Care Policy and Research guidelines, indikasi absolute
pembedahan pada BPH adalah sebagai berikut :
1. Retensi ur ine yang berulang.
11
2. Infeksi saluran kemih rekuren akibat pembesaran prostat.
3. hematuria berulang.
4. Insufisiensi ginjal akibat obstruksi saluran kemih pada kandung kemih.
5. Kerusakan permanen kandung kemih atau kelemahan kandung kemih.
6. Divertikulum yang besar pada kandung kemih yang menyebabkan pengosongan
kandung kemih terganggu akibat pembesaran prostat.

Kontraindikasi TURP
1. Kemampuan klien menjalani bedah dan anastesi lumbal
2. Status kardiopulmoner yang tidak stabil, seperti baru mengalami infark miokard dan
dipasang stent arteri koroner
3. Riwayat kelainan perdarahan yang sulit disembuhkan
4. Klien dengan disfungsi sfingter uretra eksterna pada penderita miastenia gravis,
fraktur pelvis mayor
5. Klien dengan kanker prostat yang baru menjalani radioterapidan kemoterapi

J. Komplikasi TURP
1. Kesulitan berkemih yang temporer, efek anastesi dapat mengurangi sensasi
ingin berkemih setelah operasi. Hal ini dapat menyebabkan klien secara
temporer kesulitan dalam berkemih
2. Infeksi saluran kemih bawah, luka insisi akibat TURP menyebabkan jaringan
sekitar terpapar langsung dengan urine atau kateter, dan dapat menyebabkan
infeksi saluran kemih bagian bawah
3. Rendahnya natrium dalam darah, merupakan komplikasi yang jarang terjadi,
namun dapat menjadi berbahaya, sering juga disebut dengan syndrome TUR
(Transurethral Resection). Hal ini terjadi ketika tubuh mengabsorbsi natrium
yang disunakan untuk membilas luka reseksi TURP.
4. Perdarah yang berlebihan pada urin (hematuria) , aliran urin, mengejan, jaringan
reseksi yang masuk kedalam kandung kemih dapat menyebabkan tercampurnya
darah dengan urin
5. Kesulitan menahan untuk berkemih, sfingter urin internus akan hilang setelah
TURP, klien hanya mengandalkan sfingter urin eksternus
6. Disfungsi seksual, belum diketahui jelas penyebabnya, namun diderita krang
lebih 70% klien pasca TURP. Hal ini dapat dikaitkan dengan fungsi prostat itu

12
sendiri untuk mengalirkan cairan yang dikeluarkan bersama dengan air mani
saat ejakulasi.

K. Persiapan Klien TURP


1. Bila seorang perokok maka harus berhenti merokok beberapa minggu sebelum
operasi, untuk menghindari gangguan proses penyembuhan
2. Bila klien menggunakan obat seperti aspirin dan ibuprofen maka harus berhenti
paling tidak 2 minggu sebelum operasi, hal berhubungan dengan bahwa obat
tersebut mempengaruhi pembekuan darah
3. Beritahu tentang anastesi lumbal, dan posisi litotomi saat bedah berlangsung
4. Riwayat penyakit harus kembali diinformasikan kepada bedah urologi seperti
hipertensi, diabetes, anemia, pernah mengalami operasi apa sebelumnya
5. Informasikan kepada bedah urologi tentang obat dan suplemen yang di
konsumsi, baik yang ada resepnya dari dokter atau non-resep.
6. Pemeriksaan diagnostik (CBC, coagulation profile, urinalisis, Xray, CT
abdomen)
7. Puasa paling tidak 8 jam sebelum operasi dilakukan.

Hal-hal yang perlu diberitahu pada klien pasca TURP dintaranya:


1. Ingatkan klien untuk melakukan mobilisasi awal setelah operasi
2. Tarik napas dalam dalam penanganan Nyeri setelah operasi
3. Beri tahu perawat bila keberadaaan kateter berubah setelah operasi
4. Melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap dan kembali keaktivitas normal
setelah 4-6 minggu.
5. Menghindari mengangakat benda berat dan aktivitas sexual setelah 3-4 minggu
6. Menggunkan obat sesuai dengan resep dari dokter terutama menghabiskan
antibiotik.

L. Mekanisme TURP
TURP dilakukan dengan memakai alat yang disebut resektoskop dengan suatu
lengkung diathermi. Jaringan kelenjar prostat diiris selapis demi selapis dan dikeluarkan
melalui selubung resektoskop. Perdarahan dirawat dengan memakai diathermi, biasanya
dilakukan dalam waktu 30 sampai 120 menit, tergantung besarnya prostat. Selama
operasi dipakai irigan akuades atau cairan isotonik tanpa elektrolit. Prosedur ini
dilakukan dengan anastesi regional ( Blok Subarakhnoidal / SAB / Peridural ). Setelah
13
itu dipasang kateter nomer Ch. 24 untuk beberapa hari. Sering dipakai kateter bercabang
tiga atau satu saluran untuk spoel yang mencegah terjadinya pembuntuan oleh
pembekuan darah. Balon dikembangkan dengan mengisi cairan garam fisiologis atau
akuades sebanyak 30 – 50 ml yang digunakan sebagai tamponade daerah prostat dengan
cara traksi selama 6 – 24 jam. Traksi dapat dikerjakan dengan merekatkan ke paha klien
atau dengan memberi beban (0,5 kg) pada kateter tersebut melalui katrol. Traksi tidak
boleh lebih dari 24 jam karena dapat menimbulkan penekanan pada uretra bagian
penoskrotal sehingga mengakibatkan stenosis buli – buli karena ischemi. Setelah traksi
dilonggarkan fiksasi dipindahkan pada paha bagian proximal atau abdomen bawah.
Antibiotika profilaksis dilanjutkan beberapa jam atau 24 – 48 jam pasca bedah. Setelah
urin yang keluar jernih kateter dapat dilepas .Kateter biasanya dilepas pada hari ke3–
5.Untuk pelepasan kateter, diberikan antibiotika 1 jam sebelumnya untuk mencegah
urosepsis. Biasanya klien boleh pulang setelah miksi baik, satu atau dua hari setelah
kateter dilepas

Gambar Prosedur TURP

M. Konsep Asuhan Keperawatan Bph Dengan Tindakan Operasi Turp


1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulan informasi / data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik, mental,
sosial dan lingkungan ( Nasrul, E,1995: 18).
a. Pengumpulan data
Data yang perlu dikumpulkan dari klien meliputi :
1) Identitas klien
Merupakan biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,
agama,sukubangsaras, pendidikan, bahasa yang dipakai, pekerjaan,
14
penghasilan dan alamat. Jenis kelamin dalam hal ini klien adalah
laki - laki berusia lebih dari 50 tahun dan biasanya banyak dijumpai
pada ras Caucasian (Donna, D.I, 1991 : 1743 )
2) Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien BPH pasca TURP
adalah nyeri yang berhubungan dengan spasme buli - buli.
Pada saat mengkaji keluhan utama perlu diperhatikan faktor yang
mempergawat atau meringankan nyeri ( provokative / paliative ), rasa
nyeri yang dirasakan (quality), keganasan / intensitas ( saverity )
dan waktu serangan, lama, kekerapan (time)
3) Riwayat penyakit sekarang
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH dikenal dengan
Lower Urinari Tract Symptoms (LUTS) antara lain : hesitansi, pancar
urin lemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah
selesai miksi, urgensi, frekuensi dan disuria (Sunaryo, H, 1999 : 12,
13).
Perlu ditanyakan mengenai permulaan timbulnya keluhan, hal-hal yang
dapat menimbulkankeluhan pula bahwa munculnya gejala untuk
pertama kali atau berulang.
4) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan
keadaan penyakit sekarang perlu ditanyakan . Diabetes Mellitus,
Hipertensi, PPOM, Jantung Koroner, Dekompensasi Kordis dan
gangguan faal darah dapat memperbesar resiko terjadinya penyulit
pasca bedah ( Sunaryo, H, 1999 : 11, 12, 29 ). Ketahui pula adanya
riwayat penyakit saluran kencing dan pembedahan terdahulu.
5) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pada anggota keluarga yang sifatnya menurun
seperti : Hipertensi, Diabetes Mellitus, Asma perlu digali .
6) Riwayat psikososial
Kaji adanya emosi kecemasan, pandangan klien terhadap dirinya serta
hubungan interaksi pasca tindakan TURP.
7) Pola – pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

15
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena tirah
baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri
karena spasme buli - buli memerlukan penggunaan anti
spasmodik sesuai terapi dokter (Marilynn. E.D, 2000 : 683).
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang di lakukan anasthesi SAB tidak boleh makan dan
minum sebelum flatus.
c. Pola eliminasi
Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP.
Retensi urin dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada
kateter. Sedangkan inkontinensia dapat terjadi setelah kateter
di lepas (Sunaryo, H, 1999: 35)
d. Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang
lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada
paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi
selama traksi masih diperlukan.
e. Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat
mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
f. Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan
Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP.
g. Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan tentang
perawatan dan komplikasi pasca TURP.
h. Pola hubungan dan peran
Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit maka
dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam
keluarga tempat kerja dan masyarakat.
i. Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi
retrograde
j. Pola penanggulangan stress

16
Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang
perawatan dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada
klien dan mekanisme koping klien terhadap stres tersebut.

8) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan didasarkan pada sistem – sistem tubuh antara lain :
a. Keadaan umum
Setelah operasi klien dalam keadaan lemah dan kesadaran baik,
kecuali bila terjadi shock. Tensi, nadi dan kesadaran pada fase awal
( 6 jam ) pasca operasi harus diminitor tiap jam dan dicatat. Bila
keadaan tetap stabil interval monitoring dapat diperpanjang misalnya 3
jam sekali .
b. Sistem pernafasan
Klien yang menggunakan anasthesi SAB tidak mengalami
kelumpuhan pernapasan kecuali bila dengan konsentrasi tinggi
mencapai daerah thorakal atau servikal (Oswari, 1989 : 40).
c. Sistem sirkulasi
Tekanan darah dapat meningkat atau menurun pasca TURP. Lakukan
cek Hb untuk mengetahui banyaknya perdarahan dan observasi cairan
(infus, irigasi, per oral) untuk mengetahui masukan dan haluaran.
d. Sistem neurologi
Pada daerah kaudal akan mengalami kelumpuhan (relaksasi otot) dan
mati rasa karena pengaruh anasthesi.
e. Sistem gastrointestinal
Anasthesi menyebabkan klien pusing, mual dan muntah .Kaji bising
usus dan adanya massa pada abdomen .
f. Sistem urogenital
Setelah dilakukan tindakan TURP klien akan mengalami hematuri .
Retensi dapat terjadi bila kateter tersumbat bekuan darah. Jika terjadi
retensi urin, daerah supra sinfiser akan terlihat menonjol, terasa
ada ballotemen jika dipalpasi dan klien terasa ingin kencing
(Sunaryo, H ,1999 : 16). Residual urin dapat diperkirakan dengan cara
perkusi. Traksi kateter dilonggarkan selama 6 - 24 jam (Doddy, 2001
: 6).
g. Sistem muskuloskaletal
17
Traksi kateter direkatkan di bagian paha klien. Pada paha yang
direkatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
(Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21).

9) Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorik
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar hemoglobinnya dan perlu
diulang secara berkala bila urin tetap merah dan perlu di periksa ulang bila
terjadi penurunan tekanan darah dan peningkatan nadi. Kadar serum kreatinin
juga perlu diulang secara berkala terlebih lagi bila sebelum operasi kadar
kreatininnya meningkat. Kadar natrium serum harus segera diperiksa bila
terjadi sindroma TURP. Bila terdapat tanda septisemia harus diperiksa kultur
urin dan kultur darah ( Tim Keperawatan RSUD dr. Soetomo, 1997)
b. Uroflowmetri
Yaitu pemeriksaan untuk mengukur pancar urin. Dilakukan setelah kateter
dilepas (Lab / UPF Ilmu bedah RSUD dr. Soetomo, 1994 : 114).
c. Analisa dan sintesa data
Setelah data dikumpulkan, dikelompokkan dan dianalisa kemudian data
tersebut dirumuskan ke dalam masalah keperawatan . Adapun masalah yang
mungkin terjadi pada klien BPH pasca TURP antara lain : nyeri, retensi
urin, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi kelebihan cairan, resiko tinggi
ketidakefektifan pola napas, resiko tinggi kekurangan cairan, kurang
pengetahuan, inkontinensia dan resiko tinggi disfungsi seksual .

2. Diagnosis Keperawatan
a. Perubahan eliminasi urin b.d. Obstruksi mekanikal : Bekuan darah,edema ; Tekanan
dan iritasi kateter/balon ; Hilang tonus kandung kemih sehubungan dengan distensi
berlebihan praoperasi.

Data Pendukung :
Frekuensi, urgensi, disuria, inkontinensia, retensi, kandung kemih
penuh,ketidaknyamanan suprapubik.

Kriteria Hasil:
18
Pasien akan memperbaiki pola berkemih yang normal tanpa retensi. Pasien akan
dapat mengontrol pola berkemih.

Intervensi Keperawatan:
1) Kaji pengeluaran urin khususnya selama irigasi kandung kemih
R/ Retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah, dan spasme
kandung kemih. Perhatikan waktu, jumlah berkemih, setelah kateter dilepas.
Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih; ketidakmampuan berkemih,
urgensi. Kateter biasanya dilepas 2 5 hari setelah pembedahan, tetapi keluhan
penuh pada bladder masih tetap terjadi karena adanya edema pada uretra.
2) Motivasi pasien untuk berkemih jika ada keinginan untuk berkemih.
R/ Mencegah terjadinya retensi urin.
3) Anjurkan pasien untuk minum 3000 ml setiap hari. Batasi cairan pada malam
hari, setelah kateter dilepas.
R/ Mempertahankan hidrasi yang adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urin.
4) Instruksikan pasien untuk latihan perineal, contoh mengencangkan bokong,
menghentikan dan memulai aliran urin.
R/ Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih/ sfingter,
meminimalkan inkontinensia.
5) Pertahankan irigasi kandung kemih secara kontinu sesuai indikasi pada
periode pasca operasi.
R/ Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk
mempertahankan aliran urin.

b. Risiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. area bedah vaskuler ; kesulitan
mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukan preoperasi

Data Pendukung:
( Tidak dapat diterapkan : adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnosa aktual
)

Kriteria Hasil:
Mempertahankan hidrasi yang dekuat dengn tandavital stabil, ndi perifer teraba ,
pengisian kapiler baik, membran mukosa lembab dan keluaran urin tetap serta tidak
ada perdarahan aktif.
19
Intervensi Keperawatan:
1) Observasi intake dan output
R/ Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
2) Observasi drainase kateter dan perhatikan perdarahan yang berlebihan/
berlanjut.
R/ dengan mengetahui adanya perdarahan dapat menentukan intervensi yang
diberikan sebagai evaluasi medik.
3) Observasi tanda-tanda vital
R/ Perubahan tanda-tanda vital akibat perdarahan dapat menunjukan
terjadinya syok hipovolemik.
4) Tingkatkan pemasukan cairan 3000 ml Perhari kecuali jika ada
kontraindikasi membilas ginjal / kandung kemih dari bakteri dan debris tetapi
dapat mengakibatkan intoksikasi cairan / kelebihan cairan bila tidak diawasi
dengan ketat. Observasi hasil laboratorium sesuai indikasi [ Hb,Ht,jumlah
sel darah merah.
R/ Berguna dalam mengevaluasi kehilangan darah dan kebutuhan
penggantiannya.

c. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d. prosedur invasif : alat selama pembedahan,
kateter, irigasi kandung kemih yang sering ; trauma jaringan, insisi bedah.

Data Pendukung:
( Tidak dapat diterapkan : adanya tanda-tanda dan gejala membuat diagnosa aktual
)

Kriteria Hasil:
Pasien tidak menunjukan terjadinya tanda-tanda infeksi.

Intervensi Keperawatan:
1) Berikan perawatan kateter secara teratur .
R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi.
2) Mengganti balutan dengan sering
R/ balutan yang basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media
untuk pertumbuhan bakteri
20
3) Observasi tanda-tanda vital, tanda-tanda infeksI Pemberian antibiotik sesuai
indikasi
R/ Untuk mencegah terjadinya infeksi.

d. Nyeri ( akut ) b.d. iritasi mukosa kandung kemih; refleks spasme otot sehubungan
dengan prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon kandung kemih.

Data Pendukung:
1) Nyeri spasme kandung kemih
2) Wajah meringis,gelisah

Kriteria Hasil:
1) Pasien akan melaporkan nyeri hilang / terkontrol
2) Pasien akan menunjukan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktivitas
teraupetik sesuai indikasi untuk situasi individu.
3) Pasien akan tampak rileks, tidur/istirahat dengan tenang.

Intervensi Keperawatan:

1) Pertahankan posisi kateter. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan


bekuan.
R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan risiko
distensi/ spasme kandung kemih.
2) Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi. R/ Menurunkan
iritasi dengan mempertahankan aliran cairan secara tetap ke mukosa kandung
kemih.
3) Berikan rendam duduk atau lampu penghangat
R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema dan meningkatkan
penyembuhan.
4) Berikan antispamodik.
R/ Merilekskan otot polos, untuk menurunkan spasme.

e. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d.


Kurang mengingat, salah interpretasi data ; kurang terpapar terhadap informasi.

21
Data Pendukung :
Pasien selalu menanyakan tentang penyakitnya ; Tidak akurat mengikuti instruksi.

Kriteria Hasil:
Pasien akan memahami tentang prosedur bedah dan pengobatan, Pasien akan akan
berpartisipasi dalam program pengobatan.

Intervensi Keperawatan:
1) Pendidikan Kesehatan
2) Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake nutrisi; dorong pasien untuk
konsumsi buah-buahan,meningkatkan diet tinggi serat
3) Anjurkan kepada pasien untuk membatasi aktifitas misalnya menghindari
mengangkat beban berat, latihan keras, duduk yang terlalu lama, memanjat
tangga.
4) Motivasi latihan berkemih
5) Ajarkan tentang cara perawatan kateter

22
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN PRE OPERATIF


DATA UMUM
1. Nama : Tn. H
2. Umur : 76 tahun
3. Alamat : Pondok Gede No.23 RT 007/03
4. No. RM : C641080
5. Diagnosa Medis : Retensio Urine ec Hiperplasia Prostate
6. Tindakan Operasi : TURP
7. Jenis Anestesi : Anastesi Spinal

RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
Tidak bisa buang air kecil dengan normal sejak 3 bulan yang lalu.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan tidak bisa buang air kecil, buli terasa penuh, nyeri tekan daerah buli.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan mempunyai riwayat darah tinggi , diabetes melitus.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan keluarga tidak ada yang sakit seperti pasien
5. Riwayat Operasi Sebelumnya
Pasien mengatakan belum pernah menjalani operasi sebelumnya
6. Data Psikologis
- Pasien tampak gelisah
- Pasien seringkali menanyakan tentang keberhasilan operasi
- Pasien mengatakan takut dan cemas jika operasinya tidak berhasil

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran composmentis E4M6V5, pasien tampak cemas
2. TTV
TD : 129/63 mmHg
Nadi : 90 x/menit
22
RR : 20 x/menit
T : 36oC

3. Head to toe
Bagian Keterangan
Kepala Bentuk kepala mesochepal
Mata Kelopak mata simetris antara kanan dan kiri, sklera tidak
ikterik
Hidung Lubang hidung simetris antara kanan dan kiri, tidak ada
sekret pada lubang hidung.
Telinga Kedua telinga simetris antara telinga kanan dan telinga kiri,
tidak ada serumen yang keluar
Mulut Bibir simetris, mukosa bibir lembab, tidak ada sianosis
pada bibir, tidak ada bibir sumbing
Leher Tidak ada benjolan di leher, permukaan halus, batas tegas,
konsistensi kenyal, tidak ada gangguan saat menelan
Ekstremitas - Kekuatan otot
5555 5555
5555 5555
Keterangan :
0 : Paralisis sempurna
1 : Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat di palpasi atau
di lihat
2 : Gerakan otot penuh melawan gravitasi, dengan
topangan
3 : Gerakan yang normal melawan gravitasi
4 : Gerakan yang penuh melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
5 : Kekuatan normal, gerakan penuh yang normal melawan
gravitasi dan melawan tahanan penuh.
- Tidak terdapat edema pada ekstremitas atas dan bawah
- Ekstremit Atas :
Kanan: Capillary refill <2 detik, turgor kulit elastis,
terpasang infus di ekstremitas atas sebelah kiri
Kiri: Capillary refill <2 detik, turgor kulit elastis,
- Ekstremitas Bawah :
Kanan: Capillary refill <2 detik, turgor kulit elastis
Kiri: Capillary refill <2 detik, turgor kulit elastis
-
Kulit dan Warna kulit pasien sawo matang, turgor kulit elastis, kulit
kuku tampak kering, capillary refill <2 detik, kulit teraba dingin

KEBUTUHAN FUNGSIONAL
1. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
Pasien mengatakan selera makan berkurang akibat nyeri di dada.

2. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman

23
Pasien tampak mengerutkana wajah ditanya-tanya
Pengkajian nyeri:
P : pasien mengatakan nyeri semakin berat saat buli ditekan dan saat bergerak
Q : pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk
R : pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
S : pasien mengatakan nyeri skala 3-4
T : pasien mengatakan nyeri timbul sewaktu-waktu

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Keterangan
Hematologi
Darah Tepi
Hb 13.5 14.0 – 16.0 g/dL
Ht 30.9 40 – 52 %
Leukosit 9.17 3.8 – 10.6 103/µL
Trombosit 372 150 - 440 103/µL
Haemostasis
PT
Pasien 11.80 10.8 – 14.4 Detik
Kontrol 14.20 12.5 - 17.0 Detik
APTT
Pasien 28.90 27 – 38 Detik
Kontrol 32.70 28 - 39 Detik
Kimia Darah
Diabetes
Glukosa sewaktu 152 < 100 : Bukan mg/dL
DM
100-199: belum
pasti DM
Ginjal ≥200 :
Ureum 31.50 Kemungkinan mg/dL
Kreatinin 1.10 DM mg/dL
eGFR 69.17 10.00 – 43.00 ml/min/1.73m2
0.5 – 1.30
>60 berlaku untuk
usia≥16 tahun
Urinalisa
Urine Lengkap
Makroskopik
Warna Kuning Kuning muda-
Kejernihan Keruh Tua
Jernih
Kimia
pH 6.0
Berat Jenis 1.010 7.0 – Netral
Protein Positif 1.005-1.030
Glukosa Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Urobilinogen 0.2 Negatif mg/dL

24
Keton Negatif 0.1 – 1
Blood Positif 2 Negatif
Lekosistesterase Positif 1 Negatif
Nitrit Positif Negatif
Negatif
Sediment (Mikroskopik)
Leukosit 5-6 /LPK
Eritrosit 4-6 1-6 /LPK
Epitel Positif 0-1 /LPK
Silinder Negatif Positif /LPK
Kristal Negatif Negatif /LPK
Bakteri Positif 1 Negatif /LPK
Ragi Positif Negatif /LPK
Negatif
KIMIA DARAH
Hati
Albumin 3.2 3.5-5.2 mg/dL

Pemeriksaan Radiologi Thorax PA : Tidak tampak kelainan radiologis pada jantung dan paru.

Pemeriksaan USG Abdomen lengkap: Gastritis, Cholelithiasis, Pembesaran prostat sugestif


benign, tidak tampak kelainan pada organ-organ intra abdomen.

B. PENGKAJIAN INTRA OPERATIF


1. Keadaan Umum
Pasien diinduksi dengan anastesi spinal, E4M6V5. Terpasang O2 nassal canule 2L/menit
2. TTV
TD : 98/ 62 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 24 x/menit
T : 36oC
3. Pemeriksaan Fisik
Prostat : dilakukan tindakan Transuretral Resection of the prostate (TURP) dengan
cairan Irigan, ditemukan penyempitan pada prostat, tindakan telah dilakukan
selama 30 menit. Perdarahan ±50cc. Jaringan prostat di kirim ke laboratorium
Patologi Anatomi.

25
C. PENGKAJIAN POST OPERATIF
A. Keadaan Umum
Pasien tampak mengantuk, GCS E4M6V5
B. TTV
TD : 128/ 80 mmHg
HR : 76 x/menit
RR : 18 x/menit
T : 36,5oC
C. Pemeriksaan Fisik
Saluran Kemih: dilakukan bilasan vesika urinaria dengan Folley Catheter threeway
cairan NaCl, Urine kemerahan.

26
D. ANALISA DATA
TGL, JAM DATA FOKUS MASALAH ETIOLOGI
Pre Operatif
26 Januari DS: Nyeri akut Retensi Urin
2021 - P : pasien mengatakan nyeri semakin berat saat buli ditekan dan saat
15.00 WIB bergerak
- Q : pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk
- R : pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
- S : pasien mengatakan nyeri skala 3-4
- T : pasien mengatakan nyeri timbul sewaktu-waktu
DO:
- Pemeriksaan USG Abdomen lengkap: Gastritis, Cholelithiasis,
Pembesaran prostat sugestif benign,
26 Januari DS: Kecemasan Krisis situasional:
2021 - Pasien mengatakan belum pernah menjalani operasi sebelumnya prosedur operasi
15.10 WIB - Pasien mengatakan takut jika operasi tidak berhasil TURP
DO:
- Pasien tampak gelisah
- Pasien menanyakan tentang berapa lama operasi berlangsung
- Pasien menanyakan tentang efek setelah operasi

Intra Operatif
26 Oktober DS: - Resiko Cauterisasi
2019 DO: perdarahan jaringan prostat
16.00 WIB - Pasien menjalani prosedur TURP
- Dilakukan Cauterisasi jaringan prostat

25
Post Operatif
26 Januari DS: - Perubahan Terpasangnya
2021 DO: eliminasi Urin Foley Catheter
16.40 WIB - Post Operasi TURP
- Terpasang Folley Catheter 3-way Ch.24 dengan irigasi cairan NaCL
selama 3-5 hari sampai urin jernih secara traksi selama 6-24 jam.
- Urine berwarna kemerahan

E. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Pre Operatif
1. Nyeri akut berhubungan dengan Retensi Urin
2. Kecemasan berhubungan dengan Krisis situasional: prosedur operasi TURP
Intra Operatif
3. Resiko perdarahan berhubungan dengan Cauterisasi jaringan prostat
Post Operatif
4. Perubahan eliminasi Urin berhubungan dengan terpasangnya Folley Catheter

26
F. INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanggal/ Dx. Kep. Tujuan/ Kriteria Hasil Intervensi
Jam
Pre Operasi
26 Januari 1 Setelah dilakukan tindakan
2021 keperawatan selama 30  Monitor nyeri pasien meliputi faktor penyebab, kualitas, lokasi, level,
15.00 WIB menit, masalah nyeri yang dan juga waktu timbulnya nyeri
dialami pasien berkurang,  Monitor vital sign
dengan kriteria hasil:  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan pasien
 Pasien tampak  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
melakukan relaksasi ruangan, pencahayaan dan kebisingan
dengan baik  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Nyeri berkurang dengan  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: nafas dalam, relaksasi,
teknik relaksasi, dari distraksi, kompres hangat/ dingin
level 2 menjadi level 1  Tingkatkan istirahat
(skala 10)  Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
26 Januari 2 Setelah dilakukan tindakan
2021 keperawatan selama 15  Kaji tingkatkecemasan pasien
15.10 WIB menit, masalah kecemasan  Jelaskan tentang prosedur, termasuk sensasi selama prosedur dilakukan
yang dialami pasien  Kaji pemahaman perspektif pasien tentang situasi yang mencemaskan
berkurang, dengan kriteria  Berikan informasi yang berfokus pada diagnosis, penatalaksanaan, dan
hasil: keberlanjutan
 Pasien mengatakan  Dampingi pasien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi
cemas berkurang ketakutan
 Bantu pasien mengkaji penyebab kecemasan
 Dengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian

27
 Pasien mengatakan  Tingkatkan mekanisme koping yang efektif
mengerti prosedur  Kaji respon verbal dan nonverbal dari tanda-tanda kecemasan
operasi  Ajarkan teknik relaksasi
 Pasien mengatakan siap  Anjurkan pasien untuk berdoa
untuk operasi  Berikan support mental kepada pasien
 Pasien mengatakan
mengerti pentingnya
operasi untuk sembuh
Intra Operasi
26 Januari 3 Setelah dilakukan tindakan
2021 keperawatan selama 30-60  Identifikasi sumber perdarahan
16.00 WIB menit, perdarahan dapat  Monitor jumlah perdarahan
diminimalisir, dengan  Monitor tanda-tanda penurunan trombosit/ hematokrit
kriteria hasil:  Monitor tanda dan gejala perdarahan yang menetap
 Perdarahan murni <500  Kolaborasi penggunaan electro surgery unit sebagai koagulasi selama
ml proses pembedahan
 Tidak ada perdarahan  Monitor status cairan, termasuk intake dan output
massive  Jaga kepatenan IV line
 Monitor koagulasi, termasuk prothrombin time (PT), partial
thrombloplastin time (PTT)
 Anjurkan pasien untuk immobilisasi
Post Operasi
26 Januari 4 Setelah dilakukan tindakan
2020 keperawatan selama 3 hari,  Kaji pengeluaran urin khususnya selama irigasi kandung kemih
17.00 WIB Pola berkemih pasien dapat  Anjurkan pasien untuk minum 3000 ml setiap hari
normal, dengan kriteria  Pertahankan irigasi kandung kemih secara kontinu sesuai indikasi pada
hasil: periode pasca operasi.

28
 Pola berkemih normal  Motivasi pasien untuk berkemih jika ada keinginan untuk berkemih
tanpa retensi  Instruksikan pasien untuk latihan perineal, contoh mengencangkan
 Urin jernih bokong, menghentikan dan memulai aliran urin.
 Folley Catheter dapat  Pertahankan irigasi kandung kemih secara kontinu sesuai indikasi pada
dilepas periode pasca operasi.

G. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tanggal/
Dx. Kep Implementasi Respon
Jam
Pre Operatif
26 Januari 1 Memonitor nyeri pasien meliputi faktor S:
2021 penyebab, kualitas, lokasi, level, dan juga - P: pasien mengatakan nyeri berkurang saat bergerak dan
15.00 waktu timbulnya nyeri ditekan
- Q: pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk
- R: pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
- S: pasien mengatakan nyeri skala 1
- T: pasien mengatakan nyeri timbul sewaktu-waktu
O:
- Pasien tampak mengerutkan wajah saat mempraktekkan
bergerak
1 Melakukan observasi reaksi nonverbal S: -
dari ketidaknyamanan pasien O:
- Pasien tampak mengerutkan wajah saat mempraktekkan
bergerak dan saat struma diberikan penekanan
2 Mengkaji tingkat kecemasan pasien S:
- Pasien mengatakan takut jika operasi tidak berhasil
- Pasien mengatakan cemas, deg-deg an

29
O:
- Pasien tampak gelisah
2 Mengkaji respon verbal dan nonverbal S:
dari tanda-tanda kecemasan - Pasien menanyakan “berapa lama operasinya?”
- Pasien menanyakan “apakah operasinya akan berhasil”
- Pasien menanyakan “apakah penyakitnya akan kambuh lagi
setelah operasi?”
O:
- Pasien tampak cemas dan seringkali menanyakan tentang
efek operasi
1, 2 Mengajarkan dan menganjurkan pasien S:
relaksasi nafas dalam - Pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang saat mencoba
nafas dalam
O:
- Pasien tampak mempraktekkan relaksasi dengan baik
2 Mendampingi pasien untuk meningkatkan S:
rasa aman dan mengurangi ketakutan - Pasien mengatakan cemas berkurang saat perawat
mendampinginya selama operasi
O:
- Pasien tampak sedikit tenang setelah mencurahkan
perasaannya
2 Memberikan informasi yang berfokus S:
pada penatalaksanaan, dan keberlanjutan - Pasien mengatakan siap untuk operasi
- Pasien mengatakan dengan operasi bisa segera sembuh
- Pasien mengatakan operasi sangat penting untuk dirinya
O:
- Pasien tampak mendengarkan penjelasan perawat dan
dokter dengan baik

30
2 Menganjurkan pasien untuk berdoa S:
- Pasien mengatakan dengan berdoa, hati lebih tenang dan
lebih siap untuk operasi
O: -
2 Memberikan support mental kepada S:
pasien - Pasien mengatakan perlu operasi untuk segera sembuh
Intra Operatif
26 Januari 3 Memastikan patensi pemasangan negative S: -
2021 electrosurgical O: - negative electrosurgical terpasang dengan baik
16.05 WIB 3 Memonitor TTV S: -
O: - BP: 90/60 mmHg, HR: 69 x/i, RR: 14x/i, SaO2: 100%
3 Menjaga kepatenan IV line S:-
O:- IV line terpasang dengan baik dan lancar
3 Memonitor jumlah perdarahan intra S: -
operasi O: - setiap perdarahan dapat di control dengan baik dengan
diatermi (cutting loop)
- Perdarahan minimal (50 cc)
Post Operatif
26 Januari 4 Mengaji pengeluaran urin khususnya S:-
2021 selama irigasi kandung kemih O:- irigasi lancar dan tidak ada sumbatan
17.00 WIB 4 Menganjurkan pasien untuk minum 3000 S:- Pasien mengatakan mengerti dengan instruksi dan
ml setiap hari menyetujui untuk minum 3000ml sehari
O:- Operan dengan perawat ruangan anjuran pasien untuk
minum 3000ml sehari

4 Mempertahankan irigasi kandung kemih S:-


secara kontinu sesuai indikasi pada
periode pasca operasi.

31
O:- Operan dengan perawat ruangan untuk secara kontinu
mengganti kolf irigasi sampai urin jernih atau paling lama 24
jam
Memootivasi pasien untuk berkemih jika S:-Pasien mengatakan mengerti dan tidak akan menahan BAK
ada keinginan untuk berkemih saat Folley Catheter dilepas nanti
O:- Pasien tampak paham dengan intruksi
4 Memberitahu perawat ruangan tentang S: perawat ruangan mengatakan akan menyampaikannya ke
efek dari obat/ anestesi untuk disampaikan keluarga pasien
kepada keluarga pasien O: perawat ruangan tampak kooperatif
4 Melakukan serah terima pasien dengan S:-
perawat ruangan mengenai intruksi medis O:- Obs TTV
yang diberika DPJP - tidak puasa
- Tidur terlentang, Jam 03.00 WIB boleh duduk
- IVFD RL : D5% = 2:1
- Anbacim 2 x 1gr IV
- Dexketopropen 2 x 1 oral
- Omeperazol 1 x 1gr
- Carbazochrome 2 x 1gr oral
- Drip NaCl 0,9% 60 tts/menit, bila urin merah pekat percepat
tetesan , guyur bila macet.
- Jaringan prostat di PA
- Traksi Folley Catheter s/d pukul 22.00 WIB. Fiksasi kateter
di paha dalam.

32
H. EVALUASI
Tanggal/
Diagnosa Keperawatan Evaluasi Sumatif
Jam
26 Januari Nyeri akut berhubungan S:
2021 dengan agen cedera fisik: - P: pasien mengatakan nyeri semakin berat saat bergerak dan ditekan
16.00 WIB terdapat struma - Q: pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk
- R: pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
- S: pasien mengatakan nyeri skala 2
- T: pasien mengatakan nyeri timbul sewaktu-waktu
- Pasien mengatakan nyeri berkurang dengan relaksasi nafas dalam
O: pasien tampak mempraktekkan relaksasi dengan baik
A: masalah nyeri teratasi sebagian dengan kriteria hasil skala nyeri menurun dari 3-
4 menjadi 2
P: lanjutkan intervensi no.1 s/d 8 selama masa perawatan
26 Januari Cemas berhubungan dengan S:
2021 krisis situasional: prosedur - Pasien mengatakan cemas berkurang dengan berdoa
16.00 WIB TURP - Pasien mengatakan cemas berkurang setelah mendapatkan penjelasan dan
penguatan dari dokter dan perawat
- Pasien mengatakan operasi sangat penting untuk dirinya
- Pasien mengatakan siap untuk operasi
O: pasien tampak lebih tenang
A: masalah ansietas teratasi
P: Intervensi dihentikan, pasien masuk kamar operasi.
26 Januari Resiko perdarahan S: -
2021 O:
berhubungan dengan
16.30 WIB - negative electrosurgical terpasang dengan baik
Cauterisasi jaringan prostat - BP: 90/60 mmHg, HR: 69 x/i, RR: 14x/i, SaO2: 100%
- IV line terpasang dengan baik dan lancer

33
- setiap perdarahan dapat di control dengan baik dengan diatermi (cutting loop)
- Perdarahan minimal (50 cc)
A: Masalah resiko perdarahan teratasi sementara
P: Pertahankan intervensi 1 s/d 9 sampai prosedur TURP selesai
26 Januari Perubahan eliminasi Urin S:
2021 berhubungan dengan - Pasien mengatakan mengerti dengan instruksi dan menyetujui untuk minum
17.00 WIB terpasangnya Folley Catheter 3000ml sehari
- Pasien mengatakan mengerti dan tidak akan menahan BAK saat Folley Catheter
dilepas nanti
- perawat ruangan mengatakan akan menyampaikannya ke keluarga pasien
O:
- irigasi lancar dan tidak ada sumbatan
- Operan dengan perawat ruangan anjuran pasien untuk minum 3000ml sehari
- Operan dengan perawat ruangan untuk secara kontinu mengganti kolf irigasi
sampai urin jernih atau paling lama 24 jam
- Obs TTV
- tidak puasa
- Tidur terlentang, Jam 03.00 WIB boleh duduk
- IVFD RL : D5% = 2:1
- Anbacim 2 x 1gr IV
- Dexketopropen 2 x 1 oral
- Omeperazol 1 x 1gr
- Carbazochrome 2 x 1gr oral
- Drip NaCl 0,9% 60 tts/menit, bila urin merah pekat percepat tetesan , guyur bila
macet.
- Jaringan prostat di PA
- Traksi Folley Catheter s/d pukul 22.00 WIB. Fiksasi kateter di paha dalam
A: masalah teratasi, lanjutkan intervensi di ruangan rawat

34
P: intervensi 1 s/d 6 dilanjutkan selama masa perawatan.

35
36
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dalam kasus BPH dengan prosedur TURP pada pasien Tn H didapatkan 3 diagnosa
keperawatan dari Asuhan Keperawatan teoritis yaitu Perubahan eliminasi urin, Nyeri akut
dan kecemasan. Pada tahap Pre Operasi, intra operasi dan Post operasi tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Resiko perdarahan dapat ditekan dengan kolaborasi antara tim
bedah dan anastesi yang tepat dan persiapan operasi alat kesehatan yang tepat. Selain dari
itu penerapan Standar Prosedur Operasional yang tepat seperti SPO serah terima pasien,
SPO cuci tangan bedah, serta SPO pengawasan pasien di Recovery Room juga dapat
mempengaruhi tingkat keberhasilan treatment terhadap pasien.

B. SARAN
1. Untuk pasien: agar selalu menerapkan anjuran dari dokter dan perawat supaya tidak
terjadi masalah yang sama dan dihindari.
2. Institusi pelayanan kesehatan : diharapakan meningkatkan kualitas, ketelitian,
perawatan, pendokumentasian dan pelayanan yang propesional.
3. Tenaga kesehatan: diharapkan dapat melakukan perawatan yang
holistic,komprehensif, serta tanggung jawab dalam melakukan tindakan
4. Pendidikan: supaya meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas,professional,
bermutu, terampail, cekatan dan bertanggung jawab.

36
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M dan Dayrit, M. 2007. Seri Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Sistem Reproduksi
& Seksualitas. Jakarta: EGC

Bare & Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart (Alih
bahasa Agung Waluyo) Edisi 8 vol.3. Jakarta :EGC

Price, Wilson. 2006. Patofisiologi Vol 2 ; Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC. Jakarta.

Rekam Medik . 2021. Jumlah Pasien Post Operasi TURP di RS Hermina Bekasi.

Wibowo, Daniel S. Widjaja Paryana.2009. Anatomi Tubuh Manusia. Penerbit : Graha


Ilmu,Yogyakarta.