Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pemberian obat kepada pasien adalah merupakan salah satu rangkaian kegiatan
penatalaksanaan pengelolaan pasien di rumah sakit, yang harus dilakukan secara baik dan benar
sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila terjadi kesalahan pada pemberian obat, maka bisa
menyebabkan terjadinya medication errors ataupun Drug Related Problems (DRPs), yang
dampaknya bermacam-macam dari yang ringan sampai berat/fatal, biaya pengobatan dapat
meningkat, lama perawatan pasien bertambah (length of stay meningkat), sehingga dapat
meningkatkan mortalitas maupun morbiditas pasien, bahkan bisa berdampak tuntutan hukum
bagi rumah sakit maupun petugas kesehatan yang melakukan kesalahan pemberian obat tersebut.
Kesalahan pemberian obat tidak hanya berdampak merugikan bagi pasien, tapi juga bagi rumah
sakit dan petugas pelaksana.

1
Sehingga dengan adanya pedoman pemberian obat ini diharapkan tidak terjadi lagi kejadian
kesalahan pemberian obat oleh petugas kesehatan, yang mana juga dapat meningkatkan citra
rumah sakit di masyarakat pada umumnya.

1.2. TUJUAN PEDOMAN


Pedoman pemberian obat ini dibuat bertujuan untuk. :
1. Menjamin keselamatan pasien (patient safety) supaya terhindar dari masalah-masalah yang
terkait obat (Drug Related Problems) ataupun mencegah terjadinya medication error.
2. Sebagai panduan bagi petugas kesehatan yang memberikan obat kepada pasien.

1.3. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Pemberian obat dilakukan pada pasien rawat jalan, one day care, rawat inap, rawat intensif,
rawat darurat maupun di kamar operasi.

2
1.4. BATASAN OPERASIONAL
Pemberian obat adalah suatu kegiatan/tindakan pemberian terapi yang diberikan secara
langsung kepada pasien oleh tenaga kesehatan yang berkompeten, sesuai ketentuan yang berlaku.
Tenaga kesehatan yang berkompeten adalah yang berpengalaman dan terampil,
mempunyai surat penugasan/surat ijin dari rumah sakit, dan mempunyai surat ijin kerja/lisensi
dari Instansi yang berwenang sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku yaitu Dinas
Kesehatan Kota Tegal.

1.5. LANDASAN HUKUM


1. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian.

3
4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004
tentang Standar pelayanan Farmasi di rumah Sakit.

1.6. SASARAN
Pedoman pemberian obat ini ditujukan kepada lembaga kesehatan yang terlibat langsung
dalam pemberian obat kepada pasien.

1.7. MANFAAT
Pedoman pemberian obat ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi tenaga kesehatan
dalam memberikan obat kepada pasien, sehingga dapat mencegah terjadinya drug related
problems ataupun medication errors, dan dapat meningkatkan patient safety.

4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

2. 1 PETUGAS PELAKSANA
1. Pemberian obat kepada pasien dilakukan oleh Apoteker yang berkompeten.
2. Pemberian obat untuk pasien rawat jalan, selain diberikan oleh Apoteker, dapat juga
didelegasikan kepada Asisten Apoteker yang ditunjuk dan berkompeten.
3. Pemberian obat kepada pasien rawat inap, dapat didelegasikan perawat yang berkompeten.

2. 2 KOMPETENSI PETUGAS
Petugas yang mernberikan obat kepada pasien mempunyai kompetensi sebagai berikut :
1. Berpengalaman.
2. Mempunyai ketrampilan (terampil).
3. Mempunyai surat penugasan atau surat ijin

5
4. Mempunyai surat ijin kerja/lisensi dari Dinas Kesehatan Kota atau Instansi yang berwenang
sesuai Undang-undang dan peraturan yang berlaku.

2. 3 WEWENANG PETUGAS
1. Pasien rawat jalan : pemberian obat dilakukan oleh Apoteker dan/atau dibantu Asisten
Apoteker yang ditunjuk.
2. Pasien rawat inap : pemberian obat dilakukan oleh perawat atau dokter yang bertugas.
3. Pemberian obat dengan rute pemberian khusus misalnya secara intratekal, intraperitoneal,
intraarterial, intracardial dll, dilakukan oleh dokter atau perawat yang berpengalaman dan
terampil.
4. Pemberian obat High Alert (obat yang perlu diwaspadai), dilakukan oleh perawat yang
berpengalaman dan terampil, atau dokter yang berkompeten.

6
BAB III
STANDAR FASILITAS PEMBERIAN OBAT

Pada waktu memberikan obat injeksi secara parenteral, petugas pelaksana (perawat dan dokter)
menggunakan fasilitas :
1. Alat pelindung diri petugas : sarung tangan dan masker, atau kaca mata jika perlu.
2. Desinfektan: alcohol 70 % untuk desinfeksi kulit pasien, dan alcohol untuk desinfeksi
petugas.
3. Wastafel dengan kran siku dan air mengalir, serta dilengkapi dengan sabun yang
mengandung desinfektan dan lap bersih/tissue disposable, untuk petugas mencuci tangan
sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada pasien.
4. Jarum suntik, spuit, infusion set, steril dan disposable.
5. Infusion set, scalvein/surflo steril, segera diganti yang baru jika ada masalah misal terjadi
flebitis, extravasasi dll, dan maksimal harus diganti baru setelah digunakan 3 x 24 jam.
6. Tempat sampah untuk limbah medis, dan limbah infeksius.

7
7. Kaporit cair dan ember untuk wadahnya, sebagai desinfektan alat kesehatan yang sudah
digunakan pada pasien yang terinfeksi virus.
8. lmpusion pump atau syringe pump, yang digunakan untuk obat tertentu yang membutuhkan
keamanan dan efIkasi yang tinggi, seperti : dopamine, diazepam, morfin, sitostatika dll.
9. Untuk obat yang pada waktu pemberian harus terlindung dari cahaya, maka digunakan spuit
yang berwarna hitam atau spuit biasa yang ditutupi dengan plastik hitam/aluminium foil;
atau botol infus yang juga ditutupi plastik hitam, untuk menjamin kualitas obat selama
pemberian kepada pasien.
10. Jika fasilitas tersedia, sebaiknya rekonstitusi/pengenceran obat suntik dilakukan di ruangan
khusus yang kebersihannya terjaga atau di ruang aseptis yang dilengkapi Laminar Air Flow
untuk menjamin sterilitas sediaan yang disiapkan.
11. Tersedia Standar Prosedur Operasional / Panduan pengenceran obat suntik.
12. Tersedia vial steril atau spuit steril berbagai ukuran, untuk menyimpan sisa obat yang
berasal dari ampul, sehingga sterilitasnya terjamin, dan kemudian diberi label.

8
13. Tersedia panduan penentuan tanggal kadaluarsa obat suntik yang berbentuk larutan dalam
vial, setiap bulan diperbaharui oleh Apoteker di Unit Pelayanan Farrnasi ybs.
14. Tersedianya emergency trolley atau emergency kit di ruangan, untuk antisipasi jika terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien, misalnya syok anafilaktik, dll.
15. Tersedianya informasi tentang obat sebagai panduan bagi petugas berupa buku panduan dan
leaflet, untuk memberikan edukasi dan informasi kepada pasien dan/atau keluarganya.

9
BAB IV
TATA LAKSANA PEMBERIAN OBAT OLEH PETUGAS

4. 1 KETENTUAN UMUM PEMBERIAN OBAT


Petugas yang memberikan obat harus menjaga sikap dan penampilan serta kebersihan ketika
memberikan obat kepada pasien/keluarganya, bekerja sesuai Standar Prosedur Operasional
(SPO) yang telah ditetapkan, serta tertib administrasi.

4.2 VERIFIKASI
Petugas yang memberikan obat harus melakukan verifikasi apakah obat sudah betul
berdasarkan pesanan obat, untuk menjamin pemberian obat yang aman yaitu dengan melakukan
verifikasi terhadap :
a. Obat dengan resep/rekam medik.
b. Waktu dan frekuensi pemberian obat dengan resep/rekam medik.
c. Jumlah dosis dengan resep/rekam medik.

10
d. Rute pemberian dengan resep/rekam medik.
e. Identitas pasien dicocokkan dengan cara menanyakan nama dan tanggal lahir pasien; nomor
rekam medik pasien; dicocokkan dengan identitas yang terdapat pada gelang pasien rawat
inap, atau dicocokkan dengan kartu berobat di RS Lestari Raharja atau KTP pada pasien rawat
jalan.

4.3 PEMBERIAN OBAT


Jika verifikasi sudah dilakukan dengan benar terhadap obat maupun pasien, maka petugas
rnemberikan obat kepada pasien/keluarganya, dan kemudian memberi paraf pada :
1. Lembar resep di kolom yang telah ditentukan : untuk Unit Pelayanan Farmasi yang melayani
resep UDD
2. Buku serah terima Pemberian Obat : untuk semua pasien rawat inap di semua ruang
perawatan yang ada di RS Lestari Raharja.

11
4.4 PASIEN RAWAT INAP
1. Pemberian obat oleh petugas kepada pasien rawat inap, sediaan parenteral maupun non
parenteral, diberikan tepat waktu, sesuai konsensus waktu pemberian obat yang telah
ditentukan; atau sesuai jam dan saat /waktu pemberian obat yang tertulis pada etiket obat
UDD yang telah disiapkan Apoteker/Asisten Apoteker Unit Pelayanan Farmasi.
2. Sediaan obat parenteral diberikan sesuai ketentuan yang tertulis di rekam medik atau sesuai
ketentuan yang berlaku untuk masing-masing obat, dengan memperhatikan keamanan,
efektivitas, stabilitas, dan kenyamanan pasien.
3. Khusus untuk obat non parenteral (per oral, per sonde, tetes mata/hidung/telinga,
suppositoria, inhaler) :
a. Petugas yang memberikan obat dapat memberikan obat tsb secara langsung kepada
pasien atau keluarganya, dengan disertai edukasi secukupnya tentang cara
penggunaan obat tsb dan menjamin kepatuhan penggunaannya sesuai instruksi yang
diberikan.

12
b. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan menggunakan obat non parenteral sendiri
dan tidak ada keluarga yang menunggu, maka petugas berkewajiban membantu
pasien menggunakan obat tsb.
c. Petugas berkewajiban menjamin kepatuhan penggunaan obat non parenteral tsb,
dengan mengawasi secara langsung penggunaannya oleh pasien atau dibantu
keluarganya.
4. Petugas mencatat tanggal pemberian obat, serta memberi paraf pada kolom yang telah
ditentukan, di form rekam pemberian obat UDD.
5. Pasien/keluarga pasien juga memberi paraf pada form pemberian obat UDD, sebagai
verifikasi terhadap obat yang telah digunakan pasien selama dirawat.
6. Form pemberian obat UDD yang sudah terisi lengkap, dapat digunakan sebagai lampiran
tambahan untuk pengarsipan resep.

13
4.5 PASIEN RAWAT JALAN
1. Apoteker atau Asisten Apoteker yang memberikan obat kepada pasien / keluarganya,
setelah melakukan verifikasi obat dan pasien, memberi paraf pada kolom yang telah
disediakan di lembar resep pasien.
2. Resep asli disimpan oleh lnstalasi Farmasi, dan resep tembusan/copy resep digunakan untuk
penagihan ke penjamin biaya pengobatan pasien.

4.6 MONITORING PASIEN SETELAH PEMBERIAN OBAT


Pada pasien rawat inap, perawat atau dokter harus memonitor pasien setelah obat diberikan.
Monitoring dilakukan terhadap vital sign pasien (suhu, nadi, Respiratory Rate, tekanan darah)
dan gejala klinis lainnya. Khusus untuk pasien yang mendapat infus atau obat injeksi yang
diberikan secara drip dalam infus (sediaan iv admixture) dan nutrisi parenteral, maka
monitoring dilakukan minimal setiap jam terhadap jumlah tetesan infus atau drip dan vital sign
pasien, untuk mengantisipasi dan menghindari kemungkinan terjadinya komplikasi yang tidak
diinginkan.

14
4.7 PEMBERlAN lNFORMASI DAN EDUKASI PASIEN
Pemberian obat kepada pasien rawat inap, diberikan oleh petugas yang berkornpeten,
disertai dengan pemberian informasi dan edukasi secukupnya kepada pasien dan atau
keluarganya, sesuai dengan panduan yang berlaku.
Informasi dan edukasi yang diberikan terkait obat yang diberikan adalah :
1. Cara penggunaan obat-obatan yang efektif dan aman.
2. Potensi efek samping obat-obatan yang diberikan.
3. Potensi interaksi obat dengan obat, atau interaksi abat dengan makanan.

4.8 PENCATATAN DAN DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


Pemberian obat harus dicatat dan didokumentasikan di lembar resep atau di form rekam
pemberian obat yang terdapat dalarn rekam medik pasien, sesuai ketentuan yang telah
ditetapkan. Pemberian informasi dan edukasi obat didokumentasikan di form yang telah
ditentukan.

15
BAB V
TATA LAKSANA PENGGUNAAN OBAT SENDIRI OLEH PASIEN

5. 1 PASIEN RAWAT INAP


1. Jika pasien membawa obatnya dari rumah atau dari luar rumah sakit, maka harus dilaporkan
kepada petugas, diketahui oleh DPJP/dokter yang merawat dan dicatat di rekam medik
pasien (di form yang telah ditentukan).
2. Petugas juga berkewajiban menanyakan obat-obat yang dibawa dari rumah atau dari luar
rumah sakit atau dari ruangan lain, jika ada pasien baru MRS atau pasien pindah ruangan,
dicatat di rekam medik dan dilaporkan kepada DPJP/dokter yang merawat.
3. Pasien rawat inap dapat menggunakan obatnya sendiri (self administration) jika kondisinya
memungkinkan, di bawah pengawasan petugas, setelah diberikan informasi dan edukasi
secukupnya tentang obat yang digunakannya tsb.

16
4. Obat-obat yang boleh digunakan sendiri oleh pasien adalah sediaan non parenteral, obat prn
(pro renata) yang digunakan jika perlu saja seperti obat penurun panas (antipiretik), obat
sediaan sirup/larutan/suspensi/emulsi per oral karena tidak di UDD namun penggunaannya
tetap di bawah pengawasan petugas.
5. Pasien yang mendapat obat per sonde, penggunaannya dapat dilakukan sendiri oleh
pasien/keluarganya, di bawah pengawasan petugas, setelah diberikan informasi dan edukasi
secukupnya oleh petugas.
6. Pasien yang mendapat obat non parenteral dengan cara penggunaan khusus seperti
inhaler/turbuhaler, obat tetes mata/hidung/telinga, obat cuci telinga, obat minum tetes (drop,
vitamin, tetes mulut), obat kumur, suppositoria, salep, boleh digunakan sendiri oleh pasien
atau dibantu keluarganya, di bawah pengawasan petugas, setelah diberi informasi dan
edukasi secukupnya oleh petugas.

17
5.2 PASIEN RAWAT JALAN
1. Apoteker atau dibantu Asisten Apoteker memberikan informasi dan edukasi kepada pasien
dan keluarganya tentang obat-obat yang digunakannya.
2. Pemberian informasi dan edukasi pada pasien rawat jalan dilakukan di ruang konseling
ataupun di tempat penyerahan obat (Loket Unit Pelayanan Farmasi).
3. Pemberian informasi dan edukasi dilakukan sesuai standar prosedur operasional (SPO) yang
telah ditentukan.
4. Pemberian informasi dan edukasi mengacu pada buku panduan yang telah ditentukan.
5. Apoteker / Asisten Apoteker menjamin bahwa informasi dan edukasi yang diberikan kepada
pasien/keluarganya dimengerti dan difahami, serta mampu untuk dilaksanakan pasien di
rumah.

18
BAB VI
TATA LAKSANA PENGGUNAAN OBAT PROGRAM

1. Penggunaan obat program oleh pasien, dilakukan sepengetahuan DPJP/dokter yang


rnerawat, dan diberikan oleh petugas yang berkompeten.
2. Pemberian obat program dilakukan sesuai ketentuan atau Standar Prosedur Operasional
(SPO) pemberian obat yang telah ditetapkan.
3. Obat program diberikan secara gratis kepada pasien.

19
20