Anda di halaman 1dari 9

KETAHANAN PANGAN BERAS SEBAGAI SALAH SATU MAKANAN POKOK

TUGAS REGULASI PANGAN

Disusun oleh: Caesariana Ariyani Priatko Amelia Juwana 10.95.0001 10.95.0005

PROGRAM MAGISTER TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2011

1. PENDAHULUAN Pangan merupakan salah satu masalah utama yang strategis bagi kehidupan bangsa, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok penduduk (SEAFAST, 2010). Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada di bawah konsumsi yang semestinya (World Bank, (_)). Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi juga mengandung konsekuensi politik yang besar. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap kelangsungan suatu kabinet pemerintah atau stabilitas politik di dalam negeri apabila Indonesia terancam kekurangan pangan atau kelaparan (Tambunan, 2008). Ketahanan pangan sering dikaitkan sebatas kecukupan produksi pangan. Ketahanan pangan jarang dikaitkan dengan masalah akses semua penduduk untuk mendapatkan makanan yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan energi maupun kebutuhan gizi secara lengkap (Pardede, 2009). Salah satu contoh masalah ketahanan pangan yang hingga sekarang masih menarik untuk dibahas adalah ketersediaan beras dan akses terhadap beras. Beras merupakan makanan pokok dari 98% penduduk Indonesia (Riyadi, 2002 dalam Kusumaningrum, 2008). Beras mempunyai peran yang strategis dalam memantapkan ketahanan pangan, ekonomi dan politik nasional (Suryana et. al., 2001 dalam Kusumaningrum , 2008). Beras bagi bangsa Indonesia bukan hanya sekedar komoditas pangan atau ekonomi saja, tapi sudah merupakan komoditas politik dan keamanan. Suryana et al., (2001) dalam Kusumaningrum (2008) mengatakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih menghendaki adanya pasokan (penyediaan) dan harga beras yang stabil, tersedia sepanjang waktu, terdistribusi secara merata dengan harga yang terjangkau. Harga beras saat ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Harga Beras Harian per Mei 2011 (Rp/Kg) 12 Mei '11 20 Mei '11 Cianjur kepala 9.800 9.800 Cianjur slyp 9.000 9.000 Setra 8.350 8.350 Saigon Bandung 8.000 8.000 Muncul I 7.600 7.600 Muncul II 7.300 7.300 Muncul III 6.500 6.500 IR-64 I 6.600 6.600 IR-64 II 5.800 5.800 IR-64 III 5.500 5.500 IR-42 6.500 6.500 Ketan Putih Biasa 8.750 8.750 Ketan Hitam 13.000 13.000 * Sumber: PIBC (http://bkp.deptan.go.id/) Jenis Selain itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jika dilihat rata-rata konsumsi kalori per kapita dalam sehari menurut kelompok makanan dari tahun 2001 sampai 2009, ternyata komoditas padi menjadi sumber utama terbesar penyumbang konsumsi kalori pada penduduk Indonesia. Dan apabila dilihat dari data presentase pengeluaran rata-rata per kapita dalam sebulan dari tahun 2002-2009, ternyata padi-padian masih menjadi komoditi pertama, kemudian dibawahnya ada komoditi makanan jadi, kacang-kacangan, dan umbiumbian. Secara keseluruhan, kondisi tersebut menunjukan bahwa beras masih menjadi komoditas strategis secara politis. Namun pada kenyatannya, beras masih belum dapat diakses penuh oleh seluruh masyarakat. Berdasarkan kenyataan tersebut perlu diketahui faktor penyebab sulitnya akses terhadap beras dan juga pihak-pihak yang seharusnya berperan serta untuk mengatasi masalah tersebut agar nantinya ketahanan pangan beras di Indonesa tetap stabil dan terjaga.

2. PEMBAHASAN Menurut Undang-undang (UU) No.7 Tahun 1996 tentang pangan, Pasal 1 Ayat 17, konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia adalah bahwa "Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau". UU ini sejalan dengan definisi ketahanan pangan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap rumah tangga atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat. Sementara pada World Food Summit tahun 1996, ketahanan pangan disebut sebagai akses setiap rumah tangga atau individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat (Pambudy, 2002 dalam Tambunan, 2008). Ketahanan pangan nasional harus dipahami dari tiga aspek, yaitu ketersediaan, distribusi dan akses, serta konsumsi. Ketiga aspek tersebut saling terkait, tidak hanya cukup meningkatkan produksi pangan saja, serta memerlukan upaya pengawalan yang harus dilakukan secara terus menerus (Bappenas, 2011). 2.1. Peranan Pemerintah Menurut Bappenas (2011), dari sisi ketersediaan beras, pemerintah telah mengupayakan peningkatan produksi beras lokal. Pada tahun 2010, produksi padi/beras mencapai 39,8 juta ton beras dimana diperkirakan akan mampu memenuhi kebutuhan beras penduduk Indonesia (234,2 juta jiwa). Faktor yang menjadi kendala kurang lancarnya distribusi bahan pangan terutama beras di wilayah Indonesia adalah faktor geografis dan cuaca. Adanya kendala geografis dan cuaca menyebabkan distribusi bahan pangan antar wilayah di Indonesia masih sering terkendala (kurang lancar). Perbedaan peningkatan harga pangan terutama beras antar wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa distribusi pangan masih perlu dibenahi. Pada akhir tahun 2010 terjadi peningkatan harga beras bahkan

menyentuh level Rp. 9.056,00 per kg pada bulan Desember. Kenaikan harga beras tersebut perlu dipahami sebagai dampak dari beberapa faktor yaitu: Musim tanam dan panen padi menjadi mundur karena perubahan iklim. Kondisi ini menyebabkan suplai beras ke pasar menjadi berkurang, sementara di sisi lain kebutuhan masyarakat terhadap beras mengalami peningkatan. Distribusi yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia mengingat keterbatasan transportasi akibat kendala geografis dan cuaca. Trend harga beras internasional yang juga meningkat, meskipun masih di bawah harga domestik. Demikan pula berdasarkan data FAO, ada empat faktor penyebab kenaikan harga pangan terutama beras yaitu cuaca, tingginya permintaan, berkurangnya hasil panen, dan juga beralihfungsinya sebagian lahan tanaman yang tadinya digunakan untuk sumber bahan makanan manusia menjadi bahan bioenergi (Hargiyono, 2011). Pemerintah sendiri dalam Inpres Nomor 5 tahun 2011 juga telah memberikan solusi mengenai Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim, mengingat konsidi iklim saat ini yang tidak menentu. Dalam Inpres ini, pengamanan produksi beras, menjadi tanggung jawab seluruh bagian pemerintahan. Selain itu, beberapa peraturan pemerintah yang telah dikeluarkan antara lain: UU No 7 tahun 1996 dan PP nomor 68 tahun 2002. Pada UU No. 7, disebutkan mengenai apa itu ketahanan pangan, tanggung jawab pemerintah dalam kaitannya dengan ketahanan pangan, termasuk cadangan pangan, pengadaan pangan, penanggulangan harga pangan yang melonjak, termasuk pengembangan SDM guna meningkatkan kemampuan SDM di Indonesia dalam membantu pengolahan, penyediaan pangan yang baik dalam kaitannya dengan ketahanan pangan tadi. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab dalam pengawasan dari penyediaan, stok, dan pendistribusian bahan pangan. Pemerintah berhak untuk menindak lanjut masyarakat yang tidak kondusif dalam memberikan data atau kesaksian terkait dengan penimbunan bahan pangan yang berlebih yang melanggar peraturan yang ada. Pada PP nomor 68 tahun 2002, pemerintah mengatur mulai dari produksi pangan, 5

ketersediaan pangan, perdagangan pangan, distribusi pangan, pengangkutan pangan, penganekaragaman pangan, keadaan darurat pangan, dan keterjangkauan pangan. Dilihat dari produktivitas petani, pemerintah telah berupaya untuk menyerap seluruh produksi beras dalam negeri dengan adanya peraturan dari Menteri Pertanian RI Nomor 05/Permentan/PP.200/2/2011 tentang Pedoman Pembelian Pemerintah untuk Gabah dan Beras di Luar Kualitas. Namun pelaksanaannya juga perlu di awasi dan ditindaklanjuti, terutama di bagian Bulog, karena sering terdapat penyimpangan akibat kurang tanggapnya Bulog terhadap kebutuhan petani. Untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap beras, pemerintah telah melakukan beberapa upaya, diantaranya: Pengaturan sistem logistik nasional. Pengaturan ini diharapkan mampu memperlancar dan mengurangi biaya distribusi bahan pangan terutama beras. Melakukan operasi pasar di seluruh Indonesia, terutama di daerah yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi. Memperlancar distribusi angkutan pangan pokok terutama beras untuk meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap beras. (Bappenas, 2011). Namun demikian, pengamanan aspek-aspek ketahanan pangan makanan pokok beras tersebut bukan merupakan sesuatu yang statis. Hal tersebut mempunyai arti bahwa apabila pada tahun tertentu penngamanan terhadap aspek-aspek ketahanan pangan tersebut sudah terjadi / tercapai, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada tahun-tahun tertentu terjadi perkembangan yang bersifat positif atau bahkan negatif 2011). 2.2. Peranan Masyarakat Sebenarnya, selain kewajiban pemerintah, terwujudnya ketahanan pangan beras juga merupakan tanggung jawab dari masyarakat juga. Karena, menurut UU RI Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan Bab VIII pasal 51 dan 52 disebutkan tentang peran serta dari 6 (Bappenas,

masyarakat, yaitu Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan perlindungan bagi orang perseorangan yang mengkonsumsi pangan, sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya serta peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Dalam rangka penyempurnaan dan peningkatan sistem pangan, masyarakat dapat menyampaikan permasalahan, masukan dan atau cara pemecahan mengenai hal-hal di bidang pangan. sehingga apabila ada permasalahan tentang ketahanan pangan yang terjadi, dan masyarakat memiliki usul ataupun pemikiran tentang pemecahan permasalahan ketahanan pangan yang timbul, dapat disampaikan ke pemerintah sesuai dengan prosedur yang ada. Selain itu, berdasarkan PP RI Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, pada pasal 14, desebutkan bahwa masyarakat juga memiliki kesempatan untuk berperan serta seluas-luasnya dalam mewujudkan ketahanan pangan. Dan di ayat selanjutnya, juga dejelaskan peran masyarakat dapat berupa pelaksanaan produksi, perdagangan, dan distribusi pangan; melaksanakan cadangan peangan masyarakat; dan melakukan pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. Penerapannya dapat berupa menanam tanaman pangan di kebun, sehingga selain dapat berfungsi sebagai cadangan pangan, juga dapat meringankan pengelaran ekonomi keluarga. Untuk pelaksanaan produksi, perdagangan, dan distribusi pangan, dapat dilaksanakan dengan membuat makanan sendiri, dan menjualnya, seperti katering, warung makan, dan lain-lain.

3. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil kajian yang telah diuraikan di pembahasan, faktor yang menjadi kendala kurang lancarnya distribusi beras di wilayah Indonesia adalah terutama faktor geografis dan cuaca. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya pengaturan sistem logistik yang mampu menjaga cadangan beras di Indonesia pada saat cuaca ekstrim seperti tertulis dalam Inpres Nomor 5 tahun 2011 dan juga mengurangi biaya distribusi beras di Indonesia. Untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap beras, pemerintah telah melakukan beberapa upaya. Beberapa upaya tersebut diantaranya pengatruran sistem logistik nasional, melakukan operasi pasar, dan memperlancar distribusi angkutan beras. Namun semua peraturan yang ada juga perlu ditindak lanjuti dengan pengawasan yang ketat, sehingga semua kegiatan ataupun peraturan dapat dilaksanakan dengan semestinya. Faktor lain yang menjadi kendala ketahanan pangan beras di Indonesia adalah tingginya permintaan terhadap beras di Indonesia yang tidak mampu diimbangi dengan ketersediaan beras. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya pendataan statistik yang benar oleh BPS, juga pemerintah (Bulog) diharapkan dapat menyerap beras hasil dari petani secara maksimal. Selain itu, pengenalan terhadap masyarakat tentang bahan makanan pokok lain selain beras, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada beras sebagai makanan pokok.

4. DAFTAR PUSTAKA Badan Perencanaan Dan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2011). Penjelasan Tentang Ketahanan Pangan. www.bappenas.go.id/get-file-server/node/10492. 20 Mei 2011. Hargiyono, M. (2011). Mewujudkan Ketahanan Pangan Dengan Bertani Padi Prinsip SRI Menuju Negara Pengekspor Beras. http://www.foxitsoftware.com. 19 Mei 2011. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Kusumaningrum, R. (2008).Dampak Kebijakan Harga Dasar Pembelian Pemerintah Terhadap Penawaran Dan Permintaan Beras di Indonesia. http://riakusumaningrum.staff.ipb.ac.id/files/2011/05/tesis.pdf Pardede, E. (2009). Ke(tidak)tahanan Pangan Akibat Perubahan Iklim. http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=1333. 19 Mei 2011. Peraturan Menteri Pertanian/Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan Nomor: 05/Permentan/PP.200/2/2011 Tentang Pedoman Harga Pembelian Pemerintah untuk Gabah dan Beras di Luar Kualitas. Menteri Pertanian Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2001 Tentang Ketahanan Pangan. PIBC.(2011). http://bkp.deptan.go.id/. 22 Mei 2011. SEAFAST. (2010). Ketahanan Pangan Dan Perspektif Kebijakannya. http://seafast.ipb.ac.id/index.php/partnership/124-ketahanan-pangan-dan-perspektifkebijakannya. 19 Mei 2011. Survei Sosial Ekonomi Nasional. (2009). http://www.bps.go.id/. 19 Mei 2011. Tambunan, T. (2008). Ketahanan Pangan di Indonesia Mengidentifikasi Beberapa Penyebab. www.kadin-indonesia.or.id/id/doc/DPR.pdf. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan. World Bank. (_). Pangan Untuk Indonesia. http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/2800161106130305439/617331-1110769011447/810296-1110769073153/feeding.pdf. 20 Mei 2011.