Anda di halaman 1dari 22

Identitas : Nama Usia Nama ibu Pendidikan Pekerjaan : An. N (perempuan) : 3 tahun 6 bulan 26 hari : Ny.

F : SLTA : ibu rumah tangga Bapak Pendidikan Pekerjaan : Tn. G : S2 : Karyawan telkom

Suku / bangsa : jawa / WNI Alamat : Dayu Permai Nganglik Sleman

Keluhan utama: Nyeri post tutup kolostomi hari pertama. Riwayat kehamilan dan persalinan: 1. Prenatal : ibu melakukan ANC teratur di dokter spesialis kebidanan sejak umur kehamilan 3 bulan, ibu sering mengalami demam, minum tablet tambah darah.

2.

Natal : Komplikasi persalinan (-), cara persalinan spontan, tempat persalinan di rumah sakit.

3.

Postnatal: Langsung menangis, skor APGAR 8/9, berat lahir 3400 gram, panjang badan 48 cm.

Riwayat munculnya masalah saat ini: An. N, lahir tanpa tulang anus, orang tuanya langsung membawa anaknya ke RS Kebumen.

Di RS Kebumen dilakukan TCD (Transversal Colostomy Dextra), dirawat selama bebrapa hari.

Umur 20 bulan, dirujuk ke RS Sardjito untu pembuatan anus dengan PSARP (Posterior Sagitalis Ano Rectal Plasty).

HMRS, orangtua membawa anaknya untuk operasi tutup kolostomi.

Riwayat keluarga dan social: Klien adalah anak tunggal, bapak ibu tidak menderita penyakit kronis begitu juga 3 generasi sebelumnya. Selama dirawat di RS anggota keluarga yang dapat dihubungi adalah bapak ibu. Lingkungan : rumah tinggal permanen di kompleks perumahan, lantai keramik, terdapat ventilasi, sumber air minum berasal dari PDAM. Perkembangan: hasil pemeriksaan Denver II interpretasi normal. Masalah aktif medis: Atresia ani post-TCD, post-PSARP, post operasi tutup kolostomi Keadaan kesehatan dan pemeriksaan saat ini: a) Keadaan umum: Kesadaran compos mentis; PCS 15; klien mengeluh nyeri, nadi 112x/mnt; RR 28x/mnt; suhu 36,7oC; BB 12 Kg; TB 93 cm. b) Keadaan fisik: Kepala bentuk bulat, rambut hitam, lurus, tebal, kulit kepala bersih. Muka simetris, mata strabismus, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, hidung simetris, pernafasan cuping hidung (-), fungsi baik. Mulut : membrane mukosa lembab Leher : kaku kuduk (-), JVP tidak meningkat.

* Dada simetris, retraksi sub costal intercostals (-), dengan auskultasi vasikuler, jantung S1S2 murni.

Abdomen terdapat distensi (-), peristaltic (+), terdapat luka tutup kolostomi, nyeri tekan (+)

c)

Ektrimitas hangat, perfusi Genital normal, perempuan Kulit pucat (-), turgor baik

Data tambahan: Ibu klien menyatakan klien mengeluh nyeri dan tidak bias tidur. Ibu mengatakan belum tahu cara perawatan anaknya setelah tutup kolostomi, dan menanyakan pada perawat apakah anaknya akan normal? 1. 2. 3. 4. Obat-obatan yang diberikan: Novalgin 3x 1/3 A Tricefin 2X 750 mg Metronidazol 3X 150 mg Infuse KAEN 1100 cc/ 24 jam

Pengertian ATRESIA ANI Atresia ani (malformasi anorektal/ anus imperforate) adalah bentuk kelainan konginetal yang menunjukan keadaan tidak ada anus, rectum yang buntu terletak di atas muskulus levator ani pada bayi (agenesis rectum). Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya. Malformasi anorektal menyebabkan abnormalitas jalan buang air besar. Masalah ini akan bervariasi bergantung tipe malformasinya: Ketika lubang anal sempit, bayi kesulitan BAB menyebabkan konstipasi dan ketidaknyamanan. Jika terdapat membrane pada akhiran jalan keluar anal, bayi tidak bias BAB.

Ketika rectum tidak berhubungan dengan anus tetapi terdapat fistula, feses akan keluar melalui fistula tersebut sebagai pengganti anus. Hal ini dapat menyebabkan infeksi.

Jika rectum tidak berhubungan dengan anus dan tidak terdapat fistula sehingga feses tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dan bayi tidak dapat BAB.

Sejarah y Dikenal sejak abad ke-7, Paulus Aegineta (ahli bedah Yunani) : tindakan operasi dengan insisi kulit dan dilatasi dengan businasi. y Pada tahun 1826 Stephens dan Smith : bedah sangat lengkap pada penderita atresia ani, Dieffenbach mentranplantasikan fistula rektovaginal ke perineum (belum banyak digunakan). y Tahun 1835 Amussat (ahli bedah Prancis) : mencari lubang rectum secara buta lewat perineum, menggerakannya dan menjahitnya ke kulit (anoplasty). y Tahun 1856 Chassaignac (ahli bedah Prancis) : kolostomi (prosedur awal untuk mencegah obstruksi usus). y McLeod (1880): prosedur operasi one-stage abdominoperineal ( British Medical Journal) y Tahun 1953 Stephens (ahli bedah Australia) : teknik abdominoperineal pullthrough (untuk atresia ani letak tinggi), berkembang di Eropa sejak diperkenalkan Kiesewatter (prosedur sakroabdominoperineal teknik terbaik yang menghasilkan kontinensia efektif). y Pendekatan posterosagital (dengan mencegah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistula) diperkenalkan September 1980 dan dipublikasikan 1982 oleh Pena dan de Vries.

Epidemiologi Frekuensi seluruh kelainan kongenital anorektal didapatkan 1 dari tiap 5000-10000 kelahiran, sedangkan atresiani didapatkan 1 % dari seluruh kelainan kongenital pada neonatus

dan dapat muncul sebagai penyakit tersering yang merupakan syndrom VACTRERL ( Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb). Frekuensi paling tinggi didapatkan pada ras kaukasia dan kulit berwarna, sedangkan pada negro bantu frekuensi paling rendah.

Etiologi Penyebab yang sebenarnya dari atresia ani sejauh ini belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua tidak diketahui apakah karier gen pada kondisi ini. Janin menerima copian dari kedua gen orang tuanya. Pasangan suami istri yang karier gen tersebut berpeluang 25% untuk terjadi lagi malformasi pada kehamilan berikutnya. Sepertiga dari bayi yang memiliki syndrome genetis, abnormalitas kromosom, atau kelainan konginetal lain, juga mempunyai malformasi anorektal.

Patofisiologi Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 minggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstruksi.

Manifestasi klinis Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula. Pada bayi wanita sering ditemukan fistula rektavaginal (dengan gejala bila bayi buang air besar feses keluar dari vagina) dan jarang

rektoperineal. Untuk mengetahui kelainan ini secara dini pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan maka termometer/jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum,Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau anus imperforata terjadi dalam waktu 24-48 jam. Gejala itu dapat berupa: 1. 2. Perut kembung Muntah (cairan muntahan berwarna hijau karena cairan empedu atau berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium) 3. 4. 5. Tidak bisa buang air besar dan kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir Tidak ada atau stenosis kanal rectal Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan 6. Adanya membrane anal dan fistula eksternal pada perineum

Klasifikasi atresia ani Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu : 1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu. 2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu :

1.

Anomali rendah / infralevator

Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius. 2. Anomali intermediet Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal. 3. Anomali tinggi / supralevator Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih daai1 cm. Terdapat bemacam macam klasifikasi kelainan anorektal menurut beberapa penulis. Menurut Ladd & Gross cit Prasadio et al (1988) terdapat 4 tipe : 1. 2. 3. 4. Tipe I stenosi ani kongenital. Tipe II anus imperforata membranase, Tipe III anus imperforata, Tipe IV atresia recti.

Klasifikasi ini sekarang sudah ditinggalkan. Klasifikasi berdasarkan hasil foto: Menurut Wingspread cit Prasadio et al (1988), bila bayangan udara pada ujung rectum dari foto di bawah garis puboischias adalah tipe rendah, bila bayangan udara diatas garis pubococcygeus adalah tipe tinggi dan bila bayangan udara diantara garis puboischias dan garis pubococcygeus adalah tipe intermediet. Klasifikasi internasional mempunyai arti penting dalam penatalaksanaan kelainan anorektal.

MELBOURNE membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut : Letak tinggi : rectum berakhir diatas m.levator ani (m.pubo coxigeus). Letak intermediet : akhiran rectum terletak di m.levator ani. Letak rendah : akhiran rectum berakhir bawah m.levator ani.

Pemeriksaan penunjang Cara penegakan diagnosis pada kasus atresia ani atau anus imperforata adalah semua bayi yang lahir harus dilakukan pemasukan termometer melalui anusnya, tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau tidak. Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut : 1. Pemeriksaan radiologis : Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal. 2. Sinar X terhadap abdomen : Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya. 3. Ultrasound terhadap abdomen : Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. 4. 5. 6. CT Scan : Digunakan untuk menentukan lesi. Pyelografi intra vena : Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan fisik rectum : Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari. 7. Rontgenogram abdomen dan pelvis : Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius. Diagnosis Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir: y y Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula Bila ada fistula pada perineum(mekoneum +) kemungkinan letak rendah

Untuk menegakkan diagnosis Atresia Ani adalah dengan anamnesis dan pemeriksaan perineum yang teliti . PENA menggunakan cara sebagai berikut:

1.

Bayi LAKI-LAKI dilakukan pemeriksaan perineum dan urine bila :  Fistel perianal (+) , bucket handle, anal stenosis atau anal membran berarti atresia letak rendah penatalaksanaan Minimal PSARP tanpa kolostomi.  Mekoneum (+) dinamakan atresia letak tinggi sehingga dilakukan kolostomi terlebih dahulu dan 8 minggu kemudian dilakukan tindakan definitive. Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram. Bila ~ Akhiran rectum disebut letak rendah ~ Akhiran rektum > 1 cm disebut letak tinggi Pada laki-laki fistel dapat berupa rectovesikalis, rektourethralis dan rektoperinealis.

2.

Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel Bila ditemukan: ~ Jika fistel perineal (+),minimal PSARP tanpa kolostomi. ~ Jika fistel rektovaginal atau rektovestibuler maka dilakukan kolostomi terlebih dahulu.

~ Fistel (-) maka dilakukan invertrogram : a. b. Akhiran Akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostomi terlebih dahulu.

Pencegahan Penanganan secara preventif antara lain: 1. Kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia tiga bulan untuk berhati-hati terhadap obat-obatan, makanan awetan dan alkohol yang dapat menyebabkan atresia anin.

2.

Memeriksa lubang dubur bayi saat baru lahir karena jiwanya terancam jika sampai tiga hari tidak diketahui mengidap atresia ani karena hal ini dapat berdampak feses atau tinja akan tertimbun hingga mendesak paru-parunya.

3.

Pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulosa untuk menghindari konstipasi.

Penatalaksanaan secara umum Pada kelainan anorektal letak rendah, penderita laki-laki dilakukan anoplasti perineal dengan prosedur V- Y plasti, sedang untuk wanita dilakukan cut back atau prosedur V-Y seperti laki-laki. Bila fistula cukup adekuat maka tindakan anoplasti dapat ditunda menurut keinginan (Bisset 1977 ; Filston 1986 ; Spitz 1990). Pada kelainan anorektal letak tinggi atau intermediet, setelah diagnosis ditegakkan, segera dilakukan kolostomi selanjutnya dibuatkan lopogram untuk mengetahui macam fistula. Menurut De Lorimer (1981) dan Spitz (1990) kolostomi dilakukan pada kolon sigmoid, sedangkan Spitz (1990) mengatakan kolostomi dilakukan pada kolon tranversum dekstra dengan keuntungan kolon kiri bebas, sehingga tidak terkontaminasi bila dilakukan Pull Ttrogh. Tindakan definitif dapat menunggu sampai beberapa minggu bulan (Bisset 1977 ; Splitz 1990), sedangkan Goligher cit Amri & Soedarno (1988 ) menyatakan tindakan definitif dilakukan setelah penderita berumur 6 bulan 2 tahun atau berat badan minimal 10 kg. Tindakan definitif dilakukan dengan prosedur Pull Through sakroperineal dan abdomino perineal, serta posterior sagital anorektoplasti (PSARP) (De Lorimer, 1981 ; Spitz, 1990). Jorge et al (1987) menyatakan bahwa PSARP dapat digunakan untuk penderita dewasa terpilih untuk mendapatkan kontinensia fekal terbaik sesudah operasi. Sedangkan Iwai et al (1988) mendapatkan kontinensia fekal dan fungsi seksual yang baikdengan tindakan abdominoperineal rektoplasti.

Penatalaksanaan medis 1. Pembuatan kolostomi (TCD) Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Pembuatan lubang biasa sementara atau permanen dari usus besar atau colon iliaka.

Intervensi keperawatan praoperasi kolostomi  Dukungan psikososial Pasien yang menjalani pembedahan untuk kolostomi sementara dapat mengekspresikan rasa takut dan masalah yang serupa dengan individu yang memiliki stoma permanen. Semua anggota tim kesehatan, termasuk perawat enterostomal, dan keluarga harus ada di samping pasien untuk memberikan bantuan dukungan. Perubahan yang terjadi pada citra tubuh dan gaya hidup sering sangat mengganggu, dan pasien memerlukan dukungan empatis dalam mencoba menyesuaikanya. Karena stoma ditempatkan pada abdomen, pasien dapat berpikir bahwa setiap orang akan melihat ostomi. Perawat dapat membantu mengurangi ketakutan ini dengan memberikan informasi actual tentang prosedur pembedahan dan pembentukan serta penatalaksaan ostomi kepada pasien maupun keluarga.  Persiapan untuk pembedahan Diet tinggi kalori, rendah residu biasanya diberikan selama beberapa hari sebelum pembedahan, bila waktu dan kondisi pasien memungkinkan. Apabila tidak terdapat kondisi kedaruratan, tindakan preoperative dilakukan serupa dengan pembedahan abdomen pada umumnya. Lakukan juga lavement untuk mencegah adanya infeksi akibat feses.

Intervensi keperawatan pascaoperasi Pasien yang menjalani kolostomi dibantu turun dari temoat tidur pada hari pertama pascaoperasi dan didorong untuk mulai berpartisipasi dalam menghadapi kolostomi. Asuhan keperawatan pascaoperasi mencakup kebocoran dari sisi anastomosis, prolaps stoma, perforasi, retraksi stoma, impaksi fekal, dan iritasi kulit, serta komplikasi paru yang dihubungkan denga bedah abdomen. Kembalinya diet ke pola normal berlangsung sangat cepat. Sedikitnya 2 L cairan /hari dianjurkan. Setiap upaya dibuat untuk mendorong pasien hidup seperti sebelum pembedahan.

Menangani kolostomi Fungsi kolostomi akan mulai tampak pada hari ke 3 sampai hari ke 4. Peran perawat dalam penanganan kolostomi:  Perawatan kulit Rabes efluen akan bervariasi sesuai denan tipe ostomi. Pada kolostomi transversal, terdapat feses lunak dan berlendir yang mengiritasi kulit. Pada kolostomi desenden atau kolostomi sigmoid, feses agak padat dan sedikit mengiritasi kulit. Pasien dianjurkan untuk melindungi kulit peristoma dengan sering mencuci area tersebut menggunakan sabun ringan, memberikan barier kulit protektif di sekitar stoma dan mengamankannya dengan melekatkan kantung drainase.

 Memasang kantung drainase Stoma diukur untuk menentukan ukuran kantung yang tepat. Lubang kantung harus sekitar 0,3 cm atau lebih besar dari stoma. Kulit dibersihkan sesuai prosedur di atas. Barier kulit peristoma dipasang. Kantung kemudian dipasang dengan cara membuka kertas perekat dan menekannya di atas stoma selama 30 detik. Iritasi ringan memerlukan bedak stomahesive sebelum kantung direkatkan.  Menangani kantung drainase Kantung kolostomi dapat digunakan segera setelah irigasi.  Mengangkat alat Alat drainase diganti bila isinya telah mencapai sepertiga sampai seperempat bagian sehingga berat isinya tidak menyebabkan kantung lepas dari diskus perekatnya.  Mengirigasi kolostomi Stoma pada abdomen tidak mempunyai otot control volunteer sehingga pengosongannya dapat terjadi pada interval waktu yang tidak teratur. Pengaturan pasase fekal bias dengan irigasi atau secara alami. Tujuan irigasi kolostomi adalah

untuk mengosongkan kolon dari gas, mucus, dan feses sehingga pasien dapat menjalankan aktivitasnya tanpa takut terjadi drainase fekal.

Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah Anggota keluarga harus diberitahu tentang prosedur dan perawatan stoma. Penyesuaian oleh keluarga sangat diperlukan agar mereka terbiasa dengan kolostomi pada saat pasien pulang ke rumah. Klien perlu di dorong untuk mengungkapkan masalah mereka. Mereka juga perlu untuk memahami pentingnya membuat penyesuaian untuk memungkinkan pasien menghadapi perubahan citra tubuh dan melakukan perawatan yang tepat terhadap kolostominya.

Status nutrisi Makanan yang menyebabkan baud an gas berlebihan dihindari. Makanan ini termasuk kol, telur, ikan, kacang polong, dan produk selulosa seperti kacang tanah. Status hidrasi dikaji dan tanda-tanda dehidrasi dilaporkan. Apabila pasien mengalami diare, frekuensi diare pasien dicatat bersamaan dengan kambuhnya kram abdomen, dorongan, dan bising usus hiperaktif. Pasien dibantu untuk mengidentifikasi makanan atau cairan yang mungkin menyebabkan diare, seperti buah, makanan serat tinggi, soda, kopi, the, atau minuman berkarbonat. Bismuth peregorik subgalat, bismuth subkarbonat, atau defenoksilat dengan atropine akan membantu mengontrol diare. Untuk konstipasi, jus prem atau apel atau laksatif ringan sangat efektif.

Komplikasi kolostomi Insidensi komplikasi untuk pasien dengan kolostomi sedikit lebih tinggi dibandingkan pasien ileostomi. Beberapa komplikasi umum adalah prolaps stoma (biasanya akibat obesitas), perforasi (akibat ketidaktepatan irigasi stoma), retraksi stoma, impaksi fekal, dan iritasi kulit. Kebocoran dari sisi anastomosis usus menyebabkan distensi abdomen dan kekakuan, peningkatan suhu, serta tanda shock. Pneumonia dan

atelektasis juga bias menjadi komplikasi pada usia 5o tahun yang mendapatkan sedative dan antobiotika atau tirah baring lama. Komplikasi ini bias dicegah dengan sering beraktifitas, nafas dalam, batuk efektif, dan ambulasi dini.

2.

PSARP (Posterosagital Ano Rectal Plasty) Pena secara tegas menjelaskan bahwa Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan diversi. Operasi definitive setelah 4 8 minggu. Saat ini tehnik yang paling banyak dipakai adalah posterosagital anorectoplasti, baik minimal, limited atau full postero sagital anorektoplasti. Teknik Operasi  Dilakukan dengan general anestesi , dengan endotrakeal intubasi , dengan posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan.  Stimulasi perineum dengan alat Pena Muscle Stimulator untuk identifikasi anal dimple.  Incisi bagian tengah sacrum kearah bawah melewati pusat spingter dan berhenti 2 cm didepanya.  Dibelah jaringan subkutis , lemak, parasagital fiber dan muscle complek. Os Coxigeus dibelah sampai tampak muskulus levator , dan muskulus levator dibelah tampak dinding belakang rectum.  Rektum dibebas dari jaringan sekitarnya .  Rektum ditarik melewati levator , muscle complek dan parasagital fiber  Dilakukan anoplasti dan dijaga jangan sampai tension. Perawatan Pasca Operasi PSARP Antibiotik intra vena diberikan selama 3 hari ,salep antibiotik diberikan selama 8 -10 hari. 2 minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation, 2x sehari dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang dinaikan sampai mencapai ukuran ynag sesuai dengan umurnya. Businasi dihentikan bila busi nomor 1314 mudah masuk. UMUR 1 4 Bulan UKURAN # 12

4 12 bulan 8 12 bulan 1-3 tahun 3 12 tahun > 12 tahun

# 13 # 14 # 15 # 16 # 17

FREKUENSI Tiap 1 hari Tiap 3 hari Tiap 1 minggu Tiap 1 minggu Tiap 1 bulan

DILATASI 1x dalam 1 bulan 1x dalam 1 bulan 2 x dal;am 1 bulan 1x dalam 1 bulan 1x dalam 3 bulan

Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah mengejakan sertsa tidak ada rasa nyeri dilakukan 2x selama 3-4 minggu merupakan indikasi tutup kolostomi, secara bertahap frekuensi diturunkan. Skoring Klotz VARIABEL

KONDISI

SKOR

Defekasi

1-

2 kali sehari 2 hari sekali 3 5 kali sehari 3 hari sekali > 4 hari sekali

1 1 2 2 3 1 2 3

Kembung

Tidak pernah Kadang-kadang Terus menerus

Konsistensi

Normal Lembek Encer

1 2 3 1 3 1

Perasaan ingin BAB

Terasa Tidak terasa

Soiling

Tidak pernah Terjadi flatus

bersama 2 3 1 2 3

Terus menerus 6 Kemampuan menahan feses yang akan keluar > 1 menit Tidak bisa menahan

Komplikasi

Tidak ada Komplikasi minor Komplikasi mayor

1 2 3

Penilaian hasil skoring : Nilai scoring 7 21 7 = Sangat baik = Baik = Cukup = Kurang

8 10 1113 > 14

3.

Tutup kolostomi Anak dipuasakan dulu beberapa hari setelah operasi tutup kolostomi. Sementara usus dalam proses penyambuhan. Beberapa hari setelah operasi, anak akan mulai BAB melalui rectum. Pertama, BAB akan sering dan tidak terkendali. Ruam karena diapers dan iritasi kulit dapat menjadi masalah. Dalam beberpa minggu setelah operasi, BAB berkurang frekuensinya dan agak padat serta sering menyebabkan konstipasi.

Toilet training segera dimulai saat anak berusia antara 2-3 tahun. Bagaimanapun, anak-anak dengan malformasi anorektal yang telah diperbaiki, dapat lebih lambat control BAB nya. Beberapa anak mungkin tidak dapat mengontrol BAB dengan baik, sedang lainnya mungkin mengalami konstipasi yang kronik, tergantung dari tipe malformasi dan perbaikan yang telah dilakukan. Anak-anak dengan malformasi membrane pada anal dan sempitnya lubang anal biasanya mempunyai control yang baik dalan BAB setelah perbaikan. Anak-anak dengan variasi malformasi anorektal yang lebih kompleks membutuhkan program bowel management untuk membantu mengontrol dan mencegah konstipasi.

Penatalaksanaan keperawatan Pengkajian Konsep teori yang digunakan penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi :
1.

Persepsi Kesehatan Pola Manajemen Kesehatan Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di rumah.

2.

Pola nutrisi Metabolik Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien dengan atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi.

3.

Pola Eliminasi Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk buangan. Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong,1996).

4.

Pola Aktivitas dan Latihan Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan otot.

5.

Pola Persepsi Kognitif

Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan.
6.

Pola Tidur dan Istirahat Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada luka inisisi.

7.

Konsep Diri dan Persepsi Diri Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak luka jahitan operasi (Doenges,1993).

8.

Peran dan Pola Hubungan Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges,1993).

9.

Pola Reproduktif dan Sexual Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi (Doenges,1993).

10. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi

Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, (Doenges,1993).

masalah keuangan, rumah

11. Pola Keyakinan dan Nilai

Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah (Mediana,1998). Pemeriksaan Fisik Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus tampak merah, usus melebar, kadang kadang tampak ileus obstruksi, termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada auskultasi terdengan hiperperistaltik, tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan vagina (Whaley & Wong,1996)

Edukasi Edukasi yang dapat dilakukan kepada keluarga adalah mengenai cara perawatan stoma dan kolostomi. Aktifitasnya: 1. Menandai kulit yang terdapat stoma 2. Mengajari pasien dan keluarga dalam menggunakan peralatan kolostomi 3. Membantu pasien atau keluarga dalam melakukan ostomy-care 4. Menganjurkan pasien atau keluarga untuk mendemonstrasikan penggunaan alat 5. Memonitor luka stoma 6. Irigasi kolostomi secara tepat 7. Memonitor stoma atau jaringan sekeliling luka dan adaptasi peralatan ostomy 8. Mengosongkan ostomy-bag dengan tepat 9. Mengajari klien mekanisme mengurangi bau 10. Mengajari klien atau keluarga untuk asupan nutrisi secara tepat dan mampu menunjukan jika terjadi perubahan fungsi eliminasi.

Nursing Care Plans

No 1.

Diagnosa keperawatan Nyeri akut r/t agen injury biologi (luka post tutup -

NOC Kontrol nyeri -

NIC Manajemen nyeri

Definisi : aksi personal untuk mengontrol nyeri

Definisi : meringankan nyeri atau

kolostomi) Definisi : ketidaknyamanan

mengurangi nyeri menuju level nyam yang dapat diterima oleh pasien. Aktivitas : Melakukan pemeriksaan

Kriteria Hasil : Mengetahui factor penyebab Mengetahui onset nyeri Mengetahui gejala Menggunakan penyembuhan dengan non-analgesik Menggunakan analgesic bila diperlukan Melaporkan nyeri yang dapat dikontrol

sensori dan penalaman emosi yng timbul dari kerusakan jaringan actual atau potensial atau

komprehensif pada nyeri terma

menggambarkan

berberapa

lokasi, karakteristik, onset atau

kerusakan; onset tiba-tiba atau lambat dalam beberapa intensitas dari lembut sampai keras dengan akhir yang dapat di antisipasi atau di prediksi an durasinya kurang dari 6 bulan.

frekuensi, kualitas, intensitas, a

tingkat nyeri dan factor pencetu -

Observasi respon nonverb

terutama pada klien yang tid berkomunikasi secara efektif Menggunakan strategi ko

DO : post tutup kolostomi Lahir tanpa lubang anus dan TCD DS : Anak mengeluh nyeri dan susah tidur Ibu belum tahu cara tutup kolostomi PSARP Luka tutup kolostomi Nyeri tekan positif -

yang

terapetik

untuk

me

pengalaman nyeri klien dan m respon klien terhadap nyeri.

Menyadari pengaruh keb terhadap respon nyeri Evaluasi keefektifan

control nyeri yang telah d sebelumnya. Menyediakan informasi

nyeri seperti penyebab nyeri nyeri tersebut

berl

ketidaknyamanan yang diantisi prosedur yang dilakukan. -

Mendorong klien untu

memonitor nyerinya dan m tindakan seperlunya. Mengajarkan

ba

menggunakan teknik nonfarm untuk dengan mengurangi relaksasi, nyeri guided

distraksi, massage dll. 2. Resiko infeksi r/t kerusakan jaringan, prosedur invasive. Risk control Kontrol infeksi

Definisi : tindakan untuk mengeliminasi

Definisi : meminimalisir penerimaan transmisi agen infeksi. Aktivitas : -

Definisi : peningkatan risiko atau mengurangi factor risiko secara actual, untuk terinvasi oleh organism dari klien atau dgn tindakan yang dapat pathogen. DO : Terdapat colostomy DS: Pemasangan infus luka tutup dimodifikasi. Indikator : Mengakui adanya resiko Memonior factor resiko lingkungan Memonitor factor resiko sikap

Cuci tangan sebelum dan se merawat tiap-tiap pasien

Menggunakan sabun anti m untuk mencuci tangan

Memakai sarung tangan (ses universal precaution)

personal Membangun strategi efektif control resiko Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko Mendapat imunisasi yangsesuai Memonitor perubahan status kesehatan

Memelihara lingkungan ase

ketika mengganti selang TPN ( Parenteral Nutrisi) -

Memastikan tindakan asepti semua IV Lines

Mengajari pasien dan keluar

tanda dan gejala infeksi dan kap

melapor pada petgas kesehatan -

Mengajari pasien dan anggo

keluarga bagaimana menghinda infeksi Memberikan agen immuniz dengan imunisasi 3. Kurang kurangnya didapaat Definisi: kognitif kurangnya berhibungan informasi dengan pengetahuan informasi r/t Pengetahuan : prosedur perawatan yang Definisi :memperluas pemahaman tentang Definisi: menyiapkan klien untuk Teaching : prosedur perawatan

prosedur yang dibutuhkan sebagai bagian dan persiapan mental untuk prose dari regimen. Indicator: Medeskripsikan perawatan Menjelaskan tujuan dan langkahlangkah dari prosedur Menunjukan bagaimana prosedur perawatan yang dianjurkan. Aktifitas: -

topic tertentu. DO : DS : Ibu perawatan kolostomi belum tahu luka cara tutup Luka tutup kolostomi Nyeri tekan positif

Menginformasikan kepad

dan keluarga kapan, dimana lama, dan siapa yang

tindakan.

Menentukan pengalam tingkat pengetahuan

prosedur perawatan dilakukan Mendeskripsikan potensial efek samping -

berh

dengan tindakan perawatan

Menjelaskan tujuan d perawatan

Menyediakan informasi

hasil perawatan. 4. Gangguan pola tidur r/t

ketidaknyamanan fisik: nyeri. Definisi: gangguan kwantitas dan kwalitas tidur karena kerusakan fungsi. DO : DS : Ibu mengeluh anak tidak bisa tidur