Anda di halaman 1dari 5

ACARA I PREPARAT SEGAR (FREE HAND SECTION) I.

TUJUAN Membuat preparat dari jaringan sel jaringan organ tumbuhan yang masih segar. TINJAUAN PUSTAKA

II.

2.1 Metode Free Hand Section Metode free hand section merupakan cara pengirisan atau penyayatan menggunakan tangan. Organ atau jaringan yang digunakan merupakan jaringan segar. Dalam proses pembuatan preparat dengan metode biasanya tidak melalui tahapan proses fiksasi. Pembuatan preparat semipermanen dengan metode free hand section menurut ( Potongan batang dimasukkan dalam alkohol 70% selama 24 jam. b. Dibuat irisan melintang dengan silet. c. Irisan dimasukkan dalam cawan petri yang berisi kloralhidrat 10% dalam aquades selama 30 menit. d. Irisan dimasukkan ke larutan safranin 0,5% dalam alkohol 70% selama 5 menit. e. Irisan yang sudah diwarnai selanjutnya dicuci dengan alkohol 70% agar warna tidak luntur, jika ditutup dengan gliserin. f. Irisan diambil dari alkohol, lalu diletakkan diatas gelas benda dan dibubuhi gliserin. g. Irisan ditutup dengan gelas penutup secara hati-hati agar tidak rusak. h. Bagian tepi gelas penutup ditutup dengan cat kuku transparan. i. Preparat diamati di bawah mikroskop. 2.2 Temu lawak 1. Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.)

a. Klasifikasi

Klasifikasi rimpang temulawak menurut (Backer, 1968 dalam Sugiharto, 2000).

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma Xanthorriza Roxb.

Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun atau terna tahunan (perennial). Tanaman ini mempunyai daya adaptasi yang cukup luas di daerah tropis dengan habitat yang ternaung seperti hutan / padang rumput, dan semak belukar. Tempat tumbuhnya sangat mempengaruhi terhadap kualitas dari rimpang temulawak yang dihasilkan. Bila temulawak ditanam di dataran rendah maka patinya lebih tinggi dibanding di dataran rendah, sedangkan temulawak yang ditanam di daerah dataran tinggi minyak atsirinya lebih besar dibanding di dataran rendah (Tjitrosoepomo, 2005).

Batang tanaman temulawak berupa batang semu yang merupakan metamorfosis atau penjelmaan dari daun tanaman, temulawak tumbuh merumpun dengan batang semu yang tumbuh dari rimpangnya. Batang semu berasal dari pelepah-pelepah daun yang saling menutup membentuk batang. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 2-2,5 meter dengan warna

hijau atau cokelat gelap. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak (Muhlisah, 1999)

Akar merupakan bagian yang terpenting dari tanaman temulawak, karena akar tinggalnya merupakan bagian terpenting untuk bahan obat-obatan (Kartasapoetra, 2006). Pada bagian ini tumbuh tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Rimpang temulawak termasuk yang paling besar diantara semua rimpang marga curcuma.

Salah satu khas yang dimiliki rimpang temulawak adalah temulawak mempunyai aroma tajam menyengat dan rasanya pahit agak pedas. Akar rimpang temulawak tertanam kuat di dalam tanah. Rimpang tanaman berukuran besar, bercabang-cabang berwarna cokelat kemerahan atau kuning tua & daging rimpang berwarna oranye tua / kecokelatan (Tampubolon, 1980).

ACARA III

METODE ASETOLISIS

I.

TUJUAN Untuk mengamati bentuk-bentuk polen dan spora

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode asetolisis


Asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunkan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil amatan morfologi dinding serbuk sari ornamentasi dari serbuk sari tersebut. Serbuk sari yang digunakan dalam pembuatan preparat ini haruslah merupakan serbuk sari yang matang. Serbuk sari yang matang ini dapat ditandai dengan sudah tidak ada air dalam serbuk sari tersebut, jika serbuk sari dipatahkan maka hanya akan seperti tepung saja.

Langkah-langkah dari proses asetolisis ini antara lain adalah fiksasi, pemanasan, pencucian, pewarnaan (staining), penutupan (mounting), dan labelling. Langkah pertama yaitu fiksasi serbuk sari. Fiksasi adalah suatu usaha untuk mempertahankan elemen -elemen sel atau jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada tempatnya, dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif. Fiksasi umumnya memiliki kemampuan untuk mengubah indeks bias bagian-bagian sel, sehingga bagianbagian dalam sel tersebut mudah terlihat di bawah mikroskop. Tetapi tidaklah berarti banyak, karena tanpa diwarnai bagian-bagian jaringan tidak akan dapat jelas dibedakan satu sama lain, dan untungnya fiksatif mempunyai kemampuan untuk membuat jaringan mudah menerap zat warna. Dari proses fiksasi ini, fiksatif diharapkan akan : 1. Menghentikan proses metabolisme dengan cepat 2. Mengawetkan elemen sitologis dan histologis 3. Mengawetkan bentuk yang sebenarnya

4. Mengeraskan atau memberi konsistensi material yang lunak biasanjya secara koagulasi, dari protoplasma dan material-material yang dibentuk oleh protoplasma

Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) memiliki warna, ukuran dan bentuk bunga yang sangat beragam. Bunga muncul sepanjang tahun, memiliki jenis dan varietas yang berlimpah, tumbuh di dataran rendah ataupun di dataran tinggi, (Ariyanti dan Osman, 1990).Sebagai bagian dari tanaman florikultura Hibiscus ditanam sebagai tanaman taman, untuk pagar, tanaman pot, juga sebagai bunga potong. Bunga Hibiscus hanya bertahan segar dalam 1 hari mulai pagi sampai sore, sering dijumpai sebagai hiasan meja restoran dan hotel didaerah pariwisata yang dipetik dari halaman sendiri. Walaupun tidak bertahan lama, tanaman ini rajin berbunga apalagi dengan cahaya matahari cukup, penyiraman dan pemupukan yang memadai (Anonim,1999).