Anda di halaman 1dari 20

MODEL DAN NILAI

PROMOSI KESEHATAN

Oleh:
MARSITO, SKp. MKep. Sp. Kep Kom
Serdik: 1710630518946 , NIDN: 0626036501
MODEL DAN NILAI PROMOSI KESEHATAN

1. Health Belief Model ( Model


Kepercayan Kesehatan)
2. Transtheoritical Model ( Model
Transteoritikal)
3. Theory of Reasoned Action (
teori Aksi Beralasan)
4. Stress and Coping ( Stres dan
Koping)
1. Health Belief Model ( Model Kepercayan
Kesehatan)
 Sangat dekat dengan
pendidikan/promosi kesehatan
 Perilaku kesehatan merupakan
gambaran dari pengetahuan,
ketrampilan dan sikap
 Persepsi seseorang : kerentanan dan
kemanjuran pengobatan pengaruhi
keputusan perilaku kesehatan
Menurut Model Kepercayaan Kesehatan
:Perilaku di tentukan seseoang :

Percaya bahwa
mereka rentan Menganggap
terhadap masalah masalah kesehatan
kes tertentu itu serius

Menerima anjuran Health Belief


untuk mengambil Tidak mahal
Model : apakah
tindakan seseorang :
kesehatan

Menyakini efektifitas
tujuan pengobatan dan
pencegahan
Contoh:
Sebagai seorang wanita akan
menggunakan kontrasepsi apabila:
1. Dia telah mempunyai beberapa orang
anak dan mengetahui bahwa masih
potensial untuk hamil sampai beberapa
tahun mendatang
2. Melihat kes dan status ekonomi
tetanggnya menjadi rusak krn terlalu
banyak anak
3. Mendengar bahwa tehnik kontrasepsi
tertentu menunjukkan efektifitas
sebesar 95%
4. Kontrasepsi aman dan tidak mahal
5. Dianjurkan oleh petugas kesehatan agar
mulai memakai kontrasepsi
Kelemahan Model Kepercayaan Kesehatan

1. Kepercayaan kes bersaing


dg Kepercayaan serta
sikap lain seseorang, yg
juga mempengaruhi
perilaku
2. Pembentukan kepercayaan
seseoarang sesungguhnya
lebih sering mengikuti
perilaku dan bukan
mendahuluinya
2. Transtheoritical Model ( Model Transteoritik
“Bertahap”)

1. Perilaku Kesehatan tidak bergabung


pada perangkap teoritik tertetu

2. Seseorang mempertimbangkan untung


dan ruginya mengubah suatu perilaku
sebelum melangkah dari tahap satu ke
tahap berikutnya

7
Model ini mengidentifikasi 4 tahap:
 Prekontemplasi :seseorang blm memikirkan sebuah
perilaku sama sekali, orang tersebut belum bermaksud
mengubah suatu perilaku
 Kontemplasi: seseoang benar-benar memikirkan suatu
perilaku, namun masih belum siap melakukannya
 Aksi: seseoran sudah melakukan perubahan perilaku
 Pemeliharaan: keberlangsungan jangka panjang dan
perubahan perilaku yang terjadi.
Contoh kasus: Kebersihan rumah
 Seorang ibu karena kurang mendapat pengetahuan dan
pelatihan tidak pernah berfikir untuk menutup makanan ,
memasak air minum, dan menjaga kebersihan dapur.
 Setelah mendengar informasi dari TV atau radio ttg bahaya
kuman dan melihat tetangganya memberihkan rumah ia
mulai berkontemplasi untuk mempengaruhi aksi menjaga
kebersihan di rumah
 Kemudian ia mencari informasi dari tetangga dan petugas
kesehatan setempat akhirnya memulai proses perubahan
perilaku
 Setelah satu pereode waktu ibu tersebut menutup
makanan , memasak air minum dan menjaga kesehatan
lingkungan dapur sebagai tugas rutin sehari hari
3. Theory of Reasoned Action (Teori Aksi Beralasan)
 ALASANNYA :
 Niat seseorang menentukan apakah sebuah perilaku
dilaksanakan.
 Perilaku akan mengikuti niat, tidak akan pernah
terjadi tanpa niat.
 Niat dipengaruhi sikap-sikap terhadap suatu perilaku
seperti: apakah ia merasa suatu perilaku itu penting
 Sifat normatif: seseorang berfikir ttg apa yg dilakukan
orang lain akan mempengaruhi perilaku yg akan
dilakukan.
 Sikap mempengaruhi perilaku melalui proses
pengambilan keputusan yg teliti dan beralasan
 Perilaku banyak dipengaruhi oleh sikap yang spesifik
terhadap sesuatu.
 Perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh sikap tetapi
juga norma norma subyektif
 Sikap terhadap perilaku tertentu bersama -sama
norma subyektif membentuk suatu intensi atau niat
suatu berperilaku tertentu
Contoh : teori tindakan beralasan (niat seseorang
untuk berperilaku melalui berobat ke RS dipengaruhi:

 Seseorang yang memiliki keyakinan sikap bahwa suatu


RS memberikan pelayanan cepat , ramah, biaya relatif
murah, lingkungan bersih, lokasi strategis dan mudah
di capai
 Kemudian didukung pula oleh keingingan orang dekat
ybs untuk berobat ke RS tsb yg disebut norma
subyektif , seperti orang tua , istri , anak , temen
dekat, petugas kesehatan.
4. Stress and Coping
 Stress dilihat dari 2 sudut pandang:
 1. Stress dilihat sebagai pemicu dari reaksi dapat
dikatakan sebagai penyebab yang sering disebut
stressor

Environmne
stress

Strain sress
ee
Respon
Strain stimulus sebagai
Person stimulus

Stress
2. Stress sebagai sebuah efek, disebut sebagai Respon terhadap
stress

Environmne Person
Psychological

Stressor Agents Stress Respon Physiological

Behavioral
• Environmne Person
Menyebabkan Stress:
 Panas
 Dingin
 Kesedihan
 Latihan
 Obat
 Kurang tidur
 Nutrisi
 Frustasi
 Ketakutan
 Kemarahan
 Bising
 Penuh sesak
 Perubahan keadaan
Koping :
 Mc. Crae & Costa : perilaku, koping, sebagai respon
untuk menghadapi stressor
 Menurut Lazarus & Folkman :, koping sebagai suatu
proses dimana invidu , mencoba untuk mengelola
jarak yg ada antara tuntutan dengan sumber sumber
daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi
stressful
 Pada dasarnya koping adalah kemampuan kita untuk
mengatasi sebuah strssor /respon stress untuk
mengubah stressor atau respon stressor.
Koping mempunyai 2 macam
 Emotion Focused Coping : digunakan untuk
mengatur respon emosional terhadap stress
 Problem Focused Coping : untuk mengurangi
stressor individu akan mengatasi dengan mempelajari
cara atau keterampilan baru
8 strategi Koping: Taylor
 Konfrontasi
 Mencari dukungan sosial
 Merencanakan pemecahan masalah
 Kontrol diri
 Membuat jarak
 Penilaian kembali secara positif
 Menerima tanggung jawab
 Lari / menghindar

Anda mungkin juga menyukai