Anda di halaman 1dari 70

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pendekatan-pendekatan yang ada dalam Perkembangan Ilmu


Perkembangan ilmu pengetahuan tak lepas dari dorongan rasa ingin tahu
manusia. Ingin tahu terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Tujuannya adalah untuk
menemukan kebenaran. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa permulaan ilmu dapat
disusur sampai permulaan manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan itu sudah cukup lama, setua perjalanan sejarah dan peradaban
manusia itu sendiri.
Namun para ahli tampaknya memiliki pendapat yang berbeda dalam
memandang proses perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Memang sulit dan
mustahil untuk merumuskan suatu kesepakatan bersama. Hal ini terjadi, karena
masing-masing melihat dari sudut pandang yang berbeda. Atas dasar disiplin ilmu
yang berbeda. Berikut ini akan dibahas pendapat-pendapat yang dikemukakan para
ilmuwan berdasarkan pendekatan yang mereka gunakan.
1. Pendekatan Proses
George J. Mouly mengemukakan sudut pandangnya tentang perkembangan ilmu
pengetahuan dengan menggunakan proses sebagai pendekatan. Menurut pendapat
George J. Mouly, perkembangan ilmu pengetahuan berawal dari animisme. Sejak
tahap awal ini, ilmu pengetahuan terus berkembang hingga mencapai tahap
pengakuan sebagai ilmu pengetahuan. Menurutnya ada tiga tahapan dalam
perkembangan itu, yakni animisme ke tahap ilmu empiris, dan ilmu teoretis.
Selanjutnya George J. Mouly menjelaskan proses perkembangan pada tahap-tahap
dimaksud sebagai berikut.
a. Animisme
Tugas manusia pada dasarnya adalah mengerti segenap gejala yang
ditemuinya dalam kehidupan untuk mampu menghadapi masalah-masalah yang
ditimbulkannya (George J. Mouly dalam Jujun S. Suriasumantri, 1984: 91). Di
masyarakat primitif masalah-masalah ini dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat
gaib. Gejala alam dianggap sebagai perbuatan makhluk halus.Dimitoskan makhluk-
makhluk halus masih memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia primitif.
Pada tahap ini ilmu pengetahuan masih dihubungkan dengan unsur-unsur mitos.
Selanjutnya dikemukakan George J. Mouly, gejala dan fenomena alam seperti
petir ataupun banjir dihubungkan dengan perbuatan dewa-dewa. Dalam masyarakat
primitif para dewa ini tampaknya memainkan peranan yang penting dalam kehidupan.
Sampai-sampai, bangsa Indian misalnya, menghubungkan sakit, kelaparan, dan
berbagai bencana dengan makhluk-makhluk halus yang sedang berang. Keadaan yang
bersifat gaib atau fase animistis ini belum sepenuhnya berlalu, bahkan pada beberapa
golongan yang beradab. Cerita rakvat bangsa Irlandia. Bahkan di negara maju seperti
Amerika Serikat, kepercayaan gaib akan kucing hitam, tangga, Jum'at ke-13 dan
mengguna-guna lewat boneka, masih dijumpai (George J.Mouly: 91).

b. llmu Empiris
Dalam fase berikutnya, gejala alam tidak lagi dihubungkan dengan alam gaib.
Menurut George J.Mouly, lambat laun manusia menyadari bahwa gejala alam dapat
diterangkan sebab-musababnya. Dan fase ini merupakan suatu langkah yang paling
penting dalam menandai permulaan ilmu pengetahuan sebagai suatu pendekatan
sistematis dalam pemecahan masalah. Dalam prosesnya langkah-langkah ini
dilakukan melalui observasi yang lebih sistematis dan kritis, pengujian hipotesis
secara sistematis dan teliti bawah kontrol. Ilmu pengetahuan pada tingkat empiris ini
adalah untuk mengungkapkan mengapa berbagai gejala bisa terjadi. (George J.
Mouly:91).Proses dimaksud tersusun secara sistematis melalui:

2
1) Pengalaman
Titik tolak ilmu pengetahuan pada tahap paling permulaan adalah
pengalaman. Melalui pengalaman dalam mengobservasi berbagai gejala
seperti hujan angin, badai salju, gerhana atau gejala alam lainnya. Jadi ilmu
pengetahuan dimulai dengan observasi, dan ditambah dengan berbagai
observasi lanjutannya. Akhirnya akan disusun prinsip-prinsip dasar yang
menerangkan tentang terjadi atau tidak terjadinya serangkaian pengalaman.
Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk memperoleh dan mensistematiskan
pengetahuan tentang gejala yang kita alami (George J. Mouly: 92).
Dijelaskan oleh George J. Mouly pula, bahwa pengalaman yang
dikumpulkan secara individual tidaklah cukup. Selain terpisah-pisah
pengalaman yang demikian itu masih belum memiliki arti dalam prinsip
keilmuan. Pengalaman yang terpisah-pisah tersebut masih harus direduksi
kepada dasar yang dapat menyatukan semua pengalaman dimaksud. Melalui
proses berikutnya itu, pengalaman-pengalaman tadi terbentuk menjadi
sejumlah kecil prinsip-prinsip dasar, yang bersifat umum dan dapat diterapkan
secara lebih luas (George J. Mouly: 92). Maksudnya dari berbagai
pengalaman yang terpisah disatu atas dasar kesamaan secara prinsip. Reduksi
ini akan mempermudah penyelesaian proses selanjutnya, yakni klasifikasi.
2) Klasifikasi
Prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisah menjadi
dasar yang fungsional adalah klasifikasi (George J. Mouly:92).Klasifikasi
merupakan dasar fungsional, suatu prosedur pokok dalam penelitian sebagai
cara yang sederhana dan cermat dalam memahami seiumlah besar data.
Dengan mengetahui kelas di mana suatu gejala termasuk, maka hal itu akan
memberikan dasar untuk memahami gejala rersebut. Dengan memasukkan
hujan lebat yang akan turun ke dalam klasifikasi topan, maka akan
memudahkan untuk mengidentifikasi, menghubungkan kita dengan objek atau
gejala dari sifat-sifat suatu kelas tersebut, jelas Mouly (George J. Mouly: 93).

3
Dikemukakannya pula klasifikasi lain seperti ikan, burung, berlian yang
membawa arti tersendiri. Makin persis klasifikasi dibuat, makin jelas arti yang
dibawanya dan makin spesifik pula dasar yang membentuk klasifikasi
tersebut. Umpamanya saja, kelas perkutut akan lebih khusus jika
dibandingkan dengan ciri-ciri yang lebih umum, yakni kelas binatang (George
J. Mouly: 93). Dengan klasifikasi ini akan terbentuk kelompok data dalam
kelas-kelas khusus yang lebilh spesifik. Dalam dunia binatang misalnya ada
kelas binatang menyusui (mamalia) kelas binatang beruas-ruas (antropoda),
dan sebagainya.
3) Kuantifikasi
Tahap pertama dari perkembangan ilmu adalah perkumpulan dan
penjelasan pengalaman, kemudian segera menyebabkan adanya kebutuhan
untuk mengkuantifikasi observasi tersebut. Kuantifikasi dapat memberikan
ketelitian yang diperlukan bagi klasifikasi dalam ilmu yang lebih matang
(George J. Mouly: 94). Selain itu, menurut George J. Mouly, memang
kuantifikasi memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan proses-proses
sebelumnya. Namun demikian, masih diperlukan ketelitian matematis (George
J. Mouly: 94).
Dengan penggunaan sistem numerik, kuantifikasi lebih teliti Selain itu
dengan kuantifikasi data yang terkumpul dapat dijelaskan melalui satuan-
satuan lambang yang lebih konkret. Demikian pula bila dihubungan dengan
pengukuran dan sejenisnya.
4) Penemuan hubungan-hubungan
Lewat berbagai klasifikasi dapat ditemukan hubungan fungsional
tertentu antara aspek-aspek komponennya. Hubungan fungsional dintara
berbagai gejala dapat juga diobservasi lewat urutan kejadian. Pada tingkat
yang lebih maju, ilmu empiris berusaha untuk mengemukakan hukum alam
dalam bentuk persamaan angka-angka yang menghubungkan aspek kualitatif

4
dari variabel yang satu dengan aspek kuantitatif variabel lain (George J.
Mouly: 95).
Dalam kenyataan, memang ditemukan bahwa berbagai gejala muncul
secara bersamaan. Hubungan seperti ini sering tidak mantap dan tidak
langsung. Hubungan antara ukuran fisik dari kelompok anak dengan
kemampuan membaca mereka adalah hubungan palsu. Semestinya hubungan
itu dilihat lagi pada hubungan dengan gejala lain yang dianggap ada
pengaruhnya. Misalnya ukuran fisik berkaitan dengan umur. Lalu tingkat usia
dihubungkan dengan kematangan mental. Dari kematangan mental ini baru
dihubungkan dengan kemampuan membaca (George J. Mouly: 95). Jadi
dalam proses penemuan hubungan-hubungan ini perlu dilakukan semacam
seleksi yang pas.
5) Perkiraan kebenaran
Suatu peristiwa sering terjadi sedemikian rumitnya sehingga
hubungan-hubungan yang mungkin terdapat tampaknya menjadi kabur,Untuk
menganalisis kejadian tersebut perlu diperhatikan unsur-unsur yang bersifat
dasar dengan tujuan, agar dapat ditentukan secara jelas hubungan-hubungan
tersebut dari berbagai aspek. Proses perkiraan kebenaran yang terus-menerus
dan proses pendefinisian ulang masalah yang ditinjau dari keberhasilan atau
kegagalan perkiraan tersebut, merupakan dua langkah yang fundamental
dalam perkembangan ilmu pengetahuan (George J. Mouly: 95).
George J. Mouly mengemukakan beberapa contoh mengenai proses
perkiraan kebenaran ini. Umpamanya, setiap tahun ditemukan berbagai
varietas gandum dan padi-padian lainnya yang lebih baik. Apakah hasil ini
ada hubungannya dengan gejala alam atau tidak. Bila hubungan ini bersifat
signifikan, maka kebenaran akhir akan dicapai. Dalam bidang kedokteran
dikenal dengan "shot gun approach". Pasien diberikan obat yang berkhasiat
umum, umpamanya pinisilin. Namun bila ternyata tidak sembuh, maka berarti
tidak ditemukan faktor penyembuh pada obat dimaksud. Dengan demikian,

5
jenis obat tersebut tidak dapat digunakan dalam kasus yang sama (George J.
Mouly: 96).
Maka dalam kasus ini, pendekatan yang dilakukan adalah dengan
menggunakan obat satu per satu. Alternatif lain adalah mencoba kombinasi
dari berbagai obat dalam sejumlah kasus dalam rangkaian percobaan yang
teliti. Dengan demikian, bisa diperoleh nilai keilmuan yang semaksimal
mungkin, jelas George J. Mouly selanjutnya (George J Mouly: 96). Dengan
demikian, dalam tahap-tahap menemukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan,
prosesnya cukup panjang. Kebenaran yang dicapai tidak sekali jadi, dan
bukan berdasarkan perkiraan semata. Kebenaran demi kebenaran harus
diproses secara berulang-ulang hingga ditemukan kebenaran yang teruji
secara empiris.
c. llmu Teoretis
Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah ilmu teoretis, di mana hubungan
dan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan dasar suatu
kerangka pemikiran tentang sebab-musabab sebagai langkah untuk meramalkan dan
menentukan cara untuk mengontrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai
(George J. Mouly: 96). Ilmu teoretis dapat memperpendek proses untuk sampai pada
pemecahan masalah dan ilmu teoretis merupakan susunan kerangka teori (George J.
Mouly:97). Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teori dapat digunakan untuk
meramal dan mengarahkan penemuan fakta-fakta empiris, misalnya bom atom
tidaklah dibuat secara empiris. Einstein dan rekan-rekan sejawatnya, mula-mula
mengembangkannya secara teoretis. Baru sesudah itu berpaling pada pengujian
secara empiris. Ini pun dilakukan hanya untuk menghilangkan kekurangan dalam
pengoperasiannya (George J. Mouly: 97-98). Memang menurut George J. Mouly ada
disiplin ilmu yang hamper seluruhnya merupakan ilmu pengetahuan yang empiris,
seperti pendidikan. Kegagalan untuk menyusun kerangka teoretis hingga dapat
disintesiskan dengan penemuan bersifat empiris. Ilmu-ilmu sosial umumnya masih
menitikberatkan pada aspek empiris dan melalaikan aspek teoretis. Akhir-akhir ini

6
timbul kesadaran, bahwa empirisme merupakan tahap kelimuan yang belum lengkap
dan memerlukan orientasi yang lebih besar terhadap teori (George J.Mouly: 98).
Berangkat dari pendekatan proses, penjelasan George J. Mouly telah membuat
rangkaian perkembangan ilmu pengetahuan. Mulai dari pengalaman yang dihubungan
dengan unsur-unsur mitologi, hingga ke tingkat ilmiah. Dalam pandangannya, tingkat
tertinggi dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah pada tingkat teoretis.
2. Pendekatan Kultural
Pendekatan kultural didasarkan pada adanya perubahan-perubahan yang terjadi
dalam kultur masyarakat di rentang masa tertentu. Perubahan-perubahan besar
lazimnya ditimbulkan oleh lahirnya suatu kesadaran baru dalam sebuah masyarakat,
hingga menimbulkan kultur yang berbeda dari sebelumnya.
Menurut Franz Dahler dan Eka Budianta perkembangan ilmu pengetahuan
terkait dengan kesadaran manusia terhadap keunggulan akal budi. Perkembangan dari
kesadaran magis-mitis ke kesadaran rasional atau filsafat ini merupakan loncatan
yang sangat memengaruhi sejarah. Awal terjadinya tahun 1200 SM di Tiongkok,
kemudian juga di India dan Yunani. (Franz Dahler: 281). Selanjutnya Franz Dahler
membagi penahan dari perkembangan akal budi tersebut dalam empat puncak.
a. Puncak Pertama (abad ke-6 – ke-5 SM)
Pada tahap ini terjadi penonjolan rasio (akal budi-pikiran) terhadap alam,
hukum asas pertentangan, dan dualisme antara roh dan materi. Manusia mulai
menyadari atas atas kebebasan, martabat, dan kekuatan akan pikirannya. Akal
budi sehat, kebijaksanaan, penghayatan kosmos, dan bumi secara rasional
diutamakan. Sejalan dengan kesadaran rasional ini memunculkan logika dan asas
penentangan, kesimpulan didasarkan pada logika benar dan salah. Hanya ada dua
jawaban atas suatu pemyataan: ya atau tidak. Tidak ada pilihan lain.
Perintis-perintis besar puncak pertama ini adalah Lao Tse, Konfucius,
Budha, Thales, Plato, Aristoteles, dan seterusnya. Di Mesir kesadaran ini muncul
semasa Raja Echnaton (1380 SM), yang ingin menghapuskan pemujaan dewa-
dewi dan meresmikan kepercayaan akan satu Tuhan (monOteisme) (Franz Dahler

7
dan Eka Budianta, 2000: 281). Loncatan dari pikiran magis-mistis ke kesadaran
rasional ini tampaknya tidak hanya terjadi di suatu ka'wasan khusus. Selain di
Yunani, kesadaran serupa juga muncul di kawasan lain seperti Mesir, Cina, dan
India Txdak dijelaskan, apakah di masa itu sudah ada hubungan antarkawasan,
sehingga terjadi proses saling memengaruhi?
b. Puncak kedua
Puncak kedua ini ditandai oleh kesadaran rasiona] tercapai dalam
kebudayaan Islam Abad Pertengahan di Iran, Irak, Mesir, dan Spanyol. Tokoh-
tokohnya seperti Al-Farabi (±950), lbn Sina Avicenna (980-1037), Al-Biruni
(937-1048), dan Averroes (1126-1198). Adapun sumbangan dari periode puncak
kedua ini adalah berupa keberhasilan menyatukan fllsafat Yunani dengan ilmu
alam, bumi, astrologi, matematika, kedokteran, dan agama (Franz Dahler dan
Eka Budianta: 282).
Tokoh-tokoh tersebut dinilai telah mampu menyinari pikiran
interdisipliner (kesatuan, kerja sama antara ilmu-ilmu) dan pendalaman agama
yang universal. Tidak hanya mencakup agama Islam. Universalisme ini paling
kentara pada sosok Al-Biruni yang mempelajari agama Hindu, Budha, dan
Kristen secara mendalam. Karyanya yang banyak hilang itu mencapai 150 buku
mengenai sejarah bangsa-bangsa kuno, farmasi, kedokteran, astromomi India dan
agama Hindu. Tokoh-tokoh Islam ini sudah merupakan perintis kesadaran
integral, melintasi pikiran rasional (Franz Dahler dan Eka Budianta: 283). Dalam
berbagai informasi tertulis, memang andil para filsuf dan ilmuwan Muslim
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Eropa cukup besar.
Loncatan kedua ini menandai awal dari kelahiran filsafat ilmu
pengetahuan. Pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat masuk ke telaah ilmu
pengetahuan. Di samping itu, juga kaitannya dengan nilai-nilai universal.
Pemikiran-pemikiran Filsafat yang terbatas pada produk gagasan dikembangkan
ke kajian-kajian ilmiah yang bersifat empiris.

8
c. Puncak ketiga
Puncak ketiga ini tercapai pada zaman Renaissance. Zaman kelahiran
kembali kultur Yunani, terutama dalam kesenian dan filsafat. Dalam abad ke-l5
dan ke-16, Eropa mengalami loncatan kultural. Titik berat ketuhanan bergeser
menuju manusia dan kemajuan. Arus baru ini dinamakan humanisme, yang
pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. (Franz Dahler dan Eka Budianta:
284)
Adapun tokoh-tokoh yang dinilai berjasa antara lain Descartez, johann
Gottlieb Fitch, Wilhelm Friedrich Hegel, Arthur Schopenhauer. serna Darwin
dan Immanuel Kant. Sebagai sanjana matenmika dan aiam, Descartes (1596-
1650) berperan dalam perkembangan fllsafat dan ilmu alam. Johann Gottlieb
Fitch: (1762-1814), Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), maupun Arthur
Shcopehauer (1788-1860) menekankan keutamaan ide, segi rohani dalam evolusi
manusia. Kemudian Darwin menemukan teori evolusi. Lalu flsuf terkemuka
Immanuel Kant (1724-1804) menurunkan nilai Iilsafat (Franz Dahler dan Eka
Budianta: 284).
Renaissance juga ikut berperan dalam menciptakan ide kebebasan,
kesamaan, dan persaudaraan untuk semua insan yang tercetus dalam revolusi
Francis 1789. Sebagai dampaknya lahir pula liberalisme dan sosialisme. Benih
gagasan ini dinilai bisa berkembang ke tingkat kesadaran lebih tinggi, yaitu
kesadaran integral (Franz Dahler dan Eka Budianta: 285).
Kelahiran Renaissance sebagai kebangkitan Eropa tak lepas dari
pengaruh pemikiran filsafat Yunani. Kultur Yunani yang sempat hilang dari
kawasan tanah kelahirannya itu (Eropa) diperkenalkan kembali melalui karya
terjemahan bahasa Arab. Bukan oleh adanya jalinan hubungan langsung antara
Eropa dengan Yunani. Jadi ada pihak ketiga yang berperan sebagai
penghubungnya, yakni tokoh-tokoh ilmuwan Arab.

9
d. Puncak keempat
Puncak keempat terjadi pada abad ke-20 yang ditandai oleh capaian tak
terduga dari keampuhan rasio manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pada puncak ini muncul kesadaran integral, sikap inklusif, saling
melengkapi, kesatuan antara ilmu alam dan agama, dan pengalaman mistik.
Sikap eksklusif seperti sukuisme, nasionalisme, dan rasialisme ditinggalkan, dan
berganti dengan kesadaran baru. Dunia dirasakan sebagai organisme, semua
anggota, dan bangsa-bangsa saling berhubungan. Abad ke-2l mempertemukan
kembali iman dan ilmu, kecenderungan masa postmodernisme akan hal-hal gaib,
esoterik, dunia di bawah kesadaran sebagai reaksi terhadap kesadaran rasional
yang terlampau dominan (Franz Dahler dan Eka Budianta: 281-284)
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Franz Dahler dan Eka
Budianta didasarkan pada reaksi terhadap kondisi yang ada. Reaksi yang
disebutnya sebagai loncatan itu adalah sebuah puncak dari era baru dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Loncatan pertama diawali ketika manusia
menyadari akan keunggulan akal budi yang dimilikinya, lalu menerobos dari
kungkungan mitologi. Ketika itu terbentuk kultur besar pertama. Selanjutnya
muncul kesadaran rasional, dan terus ke loncatan berikutnya, yakni kesadaran
integral. Kesadaran untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu ke dalam
disiplin ilmu pengetahuan yang baru.
3. Pendekatan Kreativitas
Selanjutnya dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, Conny R.
Semiawan menggambarkan perkembangan dimaksud dalam hubungan dengan
babakan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Tekanan utamanya adalah pada
dimensi kreatif, yang disebutnya sebagai peranan ciri kreativitas manusia.
Berdasarkan pendekatan ini ia membagi latar belakang sejarah perkembangan itu
dalam empat zaman, yaitu.

10
a. Zaman Purba
Rentang Zaman Purba ini tampaknya cukup panjang. Berlangsung dalam
suatu periode yang lama, dan oleh Conny R. Semiawan zaman purba ini dibagi ke
dalam dua periode, yakni: Masa Prasejarah, yang disebut juga zaman batu, dan Masa
Sejarah.
1) Masa prasejarah (20.000 SM-10.000 SM)
Menurut Conny R. Semiawan, rentang masa ini disebut Masa Prasejarah
karena warisan yang ditinggalkan oleh masa itu tidak " membicarakan" apa pun
mengenai dirinya. Segala yang diketahui tentang masa itu hanyalah merupakan
kesimpulan dari para ahli dari hasil penelitian terhadap peninggalan yang ada.
Peninggalan yang ditemukan antara lain berupa: alat-alat dari batu dan tulang,
gambar dalam gua-gua, tempat-tempat penguburan, serta fosil-fosil manusia purba
dan hewan. Masa ini juga disebut Zaman Batu (Conny R. Semiawan: 3).
Perkembangan pengetahuan manusia di zaman ini ditandai oleh
pengetahuan apa dan bagaimana (know, how). Pengetahuan ini diperoleh dari: 1)
kemampuan mengamati; 2) kemampuan membeda-bedakan; 3) kemampuan
memilih; dan 4) kemampuan melakukan percobaan berdasarkan prinsip trial and
error (Conny R, Semiawan: 4). Atas dasar pengalaman yang berulang kali dari
kegagalan dan keberhasilan ini kemudian diperoleh berbagai pengetahuan. Proses
ini menunjukkan, ahwa pengetahuan manusia semasa itu tidak sekali jadi, suatu
kebenaran yang diperoleh dari berbagai kegagalan, maupun, melainkan melalui
suatu kesalahan.
2) Masa sejarah (15.000 SM-600 SM)
Pada periode ini manusia sudah mengalami kemajuan. Selain mewarisi dan
mengembangkan kemampuan dan keterampilan para pendahulunya, juga terjadi
peningkatan kemampuan baru. Kemajuan khusus yang dicapai di masa ini adalah
kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Tempat-tempat penting yang
banyak berperan dalam pengembangan kebudayaan ini seperti Afrika (Mesir),

11
Asia Tengah (Sumeria, Babilonia, Niniveh), Asia Timur (Tiongkok), serta Maya
dan Inca di Amerika (Conny R. Semiawan: 6).
Selanjutnya dikemukakan Conny, bahwa dengan kemampuan baca-tulis dan
berhitung, perkembangan ilmu berjalan lebih cepat dan lebih pasti dari masa
sebelumnya. Pencatatan sistematis dan pengumpulan data dikembangkan ke
penemuan baru seperti peta perbintangan. Dalam kehidupan sehari-hari ditemukan
siklus mingguan, siklus bulanan, siklus matahari yang jadi dasar pembuatan
bermacam-macam kalender.
Meskipun sudah dilakukan pengamatan, pengumpulan data, dan sebagainya
namun fakta-fakta hanya diolah sekedarnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia
purba masih berada pada tingkat intelek untuk menerima segala peristiwa
sebagaimana adanya. Jadi belum dilanjutkan dengan pendalaman secara ilmiah. Ciri-
ciri "orang-orang pintar" zaman purba ialah sikap mental dan penalaran yang represif
dan empiris, ungkap Conny (Conny R. Semiawan: 7-8).
Terlihat adanya perbedaan antara kultur manusia Masa Prasejarah dan Masa
Sejarah. Salah satu di antaranya, adalah kemampuan baca-tulis dan berhitung. Ada
semacam loncatan baru. Namun demikian, perbedaan ini tidak memberi pengaruh
mendasar pada perubahan status manusia sebagai makhluk alam. Kehidupan mereka
masih tergantung kepada alam Kemampuan baca-tulis dan berhitung masih terikat
dengan ramalan gaib dan takhayul.

b. Zaman Penalaran dan Menyelidiki (600 SM-200 M)


Pada kurun ini kebudayaan Yunani memberi corak baru pada pengetahuan,
Bangsa Yunani kuno sudah memiliki suatu penalaran yang selalu menyelidiki
(inquiring mind). Mereka tidak mau menerima peristiwa-peristiwa dan pengalaman-
pengalaman begitu saja secara pasif-reseptif,tetapi ingin terus mencari sampai
sedalam-dalamnya akar dari semua fenomena alam yang beragam ini (Conny R.
Semiawan: 8).

12
Karakteristik penalaran inquiring mind ini terkait dengan keyakinan dan
pandangan orang Yunani terhadap manusia selaku makhluk yang luhur dan
mempunyai kebebasan. Pandangan ini pula yang melatarbelakangi corak filsafat
Yunani yang banyak menekankan pada rasionalitas. Kemampuan akal optimal yang
merupakan keistimewaan dan kekuatan penalaran manusiawi (Conny R. Semiawan:
9). Di rentang zaman ini, disebutkan sejumlah tokoh penting seperti Socrates, Plato,
Aristoteles, Thales, Pythagoras, Euclid, Archimides, Aristarchus, Hipparcus, dan
Ptolemeus.
SoCrates, Plato, dan Aristoteles merupakan tiga tokoh filsuf memberi
landasan pemikiran berdasarkan logika. Namun di antara ketiganya itu, Aristoteles
merupakan pelopor utama logika deduktif yang menitikberatkan rasionalitas. Pokok-
pokok pikirannya tetap mendominasi para ilmuwan di Eropa sampai zaman modern,
dan tetap dapat diaplikasikan kepada perkembangan-perkembangan mutakhir
berbagai ilmu dan teknologi (Conny Semiawan: 9-10).
Selain menghasilkan buku Logika yang didasarkan atas silogisme, tokoh ini
juga sempat menulis buku Metafisika. Buku ini dinilai penting bagi perkembangan
ilmu pengetahuan. Adapun Thales dipandang sebagai peletak dasar astronomi,
geometri, dan filsafat Yunani. Pythagoras sebagai pemangku dalam ilmu pasti
memulai prinsip analisis, generalisasi, geometri,dan teori bilangan. Berdasarkan
perhitungan dan penemuan hukumnya Archimides dianggap telah menemukan
landasan ilmu pengetahuan modern. Aristarchus, Hipparchus Ptolemeus
mengembangkan bidang astronomi dengan mengajukan sistem tata surya yang
bersifat heliosentris (Conny R.Semiawan 9-14).
Penalaran yang selalu menyelidiki sebagai cikal-bakal pemikiran filsafat
adalah dilahirkan dalam kebudayaan Yunani kuno. Conny menempatkan kebudayaan
Yunani kuno sebagai "pemilik tunggal " yang sekaligus membidani kelahiran
kesadaran rasional. Mengubah pola pikir receptive mind ke pola pikir inquiring mind.
Dari yang pasif-reseptif ke kesadaran untuk mencari akar permasalahan dengan
mengandalkan penalaran. Setelah zaman ini, menurut Conny R. Semiawan

13
perkembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan penalaran filsafat ilmu tidak
mengalami kemajuan yang berarti, hingga tibanya Abad Pertengahan (Conny R.
Semiawan: 14).
Rentang masa antara meredupnya peradaban Yunani Kuno bangkitnya Eropa
ini lebih dikenal sebagai "zaman kegelapan". Sebutan ini agaknya tidak terlalu
berlebihan bila dikaitkan dengan istilah-istilah yang digunakan bagi kebangkitan
bangsa-bangsa Eropa itu sendiri. Dalam istilah yang sering dilekatkan dengan
kebangkitan perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, yakni renaissance yang
berarti "lahir kembali" dan aufklarung (enlightenment) yang bermakna "pencerahan,
penerangan (Ensiklopedi Indonesia: 322).

c. Abad Pertengahan (500 M-1500 M)


Kehadiran Abad Pertengahan diawali oleh suatu proses yang terentang selama
sepuluh abad. Berawal dari masa penerjemahan karya Yunani ke dalam bahasa Arab.
Dan setelah tahun 1300 M dipelajari oleh bangsa-bangsa Eropa. Terjemahan ini
antara lain meliputi ilmu pasti, astronomi, fisika kedokteran, biologi, farmasi, dan
ilmu kimia. Di samping menerjemahkan para ilmuwan Arab juga melengkapi dengan
perluasan pengamatan dan mempertajamnya (Conny R. Semiawan: 15). Jadi sudah
dilakukan semacam penyempurnaan terhadap karya-karya terjemahan mereka.
Berikutnya Conny R. Semiawan mengemukakan tokoh-tokoh yang berperan
dalam bidang penerjemahan karya Yunani ke bahasa Arab. Mereka itu adalah Al-
Khawarismi, Omar Kayyam, Ibn Rusyd, dan Al-Idrisi. Adapun Ar-Khawarismi (825)
adalah penyusun buku aljabar yang kemudian dijadikan buku standar selama
beberapa abad di Eropa, serta sistem desimal yang menggantikan angka Romawi.
Omar Kayyam (1043-1132) dikenal sebagai ahli perbintangan dan ahli matematika
(sampai pemecahan 'akar pangkat tiga). Ibn Rusyd (1126-1198) yang dikenal sebagai
Averoes, adalah ahli ilmu kedokteran, penulis komentar, dan penerjemah karya
Aristoteles dan mempunyai paham Evolusionisme. Kemudian Al-Idrisi (1100-1166 )
adalah ahli dalam bidang astronomi, serta menyumbangkan karya berupa hasil

14
penelitian sendiri mengenai gerhana bulan. Hasil penelitiannya menunjukkan akurasi
yang lebih tinggi dibandingkan ramalan ahli-ahli sebelumnya (Conny R. Semiawan:
15-16).
Periodisasi Abad Pertengahan (500 M-1500 M) ini tampaknya lebih
didasarkan pada keterkaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bukan
semata-mata didasarkan pada pembabakan sejarah secara kronologis.Di rentang masa
1.000 tahun itu tidak dimasukkan renaissance (renaisans), yakni sebagai masa
transisi antara Abad Pertengahan ke Abad Modern. Namun demikian, sebagai
seorang ilmuwan, Conny R. Semiawan telah meletakkan kejujuran ilmiah dalam
karyanya, dengan fakta sejarah yang ada.
Memang, bila ditelusuri perjalanan yang melatarbelakangi perkembangan
filsafat ilmu pengetahuan, kontribusi para filsuf dan ilmuwan Muslim terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan Eropa cukup berarti. Paling tidak sebagai pemberi
landasan dasar bagi perkembangan dimaksud. Dikemukakan oleh Campbell, bahwa
ilmu pengetahuan Yunani mulai dibawa dari Islam ke Eropa sekitar tahun 1100 M.
Namun setelah itu obor pengetahuan dan obor sejarah, sekarang pindah ke Eropa
(Nurcholish Madjid, 1992: xxxvi). Obor yang cahayanya memberi andil besar dalam
"menerangi " kegelapan dunia ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa.

d. Zaman Modern (Abad ke-14)


Memang tidak diungkapkan Zaman Modern dalam periode tertentu.Conny
R.Semiawan hanya melihat apa yang disebut Zaman Modern itu dari proses awal
perkembangannya. Zaman Modern menurut Conny, ditandai oleh timbulnya ide-ide
kreatif yang revolusioner dan bersifat inovatif di Eropa. Ide-ide baru ini mendobrak
tradisi pemikiran keliru yang sudah baku, baik dalam menafsirkan fenomena alam
maupun dalam melakukan penalaran. Pemicu munculnya abad ini adalah dengan
dimulainya perkembangan ilmu di benua Eropa kira-kira permulaan abad ke-14.
Perkembangan ilmu dari tiga sumber utama, yakni: 1) hubungan Arab dan Eropa; 2)
Perang Salib; dan 3) kejatuhan Constantinopel (Cony R. Semiawan: 21).

15
Selanjutnya dikemukakan Conny tiga sumber dimaksud memiliki pengaruh
yang sangat besar dalam menimbulkan ide-ide kreatif yang revolusioner dan bersifat
inovatif di Eropa. Ide-ide ini ikut mendobrak tradisi pemikiran yang baku dalam
menafsirkan fenomena alam dalam melakukan penalaran. Di rentang masa ini lahir
para ilmuwan dan ahli filsafat perintis dalam membentuk mata rantai penerus
perkembangan ilmu.
Selain itu mereka ini juga dianggap sebagai peletak dasar-dasar disiplin yang
kemudian dikenal sebagai filsafat ilmu (Conny R. Semiawan: 21-22). Adapun tokoh-
tokoh ilmuwan yang ikut memberikan andil besar dalam perkembangan filsafat ilmu
antara lain Coppernicus, Galileo, Francis Bacon, Rene Descartes, Newton, Gottfied
Wilhelm Leibniz, Laurent Lavoisier. Adapun Copernicus memberi perkembangan
berdasarkan pengalaman manusia, yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo ke prinsip
heliosentris. Galileo juga peletak dasar hukum percepatan dan kecepatan dalam
kinetika bersifat linear. Karya dalam bidang astronom ini tak lepas dari pemikiran
Copernicus. (Conny R. Semiawan: 22).
Kemudian peran Francis Bacon (1560-1626) dalam ilmu dan filsafat ilmu
adalah: 1) menganjurkan metode baru untuk meneliti alam; 2) membuat klasifikasi
pengetahuan manusia secara umum; 3) memperbaiki kualitas kehidupan dan kontrol
manusia atas alam; 4) menekankan pentingnya masyarakat ilmiah yang terorganisasi.
Rene Descartes (1596-1650) dikenal dengan ucapan " cogito, ergo sum” dianggap
sebagai tokoh revolusioner dalam berbagai cabang ilmu seperti biologi, metematika,
fisika, dan mekanika.Sedangkan Newton (1643-1727) dikenal sebagai penemu teori
gravitasi perhitungan kalkulus, teori korpuskuler. Kemudian Gottfried Wilhelm Leibni
(1646-1716) dikenal sebagai penemu perhitungan kalkulus dan penyusun notasi dan
simbolisasi kalimat yang menjadi dasar logika simbolik modern. Antoine Laurent
Lavoissier (1741-1794) dinilai sebagai peletak dasar ilmu kimia modern (Conny R.
Semiawan: 22-28).
Sejak memasuki zaman modern tampak perkembangan ilmu pengetahuan
beralih ke Eropa. Peradaban-peradaban besar yang pernah ada sebelumnya, mulai

16
meredup. Perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa yang berbasiskan peradaban
Barat sekuler telah melahirkan banyak ilmuwan dunia beserta karya-karya yang
dihasilkannya. Hingga memasuki Era Global dan Millenium III, pendulum
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih berada di kawasan negara-
negara Barat. Peradaban besar yang lahir dari pemisahan diri antara ilmu pengetahuan
dari dogma-dogma gerejani, melalui penyusupan pemikiran ilmiah lewat Islam. Maka
menurut Nurcholish Madjid, tak heran kalau, salah satu tuduhan yang sering
dilontarkan gereja, bahwa ilmuwan telah diracuni oleh ajaran Islam dan filsafat Ibn
Rusyd (Nurcholish Madjid, 1992: 591).
Selanjutnya dikemukakan, bahwa. memang terdapat perbedaan pokok antara
Islam dan Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. Dalam agama Kristen di
Barat tidak ada hubungan organik antara iman dan ilmu.
Masing-masing menempati domain yang berbeda dan terpisah (Nurcholish
Madjid, 1992: 591-592), Pemisahan antara ilmu pengetahuan dari agama ini
dampaknya masih dirasakan hingga Abad Modern ini di Eropa (dunia Barat), yakni
dengan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan.

4. Pendekatan Peradaban
Berikutnya, Jerome R. Ravertz memuat tahapan perkembangan ilmu
pengetahuan dalam hubungannya dengan peradaban. Menurutnya, ilmu pengetahuan
tertanam di masa lampau dan di banyak peradaban manusia (Jerome R. Ravertz: 5).
Berangkat dari pemahaman itu. Jerome R. Ravertz membagi perkembangan dimaksud
ke dalam lima tahapan, yakni: l) Peradaban Zaman Kuno dan Abad Tengah; 2)
Peradaban-peradaban Lain; 3) Pencipta Ilmu Eropa; 4) Zaman Revolusi; dm 5)
Zaman Matangnya Ilmu-ilmu (Joerome R. Ravertz: 7-61).
a. Ilmu Pengetahuan dalam Peradaban Zaman Kuno dan Abad Tengah
Kelahiran Ilmu pengetahuan dalam peradaban Yunani bersumber dari
pemikiran para filsuf. Mereka itu adalah Thales, Empedokles, Zeno, Parmenides,
Aeschylus, Perikles, Anaxagoras, Sokrates, Aristophanes, Plato, Aristoteles,

17
Euklides, Archimedes, Appolonius, dan Alexander Agung. Masa perkembangan
ilmu pengetahuan di zaman ini berlangsung selama hampir seabad, yakni sejak
akhir abad ke-6 sampai abad ke-5 SM.
Adapun karya-karya yang dihasilkan antara lain dalam bidang
matematika, kedokteran, astronomi, musik, Esika, fisiologi, biologi, geometri.
Dari sekian banyak bidang keilmuan ini dijumpai ada dua yang mendekati
kematangan. Pertama, ilmu kedokteran yang sudah didasarkan pada praktik
melalui penerapan metode yang berdisiplin dalam menarik kesimpulan. Kedua,
geometri yang telah disusun secara khusus dan mendekati masalah-masalah
struktur logis, dan masalah-masalah definisi (Jerome R. Revertz: 3-12).
Menurut Jerome R. Revertz, perkembangan ilmu pengetahuan dalam
peradaban Romawi adalah sebagai kelanjutan dari peradaban Yunani. Mereka
banyak belajar dengan mengakses langsung kumpulan karya-karya ilmu
pengetahuan Yunani. Sayangnya, peradaban Romawi yang canggih dan nyata-
nyata modern dalam politik dan personalitasnya ini, tak pernah menghasilkan
seorang ilmuwan pun. Memang Gelen dan Perganon dikenat sebagai ilmuwan
besar dalam bidang kedokteran, anatomi, dan fisiologi, Kedua ilmuwan yang
pemah hidup selama pemerintahan Marcus Aurelius (abad ke-2 Masehi), adalah
bangsa Yunani (Jerome R. Ravertz: 14).
Masalah-masalah ilmiah yang ditekuni dalam peradaban Romawi hanya
sebatas pada filsafat-filsafat yang berbasis etis. Dua aliran terkemuka yakni
Stoisme dan Epikureanisme hanya memuat amanat bagaimana untuk menjadi
manusia bijaksana. Para sejarawan mencoba menganalisis kegagalan Romawi di
bidang pengembangan ilmu pengetahuan adalah perbudakan yang dianggap
menghambat dorongan bagi inovasi industri. Selain faktor struktur sosial bangsa
Romawi yang berkombinasi dengan kelekatannya yang lama, terhadap
kepercayaan magis dan takhayul (Jerome R. Ravertz: 16).
Peradaban Yunani-Romawi mencapai genapan siklusnya sekitar 1.000
tahun. Setengah berikutnya disebut Abad Gelap. Di awal abad ke-ll sebagian

18
besar orang terpelajar mengenal dan memahami ilmu pengetahuan kuno dalam
cuplikan-cuplikan yang segelintir tercabik-cabik. Namun setelah itu terjadi
kemajuan pesat. Pada abad ke-12 dialami suatu renaissance yang sebagian
disebabkan pergaulan dengan peradaban Islam yang lebih tinggi yang terdapat di
Spanyol dan Palestina. Periode ini menghasilkan karangan-karangan spekulatif
perdana tentang filsafat alamiah.
Abad ke-13 berdiri universitas-universitas dan zaman kebesaran
skolastik. ThomasAquinas sebagai teolog terkemuka dan Roger Bacon selaku
penganjur metode eksperimental. Sayang kemajuan ilmu pengetahuan tersteril
karena tahun 1350-an Eropa dilanda bencana ekonomi dan sosial. Pendapat
mengenai ilmu simpang-siur, dan sama sekali belum bebas dari beban dogmatis
dan takhayul. Sampai-sampai Roger Bacon pun adalah korban takhayul yang
mudah tertipu (Jerome R. Ravertz: 18).Hal-hal yang bersifat takhayul temyata
masih memengaruhi pemikiran para rohaniawan dan teolog gereja. Mereka masih
percaya bahwa komet adalah bola api yang dilemparkan Tuhan yang sedang
marah kepada dunia yang jahat (Nusa Putra dalam Sabarti Akhadiah dan Winda
Dewi Lestyasari, 2011:195).
b. Ilmu dalam Peradaban-peradaban Lain
Jerome R. Ravertz sengaja menyingkat bahasan mengenai apa yang ia
makudkan dengan peradaban-peradaban lain. Tiga peradaban yang disebutnya
sebagai peradaban besar, yakni peradaban Islam, India, serta peradaban Cina dan
Jepang. Ketiga peradaban ini menurut Jerome R. Ravertz kontribusinya terhadap
ilmu sebagaimana dipahami sekarang ini sangat sedikit. Namun di antara
keempat peradaban dimalsud. menurut Ravertz kebudayaan Islam yang paling
relevan bagi ilmu Eropa (Jerome R. Ravertz: 19).
Dalam pandangan Jerome R. Ravertz relevansi ini didasarkan kedekatan
hubungan antara Islam dengan Judaisme dan Kristen. Di samping itu, karena
adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-negeri berbahasa Arab dengan
Eropa Latin. Zaman kebesaran Islam bersamaan waktunya dengan titik nadir

19
kebudayaan Eropa. Sejak abad ke-7 sampai abad ke-10, bahasa Arab menjadi
bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa yang terentang mulai dari Persia
hingga Spanyol. Para penakluk Arab umumnya membawa kedamaian dan
kemakmuran bagi negeri-negeri yang didudukinya. Perpustakaan Cordova di
Spanyol memiliki 500.000 buku pada saat bangsa Pyrenia Utara paling-paling
hanya mempunyai 5.000 buah buku. Bangsa Muslim juga toleran terhadap
keyakinan menoteis lainnya (Jerome R. Ravertz: 19).
Pada abad ke-9 di Baghdad dilakukan kegiatan penerjemahan secara
besar-besaran terhadap sumber-sumber ilmu Yunani. Setelah itu peran sarjana
Arab sendiri bergerak maju di bidang matematika, astronomi, optik, kimia, dan
kedokteran. Sebaliknya pada abad ke-12 dilancarkan program penerjemahan
secara besar-besaran karya-karya berbahasa Arab ke bahasa Latin. Awalnya
dalam bidang astrologi dan magis. Selanjumya di bidang filsafat dan ilmu
(Jerome R. Ravertz: 21). Kontak antara Islam dan Eropa Latin sebagian besar
melalui Spanyol, di mana orang-orang Kristen dan Yahudi dapat bertindak
sebagai perantara dan penerjemah (Jerome R. Ravertz: 21 )
Sayangnya, menurut Jerome R. Ravertz, di masyarakat yang teokratis
hanya ilmu kedokteran saja yang patut diterima di antara ilmu-ilmu bangsa-
bangsa pemuja berhala. Efeknya, basis sosial ilmunya rapuh. Adanya pandangan
seperti itu menyebabkan tak ada satu pun pusat kebudayaan ilmiah yang
berkembang pesat lebih dari satu abad, hingga tidak terjadi kesinambungan.
Selain itu, gaya kesarjanaan yang berkembang saat itu berupa dukungan bagi
seorang individu dalam mencoba meraup seluruh Pengetahuan dunia untuk
mencapai kebijakan sekuler. Tokoh-tokoh terbesar saat itu dapat membuat
kemajuan-kemajuan kreatif, tetapi jarang sekali ada kerja sama para sarjana
untuk membuat orang awam menjadi efektif (Jerome R. Ravertz: 20-21).
Jerome R. Ravertz menyatakan pula bahwa sumbangan yang sangat besar
peradaban Islam kepada peradaban Barat, adalah dalam memelihara dan
menularkan warisan Yunani. Selain itu juga kontribusinya pada ilmu

20
pengetahuan modern, terutama dalam sejumlah kata berkenaan dengan
tetumbuhan dan makanan. Memang cukup banyak istilah, konsep maupun nama-
nama yang telah terwariskan ke dunia ilmu pengetahuan Eropa. Sayang Jerome
R. Ravertz hanya menyebutkan dua nama, yakni aljabar dan alkohol. (Jerome R.
Ravertz: 22).
Selanjutnya, sejak awalnya peradaban India dikenal telah mencapai
tingkat teknologi yang tinggi. Matematika India dengan sistem bilangan dan
perhitungan yang telah berkembang cukup tinggi telah memengaruhi aljabar
Arab. Ciri khas ilmu dalam peradaban India menurut Jerome R. Ravertz terletak
pada kesadarannya yang lebih tinggi (higher consciousness). Kontak Eropa
dengan peradaban India sebagian besar berlangsung melalui sumbermber
berbahasa Arab. Namun demikian, bagaimanapun prestasi-prestasi Eropa dan
India tidak dapat dibandingkan secara ketat. Keduanya hanya dianggap saling
melengkapi satu sama lain, jelasnya (Jerome R. Ravertz: 22).
Peradaban Cina dikenal sudah maju. Basis pengetahuan umumnya ialah
keduniaan, meskipun lebih didasarkan pada harmoni antara pribadi ketimbang
keteraturan-keteraturan abstrak. Kontak antara Cina dan Eropa telah terjadi sejak
zaman Yunani Kuno. Hingga zaman Renaissans teknologi Cina lebih maju dari
Eropa. Menurut Jerome R. Ravertz penemuan-penemuan besar seperti
diperlihatkan para penulis abad ke-16 dan Francis Bacon, sebagai yang penting
bagi transformasi masyarakat Eropa semuanya berasal dari Cina: kompas,
magnet, serbuk mesiu, dan mesin cetak (Jerome R. Ravertz: 23).
Dalam pandangan Ravatz, kegagalan Cina membuat perkembangan ilmu
dan teknologi, antara lain dikarenakan masyarakatnya yang stabil dan diperintah
oleh penguasa sipil yang tidak turun temurun. Selain itu, Filsafat Cina lebih
mengarah ke bimbingan praktis ketimbang prinsip-prinsip abstrak. Filsafat alam
Cina didasarkan pada analogi-analogi organis dan hubungan-hubungan harmoni.
Filsafat juga tidak pernah dapat mengakomodasi gambaran materi mati yang
bergerak sesuai dengan hukum matematis, itu merupakan fondasi bagi

21
pengembangan ilmu pengetahuan. Demikian pula sistem matematikanya hanya
dapat diterapkan pada perhitungan-perhitungan terperinci yang telah dirancang
(Jerome R. Ravertz: 24-25).
Sementara mengenai peradaban Jepang, Jerome R. Ravertz
mengungkapkan bahwa, selama beberapa abad Jepang merupakan jajahan kultur
Cina. Pada abad ke-l7 Jepang masih menutup diri dari pengaruh luar yang
dianggap membahayakan. Baru di penghujuang abad ke-19, bangsa Jepang
memutuskan untuk berasimilasi dengan dunia luar dan kemudian
melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Agama asli jepang yang cukup
samar-samar sehingga bisa mengakomodasi setiap pernyataan ilmu Barat
(Jerome R. Ravertz: 25-26). Tampaknya Ravertz hanya mengulas peradaban
Jepang secara sekilas. Padahal peradaban yang bersumber dari ajaran Shinto
dengan semangat Bushido ini mampu memotivasi masyarakat Jepang untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modem.
c. Penciptaan llmu Eropa
“llmu” adalah ciptaan bangsa Eropa, jelas Jerome R. Raverts. Penciptaan
ilmu pengetahuan di Eropa melalui dua fase. Pertama, perkembangan teknis abad
ke-16. Kedua, revolusi filosofis abad ke-l7. Menurut Jerome R. Ravertz, sejak
revolusi filosofis itu pula munculnya gagasan ilmu pengetahuan Eropa yang
berlaku hingga saat ini (Jerome R. Ravertz: 27). Sayangnya tidak dijelaskan
secara tegas, apa yang dimaksudkan Jerome R. Ravertz dengan “ilmu”, sehingga
muncul klaim seperti itu. Pernyataan ini terkesan terlalu mengagungkan secara
sepihak. Menempatkan Eropa sama sekali terputus dari kontak dengan peradaban
luar, sebagaimana yang peerah dikemukakan sebelumnya.
Selanjutnya Ravertz mengemukakan tentang asal kembali ilmu
Pengetahuan Eropa di lokasinya pada tiga pusat. Pertama, penemuan manusia
dan alam, sebagai produk Renaissans pada abad ke-l5 di Italia, melalui
terjemahan teks Latin dan Yunani di semua bidang. Kedua, pertumbuhan pesat
dalam pertambangan, metalurgi, dan perdagangan. Lalu adanya penerapan

22
matematika praktis, teori serta pengembangan praktik Pengolahan besi, serta
penemuan mesin cetak oleh Gutenberg. Tansformasi Pembelajaran dan
kebudayaan menjadi semakin mudah dan murah. Ketiga, keberhasilan dari misi
pelayaran bangsa Spanyol dan Portugis menemukan kawasan barn Jerome R.
Ravertz: 31). Melalui penjelajahan ini kemudian berlangsung pengembangan
berbagai bidang penelitian dan pengetahuan. Selain bidang astronomi, teknik-
teknik hidrografis, juga diperkenalkan beragam jenis tanaman baru, penyakit,
maupun peradaban-peradaban baru (Jerome R. Ravertz: 29-31).
Semuanya itu menurut Jerome R. Ravertz ikut mendorong perkembangan
ilmu pengetahuan. Pada abad ke-l7 tetjadi perumusan kembali secara radikal
terhadap objek-objek, metode-metode, dan fungsi-fungsi pengetahuan ilmiah.
Tokoh-tokoh revolusioner ini ialah Francis Bacon (Inggris) dan Galileo Galilei
(ltalia). Kontribusi Bacon bagi ilmu memang tidak terlihat, namun ia
memberikan suatu cita-cita yang mengilhami dan juga pertimbangan-
pertimbangan yang cerdas mengenai aktivitas sosial ilmu pengetahuan. Descartes
menciptakan suatu metafisika baru, aljabar, dan geometri yang maju, serta
beberapa bidang fisika yang dapat diterima. Meskipun berbeda dalam gaya dan
kontribusinya, ketiga pelopor tersebut mempunyai tekad yang sama terhadap
dunia alamiah dan studinya. Mereka berpendapat bahwa alam tidak memiliki
sifat-sifat manusiawi dan spiritual. Alam harus diselidiki dengan serius dan tak
berpribadi, dengan menggunakan pengalaman inderawi dan nalar, melalui
penelitian berulang-ulang (Jerome R. Ravertz: 37-39).
Buku-buku yang dicetak di abad ke-16 memberikan suatu sumber ilmu
yang layak untuk suatu bangunan ilmu pengetahuan menjelang penengahan abad
ini muncul. Kemudian “Filsafat eksprerimental" diolah dan sebuah teori
gemilang dirumuskan oleh Benjamin Franklin. Meskipun prestasi-prestasi ini
bukan kemajuan besar, namun mampu mengokohkan penetapan ilmu (Jerome R.
Ravertz: 45). Hakikat ilmu Eropa pada masa itu mengacu kepada: l) prinsip-
prinsip dasar pengenalan dunia alamiah melalui argumen demonsuatii; 2) adanya

23
kebebasan yang mendorong aktivitas keilmuan dalam penemuan dan eksploitasi
hasilnya; 3) hilangnya sekab sekat antarbidang aktivitas berbeda, hingga
memungkinkan orang terpelajar berkecimpung dalam pcnemuan, memanfaatkan
pengetahuan dan keahlian baca tulis ( Jerome R. Ravertz: 46-47).
Ilmu pengetahuan Eropa berkembang dari basil warisan karya terdahulu,
khususnya pada matematika dan metode-metodenya. di atas ciri dasar
masyarakat Eropa yang individualisme agresif yang ditempa oleh suatu prinsip
bekerja sama untuk kemaslahatan umum (Jerome R. Ravertz 49). Ravertz:
menyadari akan adanya keterhubungan perkembangan ilmu pengetahuan di
Eropa. Hubungan antara perkembangan yang baru dengan Perkembangan yang
lama. Jadi ia mengakui adanya kontribusi warisan masa lalu bagi kelanjutan
perkembangan ilmu pengetahuan. Barangkali hubungan warisan ini pula yang
ikut berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa.
Dilukiskan oleh Martini Djamaris mengenai terjadinya proses pewal risan
dimaksud. Sebagai contoh, teori Heliosentris Nicolas Copernicus (1473-1543)
ikut memengaruhi Tycho Brahe (1572) dan johannes Keppler (1571-1630). Saat
meninggal, Tycho Brehe telah mewariskan pula hasil-hasil pcnelitiannya yang
dilakukan selama 21 tahun kepada Keppler. Mata rantai pewarisan ilmu
pengetahuan ini terus berlangsung hingga ke periode Isaac Newton (1643-1727),
maupun Leibniz (1646-1716) yang menghasilkan berbagai temuan yang
berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan di zaman modern (Martini
Djamaris: 126-127).
d. Ilmu Zaman Revolusi
Revolusi industri yang terjadi menjelang abad ke-18 telah
mentransformasikan Eropa dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri
dan gaya ilmu di zaman Revolusi ialah matematis. Dalam penerapannya, metode-
metode yang digunakan berupa rasionalisasi. Hasilnya berupa sistem pengukuran
yang runut didasarkan pada satuan-satuan alamiah dan desimal (Jerome R.
Ravertz: 55-56). Jean Paul Marat menggagaskan “ilmu untuk khalayak", yang

24
terbuka bagi para pengrajin yang terdidik secara otodidak dan didasarkan pada
kimia praktis dan sejarah alamiah.
Francis merupakan pusat dunia ilmiah pada 1820-an, namun kemandekan
ilmu juga terjadi di sana. Ditemukan prinsip-prinsip dasar themodinamika dan
teori aljabar abstrak. Tokoh-tokoh ilmuwan antaranya Fierre Simon Laplace,
Joseph Louis Lagrange, Gaspard Mane, Jean Baptise loseph Fourier. Simeon
Denis Poisson, Agustin Louis Cauchy, Antoine Lavoisier, jean jaques Rosseau,
Sadi Carnot, dan Evariste Calois
Filsafat alam (Naturphilosophie). Tokoh-tokoh ilmuwan Samuel Taylor
Coleridge William Blake, Hans Christian Ostred, julius Robert von Mayer.
Selama W ke-19, bangsa-bangsa industri maju Eropa membaur akibat dari
revolusi indrusti Revolusi Francis Berkembang masyarakat perkotaan dengan
kemajuan berbasis industri. Satu demi satu disiplin ilmiah mengalami kemajuan,
termasuk lembaga-lembaga pengembangan aktivitas ilmiah. Secara keseluruhan
ilmu menganut optimisme dan mendapat kepercayaan karena dukungannya yang
dianggap benar terhadap kemajuan industri.
Ilmu pengetahuan meluas menjadi bidang-bidang penelitian baru dengan
sangat berhasil. Perluasan meliputi penggabungan matematika dengan
eksperimen dalam fisika, penerapan teori kepada eksperimen dalam kimia,
eksperimen yang terkendalai dalam biologi. Berdirinya universitas-universitas
baru yang menyokong dilakukannya penelitian, pengajaran dan komunikasi-
komunikasi melalui jurnal dan komunitas spesialis. Penyelenggaraan pertemuan-
pertemuan internasional, baik mengenai ilmu-ilmu secara umum maupun
spesialis. Pengorganisasian penelitian secara sosial dan efektif. Di penghujung
abad ke-19 terbitnya edisi-edisi Encyclopedah Britmmica dengan paparan
historisnya yang panjang mengenai tiap ilmu sebagai sumber informasi yang
sangat berharga bagi para pelajar. (Jerome R. Ravenrts: 61-62).
Adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya penelitian menyebabkan
adanya perkembangan ilmu pengetahuan antanegara. Inggris yang tidak memiliki

25
lembaga penelitian yang memberi pekerjaan kepada para peneliti, menyebabkan
tradisi gentlemen-amateur berlangsung lebih lama dari tempat lain. Tokoh-tokoh
ilmuwannya Charles Barbage (matematikus), James Joule (flsikawan), Charles
Darwin bidang biologi. Dalam bidang-bidang terapan seperti kimia.,
perkembangan ilmu di Inggris lebih kurus dibandingkan Jerman.
Di Jerman lembaga-lembaga penelitian dilengkapi laboratorium yang
pertama kali didirikan. Pengajaran dan penelitian dipadukan, didukung olch
kelengkapan buku-buku pegangan maupun jurnal-jumal. Penggagasnya Justus
von Liebig, seorang ahli kimia. Ilmu-ilmu Jerman bangkit sejak tahun 1830-
2111. Dalam periode ini ilmu Francis merosot dari posisi scbelumnya sebagai
pemimpin. Rusia memiliki sebuah akademi yang kuat dan beherapa universitas
yang progresif, hingga melahirkan tradisi ilmiah yang bermutu. Perancangnya
Nikolay Lobachevsky dan Dmitry Mendeleyev.
Sepanjang abad ke-l9, Amerika Serikat tetap mempakan koloni kultural
Eropa. Universitas-universitasnya lebih berorientasi pada hal-hal yang
bennanfaat, memberi sumbangan sosial yang kecil bagi penelitian mumi. Di
penghujung abad ini ilmuwan Amerika hams pergi kc Jerman untuk menciptakan
tradisi keilmuan yang kuat. Bahkan untuk mencapai kepemimpinan yang
bermutu, Amerika Serikat membutuhkan masuknya para sarjana pengungsi dari
Nazi Jerman pada 1930-an. (Jerome R. Ravertz: 63-64).
Tiap cabang induk ilmu eksperimental menghasilkan kemajuan besar.
Fisika mencapai penyatuan eksperimentasi yang ketat dengan teori matematika
abstrak. Bidang yang berbeda-beda disatukan dalam kendali konsep energi.
Thermodinamika menyatukan ilmu-ilmu panas (heat) dan kerja (work) yang
kemudian memungkinkan sebuah teori untuk mengembangkan perubahan kimia.
Karya fisikawan di bidang kekuatan rekayasa (power engineering) yang
dipelopori Sadi Canot (Prancis) dan James joule dari Inggris (Jerome R. Ravertz:
67-68).

26
Bidang eksperimental yang beraneka ragam dipelopori oleh Herman
Helemhosz (German). Listrik dan magnetisme disatukan secara eksperimental
dan teoretis oleh Hans Christian Orsted (Belanda), Michael Faraday dan Kelvin
(Inggris). Teori pengukuran elektromagnetik oleh Wilhelm Weber yang sama
dengan kecepatan cahaya ditetapkan oleh James Clerk Maxwell (Inggris).
Kimia dibangun di atas fondasi-fondasi teoretis peristilahan Levoisier dan
teori atomik Dalton. Sejak tahun 1858 kemajuan dalam bidang kimia
memperlihatkan tiga kemenangan besar. Stanislao Cannizarro (Italia)
memecahkan teka-teki kembar mengenai berat atomik dan komposisi kimia
dengan hasil eksperimental baru beserta prinsip-prinsip heuristik yang
berkembang dalam pengajarannya. Komposisi air diketahui sebagai H20 dan
bukan HO. Friedrich Kukele (German) menyingkap struktur senyawa organik
yang sebenanya, dengan ikatan-ikatan pengganti lingkaran bensin. Lothar Meyer
(German) Demitry Mendeleyev (Rusia) menjadi ahli struktur tabel periodik
unsur-unsur dan dapat memperkirakan sifat-sifat dari unsur-unsur tak dikenal.
Selanjutnya kimia bergerak ke arah penyatuannya yang lebih dekat dengan fisika
(Jerome R. Ravertz: 68-69).
Kemajuan dalam bidang biologi ditandai oleh keberhasilan sekolah
Jobannes Muller di Jerman, dengan menggunakan pendekatan eksperimental
dalam fisiologi. Pertimbangan filosoiis (Naturphilosophie) dengan cam yang
sama ikut memengaruhi teon' sel Theodor Schwann German). Pengembangan
aspek fisiologis yang Iebih sintetik oleh Claude Bernard, dan ilmu kcdokteran
oleh Louis Pasteur (Jerome R. Ravertz: 69). Tema zaman ini ialah kemajuan,
ilmu menerima kepercayaan karena banyaknya kemajuan nyata yang terjadi dan
karena manganut Optimisme umum. Tnga faktor yang terdapat dalam pujian
ilmu, yaitu pertama, dari tradisi kuno yang menghargai belajar scbagai suatu
kontribusi bagi pcradaban, terlepas dari penerapan-penerapannya. Kedua, daya
tariknya yang lebih populer didasarkan pada industri dan kemudian kepada
pengobatan. Ketiga, penampakannya yang sebentar-sebentar diwarisi

27
pencerahan: ilmu alam merupakan senjata melawan dogma religius dan takhayul
popular, baik dalam fakta maupun metodenya (Jerome R. Ravertz: 71-71).
Bagian terakhir abad ke-l9 ditandai oleh kecenderungan adanya dominasi
peneliti profesional yang terspesialisasi, dengan ilmuwan abstrak scbagai
pemimpinnya. Transisi langsung proses-proses laboratorium mcnuju pabrik
menjadi efektif. Pada periode ini ilmu-ilmu terapan yang sangat sukses ialah
yang bersifat tradisional yakni teknik-teknik deskriptif yang penting bagi negara.
Fisika terlibat langsung dalam proses baru secara kuantitatif, seperti generasi uap
yang diperbaharui dan telekomunikasi listrik. Kimia memberi sumbangan bagi
rasionalisasi proses industri clan mengefektifkan teori-teori pertanian dan nutrisi.
Ilmu kedokteran berkembang melambat bersama teori bakteri (Germ theory)
mengenai penyakit (Jerome R. Ravertz: 66)
e. Ilmu Pengetahuan Awal Abad ke-20
Perkembangan ilmu pengetahuan di awal abad ke-2O ditandai oleh
tendensi kecenderungan posisi ilmu pengetahuan menguat. Ilmu pengetahuan
bersifat profesional dalam organisasi sosialnya, reduksionis dalam gaya dan
positif dalam jiwanya. Pada dasamya ilmu pengetahuan dipandang sebagai
hasil karya penelitian mumi. Pengajaran dipandang kurang pokok (Jerome R.
Ravertz: 72). Di sini Jerome Ravertz melihat ada semacam perubahan penting
kajian-kajian keilmuan yang bersifat eksperimental. Jadi ada semacam
pergeseran dari periode sebelumnya, yakni ilmu-ilmu mumi ke ilmu
pengetahuan terapan.
Komunitas-komunitas para ilmuwan yang diorganisasi berdasarkan
disiplin atau kebangsaan, menikmati otonomi yang tinggi tingkatnya dalam
memutuskan tujuan, standar penelitian dan dalam pemberian sertiflkat,
pemberian peketjaan, serta imbalan pada anggota-anggotanya. Para ilmuwan
individual cenderung dikondisikan oleh kompetisi untuk menjadi pekerja
peneliti yang sangat terspesialisasi. Penyelidikan-penyelidikan dipusatkan
pada proses-proses mumi, stabil, dan dapat dikontrol secara buatan yang dapat

28
dilaksanakan di laboratorium. Teori-teori yang digemari mencakup penyebab-
penyebab iisik yang menggunakan argumen-argumen matematis yang berat.
Hampir semua filsafat ilmu dalam periode ini mengasumsikan bahwa sebuah
ilmu yang nyata bermodelkan pada flsika teoretis (Jerome R. Ravertz: 73-74).
Jiwa-jiwa positif ilmu terlihat dengan meningkatnya refleksi lilosofis.
Teori relativisme Einstein dan prinsip teori kuantum Weiner Heisenberg
memunculkan diskusi bersemangat antara ilmuwan dan orang awam. Prestasi-
prestasi ilmiah di awal abad ke-20 terlalu besar bahkan untuk dikatalogkan.
Akan tetapi ada suatu pola umum kemajuan. Lahirnya cangkokan yang kokoh
antardisiplin ilmu seperti biokimia. Dalam fisika, teori-teori daya Esik yang
utama (panas, listrik, magnetisme) telah disatukan ke fondasi-fondasi
thermodinamika. Bagian awal dari abad ke-20 ini juga ditemukan efek baru
yang menyeluruh (sinar X, radioaktif) penetrasi ke dalam struktur materi
(teori atomik, isotop-isotop). Teori-teori flsika yang baru cukup kuat untuk
memberikan penjelasan-penjelasan efektif bagi suatu varietas fenomena
kimiawi yang luas.
Dengan basis ini industri kimia dapat menghasilkan sejumlah besar
deretan substansi-substansi yang seluruhnya sintetik (fiber, plastik). Ilmu
biologi, metode kimia dan fisika membawa penemuan dan penjelasan
mengenai agen-agen halus (vitamin-vitamin, hormon-hormon) dan
rekonstruksi atas siklus-suklus rumit, transformasi-transformasi kimia hingga
materi hidup. Selanjutnya ilmu kedokteran dapat dibangun berdasarkan
bakteriologi, melalui penemuan obat-obat khusus dan umum. Pertama
salvaran melawan sifllis, kemudian sulfanomide dan penisilin. Obat-obat ini
nyaris melenyapkan baik wabah penyakit klasik maupun penyakit ganas
kanak-kanak. Kemenangan ilmu tampak menjanjikan pengetahuan dan
kekuasaan yang berlimpah ruah (Jerome R. Ravertz: 7576).
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang dikemukakan di atas,
menunjukkan bahwa prosesnya telah berlangsung cukup lama. George J.

29
Mouly mengemukakan perkembangan dari sudut pandang pengalaman
manusia dalam memahami gejala-gejala alam yang dihadapinya. Selanjutnya,
Franz Dahler dan Eka Budianta melihat perkembangan tersebut dari
terobosan-terobosan yang dilakukan manusia perintis. Terobosan yang terkait
dengan upaya untuk mengubah suatu kondisi yang ada ke kondisi baru yang
lebih berkualitas. Loncatan dari perubahan sikap mental dengan melahirkan
paradigma baru.
Lalu Conny R. Semiawan berangkat dari pendekatan kreativitas dari
tokoh-tokoh zamannya masing-masing. Berdasarkan pendekatan ini terlihat,
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu sama sekali tidak berdiri sen. diri.
Karya-karya yang dihasilkan oleh para ilmuwan dari satu generasi tertentu,
pada dasarnya merupakan kelanjutan dari warisan generasi sebelumnya.
Demikian pula karya baru dari ilmuwan sezaman, juga tak lepas dari hasil
temuan rekan-rekan sejawat dalam disiplin ilmu yang sejenis.
Perkembangan ilmu pengetahuan bagaimanapun tak mungkin
dipisahkan dari kebudayaan manusia itu sendiri. Betapa pun kuno dan
primitifnya suatu kebudayaan namun semuanya itu merupakan wujud dari
hasil pemikiran dan kreativitas manusia zamannya. Sebab sebagai suatu
sistem kebudayaan itu sendiri berwujud gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai
budaya, norma-norma, serta pandangan-pandangan para pemangkunya dalam
bentuk abstrak. Unsur-unsur yang bersifat abtraks ini kemudian diwujudkan
dalam bentuk konkret, yakni berupa benda budaya atau material culture (Lihat
Koentjaraningrat, 1980: 80-90).
Berangkat dari kerangka pemikiran seperti ini, barangkali cukup arif,
apabila rentang perkembangan ilmu pengetahuan perlu dilihat jauh ke
belakang. Dimulai dari periode awal kebudayaan manusia itu sendiri. Periode
kebudayaan yang pertama dan paling tua, yakni di Zaman Batu. Memang
warisan yang ditinggalkan oleh masa ini tidak “membicarakan” apa pun
mengenai dirinya. Memang pada masa ini yang berkembang bukan

30
pengetahuan ilmiah. Namun, studi mengenai cara-cara memperoleh
pengetahuan tersebut, mungkjn akan dapat menolong kita dalam memahami
proses perkembangan belajar dari masa ke masa (Conny R. Semiawan: 3-4).
Betapa pun sederhananya,
Homo habilis (manusia cakap) adalah manusia pertama. Kriteria ini
didasarkan atas kreativitas, yakni pembuatan alat kerja. Alat-alat basil garapan
yang sudah punya tujuan dalam penggunaannya. Pembuatan alat alat kerja
terus berkembang baik secara kualitas, maupun kuantitas sesuai dengan
zamannya. Secara garis besarnya Zaman Batu dibagi menjadi: zaman batu
awal (Paleolitikum), zaman batu tengah (Mesolitihum), zaman batu baru
(Neolitikum). Selanjutnya masing-masing zaman batu ini dibagi pula ke dalam
beberapa anak zaman, serta masing-masing periode yang mengiringinya.
Zaman Neolitikum tua meliputi masa Chellen, Acheuleen,dan
Mousterien. Lalu zaman Paleolitikum muda meliputi Aurignacien, Solutreen,
dan Magdalenien.
Zaman Neolitikum berlangsung hingga kurang lebih 7.000 tahun
Sebelum Masehi (Ensiklopedi Indonesia: 2524). Selanjutnya, zaman
Mesolitikum merupakan zaman peralihan antara zaman Paleolitikum ke
zaman Neolitikum (Ensiklopedi Indonesia: 2218). Menurut kriterium mulai
dari 8.000-7.000 Sebelum Masehi di Asia Barat Daya, sekitar 5.000 Sebelum
Masehi di Eropa Tenggara, dan 4.000 tahun sebelum Masehi di Belanda dan
Belgia. Pémberian nama masa terakhir ini ketika manusia menggunakan
peralatan dari batu (Ensiklopedi Indonesia: 2359).
Pembagian periodisasi zaman purba ini, agaknya terkait erat dengan
perkembangan perangkat teknologi manusia. Mulai dari alat yang paling
sederhana, yakni batu kasar (asli), batu semi olahan, hingga batu halus
(rekayasa). Zaman-zaman ini ternyata erat hubungannya dengan rangkaian
dan perkembangan sejarah peradaban manusia. Termasuk perkembangan ilmu
pengetahuan manusia. Betapa pun sederhananya.

31
Di zaman Paleolitikum ternyata manusia sudah mampu membuat
alatalat dari kayu dan tulang, dan menjahit pakaian dari kulit binatang (Franz
Dahler dan Eka Budianta: 168). Pada zaman Mesolitikum, di antara perangkat
yang digunakan adalah kapak genggam, seperti yang dijumpai di bukitbukit
kerang Sumatera (Ensiklopedi Indonesia: 2218). Kemudian di zaman
Neolitikum, manusia sudah mulai mengenal pertanian, kehidupan bermukim,
mengawetkan makanan, memulai irigasi, dan beternak hewan (Franz Dahler
dan Eka Budianta: 1 68).
Menurut Conny R. Semiawan, di rentang kurun waktu selama empat
juta tahun ini, pengetahuan manusia ditandai oleh seputar apa dan bagaimana
(know how). Pengetahuan diperoleh melalui kemampuan: mengamati,
membeda-bedakan, memilih, serta melalukan percobaan berdasarkan prinsip
trial and error (Conny R. Semiawan: 4). Coba-coba dan berhasil. Secara
kebetulan, manusia juga menemukan kekuatan-kekuatan alam yang dapat
dimanfaatkan. Api dengan panasnya dapat mengeraskan bahan-bahan dari
logam seperti besi, perunggu. dan beragam bahan tanah liar. Air difungsikan
sebagai sarana transportasi (Cony R Semiawan: 5).
Tanda pertama digunakan api didapat pada tulang hewan terbakar,
berumur 1,4 juta tahun di Swartkrans, Afrika Selatan. Di gua Chou Kou Tien
dekat Beijing, ditemukan beberapa lapis abu. Tempat penggunaan api kira-
kira 750.000 tahun yang lalu dapat disaksikan di Escale, Prancis. Sedangkan
yang agak muda, yakni 400.000 tahun berada di Terra Amata, Prancis, dan
juga di Torralba, Spanyol (Franz Dahler dan Eka Budianta, 2000: 163-164).
Pengetahuan mengenai api, tak lebih dari sebuah kebetulan dalam pengalaman
manusia.
Dikemukakan selanjutnya, bahwa manusia menyaksikan api dari
sambaran kilat dan letusan gunung api. Mungkin, ia berani mengambil bara
api dari lahar atau dari kayu yang dinyalakan kilat. (Franz Dahler dan Eka
Budianta: 161). Dari pengalaman berikutnya, api itu dapat diawetkan. Dengan

32
berbagai cara dijaga agar tidak padam. Selanjutnya melalui proses trial and
error, akhirnya manusia dapat menciptakan api. Dikemukakan Franz Dahler
pula, bahwa masih terdapat suku-suku terasing di Amerika Serikat dan
Kalimantan yang mampu menciptakan api dengan memukul-mukul batu
seperti kuarsa dan pirit, atau dengan menggosok rabuk (Franz Dahler dan Eka
Budianta: 1 61).
Masa sejarah diawali oleh pengenalan manusia terhadap huruf. Dari
pengenalan huruf tersebut kemudian berkembang kemampuan membaca,
menulis, dan berhitung. Ketiga jenis kemampuan ini menurut Conny R.
Semiawan berkembang sedikit demi sedikit di berbagai tempat di dunia.
Kemampuan ini menjadi faktor pendukung pengembangan kebudayaan dan
berdirinya kerajaan-kerajaan besar pada masa itu di tempat-tempat tersebut
seperti di Afrika (Mesir), Asia Tengah (Sumeria, Babylonia, Niniveh), Asia
Timur (Tiongkok), serta Maya dan Inca di Amerika Tengah (Conny R.
Semiawan: 6).
Marshall G. S. Hodgson, secara lebih tegas mengaitkan perkembangan
ilmu pengetahuan dengan pengenalan manusia terhadap huruf. Manusia
pertama yang membuat tulisan (huruf) orang-orang Sumeria, mereka juga
sudah menemukan perunggu dan kendaraan beroda (Nurcholish Madjid: 51)
Di rentang masa ini, sekitar 3.500 tahun Sebelum Masehi, prinsip-prinsip
teknis roda untuk kendaraan yang ditarik kuda, dan untuk perkakas lainnya
celah diterapkan di Mesopotamia (Franz Dahler dan Eka Budianta, 1 68).
Masa ini oleh Marshall G. Hodgson sebagai Abad Agraria Berkota (A
grarianate Citied Society) yang dimulai oleh orang-orang Sumeria pada
sekitar tiqa tahun sebelum Masehi. Mereka juga mampu memanfaatkan
luapan sungai Dajlah dan Furat (Tigris dan Efrat-pen.) untuk irigasi pertanian
lembah “Antara Dua Sungai” (Mesopotamia) itu (Nurcholish Madjid, 1984:
50-51).

33
Selama 5.000 tahun, sejak tumbuhnya masyarakat berkota (citied
society), hingga dimulainya Abad Teknik di Eropa Barat. Cara dan pandangan
hidup Sumeria (“Sumerisme”) menjadi model bagi umat manusia untuk ditiru.
“Sumerisme” merupakan dasar pola kebudayaan manusia sejagat. Sungguh,
sejak masa Sumeria itulah umat manusia benar-benar memiliki “Peradaban”
dan memasuki “Zaman Sejarah" (Nurcholish Madjid: 51-52). Peradaban
Sumeria adalah sebuah peradaban besar, dan sekaligus merupakan peradaban
dunia dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni 50 abad.
Kemampuan baca tulis dan berhitung ini menandai tahap baru dalam
perkembangan sains. Menurut Conny R. Semiawan, seiring dengan itu
berkembang kebiasaan untuk melakukan pencatatan informasi, pengumpulan
data secara sistematis sehingga akumulasi pengetahuan dan pengalaman mulai
memasuki babaknya yang lebih teratur dan lebih “murni.” Dengan pencatatan
secara sistematis perkembangah ilmu berjalan lebih pasti dan lebih cepat dari
yang sebelumnya (Conny R. Semiawan: 7).
Meskipun para ahli pada zaman itu telah melakukan pengamatan,
pengumpulan data, dan sebagainya, fakta-fakta hanya diolah sekedarnya. Hal
ini menunjukkan bahwa manusia purba masih berada pada tingkat intelektual
untuk menerima segala peristiwa sebagaimana adanya tanpa melakukan
pendalaman ilmiah lebih lanjut, dan masih bersifat reseptif dan empiris.
Kebudayaan yang memberi corak baru, penalaran selalu menyelidiki
(inquiring mind). Tidak mau menerima segala peristiwa dan pengalaman
secara begitu saja (Conny R. Semiawan: 8).
Menurut Conny R. Semiawan selanjutnya, pandangan ini berbeda
dengan pandangan yang terdapat dalam peradaban-peradaban yang lebih tua
seperti yang dijumpai di Assyria, Babilonia, Persia dan Mesir, yang
memandang manusia tak lebih dari sekedar makhluk penyembah dewa dan
raja-raja dengan kekuasaan absolutnya. Orang Yunani menggambarkan dewa-
dewanya mengambil bentuk manusia, yaitu manusia yang ideal. “Dunia ini

34
penuh hal yang mengagumkan, tetapi tak ada yang lebih mengagumkan
daripada manusia,” gubahan Sophocles. Pandangan yang menekankan pada
keistimewaan dan kekuatan penalaran manusiawi, yaitu rasionalitas (Conny R.
Semiawan: 8-9).
Bahwa menempatkan sepenuhnya zaman penalaran berawal dari
Yunani, agaknya tak sepenuhnya benar. Menurut Philip K. Hitti munculnya
zaman penalaran dimaksud tak lepas dari adanya unsur-unsur budaya luar
yang masuk ke Yunani. Sumber-sumber Mesir Kuno, Babylonia, Phoenisia,
dan Yahudi mengalir ke Yunani (Philip K. Hitti, 2006: 382). Ungkapan ini
menunjukkan bukti bahwa peradaban Yunani kuno yang sering diklaim
sebagai akar peradaban modern oleh dunia keilmuan Barat, sama sekali tak
lepas dari sentuhan peradaban luar.
George J. Mouly menempatkan Mesir sebagai kawasan awal dari
perkembangan ilmu pengetahuan melalui sistem almanak, geometri dan
kegiatan survei. Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh bangsa Babylonia dan
Hindu. Setelah itu baru muncul bangsa Yunani. Di sini ilmu sudah
terorganisasi seperti astronomi, kedokteran, dan sistem klasifikasi Aristoteles,
serta penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia (Geoge J.
Mouley dalam Jujun S. Suriasumantri, 1984: 87).
Lebih ekstrem lagi adalah apa yang diungkapkan oleh Jerome R.
Raverz. Ia menghubungkan secara langsung kemunculan sains Eropa dengan
karya-karya filsuf Yunani yang hidup sekitar abad ke-6 dan ke-5 Masehi
(Jerome R. Ravertz: 7). Dengan menggunakan peradaban sebagai
pendekatannya, Jerome R. Ravertz mengemukakan pula, bahwa peradaban-
peradaban dunia lainnya dinilai sangat sedikit memberikan kontribusinya
terhadap ilmu sebagaimana dipahami sekarang ini (Jerome R. Ravertz: 19).
Adapun yang dikelompokkan sebagai peradaban-peradaban lain dimaksud
adalah peradaban Islam, peradaban India, peradaban Cina, dan peradaban
Jepang.

35
Beda dengan pengamat lainnya, Jerome R. Raverz bahkan sama sekali
tidak mengungkapkan peran bangsa-bangsa kuno seperti Babylonia dan
Mesir. Padahal Herodotus pernah menulis tentang hubungan kedua bangsa
tersebut dengan Yunani. Ditulisnya bahwa “pengetahuan mengenai jam
matahari dan gnomon serta dua belas pembagian waktu dalam satu hari masuk
ke Yunani dari Babylonia. Bangsa Mesir dalam studi mengenai astronomi,
menurut saya lebih baik dari bangsa Yunani. Temuan geometri mereka
kemudian dibawa pulang kembali oleh bangsa Yunani ke negeri mereka
sendiri. Menurut Herodotus, bangsa Mesirlah yang pertama kali
mengembmgkan teori geometri (John Freely, 2002: 9-10).
Jerome R. Ravertz juga terkesan kurang konsisten dalam menilai
kontribusi peradaban Arab. Semula ia menilai kontribusi ilmuwan Arab
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat sedikit. Tapi di tempat lain
ia menyatakan hal yang berbeda. Diungkapkannya: “di samping
sumbangannya yang sangat besar bagi peradaban Barat dalam memelihara dan
menularkan warisan Yunani, bahasa Arab juga memberi kontribusi dalam
sejumlah kata, terutama berkenaan dengan tetumbuhan dan 'makanan, dan
juga kata-kata seperti alkohol dan aljabar (Jerume R. Ravertz: 22). Kontak
antara Islam dan Eropa Latin sebagian besar berlangsung melalui Spanyol.
Abad ke-12 terjadi program penerjemahan besar-besaran karya-karya
berbahasa Arab ke bahasa Latin (Jerome R. Ravertz: 21).
Jerome R. Ravertz juga menyatakan bahwa kebudayaan Islam paling
relevan bagi ilmu Eropa (Jerome R. Ravertz: 19). Bahkan diakuinya pula
peran sarjana Arab sendiri bergerak maju khususnya di bidang matematika,
astronomi, optik, kimia, dan kedokteran (Jerome R. Ravertz: 20). Namun
anehnya tidak seorang pun dari para sarjana dimaksud yang namanya
dicantumkan Jerome R. Ravertz dalam tulisannya. Sebaliknya ia tak segan-
segan menyebut Aristoteles sebagai “empu metode ilmiah" (Jerome R.
Ravertz: 10-11). Disebabkan kontribusinya terhadap dunia ilmiah dan

36
studinya, Bacon, Descartes dan Galileo disanjungnya sebagai “nabi” (Jerome
R. Ravert: 38-39). Barangkali penilaian ini terkesan agak berlebihan.
Sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah pengamat, pertemuan antara
peradaban Eropa dengan peradaban besar Islam, memang sulit untuk tidak
diakui sama sekali. Mengkutip beberapa pandapat, Harun Nasution
mengemukakan, bahwa peradaban Islam zaman klasik ternyata mempunyai
pengaruh pada tumbuhnya renaissance dan perkembangan peradaban Eropa
selanjutnya. G. Lebon menulis “ Orang Arablah yang menyebabkan kita
(orang Eropa) mempunyai peradaban. Merekalah yang telah menjadi guru kita
selarna enam abad. Ilmu pengetahuan dan teknik Islam amat dalam
memengaruhi kebudayaan Barat, ungkap J. C. Risler (Harun Nasution. 1983:
69).
Lebih jauh dikemukakan oleh Rom Landau dalam buku Arab
Haritage: "Dari orang Arablah Eropa belajar berpikir secara objektif dan
lurus, belajar berdada lapang dan berpandangan luas. Inilah dasar-dasar yang
menjadi pembimbing bagi renaissance dan yang menimbulkan kemajuan dan
peradaban Barat” (Harun Nasution: 70). Alfred Guillaume bahkan
menandaskan “sekiranya orang Arab bersifat ganas sebagai orang Mongol
dalam menghancurkan api ilmu pengetahuan, renaissance di Eropa mungkin
akan terlambat timbulnya lebih dari satu abad” (Harun Nasution: 69). Pada
waktu Eropa berada dalam zaman kegelapan, tampil para filsuf dan ilmuwan
Muslim di Eropa, antara lain Ibn Majah, Ibn Thufail, dan Ibn Rusyd.
Ketiganya dikenal di Eropa dengan nama Avempace, Abubacer Avererocce
(Martini Djamaris dalam Sabarti Akhadiah dan Winda Dewi Listyasari, 201
1: 121).
Memang terdapat banyak versi tentang perjalanan ilmu pengetahuan
dalam menelusuri zamannya. Setiap pengamat bisa saja menggunakan
pendekatan yang dinilainya paling relevan. Namun demikian, kelengkapan
data sejarah yang dijadikan rujukan, seharusnya juga perlu dikemukakan

37
secara apa adanya. Faktor objektivitas perlu dipertahankan. Berangkat dari
prinsip keilmuan seperti itu pula, tampaknya Marshall Goodwin Simms
Hodgson, mengungkapkan “telusurannya” terhadap perkembangan peradaban
di rangkaian sejarahnya.
Dalam pandangan Hodgson, peradaban manusia dan zaman sejarah
berawal dari kalangan bangsa-bangsa Semit di sekitar Mesopotamia,
kemudian bangsa Mesir di Lembah Nil dari kalangan ras Hamit. Pada proses
berikutnya, baru menyusul bangsa-bangsa Persia, Yunani, dan India dari
kalangan Arya. Bangsa-bangsa lain yang lebih jauh dari Lembah
Mesopotamia, melalui perkembangan dan pengaruh berantai. (Nurcholish
Madjid, 1989: 52). Demikian besarnya pengaruh peradaban ini, hingga
menurut Hodgson, selama 5.000 tahun “Sumerisme” dijadikan pola dasar
kebudayaan manusia sejagat (Nurcholish Madjid: 51-52).
Beda dengan apa yang dikemukakan Franz Dahler dan Eka Budianta,
Conny R. Semiawan sama sekali tidak menampilkan semacam “loncatan”
sejarah. Dalam pernbagian Conny tidak dikemukakan secara tegas periode
transisi antara Zaman Pertengahan ke Zaman Modern (1350-1650), yang
dikenal sebagai renaissans (renaissance). Istilah yang pertama kali
dikemukakan oleh ahli sejarah Burckhart ini merupakan era sejarah yang
penuh kemajuan dan perubahan terutama dalam pengetahuan (Ensiklopedi:
2880). Renaissans boleh dikatakan jadi “pemicu” dan sekaligus “pemacu”
perkembangan ilmu pengetahuan bangsa-bangsa Eropa, setelah melewati
masa kegelapan yang cukup panjang.
Lahimya renaissance itu sendiri erat kaitannya dengan pertemuan
antara Eropa dan Dunia Islam. Para penulis Barat yang jujur mengakui adanya
pengaruh peradaban Islam zaman klasik kepada bangkitnya renaissance dan
perkembangan Barat modern. Diakui pengaruh tersebut antara lain dalam
berkembangnya kebebasan berpikir di Eropa dari belenggu agama (Harun
Nasution: 70). Pemyataan filsuf Rene Descartes (1596-1650): “Cogito ergo

38
sum!” saya berpikir, maka saya ada!” (Jujun S. Suriasumantri, 2000: 68), ikut
memberi gambaran bagaimana tahap-tahap perkembangan kebebasan berpikir
dalam dunia keilmuan Eropa.
Mencermati pembagian yang dikemukakan, disadari, bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara instan, melainkan
melalui proses yang panjang, sepanjang sejarah manusia itu sendiri.
Perkembangan yang mengiringi kehidupan manusia sebagai makhluk
berbudaya. Menurut George J Mouly, perkembangan ilmu dapat ditelusuri
sampai pada permulaan manusia (Geoge J Mouly dalam Jujun S.
Suriasumantri, 1984: 87). Perkembangan ilmu pengetahuan bersumber dari
rasa ingin tahu manusia. Rasa ingin tahu yang sudah menjadi naluri dalam diri
manusia itu sendiri.
Didorong oleh rasa ingin tahunya, manusia mencoba memahami alam
dan lingkungannya. Dari pengamatan terhadap berbagai peristiwa, ataupun
percobaan dan pengalaman yang berulang-ulang akhirnya, secara bertahap
manusia memiliki kemampuan mengenal lingkungannya. Pengalaman yang
bermanfaat terus dipertahankan sebagai milik dan kebudayaan zamannya.
Dengan demikian, pada dasarnya perkembangan ilmu pengetahuan tidak
selalu mulai di setiap tempat dari nol. Boleh dikatakan, sebagian besar
diperoleh melalui hubungan antarbangsa. Sebuah bentuk kebudayaan atau
peradaban baru suatu bangsa, bisa saja lahir dari adanya pengaruh kebudayaan
dan peradaban bangsa lain. Melalui proses seperti ini, selanjutnya terbentuk
rangkaian perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.
5. Pendekatan Sejarah dan Kebudayaan
Dalam membahas perkembangan ilmu pengetahuan, Marshall Goodwin Simms
Hodgson menggunakan pendekatan sejarah dan peradaban. Melalui pendekatan ini,
Marshall G.S. Hodgson menarik rentang masa yang disebutnya kronologi sejarah
dunia. Rentang kurun waktu kesejarahan yang dikemukakan Marshall G. S. Hodgson
cukup panjang. Dengan menggunakan rentang waktu ini tampaknya Hodgson ingin

39
mengutarakan pendapatnya mengenai latar belakang, serta rangkaian perkembangan
ilmu pengetahuan itu sesungguhnya. Dengan meminjam istilah Karl Jaspers, menurut
Hodgson proses akulturasi kebudayaan yang dinilainya ikut "menjembatani"
perkembangan ilmu pengetahuan sudah berlangsung sejak Axial Age (Marshall. S.
Hodgson: 156).Marshall G. S. Hodgson mengawali sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan dari sekitar 10.000 SM. Namun secara lebih konkret, ia menekankan
pada periode tahun 7.000 SM. Menurutnya di periode itu telah terbentuk komunitas-
komunitas tani awal. Kemampuan baca tulis ikut menopang perkembangan ilmu
pengetahuan dan peradaban. Dengan kemampuan baca tulis, seseorang bisa mencatat
atau mendokumentasi segala pengalaman dengan alam sekitarnya. Gejala atau
fenomena alam yang terjadi di sekeliling bisa dicatat dan dijadikan dukomen yang
berguna bagi kajian ilmiah, betapapun sederhananya. Marshall G.S. Hodgson
mengungkapkan hubungan dimaksud dalam kehidupan masyarakat Babylonia.

2.2. Sejarah Perkembangan Ilmu


1. Zaman Pra Yunani Kuno
Pada zaman ini manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan utnuk
mebantu dalam kegiatan sehari-hari. Zaman ini disebut juga dengan zaman batu yang
berkisar empat juta tahun samapai 20.000 SM. Sisa peradaban yang dapat ditemukan
antara lain alat-alat dari batu, tulang belulang hewan, sisa beberapa hewan, gambar,
di gua-gua, temapt penguburan, tulang belulang manusia purba. Pada zaman ini
manusia sudah memperhatikan keadaan alam sebagai suatu keaadan alam. Menurut
Muntazir dalam dalam Surajiyo (2008) pada zaman ini ditandai dengan kemampuan
manusia sebagai berikut.
a. Know how, dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman.
b. Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan
receptive mind, keterangan masih dihubungkan dengan kekuatan magis.
c. Kemampuan menemukan bajad dan sistem bilangan alam sudah
menampakkan perkembangan peimikiran manusia ke tingkat abstraksi.

40
d. Kemampuan menulis, berhiyung, menyusun kalender yang didasarkan atas
sintesa terhadap hasil abstraksi yang dilakukan.
e. Kemampuan meramalkan suatu peristiwa atas dasar peristiwa-peristiwa
sebelumnya yang pernah terjadi.

2. Zaman Yunani Kuno


Yunani kuno adalah tempat bersejarah di mana sebuah bangsa memiliki
peradaban. Oleh karena itu Yunani kuno sangat identik dengan filsafat yang
merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Padahal filsafat dalam pengertian yang
sederhana sudah berkembang jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan
mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga
bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat
pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga
sekarang. Menurut Russel (2004: 3), diantara semua sejarah, tidak ada yang begitu
mencengangkan atau begitu sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani
secara mendadak. Memang banyak unsur peradaban yang telah ada ribuan tahun di
Mesir dan Mesopotamia. Akan tetapi unsur-unsur tertentu pada peradaban
sebelumnya belum utuh sampai kemudian bangsa Yunanilah yang
menyempurnakannya.
Seiring berkembangannya waktu, filsafat dijadikan sebagai landasan berfikir
oleh bangsa Yunani untuk menggali ilmu pengetahuan, sehingga berkembang pada
generasi-generasi setelahnya. Itu ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin
ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang. Karena itu, periode perkembangan
filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia
(Bakhtiar, 2013: 22). Zaman ini berlangsung dari abad 6 SM sampai dengan sekitar
abad 5 M. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang
senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang
didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja). Sehingga pada

41
zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau
zaman keemasannya (Surajiyo, 2007: 82-84).
Pada zaman ini banyak bermunculan filusuf yang karya mereka hanya dikenal
melalui cuplikan-cuplikan, rujukan-rujukan, dan kutipan-kutipan yang dibuat oleh
para pengarang setelahnya. Beberapa filusuf tersebut digolongkan menjadi filusuf
alam dan filusuf kaum sofis (Rahmat, Semiawan, Nomida dkk 2011: 114).
a. Filusuf alam
1) Thales
Filusuf alam yang pertama muncul adalah Thales (624-546 SM). Dia di
gelari sebagai bapak filusuf karena merupakan orang pertama yang
berfilsafat dan mempertanyakan “Apa sebenarnya asal-usul alam
semesta?” pertanyaan tersebut kemudian dijawab beradasarkan
pendekatan rasional bukan pendekatan mitologi, thales mengatakan bahwa
asal-usul alam adalah air, karena air air merupakan unsur penting bagi
setiap makhluk hidup. Selanjutnya dia berpendapat air dapat berubah
menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti es serta bumi berada di
atas air ( Berten dalam Rahmat, Semiawan, Nomida dkk, 2011: 114).
2) Anaximandros
Kemunculan Anaximandro sekitar (610-540 SM). Dia melihat alam
semesta sebagai sesuatu yang selalu berubah. Seperti sesuatu yang dingin
bisa berubah menjadi panas. Oleh sebab itu, apabila ingin memahami
kosmos maka perlu menyadari bahwa kosmos bersifat dinamis. Segala
sesuatu bertentangan dan di dalam pertentangan itu ada kebenaran. Tidak
ada satupun yang benar-benar ada, melainkan semuanya menjadi.
Ungkapan tersebut keluar dari Heraklitos dalam menggambarkan
perubahan. Perubahan adalah pantha rei uden menei, yang berarti
semuanya mengalir dan tidak ada satupun yang abadi.
3) Parmenides

42
Permenides memiliki padangan yang berbeda denga Heraklitos. Menurut
Permenides realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak
dan tidak berubah.
4) Pythagoras
Pythagoras merupakan seorang matematikawan dan filusuf Yunani yang
paling dikenal dengan teoremanya. Dia digelari sebagai bapak bilangan
dan salah satu peninggalan Pythagoras adalah teorema Pythagoras, yang
menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari segitiga siku-siku adalah sama
dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi siku-sikunya). Sebernarnya
fakta teorema itu sudah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras,
akan tetapi dia yang pertama kali membuktikan pengamatan itu secara
matematis. Selain itu dalam ilmu ukur Phythagoras berhasil mnyumbang
teori tentang bilangan, pembentukan benda, menemukan hubungan antara
nada dengan panjang dawai (Hadiyono dalam Karim, 2014: 278-279)
b. Filusuf kaum sofis
Setelah masa-masa filsafat alam berakhir maka mucul masa transisi. Pada
masa ini, filsafat tidak lagi berfokus pada alam melainkan pada manusia. hal
yang dijelaskan para filusuf alam tidak memberikan penjelasan yang
memuaskan tentang manusia. Oleh karena itu muncullah kaum filusuf yang
melihat manusia sebagai ukuran kebenaran (Rahmat, Semiawan, Nomida dkk,
2011: 116). Tokoh kaum sofis adalah sebagai berikut.
1) Protagoras (481-411 SM)
Menurut protagoras kebenaran bersifat subjektif dan relatif. Akkibatnya
tidak ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, dan agama. Bahkan
teori matematika dianggapnya tidaj memiliki kebenaran absolut.
2) Gorgias (483-375 SM)
Gorgias mengeluarkan tiga proposisi, pertama bahwa realitas itu tidak ada,
pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. Kedua,
bila sesuatu itu ada dia tidal akan dapat diketahui. Hal ini disebabkan

43
karena pengindraan tidak dapat dipercaya karena bersumber dari ilusi.
Akal tidak mampu meyakinkan tentang alam karena akal telah diperdaya
oleh subjektivitas. Ketiga, sekalipun realitas dapat diketahui, realitas itu
tidak dapat diberitahukan kepada orang lain. Sikap gorgias ini disebut
dengan nihilisme yaitu kebenaran itu tidak ada.
c. Periode keemasan ilmu pengetahuan Yunani
Pandangan kaum sofis tidak sejalan dengan para filusuf setelah itu, yaitu para
filusuf zaman kejayaan Yunani yang menggabungkan filsafat alam dan filsafat
manusia. tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut.
1) Socrates (469 SM-399 SM)
Sumbangan Socrates untuk pemikiran Barat yang terpenting adalah
metode penyelidikannya yang dikenal sebagai metode elenchos, yang
banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu
socrates dikenal dengan bapak sumber etika atu filsafat moral dan juga
filsafat secara umum (Watt dalam Karim, 2014: 279). Dalam diskusi dan
mengajar Socrates menggunakan teknik/metode maieutikos (teknik
kebidanan. Teknik ini didasarkan atas asumsi bahwa manusia pada
dasarnya sebelum lahir telah membawa atau memilki pengetahuan
bawaan. Karena itu tugas Socrates adalah bagaimana menarik atau
mengeluarkan pengetahuan yang ada dalam kesadara itu seperti saat
seorang bidan membantu seorang ibu mengeluarkan bayi. Teknik yang
digunakan dalam mengajar adalah menggunakan diskusi atau dialog untuk
menggali pengetahuan dari muridnya. (Lubis, 2016: 8). Selain itu,
menurut Socrates pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan
tentang diri sendiri. Dia menyatakan hal tersbut melalui semboyannya
yang ada di Kuil Delphi yaitu “Ketahuilah dirimu sendiri”. Socrates
berpendapat bahwa esensi dari realitas berada dalam di alam idea
(Rahmat, Semiawan, Nomida dkk, 2011: 117).
2) Plato (427-347 SM)

44
Plato merupakan murid dari Socrates dan merupakan guru dari Plato.
Karyanya yang terkenal adalah Republik (Politea) di mana ia
menguraikan garis pandangannya pada keadaan ideal. Selain itu dia juga
menulis tentang hukum dan banyak dialog dengan peserta utamanya
adalah Socrates. Sumbangsih yang paling penting adalah ilmunya tentang
ide. Dunia fana ini hanyalah refleksi dunia ideal. (Ravertz dalam Karim,
2014: 279). Plato berpendapat bahwa realitas kebenaran bukan ada di
dalam idea, akan tetapi ada dalam empiris (Rahmat, Semiawan, Nomida
dkk, 2011: 117). Sebagai contoh dia mengemukakan bahwa kuda idealnya
yang ada di empiris memiliki warna yang bervairasi, akan tetapi kuda
memiliki unsur umum yang membedakannya dengan sapi atau kambing.
Unsur umum inilah yang merupakan idea dan bersifat universal.
3) Aristoteles (384-322 SM)
Ariestoteles merupakan murid dari Plato. Dia memberikan kontribusi
dalam bidang metafisika, fisika, etika, politik, ilmu kedokteran, dan ilmu
alam. Dalam bidang ilmu alam, dia merupakan orang pertama yang
mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara
sistematis. Dalam bidang politik, Ariestoteles percaya bahwa bentuk
politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki.
Dari berbagai kontibusinya yang paling penting adalah tentang logika dan
teologi (metafisika). Logika Ariestoteles adalah suatu sistem berpikir
deduktif, yang mengukur valid tidaknya suatu pemikiran. Sampai saat ini
pemikiran tersebut masih dianggap sebagai dasar setiap p-elajaran formal.
Logika Arietoteles pada analisis bahasa dikenal dengan silogisme (dua
premis dan satu kesimpulan) (Rahmat, Semiawan, Nomida dkk, 2011:
118).

45
3. Zaman Kejayaan Islam
Sejak awal Islam memberikan penghargaan sangat besar kepada Ilmu.
kedatangan Nabi Muhammad SAW, yang kedatangannya bersama Islam memberikan
cahaya kepada masyarakat yang hidup pada zaman jahiliyah yang penuh dengan
keterbelakangan memasuki masyarakat yang lebih berilmu dan beradab. Apabila
ditelusuri ilmu berkembang dengandengan munculnya Islam itu sendiri. Hal ini
dibuktikan dengan wahyu Allah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW melalui perantara Malaikat Jibril yang memerintahkan Beliau untuk membaca
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS. Al-Alaq/96:1).
Bacalah dalam bahasa Al-Qur’an disebut Iqra yang diucapkan berkali-kali oleh
Malaikat Jibril sampai Nabi Muhammad SAW dapat menerima wahyu tersebut,
menurut Shihab dalam Akhadiah dan Lityasari (2014: 119) hal tersebut dapat
ditafsirkan dalam beberapa penafsiran seperti menyampaikan, menelaah, mendalami,
meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yag tersurat maupun
yang tersirat. Selain itu Bakhtiar dalam Rahmat, Semiawan, Nomida dkk ( 2011: 119)
menyampaikan bahwa wahyu pertama itu menghendaki agar umat Islam senantiasa
memebaca yang dilandasi dengan bismi Rabbik dalam arti, hasil bacaan dapat
bermanfaat bagi kemanusiaan.
Pada masa kejayaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti
Umayyah di Spanyol dan Dinasti Abbasiya di Baghdad, ilmu berkembang sangat
pesat. Kemajuan ilmu membawa Islam pada masa keemasan yang dalam masa yang
sama di wilayah seperti dunia Barat masih berada dalam abad kegelapan peradaban.
Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW menjadi pangkal bagi
pengembangan kreativitas umat Islam dalam mengembangkan ilmu yang bermanfaat
bagi kemanuisaan. Dalam sejarah Islam, dikenal nama-nama seperti Al-Mansur, Al-
ma’mun, dan Harun Al-Rasyid yang memberikan perhatian besar pada perkembangan
ilmu di dunia Islam. pada zaman Al Mansur, proses penerjemahan karya-karya filusuf
Yunani ke dalam bahasa Arab berkembang pesat. Pada zaman Harun Al Rasyid (786-
809 M) proses penerjemahan masih berlangsung, dan dia memerintahkan seorang

46
dokter istana untuk menerjemahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran (Bakhtiar
dalam Akhadiah dan Listyasari, 2011: 120). Penerjemahan ilmu-ilmu lain sperti
astronomi misalnya Siddhanta, sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh
Muhammad Ibnu IbrahimAl Fazari pada masa 806 M. Yang kemudian oleh Al
Khawarizmi dibuat dalam versi yang baru dengan berbagai komentar.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Al-Ma’mun (813-833 M) yang berjasa
dalam menggabugkan ilmu di dunia Islam, membangun Bait-al-Hikmah yang terdiri
dari sebuah perpustakaan, sebuah observatorium, dan sebuah departemen
penerjemahan. Orang penting dalam Bait-al-Hikmah adalah Huanain yang
menerjemahkan buku-buku karya Plato, Ariestoteles, Galenus, Appolonius, dan
Archimedes.
Pada zaman keemasaan Islam muncul ahli-ahli dalam berbagai bidang ilmu
yang menaruh perhatian besar terhadap fisafat Yunani terutama Ariestoteles, yang
diikuti dengan munculnya filsafat Islam periode pertama yang ditandai dengan
munculnya filusuf muslim seperti, Al Razi (850-923) dengan karya Al Hawi yaitu
ensiklopedia mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran pada masanya. Ibnu
Sina (980-1037) yang menulis buku-buku kedokteran (al-Qonun
) yang menjadi standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. Al Khawarizmi yang
menyusun buku Aljabar pada 825 M, yang menjadi buku standar beberapa abad di
Eropa. Dian juga menulis perhitungan biasa (Arithmetics) yang menjadi pembuka
jalan penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi. Al
Ghazali (1065-1111 M) yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam yang tidak puas
dengan filsafat Islam rasionalisme dan beralih ke tasawuf dan menngarang buku yang
berjudul Taha-al-Falasifah (Kerancuan Para Filusuf).
Dalam tahap kedua filsafat Islam, muncul para ilmuwan Muslim yang hidup
di Eropa (Spanyol) yaitu pada dinasti Umayyah. Pada waktu itu Eropa dalam zaman
kegelapan. Dengan tampilnya filusuf muslim di Eropa maka ilmu dan peradaban di
Eropa mulai berkembang dan terus meningkat.Pada masa itu yang terkenal adalah
Ibnu Majah (1100-1138 M) dan di Eropa dikenal dengan Avempace. Ibnu Thufail

47
(1185 M) dikenal dengan Abubacer dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M) dikenal dengan
Averocce. Ibnu Rusyd menunjukkan sikap pembelaan terhadap aliran rasionalisme
dalam filsafat Islam dan menulis buku dengan judul Tahafut al-Tahafut (Kerancuan
Kitab) (Rahmat, Semiawan, Nomida dkk, 2011: 121).

4. Zaman Abad Pertengahan


Periode ini (400-1500 M) umumnya dibagi menjadi dua yakni zaman Patristik
dan zaman Skolastik (Lubis, 2016: 9). Zaman Patristik terjadi setelah
berkembangnya agam Kristen di Barat, dan fokus pemikiriran filsafat berpusat pada
ajaran-ajaran agama Kristen sehingga disebut teosentris. Pada masa ini, kebebasan
berpikir yang berkembang melalui tradisi Yunani mengalami kemerosotan. Orang-
orang hanya boleh berpikir sejauh rambu-rambu yang telah ditentukan oleh
pemimpin-pemimpin gereja. Pada masa itu, Bapak-bapak gereja atau ahli-ahli agama
Kristen menguasai pemikiran filsafat.
Filsafat pengetahuan pada masa ini filasafat hanya ditujukan sebagai alat
untuk mengabdi pada teologi Kristen. Filsafat dijadikan alat untuk
membenarkan/mengabdi pada teologi. Para filusuf umumnya percaya bahwa
kebenaran sejati hanya ada pada kitab suci (Injil). Filusuf yang terkenal pada masa ini
antara lain yaitu Justinus de Maetyn (abad ke 2 M), Tertulianus (160-220), Origenes
(184-254 M) dan Agustinus (354-430 M). Tertulianus terkenal dengan peryataannya
yaitu Credo qua absurdum est (saya percaya karena tidak masuk akal) sebagai upaya
pembelaanya terhadap dogma Trinitas. Sementara Agustinus adalah filusuf terbesar
pada masi ini yang mencoba menyatukan pemikiran filsafat dengan agama.
Pada abad ke 9 dan ke 10 Masehi pengaruh filsafat Yunani (khususnya Neo
Platonisme) mulai benar-benar masuk gereja. Sekolah-sekolah teologi sebagaimana
sekolah umum juga mempelajari Seven Liberal Arts yaitu: grammar, rethoric,
dialectic, arithmetic, geometry, music, dan astronomy. Akan tetapi sekolah yang
berkembang itu juga memunculkan damapk negatif, yaitu pemimpin gereja semakin

48
mendominasi pemikiran manusia di zaman itu. Ilmu pengetahuan yang dipelajari di
geraja justru mendukung doktrin teologi (Lubis, 2016: 9).
Perkembangan baru dengan mulai beridirinya sekolah-sekolah di katedral
antara abad 10-15 M disebut dengan zaman Skolatisisme. Skolatisisme mulai setelah
400 tahun sebelumnya terjadi kekacauan. Muncul ordo dan mazhab-mazhab baru di
kalangan para pendeta sebagai reaksi atau kemewahan duniawi dari monastisisme
yang mapan. Pada masa ini pengaruh filsafat Ariestoteles paling dominan. Gereja-
gereja mendapat ajaran filsafat yang mengemukakan kesatuan antara alam dengan
akal.
Pemikir yang terkenal pada masa ini antara lain: Alberdus (1079-1142),
Anselmus (1093-1109), Duns Scotus (1270-1308), Willian Ockham (1290-1349), dan
Thomas Aquinas (1225-1274). Anselmus terkenal dengan pembuktian ontologisnya
tentang Tuhan (dalam tulisannya Proslogion). Menurutnya Tuhan adalah suatu yang
paling besar untuk dipikirkan, dan sesuatu yang terbesar unntuk dipikirkan itu,
pastilah ada. Dia mengatakan untuk mengerti Tuhan pertama-tama haruslah percaya.
William Ockham, seorang rahaniawan dan filusuf Inggris yang dikeluarkan
dari keanggotaan gereja karena pemikirannya bid’ah (mengabiskan masa tuanya
dibawah perlindungan raja Louis dar Bavaria (Jerman) yang bersemangat untuk
memisahkan negara dan gereja). Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah
prinsip kehematan. Maksutnya keharusan bersahaja dalam menguji teori. Prinsip
kebersahajaan itu adalah “apapun jangan dilipat gandakan tanpa alasan”. Jika ada
hipotesis sederhana, maka hipotesis yang rumit menjadi irasional (Lubis, 2016: 10).
Alberdus terkenal dengan pemikirannya yang berusaha menyatukan
pertentangan antar universalia dan individulia antara pendukung nominalisme dan
realisme. Realisme beranggapan banhwa pengertian umum itu ada pada bendanya
sementara nominalisme beranggapan bahwa konsep universalia itu ada sesudah/di
luar bendanya. Untuk mengatasi hal tersebut Alberdus mengemukakan “universale
post rest, universale in rebus” (pengertian universal itu ada pada bendanya.). yang
sungguh sungguh ada, adalah konkret (Bagus dalam Lubis, 2016: 11).

49
Filsafat Skolatisisme mencapai puncaknya melalui Thomas Aquinas. Dalam
karyanya Summa Theologia (1266), dia membedakan tugas antara ilmu pengetahuan
dan agama, akan tetapi di antara keduanya tidak ada pertentangan. Dia menyatakan
bahwa ilmu itu bersumber dari pengalaman (empiri), kemudian pengalaman itu diolah
oleh rasio kita. Dia juga berpendapat bahw masalah agama harus diselesaikan
melelaui kepercayaan, namun akal tetap dibutuhkan. Sementara Dun Scotus tidak
setuju dengan Aquinas tentang kesesuai antara agama fengan filsafat. Menurutnya
keduanya merupakan dua bidang yang berbeda.
Pusat-pusat pendidikan yang terdapt di katredal pada era ini semakin lama
semakin berkembang menjadi Stadium Generale dan kemudian menjadi universitas
(Rheims, Paris, Bologna, Oxford dan Cambridge) (Santoso dalam Lubis, 2016: 12).
Perkembangan itu justru semakin memperkuat Paus, di mana akhirnya ilmu
pengetahuan di dominasi kaum agamawan dan ilmu pengetahuan hanya
dimungkinkan sejauh sesuai dan dapat mengabdi pada gereja, di mana pimpinan
menguasasi dan menentukan semua bidang kehidupan manusia. Pemikiran manusia
dalam semua bidang tunduk pada doktrin kristiani (teosentis). Selain hal tersebut
pada masa ini Roger Bacon seorang dosen mulai mengembangkan metode penelitian
induktif yang sebelumnya telah dikembangkan oleh lingkungan sarjana Islam.
Metode ini memadukan pengalaman (a posteriori) dengan analisis matematika (a
priori).

5. Zaman Renaissance
Menurut Surajiyo (2018: 86) zaman Renaissance ditandai sebagai era
kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance
adalah zaman peralihan ketika kebudayaan Abad Pertengahan mulai berubah menjadi
suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan
pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri,
tidak didasarkan atas campur tangan ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan yang
berkembang maju dirintis pada Zaman Renaissance.

50
Menurut Bakhtiar (2019: 50) zaman Renaissance menyaksikan dilancarkannya
tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Katolik Roma,
bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Zaman ini juga merupakan
pernyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius
serba bisa yaitu Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan
ditemukannya benua baru (1492 M) oleh Columbus memberikan dorongan lebih
keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Perancis, dan
Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan Ronsard. Pada masa itu, seni
musik juga mengalami perkembangan. Tidaklah mudah untuk membuat garis batas
yang tegas antara zaman renaisans dengan zaman modern.. sementara orang
menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan renaisans. Akan tetapi,
pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju ke depan dengan kecepatan yang
besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya.
Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik, kemudian ke
zaman atom, elktron, radio, televise, roket, dan zaman ruang angkasa.
Ilmu pengetahuan yang berkembangan maju pada masa ini adalah bidang
astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Tycho
Brahe, Johannes Keppler, Galileo Galilei. Berikut ini adalah beberapa pemikiran para
filsuf tersebut.
a. Roger Bacon, berpendapat bahwa pengalaman (empiris) menjadikan landasan
utama bagi awal dan ujian akhir bagi semua ilmu pengetahuan. Matematika
merupakan syarat mutlak untuk mengolah semua pengetahuan. Ungkapan Bacon
yang terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah Kekuasaan). Ada
tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini yaitu mesin menghasilkan
kemenangan dan perang modern, kompas memungkinkan manusia mengarungi
lautan, dan percetakan yang mempercepat penyebaran ilmu.
b. Copernicus, mengatakan bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi
matahari, sehingga matahari menjadi pusat (heliosentrisisme). Pendapat ini
berlawanan dengan pendapat umum yang berasal dari Hipparchus dan Ptolomeus

51
yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (geosentrisme).
Sekalipun Copernicus membuat model, namun alasan utamanya bukanlah
sistemnya, melainkan keyakinannya bahwa prinsip Heliosentrisisme akan sangat
memudahkan perhitungan. Copernicus sendiri tidak berniat untuk
mengumumkan penemuannya, terutama mengingat keadaan dan lingkungan
gereja waktu itu. Menurut gereja, prinsip Geosentrisisme dianggap yang lebih
benar daripada prinsip Heliosentrisme. Tiap siang dan malam kita melihat
semuanya mengelilingi bumi. Hal ini ditetapkan Tuhan oleh agama, karena
manusia menjadi pusat perhatian Tuhan, untuk manusialah semua itu
diciptakanNya. Paham demikian disebut Homo-sentrisisme. Dengan kata lain,
prinsip Geosentrisisme tidak dapat dipisahkan dari prinsip Heliosentrisisme. Jika
dalam keadaan demikian prinsip Heliosentrisisme dilontarkan, maka akan
berakibat berubah dan rusaknya seluruh kehidupan manusia saat itu.
c. Tycho Brahe (1546-1601), merupakan seorang bangsawan yang tertarik pada
sistem astronomi baru. Ia membuat alat-alat yang ukurannya besar sekali untuk
mengamati bintang-bintang dengan teliti. Berdasarkan alat-alat yang besar itu
dan dengan ketekunan serta ketelitian pengamatannya, maka bahan yang dapat
dikumpulkan selama 21 tahun sangat besar artinya untuk ilmu dan keperluan
sehari-hari. Perhatian Brahe dimulai pada bulan Nopember tahun 1572 dengan
munculnya bintang baru di gugusan Cassiopeia secara tiba-tiba, yaitu bintang
yang cemerlang selama 16 bulan sebelum ia padam lagi. Bintang yang dalam
waktu singkat menjadi cemerlang dalam bahasa modern disebut Nova atau
Supernova, tergantung besarnya dan massanya. Timbulnya bintang biru ini yaitu
oleh karena angkasa diciptakan Tuhan, maka angkasa tidak dapat berubah
sepanjang masa, dan bentuknya akan tetap dan abadi. Beberapa tahun kemudian,
Brahe berhasil menyusun sebuah observatorium yang lengkap dengan alat,
kepustakaan, dan tenaga pembantu. Dalam tahun 1577, ia dapat mengikuti
timbulnya sebuah Comet. Dengan bantuan alat-alatnya, ia menetapkan lintasan
yang diikuti comet tersebut. Ternyata lintasan ini lebih jauh dari planet Venus.

52
Penemuan ini membuktikan bahwa benda-benda angkasa tidak menempel pada
crystalline spheres, melainkan datang dari tempat yang sebelumnya tidak dapat
dilihat dan kemudian muncul perlahan-lahan ke tempat yang dapat dilihat untuk
kemudian menghilang lagi. Kesimpulannya adalah benda-benda angkasa
semuanya terapung bebas dalam ruang angkasa.
d. Johannes Keppler, menemukan tiga buah hukum yang melengkapi penyelidikan
Brahe sebelumnya, yaitu.
1) Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan
circle, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet
berbentuk elips.
2) Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu
melintasi bidang yang luasnya sama.
3) Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet
A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi
orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 : Y3.
Ketiga hukum Keppler itu ditemukan setelah dilakukan perhitungan selama kir-
kira sepuluh tahun tanpa logaritma, karena pada waktu itu memang belum
dikenal logaritma. Logaritma ditemukan sekitar tahun 1550-1617 oleh Napier
berdasarkan basis e yang kemudian diubah ke dalam dasar 10 oleh Briggs (1615)
dan kemudian diperluas oleh Brochiel de Decker (1626). Dari karya-karya Brahe
dan Keppler tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran. Pengumpulan bahan
pengamatan yang diteliti dan ketekunan yang terus menerus menjadi landasan
utama untuk perhitungan tepat. Perhitungan yang tepat memaksa disingkirkannya
semua takhayul, misalnya tentang pergerakan sempurna atau pergerakan sirkuler.
Bahan dan perhitungan yang diteliti merupakan suatu jalan untuk menemukan
hukum-hukum alam yang murni dan berlaku universal.
e. Galileo Galilei, membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu
dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan
beberapa peristiwa penting dalam bidang astronomi. Ia melihat bahwa planet

53
Venus dan Mercurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan,
sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya
sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari. Galileo membagi
sifat benda dalam dua golongan. Pertama, golongan yang langsung mempunyai
hubungan dengan metode pemeriksaan fisik, artinya yang mempunyai sifat-sifat
primer seperti berat, panjang, dan lain-lain sifat yang dapat diukur. Kedua,
golongan yang tidak mempunyai peranan dalam proses pemeriksaan ilmiah,
disebut sifat-sifat sekunder, seperti sifat warna, asam, manis, dan tergantung dari
pancaindera manusia. Sejak Galileo, ilmu pada umumnya tidak dapat memeriksa
sifat kehidupan, karena sifatnya subjektif, tidak dapat diukur, dan tidak dapat
ditemukan satuan dasarnya. Hal itulah yang membuat Galileo dianggap sebagai
pelopor perkembangan ilmu dan penemu dasar ilmu modern, yang hanya
berpegang pada soal-soal yang objektif saja.
6. Zaman Modern (Abad 17 M sampai 19 M)
Menurut Surajiyo (2018: 87) zaman modern ditandai dengan berbagai
penemuan dalam bidang ilmiah. Sebenarnya perkembangan ilmu pengetahuan pada
zaman ini sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Tokoh-tokoh yang terkenal pada
zaman modern yaitu Rene Descartes, Isaac Newton, Charles Darwin, dan J.J
Thompson. Berikut adalah cuplikan dari pemikiran para filsuf tersebut.
a. Rene Descartes, beliau merupakan tokoh terkenal sebagai bapak filsafat modern
dan seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti ialah system
koordinat yang terdiri atas dua garis luru X dan Y dalam bidang datar. Garis X
letaknya horizontal dan disebut axis atau sumbu X, sedangkan garis Y letaknya
tegak lurus pada sumbu X. Karena sistem tersebut didasarkan pada dua garis
lurus yang berpotongan tegak lurus, maka sistem koordinat itu dinamakan
orthogonal coordinate system. Kedudukan tiap titik dalam bidang tersebut
diproyeksikan dengan garis-garis lurus pada sumbu X dan sumbu Y. Dengan
demikian kedudukan tiap titik potong kedua sumbu menyusuri sumbu-sumbu
tadi. Pentingnya sistem yang dikemukakan oleh Descartes ini terletak pada

54
hubungan yang diciptakannya antara ilmu ukur bidang datar dengan aljabar. Tiap
titik dapat dinyatakan dengan dua koordinat Xi dan Yi. Panjang garis dapat
dinyatakan serupa dengan hukum Pythagoras mengenai Hypothenusa. Penemuan
Descartes ini dinamakan Analytic Geometry.
b. Isaac Newton, berperan dalam ilmu pengetahuan modern terutama penemuannya
dalam tiga bidang, yaitu teori Gravitasi, perhitungan Calculus, dan Optika.
Ketiga bidang tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.
1) Teori Gravitasi adalah perbincangan lanjutan mengenai soal pergerakan yang
telah dirintis oleh Galileo dan Keppler. Galileo mempelajari pergerakan
dengan lintasan lurus. Keppler mempelajari pergerakan dengan lintasan
tertutup atau elips. Berdasarkan perhitungan yang diajukan oleh Keppler
menunjukkan bahwa tentu ada faktor penyebab mengapa planet tidak
mengikuti pergerakan dengan lintasan lurus. Dugaan sementara penyebab
ditimbulkan oleh matahari yang menarik bumi atau antara matahari dengan
bumi ada gaya saling tarik-menarik. Persoalan itu menjadi obsesi Newton,
namun ia menghadapi berbagai kesukaran. Perhitungan besarnya bumi dan
matahari belum diketahui, dan Newton belum mengetahui bahwa pengaruh
benda pada benda yang lain dapat dipandang dan dihitung dari pusat titik
berat benda-benda tadi. Setelah kedua hal ini diketahui oleh Newton, barulah
ia dapat menyusun teori Gravitasi. Teori Gravitasi menerangkan bahwa
planet tidak bergerak lurus, namun mengikuti lintasan elips, karena adanya
pengaruh gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua
benda berdekatan. Teori Gravitasi ini dapat menerangkan dasar dari semua
lintasan planet dan bulan, pengaruh pasang surutnya air samudera, dan
peristiwa astronomi lainnya. Teori Gravitasi Newton ini dipergunakan oleh
para ahli berikutnya untuk pembuktian laboratorium dan penemuan planet
baru di alam semesta.
2) Perhitungan Calculus, yaitu hubungan antara X dan Y. kalau X bertambah,
maka Y akan bertambah pula, tetapi menurut ketentuan yang tetap atau

55
teratur. Misalnya ada benda bergerak, panjangnya jarak yang ditempuh
tergantung dari kecepatan tiap detik dan panjangnya waktu pergerakan. Cara
perhitungan Calculus ini banyak manfaatnya untuk menghitung berbagai
hubungan antara dua atau lebih hal yang berubah, bersama dengan ketentuan
yang teratur.
3) Optika atau mengenai cahaya, jika cahaya matahari dilewatkan sebuah
prisma, maka cahaya asli yang keliatannya homogeny menjadi terbias antara
merah sampai ungu, menjadi pelangi. Kemudian kalau pelangi itu dilewatkan
sebuah prisma lainnya yang terbalik, maka pelangi terkumpul bahwa cahaya
homogeny. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa cahaya itu
sesungguhnya terdiri atas komponen yang terbentang antara merah dan ungu.
c. Joseph Black (1728-1799), setelah masa Newton, perkembangan ilmu
selanjutnya adalah ilmu kimia. Ilmu kimia tidak dimulai dengan logika, aksioma,
ataupun deduksi namun dimulai dengan percobaan-percobaan yang hasilnya
kemudian ditafsirkan. Pada permulaannya, semua percobaan bersifat kualitatif
sehingga J. Black dikenal sebagai pelopor dalam pemeriksaan kualitatif, ia
menemukan gas CO2. Ia melakukan pemanasan terhadap kapur. Hawa yang
keluar kemudian dialirkan melalui air kapur yang sudah disaring lebih dahulu.
Pada waktu hawa yang keluar dari kapur mengalir, maka air kapur yang jernih
menjadi keruh. Demikian pula Henry Cavendish (1731-1810) memeriksa gas
yang terjadi jika serbuk besi disiram dengan asam dan menghasilkan hawa yang
dapat dinyalakan. Joseph Prestley (1733-1804) menemukan sembilan macam
hawa NO dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Oksigen
ini dapat menyegarkan hawa yang tidak dapat lagi menunjang pembakaran.
Antonine Laurent Lavoiser (1743-1794) merupakan sarjana yang meletakkan
dasar ilmu kimia sebagaimana yang kita kenal sekarang. Berdasarkan penemuan
Black, Cavendish, Priestley, dan lain-lainnya, Loveiser melaksanakan percobaan
yang didasarkan pada timbangan bahan-bahan sebelum dan sesudahnya
percobaan. Dengan demikian ia mulai menggunakan pengukuran dalam lapangan

56
kimia, dengan kata lain, ia meninggalkan percobaan yang hanya bersikap
kumulatif dan berpindah ke lapangan yang bersifat kuantitatif.
d. J.L Proust melakukan percobaan mengenai atom. Dalam menganalisis oxyda dari
berbagai logam, J.L. Proust sampai pada pendapat bahwa perbandingan bahan-
bahan yang ikut serta dalam proses tersebut selalu tetap, demikian pula dengan
sulfide dari logam. Demikian pula dengan John Dalton (1766-1844) yang
mendapatkan ilham untuk menetapkan kesatuan (a unit), untuk mencari
keterangan tentang perbandingan yang selalu tetap. Dalam hal ini yang dijadikan
kesatuan adalah hydrogenium. Berdasarkan penemuan dan ketentuan ini, maka
perbandingan berat hydrogenium lawan atom lain-lainnya disebut berat atom.
Sejak Dalton, teori tentang atom terus dapat dipergunakan dalam lapangan ilmu
kimia, juga oleh Frederich Wohler (1800-1882) untuk menemukan sintesis urea
dalam tahun 1828. Pada sekitar tahun 1895, Henry Becquerel (1852-1908), suami
istri Curie (1859-1906) dan J.J Thompson (1897) menemukan radium, logam
yang dapat berubah menjadi logam lain, sedangkan Thompson menemukan
electron. Dengan penemuan itu, runtuhlaj pendapat dan aksioma yang
menyatakan bahwa atom adalah bahan kecil yang tidak dapat berubah dan
bersifat kekal. Dengan penemuan ini, mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-
fiiska, yaitu fisika nuklir, yang pada zaman sekarang dapat mengubah bermacam-
macam atom.
e. Charles Darwin, dikenal sebagai penganut evolusi yang fanatic. Darwin
menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada makhluk di bumi terjadi
karena seleksi alam. Teorinya yang terkenal adalah struggle for life (perjuangan
untuk hidup). Darwin berpendapat bahwa perjuangan untuk hidup berlaku pada
setiap kumpulan makhluk hidup yang sejenis, karena meskipun sejenis namun
tetap menampilkan kelainan-kelainan kecil. Makhluk hidup yang berkelainan
kecil itu berbeda-beda daya menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan. Makhluk
hidup yang dapat menyesuaikan diri akan memiliki peluang yang lebih besar
untuk bertahan hidup lebih lama, sedangkan yang kurang dapat menyesuaikan

57
diri akan tersisihkan karena kalah bersaing. Oleh karena itu yang dapat bertahan
adalah yang paling unggul (survival of the fittest).
Secara singkat dapat ditarik sebuah sejarah ringkas ilmu-ilmu itu lahir saat itu.
Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu sperti taksonomi,
ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir semisal pharmakologi, geofisika,
geomophlogi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenl ilmu teori
informasi, logika matematika, mekanika kwantum, fisika nulir, kimia nuklir,
radiobiology, oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.

7. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)


Menurut Surajiyo (2018: 89) di antara ilmu khusus yang dibicarakan oleh para
filsuf , bidang fisika menempati kedudukan yang paling tinggi. Menurut Trout (dalam
Surajiyo, 2018:89) fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek
materinya mengandung unsur-unsur fundamental yang membentuk alam semesta. Ia
juga menunjukkan bahwa secara historis hubungan antara fisika dengan filsafat
terlihat dalam dua cara. Pertama, diskusi filosofis mengenai metode fisika, dan dalam
interaksi antara pandangan substansial tentang fisika (misalnya: tentang materi,
kuasa,konsep ruang, dan waktu). Kedua, ajaran filsafat tradisional yang menjawab
fenomena tentang materi, kuasa, ruang, dan waktu. Dengan demikian, sejak semula
sudah ada hubungan yang erat antara filsafat dan fisika.
Fisikawan termasyhur abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa
alam itu tidak berhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah status
totalitasnya atau bersifat statis dari wkatu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan
materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan kata lain tidak
mengakui adanya penciptaan alam. Di samping teori mengenai fisika, teori alam
semesta, dan lain-lain. Zaman Kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai
teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang
mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan computer, berbagai satelit
komunikasi, internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan

58
pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer
mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin
menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang
ilmu lain. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah
sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu
baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning. Berikut
adalah beberapa contoh perkembangan ilmu kontemporer menurut Bakhtiar (2019:
71).
a) Santri, Priyayi, dan Abangan
Dalam kajian ilmu sosial keagamaan di Indonesia, penelitian Clifford
Geertz yang dalam versi aslinya berjudul The Religion of Java merupakan satu
bahasan yang menarik. Penelitian serius Geertz tersebut kemudian lebih banyak
dipopulerkan sebagai kerangka tipologisasi keberagaman masyarakat Jawa
menjadi santri, abangan, dan priyayi. Untuk menyajikan abstraksi yang lebih
otoritatif tentang penelitian Geertz ini, penulis mengutip penggambaran Parsudi
Suparlan dalam pengantarnya terhadap buku Clifford Geertz Abangan, Santri,
Priyayi dalam Masyarakat Jawa yang merupakan edisi Indonesia dari buku
aslinya The Religion of Java.
Arti penting karya Geertz The Religion of Java adalah sumbangannya
kepada pengetahuan kita mengenai sistem-sistem simbol, yaitu bagaimana
hubungan antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat
dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol, dan bagaimana para
anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara
mengorganisasi dan mewujudkan simbol-simbol tertentu, sehingga perbedaan-
perbedaan yang tampak di antara struktur-struktur sosial yang ada dalam
masyarakat tersebut hanyalah bersifat komplementer.
Tiga lingkungan yang berbeda (yaitu pedesaan, pasar, dan kantor
pemerintah) yang dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang
berbeda (yang berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan

59
Islam di Jawa) telah mewujudkan adanya Abangan (yang menekankan
pentingnya animistik), Santri (yang menekankan aspek-aspek Islam), dan
Priyayi (yang menekankan aspek-aspek Hindu). Perwujudan citra agama
masing-masing struktur sosial tersebut adalah pesta-pesta ritual yang berkaitan
dengan usaha-usaha untuk menghalau berbagai makhluk halus jahat yang
dianggap sebagai penyebab dari ketidakteraturan dan kesengsaraan dalam
masyarakat, agar ekuilibrium dalam masyarakat dapat dicapai kembali
(Abangan); penekanan pada tindakan-tindakan keagamaan dan upacara-upacara
sebagaimana digariskan dalam Islam (Santri); dan suatu kompleks keagamaan
yang menekankan pada pentingnya hakikat halus sebagai lawan dari kasar
(kasar dianggap sebagai ciri-ciri utama Abangan), yang perwujudannya tampak
dalam berbagai sistem symbol yang berkaitan dengan etiket, tari-tarian dan
berbagai bentuk kesenian, bahasa, dan pakaian (Priyayi).
Abangan, Santri, dan Priyayi, yang walaupun masing-masing merupakan
struktur-struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi
satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya sistem sosial Jawa yang berlaku
umum di Mojokuto. Inilah sesungguhnya tesis Geertz yang diusahakan untuk
diperlihatkan dalam bukunya The Religion of Java, yaitu agama bukan hanya
memainkan peranan bagi terwujudnya integrasi tetapi juga memainkan peranan
pemecah-belah dalam masyarakat. Walaupun demikian, tampaknya yang lebih
menjadi perhatian Geertz adalah masalah perpecahan dalam sistem sosial Jawa
di Mojokuto dan bukannya integrasi yang terwujud di dalamnya, sebagaimana
dikemukakan oleh Harsja W. Bachtiar dalam pembahasannya (1973). Hal ini
mungkin adanya penekanan perhatian Geertz pada dimensi struktur sistem
sosial.
Satu lagi, perlu juga kita lihat ulasan yang menjadi back cover buku
Clifford Geertz edisi Indonesia tersebut. Pengarangnya memilih masyarakat
kota kecil Mojokuto, Jawa Timur, sebagai objek penelitian dan pengkajian.
Namun untuk kelengkapannya, pengarang juga membahas pandangan tiga

60
golongan yang memiliki subtradisi masing-masing: abangan, yaitu golongan
petani kecil, yang sedikit banyak memiliki persamaan dengan "religi rakyat"
Asia Tenggara; santri, yaitu pemeluk agama Islam yang taat pada umumnya
terdiri dari pedagang di kota dan petani yang berkecukupan; dan priyayi, yaitu
golongan yang masih memiliki pandangan Hindu-Budha, yang kebanyakan
terdiri dari golongan terpelajar, golongan atas, penduduk kota, terutama
golongan pegawai.
Penelitian Clifford Geertz hingga kini mendapat perhatian dari para
ilmuwan. Berbagai penelitian dilakukan untuk sosial menguji, membuktikan
atau bahkan meruntuhkan tesis Geertz tentang kategorisasi keberagamaan
masyarakat Jawa itu. Beberapa yang bisa penulis sebutkan di sini misalnya
seperti penelitian antropologis yang dilakukan oleh Bambang Pranowo (1994),
Robert W. Hefner (1987), dan Mark Woodward (1984), yang membantah klaim
Geertz. Para pakar ini menemukan bahwa masyarakat Jawa secara umum
adalah santri, adapun "genre" abangan tidak signifikan.
Klaim tentang runtuhnya tesis "santri-abangan"-nya Clifford Geertz juga
dikemukakan oleh hasil penelitian PPIM UIN Jakarta. Penelitian tersebut
dilakukan pada tahun 2001 dengan populasi yang luas (sekitar 85% populasi
nasional) dan dengan sistem random sampling (metode pengambilan sampel
secara acak, tidak hanya sebuah kota kecil kecamatan atau sebuah desa)
sehingga punya daya generalisasi dan klaim yang besar. Penelitian PPIM ini
bahkan juga mencoba menunjukkan adanya suatu dialektika, di mana orang
yang lebih intensif dalam menjalankan ritual wajib maupun sunnah dalam Islam
berkolerasi positif dan signifikan dengan status sosial-ekonomi (gabungan
antara pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, dan kategori desa-kota).
Korelasinya sekitar 15%. Sebaliknya, seorang muslim yang semakin intensif
dalam melaksanakan ritual abangan semakin negatif korelasinya dengan status
sosial-ekonomi (korelasinya sekitar 25%).

61
Penelitian Clifford Geertz yang kemudian mendapat banyak tantangan dari
para pakar dan peneliti sesudahnya juga terjadi pada bidang-bidang ilmu
lainnya. Masih untuk bidang sosial keagamaan, misalnya juga terjadi
perdebatan panjang tentang statemen Samuel P. Huntington mengenai teori
Clash L Civilization. Dan banyak tema-tema lainnya yang terus berkembang
dan menjadi bukti bagi terus berkembangnya ilmu dari waktu ke waktu.
b) Teknologi Rekayasa Genetika
Salah satu bentuk perkembangan ilmu zaman kontemporer yang sangat
masyhur adalah di bidang rekayasa genetika berupa teknologi kloning.
Teknologi ini pertama sekali dilakukan oleh Dr. Gurdon dari Medical Research
Council Laboratory of Molecular Biology, Universitas Cambridge, Inggris,
tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga tumbuh
menjadi kecebong yang identik (kecebong kloning).
Tiga puluh dua tahun setelah itu, tahun 1993, Dr. Jerry Hall berhasil
mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan (embryo splitting
technique). Hanya saja, semua kloning yang dihasilkan saat itu rusak. Empat
tahun kemudian tepatnya pada tanggal 23 Februari 1997, Dr. lan Wilmut dari
Scotland's Roslin Institute, berhasil melakukan cloning mamalia pertama
dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Teknik yang digunakan Dr.
Wilmut dikenal dengan alih inti sel somatik atau Somatic Cell Nuclear Transfer
(SCNT), yaitu mengambil inti sel somatik dari domba jenis tertentu (sebut
misalnya domba A) untuk kemudian diinjeksikan ke dalam sel telur domba
jenis lainnya (misalnya domba B). Sebelum injeksi dilakukan, sel telur tersebut
sudah diambil terlebih dahulu inti selnya (dikosongkan). Dengan suatu loncatan
listrik, inti sel domba A akan berkembang dan membelah. Dan pada akhirnya
akan tumbuh menjadi individu baru.
Masih pada tahun 1997, lahir lembu kloning pertama yang diberi nama
Gene. Teknik yang digunakan sedikit berbeda dengan pembuatan "Dolly".
Pembuatan Gene diawali dengan koleksi sel-sel janin yang sangat muda dari

62
anak lembu. Sel-sel tersebut kemudian ditumbuhkan sedemikian rupa sampai
siap dimasukkan ke dalam sel telur lembu betina.
Setahun kemudian, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh
Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga
lebih dari lima generasi. Teknik yang digunakan kali ini juga berbeda dengan
sebelumnya. Mereka menggunakan teknik micro injection dengan tingkat
keberhasilan tiga persen. Peluang keberhasilan teknik kloning ini lebih besar
dari teknik SCNT yang tidak sampai satu persen.
Di tahun 2000, Prof. Gerald Schatten dari Oregon Health Sciences
University, Amerika, berhasil membuat kera cloning yang diberi nama Tetra.
Teknik yang digunakan adalah pembagian embrio atau Embryo Splitting
Technique (EST). Pada dasarnya EST adalah penyempurnaan dari teknik yang
dipergunakan oleh Dr. Jerry Hall pada tahun 1993. Pada teknik ini, telur dari
betina dan sperma dari jantan dipakai untuk membentuk telur yang terbuahi
(fertilized egg). Setelah embrio tumbuh menjadi 8 sel, para peneliti
membaginya menjadi 4 embrio yang identik, masing-masing terdiri dari 2 sel.
Langkah selanjutnya, keempat embrio tersebut diimplikasikan ke dalam
surrrogete mother. Lalu, lahirlah kemudian kera kloning. Individu yang
dihasilkan dari teknik ini 100 persen identik dengan sel sumbernya. Karena
itulah para ahli menyebut teknik ini dengan artificial twinning atau kembar
buatan.
Begitulah teknik rekayasa genetika berkembang dari waktu ke waktu. Dan
setelah berbagai keberhasilan teknik Kloning yang telah pernah dilakukan, para
ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia. Dari ide
inilah, wacana kloning menjadi sesuatu yang semakin kontroversial.
c) Teknologi Informasi
Pada tahun 1937, seorang insinyur Amerika bernama Howard Aiken
merancang IBM Mark 7 yang merupakan nenek moyangnya komputer

63
mainframe saat ini. Komputer tersebut menggunakan tabung vakum dan elektro
mekanikal dan bukan tombol-tombol elektronis.
Komputer elektronik pertama yang sukses secara komersial adalah
UNIVAC. Komputer ini dirancang oleh Eckert dan Mauchly dan diperkenalkan
pada tahun 1951. Selanjutnya, muncul komputer bertransistor dengan
transistor-transistor yang kokoh menggantikan tabung-tabung vakum yang
mudah rusak, dirancang oleh Seymour Cray untuk Control Data Corporation.
Dan inilah awal dari kecenderungan untuk membuat komputer yang lebih kecil
dan lebih cepat.
Ide mengenai komputer pribadi [(Personal Computer, (PC)] di setiap
rumah muncul di lembah Santa Clara di sebelah selatan San Francisco,
California, sebuah daerah yang kemudian dikenal sebagai Lembah Silikon.
Pada tahun 1977, Steve Jobs dan Steve Wozniak mendirikan perusahaan
komputer bernama Apple Computer Inc. Pada bulan April tahun 1977 itu,
mereka memperkenalkan Apple II. Itulah komputer pribadi pertama di dunia.
Komputer telah mengubah wajah peradaban Barat modern secara drastis
sejak tahun 80-an. Pada awalnya, computer dikenal sebagai "otak elektronis"
bermacam-macam kegiatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.
Komputer merevolusi ilmu matematika melalui kemampuannya memperluas
jangkauan otak penghitungnya, seperti mobil dan pesawat yang mampu
memperjauh jarak yang ditempuh.
Demikianlah teknologi komputer terus berkembang dan melahirkan
inovasi. Hampir tiap tahun perusahaan-perusahaan komputer internasional
mengeluarkan model computer terbaru mereka dengan berbagai fitur dan
keistimewaan serta perbaikan-perbaikan terhadap generasi-generasi
sebelumnya. Ukurannya pun dibuat semakin simpel tapi menarik dan daya
memorinya terus diperbesar.
Tren perkembangan komputer mutakhir cenderung menghendaki bentuk
yang semakin mengecil. Dulu, komputer belum memiliki bentuk yang kompak

64
dan ringkas. Komputer generasi awal bahkan membutuhkan ruangan yang besar
dengan kabel-kabelnya yang berseliweran ke sana-sini. Lalu semakin lama
bentuknya semakin kecil, meskipun kemampuannya tidak menjadi kecil. Ada
PC (Personal Computer) dan laptop yang lebih kecil lagi. Dan terakhir, ada
simputer, komputer jenis PDA (Personal Digital Assistans) yang bisa
digenggam dengan ukuran layar hanya 3x2 inch dengan stylus (tongkat kecil
seperti pensil) yang berfungsi sebagai mouse.
Komputer juga tidak saja menjadi alat pengolahan data tapi juga memasuki
wilayah komunikasi interaktif dalam bentuk internet. Penggunaan internet
berawal dari adanya kebutuhan militer di masa perang dingin sekitar tahun
1969, di mana Departemen Pertahanan Amerika Serikat membutuhkan sebuah
jaringan yang menghubungkan semua di daerah vital untuk mengantisipasi
kemungkinan adanya serangan nuklir.
Untuk itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui DARPA
(Defense Advanced Research Projects Agency), bekerja sama dengan beberapa
universitas membentuk ARPANET (Advanced Research Projects
Administration Net). Proyek ini awalnya hanya menghubungkan 3 komputer di
California dan 1 di Utah. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak
universitas di daerah tersebut ingin bergabung, sehingga diputuskan untuk
mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu sistem jaringan untuk militer
dan nonmiliter. Gabungan keduanya disebut DARPA Internet yang akhirnya
dikenal sebagai internet saja.
Begitulah internet pun terus dikembangkan hingga saat ini dengan berbagai
fasilitas yang terdapat di dalamnya seperti e-mail, chatting, download file dari
berbagai situs, dan lain-lain.
d) Teori Partikel Elementer
Mengamati perkembangan ilmu di antaranya juga bisa dilakukan dengan
melihat temuan-temuan para ilmuwan di berbagai bidang. Satu contoh misalnya
tentang teori partikel elementer.

65
Selama lebih dari 2.500 tahun, manusia mencari misteri sifat materi. Salah
satu bentuk penasaran itu disalurkan dengan mencari tahu partikel apakah yang
paling kecil dari susunan materi. Pada abad kelima sebelum Masehi,
Democritus-filosof Yunani menemukan bahwa semua jenis materi dapat
dipecah- pecah menjadi partikel kecil ini disebut atom. Atom adalah kata
Yunani yang berarti tidak terbagi, atau tidak dapat dibagi.
Ilmu pun berkembang dan sejumlah percobaan dilakukan dan teori-teori
baru bermunculan. Kemudian ditemukan bahwa atom bukanlah partikel
terkecil. Di dalam atom terdapat sejumlah partikel dasar/elementer yang tidak
dapat dibagi lagi menjadi partikel yang lebih kecil yaitu elektron, proton, dan
netron. Lebih jauh, sekarang ditemukan kuark sebagai bagian dari proton dan
netron, sehingga saat ini yang disebut sebagai partikel elementer adalah kuark
dan elektron.
Di samping kuark dan elektron, ada partikel lain seperti foton, beberapa
jenis neutron yang digolongkan sebagai partikel elementer atau dikenal sebagai
partikel sub-atomik. Partikel elementer ini disebut sebagai jantung fisika,
karena partikel-partikel elementer inilah yang mengatur sifat fisika suatu benda,
yang akan menentukan sifat fisika benda tersebut. Misalnya mengapa suatu
benda ada yang dapat menghantarkan listrik dengan baik dan benda yang lain
tidak. Ini tergantung dari gerakan partikel elementer (dalam hal ini elektron).
Pada suatu konduktor, elektron dapat bebas bergerak sehingga konduktor dapat
menjadi penghantar listrik yang baik. Sedangkan pada isolator, elektron terikat
kuat, sehingga tidak dapat menghantar listrik dengan baik. Ini menjelaskan
mengapa misalnya logam adalah penghantar listrik yang baik, sedangkan kayu
tidak.
Setiap kali lahir teori fisika atom, akan muncul serangkaian percobaan
yang dikemudian hari bisa menghasilkan teori baru. Teori baru tersebut bisa
jadi menentang teori yang lama-seperti yang terjadi setelah Democritus-, namun
bisa juga bersifat menguatkan. Dalam sifat menguatkan inilah temuan Gerardus

66
Hooft, peraih hadiah nobel fisika tahun 1999, bersama rekannya Martinus
Veltman, profesor fisikawan teoretis dengan spesialisasi di bidang partikel sub-
atomik. Mereka menegaskan bahwa teori model standar bisa diterima untuk
menjelaskan bahwa jagad raya tersusun atas kuark, lepton (yaitu elektron dan
neutron), dan boson (foton).
Teori tentang partikel elementer bisa menjadi dasar bagi temuan-temuan
baru yang spektakuler. Bukan tidak mungkin, manusia bisa diubah partikel
dasarnya, sehingga bisa dipindah tempatkan setiap saat tanpa kendaraan, seperti
digambarkan dalam Star Trek.

67
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak terlepas oleh penemuan para ilmuwan
dunia yang terkenal pada zamannya. Pendapat-pendapat yang dikemukakan para
ilmuwan berdasarkan pendekatan yang mereka gunakan. Pendekatan-pendekatan
tersebut yaitu pendekatan proses, kultural, kreativitas, peradaban, dan sejarah dan
kebudayaan.
Era kebangkitan sejarah kebangkitan ilmu pengetahuan dimulai dari zaman Pra
Yunani Kuno, kemudian berkembang lagi pada zaman Yunani Kuno, zaman
Kejayaan Islam, zaman Abad Pertengahan, zaman Renaissance, zaman Modern, dan
zaman Kontemporer. Segala hal yang kita nikmati sekarang merupakan hasil dari
temuan para ilmuwan pada zaman dahulu. Misalnya saja teknik kloning yang sempat
trending topic merupakan hasil temuan pada kontemporer. Ilmu tentang teori gravitasi
merupakan temuan oleh Isaac Newton pada zaman Modern dan lain-lain yang telah
dijelaskan pada makalah kami.

68
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2019. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Bakhtiar, Amsal. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Jalaluddin. 2014. FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN: Filsafat, Ilmu Pengetahuan,


dan Peradaban. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Karim, A. 2014. Sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan. Fikrah, Vol. 2, No. 1, Juni

Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta:
Rajawali Press.

Rahmat, A, et al. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Prenada Media.

Russell, B. 2004. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik
dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Surajiyo. 2008. Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia Suatu Pengantar.


Jakarta: Bumi Aksara.

Surajiyo. 2018. Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi


Aksara.

69
70