Anda di halaman 1dari 142

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) adalah pedoman baku yang mengatur


penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam penulisan maupun dalam pelafalan.
Pedoman yang baku dalam berbahasa Indonesia dirasa sangat perlu adanya,
mengingat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa yang mempunyai
khas masing-masing, sehingga dengan adanya pedoman baku dalam berbahasa, akan
menimbulkan keindahan dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan Bahasa Indonesia sesuai kaidahnya merupakan keharusan bagi


warga dan penduduk Indonesia, agar bahasa yang fungsinya sebagai alat pengirim
informasi ini sampai pada tujuannya sesuai keinginan penyampainya. Jangan sampai
karena kesalahan dalam memahami informasi menjadikan masalah di kemudian hari
karena tidak memahami kaidah bahasa Indonesia. Selain itu, kaidah Bahasa Indonesia
ini juga fungsinya sebagai aturan dalam penulisan karya ilmiah, sehingga akan ada
keserasian dan kesamaan sistematika dalam penulisan karya ilmiah.

B. Beberapa Pendekatan

Perkembangan ilmu pengetahuan tak lepas dari dorongan rasa inei

tahu manusia. Ingin tahu terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Tujuannya

adalah untuk menemukan kebenaran. Dia menuntut dirinya untuk hidup

1
dalam apa yang disebutnya kebenaran Jakob Soemardjo, 2000: 3). Oleh

sebab itu, dapat dikatakan bahwa permulaan ilmu dapat disusur sampai

permulaan manusia (George J. Mouly: 87). Hal ini mengindikasikan kalau

perkembangan ilmu pengetahuan itu sudah cukup lama, setua perjalanan

sejarah dan peradaban manusia itu sendiri.

Namun para ahli tampaknya memiliki pendapat yang berbeda dalam

memandang proses perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Memang

16

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

Sulit dan mustahil untuk merumuskan suatu kesepakatan bersama. Hal ini

teriadi, karena masing-masing melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Atas dasar disiplin ilmu yang berbeda. Berikut ini akan dibahas pendapat-

pendapat yang dikemukakan para ilmuwan berdasarkan pendekatan

mereka gunakan.

yang

1. Pendekatan Proses

George J. Mouly mengemukakan sudut pandangnya tentang perkem-

bangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan proses sebagai pendekatan.

Menurut pendapat George J. Mouly, perkembangan ilmu pengetahuan


berawal

2
dari animisme. Sejak tahap awal ini, ilmu pengetahuan terus berkembang

hingga mencapai tahap pengakuan sebagai ilmu pengetahuan. Menurutnya

ada tiga tahapan dalam perkembangan itu, yakni animisme ke tahap ilmu

empiris, dan ilmu teoretis. Selanjutnya George J. Mouly menjelaskan proses

perkembangan pada tahap-tahap dimaksud sebagai berikut.

a.

Animisme

Tugas manusia pada dasarnya adalah mengerti segenap gejala yang

ditemuinya dalam kehidupan untuk mampu menghadapi masalah-masalah

yang ditimbulkannya (George J. Mouly dalam Jujun S. Suriasumantri, 1984:


91).

Di masyarakat primitif masalah-masalah ini dihubungkan dengan hal-hal

yang bersifat gaib.Gejala alam dianggap sebagai perbuatan makhluk halus.

Dimitoskan makhluk-makhluk halus masih memiliki peranan penting

dalam kehidupan manusia primitif. Pada tahap ini ilmu pengetahuan masih

dihubungkan dengan unsur-unsur mitos.

Selanjutnya dikemukakan George J. Mouly, gejala dan fenomena alam

seperti petir ataupun banjir dihubungkan dengan perbuatan dewa-dewa.

Dalam masyarakat primitif para dewa ini tampaknya memainkan peranan

yang penting dalam kehidupan. Sampai-sampai, bangsa Indian misalnya,

menghubungkan sakit, kelaparan, dan berbagai bencana dengan makhluk-

3
makhluk halus yang sedang berang. Keadaan yang bersifat gaib atau fase

animistis ini belum sepenuhnya berlalu, bahkan pada beberapa golongan

yang beradab. Cerita rakvat bangsa Irlandia. Bahkan di negara maju seperti

Amerika Serikat, kepercayaan gaib akan kucing hitam, tangga, Jum'at ke-13

dan mengguna-guna lewat boneka, masih dijumpai (George J.Mouly: 91).

b.

lmu Empiris

Dalam fase berikutnya, gejala alam tidak lagi dihubungkan dengan alam

gaib. Menurut George J.Mouly, lambat laun manusia menyadari bahwa gejala

alam dapat diterangkan sebab-musababnya. Dan fase ini merupakan suatu

langkah yang paling penting dalam menandai permulaan ilmu pengetahuan

sebagai suatu pendekatan sistematis dalam pemecahan masalah. Dalam

prosesnya langkah-langkah ini dilakukan melalui observasi yang lebih

sistematis dan kritis, pengujian hipotesis secara sistematis dan teliti

bawah kontrol. Ilmu pengetahuan pada tingkat empiris ini adalah untul

mengungkapkan mengapa berbagai gejala bisa terjadi. (George J. Mouly:91)

Proses dimaksud tersusun secara sistematis melalui:

1) Pengalaman

Titik tolak ilmu pengetahuan pada tahap paling permulaan adalah

pengalaman. Melalui pengalaman dalam mengobservasi berbagai gejala

4
seperti hujan angin, badai salju, gerhana atau gejala alam lainnya. Jad

ilmu pengetahuan dimulai dengan observasi, dan ditambah dengan

berbagai observasi lanjutannya. Akhirnya akan disusun prinsip-

prinsip dasar yang menerangkan tentang terjadi atau tidak terjadinya 3)

serangkaian pengalaman. Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk

memperoleh dan mensistematiskan pengetahuan tentang gejala yang

kita alami (George J. Mouly: 92).

Dijelaskan oleh George J. Mouly pula, bahwa pengalaman yang

dikumpulkan secara individual tidaklah cukup. Selain terpisah-pisah

pengalaman yang demikian itu masih belum memiliki arti dalam

prinsip keilmuan. Pengalaman yang terpisah-pisah tersebut masih harus

direduksi kepada dasar yang dapat menyatukan semua pengalama

dimaksud. Melalui proses berikutnya itu, pengalaman-pengalama

tadi terbentuk menjadi sejumlah kecil prinsip-prinsip dasar, yang

bersifat umum dan dapat diterapkan secara lebih luas (George J. Mouly

92). Maksudnya dari berbagai pengalaman yang terpisah disatu

atas dasar kesamaan secara prinsip. Reduksi ini akan mempermudah

penyelesaian proses selanjutnya, yakni klasifikasi.

2) Klasifikasi

4)

Prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisal

5
menjadi dasar yang fungsional adalah klasifikasi (George J. Mouly:92

18

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

Klasifikasi merupakan dasar fungsional, suatu prosedur pokok dalam

penelitian sebagai cara yang sederhana dan cermat dalam memahami

seiumlah besar data. Dengan mengetahui kelas di mana suatu gejala

ormasuk, maka hal itu akan memberikan dasar untuk memahami gejala

rersebut. Dengan memasukkan hujan lebat yang akan turun ke dalam

klasifikasi topan, maka akan memudahkan untuk mengidentifikasi,

menghubungkan kita dengan objek atau gejala dari sifat-sifat

suatu kelas tersebut, jelas Mouly (George J. Mouly: 93).

Dikemukakannya pula klasifikasi lain seperti ikan, burung,

berlian yang membawa arti tersendiri. Makin persis klasifikasi dibuat,

makin jelas arti yang dibawanya dan makin spesifik pula dasar yang

membentuk klasifikasi tersebut. Umpamanya saja, kelas perkutut akan

lebih khusus jika dibandingkan dengan ciri-ciri yang lebih umum,

yakni kelas binatang (George J. Mouly: 93). Dengan klasifikasi ini akan

terbentuk kelompok data dalam kelas-kelas khusus yang lebilh spe-

sifik. Dalam dunia binatang misalnya ada kelas binatang menyusui

(mamalia) kelas binatang beruas-ruas (antropoda), dan sebagainya.

atau

6
3) Kiuantifikasi

Tahap pertama dari perkembangan ilmu adalah perkumpulan

dan penjelasan pengalaman, kemudian segera menyebabkan adanya

kebutuhan untuk mengkuantifikasi observasi tersebut. Kuantifikasi

dapat memberikan ketelitian yang diperlukan bagi klasifikasi dalam

ilmu yang lebih matang (George J. Mouly: 94). Selain itu, menurut George

J. Mouly, memang kuantifikasi memiliki sejumlah kelebihan diban-

dingkan dengan proses-proses sebelumnya. Namun demikian, masih

diperlukan ketelitian matematis (George J. Mouly: 94).

Sar

Dengan penggunaan sistem numerik, kuantifikasi lebih teliti

Selain itu dengan kuantifikasi data yang terkumpul dapat dijelaskan

melalui satuan-satuan lambang yang lebih konkret. Demikian pula

bila dihubungan dengan pengukuran dan sejenisnya.

4) Penemuan hubungan-hubungan

Lewat berbagai klasifikasi dapat ditemukan hubungan fungsional

tertentu antara aspek-aspek komponennya. Hubungan fungsional

dntara berbagai gejala dapat juga diobservasi lewat urutan kejadian.

Pada tingkat yang lebih maju, ilmu empiris berusaha untuk menge

huan

19

7
Maka dalam kasus ini, pendekatan yang dilakukan adalah dengan

menggunakan obat satu per satu. Alternatif lain adalah mencoba

Aombinasi dari berbagai obat dalam sejumlah kasus dalam rangkaian

percobaan yang teliti. Dengan demikian, bisa diperoleh nilai keilmuan

yang semaksimal mungkin, jelas George J. Mouly selanjutnya (George J

Mouly: 96). Dengan demikian, dalam tahap-tahap menemukan kebe-

naran dalam ilmu pengetahuan, prosesnya cukup panjang. Kebenaran

yang dicapai tidak sekali jadi, dan bukan berdasarkan perkiraan semata.

Kebenaran demi kebenaran harus diproses secara berulang-ulang

hingga ditemukan kebenaran yang teruji secara empiris.

C.

Imu Teoretis

Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah ilmu teoretis, di mana

hubungan dan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan

dengan dasar suatu kerangka pemikiran tentang sebab-musabab sebagai

langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengontrol kegiatan

agar hasil yang diharapkan dapat dicapai (George J. Mouly: 96). Ilmu teoretis

dapat memperpendek proses untuk sampai pada pemecahan masalah dan

ilmu teoretis merupakan susunan kerangka teori (George J. Mouly:97). Dalam

perkembangan ilmu pengetahuan, teori dapat digunakan untuk meramal

8
dan mengarahkan penemuan fakta-fakta empiris, misalnya bom atom

tidaklah dibuat secara empiris. Einstein dan rekan-rekan sejawatnya, mula-

mula mengembangkannya secara teoretis. Baru sesudah itu berpaling pada

pengujian secara empiris. Ini pun dilakukan hanya untuk menghilangkan

kekurangan dalam pengoperasiannya (George J. Mouly: 97-98).

Memang menurut George J. Mouly ada disiplin ilmu yang hampir

seluruhnya merupakan ilmu pengetahuan yang empiris, seperti pendidikan.

Kegagalan untuk menyusun kerangka teoretis hingga dapat disintesiskan

dengan penemuan bersifat empiris. Ilmu-ilmu sosial umumnya masih

menitikberatkan pada aspek empiris dan melalaikan aspek teoretis. Akhir-

akhir ini timbul kesadaran, bahwa empirisme merupakan tahap kelimuan

yang belum lengkap dan memerlukan orientasi

teori (George J.Mouly: 98).

yang

lebih besar terhadap

Berangkat dari pendekatan proses, penjelasan George J. Mouly telah

membuat rangkaian perkembangan ilmu pengetahuan. Mulai dari

pengalaman yang dihubungan dengan unsur-unsur mitologi, hingga ke

tingkat ilmiah. Dalam pandangannya, tingkat tertinggi dalam perkembange

ilmu pengetahuan adalah pada tingkat teoretis

9
k

2. Pendekatan Kultural

Pendekatan kultural didasarkan pada adanya perubahan-perubah

yang terjadi dalam kultur masyarakat di rentang masa tertentu. Perubahas

perubahan besar lazimnya ditimbulkan oleh lahirnya suatu kesadaran ban

dalam sebuah masyarakat, hingga menimbulkan kultur yang berbeda dar

sebelumnya.

Menurut Franz Dahler dan Eka Budianta perkembangan ilmu penge

tahuan terkait dengan kesadaran manusia terhadap keunggulan akal budi

Perkembangan dari kesadaran magis-mitis ke kesadaran rasional atau

filsafat ini merupakan loncatan yang sangat memengaruhi sejarah. Awal

terjadinya tahun 1200 SM di Tiongkok, kemudian juga di India dan Yunani

(Franz Dahler: 281). Selanjutnya Franz Dahler membagi penahapan dari

perkembangan akal budi tersebut dalam empat puncak.

Puncak pertama (abad ke-6-ke-5 SM)

a.

Pada tahap ini terjadi penonjolan rasio (akal budi-pikiran) terhadap

alam, hukum asas pertentangan, dan dualisme antara roh dan materi.

Manusia mulai menyadari atas kebebasan, martabat, dan kekuatan akan

pikirannya. Akal budi sehat, kebijaksanaan, penghayatan kosmos, dan

bumi secara rasional diutamakan. Sejalan dengan kesadaran rasional ini

10
memunculkan logika dan asas pertentangan, kesimpulan didasarkan pada

logika benar dan salah. Hanya ada dua jawaban atas suatu pernyataan: ya

atau tidak. Tidak ada pilihan lain.

Perintis-perintis besar puncak pertama ini adalah Lao Tse, Konfucius,

Budha, Thales, Plato, Aristoteles, dan seterusnya. Di Mesir kesadaran ini

muncul semasa Raja Echnaton (1380 SM), yang ingin menghapuskan

pemujaan dewa-dewi dan meresmikan kepercayaan akan satu Tuhan

(monoteisme) (Franz Dahler dan Eka Budianta, 2000: 281). Loncatan dari

pikiran magis-mistis ke kesadaran rasional ini tampaknya tidak hanya

terjadi di suatu kawasan khusus. Selain di Yunani, kesadaran serupa juga

muncul di kawasan lain seperti Mesir, Cina, dan India. Tidak dijelaskan.

apakah di masa itu sudah ada hubungan antarkawasan, sehingga terjadi

proses saling memengaruhi?

22

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

b. Puncak kedua

Puncak kedua ini ditandai oleh kesadaran rasional tercapai dalam

kebudayaan Islam Abad Pertengahan di Iran, Irak, Mesir, dan Spanyol.

Tokoh-tokohnya seperti Al-Farabi (+ 950), Ibn Sina Avicenna (980-1037)

11
Al-Biruni (937-1048), dan Averroes (1126-1198). Adapun sumbangan dari

periode puncak kedua ini adalah berupa keberhasilan menyatukan filsafat

Yunani dengan ilmu alam, bumi, astrologi, matematika, kedokteran, dan

agama (Franz Dahler dan Eka Budianta: 282).

Tokoh-tokoh tersebut dinilai telah mampu menyinari pikiran interdi-

sipliner (kesatuan, kerja sama antara ilmu-ilmu) dan pendalaman agama

yang universal. Tidak hanya mencakup agama Islam. Universalisme ini

paling kentara pada sosok Al-Biruni yang mempelajari agama Hindu, Budha,

dan Kristen secara mendalam. Karyanya yang banyak hilang itu mencapai

150 buku mengenai sejarah bangsa-bangsa kuno, farmasi, kedoktteran,

astronomi India dan agama Hindu. Tokoh-tokoh Islam ini sudah merupakan

perintis kesadaran integral, melintasi pikiran rasional (Franz Dahler dan Eka

Budianta: 283). Dalam berbagai informasi tertulis, memang andil para filsuf

dan ilmuwan Muslim terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Eropa

cukup besar.

Loncatan kedua ini menandai awal dari kelahiran filsafat ilmu penge-

tahuan. Pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat masuk ke telaah

ilmu pengetahuan. Di samping itu, juga kaitannya dengan nilai-nilai

universal. Pemikiran-pemikiran filsafat yang terbatas pada produk gagasan

dikembangkan ke kajian-kajian ilmiah yang bersifat empiris.

Anna

12
Puncak ketiga

C.

Puncak ketiga ini tercapai pada zaman Renaissance. Zaman kelahiran

kembali kultur Yunani, terutama dalam kesenian dan filsafat. Dalam abad

ke-15 dan ke-16, Eropa mengalami loncatan kultural. Titik berat ketuhanan

bergeser menuju manusia dan kemajuan. Arus baru ini dinamakan

humanisme, yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. (Franz Dahler

dan Eka Budianta: 284)

Adapun tokoh-tokoh yang dinilai berjasa antara lain Descartez, Johann

Gottlieb Fitche, Wilhelm Friedrich Hegel, Arthur Schopenhauer, serta Darwin


dan

Immanuel Kant. Sebagai sarjana matematika dan alam, Descartes (1596-1650)

Filsafat limu Pengetahuan

23

2017

ETOS MAL T B

16

berperan dalam perkembangan filsafat dan ilmu alam. Johann Gottlh

Fitche (1762-1814), Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), maupun Arth

Shcopehauer (1788-1860) menekankan keutamaan ide, segi rohani dala

13
evolusi manusia. Kemudian Darwin menemukan teori evolusi. Lalu fis ber

terkemuka Immanuel Kant (1724-1804) menurunkan nilai filsafat (Fra

pert

beri

Dahler dan Eka Budianta: 284).

3.

Renaissance juga ikut berperan dalam menciptakan ide kebebasan

kesamaan, dan persaudaraan untuk semua insan yang tercetus dala R.

revolusi Prancis 1789. Sebagai dampaknya lahir pula liberalisme de

den

sosialisme. Benih gagasan ini dinilai bisa berkembang ke tingkat kesadar

ada

lebih tinggi, yaitu kesadaran integral (Franz Dahler dan Eka Budianta: 285

ma

pe

Kelahiran Renaissance sebagai kebangkitan Eropa tak lepas dan

pengaruh pemikiran filsafat Yunani. Kultur Yunani yang sempat hilang da

kawasan tanah kelahirannya itu (Eropa) diperkenalkan kembali melalui

a.

karya terjemahan bahasa Arab. Bukan oleh adanya jalinan hubunga

da

14
langsung antara Eropa dengan Yunani. Jadi ada pihak ketiga yang berpera

in

sebagai penghubungnya, yakni tokoh-tokoh ilmuwan Arab.

za

Puncak keempat

d.

Puncak keempat terjadi pada abad ke-20 yang ditandai oleh capaian

tak terduga dari keampuhan rasio manusia dalam bidang ilmu pengetahuan

dan teknologi. Pada puncak ini muncul kesadaran integral, sikap inklusif

saling melengkapi, kesatuan antara ilmu alam dan agama, dan pengalaman

mistik. Sikap eksklusif seperti sukuisme, nasionalisme, dan rasialisme

ditinggalkan, dan berganti dengan kesadaran baru. Dunia dirasakan sebagal

organisme, semua anggota, dan bangsa-bangsa saling berhubungan. Abad

ke-21 mempertemukan kembali iman dan ilmu, kecenderungan

postmodernisme akan hal-hal gaib, esoterik, dunia di bawah kesadara

sebagai reaksi terhadap kesadaran rasional yang terlampau dominan (Fra

Dahler dan Eka Budianta: 281-284)

masa

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Franz Dahler dan

Eka Budianta didasarkan pada reaksi terhadap kondisi yang ada. Reaksi

yang disebutnya sebagai loncatan itu adalah sebuah puncak dari era baru

15
dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Loncatan pertama diawali ketika

manusia menyadari akan keunggulan akal budi yang dimilikinya, lalu

menerobos dari kungkungan mitologi. Ketika itu terbentuk kultur bes

21pertama. Selanjutnya muncul kesadaran rasional, dan terus ke loncatan

berikutnya, yakni kesadaran integral. Kesadaran untuk mengintegrasikan

berbagai disiplin ilmu ke dalam disiplin ilmu pengetahuan yang baru.

3. Pendekatan Kreativitas

Selanjutnya dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, Conny

R. Semiawan menggambarkan perkembangan dimaksud dalam hubungan

dengan babakan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Tekanan utamanya

adalah pada dimensi kreatif, yang disebutnya sebagai peranan ciri kreativitas

manusia. Berdasarkan pendekatan ini ia membagi latar belakang sejarah

perkembangan itu dalam empat zaman, yaitu:

Zaman Purba

a.

Rentang Zaman Purba ini tampaknya cukup panjang. Berlangsung

dalam suatu periode yang lama, dan oleh Conny R. Semiawan zaman purba

ini dibagi ke dalam dua periode, yakni: Masa Prasejarah, yang disebut juga

zaman batu, dan Masa Sejarah.

1) Masa prasejarah (20.000 SM-10.000 SM)

Menurut Conny R. Semiawan, rentang masa ini disebut Masa Prasejarah

16
karena warisan yang ditinggalkan oleh masa itu tidak " membicarakan"

apa pun mengenai dirinya. Segala yang diketahui tentang masa itu

hanyalah merupakan kesimpulan dari para ahli dari hasil penelitian

terhadap peninggalan yang ada. Peninggalan yang ditemukan antara

lain berupa: alat-alat dari batu dan tulang, gambar dalam gua-gua,

tempat-tempat penguburan, serta fosil-fosil manusia purba dan hewan.

Masa ini juga disebut Zaman Batu (Conny R. Semiawan: 3).

Ann

Perkembangan pengetahuan manusia di zaman ini ditandai oleh

pengetahuan apa dan bagaimana (know, how). Pengetahuan ini diperoleh

dari: 1) kemampuan mengamati; 2) kemampuan membeda-bedakan;

3) kemampuan memilih; dan 4) kemampuan melakukan percobaan

berdasarkan prinsip trial and error (Conny R, Semiawan: 4). Atas dasar

pengalaman yang berulang kali dari kegagalan dan keberhasilan ini

kemudian diperoleh berbagai pengetahuan. Proses ini menunjukkan,

bahwa pengetahuan manusia semasa itu tidak sekali jadi, suatu

kebenaran yang diperoleh dari berbagai kegagalan, maupun, melaink

melalui suatu kesalahan.

2)

Masa sejarah (15.000 SM-600 SM)

17
Pada periode ini manusia sudah mengalami kemajuan. Selain

mewarisi dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan pa

pendahulunya, juga terjadi peningkatan kemampuan baru. Kemajuan

khusus yang dicapai di masa ini adalah kemampuan membaca, menuli

dan berhitung. Tempat-tempat penting yang banyak berperan dalan

pengembangan kebudayaan ini seperti Afrika (Mesir), Asia Tengah

(Sumeria, Babilonia, Niniveh), Asia Timur (Tiongkok), serta Maya da

Inca di Amerika (Conny R. Semiawan: 6)

Selanjutnya dikemukakan Conny, bahwa dengan kemampuan baca-

tulis dan berhitung, perkembangan ilmu berjalan lebih cepat dan lebi

pasti dari masa sebelumnya. Pencatatan sistematis dan pengumpulan

data dikembangkan ke penemuan baru seperti peta perbintangan. Dalam

kehidupan sehari-hari ditemukan siklus mingguan, siklus bulanan, siklus

matahari yang jadi dasar pembuatan bermacam-macam kalender.

Meskipun sudah dilakukan pengamatan, pengumpulan data, dan

sebagainya namun fakta-fakta hanya diolah sekedarnya. Hal ini menunjukkan

bahwa manusia purba masih berada pada tingkat intelek untuk menerima

segala peristiwa sebagaimana adanya. Jadi belum dilanjutkan dengan

pendalaman secara ilmiah. Ciri-ciri "orang-orang pintar" zaman purba

ialah sikap mental dan penalaran yang represif dan empiris, ungkap Conny

(Conny R. Semiawan: 7-8).

18
Terlihat adanya perbedaan antara kultur manusia Masa Prasejarah

dan Masa Sejarah. Salah satu di antaranya, adalah kemampuan baca-tulis

dan berhitung. Ada semacam loncatan baru. Namun demikian, perbedaan

ini tidak memberi pengaruh mendasar pada perubahan status manusia

sebagai makhluk alam. Kehidupan mereka masih tergantung kepada alam

Kemampuan baca-tulis dan berhitung masih terikat dengan ramalan gal

dan takhayul.

b. Zaman Penalaran dan Menyelidiki (600 SM-200 M)

Pada kurun ini kebudayaan Yunani memberi corak baru pada penge

tahuan, Bangsa Yunani kuno sudah memiliki suatu penalaran yang

selalu

menyelidiki (inquiring mind). Mereka tidak mau menerima peristiwa-

peristiwa dan pengalaman-pengalaman begitu saja secara pasif-reseptif,

tetapi ingin terus mencari sampai sedalam-dalamnya akar dari semua

fenomena alam yang beragam ini (Conny R. Semiawan: 8).

Karakteristik penalaran inquiring mind ini terkait dengan keyakinan dan

pandangan orang Yunani terhadap manusia selaku makhluk yang Iluhur dan

mempunyai kebebasan. Pandangan ini pula yang melatarbelakangi corak

filsafat Yunani yang banyak menekankan pada rasionalitas. Kemampuan akal

optimal yang merupakan keistimewaan dan kekuatan penalaran manusiawi

19
(Conny R. Semiawan: 9). Di rentang zaman ini, disebutkan sejumlah tokoh

penting seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thales, Pythagoras, Euclid,


Archimides,

Aristarchus, Hipparcus, dan Ptolemeus

SoCrates, Plato, dan Aristoteles merupakan tiga tokoh filsuf

memberi landasan pemikiran berdasarkan logika. Namun di antara

ketiganya itu, Aristoteles merupakan pelopor utama logika deduktif yang

menitikberatkan rasionalitas. Pokok-pokok pikirannya tetap mendominasi

para ilmuwan di Eropa sampai zaman modern, dan tetap dapat diaplika-

sikan kepada perkembangan-perkembangan mutakhir berbagai ilmu dan

teknologi (Conny Semiawan: 9-10).

Selain menghasilkan buku Logika yang didasarkan atas silogisme,

tokoh ini juga sempat menulis buku Metafisika. Buku ini dinilai penting

bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun Thales dipandang sebagai

peletak dasar astronomi, geometri, dan filsafat Yunani. Pythagoras sebagai

pemangku dalam ilmu pasti memulai prinsip analisis, generalisasi, geometri,

dan teori bilangan. Berdasarkan perhitungan dan penemuan hukumnya

Archimides dianggap telah menemukan landasan ilmu pengetahuan modern.

Aristarchus, Hipparchus Ptolemeus mengembangkan bidang astronomi

dengan mengajukan sistem tata surya yang bersifat heliosentris (Conny R.

Semiawan 9-14).

20
ikut

yang

Ann

Penalaran yang selalu menyelidiki sebagai cikal-bakal pemikiran filsafat

adalah dilahirkan dalam kebudayaan Yunani kuno. Conny menempatkan

kebudayaan Yunani kuno sebagai "pemilik tunggal " yang sekaligus

membidani kelahiran kesadaran rasional. Mengubah pola pikir receptive

mind ke pola pikir inquiring mind. Dari yang pasif-reseptif ke kesadaran

untuk mencari akar permasalahan dengan mengandalkan penalaran. Setelah

zaman ini, menurut Conny R. Semiawan perkembangan ilmu pengetahu

yang berdasarkan penalaran filsafat ilmu tidak mengalami kemajuan yan

berarti, hingga tibanya Abad Pertengahan (Conny R. Semiawan: 14).

Rentang masa antara meredupnya peradaban Yunani Kuno

bangkitnya Eropa ini lebih dikenal sebagai "zaman kegelapan". Seb

ini agaknya tidak terlalu berlebihan bila dikaitkan dengan istilah-istila

yang digunakan bagi kebangkitan bangsa-bangsa Eropa itu sendiri.

hingg

istilah

yang sering dilekatkan dengan kebangkitan perkembangan ilm

pengetahuan di Eropa, yakni renaissance yang berarti "lahir kembali" de

aufklarung (enlightenment) yang bermakna "pencerahan, penerangan

21
(Ensiklopedi Indonesia: 322)

c.

Abad Pertengahan (500 M-1500 M)

Kehadiran Abad Pertengahan diawali oleh suatu proses yang terentang

selama sepuluh abad. Berawal dari masa penerjemahan karya Yunani k

dalam bahasa Arab. Dan setelah tahun 1300 M dipelajari oleh bangsa-bangs

Eropa. Terjemahan ini antara lain meliputi ilmu pasti, astronomi, fisika

kedokteran, biologi, farmasi, dan ilmu kimia. Di samping menerjemahkan

para ilmuwan Arab juga melengkapi dengan perluasan pengamatan dar

mempertajamnya (Conny R. Semiawan: 15). Jadi sudah dilakukan semacam

penyempurnaan terhadap karya-karya terjemahan mereka.

Berikutnya Conny R. Semiawan mengemukakan tokoh-tokoh yang

berperan dalam bidang penerjemahan karya Yunani ke bahasa Arab. Mereka

itu adalah Al-Khawarismi, Omar Kayyam, Ibn Rusyd, dan Al-Idrisi. Adapun
Ar

Khawarismi (825) adalah penyusun buku aljabar yang kemudian dijadika

buku standar selama beberapa abad di Eropa, serta sistem desimal yai

menggantikan angka Romawi. Omar Kayyam (1043-1132) dikenal sebaga

ahli perbintangan dan ahli matematika (sampai pemecahan 'akar pang

tiga). Ibn Rusyd (1126-1198) yang dikenal sebagai Averoes, adalah abl

ilmu kedokteran, penulis komentar, dan penerjemah karya Aristoteles

22
dan mempunyai paham Evolusionisme. Kemudian Al-Idrisi (1 100-1166

adalah ahli dalam bidang astronomi, serta menyumbangkan karya berups

hasil penelitian sendiri mengenai gerhana bulan. Hasil penelitiannya

menunjukkan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan ramalan

ahli-ahli sebelumnya (Conny R. Semiawan: 15-16).

yang

dibual

ELALE

Periodisasi Abad Pertengahan (500 M-1500 M) ini tampaknya lebih

didasarkan pada keterkaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bukan semata-mata didasarkan pada pembabakan sejarah secara kronologis.

Di rentang masa 1.000 tahun itu tidak dimasukkan renaissance (renaisans),

yakni sebagai masa transisi antara Abad Pertengah ke Abad Modern. Namun

demikian, sebagai seorang ilmuwan, Conny R. Semiawan telah meletakkan

kejujuran ilmiah dalam karyanya, dengan fakta sejarah yang ada.

Memang, bila ditelusuri perjalanan yang melatarbelakangi perkembangan

filsafat ilmu pengetahuan, kontribusi para filsuf dan ilmuwan Muslim

terhadap kemajuan ilmu pengetahuan Eropa cukup berarti. Paling tidak

sebagai pemberi landasan dasar bagi perkembangan dimaksud. Dikemukakan

oleh Campbell, bahwa ilmu pengetahuan Yunani mulai dibawa dari Islam

23
ke Eropa sekitar tahun 1100 M. Namun setelah itu obor pengetahuan dan

obor sejarah, sekarang pindah ke Eropa (Nurcholish Madjid, 1992: xxxvi).

Obor yang cahayanya memberi andil besar dalam "menerangi " kegelapan

dunia ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa.

Zaman Modern (Abad ke-14)

Memang tidak diungkapkan Zaman Modern dalam periode tertentu.

Conny R.Semiawan hanya melihat apa yang disebut Zaman Modern itu dari

proses awal perkembangannya. Zaman Modern menurut Conny, ditandai oleh

timbulnya ide-ide kreatif yang revolusioner dan bersifat inovatif di Eropa.

Ide-ide baru ini mendobrak tradisi pemikiran keliru yang sudah baku, baik

dalam menafsirkan fenomena alam maupun dalam melakukan penalaran.

Pemicu munculnya abad ini adalah dengan dimulainya perkembangan ilmu

di benua Eropa kira-kira permulaan abad ke-14. Perkembangan ilmu dari

tiga sumber utama, yakni: 1) hubungan Arab dan Eropa; 2) Perang Salib;

dan 3) kejatuhan Constantinopel (Cony R. Semiawan: 21).

Selanjutnya dikemukakan Conny tiga sumber dimaksud memiliki

pengaruh yang sangat besar dalam menimbulkan ide-ide kreatif yang

revolusioner dan bersifat inovatif di Eropa. Ide-ide ini ikut mendobrak

tradisi pemikiran yang baku dalam menafsirkan fenomena alam dalam

melakukan penalaran. Di rentang masa ini lahir para ilmuwan dan ahli fil-

safat perintis dalam membentuk mata rantai penerus perkembangan ilmu.

24
Selain itu mereka ini juga dianggap sebagai peletak dasar-dasar disiplin

yang kemudian dikenal sebagai filsafat ilmu (Conny R. Semiawan: 21-22).

Adapun tokoh-tokoh ilmuwan yang ikut memberikan andil bes

dalam perkembangan filsafat ilmu antara lain Coppernicus, Galileo, Keple

Francis Bacon, Rene Descartes, Newton, Gottfied Wilhelm Leibniz, dan


Antoin

Laurent Lavoisier. Adapun Copernicus memberi perkembangan berdasarka

pengalaman manusia, yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo dan Keple

ke prinsip heliosentris. Galileo juga peletak dasar hukum percepatan da

kecepatan dalam kinetika bersifat linear. Karya dalam bidang astronom

ini tak lepas dari pemikiran Copernicus. (Conny R. Semiawan: 22).

Kemudian peran Francis Bacon (1560-1626) dalam ilmu dan filsafat ilm

adalah: 1) menganjurkan metode baru untuk meneliti alam; 2) mem

klasifikasi pengetahuan manusia secara umum; 3) memperbaiki kualita

kehidupan dan kontrol manusia atas alam; 4) menekankan pentingn

masyarakat ilmiah yang terorganisasi. Rene Descartes (1596-1650) dikenal

dengan ucapan " cogito, ergo sum dianggap sebagai tokoh revolusioner dalan

berbagai cabang ilmu seperti biologi, metematika, fisika, dan mekanika

Sedangkan Newton (1643-1727) dikenal sebagai penemu teori gravitasi

perhitungan kalkulus, teori korpuskuler. Kemudian Gottfried Wilhelm Leibni

(1646-1716) dikenal sebagai penemu perhitungan kalkulus dan penyusun

25
notasi dan simbolisasi kalimat yang menjadi dasar logika simbolik modern

Antoine Laurent Lavoissier (1741-1794) dinilai sebagai peletak dasar ilmu

kimia modern (Conny R. Semiawan: 22-28).

Sejak memasuki zaman modern tampak perkembangan ilmu penge

tahuan beralih ke Eropa. Peradaban-peradaban besar yang pernah ada

sebelumnya, mulai meredup. Perkembangan ilmu pengetahuan di Erop

yang berbasiskan peradaban Barat sekuler telah melahirkan banyak ilmuwan

dunia beserta karya-karya yang dihasilkannya. Hingga memasuki Era

Global dan Millenium III, pendulum perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi masih berada di kawasan negara-negara Barat. Peradaban

besar yang lahir dari pemisahan diri antara ilmu pengetahuan dari dogma-

dogma gerejani, melalui penyusupan pemikiran ilmiah lewat Islam. Maka

menurut Nurcholish Madjid, tak heran kalau, salah satu tuduhan yang

sering dilontarkan gereja, bahwa ilmuwan telah diracuni oleh ajaran Isla

dan filsafat Ibn Rusyd (Nurcholish Madjid, 1992: 591).

Selanjutnya dikemukakan, bahwa. memang terdapat perbedaan pokok

antara Islam dan Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. Dalam

agama Kristen di Barat tidak ada hubungan organik antara iman dan ilmu

30

BAB 2: 1lmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

26
27

Filsafat ilmu Pengetahuan

60R O

26

RAR 2: lUmu Rongotabuan

Cilasfat mu Pengetahuan

25

SUREIsafat limu Pengetahuan

n linu fe

kuno &

mukakan hukum alam dalam bentuk persamaan angka-angka yang

menghubungkan aspek kualitatif dari variabel yang satu dengan aspek

nYahan

kuantitatif variabel lain (George J. Mouly: 95)

Dalam kenyataan, memang ditemukan bahwa berbagai gejala

muncul secara bersamaan. Hubungan seperti ini sering tidak mantap

dan tidak langsung. Hubungan antara ukuran fisik dari kelompok

27
anak dengan kemampuan membaca mereka adalah hubungan palsu.

Semestinya hubungan itu dilihat lagi pada hubungan dengan geia

lain yang dianggap ada pengaruhnya. Misalnya ukuran fisik berkait

dengan umur. Lalu tingkat usia dihubungkan dengan kematanga

mental. Dari kematangan mental ini baru dihubungkan dengan

kemampuan membaca (George J. Mouly: 95). Jadi dalam proses pene

muan hubungan-hubungan ini perlu dilakukan semacam seleksi yang

Asla

pas.

5) Perkiraan kebenaran

Suatu peristiwa sering terjadi sedemikian rumitnya sehingga

hubungan-hubungan yang mungkin terdapat tampaknya menjadi kabur,

Untuk menganalisis kejadian tersebut perlu diperhatikan unsur-unsur

yang bersifat dasar dengan tujuan, agar dapat ditentukan secara jelas

hubungan-hubungan tersebut dari berbagai aspek. Proses perkiraan

kebenaran yang terus-menerus dan proses pendefinisian ulang masalah

yang ditinjau dari keberhasilan atau kegagalan perkiraan tersebut,

merupakan dua langkah yang fundamental dalam perkembangan ilmu

pengetahuan (George J. Mouly: 95).

George J. Mouly mengemukakan beberapa contoh mengenai proses

perkiraan kebenaran ini. Umpamanya, setiap tahun ditemukan berbagai

28
varietas gandum dan padi-padian lainnya yang lebih baik. Apakah hasil

ini ada hubungannya dengan gejala alam atau tidak. Bila hubungan in

bersifat signifikan, maka kebenaran akhir akan dicapai. Dalam bidang

kedokteran dikenal dengan "shot gun approach". Pasien diberikan Oba

yang berkhasiat umum, umpamanya pinisilin. Namun bila ternya

tidak sembuh, maka berarti tidak ditemukan faktor penyembuh pada

obat dimaksud. Dengan demikian, jenis obat tersebut tidak dapat

digunakan dalam kasus yang sama (George J. Mouly: 96).

20

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

Masing-masing menempati domain yang berbeda dan terpisah (Nurcholish

Madjid, 1992: 591-592), Pemisahan antara ilmu pengetahuan dari agama

ini dampaknya masih dirasakan hingga Abad Modern ini di Eropa (dunia

Barat), yakni dengan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan.

4 Pendekatan Peradaban

Berikutnya, Jerome R. Ravertz memuat tahapan perkembangan ilmu

pengetahuan dalam hubungannya dengan peradaban. Menurutnya, ilmu

pengetahuan tertanam di masa lampau dan di banyak peradaban manusia

Jerome R. Ravertz: 5).Berangkat dari pemahaman itu, Jerome R. Ravertz

membagi perkembangan dimaksud ke dalam lima tahapan, yakni: 1)

29
Peradaban Zaman Kuno dan Abad Tengah; 2) Peradaban-peradaban Lain;

3) Pencipta Ilmu Eropa; 4) Zaman Revolusi; dan 5) Zaman Matangnya

Imu-ilmu Joerome R. Ravertz: 7-61).

a.

lmu Pengetahuan dalam Peradaban Zaman Kuno dan Abad Tengah

Kelahiran Ilmu pengetahuan dalam peradaban Yunani bersumber dari

pemikiran para filsuf. Mereka itu adalah Thales, Empedokles, Zeno,


Parmenides,

Aeschylus, Perikles, Anaxagoras, Sokrates, Aristophanes, Plato, Aristoteles,


Euklides,

Archimedes, Appolonius, dan Alexander Agung. Masa perkembangan ilmu

pengetahuan di zaman ini berlangsung selama hampir seabad, yakni sejak

akhir abad ke-6 sampai abad ke-5 SM.

Adapun karya-karya yang dihasilkan antara lain dalam bidang

matematika, kedokteran, astronomi, musik, fisika, fisiologi, biologi,

geometri. Dari sekian banyak bidang kelimuan ini dijumpai ada dua yang

mendekati kematangan. Pertama, ilmu kedokteran yang sudah didasarkan

pada praktik melalui penerapan metode yang berdisiplin dalam menarik

kesimpulan. Kedua, geometri yang telah disusun secara khusus dan

mendekati masalah-masalah struktur logis, dan masalah-masalah definisi

(Jerome R. Revertz: 3-12).

30
Menurut Jerome R. Revertz, perkembangan ilmu pengetahuan dalam

peradaban Romawi adalah sebagai kelanjutan dari peradaban Yunani.

Mereka banyak belajar dengan mengakses langsung kumpulan karya-karya

mu pengetahuan Yunani. Sayangnya, peradaban Romawi yang canggih

dan nyata-nyata modern dalam politik dan personalitasnya ini, tak pernah

menghasilkan seorang ilmuwan pun. Memang Gelen dan Perganon diken

sebagai ilmuwan besar dalam bidang kedokteran, anatomi, dan fisiolog di

, Aureliug

Kedua ilmuwan yang pernah hidup selama pemerintahan Marcus

(abad ke-2 Masehi), adalah bangsa Yunani Jerome R. Ravertz: 14).

pe

kc

Masalah-masalah ilmiah yang ditekuni dalam peradaban Romaw se

hanya sebatas pada filsafat-filsafat yang berbasis etis. Dua aliran terkemuka

yakni Stoisme dan Epikureanisme hanya memuat amanat bagaimana untuk

ke

Romawi di bidang pengembangan ilmu pengetahuan adalah perbudak h

menjadi manusia bijaksana. Para sejarawan mencoba menganalisis kegagal

yang dianggap menghambat dorongan bagi inovasi industri. Selain fakto

31
struktur sosial bangsa Romawi yang berkombinasi dengan kelekatann

yang lama, terhadap kepercayaan magis dan takhayul (Jerome R. Ravert

16).

Peradaban Yunani-Romawi mencapai genapan siklusnya sekitar

1.000 tahun. Setengah berikutnya disebut Abad Gelap. Di awal abad ke-11

sebagian besar orang terpelajar mengenal dan memahami ilmu pengetahuan

kuno dalam cuplikan-cuplikan yang segelintir tercabik-cabik. Namun setelah

itu terjadi kemajuan pesat. Pada abad ke-12 dialami suatu renaissance yang

sebagian disebabkan pergaulan dengan peradaban Islam yang

yang terdapat di Spanyol dan Palestina. Periode ini menghasilkan karangan-

karangan spekulatif perdana tentang filsafat alamiah.

Abad ke-13 berdiri universitas-universitas dan zaman kebesaran

skolastik. Thomas Aquinas sebagai teolog terkemuka dan Roger Bacon selaku

penganjur metode eksperimental. Sayang kemajuan ilmu pengetahuan

tersteril karena tahun 1350-an Eropa dilanda bencana ekonomi dan sosial.

Pendapat mengenai ilmu simpang-siur, dan sama sekali belum bebas dari

beban dogmatis dan takhayul. Sampai-sampai Roger Bacon pun adalah


korban

takhayul yang mudah tertipu (Jerome R. Ravertz: 18).Hal-hal

takhayul ternyata masih memengaruhi pemikiran para rohaniawan dan

32
teolog gereja. Mereka masih percaya bahwa komet adalah bola api yang

dilemparkan Tuhan yang sedang marah kepada dunia yang jahat (Nusa Put

dalam Sabarti Akhadiah dan Winda Dewi Lestyasari, 2011:195).

lebih tingg

yang

bersifat

b.

Ilmu dalam Peradaban-peradaban Lain

Jerome R. Ravertz sengaja menyingkat bahasan mengenai apa ya

ia maksudkan dengan peradaban-peradaban lain. Tiga peradaban yale

32

disebutnya sebagai peradaban besar, yakni peradaban Islam, India, serta

peradaban Cina dan Jepang. Ketiga peradaban ini menurut Jerome R. Ravertz

kontribusinya terhadap ilmu sebagaimana dipahami sekarang ini sangat

sedikit. Namun di antara keempat peradaban dimaksud, menurut Ravertz

Avebudayaan Islam yang paling relevan bagi ilmu Eropa Jerome R. Ravertz:

19)

Dalam pandangan Jerome R. Ravertz relevansi ini didasarkan kedekatan

33
hubungan antara Islam dengan Judaisme dan Kristen. Di samping itu,

karena adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-negeri berbahasa

Arab dengan Eropa Latin. Zaman kebesaran Islam bersamaan waktunya

dengan titik nadir kebudayaan Eropa. Sejak abad ke-7 sampai abad ke-

10, bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa

yang terentang mulai dari Persia hingga Spanyol. Para penakluk Arab

umumnya membawa kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang

didudukinya. Perpustakaan Cordova di Spanyol memiliki 500.000 buku

pada saat bangsa Pyrenia Utara paling-paling hanya mempunyai 5.000 buah

buku. Bangsa Muslim juga toleran terhadap keyakinan menoteis lainnya

Jerome R. Ravertz: 19).

Pada abad ke-9 di Baghdad dilakukan kegiatan penerjemahan secara

besar-besaran terhadap sumber-sumber ilmu Yunani. Setelah itu peran

sarjana Arab sendiri bergerak maju di bidang matematika, astronomi, optik,

kimia, dan kedokteran. Sebaliknya pada abad ke-12 dilancarkan

penerjemahan secara besar-besaran karya-karya berbahasa Arab ke bahasa

Latin. Awalnya dalam bidang astrologi dan magis. Selanjutnya di bidang

filsafat dan ilmu (Jerome R. Ravertz: 21). Kontak antara Islam dan Eropa
Latin

sebagian besar melalui Spanyol, di mana orang-orang Kristen dan Yahudi

dapat bertindak sebagai perantara dan penerjemah (Jerome R. Ravertz: 21).

34
program

Sayangnya, menurut Jerome R. Ravertz, di masyarakat yang teokratis

hanya ilmu kedokteran saja yang patut diterima di antara ilmu-ilmu

bangsa-bangsa pemuja berhala. Efeknya, basis sosial ilmunya rapuh. Adanya

pandangan seperti itu menyebabkan tak ada satu pun pusat kebudayaan

ilmiah

berkembang pesat lebih dari satu abad, hingga tidak terjadi

yang

kesinambungan. Selain itu, gaya kesarjanaan yang berkembang saat itu

Derupa dukungan bagi seorang individu dalam mencoba meraup seluruh

pengetahuan dunia untuk mencapai kebijakan sekuler. Tokoh-tokoh terbesar

saat itu dapat membuat kemajuan-kemajuan kreatif, tetapi jarang sekali

Filsafat Ilmu Pengetahuan

33BAB 2: limu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

ada kerja sama para sarjana untuk membuat orang awam menjadi efek

Jerome R. Ravertz: 20-21).

Jerome R. Raverts menyatakan pula bahwa sumbangan yang sang

besar peradaban Islam kepada peradaban Barat, adalah dalam memeli

dan menularkan warisan Yunani. Selain itu juga kontribusinya pada i

pengetahuan modern, terutama dalam sejumlah kata berkenaan denga

tetumbuhan dan makanan. Memang cukup banyak istilah, konsep maupu

35
nama-nama yang telah terwariskan ke dunia ilmu pengetahuan Erop

Sayang Jerome R. Ravertz hanya menyebutkan dua nama, yakni aljabar d

alkohol. (Jerome R. Ravertz: 22).

Selanjutnya, sejak awalnya peradaban India dikenal telah mencap

tingkat teknologi yang tinggi. Matematika India dengan sistem bilanga

dan perhitungan yang telah berkembang cukup tinggi telah memengaruh

aljabar Arab. Ciri khas ilmu dalam peradaban India menurut Jerome R

Ravertz terletak pada kesadarannya yang lebih tinggi (higher consciousness

Kontak Eropa dengan peradaban India sebagian besar berlangsung melalu

sumber-sumber berbahasa Arab. Namun demikian, bagaimanapun prestas

prestasi Eropa dan India tidak dapat dibandingkan secara ketat. Keduany

hanya dianggap saling melengkapi satu sama lain, jelasnya Jerome R. Ravertz

22).

Peradaban Cina dikenal sudah maju. Basis pengetahuan umumnya

ialah keduniaan, meskipun lebih didasarkan pada harmoni antara pribadi

ketimbang keteraturan-keteraturan abstrak. Kontak antara Cina dan Eropa

telah terjadi sejak zaman Yunani Kuno. Hingga zaman Renaissans teknolog

Cina lebih maju dari Eropa. Menurut Jerome R. Ravertz penemuan-penemuan

besar seperti diperlihatkan para penulis abad ke-16 dan Francis Bacon,
sebagai

yang penting bagi transformasi masyarakat Eropa semuanya berasal dan

36
Cina: kompas, magnet, serbuk mesiu, dan mesin cetak (Jerome R. Ravertz

23)

Dalam pandangan Ravertz, kegagalan Cina membuat perkembangan

ilmu dan teknologi, antara lain dikarenakan masyarakatnya yang

dan diperintah oleh penguasa sipil yang tidak turun temurun. Selain it

filsafat Cina lebih mengarah ke bimbingan praktis ketimbang prinsip

prinsip abstrak. Filsafat alam Cina didasarkan pada analogi-analog

organis dan hubungan-hubungan harmoni. Filsafat juga tidak pernah

stabil

dapat mengakomodasi gambaran materi mati yang bergerak sesuai dengan

hukum matematis, itu merupakan fondasi bagi pengembangan ilmu

pengetahuan. Demikian pula sistem matematikanya hanya dapat diterapkan

pada perhitungan-perhitungan terperinci yang telah dirancang Jerome R.

Ravertz: 24-25).

Sementara mengenai peradaban Jepang, Jerome R. Ravertz mengungkapkan

bahwa, selama beberapa abad Jepang merupakan jajahan kultur Cina.

Pada abad ke-17 Jepang masih menutup diri dari pengaruh luar yang

dianggap membahayakan. Baru di penghujuang abad ke-19, bangsa

Jepang memutuskan untuk berasimilasi dengan dunia luar dan kemudian

melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Agama asli Jepang yang cukup

samar-samar sehingga bisa mengakomodasi setiap pernyataan ilmu Barat

37
erome R. Ravertz: 25-26). Tampaknya Ravertz hanya mengulas peradaban

Jepang secara sekilas. Padahal peradaban yang bersumber dari ajaran Shinto

dengan semangat Bushido ini mampu memotivasi masyarakat Jepang untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

c.

Penciptaan Illmu Eropa

"Ilmu" adalah ciptaan bangsa Eropa, jelas Jerome R. Raverts. Penciptaan

ilmu pengetahuan di Eropa melalui dua fase. Pertama, perkembangan teknis

abad ke-16. Kedua, revolusi filosofis abad ke-17. Menurut Jerome R. Ravertz,

sejak revolusi filosofis itu pula munculnya gagasan ilmu pengetahuan

Eropa yang berlaku hingga saat ini Jerome R. Ravertz: 27). Sayangnya

tidak dijelaskan secara tegas, apa yang dimaksudkan Jerome Ravertz dengan

"ilmu", sehingga muncul klaim seperti itu. Pernyataan ini terkesan terlalu

mengagungkan secara sepihak. Menempatkan Eropa sama sekali terputus

dari kontak dengan peradaban luar, sebagaimana yang pernah dikemukakan

sebelumnya.

Selanjutnya Ravertz mengemukakan tentang asal kembali ilmu

pengetahuan Eropa di lokasinya pada tiga pusat. Pertama, penemuan

manusia dan alam, sebagai produk Renaissans pada abad ke-15 di Italia,

melalui terjemahan teks Latin dan Yunani di semua bidang. Kedua, pertum-

buhan pesat dalam pertambangan, metalurgi, dan perdagangan. Lalu

38
adanya penerapan matematika praktis, teori serta pengembangan praktik

pengolahan besi, serta penemuan mesin cetak oleh Gutenberg. Tansformasi

pembelajaran dan kebudayaan menjadi semakin mudah dan murah. Ketiga,

keberhasilan dari misi pelayaran bangsa Spanyol dan Portugis menemu

kawasan baru (Jerome R. Ravertz: 31). Melalui penjelajahan ini kemud

berlangsung pengembangan berbagai bidang penelitian dan pengetah

Selain bidang astronomi, teknik-reknik hidrografis, juga diperkenall

beragam jenis tanaman baru, penyakit, maupun peradaban-peradaban b

su

49

pe

pe

m.

Semuanya itu menurut Jerome R. Ravertz ikut mendorong perkembang

terhadap objek-objek, metode-metode, dan fungsi-fungsi pengetahu

Jerome R. Ravertz: 29-31)

hu

ilmu pengetahuan. Pada abad ke-17 terjadi perumusan kembali secara rad pe

ilmiah. Tokoh-tokoh reyolusioner ini ialah Francis Bacon (Inggris) dan Gel ri

Galilei (Italia). Kontribusi Bacon bagi ilmu memang tidak terlihat, nam

ia memberikan suatu cita-cita yang mengilhami dan juga pertimbang

39
pertimbangan yang cerdas mengenai aktivitas sosial ilmu pengetahu P

Descartes menciptakan suatu metafisika baru, aljabar, dan

maju, serta beberapa bidang fisika yang dapat diterima. Meskipun berbe

dalam gaya dan kontribusinya, ketiga pelopor tersebut mempunyai tee

yang sama terhadap dunia alamiah dan studinya. Mereka berpendars

bahwa alam tidak memiliki sifat-sifat manusiawi dan spiritual. Alat

harus diselidiki dengan serius dan tak berpribadi, dengan menggunaka

pengalaman inderawi dan nalar, melalui penelitian berulang-ulang (Jeron

R.Ravertz: 37-39)

geometri

ya

oll udav

Buku-buku yang dicetak di abad ke-16 memberikan suatu sumbe

yang layak untuk suatu bangunan ilmu pengetahuan menjelan

pertengahan abad ini muncul. Kemudian "filsafat eksprerimental" diola

dan sebuah teori gemilang dirumuskan oleh Benjamin Franklin. Meskipu

prestasi-prestasi ini bukan kemajuan besar, namun mampu mengokohka

penetapan ilmu (Jerome R. Ravertz: 45). Hakikat ilmu Eropa pada masa

mengacu kepada: 1) prinsip-prinsip dasar pengenalan dunia alamiah mela

argumen demonstratif; 2) adanya kebebasan yang mendorong akve

keilmuan dalam penemuan dan eksploitasi hasilnya; 3) hilangnya seka

40
sekat antarbidang aktivitas berbeda, hingga memungkinkan orang terpelajid

berkecimpung dalam penemuan, memanfaatkan pengetahuan dan keahli

ilmu

baca tulis (Jerome R. Ravertz: 46-47).

Ilmu pengetahuan Eropa berkembang dari hasil warisan kar

terdahulu, khususnya pada matematika dan metode-metodenya,

di a

ciri dasar masyarakat Eropa yang individualisme agresif yang ditempa ol

36

MILIK UPT PERPUSTAKAAN

UNIV. NEGERI YOGYAKARTA

Filsafat llmu Pengetahuan

35

34

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zama

dapat mengakomodasi gambaran materi mati yang bergerak sesuai dengan

hukum matematis, itu merupakan fondasi bagi pengembangan ilmu

pengetahuan. Demikian pula sistem matematikanya hanya dapat diterapkan

pada perhitungan-perhitungan terperinci yang telah dirancang Jerome R.

Ravertz: 24-25).

41
Sementara mengenai peradaban Jepang, Jerome R. Ravertz mengungkapkan

bahwa, selama beberapa abad Jepang merupakan jajahan kultur Cina.

Pada abad ke-17 Jepang masih menutup diri dari pengaruh luar yang

dianggap membahayakan. Baru di penghujuang abad ke-19, bangsa

Jepang memutuskan untuk berasimilasi dengan dunia luar dan kemudian

melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Agama asli Jepang yang cukup

samar-samar sehingga bisa mengakomodasi setiap pernyataan ilmu Barat

erome R. Ravertz: 25-26). Tampaknya Ravertz hanya mengulas peradaban

Jepang secara sekilas. Padahal peradaban yang bersumber dari ajaran Shinto

dengan semangat Bushido ini mampu memotivasi masyarakat Jepang untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

c.

Penciptaan Illmu Eropa

"Ilmu" adalah ciptaan bangsa Eropa, jelas Jerome R. Raverts. Penciptaan

ilmu pengetahuan di Eropa melalui dua fase. Pertama, perkembangan teknis

abad ke-16. Kedua, revolusi filosofis abad ke-17. Menurut Jerome R. Ravertz,

sejak revolusi filosofis itu pula munculnya gagasan ilmu pengetahuan

Eropa yang berlaku hingga saat ini Jerome R. Ravertz: 27). Sayangnya

tidak dijelaskan secara tegas, apa yang dimaksudkan Jerome Ravertz dengan

"ilmu", sehingga muncul klaim seperti itu. Pernyataan ini terkesan terlalu

mengagungkan secara sepihak. Menempatkan Eropa sama sekali terputus

42
dari kontak dengan peradaban luar, sebagaimana yang pernah dikemukakan

sebelumnya.

Selanjutnya Ravertz mengemukakan tentang asal kembali ilmu

pengetahuan Eropa di lokasinya pada tiga pusat. Pertama, penemuan

manusia dan alam, sebagai produk Renaissans pada abad ke-15 di Italia,

melalui terjemahan teks Latin dan Yunani di semua bidang. Kedua, pertum-

buhan pesat dalam pertambangan, metalurgi, dan perdagangan. Lalu

adanya penerapan matematika praktis, teori serta pengembangan praktik

pengolahan besi, serta penemuan mesin cetak oleh Gutenberg. Tansformasi

pembelajaran dan kebudayaan menjadi semakin mudah dan murah. Ketiga,

MILIK UPT PERPUSTAKAAN

UNIV. NEGERI YOGYAKARTA

Filsafat llmu Pengetahuan

35

ma

suatu prinsip bekerja sama untuk kemaslahatan umum (Jerome R. Ravertz:

49). Ravertz menyadari akan adanya keterhubungan perkembangan ilmu

pengetahuan di Eropa. Hubungan antara perkembangan yang baru dengan

perkembangan yang lama. Jadi ia mengakui adanya kontribusi warisan

masa lalu bagi kelanjutan perkembangan ilmu pengetahuan. Barangkali

43
hubungan warisan ini pula yang ikut berperan dalam perkembangan ilmu

pengetahuan di Eropa.

Dilukiskan oleh Martini Djamaris mengenai terjadinya proses pewa-

risan dimaksud. Sebagai contoh, teori Heliosentris Nicolas Copernicus

(1473-1543) ikut memengaruhi Tycho Brahe (1572) dan Johannes Keppler

(1571-1630). Saat meninggal, Tycho Brehe telah mewariskan pula hasil-hasil

penelitiannya yang dilakukan selama 21 tahun kepada Keppler. Mata rantai

pewarisan ilmu pengetahuan ini terus berlangsung hingga ke periode Isaac

Newton (1643-1727), maupun Leibniz (1646-1716) yang menghasilkan

berbagai temuan yang berpengaruh [ada perkembangan ilmu pengetahuan

di zaman modern (Martini Djamaris: 126-127).

d.

Ilmu Zaman Revolusi

Revolusi industri yang terjadi menjelang abad ke-18 telah mentransfor-

masikan Eropa dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri dan

gaya ilmu di zaman Revolusi ialah matematis. Dalam penerapannya,

metode-metode yang digunakan berupa rasionalisasi. Hasilnya berupa

sistem pengukuran yang runut didasarkan pada satuan-satuan alamiah dan

desimal (Jerome R. Ravertz: 55-56). Jean Paul Marat menggagaskan "ilmu


untuk

khalayak", yang terbuka bagi para pengrajin yang terdidik secara otodidak

44
dan didasarkan pada kimia praktis dan sejarah alamiah.

Prancis merupakan pusat dunia ilmiah pada 1820-an, namun

kemandekan ilmu juga terjadi di sana. Ditemukan prinsip-prinsip dasar

themodinamika dan teori aljabar abstrak. Tokoh-tokoh ilmuwan antaranya

Fierre Simon Laplace, Joseph Louis Lagrange, Gaspard Mone, Jean Baptise
Joseph

Fourier, Simeon Denis Poisson, Agustin Louis Cauchy, Antoine Lavoisier,


Jean Jaques

Rosseau, Sadi Carnot, dan Evariste Calois

Filsafat alam (Naturphilosophie). Tokoh-tokoh ilmuwan Samuel Taylor

Coleridge, William Blake, Hans Christian Ostred, Julius Robert von Mayer.
Selama

abad ke-19, bangsa-bangsa industri maju Eropa membaur akibat dari revolusi

Industri dan Revolusi Prancis. Berkembang masyarakat perkotaan dengan

Filsafat Ilmu Pengetahuan

kemajuan berbasis industri. Satu demi satu disiplin ilmiah mengal

kemajuan, termasuk lembaga-lembaga pengembangan aktivitas ilmi

Secara keseluruhan ilmu menganut optimisme dan mendapat kepercay

karena dukungannya yang dianggap benar terhadap kemajuan indust

Ilmu pengetahuan meluas menjadi bidang-bidang penelitian ba

dengan sangat berhasil. Perluasan meliputi penggabungan matemati

dengan eksperimen dalam fisika, penerapan teori kepada eksperimen d

45
kimia, eksperimen yang terkendalai dalam biologi. Berdirinya universita

universitas baru yang menyokong dilakukannya penelitian, pengajar

dan komunikasi-komunikasi melalui jurnal dan komunitas spesial

Penyelenggaraan pertemuan-pertemuan internasional, baik mengen

ilmu-ilmu secara umum maupun spesialis. Pengorganisasian penelit

secara sosial dan efektif. Di penghujung abad ke-19 terbitnya edisi-ed

Encyclopedia Britannica dengan paparan historisnya yang panjang menge

tiap ilmu sebagai sumber informasi yang sangat berharga bagi para pela

(Jerome R. Raverts: 61-62)

Adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya penelitian menyebabke

adanya perkembangan ilmu pengetahuan antarnegara. Inggris yang tida

memiliki lembaga penelitian yang memberi pekerjaan kepada para peneli

menyebabkan tradisi gentlemen-amateur berlangsung lebih lama dari temp

lain. Tokoh-tokoh ilmuwannya Charles Barbage (matematikus), James Jous

(fisikawan), Charles Darwin bidang biologi. Dalam bidang-bidang terapan

seperti kimia, perkembangan ilmu di Inggris lebih kurus dibandingka

Jerman.

Di Jerman lembaga-lembaga penelitian dilengkapi laboratorium yang

pertama kali didirikan. Pengajaran dan penelitian dipadukan, didukung ole

kelengkapan buku-buku pegangan maupun jurnal-jurnal. Penggagasnya

Justus von Liebig, seorang ahli kimia. Ilmu-ilmu Jerman bangkit sejak tahun

46
1830-an. Dalam periode ini ilmu Prancis merosot dari posisi sebelumny

sebagai pemimpin. Rusia memiliki sebuah akademi yang kuat dan bebe

rapa universitas yang progresif, hingga melahirkan tradisi ilmiah yan

bermutu. Perancangnya Nikolay Lobachevsky dan Dmitry Mendeleyev.

Sepanjang abad ke-19, Amerika Serikat tetap merupakan kolo

kultural Eropa. Universitas-universitasnya lebih berorientasi pada hal-

yang bermanfaat, memberi sumbangan sosial yang kecil bagi penelit

murni. Di penghujung abad ini ilmuwan Amerika harus pergi ke Jerman

38

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zaman

untuk menciptakan tradisi keilmuan yang kuat. Bahkan untuk mencapai

kepemimpinan yang bermutu, Amerika Serikat membutuhkan masuknya

para sarjana pengungsi dari Nazi Jerman pada 1930-an. Jerome R. Ravertz:

63-64).

Tiap cabang induk ilmu eksperimental menghasilkan kemajuan

besar. Fisika mencapai penyatuan eksperimentasi yang ketat dengan teori

matematika abstrak. Bidang yang berbeda-beda disatukan dalam kendali

konsep energi. Thermodinamika menyatukan ilmu-ilmu panas (heat)

dan kerja (work) yang kemudian memungkinkan sebuah teori untuk

mengembangkan perubahan kimia. Karya fisikawan di bidang kekuatan

47
rekayasa (power engineering) yang dipelopori Sadi Canot (Prancis) dan James

Joule dari Inggris Jerome R. Ravertz: 67-68).

Bidang eksperimental yang beraneka ragam dipelopori oleh Herman

Helemhosz Jerman). Listrik dan magnetisme disatukan secara eksperimental

dan teoretis oleh Hans Christian Orsted (Belanda), Michael Faraday dan
Kelvin

(Inggris). Teori pengukuran elektromagnetik oleh Wilhelm Weber yang sama

dengan kecepatan cahaya ditetapkan oleh James Clerk Maxwell (Inggris)

Kimia dibangun di atas fondasi-fondasi teoretis peristilahan Levoisier

dan teori atomik Dalton. Sejak tahun 1858 kemajuan dalam bidang kimia

memperlihatkan tiga kemenangan besar. Stanislao Cannizarro (Italia)

memecahkan teka-teki kembar mengenai berat atomik dan komposisi

kimia dengan hasil eksperimental baru beserta prinsip-prinsip heuristik

yang berkembang dalam pengajarannya. Komposisi air diketahui sebagai

H20 dan bukan HO. Friedrich Kukele Jerman) menyingkap struktur senyawa

organik yang sebenarnya, dengan ikatan-ikatan pengganti lingkaran bensin.

Lothar Meyer Jerman) Demitry Mendeleyev (Rusia) menjadi ahli struktur


tabel

periodik unsur-unsur dan dapat memperkirakan sifat-sifat dari unsur-unsur

tak dikenal. Selanjutnya kimia bergerak ke arah

dekat dengan fisika Jerome R. Ravertz: 68-69).

48
lebih

penyatuannya yang

Kemajuan dalam bidang biologi ditandai oleh keberhasilan sekolah

Johannes Muller di Jerman, dengan menggunakan pendekatan eksperi-

mental dalam fisiologi. Pertimbangan filosofis (Naturphilosophie) dengan

cara yang sama ikut memengaruhi teori sel Theodor Schwann Jerman).

Pengembangan aspek fisiologis yang lebih sintetik oleh Claude Bernard, dan

ilmu kedokteran oleh Louis Pasteur (Jerome R. Ravertz: 69). Tema zaman ini

ialah kemajuan, ilmu menerima kepercayaan karena banyaknya kemajuan

COS AL

pengaruh peradaban Islam zaman klasik kepada bangkitnya renaissance

dan perkembangan Barat modern. Diakui pengaruh tersebut antara lain

dalam berkembangnya kebebasan berpikir di Eropa dari belenggu agama

(Harun Nasution: 70). Pernyataan filsuf Rene Descartes (1596-1650): "Cogito

ergo sum!" saya berpikir, maka saya ada!" Jujun S. Suriasumantri, 2000: 68),

ikut memberi gambaran bagaimana tahap-tahap perkembangan kebebasan

berpikir dalam dunia keilmuan Eropa.

Mencermati pembagian yang dikemukakan, disadari, bahwa perkem-

bangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui

proses yang panjang, sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Perkembangan

49
yang mengiringi kehidupan manusia sebagai makhluk berbudaya. Menu-

rut George J. Mouly, perkembangan ilmu dapat ditelusuri sampai pada

permulaan manusia (Geoge J. Mouly dalam Jujun S. Suriasumantri, 1984:

87). Perkembangan ilmu pengetahuan bersumber dari rasa ingin tahu

manusia. Rasa ingin tahu yang sudah menjadi naluri dalam diri manusia

itu sendiri.

Didorong oleh rasa ingin tahunya, manusia mencoba memahami alam

dan lingkungannya. Dari pengamatan terhadap berbagai peristiwa, ataupun

percobaan dan pengalaman yang berulang-ulang akhirnya, secara bertahap

manusia memiliki kemampuan mengenal lingkungannya. Pengalaman yang

bermanfaat terus dipertahankan sebagai milik dan kebudayaan zamannya.

Dengan demikian, pada dasarnya perkembangan ilmu pengetahuan tidak

selalu mulai di setiap tempat dari nol. Boleh dikatakan, sebagian besar

diperoleh melalui hubungan antarbangsa. Sebuah bentuk kebudayaan

atau peradaban baru suatu bangsa, bisa saja lahir dari adanya pengaruh

kebudayaan dan peradaban bangsa lain. Melalui proses seperti ini, selan-

jutnya terbentuk rangkaian perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.

5. Pendekatan Sejarah dan Kebudayaan

Dalam membahas perkembangan ilmu pengetahuan, Marshall Goodwin

Simms Hodgson menggunakan pendekatan sejarah dan peradaban. Mela-

lui pendekatan ini, Marshall G.S. Hodgson menarik rentang masa yang

50
disebutnya kronologi sejarah dunia. Rentang kurun waktu kesejarahan yang

dikemukakan Marshall G. S. Hodgson cukup panjang. Dengan menggunakan

rentang waktu ini tampaknya Hodgson ingin mengutarakan pendapatnya

mengenai latar belakang, serta rangkai an perkembangan ilmu pengetahuan

Hod

perk

itu sesungguhnya. Dengan meminjam istilah Karl Jaspers, menuru

proses akulturasi kebudayaan yang dinilainya ikut "menjembatani"

bangan ilmu pengetahuan sudah berlangsung sejak Axial Age (Marsh

S. Hodgson: 156).

10.000 SM

7.000 SM(?) Komunitas komunitas tani desa awa

3.000 SM (?)

Kota-kota

Masa Agraris

(di dalam

Masa Pra-Aksial

Oikumene

Afro-Eropa)

800 SM

51
Masa Aksial

200 SM

Islam

600M

Masa Pasca-Aksial

1.800 M

Masa Teknik

Sekarang

Dalam bagan tersebut, Marshall G. S. Hodgson mengawali sejar

perkembangan ilmu pengetahuan dari sekitar 10.000 SM. Namun seca

lebih konkret, ia menekankan pada periode tahun 7.000 SM. Menurutny

di periode itu telah terbentuk komunitas-komunitas tani awal. Selanjut

dikemukakan oleh Marshall G. S. Hodgson, bahwa Oikoumene (poiok du

yang berpenghuni) Aero-Erasia adalah panggung di mana sejarah madan

termasuk sejarah peradaban Islam dimainkan, dan panggung ini dipasan

pada umumnya dalam konteks-konteks hubungan di antara komples

kompleks kultural besar regional. Tidak ada kawasan

terhadap akibat-akibat dari semua antarhubungan ini pada waris

Cuneiform (Marshall G. S. Hodgson: 158-159).

yang

lebih terbuk

52
Kebudayaan-kebudayaan regional ini sebagian besar dapat

pada masa Aksial dengan kemunculan dan perkembangan regional yan

dilib

50

BAB 2: llmu Pengetahuan dari Zaman ke Zam

umumnya dari tradisi tertulis utama masing-masing. Kebudayaan literer

vang dihubungkan dengan Kongfucu, Lao Tze dan para penerus mereka yang

rara amat khusus mendefinisikan Timur Jauh Cina-Jepang (dari Erasia)

seperti itu. Dari Thales di Anatolia, Phytagoras di Italia, Socrates, Plato, dan

kawan-kawan, muncul warisan klasik di kawasan Eropa, Timur dan Barat,

ditarik ke dalam orbit tradisi-tradisi yang diemban oleh bahasa komersial

utama daerah pantai: bahasa Yunani. Di kawasan India, masa Uphanisad,

Budha dan Mahavira punya daya menentukan yang hampir sama (Marshall

G.S. Hodgson: 159)

Kawasan kebudayaan Cuneiform, yang ditempatkan di tengah-tengah

persimpangan arus Oikoumenik, adalah kekecualian. Dikaruniai tradisi-tradisi

budaya tinggi tertua, dan yang paling dini mengembangkan cara-cara baru,

kawasan ini pada saat itu tidak langsung mengembangkan secara penuh

indentitasnya sendiri dengan cara yang baru. Sebaliknya, ia terbuka terhadap

pengaruh-pengaruh dari segala arah. Di dalam kawasan itu seakan-akan

53
terpesona oleh "aura" tahun-tahun bahasa Arami yang lebih baru terus

berbagi penghargaan tradisi tertulis dengan bahasa-bahasa Cuneiform yang

sudah berurat berakar hingga masa Aksial (Marshall G.S. Hodgson: 159

160).

Kemampuan baca tulis ikut menopang perkembangan ilmu penge

tahuan dan peradaban. Dengan kemampuan baca tulis, seseorang

bisa mencatat atau mendokumentasi segala pengalaman dengan alam

sekitarnya. Gejala atau fenomena alam yang terjadi di sekeliling bisa

dicatat dan dijadikan dukomen yang berguna bagi kajian ilmiah, betapapun

sederhananya. Marshall G.S. Hodgson mengungkapkan hubungan dimaksud

dalam kehidupan masyarakat Babylonia:

"Gerakan bintang-bintang telah lama dipelajari di Babylonia karena sangkut

pautnya (di samping yang lain) dengan nasib para raja. Mulai sekitar masa

ini, telah berkembang di dalam bahasa para pendeta Babylonia cuneiform

(yang masih memonopoli urusan-urusan seperti itu), suatu upaya" ilmiah

yang lebih sistematik dari astronomi matematis.

Bagaimanapun, seperti yang telah diketahui dengan baik, menjelang

pertengahan milenium pertama SM manusia di mana pun tumbuh subur

dan makmur dan metode-metode sosial, khususnya dalam masalah

masalah perdagangan; misalnya coin (uang logam) sebagai alat penukar

54
finansial yang mudah dalam kondisi-kondisi yang ruwet, tampaknya telah

Filsafat llmu Pengetahuan

51Filsafat Ilmu Pengetahuan

49B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar-belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:


1. Bagaimana penulisan huruf yang sesuai aturan EBI ?
2. Bagaimana penulisan kata yang sesuai aturan EBI?
3. Bagaimana pemakaian tanda baca yang sesuai aturan EBI?
4. Bagaimana penulisan unsur serapan yang sesuai dengan aturan EBI ?
5. Bagaimana kasus-kasus dasar berkaitan dengan konjungsi ?
6. Bagaimana kasus-kasus dasar berkaitan dengan kata ?
7. Bagaimana kasus-kasus dasar berkaitan dengan kalimat ?

C. Tujuan

Tujuan penulisan dari makalah adalah sebagai berikut.


1. Untuk mengetahui cara penulisan huruf sesuai aturan dalam EBI
2. Untuk mengetahui cara penulisan kata sesuai aturan dalam EBI
3. Untuk mengetahui cara pemakaian tanda baca sesuai aturan dalam EBI
4. Untuk mengetahui cara penulisan unsur serapan yang sesuai dengan aturan
EBI
5. Untuk mengetahui contoh kasus-kasus dasar berkaitan dengan konjungsi
6. Untuk mengetahui contoh kasus-kasus dasar berkaitan dengan kata
7. Untuk mengetahui contoh kasus-kasus dasar berkaitan dengan kalimat

55
BAB II

PEMBAHASAN

1. PENULISAN HURUF
A. Huruf Abjad
Abjad yang dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf.
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima
huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.

Keterangan:

56
* Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini dapat
digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
a. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).

b. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].


Misalnya:
Kami menonton film seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.

c. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].


Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras

C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21
huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang dilambangkan dengan
gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.

E. Gabungan Huruf Konsonan


Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan
satu bunyi konsonan (Syahroni, 2013: 98).

57
F. Huruf Kapital
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang termasuk
julukan.
Misalnya:
Wage Rudolf Supratman
Dewa Pedang

Catatan:
(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
ikan mujair
mesin diesel
5 ampere
10 volt
(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang
bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang
Charles Adriaan van Ophuijsen
3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab
suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

58
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur gelar kehormatan,
keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk
gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Doktor Mohammad Hatta
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,
keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang
dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Terima kasih, Kiai.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat
yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang
tertentu, nama ins-tansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Dani
bahasa Bali
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk
dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggris
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari
besar atau hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah
bulan Agustus
hari Lebaran
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Konferensi Asia Afrika

59
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak
ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerde-kaan bangsa
Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.


Misalnya:
Asia Tenggara
Pulau Miangas
Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng
Catatan:
(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan
huruf kapital.
Misalnya:
berlayar ke teluk
(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak
ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
kacang bogor
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua
unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan,
organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang,
dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta
nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan,
yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar,
pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum

60
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau
ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Catatan:
(1) Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
(2) Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?

G. Huruf Miring
1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama
surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
Ibu tidak diantar, tetapi mengantar.
3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa
daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Catatan:
(1) Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau orga-nisasi, dalam bahasa
asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
(2) Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian
yang akan dicetak miring ditan-dai dengan garis bawah.
(3) Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip
secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf
miring.

H. Huruf Tebal

61
1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis
miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan
Bahasa Indonesia.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.
2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti
judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh bahasa standar dan
nonstandar, ratusan bahasa dae-rah,dan ditambah beberapa bahasa asing,
membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar
lebih jelas, latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah
seperti tampak pada paparan berikut.
1.1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap
yang beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu
(1) sangat bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap
bahasa daerah, dan (3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia.

2. PENULISAN KATA
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan (Rahardi, 2010:
214).
Misalnya:
Buku itu sangat menarik.
Ibu sangat mengharapkan keberhasilanmu.
Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos.

B. Kata Berimbunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis
serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan
perbaikan
Catatan :
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti –isme, -man, -wan,
atau –wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya
Misalnya :
sukuisme

62
seniman
2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya
Misalnya:
antarkota
infrastruktur
proaktif
dwiwarna

C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-
unsurnya.
Misalnya:
anak-anak
mata-mata
terus-menerus
lauk-pauk
Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertamanya saja.
Misalnya:
surat kabar : surat-surat kabar
kapal barang : kapal-kapal barang
rak buku : rak-rak buku

D. Gabungan Kata
1. Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar
kambing hitam
simpang empat
orang tua
persegi panjang
rumah sakit jiwa
2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis
dengan menambahkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya untuk
menegaskan pertalian usur yang bersangkutan.
Misalnya:
anak-istri pejabat anak istri-pejabat
buku-sejarah baru buku sejarah-baru
3. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:
adakalanya daripada perilaku
dukacita saputangan wiraswasta
bagaimana kacamata sediakala

63
barangkali kasatmata segitiga
beasiswa kilometer sekalipun
belasungkawa manakala sukacita
bilamana peribahasa sukarela

E. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya:
bu-ah ma-in
ni-at sa-at
b. Huruf diftong ai, au, ei dan oi tidak dipenggal
Misalnya:
Pan-dai au-la
c. Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan (termasuk gabungan huruf
konsonan) di antara dua buah huruf vokal, pemenggalannya dilakukan
sebelum huruf konsonan itu.
Misalnya:
ba-pak la-wan de-ngan
d. Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:
Ap-ril cap-lok man-di
e. Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-
masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara
huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:
ul-tra in-fra ben-trok in-stru-men
Catatan:
(1) Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak
dipenggal
Misalnya:
bang-sa
2. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar
dan unsur pembentuknya
Misalnya:
ber-jalan mem-bantu di-ambil
Catatan:
(1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami
perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya :
me-nu-tup me-ma-kai me-nya-pu pe-no-long

64
3. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak
dipenggal.
Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR
Pujangga terakhir keratin Surakarta bergelar R. Ng. Rangga Warsita

Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
` Ia bekerja di DLL-
AJR

Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.


Ng. Rangga Warsita

F. Kata Depan
Kata depan di, ke, dan dari ditulis berpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mari kita berangkat ke kantor

G. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
Bacalah buku itu baik – baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata mendahuluinya
Misalnya :
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai
Misalnya :
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya
3. Partikel per yang berarti ‘ demi ‘, tiap, atau ‘ mulai ‘ ditulis terpisah dari kata
yang mengikutinya .
Misalnya :
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter

H. Singkatan dan Akronim


1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti
dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya :
A.H. Nasution : Abdul Haris Nasution
H. Hamid : Haji Hamid

65
2. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis
dengan huruf capital tanpa tanda titik
Misalnya :
SD Sekolah Dasar
3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
dll. dan lain –lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
4. Singkatan yang terdiri atas dua huruf (lazimnya digunakan dalam surat
menyurat ) masing masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya :
a.n atas nama
d.a dengan alamat
u.b untuk beliau
u.p untuk perhatian
5. Lambing kimia singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan dan mata uang
tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
Cu kuprum
cm centimeter
6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan
huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya :
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN Lembaga Adminitrasi Negara
SIM Surat Izin Mengemudi
7. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital .
Misalnya :
Bulog Badan Urusan Logistik
Kowani Kongres Wanita Indonesia
8. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku katat
atau gabungan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
pemilu pemilihan umum
iptek ilmu pengetahuan dan teknologi

I. Angka dan Bilangan


1. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf, kecuali bilangan huruf itu dipakai secara berurutan seperti
dalam perincian atau paparan.
Misalnya :

66
Mereka menonton drama itu samapai tiga kali. Koleksi pustakaan itu
mencapai satu juta buku.
Di antara 72 yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5
orang abstain
2. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf
Misalnya :
Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta
3. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau
dua kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:
Panitia mengundang 250 orang peserta
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno
Catatan:
Penulisan berikutu dihindari.
250 orang peserta diundang panitia
4. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf
supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya :
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
5. Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, (b) satuan waktu,
(c)nilai uang , dan (d) jumlah
Misalnya :
0,5 sentimeter
5 kilogram
6. Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar.
Misalnya :
Jalan Tanah Abang I No. 15
7. Angka digunakan menomori bagian karangan atau ayat kitab suci
Misalnya :
Bab X, Pasal 5, halaman 525
Surah yasin: 9
8. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut :
a. Bilangan utuh
Misalnya :
dua belas (12)
tiga puluh (30)
b. Bilangan pecahan

67
Misalnya :
setengah atau seperdua (1/2)
seperenam belas (1/16)
9. Penulisan bilangan tingkat.
Misalnya :
Pada awal abad XX ( angka romawi)
Pada abad awal ke dua puluh (huruf)
10. Penulisan angka yang mendapat akhiran –an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya :
Tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
Uang 5.000-an (uang lima ribuan)
11. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam
peraturan perundang-undangan, akta dan kuitansi.
Misalnya :
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan
ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya


Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata mengikutinya;
Sedangkan -ku, -mu, -nya, ditulis serangkai yang mendahuluinya.
Misalnya :
Bukuku, bukumu,dan bukunya tersimpan diperpustakaan.

K. Kata Sandang si dan sang


Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikirimkan kepada si pengirim.
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil

3. PEMAKAIAN TANDA BACA


A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
Mereka duduk di sana.
Dia akan datang pada pertemuan itu.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A.Bahasa Indonesia
1. Kedudukan

68
2. Fungsi
Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda
kurung dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….

(2) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik
atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
00.00.30 jam (30 detik)
3. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul
tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat
terbit.
Misalnya:
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

69
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa halaman 1305.
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan, ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan
pengirim surat serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330

Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa


Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Indrawati, M.Hum.
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)

B. Tanda Koma (,)


1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!
2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan
sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

70
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk
kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan
dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh
beasiswa belajar di luar negeri.
5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah,
aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau
Nak.
Misalnya:
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”
“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya,

C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam
kalimat majemuk.

71
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca
cerita pendek.
2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian
dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang,
apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a.pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b.penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja;
dan
c.pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

D. Tanda Titik Dua (:)


1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau
mati.
2. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a.persiapan,
b.pengumpulan data,
c.pengolahan data, dan
d.pelaporan.

72
3. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

E. Tanda Hubung (-)


1. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru…
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.

2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang (Nillas, 2016:
55).
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek

4. PENULISAN UNSUR SERAPAN


Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai
bahasa, baik dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari
bahasa asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi
menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap
ke dalam bahasa Indonesia, seperti force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation
de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia,
tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur
asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa
Indonesia. Dalam hal ini, penyerapan diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya
sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya
(Sunendar, 2016: 58).
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu adalah sebagai berikut.

73
aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodinamics aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematit
ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison
au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
tautomer tautomer
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstruksi
cubic kubik
coup kup
classification klasifikasi
crystal kristal
c di depan e, i, oe, dan y menjadi s

74
central sentral
cent sen
circulation sirkulasi
coelom selom
cybernetics sibernetika
cylinder silinder
cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
acclimatization aklimatisasi
accumulation akumulasi
acclamation a klamasi
cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
vaccine vaksin
cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
chromosome kromosom
technique teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
charter carter

75
chip cip
ck menjadi k
check cek
ticket tiket
ç (Sanskerta) menjadi s
çabda sabda
çastra sastra
e tetap e
effect efek
description deskripsi
synthesis sintesis
ea tetap ea
idealist idealis
habeas habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer stratosfer
systeem sistem
ei tetap ei
eicosane eikosan

5. KASUS-KASUS DASAR BERKAITAN DENGAN EJAAN BAHASA


INDONESIA
Kasus 1: Penggunaan konjungsi koordinatif
Bentuk salah:
1. Karya tulis mahasiswa yang saya bimbing belum selesai hingga sekarang.
Padahal, saya sudah berusaha membantunya dengan sepenuh hati
2. Dia tidak berhasil mendapatkan nilai optimal dalam ujian itu. Padahal, dalam
beberapa hari terakhir ini dia sudah berusaha mempersiapkannya dengan
sungguh-sungguh

76
3. Data yang dikumpulkan para pembantu pengumpul data belum memadai.
Sedangkan, proses analisis sudah harus dimulai sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan lembaga itu
4. Klasifikasi data sudah diselesaikan dengan baik olehnya. Sedangkan, analisis
data baru dapat dilaksanakan setelah klasifikasi data itu benar-benar tuntas
diselesaikan
Bentuk disunting:
1. Karya tulis mahasiswa yang saya bimbing belum selesai hingga sekarang,
padahal saya sudah berusaha membantunya dengan sepenuh hati
2. Dia tidak berhasil mendapatkan nilai optimal dalam ujian itu, padahal dalam
beberapa hari terakhir ini dia sudah berusaha mempersiapkannya dengan
sungguh-sungguh
3. Data yang dikumpulkan para pembantu pengumpul data belum memadai,
sedangkan proses analisis sudah harus dimulai sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan lembaga itu
4. Klasifikasi data sudah diselesaikan dengan baik olehnya, sedangkan analisis
data baru dapat dilaksanakan setelah klasifikasi data itu benar-benar tuntas
diselesaikan

Kasus 2: Penggunaan konjungsi koordinatif


Bentuk Salah:
1. Dan, poster hasil penelitian itu harus dibuat berukuran 70 cm x 70 cm dengan
standing poster yang telah disediakan
2. Dan, laporan hasil penelitian rangkap dua diserahkan pada saat seminar
berlangsung
Bentuk disunting ke-1:
1. ….dan poster hasil penelitian itu harus dibuat berukuran 70 cm x 70 cm
dengan standing poster yang telah disediakan.
2. ... dan laporan hasil penelitian rangkap dua diserahkan pada saat seminar
berlangsung
Bentuk disunting ke-2:
1. Poster hasil penelitian itu harus dibuat berukuran 70 cm x 70 cm dengan
standing poster yang telah disediakan
2. Laporan hasil penelitian rangkap dua diserahkan pada saat seminar
berlangsung

77
Jadi, seperti ditunjukkan dı depan, untuk menyunting kalimat-kalimat salah
seperti yang disampaikan di depan tadi, seorang penyunting bahasa dapat menempuh
2 macam cara, yakni pertama dengan menempatkan konjungsi 'dan' pada posisi
intrakalimat, atau kedua dengan menghilangkan ‘dan’ itu dari posisi antarkalimat.
Maka, kalimat demikian itu akan segera berubah menjadi kalımat sederhana atau
simple sentence (Rahardi, 2009: 16)

Kasus 3: Penggunaan konjungsi koordinatif


Bentuk Salah:
1. Banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka di trotoar-trotoar jalan.
Dan hal itu ternyata sangat mengganggu kenyamanan para pejalan kaki
2. Para pengusaha harus menyelesaikan kewajiban pajaknya kepada negara
setiap tahun. Atau jika tidak mereka harus berurusan dengan aparat
Bentuk disunting:
1. Banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka di trotoar-trotoar jalan,
dan hal itu ternyata sangat mengganggu kenyamanan para pejalan kaki.
2. Para pengusaha harus menyelesaikan kewajiban pajaknya kepada negara
setiap tahun, atau jika tidak mereka harus berurusan dengan aparat

Kasus 4: Penggunaan konjungsi korelatif


Bentuk salah:
1. Baik tahapan pengumpulan data ataupun tahapan pembahasan data harus
dicermati dengan baik oleh pembimbing
2. Peneliti bukan hanya harus setia dengan langkah-langkah penelitian yang
telah dirancangnya, tetapi juga harus cermat menghadapi fenomena-fenomena
yang muncul di dalam setiap langkah yang dilaluinya itu
3. Tahapan penyusunan hasil analisis data yang dilakukan peneliti muda itu
berjalan dengan demikian lambatnya maka sangat sulit diprediksi waktu
berakhirnya.
4. Penyusunan instrumen penelitian itu harus dilakukan sedemikian rupa maka
hasilnya benar-benar baik
5. Apakah hasil dari penelitian ini akan bersifat signifikan maupun tidak harus
dipertimbangkan dengan baik oleh peneliti
Bentuk disunting:

78
1. Baik tahapan pengumpulan data maupun tahapan pembahasan data harus
dicermati dengan baik oleh pembimbing
2. Pencliti tidak hanya harus setia dengan langkah-langkah penelitian yang telah
dirancangnya harus cerrmat dengan fenomena-fenomena yang muncul di
dalam setiap langkah yang dilaluinya itu
3. Tahapan penyusunan hasil analisis data yang dilakukan peneliti muda itu
berjalan dengan demikian lambatnya sehingga sangat sulit diprediksi waktu
berakhimya
4. Penyusunan instrumen penclitian itu harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga hasilnya benar-benar baik
5. Apakah hasil dari penelitian ini akan bersifat signifikan atau tidak harus
dipertimbangkan dengan baik oleh peneliti
6. Entah pembimbing penelitian ini menyetujui rancangan itu entah tidak, dia
akan datang dengan

Kasus 5: Penggunaan konjungsi korelatif


Bentuk salah:
Baik metode cakap semuka ataupun metode cakap tansemuka dapat
digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan….
Bentuk disunting ke-I:
Baik metode cakap semuka maupun metode cakap tansemuka dapat
digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan….

Kasus 6: Kasus berkaitan dengan kata ‘ merubah’


Bentuk salah:
Temuan penelitian ini akan merubah temuan sebelumnya.
Bentuk disunting:
Temuan penelitian ini akan mengubah temuan sebelumnya.
Penjelasan:
Bentuk dasar yang benar adalah 'ubah, bukan rubah atau robah Dalam bahasa
Indonesia. tidak ada bentuk rubah, tetapi ubah. Maka, bentuk kebahasaan di
atas itu tidak mungkin berubah menjadi 'merubah ketika mendapatkan prefiks
meN-. Kesalahan yang sering terjadi selama ini adalah digunakannya bentuk

79
merubah atau 'merobah, Orang banyak yang beranggapan. bahwa bentuk
dasarnya adalah 'rubah atau 'robah.

Kasus 7: Kasus berkaitan dengan kata ‘menyuci’


Bentuk salah:
Para peneliti tidak diperkenankan menyuci film sendini.
Bentuk disunting:
Para peneliti tidak diperkenankan mencuci film sendiri.
Penjelasan:
Bentuk 'menyuci' adalah bentuk yang tidak benar dalam bahasa Indonesia.
Bentuk yang benar adalah 'mencuci. Bentuk dasar ‘cuci' tidak bisa berubah
menjadi 'nyuci' ketika mendapatkan awalan meN-. Jadi, tidak mungkin terjadi
peluluhan /c/ pada awal kata 'cuci ketika proses morfofonemik itu terjadi.
Maka, bentuk mencuci' adalah bentuk yang benar, sedangkan bentuk
'menyuci' adalah bentuk yang salah. Bentuk yang serupa dengan itu adalah
'menyetak 'menyekik, 'menyium. Bentuk yang benar adalah 'mencetak'.
'mencekik, dan 'mencium.

Kasus 7: Kasus berkaitan dengan kata ‘ mentargetkan’


Bentuk salah:
Dia mentargetkan penelitian ini akan selesai dalam jangka waktu sebulan.
Bentuk disunting:
Dia menargetkan penelitian ini akan selesai dalam jangka waktu sebulan.
Penjelasan:
Bentuk /t/ pada bentuk dasar 'target' akan luluh ketika bentuk itu mendapatkan
imbuhan atau prefiks yang berupa awalan meN- Maka, bentuk kebahasaan
yang benar adalah 'menargetkan bukan 'mentargetkan’. Demikian pula bentuk
'menerjemahkan dan 'menopang' adalah bentuk-bentuk kebahasaan yang
sudah benar. Jangan sampai bentuk kebahasaan yang digunakan adalah bentuk
‘menterjemahkan' dan 'mentopang Bentuk-bentuk yang disebut terakhir itu
jelas sekali merupakan bentuk yang tidak benar

80
Kasus 8: Kasus berkaitan dengan kata ‘ nampak’
Bentuk salah:
Ketidakberesan peneliti itu nampak sangat jelas dalam….
Bentuk disunting:
Ketidakberesan peneliti itu tampak sangat jelas dalam...
Penjelasan:
Bentuk 'nampak' tidak ada dalam bahasa Indonesia ragam tulis. Bentuk
demikian itu hanya dimungkinkan hadir dalam bahasa ragam lisan. Bentuk
yang benar dalam ragam bahasa tulis adalah ‘tampak’ atau ‘kelihatan’. Maka,
Anda jangan pernah menggunakan bentuk ‘nampak’ dalam Bahasa Indonesia
tulis, apalagi dalam karang-mengarang.

Kasus 9: Kasus berkaitan dengan kata ‘ ketawa’


Bentuk salah:
Mereka hanya ketawa ketika sanggahan itu disampaikan dalam forum

Bentuk disunting:
Mereka hanya tertawa ketika sanggahan itu disampaikan dalam forum
Penjelasan:
Bentuk ‘ketawa’ adalah bentuk yang hanya mungkin hadir di dalam
pemakaian lisan. Bentuk tulis yang benar adalah tertawa. Bentuk ketawa telah
terinterferensi kata dalam bahasa dacrah,seperti halnya bentuk ketemu dan
ketabrak serta ketembak Maka, bentuk-bentuk kebahasan yang benar dan
harus digunakan dalam bahasa Indonesia adalah bertemu tertabrak, dan
tertembak

Kasus 10: Kasus berkaitan dengan ejaan yang benar


Bentuk salah:

81
Mata pelajaran bahasa Indonesia sudah diajarkan mulau menjang pendidikan
Sekolah Dasar
Bentuk disunting:
Mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah diajarkan mulau menjang pendidikan
Sekolah Dasar

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai warga Negara yang baik dan mencintai negara, seharusnya kita
menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Kita bangga dengan
bahasa daerah, kita berusaha melestarikan bahasa daerah, tapi dengan bahasa
Indonesia lah kita dipersatukan.

Perkembangan zaman dan derasnya arus informasi membawa manusia ke


berbagai daerah dan tujuan, termasuk luar negeri. Orang-orang Indonesia yang
bergaul di luar sana sedikit banyak membawa bahasa dari luar dan
mengaplikasikannya dalam berbahasa Indonesia, sehingga kemudian muncullah kata-
kata baru yang bukan berasal dari Indonesia.

82
Hal-hal seperti ini lah yang perlu kita perhatikan, sehingga dengan adanya
pedoman penggunaan bahasa Indonesia, memunculkan aturan baku untuk berbahasa
Indonesia, yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang kuat dan diakui.

DAFTAR PUSTAKA

Nillas, dkk. (2016). Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Wahyu Media


Rahardi, Kunjana. (2010). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Erlangga
………………….. (2009). Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-
Mengarang. Jakarta : Erlangga
Syahroni, dkk. (2013). Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Banjarmasin: Aswaja
Pressindo
Sunendar, dkk. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

83
aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodinamics aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin

84
haematite hematit
ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison
au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
tautomer tautomer
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
59
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstruksi
cubic kubik
coup kup
classification klasifikasi
crystal kristal
c di depan e, i, oe, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
circulation sirkulasi
coelom selom
cybernetics sibernetika
cylinder silinder
cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k

85
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
acclimatization aklimatisasi
accumulation akumulasi
acclamation aklamasi
cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
vaccine vaksin
cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
chromosome kromosom
technique teknik
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
60
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
charter carter
chip cip
ck menjadi k
check cek
ticket tiket
ç (Sanskerta) menjadi s

86
çabda sabda
çastra sastra
ḍad ( ‫ ض‬Arab) menjadi d
’afḍal ( ‫ ) أفضل‬afdal
‫ ي‬ḍa’īf ( ‫ ) ض عف‬daif
farḍ ( ‫ ) فرض‬fardu
‫ ﺎ‬hāḍir ( ‫ ) ﺤضر‬hadir
e tetap e
effect efek
description deskripsi
synthesis sintesis
ea tetap ea
idealist idealis
habeas habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer stratosfer
systeem sistem
ei tetap ei
eicosane eikosan
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
61
eidetic eidetik
einsteinium einsteinium
eo tetap eo
stereo stereo
geometry geometri
zeolite zeolit

87
eu tetap eu
neutron neutron
eugenol eugenol
europium europium
fa ( ‫ ف‬Arab) menjadi f
ʼafḍal ( ‫ ) أفضل‬afdal
‫‘ ﺎ‬ārif ( ‫ ) ع رف‬arif
faqīr ( ‫ ) فقير‬fakir
faṣīh ( ‫ ) فصيح‬fasih
mafhūm ( ‫ ) مفهوم‬mafhum
f tetap f
fanatic fanatik
factor faktor
fossil fosil
gh menjadi g
ghanta genta
sorghum sorgum
gain ( ‫ غ‬Arab) menjadi g
‫ غ‬gā’ib ( ‫ ) ائب‬gaib
‫ ة‬magfirah ( ‫ ) مغفر‬magfirah
‫ ب‬magrib ( ‫ ) مغر‬magrib
gue menjadi ge
igue ige
gigue gige
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
62
ḥa ( ‫ ح‬Arab) menjadi h

88
‫ ﺎ‬ḥākim ( ‫ ) ﺤكم‬hakim
iṣlāḥ ( ‫ ) إصالح‬islah
‫ ﺤ‬siḥr ( ‫ ) س ر‬sihir
hamzah ( ‫ ء‬Arab) yang diikuti oleh vokal menjadi a, i, u
’amr ( ‫ ) أمر‬amar
‫ ﺔ‬mas’alah ( ‫ ) مسأل‬masalah
’iṣlāḥ ( ‫ ) إصالح‬islah
‫ ﺎ‬qā’idah ( ‫ ) ق عدة‬kaidah
’ufuq ( ‫ ) أفق‬ufuk
hamzah ( ‫ ء‬Arab) di akhir suku kata, kecuali di akhir kata, menjadi k
ta’wīl ( ‫ ) تأويل‬takwil
ma’mūm ( ‫ ) مأموم‬makmum
mu’mīn ( ‫ ) مؤمن‬mukmin
hamzah ( ‫ ء‬Arab) di akhir kata dihilangkan
imlā’ ( ‫ ) إمالء‬imla
‫ ﺎ‬istinjā’ ( ‫ ) إستنج ء‬istinja/tinja
munsyi’ ( ‫ ) منشىء‬munsyi
wuḍū’ ( ‫ ) وضوء‬wudu
i (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi i
‫ ﺎ‬ʼi‘tiqād ( ‫ ) إعتق د‬iktikad
‫ ﻣ‬muslim ( ‫ ) سلم‬muslim
‫ ﺔ‬naṣīḥah ( ‫ ) نصي ﺤ‬nasihat
‫ ﺤ‬ṣaḥīḥ ( ‫ ) ص يح‬sahih
i pada awal suku kata di depan vokal tetap i
iambus iambus
ion ion
iota iota

89
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek politik
riem rim
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
63
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety varietas
patient pasien
hierarchy hierarki
jim ( ‫ ج‬Arab) menjadi j
‫ ﺔ ﺎ‬jāriyah ( ‫ ) ج ري‬jariah
‫ ﺎ‬janāzah ( ‫ ) جن زة‬jenazah
‫ ﺎ‬ʼijāzah ( ‫ ) إج زة‬ijazah
kha ( ‫ خ‬Arab) menjadi kh
khuṣūṣ ( ‫ ) خصوص‬khusus
makhlūq ( ‫ ) مخلوق‬makhluk
‫ ﺎ‬tārīkh ( ‫ ) ت ريخ‬tarikh
ng tetap ng
contingent kontingen
congres kongres
linguistics linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e
foetus fetus
oestrogen estrogen
oenology enologi
oo (Belanda) menjadi o
komfoor kompor

90
provoost provos
oo (Inggris) menjadi u
cartoon kartun
proof pruf
pool pul
oo (vokal ganda) tetap oo
zoology zoologi
coordination koordinasi
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
64
ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur gubernur
coupon kupon
contour kontur
ph menjadi f
phase fase
physiology fisiologi
spectograph spektograf
ps tetap ps
pseudo pseudo
psychiatry psikiatri
psychic psikis
psychosomatic psikosomatik
pt tetap pt
pterosaur pterosaur
pteridology pteridologi
ptyalin ptialin

91
q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
equator ekuator
qaf ( ‫ ق‬Arab) menjadi k
‫‘ ﺔ‬aqīqah ( ‫ ) عقيق‬akikah
‫ ﺎ‬maqām ( ‫ ) مق م‬makam
muṭlaq ( ‫ ) مطلق‬mutlak
rh menjadi r
rhapsody rapsodi
rhombus rombus
rhythm ritme
rhetoric retorika
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
65
sin ( ‫ س‬Arab) menjadi s
‫ ﺎ‬asās ( ‫ ) أس س‬asas
salām ( ‫ ) سالم‬salam
‫ س‬silsilah ( ‫ ) لسة‬silsilah
śa ( ‫ ث‬Arab) menjadi s
‫ ر أ‬aśiri ( ‫ ) ثي ى‬asiri
‫ ي‬ḥadiś ( ‫ ) حد ث‬hadis
śulāśā̒‫ ) )ا ل ث ّل ثاء‬selasa
‫ ﺍ‬wāriś ( ‫ ) و رث‬waris
ṣad ( ‫ ص‬Arab) menjadi s
‫‘ ص‬aṣr ( ‫ ) عر‬asar
‫ ﺔ‬muṣībah ( ‫ ) مصيب‬musibah

92
khuṣūṣ ( ‫ ) خصوص‬khusus
ṣaḥḥ ( ‫ ) صح‬sah
syin ( ‫ ش‬Arab) menjadi sy
‫‘ ﺎ‬āsyiq ( ‫ ) ع شق‬asyik
‘arsy ( ‫ ) عرش‬arasy
syarṭ ( ‫ ) شرط‬syarat
sc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium skandium
scotopia skotopia
scutella skutela
sclerosis sklerosis
sc di depan e, i, dan y menjadi s
scenography senografi
scintillation sintilasi
scyphistoma sifistoma
sch di depan vokal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia
scholastic skolastik
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
66
t di depan i menjadi s jika lafalnya s
actie aksi
ratio rasio
patient pasien
ṭa ( ‫ ط‬Arab) menjadi t
khaṭṭ ( ّ‫ ) خط‬khat

93
muṭlaq ( ‫ ) مطلق‬mutlak
‫ ي‬ṭabīb ( ‫ ) طبب‬tabib
th menjadi t
theocracy teokrasi
orthography ortografi
thrombosis trombosis
methode (Belanda) metode
u tetap u
unit unit
nucleolus nukleolus
structure struktur
institute institut
u (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi u
‫ ﺮ‬rukū’ ( ‫ ) كوع‬rukuk
‫ ﺎ‬syubḥāt ( ‫ ) شبه ت‬syubhat
sujūd ( ‫ ) سجود‬sujud
‫’ أ‬ufuq ( ‫ ) فق‬ufuk
ua tetap ua
aquarium akuarium
dualisme dualisme
squadron skuadron
ue tetap ue
consequent konsekuen
duet duet
suede sued
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
67

94
ui tetap ui
conduite konduite
equinox ekuinoks
equivalent ekuivalen
uo tetap uo
fluorescein fluoresein
quorum kuorum
quota kuota
uu menjadi u
lectuur lektur
prematuur prematur
vacuum vakum
v tetap v
evacuation evakuasi
television televisi
vitamin vitamin
wau ( ‫ و‬Arab) tetap w
jadwal ( ‫ ) جدول‬jadwal
‫ ﻯ‬taqwā ( ‫ ) تقو‬takwa
wujūd ( ‫ ) وجود‬wujud
wau ( ‫ و‬Arab, baik satu maupun dua konsonan) yang didahului u
dihilangkan
nahwu ( ‫ ) نحو‬nahu
nubuwwah ( ‫ ) نب ّو ة‬nubuat
quwwah ( ‫ ) ق ّو ة‬kuat
aw (diftong Arab) menjadi au, termasuk yang diikuti konsonan
‫ ر‬awrāt ( ‫ ) ع ﻮة‬aurat

95
‫ ﻭ‬hawl ( ‫ ) ﻫل‬haul
mawlid ( ‫ ) مولد‬maulid
‫ و و‬walaw ( ‫ ) ل‬walau
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
68
x pada awal kata tetap x
xanthate xantat
xenon xenon
xylophone xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive eksekutif
express ekspres
latex lateks
taxi taksi
xc di depan e dan i menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
excision eksisi
excitation eksitasi
xc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation ekskavasi
excommunication ekskomunikasi
excursive ekskursif
exclusive eksklusif
y tetap y jika lafalnya y
yakitori yakitori
yangonin yangonin

96
yen yen
yuan yuan
y menjadi i jika lafalnya ai atau i
dynamo dinamo
propyl propil
psychology psikologi
yttrium itrium
ya ( ‫ ي‬Arab) di awal suku kata menjadi y
‫‘ ﺔ ﺎ‬ināyah ( ‫ ) عن ي‬inayah
yaqīn ( ‫ ) يقين‬yakin
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
69
ya‘nī ( ‫ ) يعني‬yakni
ya ( ‫ ي‬Arab) di depan i dihilangkan
‫ ﺔ ﺎ‬khiyānah ( ‫ ) خي ن‬khianat
‫ ﺎ‬qiyās ( ‫ ) قي س‬kias
‫ ﺎ‬ziyārah ( ‫ ) زي رة‬ziarah
z tetap z
zenith zenit
zirconium zirkonium
zodiac zodiak
zygote zigot
zai ( ‫ ز‬Arab) tetap z
‫ ﺎ‬ijāzah ( ‫ ) إج زة‬ijazah
‫ ﺔ ﺍ‬khazānah ( ‫ ) خز ن‬khazanah
‫ ﺎ‬ziyārah ( ‫ ) زي رة‬ziarah
zaman ( ‫ ) زمن‬zaman

97
żal ( ‫ ذ‬Arab) menjadi z
‫ ﺍ‬ażān ( ‫ ) أذ ن‬azan
iżn ( ‫ ) إذن‬izin
‫ ﺬ‬ustāż ( ‫ ) أست ﺎ‬ustaz
‫ ﺍ‬żāt ( ‫ ) ذ ت‬zat
ẓa ( ‫ ظ‬Arab) menjadi z
‫ ﻔ‬ḥāfiẓ ( ‫ ) ﺤﺎظ‬hafiz
ta‘ẓīm ( ‫ ) تعظيم‬takzim
‫ ﺎ‬ẓālim

F. Tanda Titik (.)


5. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:

1. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk


singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa indonesia.
Misalnya:
Mem-PHK-kan di-upgrade me-recall
Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran
ditulis
serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
Bertepuk tangan garis bawahi
Menganak sungai sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan
akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
dilipatgandakan menyebarluaskan pertanggungjawaban
menggarisbawahi penghancurleburan

98
1. Akhirnya,
Contoh:

B. Kata dan Kelas Kata


Kata-kata dalam bahasa Indonesia ternyata dapat digolongkan menjadi kelas-
kelas kata yang bermacam-macam, tergantung dari dimendi atau sudut pandang yang
digunakan ahli bahasa atau linguis dalam menggolongkan kata-kata dari sebuah
bahasa. Prof. Drs. M. Ramlan, misalnya saja, telah mengklasifikasikan kata-kata
dalam bahasa Indonesia berdasarkan ciri-ciri fungsionalnya. Sebuah kata akan
kelihatan jati-dirinya, juga makna atau maksudnya, apabila kata itu digunakan dalam
konteks fungsional di dalam entitas kebahasaan yang lebih tinggi. Maka kemudian
Ramlan (1985) menyebutkan bahwa berdasarkan ciri-ciri fungsionalnya, kata di
dalam bahasa Indonesia itu dapat dibedakan menjadi 12 macam, yakni (1) kata
verbal, (2) kata nominal, (3) kata keterangan, (4) kata tambah, (5) kata bilangan, (6)
kata penyukat, (7) kata sandang, (8) kata tanya, (9) kata suruh, (10) kata penghubung,
(11) kata depan, dan (12) kata seruan (Rahardi, 2009: 13).
Ahli bahasa atau linguis yang lan menyebut penggolongan yang berbeda dengan
yang disampaikan oleh Ramlan. Prof. Dr. Samsuri (2985), misalnya saja, dengan
mendasarkan pada teori transformasi-generatif, telah membedakan kata-kata dalam

99
bahasa Indonesia itu kedalam tiga kelompok besar, yakni (1) kelompok kata utama,
yang terdiri dari (a) kata yang berkategori nomina dan (b) kata yang berkategori
verbal. Selanjutnya, kategori verbal ini dapat dibagi lagi menjadi (i) kategori verba,
(ii) kategori adjectiva (iii) dan (iii) kategori numeralia.

Penelitian merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui


cara tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut
merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan sebelumnya. Oleh
karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha mencari tahu tentang
berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang.

Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi


prosedur ilmiah. Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan
yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias. Sebab,
penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan
peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau informasi yang
diperolehnya.

Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah


menentukan poulasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat menganalisa data
keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atas komunitas tertentu. Seorang
peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek
penelitian hanya dengan mengamati dan mempelajari sebagian dari kumpulan
tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode atau langkah yang tepat
untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data terhadap objek.

Diharapkan dengan makalah tentang populasi dan sampel penelitian ini


mahasiswa dapat memahami populasi dan sampel penelitian sehingga akan lebih
memudahkan ketika nanti melakukan penelitian dan dapat menentukan sampel yang
tepat baik dalam kuantitas meupun kualitasnya. Dengan penentuan sampel yang tepat
hasil dari penelitian yang berupa sebuah penyelesaian masalah dapat lebih akurat.
Pembahasan yang lebih lanjut tentang populasi dan sampel penelitian akan dibahas
dalam bab selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar-belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan populasi dan sampel?
2. Apa saja jenis populasi?
3. Bagaimana langkah-langkah menentukan sampel?
4. Apa saja jenis teknik pengambilan sampel?

100
5. Apa saja yang termasuk dalam subjek penelitian?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penulisan dari makalah “Populasi, Pemilihan Sampel, dan Subjek
Penelitian” sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian populasi dan sampel
2. Untuk mengetahui jenis-jenis populasi
3. Untuk mengetahui langkah-langkah menentukan sampel
4. Untuk mengetahui jenis teknik pengambilan sampel
5. Untuk mengetahui subjek penelitian

101
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Populasi
2.1.1 Pengertian Populasi
Kata populasi dalam statistika merujuk pada sekumpulan individu dengan
karakteristik khas yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian. Ada beberapa
pengertian populasi menurut beberapa ahli. Sugiyono (2016:80) menyatakan bahwa
populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun kelompok besar dan wilayah
yang menjadi lingkup sebuah penelitian juga disebut dengan populasi (Sukmadinata,
2016:250). Hal ini sesuai dengan pernyataan Creswell (2012:141) yang menyatakan
bahwa
”A target population (or the sampling frame) is a group of individuals (or a
group of organizations) with some common defining characteristic that the
researcher can identify and study” .
Berdasarkan pendapat di atas, populasi mengandung arti sebagai sekelompok
individu (atau sekelompok organisasi) dengan beberapa karakteristik umum yang
dapat diidentifikasi dan dipelajari oleh peneliti. Populasi dirumuskan sebagai semua
anggota sekelompok orang, kejadian atau objek yang telah dirumuskan secara jelas,
atau kelompok lebih besar yang menjadi sasaran generalisasi. Hal ini sejalan dengan
pendapat Gall () yang menyatakan bahwa
“The larger group that they wish to learn about is called a population”.
Gall menerangkan dalam pernyataannya bahwa kelompok besar yang akan
dipelajari disebut populasi. Hal tersebut menegaskan bahwa popualasi adalah
sekelompok yang memiliki karakteristik yang ditetapkan sebagai objek sebuah
penelitian. Sehingga, populasi bukan hanya orang saja namun juga berupa objek dan
benda-benda alam yang lain. Populasi dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-
tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga
objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian Populasi bukan hanya sekedar
jumlah pada objek subjek yang dipelajari, namun meliputi seluruh karakteristik yang
dimiliki oleh subjek maupun objek tersebut.

2.1.2 Jenis-jenis Populasi


Secara umum populasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis , yaitu
berdasarkan penentuan sumber data, kompleksitas objek populasi, dan perbedaan
lain. Hadari Nawawi (2015: 40), mengelompokkan populasi dari penentuan sumber
data, yaitu:
1. Populasi terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang jelas
batas-batasnya secara kuantitatif. Misalnya jumlah siswa SD di Kota

102
Bandung pada tahun 2018 sebanyak 150.000 siswa, terdiri dari 78.000
murid laki-laki dan 72.000 murid perempuan.
2. Populasi tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang
tidak dapat ditentukan batas-batasnya secara kuantitatif. Oleh karenanya,
luas populasi bersifat tak terhingga dan hanya dapat dijelaskan secara
kualitatif. Misalnya, jumlah gelandangan di Indonesia. Ini berarti harus
dihitung jumlah gelandangan di Indonesia dari tahun ke tahun, dan tiap kota.
Tidak saja perhitungan terhadap jumlah gelandangan yang ada sekarang,
tetapi juga dilakukan penafsiran jumlah gelandangan di waktu yang datang.
Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan,
populasi homogen dan populasi heterogen (Bungin, 2015: 30).
1. Populasi homogen, yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota
pupolasi, memiliki sifat-sifat yang relatif sama satu sama lainnya. Sifat
populasi seperti ini banyak dijumpai pada medan eksakta, contohnya air. Air
memiliki sifat yang homogen, sehingga keseluruhan yang besar tak
terhingga di air, sama dengan bagian kecil dari keseluruhan tersebut.
Seorang ibu membuat secangkir kopi. Untuk mengetahui kadar gula yang
terkandung di dalam kopi tersebut, cukup hanya mencoba setitik air kopi
yang diambil dari cangkir tersebut. Ciri yang menonjol dari populasi
homogen, tidak ada perbedaan hasil tes dari jumlah tes populasi yang
berbeda. Maksudnya adalah, gejala yang timbul pada satu kali percobaan
atau tes merupakan gejala yang timbul pada seratus kali atau lebih kali tes
terhadap populasi yang sama.
2. Populasi heterogen, yaitu keseluruhan individu anggota populasi relatif
memiliki sifat-sifat individual, di mana sifat tersebut membedakan individu
anggota populasi yang satu dengan lainnya. Dengan kata lain, bahwa
individu anggota populasi memiliki sifat yang bervariasi, sehingga
memerlukan penjelasan terhadap sifat-sifat tersebut, baik secara kuantitatif
maupun kualitatif. Pada penelitian sosial yang berobjekkan manusia atau
gejala-gejala dalam kehidupan manusia yang bersifat amat unik dan
kompleks kecenderungan memiliki kategori populasi heterogen.
Populasi dapat pula dibedakan menjadi dua macam yaitu populasi umum,
terukur dan sasaran (Sukmadinata, 2016: 249).
1. Populasi umum, yaitu populasi yang masih memiliki karakteristik umum,
contohnya seluruh guru SD yang ada di Yogyakarta.
2. Populasi terukur, yaitu populasi yang secara ril dijadikan dasar dalam
penentuan sampel, dan secara langsung menjadi lingkup sasaran
keberlakuan kesimpulan.
3. Populasi sasaran, yaitu populasi yang menjadi ruang lingkup generalisasi
kesimpulan suatu penelitian. Populasi sasaran ini harus ditentukan secara
jelas sebelum penelitian dilaksanakan. Populasi sasaran adalah populasi
yang nantinya menjadi ruang lingkup generalisasi hasil penelitian. Contoh:
Tingkat ekonomi mempengaruhi gejala korupsi di lingkungan pegawai

103
negeri di Indonesia, maka yang menjadi populasi sasaran adalah pegawai
negeri di Indonesia.
2.2 Sampel
2.2.1 Pengertian Sampel
Adakalanya penelitian yang dilakukan tidak dapat menjangkau seluruh
populasi, karena berbagai keterbatasan. Untuk menyiasatinya dilakukan pengambilan
dari sebagian populasi yang dimaksud dalam penelitian. Unit yang terpilih dinamakan
sampel. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono,2018:81). Sementara sampel penelitian mengacu
pada pendapat Arikunto, (2015:37) bahwa sampel adalah bagian dari populasi
(sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sedangkan menurut Osuala (dalam
Senam &Akpan, 2014) “Sampling is taking any portion of a population or universe
as representative of that population or universe.”
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sampel penelitian
adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili
seluruh populasi.
2.2.2 Alasan dilakukannya pengambilan sampel
Ada sejumlah alasan (argumentasi), mengapa penelitian sampling dilakukan,
diantaranya adalah (Riduwan, 2016: 11)
1. Ukuran atau jumlah anggota populasi yang terlalu besar, yang tidak
memungkinkan diselesaikan dengan berbagai keterbatasan tersebut diatas.
2. Sementara di sisi lain, anggota populasi memiliki ciri-ciri yang homogen
(seragam), maka manakala peneliti mengambil sampel secara "benar" hasil
penelitian sampling yang dilakukan akan dapat mewakili atau menggambarkan
keadaan yang sebanamya.
3. Dengan kecermatan peneliti di dalam mendeskripsi ciri-ciri populasi dalam
sampel, ketepatan dalam memilih teknik pengambilan sampel dan jumlah sampel
yang memadai, akan dapat dipertanggungjawabkan bahwa sampel penelitian akan
dapat mewakili populasi.
Dengan argumentasi tersebut kiranya dibenarkan peneliti melakukan
penelitian secara sampling. Sementara seberapa besar keakuratan penelitian sampling
dibanding "dengan penelitian.sensus, akan dapat ditentukan oleh ketepatan dan
keakuratan penentuan sampel penelitian. Seperti diuraikan diatas bahwa jikalau
sampel diambil secara benar (dipertanggungjawabkan), maka hasil penelitian
sampling dapat mewakili gambaran populasi penelitian. Dengan demikian keakuratan
hasil penelitian sampling sama dengan penelitian populasi
2.2.3 Keuntungan Menggunakan Sampel

104
Ada beberapa keuntungan menggunakan sampel, antara lain:
1. Memudahkan peneliti karena jumlah sampel lebih sedikit dibandingkan
dengan menggunakan populasi, selain itu bila populasinya terlalu besar
dikhawatirkan akan terlewati
2. Penelitian lebih efisien (dalam arti penghematan uang, waktu dan tenaga)
3. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data, artinya jika subjeknya
banyak dikhawatirkan adanya bahaya bias dari orang yang mengumpulkan
data, karena sering dialami oleh staf bagian pengumpul data mengalami
kelelahan sehingga pencatatan data tidak akurat
4. Penelitian lebih efektif, jika penelitian bersifat destruktif (merusak) yang
menggunakan spesemen akan hemat dan bisa dijangkau tanpa merusak semua
bahan yang ada serta bisa digunakan untuk menjaring populasi yang
jumlahnya banyak. Sedangkan besar kecilnya sampel yang diambil akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: besar biaya yang tersedia, tenaga
(orang) yang ada, waktu dan kesempatan peneliti, serta peralatan yang
digunakan dalam pengambilan sampel.
Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel Nasution (dalam Riduwan, 2016:
10) bahwa, "Mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan
tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitian-nya, serta mutu
pelaksanaan dan pengolahannya."

2.2.4 Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif


1. Social situation pada penelitian kualitatif
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi tetapi oleh
spradley dinamakan “ social situation atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen
yaitu : tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara
sinergis. Situasi sosial tersebut dapat dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingin
diketahui apa yang terjadi di dalamnya. Pada situasi sosial atau objek penelitian ini,
peneliti dapat mengamati secara mendalama aktivitas (activity), orang-orang(actors),
yang ada pada tempat(place) tertentu. (Sugiyono, 2013, 20). Dalam penelitian
kualitatif tidak menggunakan populasi karena penelitian kualitatif berangkat dari
kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan
diberlakukan ke populasi tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi soial yang
memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dibelajari (Sugiyono, 2013:
21).
2. Informan pada penelitian kualitatif
Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif tidak mengenal istilah pengambilan
sampel dari populasi karena penelitian ini tidak bertujuan untuk melakukan

105
generalisasi terhadap populasi, namun bertujuan menggali informasi secara
mendalam sehingga sampel dalam penelitian kualitatif disebut informan, partisipan,
teman, guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan
responden. Sampel pada penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistk tetapi
sampel teorirtis karena tujuan penelitian kualitatif adalah menghasilkan teori
(Sugiyono, 2013: 22). Konsep dalam penelitian kualitatif adalah bagaimana memilih
informasi yang kuat dan terpercaya mengenai elemen-elemen yang ada. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian kualitatif bersifat tidak random/ acak sehingga
menggunakan teknik non-probability atau ditentukan sendiri oleh peneliti (purposeful
sampling).Adapun jenis sampel yang dipakai dalam penggunaan metode penelitian
kualitatif merupakan sampel tidak representative, purposive, serta dapat berkembang
selama proses penelitian.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Miles & Huberman (dalam Palinkas et al,
2015) bahwa.
Qualitative methods place primary emphasis on saturation (i.e., obtaining a
comprehensive understanding by continuing to sample until no new
substantive information is acquired).
Metose penelitian kualitatif menekankan pada titik kejenuhan. Artinya, data
yang diperolah dari partisipan sudah mencapai tingkat pemahaman yang
komprehensif hingga tidak diperlukan lagi partisipan yang lain karena informasi yang
diperoleh sama. Oleh karena itu, tidak diperlukan tambahan data yang baru karena
sudah cukup untuk menjawab masalah penelitian. Selain itu, Guest et al (dalam
Palinkas et al, 2015) berpendapat bahwa.
Qualitative methods often rely on precedents for determining number of
participants based on type of analysis proposed (e.g., 3-6 participants
interviewed multiple times in a phenomenological study versus 20-30
participants interviewed once or twice in a grounded theory study), level of
detail required, and emphasis of homogeneity (requiring smaller samples)
versus heterogeneity (requiring larger samples).
Untuk menentukan jumlah partisipan dalam metode penelitian kualitatif, ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu, analisis data penelitian, tingkat
kedalaman informasi yang diperlukan, serta homogen atau tidaknya data. Contohnya,
penelitian kualitatif fenomenologi lebih menekankan pada kedalaman informasi yang
diperoleh dan tidak memerlukan partisipan dalam jumlah besar (3-6 partisipan)
karena penelitian ini berusaha menangkap berbagai permasalahan yang ada di
masyarakat dan mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Intinya ada
keterkaitan antara subjek, lokasi, dan fenomena yang dialami. Contoh: Near-death
experience dan bencana tsunami menerjang aceh 2004. Sedangkan penelitian
grounded menggunakan lebih banyak partisipan teori yang muncul kemudian, disaat,
atau setelah data lapangan dikumpulkan Contoh : penelitian yang berjudul segi-segi

106
sosial budaya masyarakat aceh. Peneliti turun ke lapangan tanpa membawa teori yang
sudah dibaca dalam literatur. Peneliti melakukan observasi partisipatoris serta
wawanara mendalam untuk mengumpulkan data lapangan. Ketika di lapangan itulah,
konsep-konsep dikembangkan, peneliti tetap tidak mengaplikasikan teori yang sudah
eksis sebelumnya sebagai kerangka berpikir.
Contoh lainnya : Cliffort Geertz pernah membangun teori tentang masyarakat muslim
jawa yang terbagi menjadi kelas priyayi santri dan abangan. Ketika saat ini ada
peneliti lain yang ingin melakukan penelitian grounded tentang masyarakat muslim di
suatu desa di jawa, peneliti lain tidak perlu menerapkan klasifikasi yang dibuat oleh
Geertz tersebut. Melainkan peneliti lain harus melihat data lalu memunculkan konsep
sebagaimana data tersebut berbicara. Hal ini karena situasi sosial bersifat dinamis,
berkembang dan terus berubah
Sedangkan sampel pada penelitian kuantitatif diambil untuk melakukan
generalisasi terhadap populasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guest et al (dalam
Palinkas et al, 2015) yang menyatakan bahwa.
Quantitative methods place primary emphasis on generalizability (i.e.,
ensuring that the knowledge gained is representative of the population from
which the sample was drawn). Each methodology, in turn, has different
expectations and standards for determining the number of participants
required to achieve its aims. Quantitative methods rely on established
formulae for avoiding Type I and Type II errors,

2.2.5 Faktor Pertimbangan Dalam Menentukan Sampel Yang Representatif


Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua
yang ada pada populasi, misal karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu,
maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari
dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu
sampel yang diambil dari populasi harus representatif karena suatu sampel yang
baik adalah sampel yang benar-benar mewakili seluruh karakteristik yang ada
pada populasi. Untuk menentukan sampel yang representatif ada beberapa
faktor yang harus dipertimbangkan, diantaranya yaitu. (Bungin, 2015: 43).
1. Derajat keseragaman (degree of homogenity) populasi. Populasi homogen
cenderung memudahkan penarikan sampel, sapai pada menentukan besar
kecil sampel yang dibutuhkan. Semakin homogen populasi, maka semakin
besar kemungkinan penggunaan sampel dalam jumlah kecil. Pada populasi
heterogen, kecenderungan menggunakan sampel, besar kemungkinan sulit
dihindari, karena sampel harus dipenuhi oleh wakil-wakil unit populasi.

107
Oleh karena itu, semakin kompleks atau semakin tinggi derajat
keberagaman maka semakin besar pula sampel penelitian yang diperoleh.
2. Derajat kemampuan peneliti mengenai sifat-sifat khusus populasi. Selain
mengenal derajat keberagaman populasi, peneliti juga harus mampu
mengenal ciri-ciri khusus populasi yang sedang atau akan diteliti.
3. Presisi (keseksamaan) yang dikehendaki penelitian. Faktor ketiga ini
biasanya merupakan kebutuhan yang muncul pada penelitian survei atau
penelitian kuantitatif lainnya. Populasi penelitian amat besar, sehingga
derajat kemampuan peneliti dalam mengenal karakteristik populasi amat
rendah. Untuk menghindari kebiasan sampel, maka dilakukan jalan pintas
dengan cara menambah ukuran sampel. Oleh karenanya, apabila suatu
penelitian menghendaki derajat presisis yang tinggi, maka merupakan
keharusan dari penelitian tersebut menggunakan menggunakan sampel
dengan ukuran yang besar, karena derajat presisi menentukan besar kecilnya
ukuran sampel. Pada permasalahan ini, presisi juga tergantung pada tenaga,
biaya, dan waktu, karena untuk mencapai derajat presisi tinggi, peneliti
harus mengeluarkan banyak tenaga, biaya maupun waktu untuk melayani
sampel dengan ukuran yang besar.
4. Penggunaan teknik sampling yang tepat. Penggunaan teknik sampling juga
harus betul-betul diperhatikan kalau mau mendapatkan sampel yang
representatif. Salah dalam penggunaan teknik sampling, berarti salah pula
dalam memperoleh sampel
Bila sampel tidak representatif, maka ibarat empat orang yang ditutup
matanya, disuruh menyimpulkan karakteristik gajah. Lihat gambar berikut.

Gambar 2.1 Empat orang yang ditutup matanya memilih

108
sampel yang salah tentang gajah, sehingga
kesimpulannya juga salah

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa, orang pertama memegang


telinga gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kipas. Orang kedua
memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar.
Orang ketiga memegang ekornya, maka ia menyimpulkan gajah itu kecil seperti
seutas tali. Orang keempat memegang kaki gajah, maka ia menyimpulkan gajah
seperti sebatang pohon. Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representatif,
maka ibarat 4 orang yang ditutup matanya memegang gajah, mereka tidak
mampu memilih sampel yang reprsentatif sehingga membuat kesimpulan yang
salah tentang gajah.
Dalam melaksanakan penelitian, walaupun tersedia populasi yang terbatas dan
homogen, adakalanya peneliti tidak melakukan pengumpulan data secara populasi,
tetapi mengambil sebagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi
(representatif). Hal ini berdasarkan pertimbangan yang logis, seperti kepraktisan,
keterbatasan biaya, waktu, tenaga dan adanya percobaan yang bersifat merusak
(destruktif).
Contoh (1) Untuk mengetahui kekuatan pisau baja pemotong kain, Kita tidak perlu
menerapkan setiap pabrik tekstil diteriksa dan diuji kekuatan pisaunya (2) Untuk
mengetahui daya tahan lampu pijar merek tertentu, kita tidak perlu menggunakan
semua produk keluaran pabrik lampu tersebut untuk ditunggui dan dicatat lamanya
nyala lampu tersebut.
Dengan meneliti secara sampel diharapkan hasil yang telah diperoleh akan
memberikan kesimpulan dan gambaran yang sesuai dengan karakteristik populasi.
Jadi, hasil kesimpulan dari penelitian sampel dapat digeneralisasikan terhadap
populasi.
2.2.6 Kesalahan Sampling dan Kesalahan Non-Sampling
Dapat dikatakan setiap penelitian memiliki potensi kesalahan terlebih pada
penelitian yang bertujuan untuk mengamati perilaku manusia (behavioral sciences).
Kesalahan pertama bersumber dari karakteristik manusia yang tidak pernah tetap,
atau dengan kata lain,, manusia memiliki sifat yang selalu berubah. Hal ini biasanya
sudah sangat dipahami oleh peneliti perilaku, dan peneliti bertanggung jawab untuk
mengendalika atau mengurangi sebanyak mungkin kesalahan pada penelitian. Namun
demikian, apa pun langkah penelitian yang dilakukan, kesalahan selalu ada. Sudjana
(dalam Riduwan, 2016: 29) mengatakan bahwa "Berdasarkan pengalaman waktu
penelitian ada dua macam kesalahan pokok yang perlu dicermati dan dapat terjadi,
yaitu: kesalahan sampling dan kesalahan non-sampling”.

109
1. Kesalahan Sampling.
Kesalahan sampling (sampling error) , yaitu kesalahan yang berhubungan
dengan pemilihan sampel dari suatu populasi.Kesaiahan ini terjadi disebabkan oleh
kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak lengkap tentang populasi dan penelitian
hanya dilakukan berdasarkan sampel. Jelas bahwa penelitian terhadap sampel yang
diambil dari populasi dan penelitian terhadap populasi itu sendiri, kedua penelitian
dilakukan dengan prosedur yang sama, tetapi hasilnya akan berbeda. Perbedaan
antara hasil sampel dan hasil yang akan dicapai jika prosedur yang sama digunakan
dalam sampling juga digunakan dalam sensus (populasi) dinamakan kesalahan
sampling. Para ahli statistika telah berusaha untuk mengukur dan mempertimbangkan
kesalahan ini supaya dapat dikontrol. Adapun cara untuk dapat melakukannya ialah
dengan jalan mengambil sampel berdasarkan sampel acak (random sampling) dan
memperbesar ukuran sampel.
2. Kesalahan Non-Sampling
Kesalahan non-sampling (non-sampling error) yaitu kesalahan yang berasal
dari setiap aspek penelitian seperti kesalahan pengukuran, kesalahan analisis data,
pengaruh situasi penelitian, atau bahkan kesalahan yang berasal dari sumber yang
tidak diketahui, yang tidak dapat diidentifikasi, dikontrol atau dihilangkan (Morissan,
2014: 110).
Kesalahan pengukuran dapat disebabkan banyak hal, namun beberapa faktor
terpenting antara lain, seperti :
1. Instrumen pengukuran yang tidak dirancang dengan baik
2. Mengajukan pertanyaan yang salah kepada responden, atau salah mengajukan
pertanyaan
3. Kesalahan instrumen pengumpulan data
4. Tenaga pengumpul data yang tidak terlatih
5. Menggunakan hanya satu tipe pengukuran
6. Kesalahan pada saat pemasukan data (data input) dan
7. Penggunaan metode statistik yang salah dalam menganalisis data.
Laporan penelitian sering kali menggunakan pernyataan, “ Hasil penelitian ini
‘membuktikan’..”. Walaupun setiap penelitian bertujuan mencari kebenaran tetapi
faktanya “kebenaran yang sesungguhnya” jarang diperoleh. Hal ini disebabkan setiap
nilai, pengukuran, atau pengamatan memilki derajat kesalahan tertentu. Kesalahan
pengukuran dalam dibagi lagi menjadi dua kategori yaitu kesalahan random dan
kesalahan sistematis (Morissan, 2014: 111).
1. Kesalahan random (random error) yang terjadi manakala pengukuran
(measurement) dan analisis menunjukkan perbedaan secara tidak konsisten
dari satu penelitian ke penelitian lainnya. Hasil penelitian menunjukkan suatu

110
arah tertentu namun ketika penelitian diulang kembali hasilnya menunjukkan
arah yang berbeda. Kesalahan random disebabkan oleh variabel yang tidak
diketahui, dan tidak dapat diperkirakan sehingga sulit untuk diketahui dan
diperbaiki.
2. Kesalahan sistematis (systematic error) adalah kesalahan menghasilkan
kesimpulan yang tidak tepat atau tidak benar (invalid) secara terus-menerus
(konsisten) dalam arah yang sama, atau konteks yang sama, dan karenanya
dapat diperkirakan. Tidak seperti kesalahan random, pada kesalahan
sistematis, peneliti mampu mengidentifikasi penyebab kesalahan dan
menghilangkan pengaruhnya.
Sedangkan menurut Sudjana( dalam Riduwan, 2016: 29), kesalahan sampling
dapat terjadi dalam setiap penelitian, apakah itu berdasarkan sampling ataukah
berdasarkan sensus. Beberapa penyebab terjadinya kesalahan non-sampling adalah:
1. Populasi tidak diidentifikasi sebagaimana mestinya.
2. Populasi yang menyimpang dari populasi yang seharusnya dipelajari.
3. Angket tidak dirumuskan sebagaimana mestinya yang memenuhi standar
validitas
4. Istilah-istilah telah didefinisikan kurang tepat atau telah digunakan tidak
secara konsisten (reliabel).
5. Para responden tidak memberikan jawaban yang akurat,menolak untuk
menjawab atau tidak ada ditempat ketika petugas (peneliti) datang untuk
melakukan wawancara.
Selain dari pada itu, kesalahan non-samping bisa terjadi pada waktu mencatat
data, melakukan tabulasi dan melakukan perhitungan-perhitungan. Kesalahan ini
dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan pada penelitian. Oleh karena itu, cukup jelas
bahwa kejadian tersebut perlu dihindari.

2.2.7 Langkah-langkah Pengambilan Sampel


Selain itu, menurut Hadi (2015:97-101) ada beberapa petunjuk untuk
mengambil sampel antara lain :
1. Tentukan lebih dahulu luas daerah generalisasi baru kemudian menentukan
sampelnya;
2. Berilah batas-batas yang tegas tentang sifat-sifat populasi;
3. Tentukan sumber-sumber informasi tentang populasi;
4. Tetapkan besar kecilnya sampel; dan
5. Menetapkan teknik sampling

111
Adapun penjelasan lebih lengkapnya dijabarkan sebagai berikut (Hadi, 2015:
97)
1. Tentukan lebih dahulu luas daerah generalisasi baru kemudian menentukan
sampelnya
Tentukan Lebih Dahulu Luas Daerah Generalisasi Baru Kemudian Menentukan
Sampelnya Banyak penelitian menjadi turun nilainya karena generalisasi
kesimpulannya terlalu luas daripada yang seharusnya. Satu saran penting yang perlu
diperhatikan adalah "Simpulkan apa yang dapat disimpulkan. Jangan simpulkan apa
yang tak dapat disimpulkan." Jika kita hanya meneliti satu kelas suatu jenis sekolah,
kesimpulannya tak perlu diperluas sampai ke kelas-kelas lain, apalagi sampai
sekolah-sekolah lain. Biasanya orang terlalu bernafsu untuk menggeneralisasi yang
lebih luas daripada semestinya karena (1) dia menginginkan hasil penelitiannya
"berguna" untuk peristiwa-peristiwa yang lebih luas; (2) dia menginginkan karyanya
mendapat "harga" yang lebih tinggi; dan (3) dia mendapat kesan-kesan umum bahwa
kelas-kelas lain atau sampel-sampel lain juga menunjukkan kesamaan dengan kelas-
kelas atau sampel-sampel yang ia selidiki. Ketiga faktor itu memang merupakan
motif yang sangat kuat. Akan tetapi, jika tidak ada dasar metodologi yang tepat untuk
menjadi landasan bagi pelaksanaan motif-motif itu, hasilnya justru akan menjadi
sebaliknya dan sangat menyesatkan: berguna tidak, berharga pun tidak. Perhatikanlah
baik-baik prosedur metodologi yang tepat: Tentukan lebih dahulu luas populasi
sebagai daerah generalisasi, baru kemudian tentukan sampelnya sebagai daerah
penelitian.
2. Berilah Batas-batas yang Tegas tentang Sifat-sifat Populasi
Sekali luas populasi telah ditetapkan, penegasan tentang sifat-sifat populasi itu
harus segera menyusul karena penegasan ini sangat penting. Populasi tak perlu
berupa manusia. Populasi dapat berupa alat-alat pelajaran, cara-cara mengajar,
kurikulum, cara-cara administrasi, dan sebagainya. Semuanya itu harus ditegaskan
jika dijadikan populasi objek penelitian. Alat-alat pengajaran ada bermacam-macam.
Demikian juga dengan cara mengajar, kurikulum, cara administrasi. Ketidakjelasan
tentang batas-batas luas dan ciri-ciri masing-masing akan menimbulkan kebingungan,
ketidakjelasan, keragu-raguan tentang objek persoalan maupun reliabilitas
generalisasinya. Sekali lagi perlu ditekankan: Harga dari suatu riset tidak bergantung
kepada luasnya daerah dan sifat-sifat populasi, melainkan pada perimbangan antara
konklusi dengan dasar-dasar konklusi. Suatu riset tentang suatu sistem pendidikan di
sebuah kota mungkin sudah cukup tinggi harganya sekiranya dasar generalisasinya
tidak lebih sempit dan tidak lebih luas daripada untuk kota itu. Dalam hal ini yang
perlu diperhatikan adalah menentukan lebih dulu luas dan sifat-sifat populasi,
memberikan batas-batas yang tegas, baru kemudian menetapkan sampelnya. Tidak
pada tempatnya jika langkah yang sebaliknya yang ditempuh, yaitu menetapkan
sampel lebih dahulu dan baru kemudian populasinya. Banyak mahasiswa yang keliru

112
langkah, yaitu memilih suatu sampel, kemudian "membayangkan" mana populasi dari
sampel itu. Jika ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang ikut menentukan besar
kecilnya program riset, misalnya saja pertimbangan biaya, waktu, dan tenaga, maka
pertimbangan-pertimbangan itu hendaknya diperhatikan dalam penetapan populasi,
bukan penetapan sampel.
3. Tentukan Sumber-sumber Informasi tentang Populasi
Ada bermacam-macam sumber informasi tentang populasi yang dapat dijadikan
petunjuk untuk mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri populasi. Daftar hasil suatu
sensus pada umumnya merupakan sumber yang paling lengkap. Di samping itu
dokumen-dokumen lain yang disusun secara khusus oleh bermacam-macam instansi
dan organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, inspeksi pengajaran, organisasi-
organisasi sosial dan kebudayaan, dan sebagainya, juga dapat membantu seorang
peneliti yang menaruh perhatian pada persoalan-persoalan khusus seperti kejahatan
anak-anak, banyaknya sekolah swasta, berbantuan dan negeri, anak-anak
gelandangan, dan lain-lain. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian dalam
menggunakan sumber-sumber informasi itu adalah validitas (kebenaran) dari apa
yang dimuat di dalamnya. Coba teliti kapan dokumen itu dibuat, bagaimana data
dikumpulkan, dan bagaimana data diklasifikasi dan dianalisis. Janganlah dikira
bahwa dokumen-dokumen itu, betapapun baiknya, selalu terbarukan jika padanya
tidak terdapat analisis-analisis yang tepat tentang kecenderungan perubahan (tren)
perkembangan peristiwa-peristiwa yang dicatatnya. Jadi, misalnya, jika pada 1954
dicatat bahwa jumlah anak-anak dalam tiap-tiap keluarga rata-rata ada 4,5 orang,
janganlah kita menganggap bahwa pada tahun 1965 jumlah rata-rata masih 4,5 orang
tanpa memperhitungkan kemungkinan perubahannya, turun atau naik. Demikian juga
tentang penghasilan, pendidikan keluarga, perimbangan sekolah-sekolah swasta,
berbantuan dan negeri, dan sebagainya. Peringatan yang sama berlaku juga untuk
tesis, disertasi, naskah-naskah kerja, dan sebagainya jika akan digunakan sebagai
sumber seinformasi.
4. Tetapkan besar kecilnya sampel
Masalah berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk penelitian
sering menjadi soal yang serius. Umumnya orang menetapkan besar kecilnya sampel
itu hanya atas dasar pertimbangan pertimbangan praktis seperti biaya, kesempatan,
dan tenaga. Ini terutama terjadi pada riset-riset dalam bidang pendidikan dan
psikologi.
Sebenarnya tidak ada ketetapan mutlak berapa persen suatu sampel harus
diambil dari populasi. Tidak adanya ketetapan yang mutlak itu tidak perlu
menimbulkan keragu-raguan pada seorang peneliti. Salah satu usaha untuk
"menampung" kesalahan yang mungkin dialami karena kurang besarnya sampel
adalah dengan memberikan syarat-syarat yang lebih berat bagi penelitian yang

113
mengutamakan sampel kecil. Salah satu dari syarat-syarat itu kita lihat misalnya
dalam menguji signifikansi data yang diperoleh dari sampel, misalnya saja untuk
menyimpulkan adanya korelasi antara faktor X dan faktor Y untuk suatu sampel yang
jumlahnya 100 orang dengan risiko kemungkinan benar 95% dan risiko salah 5%
diperlukan hanya suatu bilangan korelasi sebesar + 0,195 (atau lebih), sedangkan
untuk keperluan yang sama jika jumlah sampelnya hanya 10 orang diperlukan
bilangan sedikitnya + 0,632 (lihat kembali pelajaran statistik. Beri perhatian khusus
terutama pada subbab tentang Kekuatan Uji Statistik, di mana diberi petunjuk-
petunjuk mengenai bagaimana mengendalikan besarnya kesalahan menolak hipotesis
yang benar - kesalahan tipe I - dan kesalahan menerima hipotesis yang salah -
kesalahan tipe II- pada sampel-sampel yang berbeda-beda besarnya). Suatu hal yang
justru perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas populasi. Jika populasi
homogen, jumlah sampel hampir tidak menjadi persoalan (Gambarkan: suatu jenis
periuk dibuat oleh mesin dan oleh tangan. Periuk-periuk yang dibuat oleh mesin dapat
dijamin lebih homogen bentuknya daripada yang dibuat oleh tangan. Karena itu,
untuk meneliti penyimpangan pola bentuk dari periuk- periuk yang dibuat oleh mesin,
orang cukup meneliti beberapa periuk yang dihasilkan oleh mesin itu. Untuk meneliti
hal yang sama dari periuk-periuk yang dibuat oleh tangan manusia diperlukan contoh-
contoh buatan tangan yang jauh lebih banyak). Akan tetapi, jika keadaan populasi
sangat heterogen, peneliti harus berpikir dua kali. Pertama, dia harus meneliti
kategori-kategori heterogenitas. Dalam kelas, misalnya, selalu ada anak-anak yang
pandai, sedang, dan kurang. Di suatu kota yang agak besar biasanya ada sekolah-
sekolah swasta, berbantuan, dan negeri. Itu semuanya harus diperhitungkan lebih
dahulu. Kedua, berapa besar populasi dalam tiap-tiap kategori itu. Jika dalam suatu
kelas anak-anak yang pandai, sedang, dan kurang berbanding 2 :5 2, maka dalam
sampel perbandingan itu perlu diperhatikan. Demikian juga jika peneliti ingin
memperhatikan perbandingan antara sekolah-sekolah swasta, bantuan, dan negeri.
Jenis kelamin (pria-wanita), tempat tinggal (kota-desa), jabatan orang tua (pegawai,
petani, pedagang), dan lain-lain. Mungkin sekali perlu mendapat perhatian untuk
menetapkan jumlah subjek dalam sampel dengan perimbangan yang "riil" dari
individu-individu yang ada dari tiap-tiap golongan populasi itu. Semuanya itu dapat
diperhitungkan dengan teliti jika memang sudah tersedia informasi yang lengkap
tentang keadaan populasi dari tiap-tiap subgolongan itu. Oleh karena itu, informasi
tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusahakan. Satu nasihat mungkin
perlu diberikan: menetapkan jumlah sampel yang terlalu banyak selalu lebih baik
daripada kurang.
5. Menentukan Teknik Sampling
Sampel yang tidak mewakili populasi disebut sampel yang bias, dan sampling
yang menghasilkan sampel yang bias itu disebut sampling yang bias. Salah satu
contoh dari sampling yang bias adalah sampling tidak dari seluruh populasi, tetapi
hanya dari salah satu golongan populasi, sedangkan generalisasi dikenakan kepada

114
seluruh populasi. Hal semacam itu terjadi, jika, misalnya untuk mengadakan
penelitian tentang penghasilan rata-rata orang Indonesia, orang hanya mengambil
sampel dari orang-orang Indonesia yang kayaraya atau yang miskin. Kesimpulan dari
penelitian pada sampel yang bias sudah tentu juga merupakan kesimpulan yang bias.
Persoalan tentang teknik sampling itu begitu penting dalam siapan-persiapan peneli
tian ilmiah sehingga perlu dibahas tersendiri. Dalam subbab-subbab berikut akan
dibahas teknik random sampling dan teknik non-random sampling. Kemudian juga
akan dibahas jenis-jenis sampel, seperti sampel bertingkat, sampel proporsional, dan
lainnya yang sering digunakan dalam riset. Perlu terlebih dahulu diperingatkan agar
istilah sampling tidak disamakan dengan istilah sampel. Sampling yang dimaksud
adalah cara yang digunakan untuk mengambil sampel. Sedangkan, sebutan untuk
suatu sampel biasanya mengikuti teknik dan atau jenis sampling yang digunakan.
Jadi, misalnya dari teknik random sampling akan dihasilkan sampel yang random,
dari sampling insidental akan dihasilkan sampel insidental. Dan random sampling
proporsional adalah jenis sampel proporsional yang diambil dengan teknik random
sampling.
Terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan dalam memutuskan apakah peneliti
perlu menggunakan penarikan sampel probabilitas dan nonprobabilitas (Morissan,
2014: 113).
1. Tujuan penelitian
Tidak semua penelitian dirancang untuk memperoleh hasil yang akan
digunakan untuk melakukan generalisasi terhadap populasi, tetapi lebih untuk
meneliti hubungan variabel, atau mengumpulkan data eksploratif bagi
penyusunan kuesioner atau instrumen pengukuran. Sampling nonprobabilitas
sangat cocok digunakan pada penelitian semacam ini.
2. Biaya versus nilai
Suatu sampel harus mampu menghasilan nilai terbaik bagi peneliti
dengan biaya seminimal mungkin. Jika biaya penarikan sampel probabilitas
terlalu mahal dalam hubungannya dengan jenis, dan kualitas informasi yang
akan diperoleh (tujuan penelitian), maka penggunaan sampling nonprobabilitas
biasanya sudah cukup memuaskan.
3. Keterbatasan waktu
Dalam banyak kasus, peneliti perlu mengumpulkan informasi
pendahuluan dalam waktu terbatas. Biasanya penelitian semacam ini
dilakukan atas perminatan pihak tertentu seperti sponsor, manajemen
perusahaan, media massa dan sebagainya. Karena penarikan sampel

115
probabilitas sering kali sangat memakan waktu dalam pengerjaannya, maka
suatu sampling nonprobabilitas dapat memenuhi kebutuhan ini.
4. Nilai kesalahan yang dapat diterima
Dalam suatu penelitian pendahuluan (pilot study) sering kali faktor
error atau kesalahan tidak menjadi perhatian utama, maka penggunaan sampel
nonprobabilitas biasanya sudah cukup memadai. Walaupun sampel
nonprobabilitas dalam beberapa kasus memiliki sejumlah keunggulan, namun
sampel probabilitas lebih dianjurkan pada penelitian yang bertujuan untuk
menerima atau menolak hipotesis yang hasilnya akan digeneralisasi kepada
populasi

2.2.8 Menentukan Ukuran Sampel


Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya
sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian suatu objek. Untuk menentukan
besarnya sampel bisa dilakukan dengan statistik atau berdasarkan estimasi penelitian.
Pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel
yang benar-benar dapat berfungsi atau dapat menggambarkan keadaaan populasi yang
sebenarnya, dengan istilah lain harus representatif (mewakili) (Sugiyono, 2016: 81).
2.2.9 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ukuran Sampel
Berdasarkan pendapat Hoffmann (dalam Fei Shi, 2015),ada beberapa faktor
yang mempengaruhi ukuran sampel, yaitu:
The sample size is mainly decided by the following (1) the degree of variation
of the survey objects; (2) requirements and the allowable size of error, that is,
accuracy requirements; (3) the required confidence coefficient, which, in
general, is taken as 95%; (4) the population; and (5) the sampling method.
The more complex the studied question is and the larger the degree of
variation is, the larger the sample size must be. The more complex the studied
question is and the larger the degree of variation is, the larger the sample size
must be. The higher the required accuracy is, the larger the sample size
should be. The larger the population is, the larger the corresponding sample
size should be, but the relationship is not linear. At the same time, the
sampling method also determines the sample size.

Sebenarnya ada berbagai rumus untuk menghitung ukuran sampel misalnya


dari Cochran, Cohen dll. Bila keduanya digunakan untuk menghitung ukuran sampel,

116
terdapat sedikit perbedaan jumlahnya. Oleh karena itu, sebaiknya yang dipakai adalah
jumlah ukuran sampel yang paling besar (Sugiyono, 2015: 82).
a. Rumus Isaac dan Michael
Untuk menentukan jumlah sampel dari populasi pada penelitian ini yaitu
menggunakan rumus Isaac dan Michael. Rumus Isaac dan Michael ini telah diberikan
hasil perhitungan yang berguna untuk menentukan jumlah sampel berdasarkan tingkat
kesalahan 1%, 5%, dan 10% (Sugiyono, 2015: 67). Di bawah ini rumus Isaac dan
Michael.
. N .P.Q
S= 2
d . ( N −1 ) +. P . Q

Keterangan :
S : Jumlah sampel
: Chi Kuadrat yang harganya tergantung harga kebebasan dan tingkat
kesalahan. Untuk derajat kebebasan 1 dan kebebasan 5% harga Chi
Kuadrat = 3,841. Harga Chi Kuadrat untuk kesalahan 1% = 6,634 dan
10% = 2,706.
N : Jumlah Populasi
P : Peluang benar (0,5)
Q : Peluang salah (0,5)
d :Perbedaan antara rata-rata sampel dengan rata-rata populasi. Perbedaan bisa
0,01;0,05, dan 0,10.
Tabel Distribusi χ²
α 0.1 0.05 0.025 0.01 0.005
db 1 2.70554 3.84146 5.02390 6.63489 7.87940
2 4.60518 5.99148 7.37778 9.21035 10.59653
3 6.25139 7.81472 9.34840 11.34488 12.83807
4 7.77943 9.48773 11.14326 13.27670 14.86017
5 9.23635 11.07048 12.83249 15.08632 16.74965

6 10.64464 12.59158 14.44935 16.81187 18.54751


7 12.01703 14.06713 16.01277 18.47532 20.27774
8 13.36156 15.50731 17.53454 20.09016 21.95486
9 14.68366 16.91896 19.02278 21.66605 23.58927

117
10 15.98717 18.30703 22 0.48320 23.20929 25.18805

11 17.27501 19.67515 21.92002 24.72502 26.75686


12 18.54934 21.02606 23.33666 26.21696 28.29966
13 19.81193 22.36203 24.73558 27.68818 29.81932
14 21.06414 23.68478 26.11893 29.14116 31.31943
15 22.30712 24.99580 27.48836 30.57795 32.80149

16 23.54182 26.29622 28.84532 31.99986 34.26705


17 24.76903 27.58710 30.19098 33.40872 35.71838
18 25.98942 28.86932 31.52641 34.80524 37.15639
19 27.20356 30.14351 32.85234 36.19077 38.58212
20 28.41197 31.41042 34.16958 37.56627 39.99686

Contoh:
Peneliti ingin mengetahui potensi dan masalah dari suatu objek dengan metode
kuantitatif. Pada objek tersebut (populasi) terdapat 1000 oranng. Hitunglah jumlah
sampel bila populasi 1000 orang, tingkat kesalahan 5 % dan perbedaan antara rata-
rata sampel dengan rata-rata populasi=0,05.
Dengan rumus Isaac dan Michael selanjutnya dapat dihitung. (Harga yang
diperoleh dari tabel tidak dikuadratkan.)
. N .P.Q
S= 2
d . ( N −1 ) +. P . Q
3,841 x 1000 x 0,5 x 0,5
S= 2
0,05 ( 1000−1 ) x 3,842 x 0,5 x 0,5
S=277
Jadi, untuk populasi 1000 dengan tingkat kesalahan 5% jumlah sampelnya 277.

b. Rumus Slovin
Teknik menghitung ukuran sampel dapat pula dilakukan dengan
menggunakan teknik Slovin menurut Sugiyono (2018: 87). Dalam penarikan sampel
dengan teknik Slovin, jumlahnya harus representative agar hasil penelitian dapat
digeneralisasikan dan perhitungannya pun tidak memerlukan tabel jumlah sampel,
namun dapat dilakukan dengan rumus dan perhitungan sederhana.
Rumus Slovin untuk menentukan sampel adalah sebagai berikut :

118
N
n=
1+ N ¿ ¿

n = Ukuran sampel/jumlah responden


N = Ukuran populasi
E = Presentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa
ditolerir; e=0,1
Dalam rumus Slovin ada ketentuan sebagai berikut:
Nilai e = 0,1 (10%) untuk populasi dalam jumlah besar
Nilai e = 0,2 (20%) untuk populasi dalam jumlah kecil
Jadi rentang sampel yang dapat diambil dari teknik Solvin adalah antara 10-20 %
dari populasi penelitian.

Contoh 1:
Jumlah populasi dalam sebuah penelitian adalah sebanyak 877 karyawan,
presentase kelonggaran yang digunakan adalah 10% dan hasil perhitungan dapat
dibulatkan untuk mencapai kesesuaian.
877
n= 2
1+877 (0,10)
877
n= =89,7
9,77
Berdasarkan perhitungan diatas sampel yang mejadi responden dalam
penelitian ini di sesuaikan menjadi sebanyak 100 orang atau sekitar 12% dari seluruh
total karyawan PT. Batik Danar Hadi Surakarta, hal dilakukan untuk mempermudah
dalam pengolahan data dan untuk hasil pengujian yang lebih baik.

Contoh 2:
N
n=
1+ N ¿ ¿

dimana :

119
n : ukuran sampel
N : Jumlah Populasi
e : Posisi yang ditetapkan (5%)
Berdasarkan rumus tersebut maka jumlah sampel yang akan diteliti yaitu

Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 99,81 atau
dibulatkan menjadi 100 siswa.

2.2.10 Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu cara
mengambil sampel yang representatif dari populasi. Pengambilan sampel ini harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat
mewakili dan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Ada dua
macam teknik pengambilan sampling dalam penelitian yang umum dilakukan yaitu:
probability sampling dan nonprobability sampling.
1. Macam-macam Teknik Pengambilan Sampel
Adapun perbedaan antara teknik probability sampling dan nonprobability
sampling dapat dilihat pada tabel berikut.
Probability Sampling Nonprobability Sampling
Memilih individu yang mewakili Memilih orang atau tempat terbaik yang dapat
memahami fenomena yang sedang terjadi.
Melihat sampel sebagai Membangun pemahaman yang lebih mendetail
Populasi a. Menyediakan informasi yang lebih
bermakna
Membuat pernyataan dalam

120
populasi b. Membantu memahami suatu fenomena
mewakili
Menguji teori yang dijelaskan oleh
populasi. c. Mendorong keberanian berbicara bagi
narasumber yang jarang berbicara
(Yaniawati, 2016: 95)
Kunci perbedaan antara sampel nonprobabilitas dan probabilitas adalah terletak
pada peluang atau random. Random berarti pengambilan bagian dari keseluruhan
dengan cara sistematik dan mekanik. Dengan demikian, pengambilan sampel
probabilitas adalah proses pengambilan sampel dengan didasarkan pada
konsepseleksi random, atau sebuah prosedur sistematis yang memastikan bahwa
setiap elemen populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai
sampel (Yaniawati, 2016: 95).
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang
yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota
sampel. Teknik ini meliputi, simple random sampling, proportionate stratified random
sampling, disproportionate stratified random, sampling area (cluster) ( Sugiyono,
2015: 88). Prosedur sistematis ini tidak pernah sembarangan hanya sampel
probabilitas yang memberikan perkiraan presisi. Hanya sampel probabilitas yang
menawarkan generalisasi temuan untuk populasi yang diamati. Dalam sampel
probabilitas ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yakni (a) teknik sampling,
dan (b) ukuran sampling
a. Simple Random Sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu
(Sugiyono, 2015: 88). Hal ini sejalan dengan pendapat Riduwan (2016: 12) bahwa
Simple random sampling ialah cara pengambilan sampel dari anggota populasi
dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata ( tingkatan ) dalam anggota
populasi tersebut. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen
(Sugiyono, 2015: 88). Random sampling adalah sampling tanpa pandang bulu.
Teknik sampling ini bukanlah suatu teknik sembarangan seperti pendapat beberapa
orang yang belum mempelajari dasarnya.
Random sampling bertitik tolak pada prinsip-prinsip matematis yang kukuh karena
telah diuji dalam praktik. Sampai sekarang teknik ini dipandang sebagai teknik yang
paling baik dan dalam riset mungkin merupakan satu-satunya teknik terbaik Dalam
random sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri atau bersama
diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Oleh karena itu,
tidak ada alasan untuk menganggap sampel random sebagai sampel yang bias.
Sampel random tidak identik dengan apa yang disebut sampel insidental, sebab

121
sampel insidental diperoleh semata-mata dari keadaan-keadaan yang insidental atau
kebetulan. Teknik sampling incidental inilah yang sukar dipertanggung jawabkan
secara ilmiah karena tidak menggunakan prinsip ilmiah yang kuat. Adapun cara-cara
atau prosedur yang digunakan untuk random sampling adalah cara undian, cara
ordinal & randomisasi dari tabel bilangan random (Hadi, 2015: 99).

Penjelasan lebih lengkap mengenai cara-cara atau prosedur yang digunakan


untuk random sampling dijabarkan sebagai berikut. (Hadi, 2015: 99).
1. Cara Undian
Cara ini dilakukan sebagaimana kita mengadakan undian. Prinsip langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Buatlah suatu daftar yang berisi semua subjek, objek, gejala, peristiwa, atau
kelompok-kelompok yang ada dalam populasi.
b. Berilah kode-kode yang berupa angka-angka untuk tiap-tiap subjek, objek,
gejala, peristiwa, atau kelompok yang dimaksudkan dalam a).
c. Tuliskan kode-kode itu masing-masing dalam satu lembar kertas kecil.
d. Gulung kertas itu baik-baik.
e. Masukkan gulungan-gulungan kertas itu ke dalam kaleng atau semacamnya.
f. Kocok baik-baik kaleng itu.
g. Ambillah kertas gulungan itu sebanyak yang dibutuhkan
Jika cara ini dilakukan terhadap semua individu dalam populasi, teknik ini
disebut pengambilan sampling tak bersyarat. Akan tetapi sangat sukar untuk
menggunakan cara ini jika jumlah subjek dalam populasi sangat besar, atau jika kita
belum mengetahui dengan pasti semua individu dalam populasi.
2. Cara Ordinal
Cara ini diselenggarakan dengan mengambil subjek dari atas kebawah. Ini
dilakukan dengan mengambil mereka yang bernomor ganjil, genap, nomor kelipatan
angka tiga, lima, sepuluh, dari suatu daftar yang telah disusun. Prinsip apa pun yang
dipakai dalam cara ordinal ini langkah-langkahnya adalah:
a. Buat suatu daftar seperti dalam cara undian. Daftar ini dapat disusun menurut
abjad, tempat tinggal, dan sebagainya.
b. Ambil dari mereka yang ada dalam daftar itu menurut ketentuan yang sudah
ditetapkan. Misalnya, siapa-siapa bernomor ganjil; siapa-siapa yang bernomor
kelipatan angka 5, 10, 25..; siapa-siapa yang bernomor lima yang pertama dari
urutan daftar abjad; atau siapa-siapa yang mengisi sepuluh nomor yang
terakhir dari tiap-tiap halaman daftar; dan sebagainya.
c. Semuanya dilakukan sampai jumlah yang dibutuhkan terpenuhi.
3. Randomisasi dan Tabel Bilangan Random
Cara ini paling banyak digunakan para peneliti karena selain prosedurnya
yang sangat sederhana, juga kemungkinan penyelewengan dapat dihindarkan sejauh-
jauhnya. Biasakanlah menggunakan cara ini. Tabel bilangan random umumnya
terdapat pada buku-buku statistik. Salah satu dari bentuk tabel bilangan random dapat
kita lihat pada contoh halaman berikut ini. Bilangan-bilangan itu ditetapkan secara

122
random sehingga subjek yang ditugaskan dengan bilangan-bilangan itu sudah
terhitung sebagai subjek random.Adapun penggunaan tabel tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Buat daftar subjek.
b. Beri nomor urut pada tiap-tiap subjek
c. Ambil pensil dan jatuhkan ujungnya pada tabel bilangan random itu di
sembarang tempat. Catat dua angka yang terdekat dengan jatuhnya ujung
pensil. Dua angka ini merupakan bilangan angka petunjuk baris. Jika misalnya
ujung pensil jatuh dekat pada angka 03, maka baris ke-3 dari atas akan
dipakai. Tetapi jika ujung pensil jatuh dekat pada angka 30, maka baris yang
ke-30 lah yang akan dipakai sebagai petunjuk baris.
d. Ulangi langkah c) untuk memperoleh dua angka lagi yang akan menjadi
bilangan petunjuk kolom. Misalnya dua angka yang berdekatan dengan ujung
pensil itu bilangan 14, maka kolom 14 dijadikan kolom petunjuk.
e. Misalkan dari langkah-langkah c) dan d) kita peroleh bilangan-bilangan 36
dan 20, maka bacalah baris ke-36 ke kanan sampai menyilang kolom 20.
Tandailah bilangan di persilangan baris ke 36 dan kolom 20 itu.
f. Untuk populasi yang kurang dari 10, satu angka itu sudah cukup untuk
mengidentifikasi anggota sampel yang pertama. Akan tetapi, bila populasinya
10 ke atas tetapi lebih kecil dari 100, maka harus diambil dua angka untuk
mengidentifikasi anggota sampel yang pertama. Oleh sebab itu, ambillah
angka di per silangan baris ke-36 dan kolom ke-20 itu tambah dengan satu
angka di belakangnya untuk memperoleh dua angka identifikasi anggota
sampel yang pertama itu. Jika populasinya 100 orang ke atas tetapi lebih kecil
dari 1000, maka harus diambil 3 angka; dan seterusnya. Jika
999<populasi<10.000 maka diambil empat angka.
g. Selanjutnya untuk mengambil anggota sampel yang kedua, ketiga, keempat
dan seterusnya, ambillah bilangan-bilangan diatas dan atau di bawah bilangan
anggota sampel yang pertama tadi. Pengambilan itu dilakukan terus sampai
jumlah anggota sampel yang kita perlukan terpenuhi sekiranya bilangan-
bilangan dalam kolom yang bersangkutan telah terbaca habis, sedangkan
jumlah sampel belum terpenuhi, lakukan kembali langkah c) sampai dengan
g). Kalau perlu lakukan berulang-ulang sampai jumlah sampel terpenuhi.
h. Jika ada satu bilangan yang sama tertunjuk dua kali atau lebih, bilangan-
bilangan itu hanya dapat dipakai satu kali saja (kecuali untuk sampel dengan
pergantian). Apabila ada bilangan random yang tertunjuk, tetapi bilangan itu
tak terdapat dalam daftar subjek populasi (yang dibuat dengan langkah-
langkah a) dan b) maka bilangan itu dilewati sampai kepada bilangan lain
yang menjadi nomor dari subjek dalam daftar populasi.
Randomisasi dapat dikenakan pada semua, dalam populasi, dapat pula
dikenakan pada sebagian saja dari individu-individu dalam populasi itu. Inilah yang
membedakan antara apa yang disebut random sampling tak terbatas dibandingkan
random sampling terbatas. Ramdom sampling tak terbatas kadang-kadang disebut

123
juga random samplmg tak bersyarat. Ini adalah pengambilan random sampling yang
dikenakan pada seluruh individu dalam populasi yang sudah didaftar lebih dahulu.
Semua subjek dalam populasi tanpa kecuali dan tanpa syarat diberi kesempatan vang
sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Karena itu, random sampling tak terbatas
merupakan random sampling terhadap populasi subjek atau atau populasi individu.
Random sampling terbatas disebut juga random sampling bersyarat. Random
sampling ini bukanlah random sampling terhadap populasi individu, melainkan
random sampling terhadap sub-populasi individu, populasi grup, populasi daerah atau
populasi kluster. Apa yang disebut sub-populasi random sampling, random sampling
grup, area sampling probabilitas, atau random sampling klaster termasuk dalam
kategori random sampling terbatas ini.
Peneliti sering kali menggunakan suatu tabel nilai acak (random) untuk
menghasilkan suatu sampel random sederhana. Misal, seorang peneliti ingin
mengetahui bagaimana media televisi menggambarkan, atau memotret kelompok
masyarakat tertentu. Ia menarik suatu sampel yang terdiri dari 10 program siaran
televisi yang ditayangkan pada waktu siaran utama (prime time) dari suatu populasi
yang memiliki 100 saluran siaran. Peneliti memberi nomor setiap saluran mulai dari
00 hingga 99 dan kemudian memilih 10 nomor dari tabel nilai random. Suatu titik
awal yang akan menjadi nomor permulaan dipilih secara acak. Tidak ada satu cara
tertentu dalam memilih nomor awal, semuanya tergantung pada keinginan peneliti.
Peneliti kemudian memilih sembilan nomor sisanya dengan menelusuri tabel ke atas,
ke bawah, ke kiri dan ke kanan tabl atau bahkan memilih secara acak setiap nomor
yang tersedia pada tabel.

b. Proportionate Stratified Random Sampling


Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak
homogeny dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu
berstrata.

c. Disproportionate stratified random sampling


Disproportionate stratified random sampling ialah pengambilan sampel dari
anggota populassi secara acak dan berstrata tetapi sebagian ada yang kurang
proporsional pembagiannya, dilakukan sampling ini apabila anggota populasinya
heterogen/ tidak sejenis (Riduwan, 2016: 14).
Contoh:
(1) Jumlah pegawai pada Dinas Bangunan Kota Bandung 2019
a. Kepala Dinas 1 orang = 1 orang
b. Kasubag Tata Usaha = 1 orang
c. Kepala Seksi pada Dinas = 5 orang

124
d. Kepala Sub Seksi pada Dinas =19 orang
e. Kepala Urusan pada Dinas = 4 orang
f. Kepala Cabang Dinas = 6 orang
g. Kepala Urusan pada Cabang Dinas = 6 orang
h. Kepala Sub Seksi pada Cabang Dinas 12 orang
i. Pelaksana/Staf = 128 orang.
Dari jumlah pegawai yang berasal dari Kepala Dinas = 1orang dan Kasubag Tata
Usaha =1 orang tersebut diambil dijadikan sampel karena terlalu kecil bila
dibandingkan dengan staf lain.
(2) Jumlah pegawai pada perusahaan mobil di Kota CJDW
a. Direktur Utama =1 orang
b. Kepala Departemen =5 orang
c. Kepala Divisi= 25 orang
d. Kepala Bidang =250 orang
e. Kepala Cabang= 600 orang
f. Kepala Karyawan =9.500 orang.
Dari jumlah pegawai yang berasal dari Direktur Utama = 1 orang dan Kepala
Departemen = 5 orang tersebut diambil dijadikan sampel karena terlalu sedikit bila
dibandingkan dengan bagian lain
d. Cluster sampling (area sampling )
Cluster sampling (area sampling) ialah teknik sampling yang dilakukan dengan
cara mengambil wakil dari setiap daerah/wilayah geografis yang ada. Contoh: Peneliti
akan melihat pelaksanaan imuninasi Vitamin A di seluruh wilayah Indonesia Karena
wilayah cukup luas terdiri dari 30 provinsi dan masing- masing berbeda kondisinya,
maka peneliti mengambil sampel dari provinsi, provinsi terdiri dari kabupaten,
kabupaten terdiri dari kecamatan, kecamatan terdiri dari desa, desa terdiri dari Rukun
Warga (RW). RW terdiri dari Rukun Tetangga (RT) akhirnya RT terdiri dari
Keluarga-keluarga yang akan mendapat imunisasi Vitamin A (Sudjana dalam
Riduwan, 2016: 15).
Teknik untuk mendapatkan sampel klaster mula-muia secara acak diambil
sampel yang terdiri dari provinsi, dari tiap provinsi dalam sampel, disebut provinsi
sampel. dari tiap kabupaten dalam sampel disebut kabupaten sampel, secara acak
diambil kecamatan. Banyaknya kecamatan yang diambil dari tiap kabupaten sampel
mungkin sama banyak mungkin pula berbeda. Setelah didapat kecamatan sampel,
kemudian dari tiap kecamatan sampel secara acak diambil desa, untuk mendapatkan
kelurahan/desa sampel selanjutnya dari tiap desa sampel secara acak pula diambil
Rukun Warga (RW) sampel. Akhirnya dari tiap RW sampel secara acak diambil
Rukun Tetangga (RT) sampel. Keluarga-keluarga yang ada di dalam RT sampel

125
inilah, setelah semuanya digabungkan yang menjadi anggota sampel klaster, yaitu
kepada anak-anak yang akan menerima imunisasi Vitamin A, dengan demikian
hasilnya akan mencerminkan pelaksanaan imuninasi Vitamin A seluruh Indonesia

2. Non-Probability Sampling
Non-Probability Sampling ialah teknik sampling yang tidak memberikan
kesempatan (peluang) pada setiap anggota populasi untuk dijadikan anggota sampel
(Riduwan, 2016: 16). Teknik sampel probabilitas dinilai sebagai metode yang paling
unggul dalam memilih sampel karena sifatnya yang mewakili populasi (representatif),
dan hasil penelitian dapat digeneralisasi terhadap seluruh populasi. Namun demikian,
teknik probabilitas sering kali sulit dilaksanakan atau tidak sesuai untuk situasi
penelitian tertentu karena, misal tidak tersedianya daftar nama seluruh anggota
populasi, atau jika daftar nama tersedia, tetapi tidak tersedia cara untuk dapat
menghubungi sampel yang terpilih (misal, tidak tersedia alamat atau nomor telepon
yang dapat dihubungi, atau sebagian besar responden tidak tinggal pada daftar alamat
yang tersedia) (Morissan, 2014: 116).
Jika teknik penarikan sampel probabilitas tidak memungkinkan untuk dilakukan,
maka peneliti dapat menggunakan teknik sampel nonprobabilitas yang terdiri dari
empat tipe penarikan sampel, yaitu: sampling sistematis, sampling kuota, sampling
incidental, sampling jenuh, purposive sampling dan snowball sampling.
a. Sampling sistematis
Sampling sistematis ialah pengambilan sampel didasarkan atas urutan dari
populasi yang telah diberi nomor urut atau anggota sampel diambil dari populasi
pada jarak interval waktu, ruang dengan urutan yang seragam (Riduwan, 2016:
17). Hal ini selaras dengan pernyataan Sugiyono (2016, 89). Bahwa sampling
sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.
1. Misalnya jumlah populasi 140 pegawai diberi nomor urut No.1 s.d No.140
Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan nomor genap (2,4,6,8,10
sampai 140) atau nomor ganjil (1,3,5,7,9 sampai 140) Pengambilan
sampel bisa juga dengan cara mengambil nomor kelipatan (7, 14, 21, 28
sampai 140)
2. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua
anggota itu diberi nomor urut, yaitu pengambilan sampel dapat dilakukan
dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu,
misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil
sebagai sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.
3. Para pelanggan listrik nama-namanya suduh terdaftar di Bagian
Pembayaran Listrik berdasarkan lokasinya. Untuk pengambilan sampel

126
tentang para pelanggan listrik, secara sistematis dapat diambil melalui
rayon pembayaran listrik
4. Pelanggan telpon yang namanya suduh terdapat dalam buku telpon.
Apabila peneliti ingin mengambil sampel tentang disiplin pembayaran
telpon, maka secara sistematis dapat mengambil sumber data langsung di
buku tersebut.
5. Peneliti akan mengadakan pemeriksaan metalorgi (ilmu bahan) di
perusahaan tertentu yang hasilnya menggunakan proses,maka
pengambilan sampel dapat dilakukan pada jarak interval waktu tertentu,
misalnya tiap 30 detik, 5 menit, 30 menit, 2 jam 5 jam dan seterusnya
6. Peneliti menginginkan sampel 40 pegawai dari jumlah populasi berukuran
400 pegawai. Caranya mula-mula setiap subjek dari populasi diberi nomor
urut yaitu :No 1 s.d. No.400, kemudian jumlah populasi 400 dibagi 10
sehingga didapat 40 group (subpopulasi) setiap groupnya berjumlah 10
pegawai.Subpopulasi ke-1 berisi nomor urut pegawai: No.1 s.d. No.10.
Subpopulasi ke-2 berisi nomor urut pegawai : No.11 s.d No.20, dan
seterusnya hingga subpopulasi ke-40 berisi nomor urut pegawai 391 s.d.
400 ( Riduwan, 2016: 17).
b. Sampling kuota
Sampling kuota ialah teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (jatah) yang dikehendaki atau pengambilan
sampel yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti
(Riduwan, 2016: 18). Caranya menetapkan besar jumlah sampel yang diperlukan,
kemudian menetapkan jumlah (jatah yang diinginkan), maka jatah itulah yang
dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Hal ini sejalan
dengan pernyataan Sugiyono (2015: 89) bawah sampling kuota adalah teknik
untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu
sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, sampel kuota dapat didefiniskan
sebagai suatu tipe penarikan sampel nonprobabilitas di mana unit sampel
(responden) dipilih sebagai sampel berdasarkan karakteristik yang ditentukan
sebelumnya, sedemikian rupa sehingga total sampel akan memiliki distribusi
dengan karakteristik yang sama sebagaimana yang diperkirakan terdapat dalam
populasi yang tengah diteliti.
Pada sampling kuota individu atau responden dipilih untuk memenuhi suatu
persentase yang sudah diketahui atau sudah ditentukan sebelumnya. Untuk
melakukan penarikan sampel dengan menggunakan sampel kuota, peneliti harus
mengawalinya dengan membuat suatu matriks atau tabel yang menjelaskan
karakteristik dari populasi yang akan diteliti. Tergantung pada tujuan riset yang
ingin dicapai, peneliti terlebih dahulu harus mengetahui, misalnya, berapa jumlah

127
laki-laki dan perempuan yang terdapat pada suatu populasi, dan dari masing-
masing kelompok laki-laki dan perempuan tersebut, berapa jumlah anak-anak,
remaja, pemuda, dewasa, dan orang tua; berapa jumlah yang berpendidikan
sarjana, sekolah menengah (SMP/SMA), atau banyak sekolah dasar. Begitu pula,
berapa jumlah orang dengan latar belakang etnis atau suku bangsa tertentu (suku
Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain) yang terdapat dalam suatu populasi. Pada
sampling kuota, setiap kelompok masyarakat tersebut harus memiliki wakilnya
masing-masing dalam jumlah yang proporsional. Pada tingkat nasional,
penarikan sampling kuota terkadang harus pula mempertimbangkan sampel yang
mewakili wilayah perkotaan, pedesaan, Jawa atau luar Jawa, kelas menengah,
pribumi atau keturunan.
Tabel 2.1: Sampel Kuota Berdasarkan Karakteristik Populasi
Laki-laki Perempuan
Anak-anak Anak-anak
Remaja Remaja
Usia Muda Muda
Dewasa Dewasa
Tua Tua
Sarjana Sarjana
Pendidikan SMP/ SMU SMP/ SMU
SD SD
Islam Islam
Kristen Kristen
Agama
Hindu Hindu
Buddha Buddha
Jawa Jawa
Sunda Sunda
Etnis/ suku
Batak Batak
Minang Minang

128
Ketika matriks atau tabel yang tersusun dari sejumlah sel yang mewakili
kelompok-kelompok dalam masyarakat berdasarkan karakteristiknya masing-
masing tersebut telah dapat disusun, dan Jumlah anggota masing-masing
kelompok tersebut telah dapat diketahui, maka peneliti dapat menentukan jumlah
responden yang akan mewakili masing-masing sel tersebut secara proporsinal.
Selanjutnya, peneliti dapat mulai melakukan pengumpulan data dari orang-orang
yang mewakili masing-masing sel dalam jumlah yang ditentikan dulu
sebelumnya secara proporsional. Jika semua data telah dapat diperoleh dari
sampel secara proporsional, maka kita dapat mengatakan bahwa data yang kita
peroleh adalah representatif terhadap populasi.
Teknik penarikan sampel kuota ini mirip dengan sampel probabilitas,
namun jika tidak dilakukan dengan cermat penarikan sampel kuota memiliki
potensi bermasalah. Pertama, jumlah anggota masing-masing sel (kelompok)
haruslah akurat, namun sering kali peneliti dalam menyusun matriks atau tabel
menggunakan data lama yang tidak menggambarkan perkembangan masyarakat
terbaru.
Contoh : Hal ini yang terjadi pada lembaga survei terkenal di AS, Gallup,
ketika pada 1948 mengumumkan hasil survei yang menyatakan pemenang
pemilu presiden AS tahun itu adalah gubernur negara bagian New York, Thomas
Dewey, yang mengalahkan Presiden Harry Truman. Hasil survei ini keliru karena
ternyata Trumanlah yang menang. Gallup menggunakan teknik sampel kuota
yang menuntut peneliti mengetahui secara pasti mengenai data kependudukan
(data pemilih) yang biasanya diperoleh dari data sensus penduduk. Dalam hal ini,
Gallup menggunakan data sensus penduduk tahun 1940. Namun, sejak Perang
Dunia ke-2 meletus hingga tahun 1948 banyak penduduk pedesaan (country) di
AS pindah ke kota sehingga karakter penduduk AS berubah secara signifikan
dari sebelumnya kebanyakan tinggal di kawasan pertanian di desa menjadi lebih
banyak tinggal di perkotaan. Warga kota yang dinamis cenderung memilih
Truman yang didukung Partai Demokrat yang dipandang progresif sedangkan
warga desa lebih suka Partai Republik yang konservatif.
Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang
pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100
orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500
anggota sampel
Contoh:
1. Peneliti ingin mengetahui informasi tentang penempatan karyawan yang
tinggal di Perumahan Pondok Hijau, dalam kategori jabatan tertentu dan
pendapatannya termasuk kelas tertentu pula. Dalam pemilihan orangnya
(pengambilan sampel) akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri atau
petugas yang diserahi mandat

129
2. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat
terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin Mendirikan Bangunan.
Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum
didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai,
karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
3. Jemaah haji yang berangkat ke tanah suci sudah diberi jatah oleh Persatuan
Haji Indonesia (PHI) bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi, yaitu
sebanyak 200.000 orang calon haji dari populasi 200.000.000 jiwa penduduk
Indonesia. Artinya satu orang calon haji mewakili 1.000 jiwa penduduk yang
menyebar di wilayah Indonesia, tergantung kepada jumlah penduduk setiap
provinsi dan kabupaten. Jika peneliti ingin meneliti kesehatan calon haji di
tanah suci, maka sampel yang dipakai sebanyak 200.000 orang yang
menyebar di embarkasi dan kloter masing-masing wilayah
4. Diadakan penelitian prestasi kerja terhadap 1.250 orang peserta Diklat Spama
yang menjabat Eselon ll, penelitian dilakukan secara tim yang terdiri dari 25
orang. Caranya setiap anggota peneliti dapat memperoleh jatah sampel secara
bebas sesuai dengan ciri-ciri dan prosedur yang ditentukan oleh 50 orang
peserta.
c. Sampling insidental
Sampling insidental ialah teknik penentuan sampel berdasarkan faktor
spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan
sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat digunakan sebagai
sampel(responden) (Riduwan, 2016: 19). Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyonno
(2015, 89) bahwa sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang bersangkutan layak
digunakan sebagai sumber data.
Contoh:
1. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana fluktuasi pemasaran parfum yang
dipakai oleh pria dan wanita, peneliti mengambil stan di Bandung Indah Plaza
(BIP). Cara pengambilan sampel, yaitu: membatasi jumlah sampel misalnya
100 orang, maka setiap orang yang jalan-jalan di Bandung Indah Plaza (BIP)
dan yang berminat sesuai dengan karakteristik penggunaan parfum dijadikan
responden
2. Seorang ahli ilmu falaq dan ahli pembuat ramuan obat anglonubian multi
farma yang tergabung dalam kelompok UD Ainul Hayat ingin mengetahui
sejauhmana efek dan reaksi MILK NUBIAN EXTRACT CAPSULE
diciptakannya yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk
penyakit kronis: Kanker, lever, hipatitis (A,B,C), HIVIAids, Bronchitis
kronis, TBC, asma. Maag, stress, penyakit infeksi karena usia tua, penyakit

130
jantung, stroke, alzhiemer/pikun, parkinson, rematik, diabetis, darah tinggi,
asam urat, kolestrol, dan lain lain. Cara pengambilan sampel, yaitu: dibatasi
jumlah sampelnya misalnya 25 orang, setiap orang yang tidak sengaja datang
kerumahnya (para tamu jauh diberi informasi dan apabila berminat sesuai
dengan karakteristik penyakitnya dijadikan responden). setelah meminum
kapsul selama satu bulan, responden segera memberi kabar atas reaksi dan
efek obat yang diminumnya kepada pembuat ramuan kapsul.

d. Sampling jenuh
Sampling jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila semua populasi
digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus( Riduwan, 2016:
21). Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang,
atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Istilah lain sampel jenuh adalah sampel total atau sensus, dimana semua anggota
populasi dijadikan sampel. Sampel jenuh juga sering diartikan sampel yang sudah
maksimum, ditambah berapapun tidak akan merubah keterwakilan kebetulan ditemui
itu cocok sebagai sumber data.
Contoh: Akan diadakan penelitian di laboratorium bahasa inggris UPI
Bandung mengenai tingkat keterampilan percakapan para pegawai yang akan dikirim
ke Australia. Dalam hal ini populasi yang akan diteliti kurang dari 30 orang, maka
seluruh populasi dapat dijadikan sampel.

e. Purposive sampling
Purposive sampling memiliki nama lain seperti judgement sampling, subjective
sampling, selective sampling. Penjelasan lebih lanjut mengenai purposive sampling
dijabarkan sebagai berikut.
1. Pengertian purposive sampling
Purposive sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik
sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-
pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk
tujuan tertentu. (Riduwan, 2016: 20). Hanya mereka yang ahli yang patut
memberikan pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan. Oleh karena
itu, sampling ini cocok untuk studi kasus yang mana aspek dari kasus tunggal yang
representatif diamati dan dianalisis. Sedangkan menurut Morissan (2014: 116)
purposive sampling atau sampel terpilih adalah sampling yang responden, subjek atau
elemennya dipilih karena karakteristik atau kualitas tertentu, dan mengabaikan
mereka yang tidak memenuhi kriteria yang ditentukan. Melalui teknik purposive

131
sampling ini, sampel dipilih berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya
mengenai populasi, yaitu pengetahuan mengenai elemen-elemen yang terdapat pada
populasi, dan tujuan penelitian yang hendak dilakukan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, purposive sampling (sering pula disebut
dengan judgmental sampling) dapat didefiniskan sebagai tipe penarikan sampel
nonprobabilitas yang mana unit yang hendak diamati atau diteliti dipilih berdasarkan
pertimbangan peneliti dalam hal unit yang mana bermanfaat dan representatif.
Dengan demikian, pada purposive sampling responden atau anggota sampel dengan
sengaja dipilih tidak secara acak. Dengan kata lain, purposive sampling adalah
sampel yang dipilih berdasarkan suatu panduan tertentu. Panduan sampel yang
digunakan akan menentukan batasan jumlah atau kategori responden yang boleh
dipilih, dan diundang sebagai anggota sampel.
2. Kriteria sampel pada purposive sampling
Adapun kriteria pengambilan sampel dengan purposive sampling menurut
Etikan et al. (2015) yaitu :
Purposive sampling involves identification and selection of individuals or groups
of individuals that are proficient and well-informed with a phenomenon of
interest . In addition to knowledge and experience, and note the importance of
availability and willingness to participate, and the ability to communicate
experiences and opinions in an articulate, expressive, and reflective manner.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik purposive
sampling meliputi identifikasi dan pemilihan individu maupun kelompok yang ahli,
berpengetahuan luas dan memiliki pengalaman atas suatu fenomena atau masalah
yang diteliti, sanggup dan bersedia untuk dijadikan sampel penelitian dan memiliki
kemampuan berkomunikasi dengan baik dan jelas.
3. Jenis–jenis purposive sampling
Ada beberapa jenis atau tipe purposive sampling. Menurut Etikan et al (2016),
purposive sampling terdiri atas Maximum Variation Sampling, Homogeneous
Sampling, Typical Case Sampling, Extreme Case Sampling,
a. Maximum Variation Sampling (MVS)
The idea behind MVS is to look at a subject from all available angles, thereby
achieving a greater understanding. Also known as "Heterogeneous
Sampling", it involves selecting candidates across a broad spectrum relating
to the topic of study. For example, if one was researching an education
program would include students who hated the program, students classed as
“typical” and students who excelled. This type of sampling is useful when a
random sample is not taken, for instance, if the sample pool is too small
(Etikan et al.2016).

132
Artinya, tujuan Maximum Variation Sampling adalah untuk melihat subjek dari
semua sudut yang tersedia, sehingga mencapai pemahaman yang lebih besar dan
mengembangkan berbagai sudut pandang/ perspektif.
Contoh :
Jika seseorang sedang meneliti suatu program pendidikan, maka sampel dalam
penelitian tersebut mencakup siswa yang tidak menyukai program tersebut, siswa
yang biasa saja dan siswa yang menyukai program tersebut. Jenis pengambilan
sampel ini berguna ketika sampel acak tidak diambil, misalnya, jika kumpulan sampel
terlalu kecil.
b. Homogenous Sampling
This form of sampling, unlike MVS, focuses on candidates who share similar
traits or specific characteristics. For example, participants in Homogenous
Sampling would be similar in terms of ages, cultures, jobs or life experiences.
The idea is to focus on this precise similarity and how it relates to the topic
being researched. For example, if one was researching long-term side effects
of working with asbestos, for a Homogenous Sampling, the only people who
had worked with asbestos for 20 years or longer are included. (Etikan et al.
2016.
Bentuk pengambilan sampel ini berbeda dengan MVS, karena teknik ini berfokus
pada kandidat yang memiliki kesamaan sifat atau karakteristik tertentu. Misalnya,
pengambilan sampel dalam homogenous sampling berdasarkan pada kemiripan dalam
hal usia, budaya, pekerjaan atau pengalaman hidup. Teknik homogenuous sampling
berfokus pada kesamaan karakteristik tertentu dan hubungannya dengan topik yang
sedang diteliti.
Contoh 1 :
Seorang peneliti sedang meneliti efek samping jangka panjang akibat bekerja di
lingkungan yang ada asbes. Dalam homogenuous sampling, hanya orang-orang yang
telah bekerja selama 20 tahun atau lebih di lingkungan yang ada asbes yang dijadikan
sampel penelitian karena memiliki karakteristik yang sama yaitu pengalaman dalam
bekerja yang cukup lama.
Contoh 2 :
Misal, jika manajemen suatu stasiun radio ingin melakukan penelitian terhadap
target audiensi mereka, yaitu pria berumur 25-44 tahun untuk mengetahui tanggapan
mereka terhadap program radio bersangkutan, maka penelitian tersebut hanya
ditujukan kepada siapa saja pria berusia 25-44 tahun. Calon responden yang
memenuhi kriteria tersebut kemudian dihubungi, dan diundang untuk bersedia
menjadi responden penelitian. Dalam penelitian semacam ini biasanya tidak tersedia
daftar lengkap nama-nama pria berusia 25-44 tahun, sehingga tidak dapat

133
menggunakan panduan matematis, dan kalaupun ada belum tentu tersedia daftar
alamat atau telepon mereka. Namun demikian kriteria atau panduan terhadap
responden telah ditentukan, pria berusia 25-44 tahun, sebagai sampel yang memenuhi
kriteria.
c. Typical Case Sampling (TCS)

TCS allows researcher to develop a profile about what is normal or average


for a particular phenomenon. TCS is the process of selecting or searching for
cases that are not in anyway atypical, extreme, deviant or unusual. TCS is
useful when a researcher is dealing with large programs, it helps set the bar
of what is standard or “typical”. Candidates are generally chosen based on
their likelihood of behaving like everyone else. For example, a researcher is
studying violence in school. The first step would be to list all of criteria that
define violence for a “typical” school. Then you would choose school that
meet that criteria. You would want to select school that are “average”
(meeting your selected criteria) instead of schools with very high or very low
violene rates. Another example is, if one was researching the reactions of 9th
grade students to a job placement program, would select classes from similar
socioeconomic regions, as opposed to selecting a class from an a poorer
inner city school, another from a mid-west farming community, and another
from an affluent private school (Etikan et al. 2016).
TCS merupakan teknik memilih sampel yang normal/ biasa atau bukan kasus
yang ekstrem, tidak biasa, menyimpang. Artinya, sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan oleh peneliti.
Contoh 1 :
Seseorang sedang meneliti tentang kekerasan yang terjadi di sekolah. Langkah
pertama adalah menuliskan daftar semua kriteria yang mendefinisikan kekerasan/.
Lalu peneliti memilih sekolah yang sesuai dengan kriteria yang telah dibuat. Peneliti
memilih sekolah yang normal( sesuai kriteria yang telah dipilih) dan tidak memilih
sekolah dengan tingkat kekerasan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Contoh 2 :
Seseorang yang sedang meneliti reaksi siswa kelas 9 terhadap program
penempatan kerja. Peneliti memilih kelas dari daerah sosial ekonomi yang sama dan
tidak memilih kelas dari sekolah yang miskin atau sekolah swasta kaya.
d. Extreme/Deviant Case Sampling
The polar opposite of Typical Case Sampling, Extreme (or Deviant) Case
Sampling is designed to focus on individuals that are unusual or atypical.
This form of sampling is more often used when researchers are developing
“best in practice” guidelines or are looking into “what not to do”. An

134
example would be a study into heart surgery patients who recovered
significantly faster or slower than average. Researchers would be looking for
variations in these cases to explain why their recoveries were atypical (Etikan
et al. 2016).
Kebalikan dari TCS adalah Extreme/Deviant Case Sampling. Teknik ini
dirancang untuk fokus pada individu yang tidak biasa atau atipikal. Bentuk
pengambilan sampel ini lebih sering digunakan ketika para peneliti mengembangkan
pedoman "terbaik dalam praktik" atau mencari "apa yang tidak boleh dilakukan".
Contoh :
Penelitian pada pasien operasi jantung yang pulih secara signifikan lebih cepat
atau lebih lambat dari rata-rata. Para peneliti akan mencari variasi dalam kasus ini
untuk menjelaskan mengapa pemulihan mereka tidak seperti pemulihan pada pasien
biasa.
e. Critical Case Sampling
Critical case sampling is where you collect samples that are most likely to
give you the information you are looking for. They are particularly important
cases or ones that highlight vital information. This tye of sampling is
particularly useful if a small number of cases can be sampled and if
researchers are on tight budget. That small number of cases (assuming they
can be classified as “critical”) are the ones more likely to provide a wealth of
information. Extremely popular in the initial stages of research to determine
whether or not a more in depth study is warranted, or where funds are
limited, Critical Case Sampling is a method where a select number of
important or “critical” cases are selected and then examined. The criterion
for deciding whether or not an example is “critical” is generally decided
using the following statements: “If it happens there, will it happen
anywhere?” or “if that group is having problems, then can we be sure all the
groups are having problems?”. For example, Gregor Menderl discovered the
fundamental laws of inheritance through his meticulous study of pea plants. If
Mendel had attempted to focus on a broad range of species instead of just
one, he may not hava made the discoveries that he is renowned for,such as his
findings that genes are inherited in pairs-one from each parent. (Etikan et al.
2016).

Critical case sampling adalah teknik pengumpulan sampel yang paling


banyak memiliki potensi/ informasi yang dicari oleh peneliti. Teknik ini fokus
pada sampel yang penting atau yang memiliki informasi penting. Teknik ini
berguna apabila peneliti mengalami keterbatasan dana/ tenaga. Pada tahap awal
penelitian biasanya dilakukan beberapa pertimbangan untuk menentukan apakah

135
diperlukan penelitian mendalam atau tidak, atau jika dana terbatas. Critical Case
Sampling adalah metode di mana sejumlah kasus penting atau "kritis" tertentu
dipilih dan kemudian diperiksa. Kriteria untuk memutuskan apakah sebuah
contoh “kritis” atau tidak umumnya diputuskan dengan menggunakan pernyataan
berikut: “Jika itu terjadi di sana, apakah itu akan terjadi di mana saja?” Atau “jika
kelompok itu mengalami masalah, maka dapatkah kita memastikan semua
kelompok sedang mengalami masalah? "
Contoh :
Gregor Mendel menemukan hukum warisan biologis gen melalui
penelitian nya dengan kacang ercis dan sekarang disebut hukum Mendel.Apabila
Mendel melakukan percobaan dengan berbagai macam sampel/ spesies dan tidak
berfokus pada satu sampel saja yaitu kacang ercis, Mendel mungkin tidak akan
menemukan penemuan yang terkenal tersebut, salah satunya yaitu bahwa gen
diwariskan berpasangan, dimana ciri-ciri dari setiap orang tua yang rata-rata
sama.
f. Total population sampling(TPS)
On occasion, it may be that leaving out certain cases from your
sampling would be as if you had an incomplete puzzle - with obvious
pieces missing. In this instance, the best sampling method to use is
Total Population Sampling. TPS is a technique where the entire
population that meet the criteria (e.g. specific skill set, experience,
etc.) are included in the research being conducted. Total Population
Sampling is more commonly used where the number of cases being
investigated is relatively small (Etikan et al. 2016).
Ada kalanya ketika peneliti meninggalkan kasus-kasus tertentu dari
sampel peneliti seperti memiliki teka-teki yang tidak lengkap dengan potongan-
potongan yang jelas hilang. Dalam hal ini, metode pengambilan sampel terbaik
untuk digunakan adalah Total population sampling. TPS adalah teknik di mana
seluruh populasi yang memenuhi kriteria (mis. Keterampilan khusus,
pengalaman, dll.) dimasukkan dalam penelitian yang sedang dilakukan. Total
population sampling lebih umum digunakan di mana jumlah kasus yang
diselidiki relatif kecil.
g. Expert Sampling
As indicated by the name, Expert Sampling calls for experts in a
particular field to be the subjects of the purposive sampling. This sort
of sampling is useful when the research is expected to take a long time
before it provides conclusive results or where there is currently a lack
of observational evidence. Expert sampling is a positive tool to use
when investigating new areas of research, to garner whether or not
further study would be worth the effort (Etikan et al. 2016).

136
Seperti ditunjukkan oleh namanya, Expert Sampling menyerukan para ahli di
bidang tertentu untuk menjadi subjek purposive sampling. Sampling semacam ini
berguna ketika penelitian diharapkan memakan waktu lama sebelum memberikan
hasil konklusif atau di mana saat ini ada kekurangan bukti pengamatan. Pengambilan
sampel oleh ahli adalah alat positif untuk digunakan ketika menyelidiki bidang
penelitian baru, untuk mengumpulkan apakah penelitian lebih lanjut layak dilakukan
atau tidak.
Contoh 1:
Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMU (plus), maka sampel yang
dipilih adalah para guru yang ahli dalam bidang kurikulum pendidikan dan
manajemen pendidikan, masyarakat yang berpengalaman, dan para ahli di bidang
pendidikan.
Contoh 2:
Kasus bumbu masak yang pernah dinyatakan haram. Peneliti ingin mengetahui
penyebabnya dengan cara mencari sampel (responden) yang ahli di bidang
pembuatan bumbu masak, dan mencari responden dari kalangan ulama yang ahli
dalam memberikan fatwa masalah tersebut.
f. Snowball sampling
Teknik sampel nonprobabilitas lainnya disebut dengan snowball sampling di
mana peneliti secara acak menghubung beberapa responden yang memenuhi kriteria
(qualified volunteer sample) dan kemudian meminta responden bersangkutan untuk
merekomendasikan teman, keluarga, atau kenalan yang mereka ketahui vang
memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai responden penelitian. Peneliti kemudian
menghubungi orang dimaksud untuk menentukan apakah mereka memenuhi kriteria
sebagai responden. Istilah "bola salju" mengacu pada proses pengumpulan sampel
dengan meminta responden yang diketahui keberadaannya untuk menunjukkan calon
responden lainnya. Dengan demikian, sampel bola salju/ snowball sampling dapat
didefiniskan sebagai suatu metode penarikan sampel nonprobabilitas di mana setiap
orang yang diwawancarai kemudian ditanyakan sarannya mengenai orang lain yang
dapat diwawancarai (Morissan, 2014: 121). Sedangkan menurut Rudiwan (2016: 21)
snowball sampling ialah teknik sampling yang semula berjumlah kecil kemudian
anggota sampel (responden) mengajak para sahabatnya untuk dijadikan sampel dan
seterusnya sehingga jumlah sampel semakin membengkak jumlahnya seperti (bola
salju yang sedang mengelinding semakin jauh semakin besar).
Prosedur sampel ini dapat digunakan dalam hal anggota populasi yang hendak
diteliti sulit diketahui keberadaannya sehingga tidak mudah untuk ditemui, misalnya,
para pekerja migran, tunawisma, pekerja seks komersial, atau tenaga kerja ilegal.
Misal, suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui pola-pola rekrutmen anggota

137
baru suatu organisasi. Peneliti mewawancarai beberapa orang yang diketahuinya
sebagai anggota baru suatu organisasi, dan menanyakan kepada mereka siapa yang
memperkenalkan atau mengajak mereka bergabung ke dalam organisasi
bersangkutan. Peneliti kemudian menghubungi orang-orang yang disebut namanya
dan menanyakan pertanyaan yang sama begitu seterusnya (Morrisan, 2014: 121).
Walaupun prosedur pengambilan sampel semacam ini sepertinya valid, namun
kurang memenuhi syarat bagi suatu penelitian ilmiah (legitimate) karena sampel yang
dihasilkan bisa menjadi sangat bias. Peneliti bisa jadi menemukan sampel yang terdiri
dari organisasi atau kelompok tertentu saja. Prosedur semacam ini dapat
menghasilkan sampel yang diragukan keterwakilannya, karena itu sampel semacam
ini biasanya digunakan untuk penelitian eksploratif (Morrisan, 2014: 121).

2.3 Subjek Penelitian


Banyak yang berpendapat bahwa subjek penelitian adalah orang yang
melakukan penelitian (peneliti), sedangkan penelitian adalah orang atau sesuatu yang
diteliti. Subjek dalam konsep penelitian merujuk pada responden, informan yang
hendak dimintai informasi atau digali datanya, sedangkan objek merujuk pada
masalah atau tema yang sedang diteliti. Menurut Amirin (dalam Lutvia, 2017: 152)
subjek penelitian adalah seseorang atau sesuatu yang mengenaimya ingin diperoleh
keterangan atau orang pada latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan
informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Lebih lanjut dijelaskan Andi
Prastowo (dalam Lutvia, 2017: 152) . Informan adalah orang yang bisa memberlkan
informasi-informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian dan atau sebagai
sasaran penelitian
Sedangkan Suharsimi Arikunto (dalam Lutvia, 2017: 152) memberi batasan
subjek penelitian sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian
melekat, dan yang dipermasalahkan. Manusia sebagal subjek penelitian ini ada yang
berpartisipasi secara aktif dan ada yang berpartisipasi hanya secara pasif
(Azwar,dalam Lutvia, 2017: 152) . Dalam sebuah penelitian, subjek memiliki peran
yang sangat strategis karena pada subjek penelitian itulah data tentang variabel
penelitian yang akan diamati.
Istilah lain yang digunakan untuk menyebut subjek penelitian adalah
responden, yaitu orang yang memberi respon atas suatu perlakuan yang diberikan
kepadanya. Dikalangan penelici kualitatif, istilah responden atau subjek penelitian
disebut dengan istilah informan, yaitu orang yang memberi informasi tentang data
yang dinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang berkaitan dengan penelitian
yang sedang dilaksanakan.
2.3.1 Jenis-jenis Informan dalam Penelitian Kualitatif

138
Pengertian informan adalah subyek penelitian yang dapat memberikan
informasi mengenai fenomena/permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Dalam
penelitian kualitatif, informan terbagi menjadi tiga yaitu: (Robinson, 2014)
1. Informan kunci
Informan kunci adalah informan yang memiliki informasi secara menyeluruh
tentang permasalahan yang diangkat oleh peneliti. Informan kunci bukan hanya
mengetahui tentang kondisi/fenomena pada masyarakat secara garis besar, juga
memahami informasi tentang informan utama. Dalam pemilihan informan kunci
tergantung dari unit analisis yang akan diteliti. Misalnya pada unit sebuah organisasi,
informan kuncinya adalah pimpinan organisasi tersebut (Robinson, 2014).
Informan kunci sebaiknya orang yang bersedia berbagi konsep dan
pengetahuan dengan peneliti, dan sering dijadikan tempat bertanya oleh peneliti.
Untuk itu sebaiknya dalam pengumpulan data peneliti sebaiknya memulainya dari
informan kunci untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang
masalah yang diamati. Dengan demikian terdapat empat kriteria dalam menentukan
informan kunci (Martha & Kresno, 2016):
a. Harus menjadi peserta aktif dalam kelompok, organisasi, atau budaya yang
diteliti, atau telah melalui tahap enkulturasi
b. Harus terlibat dalam budaya yang diteliti “saat ini”. Penekanan “saat ini”
sangat penting, karena jangan sampai informan kunci lupa dengan masalah
yang akan diteliti
c. Harus memiiki waktu yang memadai. Informan kunci tidak cukup hanya
memiliki kemauan, namun dapat memberikan informasi kapan pun saat
dibutuhkan
d. Harus menyampaikan informasi dengan bahasa sendiri (natural). Sebaiknya
informan yang menyampaikan informasi dengan “bahasa analitik” dihindari
karena informasi yang dihasilkan sudah tidak natural.
2. Informan utama
Informan utama dalam penelitian kualitatif mirip dengan “aktor utama” dalam
sebuah kisah atau cerita. Dengan demikian informan utama adalah orang yang
mengetahui secara teknis dan detail tentang masalah penelitian yang akan dipelajari.
Misalnya pada penelitian tentang perilaku ibu dalam memanfaatkan pelayanan
Posyandu sebagai informan utama adalah ibu yang memlilki Balita, sedangkan
sebagai informan kunci adalah kader posyandu (Robinson, 2014).
3. Informan Pendukung
Informan pendukung merupakan orang yang dapat memberikan informasi
tambahan sebagai pelengkap analisis dan pembahasan dalam penelitian kualitatif.
Informan tambahan terkadang memberikan informasi yang tidak diberikan oleh

139
informan utama atau informan kunci. Misalnya pada penelitian tentang implementasi
budaya keselamatan pada pekerja bagian produksi di sebuah perusahaan manufaktur,
sebagai informan bisa dipilih dari bagian yang tidak terlibat langsung dalam proses
produksi atau bagian yang menikmati output dari bagian produksi misalnya bagian
gudang. Sementara sebagai informan utama adalah karyawan bagian produksi dan
sebagai informan kunci adalah manajer produksi atau manajer HSE (K3). (Robinson,
2014).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya
orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Secara umum populasi
dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis , yaitu berdasarkan penentuan sumber
data, kompleksitas objek populasi, dan perbedaan lain.
Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama
dari objek yang merupakan sumber data. Secara sederhana sampel dapat
dikatakan, bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan

140
mewakili populasi tersebut. Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk
menentukan besarnya sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian suatu
objek. Untuk menentukan besarnya sampel bisa dilakukan dengan statistik atau
berdasarkan estimasi penelitian. Pengambilan sampel ini harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat berfungsi
atau dapat menggambarkan keadaaan populasi yang sebenarnya, dengan istilah
lain harus representatif (mewakili). Cara pengambilan sampel atau teknik
sampling secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu Probabillity
Sampling (pengambilan sampel bardasarkan peluang), dan Nonprobability
sampling (pengambilan sampel tidak berdasarkan peluang).
3.2 Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Kami sadar makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya. Kami
minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan isi makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. (2015). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka


Cipta
Bungin, Burhan. (2015).Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers
Creswell, J.W. (2012). Educational Research. Boston: Pearson Education
Etikan, Musa, & Alkassim (2016). Comparison of Convenience Sampling and
Purposive Sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics
5(1): 1-4
Fei Shi. (2014).Study on a Stratified Sampling Investigation Method for Resident
Travel and the Sampling Rate. Hindawi Publishing Corporation Discrete
Dynamics in Nature and Society Volume 2015, Article ID 496179, 7 pages
Hadari Nawawi. (2015). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Hadi, S.(2015). Metodologi Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Morissan. (2014).
Metode Penelitian Survei. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group
Luthfiyah. (2017). Metodologi Penelitian. Sukabumi: CV Jejak
Martha, E., & Kresno, S. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali
Press.

141
Palinkas et al. (2015). Purposeful sampling for qualitative data collection and
analysis in mixed method implementation research. HHS Public Access. Vol
42(5): 533–544
Robinson, O. C. (2014). Sampling in Interview-based Qualitative Research: A
Theoretical and Practical Guide. Qualitative Research in Psychology, 11(1),
25-41.
Riduwan. (2016). Dasar-dasar Statiska. Bandung: Alfabeta
Senam &Akpan. (2014).The Survey Communication Research. International Journal
of Education and Research.Vol. 2 No. 10
Sugiyoono (2013). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta
………. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan. Bandung : Alfabeta
………..(2016). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta
……….(2018). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta
Sukmadinata. (2016). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Offset
Yaniawati, R dan Rully Indrawan. (2016). Metodologi Penelitian Kuantitatif,
Kualitati, dan Campuran untuk Manajemen, Pembangunan, dan Pendidikan.
Bandung: PT Refika Aditama

142