Anda di halaman 1dari 6

Petunjuk untuk mengambil sampel (Hadi, 2015: 97)

1. Tentukan lebih dahulu luas daerah generalisasi baru kemudian menentukan sampelnya

Tentukan Lebih Dahulu Luas Daerah Generalisasi Baru Kemudian Menentukan Sampelnya Banyak
penelitian menjadi turun nilainya karena generalisasi kesimpulannya terlalu luas daripada yang
seharusnya. Satu saran penting yang perlu diperhatikan adalah "Simpulkan apa yang dapat disimpulkan.
Jangan simpulkan apa yang tak dapat disimpulkan." Jika kita hanya meneliti satu kelas suatu jenis
sekolah, kesimpulannya tak perlu diperluas sampai ke kelas-kelas lain, apalagi sampai sekolah-sekolah
lain. Biasanya orang terlalu bernafsu untuk menggeneralisasi yang lebih luas daripada semestinya
karena (1) dia menginginkan hasil penelitiannya "berguna" untuk peristiwa-peristiwa yang lebih luas; (2)
dia menginginkan karyanya mendapat "harga" yang lebih tinggi; dan (3) dia mendapat kesan-kesan
umum bahwa kelas-kelas lain atau sampel-sampel lain juga menunjukkan kesamaan dengan kelas-kelas
atau sampel-sampel yang ia selidiki. Ketiga faktor itu memang merupakan motif yang sangat kuat. Akan
tetapi, jika tidak ada dasar metodologi yang tepat untuk menjadi landasan bagi pelaksanaan motif-motif
itu, hasilnya justru akan menjadi sebaliknya dan sangat menyesatkan: berguna tidak, berharga pun tidak.
Perhatikanlah baik-baik prosedur metodologi yang tepat: Tentukan lebih dahulu luas populasi sebagai
daerah generalisasi, baru kemudian tentukan sampelnya sebagai daerah penelitian.

2. Berilah Batas-batas yang Tegas tentang Sifat-sifat Populasi

Sekali luas populasi telah ditetapkan, penegasan tentang sifat-sifat populasi itu harus segera menyusul
karena penegasan ini sangat penting. Populasi tak perlu berupa manusia. Populasi dapat berupa alat-
alat pelajaran, cara-cara mengajar, kurikulum, cara-cara administrasi, dan sebagainya. Semuanya itu
harus ditegaskan jika dijadikan populasi objek penelitian. Alat-alat pengajaran ada bermacam-macam.
Demikian juga dengan cara mengajar, kurikulum, cara administrasi. Ketidakjelasan tentang batas-batas
luas dan ciri-ciri masing-masing akan menimbulkan kebingungan, ketidakjelasan, keragu-raguan tentang
objek persoalan maupun reliabilitas generalisasinya. Sekali lagi perlu ditekankan: Harga dari suatu riset
tidak bergantung kepada luasnya daerah dan sifat-sifat populasi, melainkan pada perimbangan antara
konklusi dengan dasar-dasar konklusi. Suatu riset tentang suatu sistem pendidikan di sebuah kota
mungkin sudah cukup tinggi harganya sekiranya dasar generalisasinya tidak lebih sempit dan tidak lebih
luas daripada untuk kota itu. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah menentukan lebih dulu luas
dan sifat-sifat populasi, memberikan batas-batas yang tegas, baru kemudian menetapkan sampelnya.
Tidak pada tempatnya jika langkah yang sebaliknya yang ditempuh, yaitu menetapkan sampel lebih
dahulu dan baru kemudian populasinya. Banyak mahasiswa yang keliru langkah, yaitu memilih suatu
sampel, kemudian "membayangkan" mana populasi dari sampel itu. Jika ada pertimbangan-
pertimbangan tertentu yang ikut menentukan besar kecilnya program riset, misalnya saja pertimbangan
biaya, waktu, dan tenaga, maka pertimbangan-pertimbangan itu hendaknya diperhatikan dalam
penetapan populasi, bukan penetapan sampel.

3. Tentukan Sumber-sumber Informasi tentang Populasi


Ada bermacam-macam sumber informasi tentang populasi yang dapat dijadikan petunjuk untuk
mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri populasi. Daftar hasil suatu sensus pada umumnya
merupakan sumber yang paling lengkap. Di samping itu dokumen-dokumen lain yang disusun secara
khusus oleh bermacam-macam instansi dan organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, inspeksi
pengajaran, organisasi-organisasi sosial dan kebudayaan, dan sebagainya, juga dapat membantu
seorang peneliti yang menaruh perhatian pada persoalan-persoalan khusus seperti kejahatan anak-
anak, banyaknya sekolah swasta, berbantuan dan negeri, anak-anak gelandangan, dan lain-lain.
Suatu hal yang perlu mendapat perhatian dalam menggunakan sumber-sumber informasi itu adalah
validitas (kebenaran) dari apa yang dimuat di dalamnya. Coba teliti kapan dokumen itu dibuat,
bagaimana data dikumpulkan, dan bagaimana data diklasifikasi dan dianalisis. Janganlah dikira
bahwa dokumen-dokumen itu, betapapun baiknya, selalu terbarukan jika padanya tidak terdapat
analisis-analisis yang tepat tentang kecenderungan perubahan (tren) perkembangan peristiwa-
peristiwa yang dicatatnya. Jadi, misalnya, jika pada 1954 dicatat bahwa jumlah anak-anak dalam
tiap-tiap keluarga rata-rata ada 4,5 orang, janganlah kita menganggap bahwa pada tahun 1965
jumlah rata-rata masih 4,5 orang tanpa memperhitungkan kemungkinan perubahannya, turun atau
naik. Demikian juga tentang penghasilan, pendidikan keluarga, perimbangan sekolah-sekolah
swasta, berbantuan dan negeri, dan sebagainya. Peringatan yang sama berlaku juga untuk tesis,
disertasi, naskah-naskah kerja, dan sebagainya jika akan digunakan sebagai sumber seinformasi.
4. Tetapkan besar kecilnya sampel
Masalah berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk penelitian sering menjadi soal yang
serius. Umumnya orang menetapkan besar kecilnya sampel itu hanya atas dasar pertimbangan
pertimbangan praktis seperti biaya, kesempatan, dan tenaga. Ini terutama terjadi pada riset-riset
dalam bidang pendidikan dan psikologi.
Sebenarnya tidak ada ketetapan mutlak berapa persen suatu sampel harus diambil dari populasi.
Tidak adanya ketetapan yang mutlak itu tidak perlu menimbulkan keragu-raguan pada seorang
peneliti. Salah satu usaha untuk "menampung" kesalahan yang mungkin dialami karena kurang
besarnya sampel adalah dengan memberikan syarat-syarat yang lebih berat bagi penelitian yang
mengutamakan sampel kecil. Salah satu dari syarat-syarat itu kita lihat misalnya dalam menguji
signifikansi data yang diperoleh dari sampel, misalnya saja untuk menyimpulkan adanya korelasi
antara faktor X dan faktor Y untuk suatu sampel yang jumlahnya 100 orang dengan risiko
kemungkinan benar 95% dan risiko salah 5% diperlukan hanya suatu bilangan korelasi sebesar +
0,195 (atau lebih), sedangkan untuk keperluan yang sama jika jumlah sampelnya hanya
10 orang diperlukan bilangan sedikitnya + 0,632 (lihat kembali pelajaran statistik. Beri perhatian
khusus terutama pada subbab tentang Kekuatan Uji Statistik, di mana diberi petunjuk-petunjuk
mengenai bagaimana mengendalikan besarnya kesalahan menolak hipotesis yang benar - kesalahan
tipe I - dan kesalahan menerima hipotesis yang salah -kesalahan tipe II- pada sampel-sampel yang
berbeda-beda besarnya). Suatu hal yang justru perlu diperhatikan adalah keadaan homo-
genitas populasi. Jika populasi homogen, jumlah sampel hampir tidak menjadi persoalan
(Gambarkan: suatu jenis periuk dibuat oleh mesin dan oleh tangan. Periuk-periuk yang dibuat oleh
mesin dapat dijamin lebih homogen bentuknya daripada yang dibuat oleh tangan. Karena itu, untuk
meneliti penyimpangan pola bentuk dari periuk- periuk yang dibuat oleh mesin, orang cukup
meneliti beberapa periuk yang dihasilkan oleh mesin itu. Untuk meneliti hal yang sama dari periuk-
periuk yang dibuat oleh tangan manusia diperlukan contoh-contoh buatan tangan yang jauh lebih
banyak). Akan tetapi, jika keadaan populasi sangat heterogen, peneliti harus berpikir dua kali.
Pertama, dia harus meneliti kategori-kategori heterogenitas. Dalam kelas, misalnya, selalu ada anak-
anak yang pandai, sedang, dan kurang. Di suatu kota yang agak besar biasanya ada sekolah-sekolah
swasta, berbantuan, dan negeri. Itu semuanya harus diperhitungkan lebih dahulu. Kedua, berapa
besar populasi dalam tiap-tiap kategori itu. Jika dalam suatu kelas anak-anak yang pandai, sedang,
dan kurang berbanding 2 :5 2, maka dalam sampel perbandingan itu perlu diperhatikan. Demikian
juga jika peneliti ingin memperhatikan perbandingan antara sekolah-sekolah swasta, bantuan, dan
negeri. Jenis kelamin (pria-wanita), tempat tinggal (kota-desa), jabatan orang tua (pegawai, petani,
pedagang), dan lain-lain. Mungkin sekali perlu mendapat perhatian untuk menetapkan jumlah
subjek dalam sampel dengan perimbangan yang "riil" dari individu-individu yang ada dari tiap-tiap
golongan populasi itu. Semuanya itu dapat diperhitungkan dengan teliti jika memang sudah tersedia
informasi yang lengkap tentang keadaan populasi dari tiap-tiap subgolongan itu. Oleh karena itu,
informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusahakan. Satu nasihat mungkin
perlu diberikan: menetapkan jumlah sampel yang terlalu banyak selalu lebih baik daripada kurang.
5. Menentukan Teknik Sampling
Sampel yang tidak mewakili populasi disebut sampel yang bias, dan sampling yang menghasilkan
sampel yang bias itu disebut sampling yang bias. Salah satu contoh dari sampling yang bias adalah
sampling tidak dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi, sedangkan
generalisasi dikenakan kepada seluruh populasi. Hal semacam itu terjadi, jika, misalnya untuk
mengadakan penelitian tentang penghasilan rata-rata orang Indonesia, orang hanya mengambil
sampel dari orang-orang Indonesia yang kayaraya atau yang miskin. Kesimpulan dari penelitian pada
sampel yang bias sudah tentu juga merupakan kesimpulan yang bias. Persoalan tentang teknik
sampling itu begitu penting dalam siapan-persiapan peneli tian ilmiah sehingga perlu dibahas
tersendiri. Dalam subbab-subbab berikut akan dibahas teknik random sampling dan teknik non-
random sampling. Kemudian juga akan dibahas jenis-jenis sampel, seperti sampel bertingkat, sampel
proporsional, dan lainnya yang sering digunakan dalam riset. Perlu terlebih dahulu diperingatkan
agar istilah sampling tidak disamakan dengan istilah sampel. Sampling yang dimaksud adalah cara
yang digunakan untuk mengambil sampel. Sedangkan, sebutan untuk suatu sampel biasanya
mengikuti teknik dan atau jenis sampling yang digunakan. Jadi, misalnya dari teknik random
sampling akan dihasilkan sampel yang random, dari sampling insidental akan dihasilkan sampel
insidental. Dan random sampling proporsional adalah jenis sampel proporsional yang diambil
dengan teknik random sampling.

Teknik-teknik Sampling
Ada berbagai macam teknik sampling yang dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian, di
antaranya:
1. Teknik Random Sampling
Random sampling adalah sampling tanpa pandang bulu. Teknik sampling ini bukanlah suatu
teknik sembarangan seperti pendapat beberapa orang yang belum mempelajari dasarnya.
Random sampling bertitik tolak pada prinsip-prinsip matematis yang kukuh karena telah diuji
dalam praktik. Sampai sekarang teknik ini dipandang sebagai teknik yang paling baik dan dalam
riset mungkin merupakan satu-satunya teknik terbaik.
Dalam random sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri atau bersama diberi
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Oleh karena itu, tidak ada alas an
untuk menganggap sampel random sebagai sampel yang bias. Sampel random tidak identik
dengan apa yang disebut sampel insidental, sebab sampel insidental diperoleh semata-mata dari
keadaan-keadaan yang insidental atau kebetulan. Contoh dari sampling insidental, misalnya,
dalam penelitian tentang sesuatu persoalan,yang dijadikan subjek sampel hanyalah orang-orang
yang dijumpai secara kebetulan di warung-warung, di tengah jalan, di tempat-
tempat pertemuan, dan sebagainya. Teknik sampling incidental inilah yang sukar
dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena tidak menggunakan prinsip ilmiah yang kuat.
Adapun cara-cara atau prosedur yang digunakan untuk randomsampling adalah:
1. Cara Undian
Cara ini dilakukan sebagaimana kita mengadakan undian. Prinsip langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut:
a. Buatlah suatu daftar yang berisi semua subjek, objek, gejala, peristiwa, atau kelompok-
kelompok yang ada dalam populasi.
b. Berilah kode-kode yang berupa angka-angka untuk tiap-tiap subjek, objek, gejala,
peristiwa, atau kelompok yang dimaksudkan dalam a).
c. Tuliskan kode-kode itu masing-masing dalam satu lembar kertas kecil.
d. Gulung kertas itu baik-baik.
e. Masukkan gulungan-gulungan kertas itu ke dalam kaleng atau semacamnya.
f. Kocok baik-baik kaleng itu.
g. Ambillah kertas gulungan itu sebanyak yang dibutuhkan

Jika cara ini dilakukan terhadap semua individu dalam populasi, teknik ini disebut
pengambilan sampling tak bersyarat. Akan tetapi sangat sukar untuk menggunakan cara ini
jika jumlah subjek dalam populasi sangat besar, atau jika kita belum mengetahui dengan
pasti semua individu dalam populasi.

2. Cara Ordinal
Cara ini diselenggarakan dengan mengambil subjek dari atas kebawah. Ini dilakukan dengan
mengambil mereka yang bernomor ganjil, genap, nomor kelipatan angka tiga, lima, sepuluh,
dari suatu daftar yang telah disusun. Prinsip apa pun yang dipakai dalam cara ordinal ini
langkah-langkahnya adalah:
a. Buat suatu daftar seperti dalam cara undian. Daftar ini dapat disusun menurut abjad,
tempat tinggal, dan sebagainya.
b. Ambil dari mereka yang ada dalam daftar itu menurut ketentuan yang sudah ditetapkan.
Misalnya, siapa-siapa bernomor ganjil; siapa-siapa yang bernomor kelipatan angka 5, 10,
25..; siapa-siapa yang bernomor lima yang pertama dari urutan daftar abjad; atau siapa-
siapa yang mengisi sepuluh nomor yang terakhir dari tiap-tiap halaman daftar; dan
sebagainya.

Semuanya dilakukan sampai jumlah yang dibutuhkan terpenuhi.


3. Randomisasi dan Tabel Bilangan Random
Cara ini paling banyak digunakan para peneliti karena selain prosedurnya yang sangat
sederhana, juga kemungkinan penyelewengan dapat dihindarkan sejauh-jauhnya.
Biasakanlah menggunakan cara ini. Tabel bilangan random umumnya terdapat pada buku-
buku statistik. Salah satu dari bentuk tabel bilangan random dapat kita lihat pada contoh
halaman berikut ini. Bilangan-bilangan itu ditetapkan secara random sehingga subjek yang
ditugaskan dengan bilangan-bilangan itu sudah terhitung sebagai subjek random.Adapun
penggunaan tabel tersebut adalah sebagai berikut:
a. Buat daftar subjek.
b. Beri nomor urut pada tiap-tiap subjek
c. Ambil pensil dan jatuhkan ujungnya pada tabel bilangan random itu di sembarang
tempat. Catat dua angka yang terdekat dengan jatuhnya ujung pensil. Dua angka ini
merupakan bilangan angka petunjuk baris. Jika misalnya ujung pensil jatuh dekat pada
angka 03, maka baris ke-3 dari atas akan dipakai. Tetapi jika ujung pensil jatuh dekat
pada angka 30, maka baris yang ke-30 lah yang akan dipakai sebagai petunjuk baris.
d. Ulangi langkah c) untuk memperoleh dua angka lagi yang akan menjadi bilangan
petunjuk kolom. Misalnya dua angka yang berdekatan dengan ujung pensil itu bilangan
14, maka kolom 14 dijadikan kolom petunjuk.
e. Misalkan dari langkah-langkah c) dan d) kita peroleh bilangan-bilangan 36 dan 20, maka
bacalah baris ke-36 ke kanan sampai menyilang kolom 20. Tandailah bilangan di
persilangan baris ke 36 dan kolom 20 itu.
f. Untuk populasi yang kurang dari 10, satu angka itu sudah cukup untuk mengidentifikasi
anggota sampel yang pertama. Akan tetapi, bila populasinya 10 ke atas tetapi lebih kecil
dari 100, maka harus diambil dua angka untuk mengidentifikasi anggota sampel yang
pertama. Oleh sebab itu, ambillah angka di per silangan baris ke-36 dan kolom ke-20 itu
tambah dengan satu angka di belakangnya untuk memperoleh dua angka identifikasi
anggota sampel yang pertama itu. Jika populasinya 100 orang ke atas tetapi lebih kecil
dari 1000, maka harus diambil 3 angka; dan seterusnya. Jika 999<populasi<10.000 maka
diambil empat angka.
g. Selanjutnya untuk mengambil anggota sampel yang kedua, ketiga, keempat dan
seterusnya, ambillah bilangan-bilangan diatas dan atau di bawah bilangan anggota
sampel yang pertama tadi. Pengambilan itu dilakukan terus sampai jumlah anggota
sampel yang kita perlukan terpenuhi sekiranya bilangan-bilangan dalam kolom yang
bersangkutan telah terbaca habis, sedangkan jumlah sampel belum terpenuhi, lakukan
kembali langkah c) sampai dengan g). Kalau perlu lakukan berulang-ulang sampai jumlah
sampel terpenuhi.
h. Jika ada satu bilangan yang sama tertunjuk dua kali atau lebih, bilangan-bilangan itu
hanya dapat dipakai satu kali saja (kecuali untuk sampel dengan pergantian). Apabila
ada bilangan random yang tertunjuk, tetapi bilangan itu tak terdapat dalam daftar
subjek populasi (yang dibuat dengan langkah-langkah a) dan b) maka bilangan itu
dilewati sampai kepada bilangan lain yang menjadi nomor dari subjek dalam daftar
populasi
Randomisasi dapat dikenakan pada semua, dalam populasi, dapat pula dikenakan pada
sebagian saja dari individu-individu dalam populasi itu. Inilah yang membedakan antara apa
yang disebut random sampling tak terbatas dibandingkan random sampling terbatas.
Ramdom sampling tak terbatas kadang-kadang disebut juga random samplmg tak bersyarat.
Ini adalah pengambilan random sampling yang dikenakan pada seluruh individu dalam
populasi yang sudah didaftar lebih dahulu. Semua subjek dalam populasi tanpa kecuali dan
tanpa syarat diberi kesempatan vang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Karena itu,
random sampling tak terbatas merupakan random sampling terhadap populasi subjek atau
atau populasi individu.

Random sampling terbatas disebut juga random sampling bersyarat. Random sampling ini
bukanlah random sampling terhadap populasi individu, melainkan random sampling
terhadap sub-populasi individu, populasi grup, populasi daerah atau populasi kluster. Apa
yang disebut sub-populasi random sampling, random sampling grup, area sampling
probabilitas, atau random sampling klaster termasuk dalam kategori random sampling
terbatas ini.

2. Teknik Non-Random Sampling

Semua sampling yang dilakukan bukan dengan teknik random sampling disebut non-random sampling.
Dalam sampling ini tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan
menjadi anggota sampel. Dalam apa yang disebut sampling insidental, misalnya, hanya individu-individu
atau grup-grup yang kebetulan dijumpai atau dapat dijumpai saja yang diteliti. Ini kadang-kadang
dilakukan dalam penelitian-penelitian sosial, biologi, edukasi, dan psikologi. Dalam bidang sosial,
misalnya, pendapat umum diselidiki dari orang-orang yang kebetulan dijumpai di pinggir jalan, di took-
toko, atau di tempat-tempat yang dapat dicapai dengan mudah. Dalam bidang biologi biasa sekali
diambil binatang-binatang yang kebetulan ada di dekat pintu kandang yang dijadikan binatang
percobaan. Dalam bidang pendidikan dan psikologi kadang-kadang yang diteliti hanya para pelajar atau
mahasiswa yang kebetulan masuk sekolah, rekreasi di lapangan olahraga, atau di kafetaria-kafetaria.
Sudah barang tentu generalisasi dari non-random sampling tidak dapat memberikan tingkat keyakinan
yang tinggi, kecuali peneliti dapat membuktikan bahwa populasi memang relatif homogen. Karena itu,
peneliti perlu berhati-hati dalam menarik garis generalisasi dari sampel non-random ini.