Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

TUMOR MAMMAE

A. DEFINISI
Tumor mammae adalah pertumbuhan sel sel yang abnormal yang menggangu pertumbuhan
jaringan tubuh terutama pada sel epitel di mammae ( Sylvia,1995 )
Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang dapat terjadi pada suatu sel / jaringan
di dalam mammae dimana ia tumbuh secara liar dan tidak bias dikontol ( Dr.Iskandar,2007 )
Macam tumor mammae
1. Tumor jinak
Hanya tumbuh membesar , tidak terlalu berbahaya dan tidak menyebar keluar jaringan
2. Tumor ganas
Kangker adalah sel yang telah kehilangn kendali danb mekanisme normalnya sehingga
mengalami pertumbuhan tidak wajar , lair , dan kerap kali menyebar jauh ke sel jaringan lain
serta merusak
B. ETIOLOGI
Tak ada satupun penyebab spesifik dari kanker payudara; sebaliknya serangkaian faktor genetik,
hormonal, dan kemungkinan kejadian lingkungan dapat menunjang terjadinya kanker ini. Bukti
yang terus bermunculan menunjukan bahwa perubahan genetic berkaitan dengan kanker
payudara, namun apa yang menyebabkan perubahan genetic masih belum diketahui.perubahan
genetic ini termaksud perubahan atau mutasi dalam gen normal, dan pengaruh protein baik
yang menekan atau meningkatkan perkembangan kanker payudara. Hormone steroid yang
dihasilkan oleh ovarium mempunyai peran penting dalam kanker. Dua hormone utama-estradiol
dan progesterone-mengalami perubahan dalam lingkungan selular, yang dapat mempengaruhi
factor pertumbuhan bagi kanker payudara.
Factor resiko tinggi antara lain :
1. Menstruasi  dini,menofause lebih awal / lambat
2. Melahirkan anak pertama dengan usia 30 th keatas
3. Kontrasepsi oral
4. Status social ekonomi tinggi
5. Factor genetika
6. Obesitas
7. Diet tinggi masukan lemak
8. Stress fisiologi kronis
C. MANIFESTASI KLINIK
Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di
sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur. Pada
stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah
kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya.
Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok di kulit
payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk.
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan / massa di payudara, ada rasa sakit dapat juga
tanpa rasa sakit, keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau
berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah), timbul kelainan kulit berupa perubahan
warna atau tekstur kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, peau d'orange) pada payudara, puting
susu maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu) dan luka yang tidak
sembuh dalam waktu yang lama. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah benjolan atau
massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara, kulit di sekitar puting susu bersisik
atau ada lekukan pada kulit, puting susu tertarik ke dalam (retraksi puting susu) atau terasa
gatal atau pembengkakan salah satu payudara. Konsistensi payudara yang keras dan padat,
benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini
belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara.Pembesaran kelenjar getah bening atau
tanda metastasis jauh. Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan atau ulserasi kulit. Setiap kelainan pada payudara harus dipikirkan ganas
sebelum kita buktikan tidak ganas.
D. PATOFISIOLOGI PENYAKIT
Untuk dapat menegakkan dignosa kanker dengan baik, terutama untuk melakukan pengobatan
yang tepat, diperlukan pengetahuan tentang proses terjadinya kanker dan perubahan
strukturnya. Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri : proliferasi
yang berlebihan dan tak berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi
abnormal sel kanker akan menggangu fungsi jaringan normal dengan meninfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel
tersebut telah terjadi perubahan secara biokimiawi terutama dalam intinya. Hampir semua
tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi
sekelompok sel ganas diantara sel normal.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase, yaitu:
1. Fase induksi 15 30 tahun
Kontak dengan bahan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai dapat
merubah jaringan displasia menjadi tumor ganas.
2. Fase insitu: 5 10 tahun
Terjadi perubahan jaringan menjadi lesi pre concerous yang bisa ditemukan di serviks uteri,
rongga mulut, paru, saluran cerna, kulit dn akhirnya juga di payudara.
3. Fase invasi: 1 5 tahun
Sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi melalui membran sel ke jaringan
sekitarnya dan ke pembuluh darah sera limfa
4. Fase desiminasi: 1 - 5 tahun
Terjadi penyebaran ke tempat lain
E. PATHWAY
F. TANDA DAN GEJALA
Penemuan dini kanker payudara masih sulit ditemukan, kebanyakan ditemukan jika sudah
teraba oleh pasien.
Tanda tandanya:
1. Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak bentuknya
tak beraturan dan terfiksasi
2. Nyeri di daerah massa
3. Adanya lekukan ke dalam, tarikan dan refraksi pada area mammae
4. Edema dengan peant d orange (keriput seperti kulit jeruk)
5. Pengelupasan papilla mammae
6. Adanya kerusakan dan retraksi pada area puting, keluar cairan spontan, kadang disertai
darah
7. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Mamografi: memperlihatkan struktur internal payudara, dapat mendeteksi kanker yang tak
teraba atau tomur yang terjadi pada tahap awal.
2. Galaktografi: mamogram dengan kontras dilakukan dengan menginjeksikan zat kontras
kedalam aliran duktus.
3. Ultrasound: dapat membantu dalam membedakan antara massa padat dan kista dan pada
wanita yang jaringan payudaranya keras;hasil komplement dari mamografi.
4. Xeroradiografi: menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor.
5. Termografi: mengidentifikasikan pertubuhan cepat tumor sebagai titik panas karena
peningkatan suplai darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.
6. Diafanografi (transimulasi): mengidentifikasi tumor atau massa dengan membedakan bahwa
jaringan mentransmisikan dan menyebarkan sinar. Prosedur masih diteliti dan
dipertimbangkan kurang akurat daripada mamografi.
7. CT-scan dan MRI: teknik scan yang dapat mendeteksi penyakit payudara, khususnya massa
yang lebih besar, atau tumor kecil, payudara mengeras yang sulit diperiksa dengan
mamografi. Teknik ini tidak bisa untuk pemeriksaan rutin dan tidak untuk mamografi.
8. Biopsi payudara(jarum atau eksisi): memberikan diagnosa definitive terhadap massa dan
berguna untuk klasifikasi histology pentahapan, dan seleksi terapi yang tepat
9. Asai hormon reseptor: menyatakan apakah sel tumor atau spesimen biopsi mengandung
reseptor hormon (estrogen dan progesteron). Pada sel malignan, reseptor kompleks
estrogen-plus merangsang pertumbuhan dan pembagian sel. Kurang lebih dua pertiga
semua wanita dengan kanker payudara reseptor estrogennya positif dan cenderung
berespon baik terhadap terapi hormon menyertai terapi primer untuk memperluas periode
bebas penyakit dan kehidupan.
10. Foto dada, pemeriksaan fungsi hati, hitung sel darah, dan scan tulang: dilakukan untuk
mengkaji adanya metastase.
H. KOMPLIKASI
Metastase ke jaringan sekitar mellui saluran limfe (limfogen) ke paru, pleura, tulang dan hati.

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
J. PROGNOSIS
Tujuan akhir dari suatu program ini bukan saja memperbaiki ketahanan hidup , tetapi juga
perbaikan penyembuhan sebab kanker yang diobatik pada stasium dini dengan sendirinya
menaikkan angka survival biarpun penyembuhannya belum tentu tercapai.

PROSES KEPERAWATAN PASIEN TUMOR MAMMAE

A. PENGKAJIAN
1. Identitas, (lihat factor-faktor predisposisi)
2. Keluhan utama ada benjolan pada payu dara dan lain-lain keluahan serta sejak kapan,
riwayat penyakit (perjalanan penyakit, pengobatan yang telah diberikan), faktro
etiologi/resiko.
3. Konsep diri mengalmi perubahan pada sebagian besar klien dengan kanker mamma.
4. Pemeriksaan klinis ;
Mencari benjolan Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormone antara lain
estrogen dan progesterone, makas ebaiknya pemeriksaan ini dilakukan saat pengaruh
hormonal ini seminimal mungkin/setelah menstruasi + 1 minggi dari hari akhir menstruasi.
Klien duduk dengan tangan jatuh ke samping dan pemeriksa berdiri didepan dalam posisi
yag lebih kurang sama tinggi.
a. Inspeksi
 Simetri mamma kiri-kanan
 Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting susu, kelainan kulit, tanda
radang, peaue d orange, dimpling, ulserasi dan lain-lain. Inspeksi ini juga dilakukan
dalam keadaan kedua lengan diangkat ke atas untuk melihat apakah ada bayangan
tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang tertinggal,
dimpling dan lain-lain.
b. Palpasi
 Kien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata atas lapangan dada, jika
perlu punggung diganjal bantal kecil.
 Konsistensi, banyak, lokasi, infiltasi, besar, batas dan operabilitas.
 Pemebesaran kelenjar gerah bening (kelenjar aksila)
 Dakah metastase Nudus (regional) atau organ jauh)
 Stadium kanker (system TNM UICC, 1987)
5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan penunjang klinis
1) Pemeriksaan radiologis
 Mammografi/USG Mamma
 X-foto thoraks
 Kalau perlu
 Galktografi
 Tulang-tulang
 USG abdomen
 Bone scan
 CT scan
2) Pemeriksaan laboratorium
 rutin, darah lengkap, urine
 duyla darah puasa dan 2 jpp
 enxym alkali sposphate, LDH
 CEA, MCA, AFP
 Hormon reseptor ER, PR
 Aktivitas estrogen/vaginal smear
3) Pemeriksaan sitologis
 FNA dari tumor
 Cairan kista dan pleura effusion
 Secret putting susu
b. Pemeriksaan sitologis/patologis
1) Durante oprasi Vries coupe
2) Pasca operasi dari specimen operasi

B. DIAGNOSA
PRA OPERASI
1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio
ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan
keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan
peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
2. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering
bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti
intruksi/pencegahan komplikasi.

POST OPERASI
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi
otot.
2. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder
terhadap pemberian sitostatika.
3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang
berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia,
iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue,
ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat,
hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah
ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan
sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive pembedahan
5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan, efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, gangguan neuromuscular,
nyeri.
C. INTERVENSI
PRE OPERASI
1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio
ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan
keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan
peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
Tujuan :
1. Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
2. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
3. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

Intervensi :

1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.


2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri
informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam
pengobatan.
5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
6. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

Rasional :

1. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan
dan menghindari adanya duplikasi.
2. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
3. Dapat menurunkan kecemasan klien.
4. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.
5. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam
upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan
6. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga
7. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
8. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

2. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan


kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya,
menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti
intruksi/pencegahan komplikasi.
Tujuan :
 Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada tingkatan
siap.
 Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur
tersebut.
 Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo- batan.
 Bekerjasama dengan pemberi informasi.

Intervensi :

1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.
2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang
pengalaman klien lain yang menderita kanker.
3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi
yang tidak diperlukan.
4. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy
yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
5. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang
penyakitnya.
6. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya
eritema, ulcerasi.
8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.

Rasional :

1. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.


2. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta
kesalahan pengertian.
3. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.
4. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.
5. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.
6. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
7. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah
dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.
8. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

POST OPERASI
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi
otot.
Tujuan :
 Tampak rileks
 Mampu tidur atau istirahat dengan tepat
 Mengekspresikan penurunan nyeri

INTERVENSI

1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas (skala 0-10)
2. Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal
3. Bantu pasien menemukan posisi nyaman
4. Berikan tindakan kenyamanan dasar tehnik relaksasi
5. Sokong dada saat latihan nafas dalam
6. Berikan obat  nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri berat dan sebelum aktivitas
dijadwalkan
7. Berikan analgetik sesuai dengan indikasi

2.Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap
pemberian sitostatika.

Tujuan :

Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

Kriteria hasil :

 Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya


 Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
 Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
 Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

INTERVENSI

1. Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
2. Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan perasaan dan pikiran tentang kondisi,
kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
3. Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya.
4. Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan
kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan
pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
5. Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan
kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
6. Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional.
RASIONAL

1. Perasaan empatik dan perhatian untuk siap membantu klien dalam mengatasi permasalahan
yang ada.
2. Perasaan yang diungkapakan pada orang yang dipercaya akan membuat perasaan lega dan tidak
tekanan batin.
3. Informasi yang akurat memberikan masukan dan instropeksi diri dalam menerima dirinya.
4. Ektulisasi diri dibutuhkan bagi klien dengan kanker
5. rRespon klien yang negatfi diperlukan bantuan baik fisik mapun psikis-moral untuk memenuhi
kebutuhan sejhri-sehari.
6. Dampak dari pada chemoterapi perlu adanya penjelasan dan perawatan rambut.
7. Konseling kesehatan secara bersama akan lebih lebih efektif.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan
sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive pembedahan.

Tujuan :

Hasil yang diharapkan : Pertahankan lingkungan akseptik yang aman, mengidentifikasi faktor-faktor
resiko individu dan intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.

INTERVENSI

Kaji balutan / luka untuk karakteristik drain

Awasi vital sign

Perhatikan prinsip septik, antiseptik setiap tindakan.

Ganti balutan / rawat luka tiap hari

Kaji dolor, color, rubor (tanda-tanda infeksi)

Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien

Kolaborasi, pemberian antibiotik

4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan, efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan :
Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan
INTERVENSI
Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan
luka.
Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
Ubah posisi klien secara teratur.
Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa
rekomendasi dokter.
RASIONAL :

Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap
perubahan integritas kulit.

Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.

Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.

Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, gangguan neuromuscular, nyeri.


6. Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
7. Kriteria hasil :
8. Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
9. Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
10. Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
11.
12. INTERVENSI
13. RASIONAL

Rencanakan periode istirahat yang cukup

Berikan latihan aktivitas secara bertahap.

Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.


mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas
seperlunya secar optimal.

tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga
namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo Agung.,
Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa. EGC : Jakarta.

Barbara, CL. 1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses keperawatan).
Bandung.

Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih bahasa: Tim PSIK
UNPAD Edisi-6. EGC : Jakarta

Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan Keperawatan untuk
perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M.,
Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta

dr. Budi Harapan Siregar,Sp.B. Catatan Kuliah Bedah Jilid 2. Makassar. Bursa Aesculapius.
Junaedi, Iskandar dr., (2007) Kanker. Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer
Price, Sylvia Anderson, (1995) Patofisiologi Konsep Klinis Proses Prses Penyakit Edisi 4 buku
2 : Jakarta EGC

Anda mungkin juga menyukai