Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PENGELOLAAN SAMPAH
Disusun oleh :
Sudar
NIM. 41020221B2010

1. Perkembangan pengelolaan sampah di Indonesia


Pemrosesan akhir sampah secara umum di Indonesia adalah menggunakan sistem
land disposal (penyingkiran limbah ke dalam tanah). Penyingkiran limbah ke dalam
tanah yang disertai dengan pengurugan/penimbunan dikenal dengan istilah landfilling.
Sanitary landfill adalah metode landfilling yang aplikasinya memperhatikan aspek-
aspek sanitasi limgkungan. Menurut Damanhuri (2010), definisi sanitary landfill
adalah metode pengurugan sampah ke dalam tanah, dengan menyebarkan sampah
secara lapis perlapis pada sebuah site (lahan) yang telah disiapkan, kemudian
dilakukan pemadatan dengan alat berat, dan pada akhir hari operasi, urukan sampah
tersebut kemudian ditutup dengan tanah penutup. Sedangkan metode yang digunakan
sebelumnya yaitu sistem open dumping tidak mengikuti tata cara yang sistematis serta
tidak memperhatikan dampak pada lingkungan.

2. Sumber dan Karakteristik Sampah


a. Sumber sampah
Sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai berikut :
1. Sampah dari pemukiman penduduk
2. Sampah dari tempat-tempat umum dan perdagangan
3. Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah
4. Sampah dari industry berat dan ringan
5. Sampah pertanian

b. Karakteristik/ Jenis sampah


a. Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya.
1. Organik, misal : sisa makanan, daun, sayur dan buah.
2. Anorganik, misal : logam, pecahan belah, abu dan lainya.
b. Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar.
1. Mudah terbakar, misal : kertas, plastic, daun kering, kayu.
1
2. Tidak mudah terbakar, misal : kaleng, besi, gelas, dan lainya.
c. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk.
1. Mudah membusuk, misal : sisa makanan, potongan daging dan sebagainya.
2. Sulit membusuk, misal : plastic, karet, kaleng, dan sebagainya.
d. Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah.
1. Sampah basah (garbage)
Terdiri atas zat-zat yang mudah membususk dan terurai dengan cepat. Sampah
golongan ini merupakan sisa – sisa pengolahan atau sisa sisa makanan dari rumah
tangga atau merupakan timbulan hasil sisa makanan, seperti sayur mayur, yang
mempunyai sifat mudah membusuk, sifat umumnya adalah mengandung air dan
cepat membusuk sehingga mudah menimbulkan bau.
2. Sampah kering (rubbish)
Sampah golongan ini memang diklompokkan menjadi 2 (dua) jenis:
a. Rubbis mudah terbakar, misal : kertas, kayu, karet, daun kering dan sebagainya.
b. Rubbis tidak mudah terbakar, misal : kaca, kaleng dan sebagainya.
3. Abu (ashes) yang termasuk sampah ini adalah sisa-sisa dari pembakaran atau
bahan yang terbakar, bisa berasal dari rumah, kantor, pabrik, industri.
4. Sampah jalanan (street sweeping), sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas
mesin atau manusia seperti kertas, daun-daun, plastik.
5. Bangkai binatang (dead animal), yaitu bangkai-bangkai binatang akibat
kecelakaan atau penyakit.
6. Sampah campuran (House hold refuse), yaitu sampah yang berasal dari daerah
pemukiman terdiri dari garbage, ashes, rubbish.
7. Sampah industri, terdiri dari sampah padat dari industri, pengolahan hasil bumi
atau timbunan dan industri lainnya.
8. Sampah dari daerah pembangunan (construction wastes), yaitu sampah yang
berasal dari pembanguna gedung atu bangunan-bangunan lain, seperti batu-bata
beton, asbes, papan dan lain-lain.
9. Sampah hasil penghancuran gedung (demolition waste), adalah sampah yang
berasal dari penghancuran dan perombakan bangunan atau gedung.
10. Sampah khusus, yaitu sampah-sampah yang memerlukan penanganan khusus
misalnya sampah beracun dan berbahaya, sampah infeksius, misalnya sampah
radioaktif, kaleng cat, film bekas dan lain-lain.
11. Abandoned vehicle, berasal dari bangkai kendaraan.
2
12. Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat
organic, pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.

3. Pengolahan Sampah
Pengelolaan sampah meliputi tahap pengumpulan dan penyimpanan ditempat sumber,
tahap pengangkutan dan tahap pemusnahan.
1. Pengumpulan dan penyimpanan ditempat sumber
Sampah yang dilokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel dan sebagainya)
ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara (tempat sampah). Sampah
basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat terpisah untuk
memudahkan pemusnahan.
Adapun tempat penyimpanan sementara (tempat sampah) harus memenuhi
persyaratan:
a. Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor.
b. Memiliki tutup dan mudah dibuka tanpamengotori tangan.
c. Ukuran sesuai sehingga mudah diangkut oleh satu orang.
Dari tempat penyimpanan sampah ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan
kedalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk
menampung sampah rumah tangga. Untuk membangun suatu dipo, harus
memenuhi persyaratan :
a. Dibangun diatas permukaan tanah dengan ketinggian bangunan setinggi
kendaraan pengangkut sampah.
b. Memiliki dua pintu, pintu masuk dan pintu untuk mengambil sampah.
c. Memiliki lubang ventilasi yang tertutup kawat halus untuk mencegah lalat dan
binatang lain masuk ke dalam dipo.
d. Ada keran air untuk membersihkan.
e. Tidak menjadi tempat tinggal atau sarang lalat dan tikus.
f. Mudah dijangkau masyarakat.
Pengumpulan sampah dapat dilakukan dengan dua metode :
a. System duet : tempat sampah kering dan tempat sampah basah.
b. System trio : tempat sampah basah, sampah kering dan tidak mudah terbakar.

2. Pengangkutan
3
Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di
tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat
pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada
sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah
dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres, sehingga sampah
dapat dipadatkan 2-4 kali lipat (Widyatmoko dan Sintorini Moerdjoko, 2002:29).
Tujuan pengangkutan sampah adalah menjauhkan sampah dari perkotaan ke
tempat pembuangan akhir yang biasanya jauh dari kawasan perkotaan dan
permukiman.
3. Pemusnahan
1. Sanitary landfill
Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun
sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis. Sanitary landfill
yang baik harus memenuhi persyaratan berikut :
a. Tersedia tempat yang luas
b. Tersedia tanah untuk menimbunya.
c. Tersedia alat-alat besar.
2. Incineration
Merupakan suatu metode pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah
secara besar-besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik. Manfaat system ini
antara lain :
a. Volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya.
b. Tidak memerlukan ruang yang luas.
c. Panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uanp.
d. Pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal.
Adapun kerugianya antara lain :
a. Biaya besar.
b. Lokalisasi pembuangan pabrik sukar didapat karena keberatan penduduk.
Peralatan yang digunakan dalam incenerasi adalah :
a. Charging apparatus
Adalah tempat penampungan sampah yang berasal dari kendaraan
pengangkut sampah.
b. Furnace

4
Furnace atau tungku merupakan alat pembakar yang dilengkapi dengan
jeruji besi yang berguna untuk mengatur jumlah masuk sampah dan untuk
memisahkan abu dengan sampah yang belum terbakar.
c. Combustion
Combustion atau tungku pembakar kedua, memiliki nyala api yang lebih
panas dan berfungsi untuk membakar benda-benda yang tidak terbakar
pada tungku pertama.
d. Chimney atau stalk
Chimney atau stalk adalah cerobong asap untuk mengalirkan asap keluar
dan mengalirkan udara kedalam.
e. Miscellaneous features
Adalah tempat penampungan sementara dari debu yang terbentuk, yang
kemudian diambil dan dibuang.
3. Composting
Pemusnahan sampah dengan cara memanfaatkan proses dekomposisi zat
organic oleh kuman-kuman pembususk pada kondisi tertentu. Proses ini
menghasilkan bahan berupa kompos atau pupuk.
Berikut tahap-tahap didalam pembuatan kompos.
a. Pemisahan benda-benda yang tidak dapat dipakai sebagai pupuk seperti
gelas, kaleng, besi dan sebagainya.
b. Penghancuran sampah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil (minimal
berukuran 5 cm)
c. Pencampuran sampah dengan memperhatikan kadar karbon dan nitrogen
yang paling baik ( C:N = 1:30)
d. Penempatan sampah dalam galian tanah yang tidak begitu dalam. Sampah
dibiarkan terbuka agar terjadi proses aerobic.
e. Pembolak-balikan sampah 4-5 kali selama 15-21 hari agar pupuk dapat
terbentuk dengan baik.
4. Hot feeding
Pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (misal, babi), setelah diolah
terlebih dahulu (dimasak atau direbus).
5. Discharge to sewers
Sampah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam system pembuangan air
limbah.
5
6. Dumping
Sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapangan, jurang atau
tempat sampah.
7. Dumping in water
Sampah dibuang kedalam air sungai atau air laut.
8. Individual incineration
Pembakaran sampah secara perorangan.
9. Recycling
Pengolahan kembali bagian-bagian dari sampah yang masih dapat dipakai atau
daur ulang.
10. Reduction
Menghancurkan sampah (biasanya dari jenis garbage) sampai kebentuk yang
lebih kecil, kemudian diolah untuk menghasilkan lemak.
11. Salvaging
Pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali misalnya, kertas bekas.

4. Aspek-aspek Pengelolaan Sampah


Sistem pengelolaan sampah adalah proses pengelolaan sampah yang meliputi 5 (lima)
aspek/komponen yang saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya
saling berinteraksi untuk mencapai tujuan (Dept. Pekerjaan Umum, SNI 19-2454-
2002). Kelima aspek tersebut meliputi: aspek teknis operasional , aspek organisasi dan
manajemen, aspek hukum dan peraturan, aspek bembiayaan, aspek peran serta
masyarakat. Kelima aspek tersebut di atas ditunjukkan pada gambar 2.1 berikut ini.

6
Dari gambar tersebut terlihat bahwa dalam sistem pengelolaan sampah antara aspek
teknis operasional, organisasi, hukum, pembiayaan dan peran serta masyarakat saling
terkait, tidak dapat berdiri sendiri. (Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, (SNI 19-
2454-2002)
1. Aspek kelembagaan dan organisasi
Perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan:
 Peraturan pemerintah yang membinanya
 Pola sistem operasional yang diterapkan
 Kapasitas kerja sistem
 Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani.
2. Aspek teknik operasional

7
Berdasarkan SNI 19-2454-2002, tata cara teknik operasional pengelolaan sampah
perkotaan meliputi dasar-dasar perencanaan untuk:
1. Daerah pelayanan
2. Tingkat pelayanan
3. Teknik operasional, mulai dari:
1) Pewadahan sampah
2) Pengumpulan sampah
3) Pemindahan sampah
4) Pengangkutan sampah
5) Pengolahan dan pemilahan sampah
6) Pembuangan akhir sampah
Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari
pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah.
3. Aspek pembiayaan/ Retribusi
Sektor pembiayaan ini menyangkut beberapa aspek, seperti:
 Proporsi APBN/APBD pengelolaan sampah, antara retribusi dan biaya
pengelolaan sampah.
 Proporsi komponen biaya tersebut untuk gaji, transportasi, pemeliharaan,
pendidikan dan pengembangan serta administrasi.
 Proporsi antara retribusi dengan pendapatan masyarakat.
 Struktur dan penarikan retribusi yang berlaku.
4. Aspek peraturan/ hukum
Peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah di
perkotaan antara lain adalah yang mengatur tentang:
 Ketertiban umum yang terkait dengan penanganan sampah
 Rencana induk pengelolaan sampah kota
 Bentuk lembaga dan organisasi pengelola
 Tata-cara penyelenggaraan pengelolaan
 Besaran tarif jasa pelayanan atau retribusi
 Kerjasama dengan berbagai pihak terkait, diantaranya kerjasama antar
daerah, atau kerjasama dengan pihak swasta.
5. Aspek peran serta masyarakat
Menurut Damanhuri (2010), permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran
serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan, yaitu di antaranya:
8
 Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata.
 Belum melembaganya keinginan dalam masyarakat untuk menjaga
lingkungan.
 Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan
pedoman pelaksanaan.
 Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan
penyuluhan dalam programnya.
 Kekhawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai
dengan konsep pengelolaan yang ada.

5. Laju Timbulan Sampah


Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh dengan survey
pengukuran atau analisa langsung di lapangan, yaitu:
a. Mengukur langsung satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel (rumah tangga
dan non-rumah tanga) yang ditentukan secara random-proporsional di sumber
selama 8 hari berturut-turut (SNI 19- 3964-1995 dan SNI M 36-1991-03)
b. Load-count analysis: Mengukur jumlah (berat dan/atau volume) sampah yang
masuk ke TPS, misalnya diangkut dengan gerobak, selama 8 hari berturut-turut.
Dengan melacak jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh gerobak
yang mengumpulkan sampah tersebut, sehingga akan diperoleh satuan timbulan
sampah per-ekivalensi penduduk
c. Weigh-volume analysis: bila tersedia jembatan timbang, maka jumlah sampah
yang masuk ke fasilitas penerima sampah akan dapat diketahui dengan mudah
dari waktu ke waktu. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung dengan
perkiraan area yang layanan, dimana data penduduk dan sarana umum terlayani
dapat dicari, maka akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekuivalensi
penduduk
d. Material balance analysis: merupakan analisa yang lebih mendasar, dengan
menganalisa secara cermat aliran bahan masuk, aliran bahan yang hilang dalam
system, dan aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang
ditentukan batas-batasnya (system boundary)

6. Reduksi Sampah
7. Cara Pengumpulan Sampah
9
8. Tempat Penampungan Sampah
9. Sistem Pengangkutan Sampah
10. Daur Ulang Sampah
11. Incenerator

10