Anda di halaman 1dari 3

JUJUR

Shafa adalah siswa kelas VI di SDN Mulyasari. Sehari-hari ia dikenal sebagai sosok yang
pintar, baik, sopan dan pandai bergaul.

Pada suatu hari, kelas Shafa mendapat ulangan mendadak. Namun, Shafa sangat tenang
karena semalam ia telah belajar. Dan hasil yang ia dapatkan amat memuaskan. Ia mendapat
nilai sempurna, 100.

Sepulang sekolah…

"Shafa"(Larissa memanggil shafa)

“Kenapa, Sa?”

"Latihan tari dirumah aku yok?Ada Asri, Meysa, Risma juga lho! ”

Shafa kebingungan, di satu sisi dia ingin latihan nari, tetapi besok di kelasnya diadakan
ulangan.

“Em, gimana ya? Besok kan ada ulangan!”

“Elah, udah, lo kan pinter, ga belajar juga bisa!”

“Ah, elo! Ya udah deh! Yok!”

Sepulang dari latihan ia langsung mandi dan belajar. Ia hanya sempat belajar 30 menit untuk
ulangan besok. Karena kelelahan ia pun tertidur di meja belajarnya.

Di sekolah…

“Halo Shafa! Udah belajar?”(Larissa memanggil Shafa)

“Haii Sa! Ulangn bab 3 kan?”

“Yee, bukan ! Bab 4!”

“Elah, bercanda lo!”

“Iya, bab 3! Tapi gue sih ga belajar. Kemaren pulang gue langsung tidur!”

Di kelas…

“Anak-anak,” Bu Tati muncul di Depan murid-murid. Murid - murid pun langsung lari ke
tempat mereka masing-masing. Bu Tati menggelengkan kepala.

“Kalian sudah siap ulangan?”

“Belum buu!” Dengan kompaknya, satu kelas berteriak.


“Ibu tidak peduli! Kemarin ibu sudah bilang bukan ada ulangan? Ayo, semua masukkan buku
kedalam tas!”

Kelas langsung rebut dipenuhi suara kertas dan keluhan Murid-murid . Beberapa detik
kemudian, suasana sunyi.

“Baik, kalian sudah siap? Oke!” Bu Tati membagikan kertas yang sudah berisi soal.
“Kerjakan langsung di kertasnya!” Bu Tati kembali ke meja guru.

Shafa kaget.Ternyata perkataan temannya benar, ulangan bab 4. Dengan perasaan was-was ia
menulis jawaban seingatnya.

Beberapa menit kemudian…

“Oke, ibu tinggal dulu!” Bu Tati meninggalkan kelas. Setelah guru mereka berjalan agak
jauh, kelas langsung dipenuhi bisik-bisik. Banyak yang malah dengan terang-terangan
membuka buku mereka dan menyontek. Sebagian melihat milik teman mereka. Meskipun
sedang terdesak, Shafa tidak mau menyontek seperti teman-temannya yang lain.

Dua hari kemudian hasilnya dibagikan.

“Shafa! "

Shafa berjalan ke depan. Memegang kertasnya, ia tersentak. Ia sangat kaget! Ia mendapat


nilai 90.

Setelah semuanya dibagikan, Bu Tati berjalan ke tengah kelas. “Kalian tahu? Ibu tahu bahwa
dua hari yang lalu, kalian semua menyontek,”

Terdengar jeritan tertahan dari penjuru kelas.

“Kecuali empat orang.Fira, Ressa, Annie , dan Shafa. Ibu tau semuanya. Bagi ibu, empat
orang ini sangat baik karena mereka jujur, tidak mencontek. Dan untuk Shafa,” Ucap Bu Tita.
“Kamu satu-satunya anak Perempuan yang jujur. Terimakasih atas kejujuran kamu. Kalian
juga, terimakasih Fira, Ressa, Annie.” Bu Tati tersenyum. “Dan untuk yang menyontek, siap-
siap saja kalian ulangan lagi.” ucap Bu Tati ringan sambil menuju meja guru. “Oke, buka bab
5.”

Shafa masih dengan tidak konsentrasi membuka bukunya. Ia mendapat 90 tanpa belajar dan
menyontek! Menurutnya, itu pencapaian menakjubkan.

Dia menceritakan semua kejadian itu pada ibundanya tersayang. Ibunya mengembangkan
senyum dan berkata, “Makanya, kamu harus ngambil hikmah dari kejadian ini,”

“Iya bunda, aku mengerti,” jawab Shafa masih dengan wajah berseri.

Sang bunda berucap lagi, masih dengan tersenyum bahagia atas kejujuran anaknya, “Kalau
kamu ingin lulus, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh karena sebentar lagi sudah
ujian kelulusan.”
“Iya bunda, aku akan inget nasihat bunda.”

Sejak kejadian itu, Shafa semakin tekun belajar dan pada saat pengumuman kelulusan, Shafa
lulus dengan nilai tertinggi dan paling memuaskan.

Sambil menerima penghargaan atas kepandaiannya, seraya menyunggingkan


senyum Shafa membatin, jujur itu benar-benar indah dan berharga.

Meysa Siti Aisyah