Anda di halaman 1dari 5

Aku Takut

Aku ingin sendiri. Hanya itu yang aku pikirkan jika malam datang. Entah mengapa aku
merasa sendirian itu menyenangkan, ditemani oleh tiupan angin yang membelai wajahku. Malam ini
aku Kembali duduk di luar ditemani oleh musik kesukaan ku. Aku menikmatinya sampai ibu
memanggil namaku untuk kesekian kalinya. “Ada apa bu?” tanyaku. “Apakah kau belajar dengan baik
belakangan ini?”. Jarang sekali ibu bertanya seperti itu padaku.
“tentu saja bu” jawabku berbohong. Iya! aku berbohong. Kenapa? Karna setiap belajar diriku
selalu merasa tidak berguna. “kenapa ibu bertanya seperti itu? Apakah nilai ku menurun?” tanyaku.
“tidak nak. Kalau begitu ayo masuk, diluar dingin” ajak ibu. “tidak bu. Aku ingin disini sebentar
lagi.”
“baiklah. Kamu sudah makan?” Kenapa ibu jadi cerewet seperti ini? Ada apa dengan ibu?
“sudah bu” Sial! Kenapa aku selalu saja berbohong? Oh tidak. Maafkan aku tuhan.
Akhirnya aku sendiri, lagi. Jika sudah seperti ini aku hanya bisa berdoa, semoga saja aku tidak
berdosa saat berbohong.
Angin malam semakin kencang. Sepertinya ini balasan tuhan karna aku berbohong pada ibu.
Tubuhku menggigil. Aku memutuskan masuk kedalam dan pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Saat dirasa sudah cukup, aku pun bergegas untuk tidur. Tidak! Aku tidak akan
tidur sampai semua orang di rumah terlelap. Aku memilih untuk bermain Handphone sebentar, aku
tau jika itu tidak baik untuk kesehatan, tapi mau bagaimana lagi?
Oh tidak. Ini terjadi lagi. Tepat setelah aku berdoa untuk tidur ku, aku memikirkan hal itu
lagi. Aku mulai menangis dalam keheningan, aku menutup mulut rapat-rapat agar kakak perempuan
ku tidak terbangun dalam tidur nyenyak nya. Kenapa aku memikirkan hal itu lagi? Aku iri kepada
orang-orang yang bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan apapun. Aku tau bahwa diluar sana
banyak yang sama sepertiku, takut saat bergegas untuk tidur. Tapi bagaimana aku bisa bertemu dan
berbagi cerita dengan mereka jika untuk keluar rumah saja aku takut. Aku masih menangis malam itu,
sampai aku mulai mengantuk dan tertidur dengan mata yang bengkak.
Pagi hari akhirnya tiba. Matahari yang menyilaukan mata seakan tersenyum padaku, tapi
tidak dengan orang-orang di sekitar ku. Aku duduk dan termenung, memikirkan hal itu lagi dan
mulai.. tidak tidak! Aku tidak boleh menangis sekarang. Saat sudah merasa baik aku mulai keluar dan
menjalani hari itu seperti hari-hari biasa. Belajar, menyapu, mencuci piring, apapun yang bisa aku
lakukan akan aku kerjakan semua nya. Aku tersenyum pada semua orang yang aku temui. Kalian tau
kan kalau senyum itu ibadah? Makanya aku tetap tersenyum walaupun hati ku sedang hancur. Aku
tidak tau alasan mengapa hatiku hancur dan sakit saat malam tiba. Yang pasti penyebabnya bukan
karna lelaki.
Matahari sudah berganti dengan Bulan. Ini artinya aku akan Kembali menyapa teman-teman
ku diluar sana. Siapa? Yang pasti bukan teman yang bisa membalas apa yang aku bicarakan. Aku
akan berbicara dengan benda apa saja yang ada didepan ku, terkadang aku berbicara pada bayangan
ku sendiri. Aneh bukan? Tapi aku menikmatinya. Saat aku sedang melamun, tiba-tiba Ayah
memanggilku dengan keras. Aku terkejut tapi tidak takut. Suara Ayah memang membuat semua orang
yang bertemu dengan nya merasa takut.
Aku masuk kedalam dan menemui Ayah diruang tamu “Iya yah? Apakah ayah
memanggilku?” tanya ku panasaran.
“Paman mu mengundang Ayah untuk datang ke pernikahan anak nya, Ayah akan mengajak
kalian semua, jika kau pergi apakah akan mengganggu waktu belajarmu? Tapi sepertinya tidak, karna
hari pesta pernikahan nya di adakan saat hari libur ” tanya ayah
Oh tidak! Apa yang harus kujawab? Aku takut bertemu banyak orang, aku takut jika aku
mendengar kata-kata yang menyakitkan dari orang-orang itu. Tapi jika aku menolaknya, Ayah dan ibu
akan curiga jika mental ku terganggu. Aku bingung harus bagaimana. Aku menunduk menahan air
mataku keluar.
“aku.. mmm akuu.. tidak ingin ikut” jawabku dengan terbata-bata sambil mengangkat kepala.
“tapi mengapa?” tanya ayahku. Aku bingung untuk kedua kalinya saat itu. Jika aku jujur ayah akan
marah padaku. Apa yang harus kulakukan?
“Dia takut untuk bertemu orang banyak Yah” jawab kakak ku dengan santainya. Sial! Kenapa
dia berkata seperti itu. Aku menyesal telah bercerita dengan nya. Benar. Aku cerita kepadanya
beberapa hari lalu, tapi aku hanya mengatakan mengapa aku tidak bisa ikut. Aku benar-benar
menyesal, aku tidak akan bercerita lagi dengannya.
“Benarkah itu?” tanya Ayah. Tolong aku tuhan, aku benar-benar bingung sekarang. Aku
hanya ingin menghilang saja dari sini, jika aku punya kekuatan teleportasi aku akan segera
melakukannya. Tapi rasanya tidak mungkin.
Kaki ku mulai bergetar dan lemas walaupun tubuhku sudah aku sandarkan pada salah satu
kursi. Aku hanya bisa diam. Saat aku ingin mulai berbicara, aku mendengar Ayah berkata “Kau
aneh”.
Aku tidak bisa menahan air mataku yang mau keluar. Aku membiarkan nya mengalir keras di
pipiku, buru-buru aku menghapusnya tapi untuk apa? Semua orang dirumah ini sudah melihat bahwa
aku menangis.
“kenapa dia menangis?” tanya Ayah pada Ibu ku. “ Aku tidak membentakmu. Kenapa kau
takut bertemu dengan orang-orang? Aku benar saat aku menyebutmu ‘aneh’ bukan?”
Aku tidak kuat lagi untuk mendengar semua perkataan yang akan Ayah atau Ibu ku ucapkan.
Ini saat yang ‘mungkin’ tepat untuk melarikan diri. aku tidak berani untuk keluar menemui bulan
yang sering menemaniku saat bercerita, aku hanya bisa ke kamar tidurku untuk saat ini. Sesampainya
aku di kamar, aku menangis sambil menutup mulutku. Tapi itu tidak berlaku untuk saat ini. Entah
mengapa aku berpikir bahwa aku harus bunuh diri. aku tau ini gila, tapi pada saat itu pikiran ku buntu.
aku segera menelpon teman dekatku. Hanya dia yang aku beritahu tentang keadaan ku belakangan ini.
“Assalamualaikum Chika” kata ku sambil menahan isak tangis.
“waalaikumsalam.. kamu kenapa?” dia segera tau bahwa aku sedang menangis
“nanti temani aku ya kalau aku sudah sampai disana” hanya itu yang bisa aku katakan.
“iya. Nanti aku temani kok. Udah, kamu jangan nangis lagi. Aku tau kamu kuat” Oh tuhan, air
mataku semakin deras membasahi pipiku.
“makasih” kata terakhir dariku sebelum dia menutup panggilannya.
Setelah itu tangisku mulai mereda dan aku segera menutup tubuhku menggunakan selimut.
Entah mengapa dadaku semakin sesak dan semakin sakit. Tiba-tiba ibu datang dan bertanya “ada apa
denganmu?” pertanyaan itu membuat tangis ku semakin keras, tapi aku berusaha menahannya.
“aku tidak tahu bu” hanya itu jawabanku karna pikiran ku sudah kosong. Yang aku pikirkan
hanya ingin tidur dan berharap besok aku tidak akan terbangun lagi.
“Ibu tahu kamu berbohong, katakan padaku kenapa kamu menangis? Tidak mungkin
seseorang menangis tanpa alasan. Jika kamu menangis, pasti ada sesuatu yang membuat hatimu sakit
dan terharu seperti itu”
Aku mengira semua Ibu di Dunia ini mengerti perasaan anaknya. Ternyata perkiraan ku salah.
“Sudah kubilang bu, aku tidak tahu mengapa aku menangis.” Entah mengapa saat itu aku menjadi
marah. Sepertinya Ibu juga kesal, jadi dia meninggalkan kamar ku dan aku mulai menangis lagi. Aku
tidak bisa tidur. Aku sudah membaca doa dan mengingat tuhan dalam hatiku. Tapi pikiran tentang
bunuh diri itu tidak bisa hilang dalam benak ku.
Tangis ku sudah reda, tapi aku tetap tidak bisa tidur. Akhirnya aku memikirkan hal itu lagi.
Aku menangis dan terisak dalam diam,lagi. Entah mengapa belakangan ini aku banyak menangis, tapi
aku tahu bahwa ini semua adalah salahku. Akhirnya aku mengantuk dan tertidur.
Aku terbangun karena merasakan percikan air di wajahku. Ternyata ibu sedang berusaha
membuatku bangun dari tidur. Apa ini? Kenapa Ibu seperti ini? Apakah ibu sangat kesal sampai
berbuat seperti ini? aku segera bangun dan duduk dari tidur ku
“kau tau sekarang jam berapa? Kenapa kau masih tertidur? dasar anak gadis yang tidak
berguna. Segeralah bangun dan bersihkan halaman rumahku” pinta nya
Aku segera berlari ke halaman rumah dan mulai membersihkannya. Kenapa? Kenapa ibu
marah besar padaku? Tidak biasanya dia begini. Salah apa aku? Padahal jika ia ingin bantuanku, dia
selalu meminta nya dengan cara yang lembut.
Saat aku sedang menyapu halaman dengan berbagai pertanyaan di benak ku, ada yang
menutup mulutku. Aku berusaha memberontak, tapi dia lebih kuat. Tentu saja aku kalah dengan
tangan nya yang besar itu. Aku menggigit tangan nya dan akhirnya tubuhku terlepas darinya. Aku
berteriak “Tolong..Ibuu.. tolong akuu” tidak ada satu orang pun yang menjawab, bahkan aku tidak
melihat siapa-siapa di rumah. kepala ku pusing, kaki ku lemas, dan penglihatan ku mulai menghitam.
Aku pingsan.
Sakit. kepalaku, anggota tubuhku, semuanya terasa sakit. aku tersadar bahwa sedang terikat di
kursi kayu dalam sebuah Gudang. Yang aku lihat disana hanyalah beberapa balok kayu yang Panjang
dan banyak sekali debu-debu tebal. Aku diculik!?
“Ayahh.. Ibuu.. tolong akuu” aku berteriak sambil ketakutan. Aku ingin menangis tapi apakah
itu dapat membuat ku keluar dari sini? Tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari cara untuk
keluar dari sini. Di sudut dekat salah satu balok kayu itu aku menemukan pisau. Aku berusaha
mengambilnya dan akhirnya dapat. Cepat-cepat aku memotong tali yang mengikat tangan dan kaki ku
dengan susah payah. Setelah sekian lama aku bekerja keras, akhirnya aku terlepas dari ikatan kursi
itu. Aku kegera berlari keluar Gudang tersebut, kupikir si penjahat bodoh karna ia meninggalkan
pisau dan kunci di dekat pintu. Tapi syukurlah.
Dalam keadaan kaki yang bertelanjang, aku berlari sekuat tenaga. Akhirnya aku sampai di
rumah. Segera aku mencari Ayah dan Ibu tetapi kenapa aku tidak menemukan mereka? Aku sudah
mencari ke segala penjuru rumah, itu sia-sia. Bahkan aku pun pergi ke rumah tetangga ku. Kosong!
Tidak ada satu orang pun disini selain diriku.
Aku mulai menangis dengan keras sambil meneriaki Ayah,Ibu dan siapa saja yang aku ingat.
Aku menangis sangat keras sampai kepalaku sakit dan tubuhku jatuh ke tanah.
Ternyata itu semua hanya mimpi. Aku terbangun dengan keadaan menangis kecil. Kulihat
jam yang melingkar di pergelangan tangan ku dan syukurlah, hari masih gelap. Tentang mimpi itu,
aku merasa itu sangat nyata. Sangat jelas sekali saat ibu membangunkan ku, saat aku berada di
Gudang tua itu dan saat seperti aku sendirian di dunia ini. Apakah itu pertanda dari tuhan untuk ku?
Apakah semua orang benar-benar membenci ku? Pikiran itu muncul lagi, aku memikirkan bagaimana
caranya aku bunuh diri tanpa ketahuan siapa pun.
Aku teringat bahwa hari ini aku akan pergi ke pernikahan kakak sepupu ku. Datang ke acara
seperti itu tidak masalah bukan? Tapi aku takut. Akhirnya aku hanya bisa memberanikan diri dan
datang ke acara itu.
Saat sudah sampai disana aku disambut dengan pertanyaan “ada apa dengan mu? Kenapa kau
menjadi pendiam seperti ini?” aku ingin sekali marah padanya tapi ini bukan saat yang tepat pikir ku.
Apakah salah jika seseorang yang dulunya terbuka dan sekarang menjadi pendiam? Tidak kan? Apa
masalahnya? Disana aku hanya bisa menampakkan senyum palsu ku. Aku hanya tersenyum saat
photographer mulai memotret diriku dan keluarga ku. Acting yang bagus. Pikirku.
Apakah kalian mengerti saat aku mengatakan ‘memikirkan hal itu’? kalian pasti sudah bisa
menyimpulkan nya dari sini. Aku menjalani hari-hari ku seperti biasa dengan senyum palsu ku sambil
memperbaiki kesehatan mental ku. Apakah pergi ke seorang psikiater adalah sebuah kesalahan?
Apakah para orang tua diluar sana percaya bahwa kesehatan mental anak itu penting? Pertanyaan
seperti itu yang menghantui ku setiap hari. Dengan ini aku berharap aku segera membaik dan teman-
teman diluar sana pun bisa Bahagia menjalani hari-harinya. Dan aku harap mimpi itu bukanlah sebuah
kutukan untuk ku. Aku hanya bisa berdoa semoga aku selalu Bahagia di dunia dan akhirat nanti.

Ide : Pengalaman pribadi

Paragraf pembuka:
“ Aku ingin sendiri. Hanya itu yang aku pikirkan jika malam datang. Entah mengapa aku merasa
sendirian itu menyenangkan, ditemani oleh tiupan angin yang membelai wajahku. Malam ini aku
Kembali duduk di luar ditemani oleh musik kesukaan ku. Aku menikmatinya sampai ibu memanggil
namaku untuk kesekian kalinya. “Ada apa bu?” tanyaku. “Apakah kau belajar dengan baik
belakangan ini?”. Jarang sekali ibu bertanya seperti itu padaku. “

Inti cerita: tokoh dalam cerita mengalami gangguan pada kesehatan mental nya

Konflik: saat tokoh bingung dan stress dalam mengatas kesehatan nya

Paragraf penutup :
“ Apakah kalian mengerti saat aku mengatakan ‘memikirkan hal itu’? kalian pasti sudah bisa
menyimpulkan nya dari sini. Aku menjalani hari-hari ku seperti biasa dengan senyum palsu ku sambil
memperbaiki kesehatan mental ku. Apakah pergi ke seorang psikiater adalah sebuah kesalahan?
Apakah para orang tua diluar sana percaya bahwa kesehatan mental anak itu penting? Pertanyaan
seperti itu yang menghantui ku setiap hari. Dengan ini aku berharap aku segera membaik dan teman-
teman diluar sana pun bisa Bahagia menjalani hari-harinya. Dan aku harap mimpi itu bukanlah sebuah
kutukan untuk ku. Aku hanya bisa berdoa semoga aku selalu Bahagia di dunia dan akhirat nanti “