Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Maksud : a. Membandingklan harga-harga gravitasi dari hasil perhitungan secara teoritis dengan harga gravitasi hasil pengamatan di lapangan. b. Mengetahui pengaruh topografi terhadap pembacaan nilai gravitasi di suatu tempat. c. Membuat peta anomaly gaya berat residual/local dari peta anomaly gaya berat dengan menggunakan tuirunan kedua. I.1 Tujuan : a. b. Mencari anomaly gaya berat terkoreksi. Untuk memperjelas aatu mempertajam anomaly lokal sehingga. c. Mempermudah dalam menentukan jebakan yang menyebabkan anomaly lokal.

BAB II DASAR TEORI


II.1 Pengertian Gravitasi Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. Fisika modern mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori Relativitas Umum dari Einstein, namun hukum gravitasi universal Newton yang lebih sederhana merupakan hampiran yang cukup akurat dalam kebanyakan kasus. Sebagai contoh, Bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda disekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda benda yang ada di bumi. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada diluar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa laiinnya, termasuk satelite buatan manusia.Beberapa teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel gravitron dalam setiap atom. II.2 Hukum Gravitasi Universal Newton Setiap massa titik menarik semua massa titik lainnya dengan gaya segaris dengan dengan garis yang menghubungkan kedua titik. Besar gaya tersebut berbanding lurus dengan perkalian kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa titik tersebut.

Keterangan : F G m1 m2 r = besar of the gaya gravitasi antara kedua massa titik tersebut = konstanta gravitasi = besar massa titik pertama = besar massa titik kedua = jarak antara kedua massa titik

Dalam sistem Internasional, F diukur dalam newton (N), m1 dan m2 dalam kilograms (kg), r in meter (m), and konstanta G is kira-kira sama dengan 6,67 1011 N m2 kg2. Dari persamaan ini dapat diturunkan persamaan untuk menghitung Berat. Berat suatu benda adalah hasil kali massa benda tersebut dengan percepatan gravitasi bumi. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: W = mg. W adalah gaya berat benda tersebut, m adalah massa dan g adalah percepatan gravitasi. Percepatan gravitasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain. II.3 Medan gravitasi Medan gravitasi adalah medan yang menyebabkan suatu benda bermassa mengalami gaya gravitasi. Medan ini dibangkitkan oleh suatu benda bermassa. Didefinisikan secara rumus matematis sebagai besar gaya tarik dibagi massa benda. Rumus medan graviasi Bila terdapat suatu obyek bermassa pada posisi maka medan

gravitasi yang disebabkan oleh obyek tersebut di titik

dirumuskan sebagai

dengan:

adalah konstanta univeral gravitasi Newton. adalah massa penyebab medan gravitasi. adalah posisi massa ke-i. adalah posisi tempat medang gravitasi dihitung. Perhatikan bahwa tidak seperti dalam hal rumusan medan listrik, di mana

muatan dapat berharga positif atau negatif, dalam hal medan gravitasi massa 3

selalu berharga positif, sehingga medannya selalu menuju atau mengarah ke titik pusat penghasil medannya. Dengan kata lain apabila di dalam lingkungan medan gravitasi ditempatkan obyek bermassa, maka obyek tersebut akan mengalami gaya gravitasi yang arahnya menuju penyebab medang gravitasi. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa gaya gravitasi selalu bersifat tarikmenarik. II.4 Percepatan gravitasi Percepatan gravitasi suatu obyek yang berada pada permukaan laut dikatakan ekivalen dengan 1 g, yang didefinisikan memiliki nilai 9,80665 m/s2. Percepatan di tempat lain seharusnya dikoreksi dari nilai ini sesuai dengan ketinggian dan juga pengaruh benda-benda bermassa besar di sekitarnya. Umumnya digunakan nilai 9,81 m/s2 untuk mudahnya. Rumus umum :

di mana

G adalah konstanta gravitasi M adalah massa bumi m dalah mass obyek r adalah jarak antara titik pusat massa bumi dengan titik pusat massa obyek

Pengukuran nilai g Nilai g dapat diukur dengan berbagai metoda. Bentuk-bentuk paling sederhana misalnya dengan menggunakan pegas atau bandul yang diketahui konstanta-konstantanya. Dengan melakukan pengukuran dapat ditentukan nilai percepatan gravitasi di suatu tempat, yang umumnya berbeda dengan tempat lain.

Dalam bidang fisika bumi dikenal pula metoda gravitasi yaitu suatu metoda pengukuran perbedaan percepatan gravitasi suatu tempat untuk memperkirakan kandungan tanah yang berada di bawah titik pengukuran. Dengan cara ini dapat diduga (bersama-sama dengan pemanfaatan metoda fisika bumi lainnya) struktur dan juga unsur-unsur pembentuk lapisan tanah yang tersusun atas elemen yang memiliki rapat massa yang berbeda-beda. II.5 Gaya Berat Penyelidikan gaya berat dimaksudkan untuk membuat peta anomali gaya berat dengan tujuan mengetahui pola penyebaran batuan dan kondisi geologi serta struktur daerah tersebut, berdasarkan sebaran pola anomalinya. Metoda gaya berat pada dasarnya adalah mengukur besaran densitas batuan. Inhomogenitas batuan pembentuk litosfer akan memberikan kontras densitas batuan yang merupakan sasaran dalam pengukuran dengan metode ini, dimana keterdapatan struktur maupun perubahan jenis batuan baik secara vertikal maupun horisontal terdeteksi. Metoda gaya berat merupakan salah satu metoda penyelidikan dengan menggunakan hukum Newton II tentang gracitasi, yang mengukur adanya perbedaan kecil dari massa bumi yang besar. Perbedaan terjadi karena distribusi massa yang tidak meratanya distribusi massa jenis batuan. Adanya perbedaan massa jenis batuan dari suatu tempat dengan tempat lain, akan menimbulkan medan gaya berat yang tidak merata, dan perbedaan inilah yang terukur di permukaan bumi. Karena perbedaan gaya berat di suatu tempat dengan tempat lain relatif kecil, maka diperlukan alat ukur yang peka terhadap perbedaan tersebut dan alat tersebut disebut gravimeter. Hasil pengukuran gaya berat kemudian dikoreksi dengan berbagai koreksi yaitu koreksi pasang surut, koreksi drift, koreksi udara bebas, koreksi Bouguer, koreksi medan dan koreksi lintang sehingga menghasilkan suatu nilai anomali Bouguer. Hukum Newton II menyatakan bahwa gaya tarik menarik antara dua benda yang masing-masing mempunyai massa m1 dan m2 dengan jarak r, dirumuskan sebagai berikut:

F(r) = G m1m2 R2 Keterangan : F = Gaya (N) r = Jarak antara dua massa benda (m) m1,m2 = massa benda (kg) G = Konstanta = 6,67 x 10-11/kgdet3 Dalam metoda gayaberat, hanya komponen vertikal yang digunakan karena hanya komponen ini terdeteksi oleh instrumen gayaberat. Satuan yang digunakan dalam penyelidikan gayaberat adalah Gal (1 gal = 1 cm/det 2). Kenyataan bahwa bumi tidak bulat, tidak homogen dan tidak isotropis ditunjukkan dengan adanya harga percepatan gayaberat yang bervariasi untuk masing-masing tempat. Variasi ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain adanya suatu perbedaan massa jenis batuan pembentuk litosfer, perbedaan ketinggian, perbedaan posisi geografi dan akibat perbedaan posisi bulan terhadap bumi. Hal-hal ini merupakan koreksi dari pengukuran perbedaan gravitasi di lapangan. II.6 Data Koreksi II.6.1 Koreksi Pasang Surut Merupakan waktu tahunan. Rumus Koreksi Pasang Surut : Keterangan : Kps P q M S = Koreksi Pasang Surut = Sudut Zenith bulan = Sudut Zenith Matahari = Massa Bulan = massa Matahari koreksi yang dipengaruhi oleh efek pasang surut.besarnya perubahan ini bervariasi terhadap lintang, waktu bulanan,

= Jarak antara matahari dan bumi Koreksi drift dimaksudkan untuk mengkoreksi kesalahan

pembacaan gravimeter pada saat pengukuran gravitasi disuatu tempat. Drift adalah penyimpangan pembacaan nilai gravitasi dari waktu ke waktu, yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Elastisitas pada pegas halus pada alat Efek pasang surut Pengaruh suhu Waktu pengukuran Goncangan Dan lain lain Dalam koreksi drift ada 2 metode yang sering digunakan dalam penelitian yaitu : Metode Matematis Metode ini digunakan untuk mendapatkan harga gravitasi yang mendekati harga sebenarnya. Rumus :
c= ( p q) .( x y ) (r q )

Keterangan : c = koreksi drift untuk stasiun n p = waktu pembacaan di stasiun n q = waktu pembacaan di stasiun awal r x y = waktu pembacaan di stasiun akhir = nilai pembacaan di stasiun akhir = nilai pembacaan di stasiun awal

Setelah c (koreksi) diperoleh lalu digunakan untuk mengurangi harga pembacaan disetiap stasiun pengukuran, didapat d, d Keterangan : a = nilai pembacaan distasiun n Dari nilai d yang didapat lalu dimasukkan dalam rumus berikut : g Keterangan : g = Nilai gravitasi terkoreksi K = Konstanta alat Cn =K.d =ac

C5

X5

Xn

Gambar 1 : grafik fungsi penyimpangan nilai gravitasi dan waktu II.6.2 Efek Latitude (Garis Lintang) Koreksi ini du\ikarenakan faktor kecepatan bumi akibat rotasi pada sumbunya. Koreksi ini didasarkan pada perbedaan perbedaaan gravitasi yang diturunkan langsung dari formula gravitasi. Jika stasiun pangkal diukur dengan gravitasi mutlak maka nilai gravitasi stasiun lain misal untuk lintang 450 mendekati 980,600 gal. Koreksi lintang akan mempunyai nilai kecil, misalnya 980,6294 gal untuk lintang 45000. Jika dihitung koreksi lintasan adalah : 980,600 980,6249 gal = - 0,0294 gal

II.6.3 Koreksi Elevasi (Ketinggian) Semakin tinggi suatu tempat dipermukaan bumi maka percepatan gravitasi bumi semakin kecil. Koreksi elevasi (ketinggian) mempunyai dua komponen yaitu 1) Koreksi Elevasi (Efek Udara Bebas) Merupakan koreksi yang mengabaikan massa diantara permukaan air laut dengan titik pengamatan. Nilai gravitasi pada suatu titik dipermukaan bumi akan dinyatakan : g = GM/R2 sehingga pada titik dengan ketinggian h, ilai gradien vertikalnya menjadi :
dg dg 2GM 2g = = = 3 dz dR R R

Jika menggunakan permukaan laut sebagai datum maka h yang berada dibawah datum (-0.3086) dan h yang berada diatas datum (0.3086)

FAC S1 = -0,3086 h mgal FAC S2 = 0,3086 h mgal


Harga gravitasi akan bervariasi terhadap posisi ketinggian. Titik yang terletak jauh dari pusat bumi akan mempunyai percepatan gravitasi kecil dibandingkan dengan titik yang lebih dekat dengan pusat bumi. II.6.4 Koreksi Elevasi : Koreksi Bouguer Koreksi Bouguer diukur dari perbedaan letak titik ukur dari speroid refrensi atau titik ukur tersebut tidak dapat dinyatakan berada dipermukaan

air laut.koreksi bouguer dilakukan akibat adanya massa yang terletak antara bidang speroid dengan titik pengukuran. Koreksi ini memperhitungkan rapat massa batuan disekitar stasiun pengukuran. Sifatnya menambah, sehingga harus dikurangi dengan nilai gravitasi terukur. Besarnya koreksi Bouguer ini adalah : Bc = 0.04193 P h mgal/m Massa dianggap berbentuk selinder sehingga : g =2 h = 6,6732 x 10-8, maka: = 0,04191 h mgal = 0,01278 h mgal/ft (Sunardi,1988) II.6.5 Koreksi Topografi (Medan) Koreksi topografi dilakukan untuk mengkoreksi adanya pengaruh penyebaran massa yang tidak teratur disekitar titik pengukuran. Adanya massa yang terletak dibawah permukaan antara titik pengamatan dan bidabg spheroid pada ketinggian h sangat mempengaruhi gaya grafitasi. Grant dan West (1965) mengatakan massa yang terletak antara titik ukur dengan bidang speroid dapat disederhanakan menjadi 2 bagian : a.Bagian lempeng datar dengan ketebalan yang sama dengan ketinggian titik ukur terhadap permukaan speroid. Tarikan massa ini disebut efek Bouguer. b. Bagian yang berada diatas atau bagian yang hilang dibawah permukaan lempeng. Tarikan ini disebut efek topografi (medan) (Grant dan West,1965) Rumus Koreksi Topografi

Keterangan : g g g

10

II.6.6 Efek Efek Isostasi Metode ini untuk membuat koreksi isostatik yamni membuat koreksi medan dari suatu peta topografi. Ketika koreksi isostasi diterapkan pada gravitasi Bouguer, residunya biasa disebut sebagai anomali isostasi . Bagaimanapun efek isostasi, jika ada biasanya diganti sebagai suatu bagian dari kecendrungan regional. II.6.7 Anomali Percepatan Gravitasi Setelah dilakukan koreksi koreksi terhadap data percepatan gravitasi hasil pengukuran (koreksi latitude, elevasi dan topografi) maka diperoleh anomali percepatan gravitasi (anomali gravitasi Bouguer lengkap) yaitu : Anomali Udara Bebas (gobs g0) + FAC Anomali Bouguer (gobs g0) + BC Anomali Bouguer Sederhana (gobs g0) + EC

11

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

Pembacaan Gravitasi di Titik Amat

Konversi ke miligal Harga Lintang di Stasiun Koreksi Pasang Surut Pengamatan

Koreksi Drift Harga Gravitasi Teoritis (Koreksi Lintang) Koreksi Udara Bebas Dan Bouguer Koreksi Topografi Anomali Bouguer Sederhana (SBA)

Harga Gravitasi Teramati (gobs)

12

BAB IV DATA

13

BAB V PEGOLAHAN DATA


V.1 Contoh Perhitungan Simple Anomaly Bouguer (SBA) Mencari nilai g(n) gravitasi yang terkoreksi : g = g 0 (1 + a sin2 + b sin2 ) Diketahui : a = 0.005278895 b = 0.000023462 g 0 = 9.78031846 m s-2 = 9780.31846 mm s-2 Jawab : Pada stasiun 5 dengan lintang = 7,3825 dibawah datum 2 g(n) = 9780.31846 (1 + 0.005278895 sin 7,3825 + 0.000023462 sin27,3825) = 978117,4667 Pada stasiun 13 dengan lintang = 7,4413 diatas datum g(n) = 9780.31846 (1 + 0.005278895 sin27,4413 + 0.000023462 sin27,4413) = 978118,8304 Pada stasiun 23 dengan lintang = 7,5016 dibawah datum 2 g(n) = 9780.31846 (1 + 0.005278895 sin 7,5016 + 0.000023462 sin27,5016) = 978120,2372

1.

2.

Mencari Nilai [h] : [h] = [E - d] Dengan d = 1288 m Contoh pada stasiun 5 h = [1145 - 1288] = 143 Contoh pada stasiun 13 h = [1458 - 1288] = 170 Contoh pada stasiun 23 h = [1179 - 1288] = 109

dibawah datum

diatas datum

dibawah datum

14

3. Mencari harga Free Air Correction (FAC) dan Bouguer Correction (BC) STA dibawah datum : FAC = - 0,3085 X H BC = 0,04191 X H STA diatas datum : FAC = 0,3085 X H BC = - 0,04191 X H Contoh pada stasiun 5 dibawah datum FAC = - 0,3085 x 143 = -44,1298 BC = 0,04191 x 143 = 127,1654

Contoh pada stasiun 13 diatas datum FAC = 0,3085 x 170 = 52,4620 BC = -,04191 x 170 = 161,9277

Contoh pada stasiun 23 dibawah datum FAC = - 0,3085 x 109 = -33,6374 BC = 0,04191 x 109 = 130,9415 4. Menghitung Nilai EC EC = FAC + BC Contoh pada stasiun 5 dibawah datum EC = -44,1298 + 127,1654 = 83,0356 Contoh pada stasiun 13 diatas datum EC = 52,4620 + 161,9277 = 214,3897 Contoh pada stasiun 23 dibawah datum EC = -33,6374 + 130,9415 = 97,3041

15

5. Menghitung Nilai SBA SBA = g(obs) g(n) + EC Contoh pada stasiun 5 dibawah datum SBA = -241,2087 + 83,0356 = -158,1731 Contoh pada stasiun 13 diatas dat SBA = -282,1354 + 214,3897 = -67,7457 Contoh pada stasiun 23 dibawah datum SBA = -306,2802 + 97,3041 = -208,9761

16

DAFTAR PUSTAKA
Grant,F.S., & West,G.F, 1969, interpretation Theory in Applied Geophysics, New York, Mc. Graw-Hill,Inc Telford,M.W.,et al,1976, Applied Geophysics, Cambridge University Press. Sunardi, 1988, Penelitian Anomali Bouguer Percepatan Gravitasi Gunung Merbabu Dengan Memakai Metode Talwani 2 dan 3 Dimensi,FMIPA - UGM

17

DAFTAR ISI
BAB I Maksud Dan Tujuan I.1 Maksud............................................................................................ I.2 Tujuan............................................................................................. BAB II Dasar Teori II.1 Pengertian Gravitasi..................................................................... II.2 Hukum Gravitasi Universal Newton.............................................. II.3 Medan gravitasi.......................................................................... II.4 Percepatan gravitasi.................................................................. II.5 Gaya Berat ................................................................................ II.6 Data Koreksi................................................................................ BAB III Prosedur Penelitian.................................................................... BAB IV Data........................................................................................... BAB V Pengolahan Data......................................................................... BAB VI Pembahasan............................................................................. BAB VII Kesimpulan............................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

18

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : grafik fungsi penyimpangan nilai gravitasi dan waktu.................8

19