Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM LEMBAR KERJA MAHASISWA

TITRASI POTENSIOMETRI LARUTAN CH3COOH DENGAN NaOH

Oleh: MUHAMAD AFRIAWAN (4301408023)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

POTENSIOMETRI

I. Lembar Kerja Mahasiswa ( LKM ) Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Laboratorium Materi : Potensiometri

Tujuan :

Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk menentukan titik ekivalen CH3COOH dalam larutan dengan menggunakan metode potensiometri.

A. Dasar Teori Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia (Basset, 1994). Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).. Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, Apakah titik ekivalen elektroda dalam larutan dapat ditentukan dengan namun jika tersangkut CH3COOH gelas, maka akan digunakan pH meter menggunakan metode ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter khusus. Karena pH meterpotensiometri? ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan.

Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8 . Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990). Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990). B. Variabel, Rumusan Masalah, dan Hipotesis Variabel bebas : konsentrasi CH3COOH, [0,1 M] ,[0,2 M] Berdasarkan variable yang larutan disebutkan, buatlah rumusan masalah Variabel terikat : pH telah (pertanyaan penelitian ) yang akan mengarahkan kamu melakukan percobaan! Variabel kontrol : volume larutan

Buatlah hipotesis berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah kamu buat! / -titik ekivalen CH3COOH dalam larutan dapat ditentukan dengan menggunakan metode potensiometri -semakin tinggi konsentrasi larutan, maka pH larutan semakin tinggi.

C. Alat dan Bahan Bahan Bahan-bahan Alat digunakan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer, neraca analitik, botol dalam percobaan ini adalah semprot, labu ukur 100 ml, pipet volum 25 larutan CH3COOH 0,1 M dan 0,2 ml, buret 50 ml, pipet tetes, gelas ukur 10 ml, gelas beker, batang pengaduk, alat ukur M, NaOH 0,01 M, dan akuades. pH. yang

D. Prosedur Kerja

Dipipet 25,0 mL larutan CH3COOH ke dalam gelas kimia 250 mL. Diencerkan hingga tanda batas. Di masukkan pH meter ke dalam gelas kimia, ukur pH larutan CH3COOH . Diatur kedudukan mula-mula larutan dalam buret dan memulai melakukan titrasi sampai NaOH sebanyak 5 ml. Ditambahkan larutan NaOH dalam buret sebanyak 1 ml hingga total NaOH 30 ml.dan mengukur pH nya dengan pH meter. Dilanjutkan penambahan volume penitrasi sampai terkumpul jumlah titik yang cukup untuk membuat kurva titrasi. Digambarkan kurva dan menentukan letak titik ekivalen, memakai ketiga metode penentuan. Menghitung konsentrasi larutan CH3COOH. Menghitung harga Ka CH3COOH.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Perhitungan

1. Hasil No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan . 1. Memasukkan larutan CH3COOH 0,1 M ke dalam-larutan bening erlenmeyer Mencatat PH larutan 2. - PH larutan =2,76 Menambahkan 5mL NaOH 0,01 M; mengukur pH. 3. VNaOH pH Menambahkan dengan NaOH 2 ml hingga volume0 2,76 NaOH 30 mL; 5 3,80 mengukur pH pada setiap penambahan 2mL 7 3,92 9 4,10 11 4,22 13 4.30 15 4,48 17 4,56 19 4,68 21 4,79 23 4,85 25 5,02 27 5,10 29 5,43 31 5,76 33 5,89 35 6,10

4. Memasukkan larutan CH3COOH 0,2 M ke dalam-larutan bening erlenmeyer Mencatat PH larutan 5. - PH larutan =2,98 Menambahkan 5mL NaOH 0,01 M; mengukur pH. 6. VNaOH pH Menambahkan dengan NaOH 2 ml hingga volume0 2,98 NaOH 30 mL; 2 3,85 mengukur pH pada setiap penambahan 2mL 4 4,19 6 4,79 8 4,77 10 5,25 12 5,49 14 5,82 16 6,10 18 6,67 20 6,94 22 7,43 24 7,77 26 8,07 28 8,74 30 9,16 35 6,10 1. Grafik hubungan V NaOH dg pH CH3COOH 0,1 M

p H

V NaOH 0,01 M 1. Grafik hubungan V NaOH dg pH CH3COOH 0,2 M

p H

V NaOH 0,01 M 2. Perhitungan

A. Berdasarkan grafik hubungan pH terhadap volume NaOH Dik : pH pH = 3,85

= -log [H+]

[H+]

= 10-2,71

= 1,9498. 10-3 M reaksi: CH3COOH + OH- CH3COO- + H2O Ka = 7,5.10-3

B. Berdasarkan grafik hubungan pH/v terhadap volume NaOH Dik : pH [H+] pH = 5,25

= -log [H+] = 10-2,77

= 1,6982.10-3 M reaksi: CH3COOH + OH- CH3COO- + H2O Ka = 6,2.10-8

C. Berdasarkan grafik hubungan 2pH/V2 terhadap volume NaOH pH pH [H+] = 6,94 = -log [H+] = 10-2,79

= 1,6218.10-3 M reaksi: CH3COOH + OH- CH3COO- + H2O Ka = 4,8.10-13

B.

Pembahasan

Titrasi potensiometri yang digunakan dalam percobaan ini merupakan salah satu metode elektroanalisis untuk menentukan konsentrasi suatu zat. Dalam percobaan ini, metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi asam asetat CH3COOH. dalam titrasi potensiometri, dapat dilakukan pengukuran pH berdasarkan konsentrasi H+ yang dilepaskan asam asetat.

Titrasi potensiometri yang digunakan dalam percobaan ini merupakan salah satu metode elektroanalisis untuk menentukan konsentrasi suatu zat. Dalam percobaan ini, metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi asam asetat CH3COOH. Asam asetat merupakan asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+ Nilai konsentrasi H2O sebenarnya merupakan nilai konsentrasi oksonium H3O+, dan pereaksinya adalah H2O. Akan tetapi, untuk menyederhanakan penulisan dan menghindari kesalahpahaman karena pereaksi yang digunakan merupakan NaOH, maka penulisan reaksi kesetimbangan seperti yang telah dituliskan. Adanya 3 nilai kesetimbangan inilah yang membedakan perhitungan konsentrasi asam monoprotik seperti asam asetat, dengan asam monoprotik. Dalam percobaan ini, asam asetat direaksikan dengan NaOH dengan persamaan reaksi sebagai berikut: : CH3COOH + OH- CH3COO- + H2O Hal tersebut menunjukkan terjadinya suatu reaksi penetralan larutan asam lemah yaitu asam asetat, CH3COOH dengan titran berupa basa kuat, NaOH. Larutan NaOH merupakan golongan oksidator kuat, yang mampu mengubah larutan yang bersifat asam menjadi larutan yang bersifat basa dengan penambahan volume NaOH ke dalam larutan asam yang berperan sebagai titrat. Titrasi potensiometri yang digunakan untuk menentukan titik ekivalen asam asetat dilakukan dengan pengukuran pH pada setiap penambahan basa dengan volume tertentu. Penambahan basa (larutan NaOH) ini menyebabkan pH larutan semakin meningkat. Maka volume penambahan NaOH diatur atau berkurang dari 1 mL agar nilai pH yang terukur konstan. Pada titik-titk penambahan tertentu peningkatan pH mengalami lonjakan yang cukup besar. Lonjakan ini merupakan titik pH dimana larutan mencapai kesetaraan yaitu sebagai titik kesetaraan pH larutan. Sebelum penambahan basa, pH asam asetat yang telah diencerkan adalah 2,76. Penambahan basa yaitu NaOH secara teratur dengan volume yang telah ditentukan meningkatkan pH hingga setelah 35 mL NaOH ditambahkan, pH akhir larutan adalah 6,10. Kenaikan pH akibat penambahan basa tidak dapat ditentukan secara matematis. Hal ini disebabkan faktor waktu yang digunakan dalam penetesan, kesempurnaan pengadukan sehingga diperoleh larutan yang homogen, dan kepekaan pH meter yang digunakan. pH meter merupakan suatu elektroda gelas atau kaca, dimana diketahui bahwa elektroda gelas merupakan elektroda yang paling sensitif karena membrannya sensitif terhadap ion H+ serta paling sering digunakan, namun satu kelemahan yang utama dari elektroda ini yaitu tidak efektif pada pengukuran pH di atas 10. Sebenarnya dalam titrasi potensiometri juga dilakukan pengukuran voltase atau tegangan untuk membandingkan besarnya voltase yang ditimbulkan akibat penambahan basa. Hanya saja dalam percobaan ini tidak dilakukan. Dari grafik hubungan pH dengan volume penambahan titran nampak terjadi kenaikan kurva yang tidak berbeda jauh ketika titik ekivalen tercapai. Sebelum dan

sesudah titik ekivalen tercapai, kurva kembali melandai. Pada penambahan NaOH mencapai 15mL, terjadi kenaikan nilai pH yang cukup signifikan sehingga pada titik ini ditandai sebagai titik ekivalen pertama dengan pH yang tercatat sebesar 4,48. Kenaikan juga terjadi pada saat penambahan NaOH mencapai 25 mL, dengan pH sebesar 4,78. Titik ini ditandai sebagai titik ekivalen kedua. Sedangkan titik ekivalen ketiga terjadi saat penambahan volume NaOH mencapai 31 mL dengan pH yang terukur sebesar 5,76. Titik ekivalen merupakan titik pada saat dimana tercapainya suatu kesetimbangan kimia dalam larutan. Kesetimbangan kimia terjadi pada saat laju pembentukan produk sama dengan laju penguraian reaktan. Titik ekuivalen ditunjukkan oleh grafik yang mengalami kenaikan yang cukup drastis. Setelah titik ekuivalen tercapai, maka konsentrasi asam asetat dapat dihitung melalui nilai pH pada titik kesetaraan. Grafik yang diperoleh bervariasi, dengan kurva naik turun dan tidak linear. Grafik hubungan antara volume NaOH dengan pH larutan tersebut didapatkan berbentuk integral seperti pada literatur. Dari semua grafik yang diperoleh, grafik tersebut memiliki puncak dan penurunan pH yang sangat drastis pada saat penambahan larutan NaOH.

VI.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: 1. Titrasi potensiometri merupakan metode elektroanalisis suatu zat dengan menggunakan elektroda pembanding dan elektroda indikator dan dalam percobaan ini digunakan untuk menentukan konsentrasi asam asetat CH3COOH. 2. Asam asetat merupakan suatu asam monoprotik dimana asam ini dapat melepaskan satu buah proton dalam bentuk ion H+ sehingga memiliki satu nilai tetapan kesetimbangan (Ka). 3. Titik ekivalen titrasi terjadi saat penambahan 15 mL NaOH pada pH 4,56, penambahan 25mL NaOH pada pH 4,85, dan penambahan 31 mL NaOH dengan pH 5,76. 4. Titik dimana peningkatan pH mengalami lonjakan yang cukup besar merupakan titik pH dimana larutan mencapai kesetaraan yaitu sebagai titik kesetaraan. 5. M Berdasarkan hasil perhitungan: [CH3COOH] = 5,07.10-4 M, [CH3COO-] = 46,51

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J, et al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Khopkar. Jakarta. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia.

Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI Press. Jakarta.