Anda di halaman 1dari 14

1

MODUL PERKULIAHAN

TEORI
AKUNTANSI
ASET

Abstrak Sub-CPMK
CPMK 3:
Mampu menjelaskan konsep Standar Akuntansi
Pada pertemuan ini mahasiswa Keuanga
diharapkan memiliki tingkat
kemampuan menjelaskan definisi,
pengakuan, dan pengukuran Unsur
Laporan Keuangan

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
2

Latar Belakang
DE Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan mengusulkan definisi unsur-unsur laporan
keuangan (tidak termasuk pembahasan terkait perbedaan antara liabilitas dan ekuitas) sebagai
berikut:

“Aset adalah sumber daya ekonomik kini yang dikendalikan oleh entitas
sebagai akibat peristiwa masa lalu. Sumber daya ekonomik adalah hak
yang memiliki potensi menghasilkan manfaat ekonomik.”

Pengukuran

Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran (measureability) manfaat


ekonomik yang akan datang. Yang dimaksud pengukuran di sini adalah penentuan jumlah
rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset pada saat terjadinya, yang akan dijadikan
data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut.

Dan jika suatu sumberdaya yang diperoleh suatu perusahaan tidak andal (reliable) pada
elemen pengukurannya, maka sumberdaya tersebut tidak dapat ditampilkan sebagai aset
melainkan diakui sebagai pendapatan ketika terjadi transaksi.

Mengenai pengukuran ASET menjelaskan sebagai berikut:


100 Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan
kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Biaya historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang
dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan {consideration) yang diberikan
untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat
sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau
dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau
setara kas)yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam
pelaksanaan usaha yang normal.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
3

b. Biaya kini (current cost). Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang
seharusnya dibayar bila aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang.
Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak
didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk
menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang.

c. Nilai realisasi/penyelesaian (realisable/settlement value). Aset dinyatakan dalam


jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual
aset dalam pelepasan normal (orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar
nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan
yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam
pelaksanaan usaha normal.
d. Nilai sekarang (present value). Aset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih
di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan
dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban
dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke
nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban
dalam pelaksanaan usaha normal.
101 Dasar pengukuran yang lazimnya digunakan perusahaan dalam penyusunan
laporan penyusunan keuangan adalah biaya historis. Ini biasanya digabungkan
dengan dasar pengukuran yang lain. Misalnya, persediaan biasanya dinyatakan
sebesar nilai terendah dari biaya historis atau nilai realisasi bersih (lower of cost or
net realizable value),akuntansi dana pensiun menilai aset tertentu berdasarkan nilai
wajar (fair value).

Penilaian

Di dalam akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan karena
adanya asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur makna ekonomik
(economic attribute) suatu objek, pos, atau elemen. Pengukuran biasanya digunakan dalam
akuntansi untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat untuk objek pada

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
4

saat pemerolehan. Penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses penentuan jumlah
rupiah yang harus dilekatkan pada tiap elemen atau pos statemen keuangan pada saat
penyajian.

Tujuan dari penilaian aset adalah untuk merepresentasi atribut pos-pos aset yang
berpaut dengan tujuan laporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai.
Sedangkan tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang dapat membantu
investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, dan ketidakpastian aliran kas bersih ke badan
usaha. Singkatnya, tujuan penilaian aset harus berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan.

FASB mengidentifikasi lima makna atau atribut yang dapat direpresentasi berkaitan
dengan aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat diringkas sebagai
berikut:

a. Historical cost. Tanah, gedung, perlengkapan, perlengkapan pabrik, dan kebanyakan


sediaan dilaporkan atas dasar kos* historisnya yaitu jumlah rupiah kas atau
setaranya yang dikorbankan untuk memperolehnya. Kos historis ini tentunya
disesuaikan dengan jumlah bagian yang telah didepresiasi atau diamortisasi.

b. Current (replacement) cost. Beberapa sediaan disajikan sebesar nilai sekarang atau
penggantinya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang harus dikorbankan kalau
aset tertentu diperoleh sekarang.

c. Current market value. Beberapa jenis investasi dalam surat berharga disajikan atas
dasar nilai pasar sekarang yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang dapat
diperoleh kesatuan usaha dengan menjual aset tersebut dalam kondisi perusahaan
yang normal (tidak akan dilikuidasi). Nilai pasar sekarang juga digunakan untuk aset
yang kemungkinan akan laku dijual dibawah nilai bukunya.

d. Net realizable value. Beberapa jenis piutang jangka pendek dan sediaan barang
disajikan sebesar nilai terealisasi bersih yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang
akan diterima (tanpa didiskun) dari aset tersebut dikurangi dengan pengorbanan
(kos) yang diperlukan untuk mengkonversi aset tersebut menjadi kas atau setaranya.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
5

e. Present (or discounted) value of future cash flows. Piutang dan investasi jangka
panjang disjikan sebesar nilai sekarang penerimaan kas di masa mendatang sampai
piutangterlunasi (dengan tarif diskun implisit) dikurangi dengan tambahan kos yang
mungkin diperlukan untuk mendapatkan penerimaan tersebut.

Pengakuan

Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi,


kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi aset. Disamping memenuhi definisi aset, kriteria
keterukuran, keberpautan, dan keterandalan harus dipenuhi pula. Menurut Sterling, Belkaoui
(1993) menunjukkan kondisi perlu (necessary) dan kondisi cukup (sufficient) yang merupakan
penguji (test) yang cukup rinci untuk mengakui aset tersebut, yaitu:

1. Deteksi adanya aset (detection of existence test). Untuk mengajui aset, harus ada
transaksi yang menandai timbulnya aset

2. Sumber ekonomik dan kewajiban (economic resources and obligation test). Untuk
mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang langka,
dibutuhkan dan berharga.

3. Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset, kesatuan
usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset.

4. Mengandung nilai (non-zero magnitude test). Untuk mengakui aset, suatu objek harus
mempunyai manfaat yang terukur secara moneter.

5. Berkaitan dengan waktu pelaporan (temporal association test). Untuk mengakui aset,
semua penguji di atas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan (tanggal neraca).

6. Verifikasi (verification test). Untuk mengakui aset, harus ada bukti pendukung untuk

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
6

meyakinkan bahwa kelima penguji diatas dipenuhi.

Yang dikemukakan Belkoui di atas sebenarnya adalah apa yang disebut dengan kaidah
pengakuan (recognition rules) yang merupakan petunjuk teknis atau prosedur untuk
menerapkan empat kriteria pengakuan (recogniton criteria) FASB yaitu definisi, keterukuran,
keberpautan, dan keterandalan. Kaidah tersebut diperlukan karena kriteria pengakuan sifatnya
konseptual atau umum.

Dalam KPPLK pengakuan aset dijelaskan pada paragraf 89 dan 90, sebagai berikut:

89 Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya
di masadepan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya
yang dapat diukurdengan andal.
90 Aset tidak diakui dalam neraca kalau pengeluaran telah terjadi dan manfaat
ekonominyadipandang tidak mungkin mengalir ke dalam perusahaan setelah
periode akuntansi berjalan.Sebagai alternatif transaksi semacam itu menimbulkan
pengakuan beban dalam laporan laba rugi. Dengan perlakuan ini tidak berarti
pengeluaran yang dilakukan manajemen mempunyai maksud
yang lain daripada menghasilkan manfaat ekonomi bagi perusahaan di masa depan
atau bahwa manajemen salah arah. Implikasi satu-satunya adalah bahwa tingkat
kepastian dari manfaat ekonomi yang diterima perusahaan setelah periode
akuntansi berjalan tidak mencukupi untuk membenarkan pengakuan aset.

Penyajian

Pengungkapan dan penyajian pos-pos aset harus dipelajari dari standar yang mengatur
tiap pos. Secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan
pengungkapan aset sebagai berikut:

a. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformatakun atau di bagian atas
dalam neraca berformat laporan.

b. Aset diklasifikasi menjadi aset lancar dan aset tetap.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
7

c. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling
lancar dicantumkan pada urutan pertama.

d. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan


(misalnya metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang.

Perubahan Kerangka Konsep Pelaporan Keuangan 2019

DE Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan mengusulkan definisi unsur-unsur laporan


keuangan (tidak termasuk pembahasan terkait perbedaan antara liabilitas dan ekuitas) sebagai
berikut:

“Aset adalah sumber daya ekonomik kini yang dikendalikan oleh entitas
sebagai akibat peristiwa masa lalu. Sumber daya ekonomik adalah hak
yang memiliki potensi menghasilkan manfaat ekonomik.”

Penjelasan:

Sumber daya ekonomik adalah hak yang memiliki potensi menghasilkan manfaat ekonomik.

4.5 Bagian ini membahas tiga aspek dari definisi tersebut:

(a) hak (lihat paragraf 4.6–4.13);

(b) potensi untuk menghasilkan manfaat ekonomik (lihat paragraf 4.14–4.18); dan

(c) pengendalian (lihat paragraf 4.19–4.25).

4.6 Hak yang memiliki potensi untuk menghasilkan manfaat ekonomik muncul dalam berbagai
bentuk, termasuk:

(a) hak yang sesuai dengan kewajiban pihak lain (lihat paragraf 4.39), misalnya:

(i) hak untuk menerima kas.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
8

(ii) hak untuk menerima barang atau jasa.

(iii) hak untuk menukarkan sumber daya ekonomik dengan pihak lain dengan persyaratan yang
menguntungkan. Hak tersebut termasuk, misalnya, kontrak serah (forward contract) untuk
membeli sumber daya ekonomik dengan persyaratan yang saat ini menguntungkan atau opsi
untuk membeli sumber daya ekonomik.

(iv) hak untuk mendapatkan manfaat dari kewajiban pihak lain untuk mengalihkan sumber daya
ekonomik jika peristiwa masa depan tertentu yang tidak pasti telah terjadi (lihat paragraf 4.37).

(b) hak yang tidak sesuai dengan kewajiban pihak lain, misalnya:

(i) hak atas objek fisik, seperti aset tetap atau persediaan. Contoh hak tersebut adalah hak
untuk menggunakan objek fisik atau hak untuk mendapatkan manfaat dari nilai residual objek
yang disewa.

(ii) hak untuk menggunakan kekayaan intelektual.

4.7 Banyak hak dibentuk oleh kontrak, undang-undang atau cara serupa.

Sebagai contoh, entitas dapat memperoleh hak dari memiliki atau menyewakan objek fisik, dari
memiliki instrumen utang atau instrumen ekuitas, atau dari memiliki paten terdaftar. Namun,
entitas juga dapat memperoleh hak dengan cara lain, misalnya

(a) dengan memperoleh atau menciptakan pengetahuan yang tidak ada dalam domain publik
(lihat paragraf 4.22); atau

(b) melalui kewajiban pihak lain yang muncul karena pihak lain tersebut tidak memiliki
kemampuan praktis untuk bertindak dengan cara yang tidak konsisten dengan kebiasaannya,
kebijakan yang diterbitkan atau pernyataan spesifik (lihat paragraf 4.31).

4.8 Beberapa barang atau jasa—misalnya, jasa karyawan—diterima dan segera dikonsumsi.
Hak entitas untuk memperoleh manfaat ekonomik yang dihasilkan oleh barang atau jasa ada
untuk sementara sampai entitas mengkonsumsi barang atau jasa tersebut.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
9

4.9 Tidak seluruh hak entitas adalah aset entitas tersebut—untuk menjadi aset entitas, hak
tersebut harus memiliki potensi untuk menghasilkan manfaat ekonomik bagi entitas di luar
manfaat ekonomik yang tersedia untuk seluruh pihak lainnya (lihat paragraf 4.14-4.18) dan
dikendalikan oleh entitas (lihat paragraf 4.19–4.25). Misalnya, hak tersedia bagi seluruh pihak
tanpa biaya yang signifikan—misalnya, hak akses ke barang publik, seperti hak publik atas
jalan darat, atau pengetahuan yang berada dalam domain publik — secara khusus bukan aset
bagi entitas yang memilikinya.

4.10 Entitas tidak dapat memiliki hak untuk memperoleh manfaat ekonomik dari dirinya sendiri.
Karenanya:

(a) instrumen utang atau instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh entitas dan dibeli kembali dan
dimiliki olehnya—misalnya, saham treasuri—bukan merupakan sumber daya ekonomik dari
entitas tersebut; dan

(b) jika entitas pelapor terdiri dari lebih dari satu entitas legal, instrumen utang atau instrumen
ekuitas yang diterbitkan oleh salah satu entitas legal tersebut dan dimiliki oleh entitas legal lain
bukan merupakan sumber daya ekonomik entitas pelapor.

4.11 Pada prinsipnya, setiap hak entitas adalah aset yang terpisah. Namun, untuk tujuan
akuntansi, hak terkait sering diperlakukan sebagai unit akun tunggal yang merupakan aset
tunggal (lihat paragraf 4.48–4.55). Misalnya, kepemilikan legal objek fisik dapat menimbulkan
beberapa hak, termasuk:

(a) hak untuk menggunakan objek;

(b) hak untuk menjual hak atas objek;

(c) hak untuk menjaminkan hak atas objek; dan

(d) hak-hak lain yang tidak tercantum dalam (a)-(c).

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
10

4.12 Dalam banyak kasus, serangkaian hak yang timbul dari kepemilikan legal atas objek fisik
dianggap sebagai aset tunggal. Secara konseptual, sumber daya ekonomik adalah serangkaian
hak, bukan objek fisik. Namun demikian, mendeskripsikan serangkaian hak sebagai objek fisik
akan sering memberikan representasi tepat dari hak tersebut dengan cara yang paling ringkas
dan mudah dipahami.

4.13 Dalam beberapa kasus, tidak pasti apakah hak tersebut ada. Sebagai contoh, entitas dan
pihak lain mungkin memperdebatkan apakah entitas memiliki hak untuk menerima sumber daya
ekonomik dari pihak lain tersebut. Sampai ketidakpastian eksistensi tersebut diselesaikan—
misalnya, oleh putusan pengadilan—tidak pasti apakah entitas tersebut memiliki hak dan,
akibatnya, apakah aset tersebut ada. (Paragraf 5.14 membahas pengakuan aset yang
eksistensinya tidak pasti.) Potensi menghasilkan manfaat ekonomik

4.14 Sumber daya ekonomik adalah hak yang memiliki potensi menghasilkan manfaat
ekonomik. Agar potensi tersebut timbul, tidak perlu dipastikan, atau bahkan mungkin, bahwa
hak akan menghasilkan manfaat ekonomik. Hanya perlu bahwa hak sudah ada dan bahwa,
setidaknya dalam satu keadaan, akan menghasilkan manfaat ekonomik bagi entitas di luar
manfaat yang tersedia untuk seluruh pihak lain.

4.15 Hak dapat memenuhi definisi sumber daya ekonomik, dan karenanya dapat menjadi aset,
bahkan jika probabilitasnya untuk menghasilkan manfaat ekonomik adalah rendah. Namun
demikian, probabilitas yang rendah dapat mempengaruhi keputusan mengenai informasi apa
yang harus diberikan tentang aset dan bagaimana memberikan informasi tersebut, termasuk
keputusan tentang apakah aset tersebut diakui (lihat paragraf 5.15-5.17) dan bagaimana
pengukurannya.

4.16 Sumber daya ekonomik dapat menghasilkan manfaat ekonomik bagi entitas dengan

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
11

memberi hak atau memungkinkannya untuk melakukan, misalnya, satu atau lebih dari hal
berikut:

(a) menerima arus kas kontraktual atau sumber daya ekonomik lainnya;

(b) menukarkan sumber daya ekonomik dengan pihak lain dengan persyaratan yang
menguntungkan;

(c) menghasilkan arus kas masuk atau menghindarkan arus kas keluar, misalnya:

(i) menggunakan sumber daya ekonomik baik secara individu atau dalam kombinasi
dengan sumber daya ekonomik lainnya untuk menghasilkan barang atau menyediakan jasa;

(ii) menggunakan sumber daya ekonomik untuk meningkatkan nilai sumber daya
ekonomik lainnya; atau

(iii) menyewakan sumber daya ekonomik ke pihak lain;

(d) menerima kas atau sumber daya ekonomik lainnya dengan menjual sumber daya ekonomik;
atau

(e) mengakhiri liabilitas dengan mengalihkan sumber daya ekonomik.

4.17 Meskipun sumber daya ekonomik memperoleh nilainya dari potensinya kini untuk
menghasilkan manfaat ekonomik di masa depan, sumber daya ekonomik adalah hak kini yang
mengandung potensi tersebut, bukan manfaat ekonomik masa depan yang dihasilkan oleh hak
tersebut. Misalnya, opsi yang dibeli (purchased option) memperoleh nilainya dari potensinya
untuk menghasilkan manfaat ekonomik melalui penggunaan opsi di masa depan. Namun,
sumber daya ekonomik adalah hak kini—hak untuk menggunakan opsi tersebut di masa depan.
Sumber daya ekonomik bukanlah manfaat ekonomik masa depan yang akan diterima
pemegang opsi jika opsi tersebut dilaksanakan.

4.18 Ada hubungan yang erat antara terjadinya pengeluaran dan perolehan aset, tetapi
keduanya tidak selalu bersamaan. Oleh karena itu, ketika entitas melakukan pengeluaran, hal

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
12

ini dapat memberikan bukti bahwa entitas telah mencari manfaat ekonomik di masa depan,
tetapi tidak memberikan bukti konklusif bahwa entitas telah memperoleh aset. Demikian pula,
tidak adanya pengeluaran terkait tidak mengecualikan suatu pos untuk memenuhi definisi aset.
Aset dapat mencakup, misalnya, hak yang diberikan pemerintah kepada entitas secara gratis
atau yang didonasikan oleh pihak lain kepada entitas tersebut. Pengendalian

4.19 Pengendalian menghubungkan sumber daya ekonomik dengan entitas. Menilai apakah
pengendalian telah ada membantu untuk mengidentifikasi sumber daya ekonomik mana yang
entitas perhitungkan. Sebagai contoh, entitas dapat mengendalikan bagian proporsional dalam
properti tanpa mengendalikan hak yang timbul dari kepemilikan atas seluruh properti. Dalam hal
tersebut, aset entitas adalah bagian dari properti, yang dikendalikannya, bukan hak yang timbul
dari kepemilikan atas seluruh properti, yang tidak dikendalikannya. Entitas mengendalikan
sumber daya ekonomik jika entitas memiliki kemampuan kini untuk mengarahkan penggunaan
sumber daya ekonomik dan memperoleh manfaat ekonomik yang mungkin mengalir darinya.
Pengendalian termasuk kemampuan kini untuk mencegah pihak lain mengarahkan penggunaan
sumber daya ekonomik dan dari memperoleh manfaat ekonomik yang mungkin mengalir
darinya. Oleh karena itu, jika satu pihak mengendalikan sumber daya ekonomik, tidak ada pihak
lain yang mengendalikan sumber daya tersebut.

4.21 Entitas memiliki kemampuan kini untuk mengarahkan penggunaan sumber daya ekonomik
jika entitas memiliki hak untuk menggunakan sumber daya ekonomik tersebut dalam
aktivitasnya, atau untuk memungkinkan pihak lain untuk menggunakan sumber daya ekonomik
dalam aktivitas pihak lain tersebut.

4.22 Pengendalian sumber daya ekonomik biasanya timbul dari kemampuan untuk
memaksakan hak hukum. Namun, pengendalian juga dapat timbul jika entitas memiliki cara lain
untuk memastikan bahwa entitas, dan tidak ada pihak lain, memiliki kemampuan kini untuk
mengarahkan penggunaan sumber daya ekonomik dan memperoleh manfaat yang mungkin
mengalir darinya. Misalnya, entitas dapat mengendalikan hak untuk menggunakan

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
13

pengetahuan yang tidak berada dalam domain publik jika entitas memiliki akses terhadap
pengetahuan dan kemampuan kini untuk menjaga rahasia pengetahuan, bahkan jika
pengetahuan tersebut tidak dilindungi oleh paten terdaftar.

4.23 Agar entitas dapat mengendalikan sumber daya ekonomik, manfaat ekonomik masa depan
dari sumber daya tersebut harus mengalir ke entitas baik secara langsung atau tidak langsung
dan bukan kepada pihak lain. Aspek pengendalian ini tidak menyiratkan bahwa entitas dapat
memastikan bahwa sumber daya akan menghasilkan manfaat ekonomik dalam seluruh
keadaan. Sebaliknya, hal tersebut berarti bahwa jika sumber daya menghasilkan manfaat
ekonomik, entitas adalah pihak yang akan mendapatkannya baik secara langsung maupun
tidak langsung.

4.24 Memiliki eskposur atas variasi signifikan dalam jumlah manfaat ekonomik yang dihasilkan
oleh sumber daya ekonomik dapat mengindikasikan bahwa entitas mengendalikan sumber
daya. Namun, hanya satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian keseluruhan
apakah timbul pengendalian.

4.25 Kadang-kadang satu pihak (prinsipal) melibatkan pihak lain (agen) untuk bertindak atas
nama, dan untuk kepentingan, prinsipal. Sebagai contoh, prinsipal dapat melibatkan agen untuk
mengatur penjualan barang yang dikendalikan oleh prinsipal. Jika agen memiliki hak
penguasaan sumber daya ekonomik yang dikendalikan oleh prinsipal, sumber daya ekonomik
tersebut bukan merupakan aset agen. Selain itu, jika agen memiliki kewajiban untuk
mengalihkan ke pihak ketiga sumber daya ekonomik yang dikendalikan oleh prinsipal,
kewajiban tersebut bukan merupakan liabilitas agen, karena sumber daya ekonomik yang akan
dialihkan adalah sumber daya ekonomik prinsipal, bukan agen.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05
14

Daftar Pustaka

Godfrey, J. M. (2015). Accounting theory.


Hendrikson, E. S., & Van Breda, M. F. (1991). Accounting Theory.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2019). Kerangka dasar penyusunan dan penyajian
laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan.
Suwardjono, T. A. (2005). Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
Wiwik Utami, 2018. Modul Teori Akuntansi, Universitas Mercu Buana, Jakarta

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh


Dr. Erna Setiany, M.Si.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi


05