Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KASUS

HIPERTROFI KELENJAR PROSTAT

LAPORAN KASUS Seorang pasien laki-laki umur 70 tahun datang ke poliklinik Bedah RSUD Solok tanggal 11 Maret 2011 dengan

Keluhan Utama Susah buang air kecil sejak 3 bulan yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang - Susah buang air kecil sejak 3 bulan yang lalu, awalnya pasien sering kencing pada malam hari 5-6 kali, pancaran lemah, tidak bercabang dan merasa tidak puas setelah kencing 1 bulan yang lalu pasien tidak bisa kencing sama sekali, kemudian pasang selang dan bisa kencing lagi buang air kencing bernanah dan berdarah tidak pernah

Riwayat pemasangan kateter sebelumnya tidak ada Riwayat keluar batu dan pasir tidak ada Buang air besar biasa

Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada yang penting Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada yang penting PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : sedang Kesadaran : cmc Nadi : 82 x permenit Nafas : 22 x permenit Suhu : afebris

Tekanan Darah : 120 / 80 mmHg

Status Generalisata: Kepala : tidak ditemukan kelainan. Mata : konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.

Leher : JVP 5-2 cmH2 O. Thorax : cor dan pulmo dalam batas normal. Abdomen : dalam batas normal

Status Lokalis: Regio Lumbal I : ramping pinggang (+) P : NT sudut Murphy (-), NK CVA (-) Regio Suprapubik I : Tak membengkak P : tidak tegang, NT (-)

Rectal Toucher : Anus tenang discharge (-) Sfingter baik

Mukosa licin, teraba masa prostat pada bagian anterior berukuran 2x1 cm, konsistensi kenyal padat,permukaan rata, pool atas teraba

Ampula kosong, skibala (-) Handschoend : darah (-)

Diagnosa Kerja : Retensio Urin e.c BPH Differensial Diagnosa : Carsinoma Prostat Pemeriksaan anjuran : - USG prostat - BNO

Hasil USG prostat : Kesan : Pembesaran prostat grade 3 dengan kalsifikasi Hasil BNO : Kesan : Tak tampak urolithiasis atau kalsifikasi Penatalaksanaan Prostatektomi. Pasien dirujuk ke padang, karena perawatan pasca operasi tidak bisa dilakukan di solok.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Latar belakang Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat, karena yang terjadi sebenarnya adalah hiperplasia kelenjar prostat periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.

B. Etiologi dan Patogenesa Etiologi BPH belum jelas, namun terdapat faktor risiko yaitu umur tua dan hormon androgen. Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen. Karena terjadinya penurunan produksi testosteron serta adanya konservasi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose perifer. Perubahan mikroskopik prostat terlihat pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang akan terjadi perubahan patologi anatomi. Perubahan ini terjadi pada pria usia 50 (s 50 %), usia 80 tahun (s 80 %), dan separoh (50%) dari angka tersebut akan menimbulkan gejala klinik. Terdapat beberapa teori terjadinya hipertrofi prostat : 1. Teori dehidrotestosreon (DHT)

Aksis hipofisis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT). DHT dalam sel prostat menjadi faktor terjadinya transkripsi pada RNA sehingga menyebabkan sintesis protein, Proses ini difasilitasi oleh enzim 5-alfa reduktase. 2. Teori Hormon Dengan meningkatnya estrogen terjadi inisiasi dan maintenance pada sel prostat. Sehingga kematian sel berkurang 3. Faktor interaksi stroma epitel Interaksi ini dipengaruhi oleh growth factor yaitu B-FGF (Basic Fibroblast Growth Factor). B-FGF menstimulasi sel stroma, untuk terjadinya proliferasi. B-FGF dicetuskan oleh mikrotrauma oleh karena miksi, ejakulasi, atau infeksi. 4. Teori reawekening atau reinduksi (kebangkitan kembali) Teori ini menerangkan adanya kemampuan sel sinus urogenital untuk berproliferasi dan membentuk jaringan prostat.

C. Patofisiologi Gejala yang muncul merupakan tanda atau akibat dari obstruksi dan iritasi. Gejala-gejala obstruksi terjadi oleh karena m.detrusor gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala-gejala iritasi terjadi oleh karena pengosongan yang tak sempurna dari kandung kemih dan pembesaran prostat yang merangsang kandung kemih

D. Manifestasi Klinis Gejala BPH dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms(LUTS),yang dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif. Gejal iritatif adalah miksi yang sulit ditahan atau mendesak (urgency), nyeri pada saat miksi (disuria), sering miksi (frequency), dan sering miksi malam hari (nokturia). Gejala obstruktif adalah pancaran yang lemah (weak stream), rasa tidak puas sehabis miksi (unsatisfied), harus menunggu lama pada awal

miksi(hesistancy), putus(intermittency).

mengedan

(straiming),

dan

kencing

terputus-

Gejala-gejala tersebut biasanya disusun dalam bentuk score symptoms, yang dapat digunakan untuk membuat diagnosa dan menentukan berat ringannya penyakit. Diantara skor yang digunakan adalah skor internasional gejala prostat WHO : WHO-IPSS(International Prostate Symptoms Score), dan Skor Madsen Iversen. Pada pemeriksaan fisik dengan colok dubur (rectal toucher), dapat memberikan gambaran tonus sfingter anus, mukosa rectum, dan kelainan lain seperti benjolan dalam rectum dan prostat.Pada pemeriksaan melalui colok dubur harus diperhatikan konsistensi prostat, adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, dan apakah batas atas dapat diraba . Derajat berat obstruksi dapat ditentukan dengan menentukan jumlah sisa urin setelah miksi spontan, jumlah sisa urin ini ditentukan dengan kateterisasi, atau USG. Sisa urin "100 ml dianggap batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hipertrofi prostat.

E. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan urin dapat ditemukan tanda-tanda infeksi saluran kemih 2. Pemeriksaan Radiologi a. Foto polos abdomen (BNO) Dapat melihat volume pembesaran prostat, apakah telah terjadi komplikasi pembesaran ureter atau ginjal b. IVP Melihat apakah adanya hidroureter, hidronefrose, divertikel, indentasi bulibuli, dan residual urin

F. Diagnosis Banding 1. Kelemahan m.detrusor akibat kelainan neurologi Misalnya lesi medula spinalis dan neuropati diabetik 2. Fibrosis pada leher buli-buli

3. Kelainan yang menyebabkan retensio urin Misalnya hipertrofi prostat ganas, tumor buli-buli, batu uretra, dan striktura uretra.

G. Penatalaksanaan 1. Observasi (watchfull waiting) Dilakukan pada BPH dengan skor Madsen Iversen 9. Dilakukan kontrol tiap bulan terhadap perkembangan gejala klinis dan pemeriksaan colok dubur 2. Medikamentosa a. Alfa bloker adrenergik Obat tersebut adalah prazosin, doksazosin atau terazosin dengan dosis 1 mg/hari b. 5-alfa reduktaseinhibitor Finasteride (proscar) 1x5 mg/hari Obat ini menhghambat pembentukan DHT, dengan menghambat kerja enzim 5-alfa reduktase dalam reduksi testosteron menjadi DHT 3. Tindakan bedah Indikasi absolut bedah a. Retensi urin berulang b. Hematuria c. Penurunan fungsi ginjal d. Adanya tanda obstruksi berat seperti divertikel, hidroureter, atau hidronefrose e. Adanya batu saluran kemih Tindakan bedah dapat berupa : 1. TURP (Transurethral Resection of the Prostate) 2. TUIP (Transurethral Incision of the Prostate) 3. Prostatektomi terbuka 4. Prostatektomi dengan laser

RANGKUMAN
SUBJEKTIF Pada kasus ini seorang pasien laki-laki berumur 70 tahun datang ke poliklinik Bedah dengan keluhan susah buang air kecil sejak 3 bulan yang lalu, sering kencing pada malam hari 5-6 kali, pancaran lemah, tidak bercabang dan merasa tidak puas setelah kencing. Dua bulan berikutnya pasien menjadi tidak bisa kencing sama sekali dan baru bisa kencing setelah dipasang selang. Tidak ada tanda-tanda infeksi pada saluran kemih pasien. Riwayat keluar pasir atau batu saat pasien kencing juga ditemukan. Maka keadaan yang mungkin terjadi adalah retensi urine karena pembesaran kelenjar prostat. OBJEKTIF Dari pemeriksaan fisik pada pasien ditemukan beberapa poin diagnosis. Keadaan umum pasien tampak sakit sedang dengan suhu afebris, frekuensi nadi 82 kali/menit dan frekuensi nafas 22 kali/menit. Pada

pemeriksaan status generalis tidak ditemukan kelainan. Pada status lokalis di regio lumbalis ditemukan ramping pinggang ada dan tidak ditemukan nyeri tekan sudut Murphy serta nyeri ketok sudut CVA. Pada regio supra pubik blast datar, tidak tegang dan tidak ada nyeri tekan. Pada pemerikaan Rectal Toucher teraba massa prostat ukuran 2x1 cm, permukaan rata, konsistensi kenyal dan pool atas teraba. Sehingga mendukung diagnosis sementara yaitu retensio urine e.c hipertrofi kelenjar prostat.

ASSESMENT Pada pasien yang kita curigai menderita suatu hipertrofi kelenjar prostat, maka perlu kita lakukan beberapa pemeriksaan penunjang berupa USG prostat dan rontgen BNO. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kesan USG prostat yaitu pembesaran prostat grade 3 dengan kalsifikasi, sedangkan kesan rontgen BNO yaitu tidak ditemukan adanya urolithiasis ataupun kalsifikasi. PLAN Diagnosis Upaya diagnosis sudah cukup dilakukan dan retensio urine e.c hipertrofi kelenjar prostat merupakan diagnosis yang tepat pada pasien ini Pengobatan Ada beberapa pilihan tindakan kuratif yang dapat diberikan pada seorang pasien dengan pembesaran prostat. Pada pasien ini pengobatan telah dilakukan sampai tahap kateterisasi, namun karena telah terjadi retensi urine sehingga diputuskan untuk diberikan tindakan operatif berupa prostatektomi. Konsultasi

Dokter Spesialis Bedah Rujukan Pasien dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang karena tidak memadainya perawatan pasca operasi prostat di RS Solok.

Daftar Pustaka

1. R. Sjamsuhidayat, wim de Jong.Hipertrofi Prostat. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Edisi revisi. Jakarta. 1997, hal 1058-1064. 2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W(editors). Bedah Urologi: Pembesaran Prostat Jinak, dalam Kapita Selekta Kedokteran, ed.III, Jil.2, Media Aesculapius, 1999: 329-334

10