Anda di halaman 1dari 22

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kanker merupakan suatu kelompok dari banyak penyakit-penyakit yang berhubungan. Semua kanker-kanker mulai di sel-sel, yang membentuk darah dan jaringan-jaringan lain. Secara normal, sel-sel tumbuh dan membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh membutuhkan mereka. Ketika sel-sel tumbuh menjadi tua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka. Adakalanya proses yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka, dan sel-sel tua tidak mati ketika mereka seharusnya mati. Kanker (suatu penyakit sel) ditandai dengan suatu pergeseran pada mekanisme kontrol yang mengatur proliferasi dan diferensiasi sel. Sel yang sudah mengalami transformasi neoplastik biasanya mengekspresikan antigen permukaan sel yang tampaknya merupakan tipe normal dan memiliki tanda ketidakmatangan yang jelas dan dapat menunjukkan kelainan kromoson baik kualitatif maupun kuantitatif, termasuk pelbagai traslokasi dan munculnya pengerasan dari rangkaian gen. Sel-sel tadi berkembang dengan cepat dan membentuk tumor lokal yang dapat menekan atau menyerang struktur jaringan sehat di sekitarnya. Subpopulasi sel yang berada dalam tumor dapat digambarkan sebagai sel induk tumor, yang memiliki kemampuan untuk mengulangi siklus proliferasi berkalikali dan berpindah ke sisi yang jauh di dalam tubuh untuk membentuk koloni dalam berbgai organ tubuh, proses ini disebut metastase. Induk sel tumor dapat mengekspresikan klonogenik atau kemampuan untuk membentuk koloni. Sel induk memiliki kelainan kromosom yang merefleksikan ketidakseimbangan genetiknya, yang mengarah pada seleksi subklon yang progresif yang dapat bertahan dan berkembang lebih cepat dalam lingkungan multiseluler tubuh. Kelainan kuantitatif dalam pelbagai alur metabolisme dan komponen selular berkaitan dalam perkembangan neoplastik ini. Proses invasif dan metastatik demikian pula kelainan metabolisme akibat kanker akan menyebabkan penyakit dan akhirnya kematian kecuali kanker dapat disembuhkan dengan pengobatan. Leukemia adalah suatu tipe dari kanker. Leukemia berasal dari kata Yunani leukos-putih, haima-darah. Leukemia adalah kanker yang mulai di sel-sel darah.

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Penyakit ini terjadi ketika sel darah memiliki sifat kanker yaitu membelah tidak terkontrol dan mengganggu pembelahan sel darah normal. Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darh putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sel-Sel Darah Normal Sel-sel darah terbentuk di sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang adalah material yang lunak dipusat dari kebanyakan tulang-tulang. Sel-sel darah yang belum menjadi dewasa (matang) disebut sel-sel induk (stem cells) dan blasts. Kebanyakan sel-sel darah menjadi dewasa didalam sumsum tulang dan kemudian bergerak kedalam pembuluh-pembuluh darah. Darah yang mengalir melalui pembuluh-pembuluh darah dan jantung disebut peripheral blood. Sumsum tulang membuat tipe-tipe yang berbeda dari sel-sel darah. Setiap tipe mempunyai suatu fungsi yang khusus: a. Sel-sel darah putih membantu melawan infeksi. b. Sel-sel darah merah mengangkut oksigen ke jaringan-jaringan diseluruh tubuh. c. Platelet-platelet membantu membentuk bekuan-bekuan (gumpalan-gumpalan) darah yang mengontrol perdarahan. Dalam makalah ini penulis akan membahas kasus yang terkait dengan penyakit keganasan pada anak. Kasus I Seorang anak laki-laki usia 4 tahun datang ke RS dengan pucat sejak 3 minggu sebelum masuk RS. Keluhan pucat makin lama makin bertambah disertai badan penderita menjadi lemah. Keluhan disertai adanya nyeri tulang. Panas badan hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kompos mentis, KGB colli multiple, mobile, kenyal, rata. Hepar teraba 3 cm, dibawah arcus costae, tajam kenyal rata. Lien shufner 2. Pada pemeriksaan lab didapatkan: leukosit: 110.000/mm3, sel blast 16

Diagnosis diferensial pada pasien ini ? Bagaimana terapi prognosis pasien ini ?

BAB II PEMBAHASAN
I. Pengertian

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah. (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175). Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248 ). Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495). Leukemia adalah terjadinya poliferasi leukosit yang immature serta terjadinya berbeda dari normalnya (jumlahnya dan poliferasinya, hasil poliferasi tersebut mengumpul dalam produk pembuat sel darah yaitu pada sumsum tulang sehingga sumsum tulang normal digantikan dengan sumsum tulang tidak normal. (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175, Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248, Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495) II. Tipe-Tipe Leukemia Berdasarkan kecepatan perkembangannya, leukemia dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Leukemia Akut Perjalanan penyakit pada leukemia akut sangat cepat, mematikan dan memburuk. Dapat dikatakan waktu hidup penderita tanpa pengobatan hanya dalam hitungan minggu bahkan hari. Leukemia kaut merupakan akibat dari terjadinya komplikasi pada neoplasma hematopoietik secara umum. 2. Leukemia kronis Berbeda dengan akut, leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat, sehingga dapat dikatakan bahwa waktu hidup penderita tanpa pengobatan dalam hitungan samapi 5 tahun.

Berdasarkan jenis sel kanker, leukemia diklaifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Myelocytic/Myelogeneus leukemia Sel kanker yang berasal dari sel darah merah, granulocytes, macrophages dan keping darah.

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


2. Lymphocytic leukemia

Sel kanker yang berasal dari lymphocyte cell. Berdasarkan kedua klasifikasi di atas, maka leukemia dibagi menjadi 4 1. Leukemia limfositik akut (LLA). Merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih. 2. Leukemia mielositik akut (LMA). Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut. 3. Leukemia limfositik kronis (LLK). Hal ini sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak. Sebagian besar leukosit pasien di atas 50.000/L. 4. Leukemia mielositik kronis (LMK) Sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit. Leukosit dapat mencapai lebih dari 150.000/ L yang memerlukan pengobatan. Leukemia limfoblastik akut (LLA) atau ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) rata-rata yang juga lebih rendah FAB menggolongkan LLA menjadi 3 golongan: 1. L1 (Prolimfositik leukemia) : sel dengan ukuran inti yang kecil kromatin inti homogen bentuk inti sel teratur, kadang-kadang ada cleft. bentuk sel besar dan heterogen macam, yaitu:

2. L2 ( Prolimfoblastik leukemia )

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


III. Etiologi Etiologinya sampai saat ini masih belum jelas, diduga kemungkinan besar karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang turut berperan ialah: Faktor eksogen: 1. 2. Sinar x Sinar radioaktif satu atau lebih anak inti jumlah sitoplasma bervariasi dan sering banyak. bentuk sel besar dan homogen bentuk inti teratur dan sering oval anak inti sangat menonjol dan lebih dari satu.

3. L3 (Burkitt's type):

efek leukemogenik & ionisasi radiasi, dibuktikan dg tingginya insidensi leukemia pd ahli radiologi (sebelum ditemukan alat pelindung), penderita dengan pembesaran kelenjar tymus, Ankylosing spondilitis dan penyakit Hodgkin yang mendapat terapi radiasi. Diperkirakan 10 % penderita leukemia memiliki latar belakang radiasi 3. 4. Hormone Bahan kimia (benzol, Arsen, preparat sulfat) a. Bahan kimia terutama Hydrokarbon sangat berhub dg leukemia akut pd binatang & manusia. b. Paparan Benzen dlm jumlah besar dan berlangsung lama dapat menimbulkan leukemia. c. Kloramfenikol & fenilbutazon diketahui menyebabkan anemia aplastik berat, tidak jarang diketahui diakhiri dg leukemia d. Arsen dan obat imunosupresif. 5. Infeksi (virus, bakteri) Diduga yg ada hubungannya dg leukemia adalah Human T-cell leukemia virus (HTLV-1), yaitu suatu virus RNA yang mempunyai enzim RNA transkriptase yang bersifat karsinogenik Faktor Endogen: 1. Ras (orang Yahudi mudah menderita LLK)

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


2. Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom

Risiko terjadinya leukemia meningkat pd kembar identik penderita leukemia akut, demikian pula pada saudara lainnya, walaupun jarang. Meningkat pd penderita dg kelainan fragilitas kromosom (anemia Fanconi) atau penderita dg jumlah kromosom abnormal spt sindrom Down, Klinefelter dan Turner. 3. 4. Herediter Defisiensi Imun dan Defisiensi Sumsum Tulang: ganas. b. Gangguan pada sistem tsb dapat menyebabkan beberapa sel ganas lolos dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan penyakit. c. Hipoplasia sumsum tulang mungkin sebagai penyebab leukemia IV. Manifestasi Klinik Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut : 1. Pucat. Pucat dapat terjadi secara mendadak, sehingga bila pada seorang anak terdapat pucat mendadak dan sebab terjadinya sukar diterangkan 2. Panas 3. Perdarahan disertai splenomegali dan kadang-kadang hepatomegali serta limfadenopati. Perdarahan dapat berupa ekimosis, petekia, epistaksis, perdarahan gusi dan sebagainya. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat splenomegali 4. Sakit sendi atau sakit tulang yang dapat disalah tafsirkan sebagai penyakit reumatik merupakan gejala yang tidak khas. 5. Gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh, seperti lesi purpura pada kulit, efusi pleura, kejang pada leukemia serebral dan sebagainya.
6. Gejala umum

a. Sistem imunitas tubuh kita mampu mengidentifikasi sel yg berubah mjd

leukemia akut (dr. Nyoman Lila, MS (Magister Sain Hb

Hematologi))

Penurunan sel darah merah (anemia sedang sampai berat)

(HGB), Jumlah Eri (ERI), Retik (turun)

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Gangguan fungsi leukosit (infeksi ringan sampai berat) Gangguan jumlah platelet (perdarahan ringan sampai berat)

Jumlah Jumlah

Leuko naik (WBC), ada Sel Muda Platelet turun (TROM) Tanda dan gejala lain : a. b. c. d. e. f. g.
h.

Pilek tidak sembuh-sembuh Pucat, lesu, mudah terstimulasi Demam dan anorexia Berat badan menurun Ptechiae, memar tanpa sebab Nyeri pada tulang dan persendian Nyeri abdomen Limphadenopathy Hepatosplenomegaly Abnormal WBC

i. j. V. Insiden

(Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177) ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) ratarata yang juga lebih rendah. ANLL (Acute Nonlymphoid Leukemia) mencakup 15% sampai 25% kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti Sindrom Down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70%). Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. Lima puluh persen anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan. (Betz, Cecily L. 2002. hal : 300). Faktor Resiko: sindroma Down memiliki kakak/adik yang menderita leukemia Faktor resiko untuk leukemia akut adalah :

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


VI. Patofisiologi Penyakit leukemia ditandai oleh adanya proliferasi tak terkendali dari satu atau beberapa jenis sel darah. Hal ini terjadi karena adanya perubahan pada kromosom sel induk sistem hemopoetik. Sel sistem hemopoetik adalah sel yang terus menerus berproliferasi, karena itu sel ini lebih potensial untuk bertransformasi menjadi sel ganas dan lebih peka terhadap obat toksik seperti sitostatika dan radiasi. Penelitian morfologik menunjukkan bahwa pada Leukemia Limfositik Akut (LLA) terjadi hambatan diferensiasi dan sel limfoblas yang neoplastik memperlihatkan waktu generasi yang memanjang, bukan memendek. Oleh karena itu, akumulasi sel blas terjadi akibat ekspansi klonal dan kegagalan pematangan progeni menjadi sel matur fungsional. Akibat penumpukan sel blas di sumsum tulang, sel bakal hemopoetik mengalami tekanan. Kelainan paling mendasar dalam proses terjadinya keganasan adalah kelainan genetik sel. Proses transformasi menjadi sel ganas dimulai saat DNA gen suatu sel mengalami perubahan. Akibat proliferasi sel yang tidak terkendali ini tcrjadi kenaikan kadar satu atau beberapa jenis sel darah dan penghambatan pembentukan sel darah lainnya dengan akibat terjadinya anemia, trombositopenia dan granulositopenia. Perubahan kromosom yang terjadi merupakan tahap awal onkogenesis dan prosesnya sangat kompleks, melibatkan faktor intrinsik (host) dan ekstrinsik (lingkungan). Leukemia diduga mulai sebagai suatu proliferasi local dari sel neoplastik, timbul dalam sumsum tulang dan limfe noduli (dimana limfosit terutama dibentuk) atau dalam lien, hepar dan tymus. Sel neoplastik ini kemudian disebarkan melalui aliran darah yang kemudian tersangkut dalam jaringan pembentuk darah dimana terus terjadi aktifitas proliferasi, menginfiltrasi banyak jaringan tubuh, misalnya tulang dan ginjal. Gambaran darah menunjukan sel yang inmatur. Lebih sering limfosit dan kadang-kadang mieloblast. Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia. (Sudoyo
et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan IPD FK UI, 2007)

pemaparan oleh radiasi (penyinaran), bahan kimia dan obat.

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan otak. VII. Pemeriksaan Diagnostik a) Pemeriksaan fisik cepat -

Kaji adanya tanda-tanda anemia : Pucat, Kelemahan, Sesak, Nafas Kaji adanya tanda-tanda leukopenia Demam Infeksi Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : Ptechiae Purpura Perdarahan membran mukosa Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola : Limfadenopati Hepatomegali Splenomegali Kaji adanya pembesaran testis Kaji adanya : Hematuria Hipertensi Gagal ginjal Inflamasi disekitar rectal Nyeri

(Suriadi,R dan Rita Yuliani,2001 : 178)

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


b) Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan sumsum tulang (BMP / Bone Marrow Punction): Ditemukan sel blast yang berlebihan Peningkatan protein Pemeriksaan darah tepi Pansitopenia (anemia, lekopenia, trombositopneia) Peningkatan asam urat serum Peningkatan tembaga (Cu) serum Penurunan kadar Zink (Zn) Peningkatan leukosit dapat terjadi (20.000 200.000 / l) tetapi dalam Biopsi Suatu biopsi adalah cara satu-satunya yang pasti untuk mengetahui

bentuk sel blast / sel primitif

apakah sel-sel leukemia ada didalam sumsum tulang. Ada dua cara dokter dapat memperoleh sumsum tulang. Beberapa pasien-pasien akan mempunyai kedua-duanya prosedur: 1) Bone marrow aspiration (Penyedotan sumsum tulang): Dokter menggunakan sebuah jarum untuk mengangkat contoh-contoh dari sumsum tulang. 2) Bone marrow biopsy (Biopsi Sumsum Tulang): Dokter menggunakan suatu jarum yang sangat tebal untuk mengangkat sepotong kecil dari tulang dan sumsum tulang. Selain itu juga dihati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel kanker ke organ tersebut.

Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan mediastinum Sitogenik: 50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan Kelainan jumlah kromosom, seperti diploid (2n), haploid (2n-a), Bertambah atau hilangnya bagian kromosom (partial delection)

berupa:
-

hiperploid (2n+a)
-

10

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


-

Terdapat marker kromosom, yaitu elemen yang secara morfologis normal dari bentuk yang sangat besar

bukan komponen kromosom sampai yang sangat kecil VIII. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Farmakologi Tujuan pengobatan pasien leukemia adalah meneapai kesembuhan total

dengan menghancurkan sel-sel leukemia. Untuk itu, penderita leukemia harus menjalani kemoterapi dan harus dirawat di rumah sakit. Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Secara umum penanganan pada penderita leukemia sebagai berikut :

1. Kemoterapi Jenis pengobatan kanker ini menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel leukemia. Tergantung pada jenis leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis obat atau kombinasi dari dua obat atau lebih.
-

Pasien leukemia bisa mendapatkan kemoterapi dengan berbagai cara: a) Melaluimulut b) Dengan suntikan langsung ke pembuluh darah (atau intravena) c) Melalui kateter (tabung kecil yang fleksibel) yang ditempatkan di dalam pembuluh darah balik besar, seringkali di dada bagian atas d) Dengan suntikan langsung ke cairan cerebrospinal

2. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason, dan sebagainya). 3. Sitostatika (6-merkaptopurin atau 6-mp, metotreksat tau MTX), vinkristin

(Oncovin), rudidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L-asparaginase, siklofosfamid atau CPA, adriamisin, dan sebagainya.

Penatalaksanaan Non Farmakologi 1. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)

11

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian, pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi ini. Transplantasi sumsum tulang merupakan prosedur dimana sumsum tulang yang rusak digantikan dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker. Transplantasi sumsu tulang dapat menggunakan sumsum tulang pasien sendiri yang masih sehat. Hal ini disebut transplantasi sumsum tulang autologus. Transplantasi sumsum tulang juga dapat diperoleh dari orang lain. Bila didapat dari kembar identik, dinamakan transplantasi syngeneic. Sedangkan bila didapat dari bukan kembar identik, misalnya dari saudara kandung, dinamakan transplantasi allogenik. Efek samping Efek samping transplantasi sumsum tulang tetap ada, yaitu kemungkinan infeksi dan juga kemungkinan perdarahan karena pengobatan kanker dosis tinggi. Hal ini dapat ditanggulangi dengan pemberian antibiotik ataupun transfusi darah untuk mencegah anemia. Apabila berhasil dilakukan transplantasi sumsum tulang, kemungkinan pasien sembuh sebesar 70-80%, tapi masih memungkinkan untuk kambuh lagi. Kalau tidak dilakukan transplantasi sumsum tulang, angka kesembuhan hanya 40-50%. fleksibel yang dipasang di pembuluh darah besar di daerah dada atau

12

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Terapi stem cell yang rutin digunakan untuk mengobati penyakit saat ini adalah transplantasi stem cell dewasa dari sumsum tulang belakang dan darah perifer serta darah tali pusat bayi. IX. Terapi Umumnya pengobatan ditujukan terhadap penegahan kambuhan mendapatkan masaremisi yang lebih lama. Untuk mencapai keadaan tersebut pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan sebagai berikut : 1. Induksi. Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berbagi obat tersebut diatas, baik secara sistematik maupun intratekal sampai sel blas dalam sumsum tulang kurang dari 5%. 2. Konsolidasi. Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri.
3. Rumat (maintenance). Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat-dapatnya

suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan pemberian titostatika separuh dosis biasa. 4. Reinduksi. Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pada induksi selama 10-14 hari.
5. Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat.

Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.400 - 2.500 rad. Untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia serebral.Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.
6. Pengobatan imunotologik.

Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA LEUKIMIA LIMFOSITIK AKUT

13

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK

A. PENGKAJIAN I. Biodata Nama : An. I Umur : 4 tahun II. Riwayat Keperawatan 1. Keluhan Utama Adanya nyeri tulang, panas badan hilang timbul, lemah, nafsu makan menurun, demam (jika disertai infeksi) bisa juga disertai dengan sakit kepala. 2. Riwayat Perawatan Sebelumnya
-

Riwayat kelahiran anak : Prenatal Natal Post natal Riwayat Tumbuh Kembang

Bagaimana pemberian ASI, adakah ketidaknormalan pada masa pertumbuhan dan kelainan lain ataupun sering sakit-sakitan. 3. Riwayat keluarga Insiden LLA lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang terlebih pada kembar monozigot (identik). III. Kebutuhan Dasar a. Cairan : Terjadi deficit cairan dan elektrolit karena muntah dan diare. b. Makanan : Biasanya terjadi mual, muntah, anorexia ataupun alergi makanan. Berat badan menurun. c. Pola tidur : Mengalami gangguan karena nyeri sendi. d. Aktivitas : Mengalami intoleransi aktivitas karena kelemahan tubuh. e. Eliminasi : Pada umumnya diare, dan nyeri tekan perianal.

IV. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa pembengkakan di kelenjar getah bening, limpa dan hati

14

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Nadi : Suhu : meningkat jika terjadi infeksi RR : Dispneu, takhipneu Pemeriksaan Kepala Leher Rongga mulut : apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri), perdarahan gusi Konjungtiva : anemis atau tidak. Terjadi gangguan penglihatan akibat infiltrasi ke SSP. Pemeriksaan Integumen Adakah ulserasi ptechie, ekimosis, tekanan turgor menurun jika terjadi dehidrasi.

Keadaan Umum tampak lemah Tanda-Tanda Vital

Kesadaran composmentis selama belum terjadi komplikasi. Tekanan darah : DBN

Pemeriksaan Dada dan Thorax Inspeksi bentuk thorax, adanya retraksi intercostae. Auskultasi suara nafas, adakah ronchi (terjadi penumpukan secret akibat infeksi di paru), bunyi jantung I, II, dan III jika ada

Palpasi denyut apex (Ictus Cordis) Perkusi untuk menentukan batas jantung dan batas paru. Pemeriksaan Abdomen Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran, terdapat bayangan vena, auskultasi peristaltic usus, palpasi nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa. Perkusi tanda asites bila ada. Pemeriksaan Ekstremitas

Adakah cyanosis kekuatan otot.

V. Informasi Lain

Perangkat Diagnostik

15

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


1. Temuan laboratorium berupa perubahan hitung sel darah spesifik. 2. Pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan proliferasi klonal dan penimbunan sel darah.

Penatalaksanaan 1. Kemoterapi dengan banyak obat 2. Antibiotik untuk mencegah infeksi 3. Tranfusi untuk mengatasi anemia

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA TINDAKAN

Analisa Data Data Fokus DS : DO : DS : DO : DS : DO : Pasien mengatakan lemah, lesu, letih, lelah, lunglai Ibu pasien mengatakan pasien pucat Intoleransi aktivitas Pasien tampak pucat Hb : 5 gr/dl TD : 100/80, nadi : 70/menit Fatigue Pasien mengatakan meriang Pasien mengatakan demam/panas badannya hilang timbul Resiko tinggi infeksi Suhu : 38oC Leukosit 110.000/mm3 Pada pemeriksaan BMP ditemukan 16 sel blast Kekebalan tubuh yang menurun Pasien mengatakan tidak nafsu makan, mual, muntah Penurunan Berat badan 20 % lebih dibawah ideal Membrane mukosa pucat Kurangnya sensai untuk makan Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuahan Masalah Keperawatan

NO. 1.

2.

3.

16

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


4. DS : DO : DS : Pasien mengeluh lemah dan letih Resiko cedera (perdarahan) Tampak pasien petekie atau perdarahan Tampak pasien letargi Pasien terdapat pansitopenia Pasien mengeluh nyeri tulang, nyeri kepala, nyeri persendian, nyeri abdomen yang tidak jelas Dari pemeriksaan fisik terjadi pembesaran KGB colli multiple mobile kenyal Teraba hepar 3 cm tajam dibawah arcus costae lien shuffner 2 Tampak wajah meringis Perubahan denyut nadi Diaphoresis Pasien mengeluh demam Pasien mengeluh lemas pasien mual muntah Pasien tampak turgor kuit tidak baik TD : , Nadi : , Suhu : 38oC Kehilangan berat badan Nyeri

5.

DO : DS : DO : DS : DO : DS : -

6.

kekurangan volume cairan

7.

Pasien bersedih tidak bisa mengkuti aktivitas seperti anank-anak yang lain Ibu pasien mengatakan sedih dan pilu melihat anaknya selalu mengikuti pengobatan wajah pasien tampak murung

Berduka

8.

Kurang pengetahuan Ibu pasien tidak memahami info penyakit yang diderita anaknya Ibu pasien menagatakan tidak mengerti bagaimana merawat anaknya, efek samping dari pengobatan, tujuannya Pasien tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya

17

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


DO : Ibu pasien mennyakan penyakit yang diderita anaknya dari : prognosis, pengobatan, perawatan, tujuan dan manfaat pengobataan, Pasien kurang bekerja sama jika dilakukan dalam perawatan

Adanya keganasan menimbulkan masalah keperawatan, antara lain: 1. Intoleransi aktivitas 2. Infeksi 3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan 4. Resiko cedera (perdarahan) 5. Resiko kerusakan integritas kulit
6. Nyeri

7. Kekurangan volume cairan 8. Berduka 9. Kurang pengetahuan

Diagnosa yang berdasarkan tiga prioritas adalah : 1. Kekurangan volume cairan 2. Infeksi 3. Nyeri Intervensi Keperawatan
1) Diagnosa I : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan :

Tujuan : 1. 2.
-

Kehilangan berlebihan, mis ; muntah, perdarahan Penurunan pemasukan cairan : mual, anoreksia. Tidak terjadi kekurangan volume cairan Pasien tidak mengalami mual dan muntah Volume cairan tubuh adekuat, ditandai dengan TTV, stabil, nadi

Hasil Yang Diharapkan : teraba, haluaran urine, BJ dan PH urine, dsb. No. Intervensi Rasional Penurunan sirkulasi sekunder terhadap sel

1 Awasi masukan dan pengeluaran. Hitung

18

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


pengeluaran tak kasat mata dan keseimbangan cairan. Perhatikan penurunan urine pada pemasukan adekuat. Ukur berat jenis urine dan pH Urine. 2 Timbang BB tiap hari. . darah merah dan pencetusnya pada tubulus ginjal dan / atau terjadinya batu ginjal (sehubungan dengan peningkatan kadar asam urat) dapat menimbulkan retensi urine atau gagal ginjal Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal. Pemasukan lebih dari keluaran dapat mengindikasikan memperburuk / obstruksi ginjal. 3 Awasi TD dan frekuensi jantung . 4 Inspeksi kulit / membran mukosa untuk . petike, area ekimotik, perhatikan perdarahan gusi, darah warn karat atau samar pada feces atau urine; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invesif. 5 Evaluasi turgor kulit, pengiisian kapiler . dan kondisi umum membrane mukosa. Indikator langsung status cairan/ dehidrasi. Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit pada tak adanya pemasukan melalui oral; menurunkan risiko komplikasi ginjal. Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemik (perdarahan/dehidrasi) Supresi sumsum dan produksi trombosit menempatkan pasien pada resiko perdarahan spntan tak terkontrol.

6 Berikan cairan IV sesuai indikasi .

2) Diagnosa II : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan :

Tidak adekuatnya pertahanan sekunder Gangguan kematangan sel darah putih Peningkatan jumlah limfosit imatur Imunosupresi Penekanan sumsum tulang (efek kemoterapi) Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi

Tujuan :
-

19

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Hasil yang Diharapkan : Infeksi tidak terjadi

No. 1 . 2 . 3 .

Intervensi Tempatkan anak pada ruang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi

Rasional Melindungi anak dari sumber potensial patogen / infeksi

Berikan penjelasan untuk mencuci tangan mencegah kontaminasi yang baik untuk semua staf petugas Awasi suhu. Perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan chemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan tachicardi, hipertensi silang/menurunkan risiko infeksi Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi dan demam terjadi pada kebanyakan pasien leukemia. Penurunan jumlah WBC normal/matur dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapi. Dapat diberikan secara profilaksis atau mengobati infeksi secara khusus.

4 . 5 .

Awasi pemeriksaan laboratorium : WBC, darah lengkap Berikan obat sesuai indikasi, misalnya Antibiotik

3) Diagnosa III : Nyeri ( akut ) berhubungan dengan : -

Agen fiscal ; pembesaran organ / nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas Agen kimia ; pengobatan antileukemia. pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat

dengan sel leukaemia. Tujuan : diterima anak

20

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK


Kriteria Hasil : No. 1 . Intervensi Awasi tanda-tanda vital, perhatikan petunjuk nonverbal,rewel, cengeng, gelisah. 2 . 3 . 4 . 5 . Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress. Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal Ubah posisi secara periodic dan berikan latihan rentang gerak lembut. Berikan tindakan ketidaknyamanan; mis : pijatan, kompres Menurunkan ketidak nyamanan tulang/sendi Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilisasi sendi. Meminimalkan kebutuhan atau meningkatkan efek obat. Meningkatkan istirahat. Rasional Dapat membantu mengevaluasi pernyatan verbal dan ketidakefektifan intervensi.

DAFTAR PUSTAKA
http://varyaskep.wordpress.com/2009/01/21/askep-leukemia-pada-anak/ Carth, Martha dan Kelly Smith. (2010). Nanda Diagnosa Keperawatan. Penerjemah : Fatiah Istiqomah. Digna Pustaka : 2010
http://indonesiannursing.com/2008/09/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengandiagnosis-leukemia-limfositik-akut/

21

PENYAKIT KRONIK LEUKIMIA PADA ANAK

22