Anda di halaman 1dari 5

Endapan mineral tipe Kuroko merupakan suatu endapan polimetalic stratabound tak termalihkan sampai termalihkan lemah, yang

secara genetik berhubungan dengan aktifitas volkanik bawah laut selama periode Miosen, 13-13,5 juta tahun yang lalu. Istilah kuroko (kata dalam Bahasa Jepang yang berarti bijih hitam) umumnya diaplikasikan untuk 6 (enam) katagori mineralogi bijih (Guilbert dan Park, Jr., 1986): 1. Bijih silisius (keiko) yang mengandung sulfida, terutama kalkopirit, terdiseminasi dalam batuan tersilisifikasi. 2. Bijih kuning (oko) terutama pirit dengan sedikit kalkopirit dan kuarsa. 3. Bijih hitam (kuroko) percampuran kuat antara sfalerit kaya besi berwarna gelap, galena, barit, dan sejumlah kecil pirit dan kalkopirit; wurzit, enargit, tetrahedrit, markasit, serta sejumlah mineral lainnya yang ditemukan setempat dalam jumlah kecil. 4. Urat (vein) dan massa-massa besar gipsum (sekkoko) yang saling berhubungan tetapi dalam tubuh yang terpisah-pisah, serta tubuh-tubuh besar barit. 5. Zona stringer kaya kalkopirit dalam pipa-pipa di bawah bijih (ryukoko). 6. Akhirnya, bijih sulfida yang dilapis-bawahi oleh rijang ferruginous (lapisan tetsusekiei). Pirajno (1992), mengelompokkan mineralisasi hidrotermal tipe kuroko ke dalam katagori umum Endapan Sulfida Masif Volkanogenik. Endapan tipe ini berhubungan dengan volkanisme bawah laut, yang terbentuk dalam berbagai tatanan tektonik. Endapan sulfida masif polimetalik tipe Kuroko terbentuk pada discharge site sistem hidrotermal bawah laut yang berasosiasi dengan struktur kaldera. Umumnya berumur Fanerozoikum, dan berasosiasi dengan busur-busur volkanik yang berhubungan dengan subduksi. Endapan tipe kuroko berhubungan dengan sekuens volkanik bimodal yang umumnya terdiri atas basal toleiitik di bagian bawah dan ke arah atas diikuti oleh dasit, rio-dasit, dan batuan-batuan piroklastik yang sejenis. Sekuens bimodal ini sering ter-superimposed pada volkanik kalk-alkalin yang mencirikan busur magmatik yang terbentuk di atas zona subduksi. Sillitoe (1982) mengusulkan tatanan (settings) busur-dalam dan busur-belakang sebagai lokasi endapan tipekuroko, yang dicirikan oleh rifting (peretakan/pencelahan) dan volkanisme bimodal yang dominan. Menurut Sillitoe (1982), rifting dari suatu busur kepulauan bisa terjadi sebagai akibat dari subduksi yang miring (oblique), dan juga memungkinkan untuk berkembang ke arah cekungan pinggiran (marginal basin). Lingkungan intra-kontinental yang meluas, juga dipertimbangkan oleh Sillitoe (1982) untuk endapan sulfida masif yang umumnya berasosiasi dengan sekuens bimodal.

Endapan tipe kuroko merupakan lensa-lensa polimetalik bijih sulfida masif selaras (conformable) yang menampakkan hubungan stratigrafi yang kuat dengan volkanisme felsik, yang terbentuk pada sabuk Tufa Hijau Miosen di daerah Honshu d Hokkaido di Jepang, an dan juga memperlihatkan hubungan ruang-waktu yang kuat dengan volkanik bawah laut fragmental berkomposisi dasitik-riolitik. Di Jepang, semua endapan kuroko terbentuk selama periode yang relatif terbatas yang menandai berakhirnya tahapan major pulse dari suatu aktifitas volkanik yang dimulai pada Oligosen Akhir (Sawkins, 1984 & 1990). Tubuh-tubuh bijih endapan kuroko, terutama yang tersebar di timurlaut Jepang, umumnya menempati horizon-horizon stratigrafi yang dicirikan oleh akumulasi sedimen pasiran dan lumpuran (sandy and muddy) yang mengandung limpahan fosil moluska dari spesies-spesies air-hangat. Pengendapannya diduga terjadi pada cekungan-cekungan danau kaldera yang terisolasi, dangkal, dan relatif tenang, yang kemungkinan dekat dengan permukaan laut dan laut terbuka. Aktifitas volkanik tersebut dimulai dengan akumulasi debris piroklastik di lantai samudera yang merupakan Formasi Dasit Motoyama berumur Miosen. Unit-unit Formasi Motoyama ini sebagian kemudian ter-reworked oleh arus turbid selama terjadinya pembentukan kubah-kubah (domes) dan aliran lava. Material-material volkanik ini, di mana bijih sering ditemukan berasosiasi, adalah riolit dan dasit silisik yang mengintrusi Dasit Motoyama. Intrusi-intrusi lebur ini kemudian memicu terjadinya volkanisme eksplosif ketika bertemu dengan air laut di sekitar puluhan meter di bawah permukaan Formasi Motoyama, di dasar laut, atau di atas kubah-kubah ekstrusi yang sedang memijar. Ketika kubah-kubah tersebut meledak akibat volkanisme eksplosif tersebut, maka lembar-lembar breksi-aglomerat akan terbentuk. Larutan-larutan yang membawa sulfur dan logam-logam dasar (basemetals) bergerak ke atas menembus dan mengitari (di sekeliling) kubah-kubah riolit, membentuk jaringan urat kalkopirit dan zona-zona klorit pada footwall batuan volkanik yang relatif rapuh (brittle). Ketika larutan-larutan tersebut bertemu dengan breksi dan tufa jenuh air garam yang unconsolidated di atas dan sekitar kubah, tanpa menyentuh lantai samudera, maka akan bereaksi dengan cepat. Sulfida-sulfida masif, bersama-sama dengan silika, gipsum, dan barit, akan me-replace secara besar-besaran material terbreksikan dekat permukaan dan kemudian terendapkan di permukaan air bagian footwall (Sato, 1977). Perubahan-perubahan volume dan densitas akibat alterasi batuan lantai samudera menyebabkan terjadinya slumping dan percampuran berbagai macam blok material yang telah ter-replace sebagian ke dalam bijih. Berbagai macam larutan bercampur. Tubuh-tubuh masif gipsum, barit, sulfida-sulfida, atau material campuran dari berbagai tipe kemudian terbentuk ketika yang terdiri atas berbagai spesies logam dasar dan sulfur yang berbeda-beda

tertuang ke atas permukaan bawah laut. Setelah periode utama mineralisasi tersebut, endapan ini kemudian ter-covered oleh piroklastik dan aliran lava yang berkomposisi dasitik. Pergerakan larutan kemudian menyusut/berkurang dari sumber sub-volkaniknya

menyebabkan terjadinya alterasi lemah pada lapisan-lapisan volkanik yang lebih muda dan pada lokasi yang lebih tinggi (Jenks, 1966, 1971) (Guilbert dan Park, Jr., 1986). Ukuran tubuh-tubuh bijih endapan berkisar dari nodul-nodul kecil hingga massa-massa irregular dengan panjang mencapai 800 meter, lebar 300 meter, dan tebal 100 meter. Sebagian berbentuk lensa-lensa yang flat. Bijih endapan tipe kuroko umumnya berbutir halus. Umumnya memperlihatkan tekstur framboidal, mengelompok secara konsentris (concentric banding), nodul-nodul, dan struktur colloform (Guilbert dan Park, Jr., 1986). Sawkins (1984 & 1990) melaporkan bahwa umumnya bijih tipe ini kompak dan masif, tetapi berlapis, terbreksikan, tekstur colloform dominan secara setempat, dan struktur graded bedding dalam bijih hitam (black ore) dijumpai di beberapa lokasi. Tenor rata-rata yang ditambang di Distrik Hokuroku, Jepang, adalah 2% Cu, 5% Zn, 1.5% Pb, 21% Fe, 12% Ba, 1.5 g/ton Au, dan 95 g/ton Ag (Lambert and Sato, 1974). Setiap tambang besar di distrik ini terpusat pada kelompok lensa-lensa bijih yang terpisah dengan kisaran ukuran dari < 0,1 hingga sekitar 10 juta ton; total tonase bijih di distrik ini diperkirakan 90 juta ton (Sangster, 1980). Lensa-lensa stratabound endapan ini umumnya memanjang, dengan batas-batas atas yang runcing dan batas bawah yang lebih menghambur (diffuse) dan bergradasi ke bawah melewati zona stockworks yang berkadar lebih rendah menuju ke footwall volkanik dan tufa yang tak termineralisasi. Menurut Pirajno (1992), ukuran tubuh bijih endapan kuroko, walaupun bervariasi, umumnya kecil. Tubuh bijih berbentuk lonceng yang bernilai eko nomis hanya mencapai ukuran 300 x 100 x 50 m3. Tonage individu tubuh bijih bervariasi dari beberapa ribu ton hingga lebih dari 1 x 106 ton. Kadarnya juga bervariasi, tetapi kisarannya umumnya sebagai berikut: Cu 0.5-2%; Pb 0.5-2%; Zn 2-10%; Au 0.5-6 g/t; Ag 20-1000 g/t; BaSO4 20-50%. Empat zona alterasi dikenali di sekitar bijih-bijih tipe kuroko di Jepang (Guilbert and Park, Jr., 1986): 1. Silisifikasi kuat di bagian footwalls tubuh bijih, umumnya bersama-sama dengan sejumlah kecil serisit dan klorit; 2. Serisit, klorit, dan kuarsa yang beraosiasi kuat dengan bijih; 3. Serisit, klorit, dan pirit di atas bijih; dan 4. Monmorillonit dan mineralisasi zeolit yang bergradasi keluar dan ke atas menuju ke batuan yang tak teralterasi (Matsukuma and Horikoshi, 1970). Sudo (1954) melaporkan

monmorillonit, besi-monmorillonit, serisit, dan klorit sebagai produk-produk alterasi. Alterasi skala distrik berkisar dari alterasi zeolit jenis mordenit di bagian tepi, dan ke arah dalam serisit lalu klorit. Shirozu (1974) dalam Pirajno (1992) membedakan empat zona alterasi utama, di mana dari tepi ke arah inti mineralisasi, terdiri atas: 1. zone I, dicirikan oleh kumpulan monmorillonit + zeolit + kristobalit; 2. zone II, terdiri atas serisit + serisit-monmorillonit + klorit Fe-Mg + albit + K-felspar + kuarsa; 3. zone III, dicirikan oleh alterasi lempung di dalam dan di sekeliling mineralisasi, dan mengandung serisit + inter-stratifikasi monmorillonit-serisit + klorit Mg dan kuarsa; 4. zone IV, mengelilingi bagian inti tubuh mineralisasi dan memperlihatkan silisifikasi kuat, dengan kuarsa + serisit + klorit kaya Mg. Suatu model ruang-waktu alterasi hidrotermal diusulkan oleh Pisutha-Arnond dan Ohmoto, 1983 (dalam Pirajno, 1992). Dari tepi ke arah inti mineralisasi, zona-zona alterasi dan kumpulan mineralnya sebagai berikut: 1. zona zeolit dengan Mg-Na monmorillonit, klinoptilolit, mordenit, saponit, dan kristobalit; 2. zona zeolit dengan kenampakan pertama kali analsim, kalsit, illit, dan kuarsa; 3. zona Mg-Ca monmorilonit; 4. zona transisi layer-campuran illit-monmorillonit; dan 5. zona serisit dan klorit kaya Mg. Sangster (1972) dalam Guilbert and Park, Jr. (1986) menyusun daftar karakteristik bijih Kuroko Miocene di Jepang, sebagai berikut: 1. Berhubungan dengan batuan volkanik bawah laut kalk-alkalin; 2. Mengelompok atau membentuk distrik-distrik yang berhubungan dengan pusat-pusat aktivitas volkanik; 3. Memperlihatkan korelasi spasial yang kuat dengan volkanisme fasa eksplosif yang asam; 4. Terdiri atas dua tipe bijih utama, sulfida masif dan stringer. Bijih masif secara esensi selaras dengan batuan di sekitarnya, sedangkan bijih stringer sangat jelas memotong stratigrafi. Bijih masif mengelompok secara banded; 5. Tertutupi oleh suatu layer rijang-hematit ferruginous; 6. Memperlihatkan zonasi komposisi yang selaras dengan stratigrafi, dengan

pengingkatan Pb-Zn dan penurunan Cu ke arah atas;

7. Dilapis-bawahi oleh (underlain by) material-material alterasi yang melingkupi bijih stringers; 8. Alterasi pasca-bijih pada batuan-batuan hanging-wall, yang dapat secara langsung dihubungkan dengan mineralisasi, umum dijumpai di bagian atas bijih Kuroko; 9. Mengandung anhidrit-gipsum; 10. Memperlihatkan kehadiran bornit dan tetrahedrit-tennantit, dan limpahan galena. Distrik Hanoaka-Matsumine di Honshu bagian utara merupakan lokasi tipe endapan Kuroko. Menurut Ogura (1972), bijih tersebut di distrik ini terzonasi dengan batuan silisius di bagian bawah dan gipsum di atas, diikuti oleh bijih sulfida besi silisius (keiko) kemudian oleh bijih kuning (oko); material hitam (kuroko) berada pada bagian paling atas. Tekstur-tekstur colloform dan spherulitic berkembang melimpah, terutama pada bijih-bijih masif. Tubuhtubuh bijih Hanoaka-Matsumine dipertimbangkan terbentuk sebagai sedimen hidrotermal bawah laut di dalam suatu kaldera pada bagian atas dari suatu sekuens batuan piroklastik yang di-interlayer dan di-overlain oleh batulumpur (mudstones). Struktur sedimen, seperti stratifikasi dan laminasi, banyak ditemukan. Proses introduksi bijih terjadi setelah intrusi kubah riolit, di mana larutan kemudian mengalir di dalam dan di sekeliling kubah. Bijih kemudian terendapkan di sedimen-sedimen yang mengitarinya, di mana mataair panas mencapai laut, yang kemudian tersebar di atas lantai samudera. Ogura (1972) mendeterminasi temperatur pembentukan bijih ini yaitu sekitar 200oC. Hasil-studi-studi terakhir (Sato, 1977) mengindikasikan bahwa bijih sulfida Kuroko terpresipitasi di atas lantai samudera Miosen bersifat asam lemah, mereduksi air laut pada temperatur 200 - 250oC dan sebagai hasil dari penurunan temperatur yang cepat. Oxygen-hydrogen and sulphur isotope ratios demand a magmatic component (Guilbert and Park, Jr., 1986). Temperatur homogenisasi inklusi fluida mengindikasikan besarnya kisaran temperatur larutan bijih ini, dari sekitar 100 - 330oC, dengan salinitas 3.5 - 6 wt.% NaCl equivalent. Lebih spesifik pada mineral-mineral bijih kuning yang terpresipitasi pada temperatur yang paling tinggi (330 oC), sementara mineral-mineral bijih hitam terpresipitasi hanya pada kisaran temperatur 200 - 330oC (Pisutha-Arnond dan Ohmoto, 1983 dalam Pirajno, 1992).