Anda di halaman 1dari 13

UJI PROFIL DISOLUSI

1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk:
 Mengetahui alat uji disolusi
 Melakukan uji disolusi sediaan padat
 Menghitung jumlah obat terdisolusi
 Membuat grafik profil disolusi sediaan padat

2. TEORI DASAR

Uji Disolusi merupakan uji biofarmasetik yang penting untuk menjamin


efektifitas obat. Uji disolusi memiliki korelasi dengan profil farmakokinetik obat in
vivo. Laju pelarutan adalah kecepatan melarutnya obat dari bentuk sediaannya yang
ditunjukkan dengan laju pelepasan obat dari bentuk sediaannya setelah kontak
dengan medium tertentu sebagai fungsi waktu.
Menurut Noyes dan Whitney, laju pelarutan obat dapat ditulis dengan
persamaan berikut (Martin dkk., 1990) :
dC
=K . S . ( C s−C )
dt

dan menurut Nerst-Brunner persamaan tersebut dapat ditulis :


dW D . S
dt
=
h
( C s−C )

dW/dt = laju pelarutan


K = tetapan laju pelarutan
Cs = kelarutan jenuh obat dalam medium
C = konsentrasi obat terlarut pada waktu t
D = koefisien difusi
S = luas permukaan kontak
h = ketebalan lapisan difusi
Alat uji disolusi
1. Apparatus 1 :Basket type
2. Apparatus 2 :Paddle type
3. Apparatus 3 :Reciprocating cylinder
4. Apparatus 4 :Flow through cell
5. Apparatus 5 :Paddle over disc
6. Apparatus 6 :Rotating cylinder
7. Apparatus 7 :Reciprocating disc

Dari ketujuh tipe alat disolusi, tipe 1 dan 2 merupakan alat yang paling
banyak digunakan dalam ketentuan Farmakope Indonesia.
Kriteria penerimaan didasarkan pada nilai Q sebagai berikut :
1. Q adalah jumlah obat yang dinyatakan dalam monografi secara spesifik
terdisolusi dalam waktu tertentu.
2. Untuk menetapkan kesimpulan, pengujian dapat dilakukan sampai 3 tahap.
Tahap pertama (I) bila sudah memenuhi syarat dapat diambil kesimpulan,
bila belum pengujian dilanjutkan pada tahap kedua (II). Bila tahap pertama
(I) dan kedua (II) belum memenuhi syarat, pengujian dilanjutkan pada tahap
ketiga (III). Bila ketiga tahap tidak memenuhi syarat, maka kelompok uji
dinyatakan tidak memenuhi persyaratan uji disolusi.
3. Jumlah sampel pada tahap pertama 6 unit, tahap kedua 6 unit dan tahap
ketiga 12 unit.
4. kriteria penerimaan :
Jumlah
Tahap Kriteria Penerimaan
sampel
S1 6 tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5%
S2 6 rata-rata dari 12 unit  Q dan tidak satu unit
sediaan yang lebih kecil dari Q – 15%.
S3 12 rata-rata dari 24 unit  Q, tidak lebih dari 2
unit sediaan  Q – 15% dan tidak satu
unitpun  Q – 25%.
Uji disolusi dilakukan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
monografi/farmakope, yang mencakup :
a. Tipe alat & Kecepatan pengadukan
b. Jenis dan volume medium
c. Lama/waktu uji disolusi
d. Toleransi (Q), jumlah obat yang terdisolusi
e. Metode analisis
Ketentuan Umum uji disolusi :
a. Kecepatan pengadukan (rpm) harus dikalibrasi secara berkala menggunakan
tachometer. Simpangan rpm ± 4% dari nilai yang tercantum dalam
monografi

b. Sumbu batang pengaduk posisi vertikal terhadap labu media disolusi dan
secara berkala diverifikasi menggunakan alat centering chek.

c. Batang pengaduk harus berada tepat di tengah-tengah labu disolusi


sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertikal
labu

3. CARA PERHITUNGAN
a. Kurva Kalibrasi

( ∑ y ) (∑ x )−( ∑ x )( ∑ y )
2

y=bx+ a a= 2
n ∑ x 2− ( ∑ x )

n ∑ xy−( ∑ x )( ∑ y ) n ∑ xy−n ∑ x ∑ y
b= r=
n ∑ x −( ∑ x )
2 2
√ {n∑ x −(∑ x ) }{n ∑ y −(∑ y ) }
2 2 2 2

y : serapan
b : gradient (kemiringan garis)
x : konsentrasi (µg/ml)
a : Intersep (titik potong pada sumbu X)
r : derajat linearitas

a. Prosentase obat terdisolusi ( y−a ) × F p × M


X ( %)= × 100× 100
b× 1000 ×w
b. Jumlah obat terdisolusi pada sampling waktu ke-n

( y n−a ) × F p × M ( y 1−a ) × F p × s ( y ( n−1)−a ) × F p × s


x n(mg) = + +…
b × 1000 b ×1000 b ×1000

Xn
X (%)= × 100 ×100
w

y : serapan sampel pada sampling ke-1; 2; ... n


1,2,.. n
b : gradient
x : jumlah obat terdisolusi (mg) pada sampling ke-1
1
x : jumlah obat terdisolusi (mg) pada sampling ke-2
2
x : jumlah obat terdisolusi (mg) pada sampling ke-n
n
a : Intersep (titik potong pada sumbu X)
Fp : faktor pengenceran
M : volume medium disolusi (ml)
s : volume sampling (ml)
1000 : faktor konversi µg ke mg
w : kadar obat dalam etiket (mg)
X : jumlah obat terdisolusi (%)
DISSOLUTION APPARATUS

Tipe 1 :
basket/keranjang
Tipe 2 : paddle/dayung

Zona pengambilan sampel

Cannula

Filter holder

Dissolution apparatus
4. ALAT DAN BAHAN

ALAT BAHAN
1. Dissolution apparatus tipe basket (1) dan 1. Sampel sediaan tablet
tipe dayung (2). 2. Baku pembanding ( zat aktif sesuai
2. Spektrofotometer UV-Vis + Cuvet sampel)
3. Timbangan analitik 3. Aquadestilata
4. Kertas perkamen 4. HCl pekat/NaH2PO4/Na2HPO4
5. Canula
6. Filter Holder
7. Syringe 10 cc
8. Kertas saring
9. Gelas Ukur 1000 ml
10. Beaker glass 1000 ml/2000 mL
11. Labu takar 10,0 ml; 50 ml
12. Vial 10 ml

5. CARA KERJA

 Membuat medium disolusi.


 Medium disolusi yang dibuat disesuaikan dengan jenis sampel yang akan diuji
sesuai dengan monografi Farmakope Indonesia.
 Prosedur pembuatan mengikuti prosedur pembuatan larutan volumetrik dan
larutan buffer yang tercantum dalam lampiran Farmakope Indonesia IV
 Membuat Kurva absorpsi dan kurva kalibrasi
 Buat larutan baku pembanding zat aktif sesuai dengan zat aktif yang sama dalam
sampel dalam 5 konsentrasi menggunakan medium disolusi. Konsentrasi yang
dibuat disesuaikan dengan zat aktif sedemikian rupa sehingga memberikan
serapan antara 0,2-0,8.
 Buat kurva absorpsi dengan melakukan scanning salah satu konsentrasi
menngunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 200-380 nm
 Catat panjang gelombang maksimum
 Ukur serapan lima konsentrasi larutan baku pembanding pada panjang
gelombang maksimum
 Buat kuva kalibrasi dengan memplot konsentrasi larutan baku pembanding
(sumbu X) terhadap serapan (sumbu Y) menggunakan grafik X-Y scatter
 Tentukan persamaan kurva kalibrasi/garis lurus y=bx+a; dimana nilai r (derajat
linearitas) mendekati 1
 Uji Profil Disolusi
i. Siapkan alat disolusi yang sesuai dengan monografi sampel dalam farmakope
Indonesia (tipe 1 atau 2).
ii. Atur kecepatan pengadukan sesuai dengan yang sesuai dengan monografi
iii. Isi bath alat disolusi dengan aquadestilasa hingga batas dan panaskan dengan
pemanas thermostat dalam alat disolusi.
iv. Pasang 7 (tujuh) labu disolusi.
v. Panaskan medium disolusi hingga mencapai suhu 37C, dan masukkan ke dalam
masing-masing labu disolusi sebanyak volume yang sesuai dengan monografi.
vi. Masukkan masing-masing satu sediaan sampel ke dalam 6 labu disolusi, labu ke
tujuh hanya diisi medium disolusi.
vii. Jalankan alat
viii. Lakukan sampling pada interval waktu 10;20;30;45 dan 60 menit sebanyak 10
ml. Pengambilan sampel dilakukan dengan cannula yang dihubungkan dengan
syringe, pada zona sampling yang telah ditentukan.
ix. Setiap kali pengambilan sampel, volume medium diganti dengan medium
disolusi yang sama pada labu ke tujuh sebanyak 10 ml
x. Lepaskan syringe dari cannula, dan hubungkan dengan filter holder yang telah
dipasang kertas saring.
xi. Pindahkan sampel dari syringe ke dalam vial melalui filter holder.
xii. Lakukan analisis sampel menggunakan spektrofotometer pada panjang
gelombang maksimum. Lakukan pengenceran jika perlu untuk mendapatkan
serapan sampel pada rentang serapan kurva kalibrasi.
xiii. Hitung rata-rata jumlah zat aktif terdisolusi dari enam labu pada setiap titik
sampling.
xiv. Buat grafik profil disolusi.
6. PENYAJIAN DATA

a. Kurva kalibrasi

No Konsentrasi (µg/ml): X Serapan : Y


1
2
3
4
5

Kurva Kalibrasi :
Serapan

Konsentrasi (µg/ml)
a. Uji profil disolusi

Sampling menit ke 10
Jumlah Jumlah
Serapan Konsentrasi
obat obat
Tablet y (X)
terdisolusi terdisolusi
µg/ml mg %
1
2
3
4
5
6
Rata-rata

Sampling menit ke 20
Jumlah Jumlah
Konsentrasi
Serapan obat obat
Tablet (X)
y terdisolusi terdisolusi
µg/ml mg %
1
2
3
4
5
6
Rata-rata
Sampling menit ke 30
Jumlah Jumlah
Serapan Konsentrasi
obat obat
Tablet y (X)
terdisolusi terdisolusi
µg/ml mg %
1
2
3
4
5
6
Rata-rata

Sampling menit ke 45
Jumlah Jumlah
Serapan Konsentrasi
obat obat
Tablet y (X)
terdisolusi terdisolusi
µg/ml mg %
1
2
3
4
5
6
Rata-rata
Sampling menit ke 60
Jumlah Jumlah
Serapan Konsentrasi
obat obat
Tablet y (X)
terdisolusi terdisolusi
µg/ml mg %
1
2
3
4
5
6
Rata-rata

Hasil uji profil disolusi

Waktu
Jumlah obat terdisolusi
(menit
(%)
ke)
10
20
30
45
60
Grafik profil disolusi

100
90
% Obat terdisolusi 80
70

60
50
40
30
20
10

10 20 30 45 60
Waktu (menit)

PUSTAKA

1. Hamed M. Abdou, Dissolutions, Bioavaibilities & Bioequivalence, Mack


Publisher, 1989
2. Banakar U, Pharmaceutical Dissolution Testing, Marcel DekkeR
3. Ansel,C.H., Allen, L.V. Jr., Popovic, N.G., Ansel’s Pharmaceutical dosage
forms and drug delivery system, ninth edition, Lippincott Wiliam and Wilkins,
2011.
4. Patrick J. Sinko (ed). Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Sciences
6th ed. Lippincott Wiliam and Wilkins, 2011.
5. Farmakope Indonesia IV, 1995

Anda mungkin juga menyukai